Work Text:
Jimmy lelah.
Dia sudah bangun sejak pagi. Mengikuti berbagai rangkaian acara wisuda dari universitas, berfoto dengan teman-teman satu angkatan, berfoto lagi dengan beberapa kerabat dan keluarga, berfoto lagi dengan fans. Belum lagi menghadiri acara wisuda yang telah diselenggarakan oleh fanclub.
Menyenangkan. Sangat.
Tapi lelah sekali.
Toga-nya sudah dilepas. Sekarang tersisa kemeja formal yang beberapa kancingnya sudah dia buka. Semua hadiah dikirim ke rumah, biarlah Jimmy membuka surat-surat, ucapan, dan kado dari fansnya itu besok.
Sekarang, dia butuh pengisi energinya.
Satu-satunya orang yang bisa membuat dia salah tingkah setengah mati, berubah menjadi sedikit lebih kaku dibanding ketika dengan yang lain. Satu-satunya yang sanggup buat Jimmy terpana, tidak berani berkata macam-macam, takut yang keluar adalah apa yang ada di alam bawah sadarnya.
Senyumnya bahkan tidak terbendung lagi sejak dia tiba di basement apartemen -nya. Jimmy melangkah lebar menuju kamarnya. Pintu dibuka dengan tidak sabaran.
Semua barangnya ditinggalkan di sofa, lalu kakinya melangkah mengikuti satu-satunya sumber suara gumaman dari arah dapur.
Disanalah cintanya berada. Masih terbalut dengan baby tee biru muda menggodanya, Sea berdiri di depan microwave.
"Sea." Panggilan lembut itu tidak menutupi sama sekali nada bahagia dalam suaranya.
Sea menoleh, sedikit mundur karena Jimmy yang langsung memeluknya.
"Eh? Udah pulang? Aku kok gak denger pintu depan dibuka ya?" Sea bingung, tapi membalas pelukan hia-nya.
Jimmy tidak menjawab, hanya sibuk menghirup aroma menenangkan dari Sea yang dia rindukan.
"Kangen." Keluh Jimmy, memejamkan matanya, masih menghirup aroma Sea dalam-dalam.
Sea tertawa, senyumnya lebar sekali. Dia menepuk kecil punggung Jimmy yang lebar. "Aku kan tadi ke acara wisuda kamu."
"Kangen berduaan kalo gitu, aku ralat." Jimmy bergumam, masih tidak mau kalah.
Sea tertawa lagi. Senyumnya masih lebar, tapi kali ini penuh pengertian. Begitu hangat rasanya mendengar pernyataan tulus Jimmy yang merajuk karena mereka sudah lama tidak berduaan. Sea membiarkan Jimmy memeluk dirinya erat di tengah dapur. Tangannya bergerak naik-turun di punggung Jimmy, memberikan afirmasi pada lelakinya yang dia yakin lelah sekali.
Suara microwave memecah keheningan mereka. Begitu ribut di telinga Jimmy yang masih dengan khidmat memeluk belahan jiwanya.
"Berisik." Keluh Jimmy.
Sea melonggarkan pelukan mereka, mendapatkan protes dari Jimmy. Sea buru-buru menangkup wajah Jimmy dengan kedua tangannya.
"Hia bersih-bersih dulu, aku biar tata makan malem kita di meja ya? Kita makan malem dulu." Sea membujuk.
Tidak sampai lima belas menit, Jimmy sudah kembali menempelinya di meja makan. Kursi berdempetan seolah tidak ada lagi ruang untuk memberi jarak. Sea cuma menghela nafas maklum, membiarkan Jimmy berbuat sesukanya.
"Kamu pasti capek banget hari ini, kan." Sea menaruh beberapa lauk ke atas piring Jimmy. "Makan yang banyak, hia."
Pinggangnya dilingkari lengan Jimmy, terasa begitu protektif walau mereka hanya berdua di ruangan ini.
"Hia belum puji kamu seharian ini." Jimmy memulai topik yang lain. Makanan di depannya dianggurkan begitu saja.
Sea menoleh, menatap Jimmy penasaran. Rambutnya disugar dengan gugup, bibirnya digigit tanpa sadar untuk sekian detik.
Dan Jimmy tidak tahan lagi.
Jadi dia maju dan melakukan apa yang ingin dilakukannya sejak pertama melihat Sea datang ke acara wisudanya tadi; mencium bibir penuhnya.
Kecupan Jimmy singkat dan manis.
Sea memejamkan matanya sejenak ketika merasakan bibir Jimmy menekan bibirnya lembut.
"Hia nyaris cium kamu di depan semua orang tadi siang." Gumam Jimmy jujur.
Sea membuka matanya, menatap mata Jimmy yang sekarang masih terpaku ke arahnya.
Sea menggigit bibir. "Aku sebenernya gak keberatan juga sih...." Gumamnya jahil.
Jimmy terkekeh. Matanya melirik lagi ke arah bibir Sea seakan bertanya.
Sea mengikuti arah pandang Jimmy, berusaha memasang wajah paling biasanya. Walau akhirnya pecah juga. Sea yakin Jimmy mengerti. Bekerja dengannya selama lima tahun ini, Sea yakin Jimmy sudah paham dengan ekspresi yang dikeluarkannya.
Jimmy paham. Paham sekali. Lebih dari hafal ekspresi yang dikeluarkan Sea tiap kali dia minta dicium. Matanya yang berulangkali melirik bibir Jimmy, alisnya yang dimainkan dengan tidak sabar, bibirnya yang sengaja dibuka.
Beberapa ciuman dibubuhkan. Sea merasa bangku mereka sekarang kurang dekat. Jimmy menciumnya masih dengan lembut, menyesap bibir bawahnya pelan-pelan, tidak ingin merusak lapisan lipbalm yang baru Sea bubuhkan sesaat sebelum Jimmy keluar kamar mandi tadi.
"Cantik banget kamu, sayang." Jimmy, kehabisan nafas, menempelkan dahinya pada dahi Sea, dan bergumam sambil memejamkan matanya. "Hia nggak bisa mikir sama sekali pas liat baju yang kamu pake."
"Cantik, kan?"
Centil. Centil. Centil. Centil.
Jimmy menggigit bibirnya pelan. Iya. Bibir Sea. Digigit pelan dan diciumnya mesra kemudian.
"Cantik banget. Pinggang kamu keliatan terus tiap kali kamu angkat tangan." Jimmy sekarang membuka matanya, bertubrukan dengan Sea yang juga menatapnya. "Sengaja." Tuduh Jimmy, menghela nafas berat.
Sea cuma menanggapi dengan tawa kecil.
"Hia suka aku pake baby tee." Itu pernyataan. Bukan pertanyaan.
Jimmy mendengus. Merasa kalah. Tapi senyuman miring tersungging di bibirnya.
"Tatapan hia lingers a second longer tiap kali aku pake baby tee. Ya kan?" Tuduh Sea balik.
Jimmy tidak tahan untuk tidak tertawa, merasa tertangkap basah. Dia memutus kontak mereka. Sea terkekeh, tapi puas ketika mendapatkan jawaban yang selama ini hanya dia terka dalam pikiran.
Makan malam hari itu berlangsung hangat. Denting alat makan berpadu dengan obrolan ringan mereka. Sesekali kepala Sea akan jatuh pada pundak Jimmy dengan manja saat dia tertawa, dan Jimmy akan menggeser bahunya sedikit lebih dekat ke arah Sea ketika itu terjadi.
.
.
.
Kaos mini penghilang kewarasan Jimmy itu sekarang sudah berganti dengan kaos longgar. Sea naik ke atas ranjang Jimmy, mendekat ke arah Jimmy yang sudah merentangkan tangannya dengan senyum lebar terpasang.
Hembus nafas lega terdengar. Seolah Jimmy tidak memeluknya sudah lamaaa sekali. Sea terkekeh, mendongak melihat ke arah Jimmy yang sekarang mendekapnya. Hening mengisi ruangan setelahnya. Hening yang nyaman. Keduanya sibuk dengan ponsel masing-masing, masih dengan lengan yang saling mendekap erat.
Jimmy meletakkan ponselnya di meja nakas. Matanya menutup sejenak, lalu menempelkan hidungnya ke rambut Sea. Wangi dari shampoo mereka menyeruak memenuhi Jimmy. Diciuminya kepala Sea beberapa kali, merasakan nyaman mengalirinya perlahan, menggantikan segala penat yang menggantung sedari tadi.
Tawa kecil Sea yang berulang adalah yang menarik Jimmy untuk membuka mata.
"Kenapa?" Tanya Jimmy, sedikit penasaran apa yang membuat si cantik tertawa beberapa kali.
"Fans ngira kita lagi marahan."
Jemari lentik itu dengan lincah masih berselancar di Twitter, sesekali qrt beberapa tweet fans dengan akun privatenya.
"Marahan?" Jimmy mengangkat satu alisnya.
Sea mengangguk, mendongak untuk menatap Jimmy.
Jari lentik itu sekarang hinggap di bibir Jimmy. Menekannya sedikit. Tatapan jahil juga turut hadir disana.
"Katanya hia udah nggak peduli lagi sama aku." Bisik Sea.
Alis Jimmy makin tinggi. "Gimana—"
"Soalnya hia ngomongnya nggak sambil natap aku, dan speech aku pendek banget dibanding Acare."
Kekehan kecil dari Jimmy. Telunjuk Sea yang masih ada di depan bibirnya itu dikecup kecil.
"Dan kita berdirinya awkward, ada jarak." Lagi, Sea menambahkan.
Jimmy menggeleng pelan. Tawa pendek tidak percaya keluar dari Jimmy. Apalagi ketika Sea mengubah posisinya agar sedikit lebih tinggi dari dada Jimmy.
"Padahal ini nih, yang bikin awkward." Sea menciumnya jahil.
Ini dia juara satu mengobrak-abrik pikiran Jimmy. Juara satu bikin Jimmy gak berani tatapan lama. Juara satu bikin Jimmy lupa apa yang mau dikatakannya. Juara satu—
Cuma Sea yang bisa.
"Mmmh." Apalagi kalau si cantik udah sengaja. Sengaja desah kayak gini karena tau hia-nya lemah tiap kali dia begini.
Jimmy memaksa melepas tautan bibir mereka. Sea tertawa renyah, menjatuhkan kepalanya ke bantal.
"Kenapa sih, hia? Kan kita sekarang cuma berdua. Tadi disana hia bilang nggak boleh karena kita gak cuma berdua." Goda Sea jahil. Sea tau Jimmy sudah tidak punya tenaga untuk meladeninya. Toh kejadian tadi siang dimana mereka kepergok make out di belakang panggung acara wisuda Jimmy juga pasti masih melekat di ingatan.
Tapi kan nggak seru ya kalo nggak bikin hia-nya ini frustasi?
"Sea." Jimmy memperingatkan. "Kamu tuh ya...." Jimmy menyugar rambutnya keras.
Sea tertawa, matanya menyerupai bulan sabit dan suara merdunya itu mengalun memenuhi kamar.
"Paling seneng deh bikin hia-nya pusing." Jimmy menjawil hidung Sea.
"Mmm tapi bener." Tawa cantiknya mereda, sekarang tatapannya lekat ke mata Jimmy.
"Bener apa?" Jimmy dengan mata sayunya itu membalas tatap. Tangannya aktif mengelus-elus rambut Sea yang lebat.
"Yang tadi di hall wisuda kan belum selesai, hia." Rengutannya itu mematikan. "Emang hia nggak mau terima hadiah wisuda yang ini?" Sea mengerjap manja, mendekatkan wajahnya pada Jimmy.
Sepuluh detik. Sea menghitungnya dalam hati. Jimmy tidak memberikan respon apapun. Tapi Sea yakin ada badai petir di kepalanya saat ini.
Ketika Sea yakin godaannya tidak berhasil, dia terkekeh, menjawil hidung Jimmy dengan telunjuk secara jahil, lalu membenarkan posisinya untuk berbaring di atas bantal.
Sebelum kemudian Jimmy menindihnya secara tiba-tiba. Sea terkesiap.
Sniff kiss dibubuhkan di sepanjang garis rahang hingga leher Sea. Sea tertawa-tawa renyah.
"Hia! Hiaaaa!"
"Jangan bilang hia nggak peringatin kamu ya, Tawinan nakal." Adalah penutup dari Jimmy di sniff kiss terakhirnya, sebelum berubah menjadi ciuman memabukkan di bibir Sea yang sedikit terbuka.
"Ah! Hiaaaa!"
