Work Text:
“Bagaimanapun hidup adalah mati “ - Priyanshu Singh
Suasana pagi hari di kediaman keluarga Abe terasa begitu damai dan menenangkan. Sinar mentari masuk dengan malu-malu melalui jendela kamar seorang pemuda yang tertidur pulas di atas kasur. Namun, apalah daya, tirai jendela tersebut tidak mampu menghalangi sinar mentari untuk menerobos masuk ke dalam ruangan. Ia mendarat dengan indah di wajah seorang pemuda berambut ebony dengan rambut antena menjulang di atas kepala. Terganggu, pemuda itu lalu mengerjapkan mata dan duduk di atas kasur sambil mengerjap kedua kelopak matanya.
Namanya Abe Amaaki. Lajang. Tampan. Brocon. Nanti akan kujelaskan kepadamu.
Sebenarnya, gelar itu diberikan bukan tanpa sebab. Berkat rasa cinta dan sikap protektif yang begitu luar biasa pada Haruaki, maka Amaaki menyandang gelar tersebut. Sikap protektif Amaaki bahkan membangkitkan insting perlindungan yang otomatis mendeteksi penindas atau orang jahat yang mungkin mengganggu Haruaki.
Melirik ke arah kalender di atas nakas, Amaaki hanya tersenyum seperti remaja perempuan yang sedang kasmaran. 20 Februari, hari ulang tahunnya. Bagi kebanyakan orang, hari ulang tahun adalah hari yang penuh sukacita, hadiah, dan ucapan. Sebenarnya, Amaaki juga beranggapan demikian, apalagi ia akan mendapatkan perhatian penuh dari adik kembarannya yang paling manis dan yang paling ia cintai di dunia. Tapi, sesuatu nampaknya hilang di benak dan hatinya. Amaaki tidak tahu apa itu. Ia merasa melupakan sesuatu yang teramat penting. Amaaki mencoba mengingatnya, tapi yang ia peroleh hanya rasa sakit di area pelipisnya yang terasa memilukan. Jemari tangan kanannya berusaha memijat-mijat pelan pelipisnya yang terasa sakit. Hanya ada satu keinginan yang terlintas di benak Amaaki.
“Aku harus menghubungi Haru,” gumam Amaaki pelan.
Ia mencari-cari ponsel pintarnya dan mencoba menelepon Haru. Bukannya mendengar suara manis Haru, Amaaki malah mendapatkan dering nada yang tak kunjung dijawab oleh nomor yang dituju. Sekali lagi, Amaaki mencoba, lagi dan lagi ia mencoba. Amaaki mengusap poninya ke atas dengan jari yang tegang. Tidak biasanya Haruaki mengabaikan panggilan teleponnya.
Mungkin saja Haru meletakkan handphonenya di sembarang tempat, mengingat betapa ceroboh adik kembarannya itu. Amaaki berusaha berpikir positif. Jari-jarinya dengan lihai mengetik pesan pada nomor Haruaki.
“Haru, aku merindukanmu. Jika kamu membaca pesan ini, tolong hubungi aku kembali. Kamu tidak lupa hari ini, kan?” Setelah pesan tersebut terkirim, Amaaki bergegas turun dari kasur untuk memulai hari sebagai pengurus kuil keluarga Abe.
***
Amaaki berjalan dengan langkah ringan menuju ruang keluarga. Setelah memikirkan Haru, rasanya sakit kepalanya hilang seketika. Di ruang keluarga, terlihat Mama Aki yang sedang menyesap teh dengan khidmat, ditemani Papa Aki yang sedang menulis jimat kertas atau ofuda. Amaaki mendaratkan bagian belakang tubuhnya di atas zabuton (bantal duduk tradisional Jepang) dan duduk menghadap sang bunda. Papa Aki duduk dekat TV dan membelakangi keduanya.
Aneh.
Tidak biasanya Papa Aki dan Mama Aki hanya diam melihat kemunculan sang anak sulung. Ayah Aki yang biasanya ceria dengan guyonan recehnya nampak tak bersuara sama sekali dan lebih sibuk dengan pekerjaannya. Mama Aki hanya memandangi Amaaki dengan senyum lembut. Antena ibu dua anak itu melengkung lemah.
“Ame, selamat pagi.” Mama Aki mengusap lembut kepala Amaaki sembari merapikan poni Amaaki yang sedikit berantakan.
Amaaki menikmati perhatian dari sang ibu, tapi pertanyaan-pertanyaan mengenai keanehan kedua orang tuanya memasuki relung-relung pikirannya.
“Pagi, Ma. Apa aku melakukan suatu kesalahan?”
“Tidak, Ame tidak melakukan kesalahan apapun.” Mama Aki hanya menggeleng pelan dan mencubit pelan pipi Ame.
“Papa dan Mama sudah membeli kue ulang tahunmu. Apakah kamu siap untuk merayakan ulang tahunmu?” Mama Aki menatap Ame lamat-lamat sambil bertopang dagu.
“Apakah Ma lupa? Aku ingin meniup lilin bersama Haru. Meniup lilin bersama sudah menjadi tradisi kecil kita, bukan?” Ame bertanya dengan keheranan. Sejak kecil, keduanya selalu merayakan ulang tahun bersama. Meskipun keduanya lahir di hari yang berbeda, tapi bagi Ame itu tidak menjadi masalah. Haruaki adalah separuh jiwanya, begitu pula sebaliknya. Keduanya berjanji akan saling menemani di hari ulang tahun masing-masing. Walaupun sekarang Haruaki menjadi guru di sebuah sekolah yokai, ia selalu berusaha menyempatkan diri untuk datang. Satu minggu yang lalu, Haruaki datang ke rumah dan berjanji pada Amaaki untuk merayakan ulang tahun bersama.
Melihat raut wajah ibunya yang aneh, Ame kemudian menimpali lagi.
“Haruaki juga sudah berjanji kepadaku untuk datang. Haru datang ke rumah beberapa waktu lalu, kan?”
Mendengar pertanyaan Amaaki, Mama Aki hanya terdiam dengan air mata menggenang di pelupuk mata cantiknya. Mama Aki menunduk, dan tetes demi tetes air mata jatuh membasahi paha ibu dua anak tersebut.
Amaaki panik bukan main. Ia beranjak dengan satu kedipan mata ke samping sang ibu dan refleks memeluk tubuh mungilnya. Pikiran Amaaki berputar-putar mencari penyebab mengapa sang ibu menangis. Apakah karena jawabannya tadi? Apakah ada kesalahan yang pernah ia lakukan tapi malah ia lupakan?
Mama Aki menangis hingga bahu kecilnya bergetar.
Amaaki harus melakukan sesuatu. Hari ini adalah hari yang harusnya penuh dengan kebahagiaan dan bukannya penuh dengan kesedihan.
“Kurasa ini saatnya, sayang.” Papa Aki bersuara lirih, nyaris tertelan udara.
Saatnya apa? Ayah bodohnya ini bukannya membantu menenangkan sang ibu malah mengucapkan kalimat aneh.
“Anak kita harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Papa Aki menimpali sekali lagi, tapi dengan nada suara yang mantap.
“Memangnya apa yang tidak kuketahui?” Papa Aki tidak menjawab pertanyaan Ame dan malah mengeluarkan sebuah amplop berwarna cokelat. Ia meletakkan surat itu di atas tatami dan kemudian duduk bersila menghadap Ame.
“Bacalah.”
Ame dengan ragu melepaskan pelukannya pada sang ibu dan duduk bersila di depan ayahnya. Ia mengambil amplop berisi surat itu. Amplop itu berukuran 20 cm x 10 cm. Tidak ada tulisan apapun di sisi luar amplop, hanya ada cap matahari yang terpatri indah di ujung kanan bawah amplop tersebut. Amaaki membuka amplop tersebut dan memperhatikan bahan kertas yang terbuat dari washi.
Ini tulisan tangan Haru, batin Amaaki. Heh, jangan ragukan kebroconan Amaaki. Ame terkekeh pelan, adiknya ini benar-benar manis sampai repot-repot menulis surat segala.
Sebaris kalimat pertama ia baca, senyumnya mengembang. Baris berikutnya, dahinya mulai berkerut. Dalam baris berikutnya lagi, tangannya mulai bergetar, dan setelah dibaca seluruhnya, pikirannya berkecamuk dan tatapannya menyelidik kepada sang pemberi surat.
“Apakah kalian sedang menipuku?” Amaaki berucap gusar sambil mengacak kasar rambutnya.
“Tidak, Papa dan Mama tidak sedang berbohong padamu,” tukas Papa Aki.
“Ayolah, aku tidak suka lelucon kalian. Ini pasti tidak mungkin. Kalian pasti sedang bercanda.” Amaaki berdiri lalu mulai menggigit ibu jarinya. Ia mondar-mandir dengan gusar.
“Ame, tenanglah.” Mama Aki berusaha menenangkan putra sulungnya.
“BAGAIMANA AKU BISA TENANG SETELAH MEMBACA ISI SURAT ITU?” Suara Amaaki meninggi.
“Sial, kepalaku terasa sakit.” Amaaki menarik rambutnya dengan kasar dengan maksud menghilangkan rasa sakit di kepala.
Ia benar-benar hancur. Hatinya menolak untuk percaya. Anak itu tertawa dengan air mata mengalir deras membasahi pipinya. Kulit kepalanya mengeluarkan sedikit darah.
Haruaki meninggal.
Abe Haruaki meninggal.
Adiknya, kembarannya, belahan jiwanya.
Apa mereka pikir ia akan percaya? Jelas-jelas Haru bersama kedua orang tuanya satu minggu lalu. Semakin dipikirkan, kepala Ame makin sakit, tapi fakta kematian Haru menjelaskan alasan raut wajah anak didik Haru yang menyedihkan saat Amaaki dan Haru bersama, Mama yang hanya menyediakan tiga piring saat makan, Papa yang menghindari bertemu Haru. Semuanya kini menjadi jelas.
Perlahan, kakinya tidak mampu menopang berat tubuhnya. Amaaki jatuh rebah ke pelukan ayahnya. Sebelum matanya terpejam, Amaaki melihat sosok Haru tersenyum padanya.
***
Kematian adalah hal yang menakutkan bagi Amaaki. Bayangkan saja, tubuhmu kehilangan napas secara perlahan, lalu organ-organ tubuhmu berhenti bekerja. Waktumu bersama orang-orang terkasih dipotong tiba-tiba, seperti halnya seutas tali. Kehadiranmu perlahan-lahan dilupakan oleh orang-orang. Ketakutan itu bukan hanya dirasakan oleh yang pergi, tapi juga bagi mereka yang ditinggalkan. Amaaki takut melupakan Haru, melupakan suara tawanya, lalu wajahnya, dan kemudian melupakan Haru sepenuhnya. Fase inilah yang membuat dirinya dahulu memblokade segala kenyataan bahwa Haru meninggal.
Dirinya yang dahulu sering kali berbicara pada Haru, yang ternyata di mata keluarganya, ia berbicara pada udara yang kosong. Tindakannya itu sering memancing keprihatinan dari Papa Mama Aki dan siswa/i Haruki. Mengingat kejadian itu membuat Ame merenungkan kembali apa yang terjadi pada dirinya beberapa bulan lalu. Tapi, seiring berjalannya waktu, Amaaki mulai belajar bahwa kematian adalah hal yang akan dialami oleh semua manusia. Bogem mentah dari Yakubyougami dan Mame-Danuki membuat dirinya sadar bahwa bukan hanya ia saja yang bersedih karena kepergian Haruaki.
Ame sadar, jika terus-terusan begini, ia hanya membuat Haru bersedih. Amaaki tidak ingin Haru bersedih, maka ia terus melanjutkan warisan-warisan yang ditinggalkan oleh Haru.
Angin sepoi-sepoi mengalun dengan irama yang indah, mengacak-ngacak sedikit helai rambut ebony pemuda yang berdiri kaku di sebuah haka (makam tradisional Jepang). Kulitnya pucat dengan tulang-tulang tangan yang menonjol menembus kulit. Tangannya mengenggam erat sebuah amplop usang dengan cap matahari di sisi luar amplop dan setangkai bunga matahari di tangan.
“Haru, maaf karena aku baru mengunjungimu,” ucap pemuda itu dengan lirih.
Sulung Abe itu lalu membersihkan nisan dengan mencabut rumput liar, membersihkan nisan batu dari kotoran, dilanjutkan dengan menyiramkan air ke atas batu. Amaaki lalu meletakkan tiga tangkai bunga matahari segar pada hanatate (tempat bunga). Ia lalu menyalakan senko, menyatukan yang di depan dada, dan mulai berdoa. Setelah selesai, Amaaki duduk di dekat nisan sambil menengadahkan kepalanya ke arah langit biru.
“Kehilanganmu membuatku terpuruk, Haru. Tapi jangan khawatir, aku tidak ingin menyusulmu dengan cepat. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.” Matanya sedikit berkaca-kaca.
“Sebaliknya, aku akan melanjutkan hidup, sehingga saat bertemu nanti, aku punya banyak kisah yang bisa aku ceritakan padamu.” Amaaki bangun dan membersihkan bagian belakang tubuhnya.
“Siap-siap saja, ya.” Pemuda tertawa kecil sambil mengusap-ngusap pelan nisan yang ada di depannya.
“Lain kali, aku akan berkunjung kembali dan menceritakan banyak hal padamu. Tidurlah dengan tenang, Haru, dan serahkan semuanya pada kakak.” Ujar Amaaki sambil berjalan meninggalkan area makam. Kakinya beralun dengan tenang, ia merasa beban yang ada di pundaknya mulai menghilang.
Sekali lagi, angin berhembus melewati tubuh pemuda itu. Tubuhnya berhenti dan menoleh ke belakang. Bibirnya melengkung membentuk senyum manis di wajahnya. Ia melambaikan tangan dan mulai bergerak maju melangkah ke depan.
