Actions

Work Header

Under cherry blossom

Summary:

Weizhao bertemu Peisu di rooftop rumah sakit.

Notes:

Listen... I have so many idea but let me finish this Ramadan first. I wish I still alive by then

Work Text:

Weizhao berjalan-jalan di lorong rumah sakit setelah mendapatkan obat untuk neneknya, sampai dia melihat tangga menuju rooftop. Weizhao masih memakai baju sekolahnya. Anak kelas 1 SMA itu belum sempat mengganti bajunya saat ibunya menyuruhnya. Weizhao melihat jam tangannya

"Hmm masih ada waktu"

Weizhao melangkah naik ke atas menyusuri tangga menuju rooftop. Dia perlahan membuka pintunya, sinar matahari menerap wajahnya dan hembusan angin meniup lembut rambutnya yang agak berantakan.

Weizhao melihat ke sekeliling, dan pandangannya jatuh pada seseorang yang tengah berdiri di depan rail pembatas.

Weizhao memperhatikannya dan memutuskan untuk mendekatinya. Entah apa yang membuatnya begitu tertarik.

"Hai adik kecil, apa yang kau lakukan disini?"

Weizhao melihatnya memakai baju pasien, dan ia tidak di dampingi siapapun. Anak itu menoleh, wajahnya pucat dan rambutnya yang jatuh di bahunya bergoyang di tiup angin.

Anak itu tidak mengatakan apapun, dia kembali menatap hamparan gedung-gedung di depannya. Di depannya sebuah menara berbentuk seperti menara Eiffel berdiri tegak sebagai icon kota.

Weizhao meletakkan tangannya di rail pembatas dan menghirup udara disana.

"Wah disini hebat" ujarnya bersemangat. Ia melirik ke sebelahnya, anak itu tidak menunjukkan ekspresi apapun.

Mereka berdua sama-sama diam sampai anak itu mulai bersuara

"Apa kau bersekolah di X high school?"

Weizhao menoleh dan mengganguk

"Mm, benar. Apa kau juga sekolah disana?"

Anak itu menggeleng, dia kemudian berbalik, berjalan dan duduk di sebuah bangku panjang. Weizhao ikut berbalik dan menyandarkan tubuhnya pada pembatas.

"Tidak, aku homeschooling"

Weizhao mengangguk "kau sakit?"

"Ya, kanker darah"

"Itu terdengar berbahaya"

Anak itu tersenyum pias, membuat Weizhao sedikit gugup. Karena wajahnya yang pucat bisa terlihat hidup ketika ia tersenyum

"Tidak, aku hanya sering merasa lelah"

Weizhao mengangguk "namaku Weizhao", ujarnya memperkenalkan diri.

"Peisu" jawab anak itu singkat

"Berapa umurmu, Peisu?"

"15, aku akan berusia 15 dalam seminggu"

"Sebentar lagi ulangtahunmu? Apa akan ada perayaan?"

Peisu menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya dengan lembut

"Entahlah, lagipula itu sangat membosankan. Biasanya teman-teman papa dan mama yang akan datang. Mereka memberikan ku hadiah yang aku tidak mengerti"

Weizhao berjalan ke arah Peisu dan duduk di sebelahnya

"Seperti apa?"

"Mmmm, mobil?"

Weizhao membelalakkan matanya

"M- mobil? Untuk anak se usia mu?"

Peisu terkekeh melihat reaksi Weizhao, dan itu membuat Weizhao tersenyum

"Aneh kan? Aku tidak mengerti"

Weizhao berdehem. Keduanya menatap langit siang itu. Sangat cerah, terlihat langit biru dengan awan-awan menghiasinya.

"Memangnya... apa yang kau inginkan?"

Peisu menoleh, dan mata mereka bertemu.

"Peisu~" suara seorang wanita lembut memanggilnya. Peisu langsung berdiri

"Itu ibu, kau disini sampai kami turun ya"

Weizhao ingin memanggilnya tapi Peisu sudah pergi, tidak menjawab pertanyaan dan bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal.

Bagus, Weizhao yakin mereka akan bertemu lagi.

 

..........

H-5 sebelum ulang tahun Peisu.

 

Weizhao kembali membawa neneknya untuk medical check up bersama ibunya. Ibunya sedikit khawatir karena Weizhao biasanya tidak pernah mau ikut, namun tadi dia sangat memaksa.

"Ma, sebentar ya"

"Hei jangan jauh-jauh, lihat telfonmu kalau ibu memanggil"

Weizhao melambaikan tangannya dengan ponsel yang ia genggam.

"Anak itu, apa yang membuatnya begitu bersemangat?"

Weizhao berlari kecil menyusuri lorong rumah sakit. Satu persatu melihat ke papan nama pasien, namun tidak menemukan nama Peisu.

Apa Peisu ada di ruangan khusus?

Weizhao kemudian berlari ke arah tangga rooftop, ia hanya berharap Peisu ada disana.

Weizhao menaiki tangga dan membuka pintu rooftop, dengan nafas sedikit tersengal ia melihat ke sekeliling namun tak menemuka Peisu. Di pandangnya bungkusan di tangannya dengan sedih.

"Weizhao?"

Weizhao menoleh mendapati Peisu di pintu rooftop, ia kemudian tersenyum lebar

"Hai Peisu. Bagaimana kabarmu?"

"Aku baik, kau ada perlu apa disini?"

"Mengantar nenekku medical checkup dengan ibu"

Peisu mengangguk, matanya kemudian jatuh ke bungkusan di tangan Weizhao

"Apa itu..."

"Oh? Ini untukmu"

"Hah? Benarkah??"

Weizhao mengangguk dan menyodorkan bungkusannya ke Peisu. Peisu tersenyum dan menerimanya. Mereka kemudian berjalan ke bangku dan duduk bersama.

Peisu membuka bungkusannya

"Apa...ini?"

"Smoothie, aku yang buat sendiri. Dijamin dengan buah segar dan bersih. Lalu ada Pudding, aku buat sendiri juga"

Mata Peisu berbinar melihat smoothie yang berkilau dan pudding yang bergoyang gemulai di wadahnya.

"Kau pintar sekali memasak, aku makan ya?"

"Silahkan"

Wajah Weizhao agak memerah di puji seperti itu. Dia memang suka memasak dan semua orang memuji hasil masakannya. Namun pujian dari Peisu merasuk di titik yang berbeda di hati Weizhao. Itu membuatnya sangat gembira.

 

Peisu membuka puddingnya dan memotong bagian kecil untuk dirinya. Peisu merasakan jelly lembut di dalam mulutnya, terasa manis dan segar. Peisu tersenyum bahagia, ia jarang makan makanan seperti ini. Semua makannya di kontrol oleh orangtuanya.

Weizhao menusuk sedotan di cup smoothie nya dan memberikannya ke Peisu

"Minumlah"

Peisu menggangguk, dia tidak menggunakan tangannya dan langsung minum dari tangan Weizhao. Weizhao sedikit terkejut namun ia tak menolak. Peisu bukanlah anak sehat yang bisa bermain bersamanya. Weizhao anak yang sportif, dia bahkan menyukai bela diri. Namun dia merasa nyaman di sisi Peisu, entah mengapa.

 

10 menit berlalu dan makanan yang Weizhao bawa sudah habis, bahkan Peisu menyedot smoothie nya hingga tak bersisa.

"Aku akan membawakan mu lagi lain kali?"

Peisu mengangguk "ah kau bertanya soal kado yang kuinginkan untuk ulangtahun ku kan?"

Weizhao mengangguk "ya, waktu itu kau tak sempat menjawab"

"Aku mau kau buatkan kue buah, aku tidak bisa makan kue sembarangan. Tapi kalau buah... aku bisa"

Kue buah? Weizhao pernah liat seorang gadis di sekolahnya memberikan itu untuk memberi surprise pada kekasihnya. Weizhao akan bertanya bagaimana membuatnya

"Baiklah"

Peisu mengeluarkan Kelingkingnya

"Janji?"

Weizhao kemudian mengangkat Kelingkingnya dan menautkannya di milik Peisu

"Ya tentu"

......

H-3 ulang tahun Peisu.

 

Peisu dan Weizhao tengah berpiknik di atas rooftop. Weizhao sengaja membawa sebuah kain piknik dan kue-kue ringan yang tentu saja bisa di makan Peisu. Bunga Bakung putih menemani piknik mereka.

Peisu menaruh kepalanya di paha Weizhao dengan nyaman, memandang ke langit yang tidak terlalu terik.

"Akan lebih enak kalau kita bisa pergi keluar dan berpiknik di taman, di bawah pohon cherry blossom. Di musim ini semuanya lagi mekar"

Mata Peisu berbinar mendengar perkataan Weizhao, dia hanya tau bunga Cherry blossom yang mekar dari video video pembelajaran guru private nya. Dia ingin melihat yang asli

"Aku ingin kesana"

Weizhao menatap Peisu dengan lembut

"Kau bisa"

"Benarkah?"

Weizhao mengangguk mantap.

H-2 ulang tahun Peisu

Mereka berencana menyelinap keluar dari rumah sakit. Weizhao punya seribu cara mengelabui orang dewasa. Namun saat ia sampai di ruangan Peisu, ramai orang disana. Ia bersembunyi di belakang tembok dan menunggu. Hatinya berdebar dengan cemas. Apa yang terjadi? Semoga bukan hal buruk.

Seorang berpakaian dokter keluar, dia bilang kondisi Peisu melemah. Dia tidak boleh keluar dulu. Weizhao merasa nyeri di dadanya, rencana mereka batal. Padahal Peisu sangat menginginkannya.

Dia kemudian berlari keluar rumah sakit dan menuju taman. Dia punya rencana.

 

Weizhao kembali ke rumah sakit 25 menit kemudian. Dia melihat lorong sudah sepi, ia kemudian mengintip ke dalam, tidak ada siapa-siapa. Sampai sebuah sentuhan mendarat di pundaknya. Weizhao kaget dan segera berbalik.

Seorang wanita berparas cantik berdiri di depannya. Wajahnya tersenyum namun Weizhao bisa lihat kelelahan di rautnya.

"Apa kau Weizhao?"

"Ny- nyonya tau namaku?"

Wanita itu terkekeh pelan

"Peisu sering menceritakan tentangmu padaku"

Keduanya kemudian duduk di kursi luar

"Terimakasih ya, Weizhao"

"Untuk apa, nyonya?"

"Karena sudah menemani Peisu. Menjadi alasannya tersenyum. Menjadi alasannya... untuk terus berjuang melawan penyakitnya"

Mata wanita itu berkaca-kaca mengatakan semuanya. Weizhao mengeluarkan tissue dari kantongnya dan menyodorkannya ke wanita itu.

"Terimakasih" ucapnya sembari mengambil tissue dari tangan Weizhao.

"Saya tau, kalian berencana mengendap-endap keluar dari rumah sakit menonton festival cherry blossom kan?"

Weizhao terkejut "ah itu... Mm anu nyonya ini bukan salah Peisu aku yang-"

Wanita itu langsung mengusap pelan kepala Weizhao

"Tidak apa-apa, saya mengerti...."

"....Peisu, ingin selalu melihat dunia luar" tangannya ia turunkan perlahan.

"Semua ini salah saya, saya orangtua yang buruk" wanita itu mulai menangis, Weizhao tidak tau harus apa. Dia hanya mendengarkan, sampai tangisannya reda.

"Apa kau yang memberikan bunga putih itu untuk Peisu?"

Weizhao menggangguk, bunga yang mereka jadikan hiasan itu di bawa kembali oleh Peisu.

"Itu bunga kesukaan saya, indah sekali"

"Ibuku juga menyukainya, dia menanam banyak sekali di halaman rumah kami. Apa ibu-ibu selalu suka bunga itu?"

Wanita itu terkekeh pelan "aku juga tidak tau. Oh kau ingin bertemu Peisu?"

"Bolehkah?" Weizhao bertanya dengan bersemangat, dan wanita itu mengangguk.

Keduanya berdiri dan memasuki ruangan Peisu. Suara mesin mesin berbunyi memenuhi ruangan yang sunyi dan dingin. Cahaya matahari mencoba menyusup melalui tirai yang setengah tertutup.

Tubuh Peisu terbaring disana, dengan masker oksigen terpasang. Weizhao mendekatinya perlahan.

Weizhao ingin menangis. Ini pertama kalinya ia ingin sekali menangis, ia bahkan tak menangis saat ayahnya mengurungnya di ruangan gelap karena dia ketahuan bolos.

Bibirnya bergetar, tangannya hendak mengusap rambut Peisu namun urung. Saat ia hendak menarik tangannya, tangan Peisu menangkapnya dan menggenggamnya dengan lemah.

"We—Wei..."

Weizhao menoleh, air matanya tak lagi bisa ia tahan. Mengalir di pipinya. Peisu tersenyum

"Ke-napa?" suara lemah itu keluar dari bibir pucat Peisu. Masker oksigennya berembun karena udara yang ia keluarkan.

Weizhao menggeleng "mataku kelilipan debu"

"Ma..." Peisu memandang ibunya

"Lepas" ujarnya menunjuk masker oksigennya.

"Ah Peisu kau perlu istirahat, aku akan datang lain kali"

"Tidak"

"Tidak apa-apa Weizhao, hanya jangan terlalu lama"

Weizhao mengangguk, dia menggenggam tangan Peisu erat. Wanita itu melepas masker oksigen Peisu.

"Nanti mama datang lagi, kalian ngobrol dulu ya"

"Terimakasih, nyonya"

"Panggil Tante saja Weizhao"

Weizhao mengangguk paham disusul oleh Peisu ikut mengangguk.

Setelah mama Peisu keluar, Weizhao menarik kursi dan duduk di sebelah kasur Peisu.

"Sakit?"

Peisu menggeleng

"Hanya lemas, maaf kita jadi tidak bisa keluar"

Weizhao menggeleng "tidak masalah"

Lalu dia teringat akan sesuatu yang ia ambil di taman

"Oh aku membawa sesuatu seben-" Weizhao hendak pergi namun Peisu tidak melepaskannya

"Jangan pergi"

Weizhao menjadi urung, entah kenapa ada kesedihan di nada Peisu.

"Sebentar saja takkan lama"

Peisu menggeleng "duduk"

Weizhao menyerah dan duduk kembali.

"Jangan pergi, temani aku saja sebentar lagi aku akan tidur. Aku ingin melihatmu"

Weizhao mengangguk tidak tau harus bereaksi bagaimana.

"Weizhao... besok ulangtahun ku kau harus datang ya"

"Bolehkah?"

"Aku sudah bicara dengan mama, mama setuju papa pasti setuju. Kalau dia tidak setuju aku tidak peduli, aku mau kau datang. Baru aku punya alasan untuk merayakannya"

Weizhao merasa sangat tersentuh. Lagi-lagi anak di depannya bisa membuatnya sangat gembira. Entah tengang caranya berbicara, entah tentang caranya menyampaikan kata-katanya. Atau tentang matanya yang selalu berkilau saat melihat Weizhao. Bibirnya yang selalu berusaha tersenyum walau lemah. Wajahnya yang tidak terlihat kasihan, namun justru ada semangat di balik wajah pucat nya.

"Kau akan datang, kan?"

Weizhao tersenyum dan mengangguk "aku pasti datang"

"Ah begini saja. Besok kalau keadaanmu membaik aku akan minta ke Tante agar membawamu keluar. Tapi kau harus sembuh, bagaimana??"

"Aku mau, janji ya"

"Aku takkan mengingkari kok, aku berjanji"

"Mm"

......

H-1 ulang tahun Peisu.

Weizhao menemani Peisu hampir seharian di rumah sakit. Papanya pergi keluar negri untuk bisnis, dan mamanya sedang menyiapkan kepulangan Peisu

Ya, Peisu sudah semakin sehat. Dokter bahkan mengatakan ia mungkin bisa pulang besok.

Weizhao dan Peisu sangat senang terutama Weizhao. Weizhao kemudian mengeluarkan sebuah bola kristal berisi 2 baby angel di dalamnya, dan jika kau menggoyangkannya kelopak bunga Cherry blossom akan berjatuhan.

"Cantik sekali"

Peisu terlihat sangat baik di banding sebelumnya. Wajahnya kembali memiliki warna. Bibirnya tidak lagi pucat, Weizhao bahkan baru tau bibir Peisu berwarna pink pucat terlihat indah.

"Apa yang kau lihat? Di wajahku ada apa?"

Weizhao menggeleng malu, dia ketahuan memandangi Peisu.

"Aku sudah tanya Tante, besok ulangtahun di rumahmu aku boleh membawamu pergi keluar"

Peisu mengangguk senang.

"Ah, aku punya sesuatu"

Peisu mengeluarkan rubik dari kantongnya

"Nih, untukmu"

"Rubik?" Weizhao menerimanya

"Ya, aku tidak punya sesuatu yang menyenangkan. Tapi rubik ini kesukaanku"

"Kalau begitu jangan diberikan padaku, nih" Weizhao berniat mengembalikannya namun Peisu mendorong tangannya pelan

"Sudah aku berikan, kata mama tidak boleh mengambil kembali barang yang sudah di berikan. Ah. Aku mau turun"

"Oh..."

Weizhao langsung berdiri dan memapah Peisu turun dari tempat tidurnya. Keduanya berjalan ke jendela, wajah Peisu sumringah melihat ke arah jendela.

"Weizhao, senang berkenalan denganmu"

......

Hari ulangtahun Peisu

Kediaman keluarga Pei 08:30 am

"Peisu, kau bersemangat sekali. Ini masih sangat pagi"

"Ma... Weizhao berjanji akan datang aku harus bersiap menemuinya"

Wanita itu menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak semata wayangnya itu. Dia sangat bersyukur Peisu menemukan lagi alasannya untuk hidup. Bahkan orangtuanya tidak cukup untuk menjadi alasannya sembuh, hanya bertahan.

"Baiklah, mama tidak lagi mengganggu. Mama dan papa akan pergi ke toko kue. Kalau ada sesuatu telfon kami ya?"

"Iya ma"

Pintu kamar tertutup, Peisu menyisir rambutnya sebahunya. Menyentuhnya dengan lembut. Ia teringat Weizhao sangat menyukai rambutnya yang lembut.

"Terimakasih kepada shampoo treatment mama hihi" ujarnya sambil memandang wajahnya tersenyum di depan cermin.

Pukul 10 pagi banyak orang sudah berkumpul, namun Peisu belum menemukan keberadaan Weizhao.

"Ma, Weizhao belum disini. Jangan-jangan satpam tidak mengenalinya, ma tolong periksakan"

Peisu kecil menarik-narik lengan baju mamanya. Wanita itu tersenyum dan mengangguk

"Iya sayang, mama pastikan Weizhao datang"

Tak berselang lama, anak itu muncul dengan senyum di wajahnya. Dia terlihat berbeda. Terlihat lebih rapi. Peisu berlari dan memeluknya dengan erat

"Kau datang"

Weizhao kaget dengan serangan tiba-tiba itu, tapi dia perlahan membalas pelukan Peisu.

"Aku kan sudah berjanji"

Peisu melepas pelukannya dan acara ulang tahun di mulai.

Weizhao berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya saat satu persatu kerabat mengumumkan hadiahnya. Sungguh tak masuk akal.

Bahkan ada hadiah kertas saham dan obligasi. Ya ampun.

Weizhao memutuskan untuk memberikan hadiahnya nanti.

Setelah berlangsung selama setengah jam, Peisu berbisik ke mamanya.

"Baiklah, Peisu masih dalam masa pemulihan. Dia harus beristirahat. Kalian nikmati saja hidangannya" ucap mamanya kemudian membawa Peisu kembali ke kamarnya.

Weizhao mengikuti mereka dari belakang setelah di beritahu oleh pelayan di rumah Peisu.

Saat pintu ruangan terbuka, Weizhao memanggil namanya

"Peisu"

Peisu menoleh dan tersenyum, menghampiri Weizhao. Mama Peisu hanya geleng-geleng kepala melihatnya.

"Beristirahat sebentar ya, nanti mama beritahu kapan kalian boleh keluar"

Keduanya mengangguk dan memasuki kamar bersama.

Weizhao masuk ke kamar Peisu untuk pertama kalinya. Kamarnya besar namun sedikit gelap. Tidak banyak dekorasi di dalamnya.

Weizhao membuka kain jendelanya dan membiarkan cahaya matahari masuk.

"Kau harus sering-sering membiarkannya terbuka"

Peisu tak menjawab dia kemudian duduk di kasurnya.

"Ya aku tau. Kemarilah" Peisu menepuk-nepuk tempat di sebelahnya.

 

Keduanya kemudian duduk bersebelahan.

"Mana kadoku"

Weizhao menepuk pelan jidatnya "ah iya, sebentar ya"

Weizhao berlari keluar dan kembali dalam 7 menit dengan nafas tersengal-sengal

"Rumahmu besar sekali, haaa aku lelah"

Peisu terkekeh geli, dia kemudian turun dan mengusap keringat dari kening Weizhao

"Kau baik-baik saja?"

Weizhao hanya diam. Namun dia menikmatinya. Sentuhan tangan Peisu yang dingin menciptakan sensasi dingin menyejukkan.

Weizhao kemudian memegang tangan Peisu "aku baik-baik saja, ini kadomu"

Weizhao menyodorkan sebuah kotak dihiasi kertas kado warna-warni dan pita di atasnya.

"Cantik sekali. Aku buka ya"

Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan

Peisu membuka kadonya dan menemukan sebuah kalung perak dengan ukiran bunga Bakung di liontinnya

"Cantiknya"

"Mau aku pakaikan?"

"Please"

Peisu berbalik dan berjalan ke arah cermin sementara Weizhao berdiri di belakangnya dan memasangnya untuk Peisu.

"Cantik sekali, apa cocok denganku?"

Weizhao tersenyum, mengangguk dengan mantap

"Sangat"

........

Keduanya tengah berada di taman. Keinginan Peisu terpenuhi, taman masih penuh dengan Cherry blossom yang mekar.

Keduanya duduk di bawah pohon cherry blossom. Menikmati pemandangan. Sampai seseorang memberikan sesuatu kepada mereka

"Apa itu?"

Rupanya itu kado lain yang Weizhao siapkan untuk Peisu. Kue buah yang ia minta pada Weizhao.

"Selamat ulang tahun, Peisu"

Peisu sangat terharu dan memeluk Weizhao dengan erat.

"Aaah Peisu aku tercekik"

"Kau membuatku menangis, aku benci"

Weizhao tertawa, dia kemudian mengusap pelan rambut Peisu

"Ayo kita makan"

Peisu mengangguk dan melepaskan pelukannya.

Keduanya kemudian menikmati sore di bawah pohon dengan damai.

Weizhao mengerjapkan matanya, dia tertidur tanpa sadar. Peisu menyenderkan kepalanya di bahunya, membuat Weizhao tersenyum. Tangannya kemudian mengusap kepala Peisu

"Pei, sudah sore. Ayo pulang, anginnya sudah mulai kencang"

Tak ada respon dari Peisu. Weizhao kembali menepuk pelan pipi Peisu.

Dingin. Weizhao terkejut dan menggeser tubuhnya ke samping. Dia kemudian menepuk-nepuk pipi Peisu, kali ini sedikit keras

"Pei? Peisu? Peisu bangun"

Nihil, Peisu tidak bergerak sedikitpun. Weizhao memeriksa nadi dan nafasnya

"Peisu, kumohon" air mata mulai menuruni pipinya. Weizhao memeluk erat tubuh Peisu yang terasa kaku dan dingin. Dia kemudian bersusah payah menggendong tubuh Peisu kembali ke rumahnya.

 

'tiiit...tiiit...tiiit..."

"Peisu"

Peisu membuka matanya mendapati keluarganya berdiri di sekelilingnya, dengan dokter dan beberapa perawat.

"Ma...Pa..."

Kedua orangtuanya memeluk tubuh Peisu hangat.

Syukurlah.

......

"Ma, Weizhao. Ini bukan salahnya, jangan marahi dia. Pa... Jangan pisahkan aku dari Weizhao. Kumohon"

Kedua orang tuanya berpandangan dengan cemas. Sejatinya ini bukan salah Weizhao, namun jiwa bebas Weizhao dikhawatirkan akan mencelakai Peisu suatu hari nanti.

Peisu memegang kedua tangan orangtuanya

"Ma... Pa... Aku tidak ingin berpisah... kumohon...." Peisu menangis dan memeluk kedua lengan orang tuanya

"Baiklah. Tapi kalau kalian ingin keluar lagi, papa dan Mama harus tau kalian kemana"

Peisu mengangguk "baik"

Mamanya menyeka air mata Peisu "istirahat dulu ya"

"Aku ingin bertemu Weizhao"

"Sudah malam nak. Weizhao pasti sudah tidur" ujar mamanya.

"Besok ya" tawar papanya dan Peisu setuju.
....
..

Kediaman Weizhao

"Anak ibu sudah tidur?"

Pintu kamarnya diketuk

"Ibu boleh masuk?"

Ibunya selalu tau jika dia belum tidur,
Weizhao menghampiri pintu kamarnya dan membukanya. Ibunya masuk dan duduk di kursi belajarnya.

Weizhao menyusul dan duduk di tempat tidurnya.

"Bagaimana pesta ulang tahunnya tadi? Siapa temanmu itu? Peisu?"

Weizhao tidak menjawab apapun. Dia tidak tau keadaan Peisu sekarang.

"Bu... aku membunuhnya..."

Ibunya menatap Weizhao terkejut. Dia kemudian menghampiri anaknya di tempat tidu.

Weizhao menceritakan semua yang terjadi

"Oh sayangnya ibu"

Weizhao dibawa ke pelukan ibunya dengan hangat.

"Ibu akan coba cari tau ya, kamu tenang saja"

"Ibu mengenal keluarga Peisu?"

Ibunya mengangguk "mmm, ibu pernah satu perkumpulan dengan Mamanya Peisu"

"Bu tolong..." Weizhao menggenggam tangan ibunya dengan erat.

 

...
..

"Kabar baik, Peisu baik-baik saja. Sepertinya kamu sangat panik saat itu sampai salah menyangka ia berhenti bernafas. Tapi syukurlah kamu membawanya pulang tepat waktu, kamu menyelamatkan Peisu Weizhao"

Ibunya memeluk Weizhao dan mengusap rambutnya

"Anak ibu hebat"

Weizhao menjadi tenang. Dia sangat takut. Melihat bagaimana tubuh tak berdaya Peisu di bawa ke kamar dan tak lama segerombolan petugas kesehatan datang. Bahkan kedua orangtuanya tak memperdulikannya lagi.

"Dan kamu tau gak? Peisu mau ketemu kamu besok. Setelah pulang sekolah kamu bisa kesana"

Weizhao mengangguk.

....
..

 

10 years later

Seorang laki-laki berpostur tegas membawa buket bunga di tangan kirinya berjalan masuk ke area pemakaman.

Sampai di sebuah nisan ia duduk dan menaruh buketnya di depan nisan

"Hai, aku datang. Sudah 2 tahun sejak kau meninggalkanku"

Tangannya mengusap pelan nisan di depannya. Wajahnya tersenyum lemah

"Aku mungkin akan jarang mengunjungi mu untuk beberapa bulan kedepan. Aku akan ke Hongkong, ada sedikit hal yang di serahkan padaku"

Laki-laki itu kemudian terkekeh pelan

"Ini sangat lucu kenapa bisa kau yang pergi dulu daripada aku.... Weizhao... Aku merindukanmu"