Work Text:
Edwards melirik jam di dasbor mobil. Masih pagi, namun pria kecil yang berada tak jauh di depannya tampak begitu kusut seolah tak merasakan kenikmatan bantal dan guling selama dua hari. Sangat berbeda dengan Edwards yang begitu santai dipadukan kaos hitam oversize yang membalut bahu lebarnya, dipadukan dengan celana bahan pendek berwarna hitam. Rambut two block serta jam tangan hitam dengan leather strap, serta parfum beraroma kopi pahit dengan sedikit hint woody.
"jesa kayanya gue bakal telat deh, gue ketiduran gara-gara ngerjain propo semaleman.."
Junio nampak sibuk pagi ini, ponsel yang diapit oleh bahu serta pipinya, berusaha mengenakan sepatu meski memakainya susah payah sebab fokusnya terpecah pula pada suara dari ponsel.
Edwards yang berada di dalam mobil memicingkan mata, terkekeh pelan menangkap presensi Junio yang tampaknya sedang dalam kondisi tak baik-baik saja. Ia pacu mobilnya dan dengan sengaja Edwards berhenti 5 meter darinya.
Junio tahu siapa orang dibaliknya, namun ia berusaha tak perduli dengan kehadiran pria itu, ia masih sibuk dengan tali sepatunya, sialan sekali. Seharusnya dari semalam ia pasang talinya agar tak kelimpungan seperti ini, wajahnya seperti pakaian yang tak disetrika—kusut, ditambah lagi dengan jesa yang tak henti menyiraminya dengan serapah menyebalkan dari ponsel.
Edwards turun dari mobilnya, membawa langkahnya menuju Junio. Terkesan ikut campur, memang.
Edwards berhenti di depan Junio, pria jangkung dengan tinggi kurang lebih seratus delapan puluh sentimeter itu kini menundukkan diri, ia bawa lutut kirinya bertumpu pada tanah, seolah sedang berlutut pada sang terkasih.
Tanpa mengujarkan sepatah kata, Edwards membawa jarinya membantu Junio dengan tali-tali itu. Edwards diam, begitu pula Junio yang kini terdiam tak lagi menyauti suara dari ponselnya. Jemari panjang itu dengan telaten memasukkan ujung tali ke dalam eyelet, begitu piawai seolah sudah seribu wanita yang ia perlakukan seperti itu.
Junio tak berkutik, kini panggilan itu ia akhiri tanpa pamit kepada Jesa. Ia biarkan Edwards melakukan semuanya sampai selesai.
"kelar." Dalam posisi yang sama Edwards membawa netranya menatap Junio.
"Ga usah sok sibuk, kelarin dulu satu-satu io. Kalo lu mau fokus telfonan, pake dulu sepatunya dongo."
Junio terkekeh, tadi berlagak seolah menjadi pangeran kini ia kembali seperti bocah begajulan.
"suka-suka gua kocak, kaga usah ngurusin hidup gua."
"yaelah dikasih tau yang bener juga, udah dibantu juga kaga bilang makasih, ikhlas gua mah ikhlas."
Edwards berdiri, mukanya dibuat seolah-olah kecewa dengan jawaban Junio.
"oke siap, makasih Edwards udah bantu taliin sepatu gue."
Junio kini ikut bangkit dari posisinya, berdiri berhadapan dengan Edwards yang sedikit menunduk untuk memandangnya, membuat Junio semakin benci menyadari fakta ini.
"Salah siapa begadang, kesiangan kan lu."
"Lu bukan bapak gue, ga usah sok perhatian babi."
Raut wajah Junio tak karuan, rasanya setiap berbicara dengan tetangganya emosi bisa membuncah kapan saja.
"Galak amat, mau kemana sih lu? sini gua anterin dah daripada kesiangan."
Edwards memberikan tawaran, berjalan ke mobilnya dan membuka pintu sebelah kanan mempersilahkan Junio masuk.
Namun bukan Junio kalau tak menolak dan memaki setiap perlakuan dari Edwards.
"apaan sih lu, ga usah sok baik anjing, gue mau naik gojek aja." ia nyalakan ponselnya dan langsung mencari driver terdekat.
Edwards diam, masih tak berkutik namun dalam hati ia bertaruh bahwa Junio akan segera masuk ke dalam mobilnya.
Junio gelisah, tak segera dapatkan tumpangannya.
Edwards memperhatikannya begitu lekat, tak bergeming, separuh tubuh bertumpu pada roof mobil miliknya, menyilangkan tangan di depan dada. Terkadang ia menarik senyum tatkala wajah di hadapannya menampakkan kegelisahan.
"Udah 5 menit, gimana kaga dapet driver kan? ngeyel sih lu dibilangin nebeng gua aja."
Junio masih diam, berusaha tak menanggapi namun hatinya berisik sebab di satu sisi ia berpacu dengan waktu dan harus segera pergi atau dirinya terancam mendapat siraman rohani dari Jesa untuk keduakalinya hari ini, namun Junio GENGSI sekali dengan tetangganya. Mereka kan musuh bebuyutan, apa kata orang kalau Junio nebeng si jangkung? walaupun sebenernya tidak ada yang perduli.
"lu tsunade ya io? elah muka lu kaga cocok jing kaya gitu."
Edwards mungusak rambutnya sendiri dengan kasar, langkahnya ia bawa mendekati Junio.
"apaan sih, anjing! tsundere bego! tsunade mah Hokage."
"bodo amat, suka-suka gua lah."
Edwards bawa jemarinya tuk raih lengan Junio, berusaha membujuknya masuk.
"edward lu maksa amat sih!?"
Tak bergeming, Edwards masih membawa dirinya masuk ke dalam mobil, membuka pintunya mempersilahkan Junio tuk masuk dan kemudian menutupnya. Kini giliran Edwards masuk dan terduduk di kursi pengemudi.
"tapi lu mau kan?" Edwards tertawa.
"Bacot tau ga sih lu?"
Sebenarnya Edwards itu pria yang perhatian, act of service sekali. Namun saat berurusan dengan tetangganya semuanya berubah, mengganggu Junio sampai membuatnya kesal hingga mulut kecil itu bergumam sendiri sepertinya menjadi prioritas Edwards.
Namun tetap saja, Edwards itu orang yang perhatian. Contohnya sekarang, dia sedang memasangkan seatbelt Junio.
Hanya butuh satu menit agar seatbelt itu terpasang sempurna, namun rasanya seperti satu jam. Sebab hembusan napas Edwards menyapa telinga Junio, kala ia mendekatkan tubuh agar dapat meraih sepasang seatbelt tuk disatukan.
Napas hangat Edwards membawa sensasi menggelenyar namun juga hangat. Wajahnya terpahat begitu sempurna, rahangnya tegas, bibirnya yang lembab serta memiliki hint warna pink pucat. Bulu matanya yang lentik dan alis hitamnya menyempurnakan ciptaan tuhan yang pantas diberikan predikat nyaris sempurna.
Sungguh sialan pagi ini.
Sebab Junio merasakan sesuatu yang aneh.
