Work Text:
Suara kipas angin yang berderak kasar di sebuah kamar kecil telah berhasil mengusik tidur lelap seorang anak adam. Kelopak mata yang mungil mengerjap-ngerjap perlahan berusaha memfokuskan cahaya yang tiba-tiba masuk ke rentina matanya. Pandangannya tertuju ke arah plafon yang dicat sebiru langit dengan sentuhan awan-awan kecil, lalu ke arah lukisan lima malaikat yang saling berpegangan tangan.
Suhu pukul tiga pagi yang harusnya bisa menggetarkan sendi-sendi tiap manusia tidak berhasil menggetarkan tubuh kecil seimei. Bagaimana tidak? Selimut tipis yang membalut tubuh ditambah apitan oleh dua sosok bertubuh besar di kiri dan kanan. Suhu dingin pagi yang jahat itu tidak berhasil mengusik hangat yang sudah tercipta. Seimei membuka mata lebih awal seperti biasanya. Ia tolehkan kepala kecilnya ke kanan dan dilihatnya sang kakak tertidur pulas dengan sedikit air liur yang menetes melewati bagian bibir. Bagi si kecil seimei sang kakak yang tertidur pulas dengan air liur yang menetes itu mirip seperti karakter dinosaurus hijau yang kemarin ditontonnya di TV. Tangan sang kakak melingkar erat di sekelilingnya. Mata semerah batu rubby itu mengamati dengan seksama dada sang kakak yang bergerak nain turun beraturan.
Kak haru lucu banget , batin seimei kecil sambil tersenyum tipis.
Ditolehkan lagi kepala mungilnya ke arah kanan dan dilihatnya lagi sang kakak tertua yang tidur terlentang. Tangan kanan sang kakak tertua menggengam erat jemari-jemari tangan seimei. Kedua bilah mata kecil itu terfokuskan kantong mata sang kakak yang terlihat sedikit menghitam.
Seperti panda , bola imajinasi seimei memproyeksikan wajah panda. Si kecil terus fokus memperhatikan wajah sang abang yang terlihat kelelahan.
Semalam kakak seimei ini pulang larut malam. Seimei kecil dan sang kakak nomor dua selalu menunggu di ruang tamu, namun karena sangat larut akhirnya keduanya tidur di sofa ruang tamu. Saat membuka mata seimei sudah berada di kasur kamar orang tuanya. Tidak ada istirahat bagi amaaki bahkan di hari ulang tahunnya sekalipun.
Sebagai anak tertua ame lah yang menjadi tiang penopang saudara-saudaranya. Seimei kecil paham kerasnya dunia orang dewasa, bagi mereka uang adalah kunci kebahagiaan. Seimei juga ingin dewasa secepatnya agar bisa membantu abang ame dan kakak haru. Tapi seingatnya saat mengucapkan kata-kata itu haru menangis dengan keras sambil memeluk seimei, dan ame yang mencubit kedua pipi gemuk seimei. Mengingat kejadian itu dan rasa sakitnya, Seimei kapok untuk berbicara soal menjadi dewasa.
Diayunkan pelan-pelan ke posisi semula. Seimei kecil memilih untuk tidur kembali, menikmati hangatnya pelukan sang kakak dan eratnya pegangan tangan sang abang. Suara kipas yang berderak itu perlahan mulai kabur digantikan oleh irama napas berat dan teratur dari sosok kecil yang mulai terlelap.
***
Aktivitas pagi di keluarga abe selalunya berjalan dengan damai tanpa kericuhan, tapi hari ini sedikit berbeda . Dimulai dengan haruaki yang menghanguskan telur mata sapi dan menciptakan api besar, dan amaaki yang lari tergopoh-gopoh hingga jatuh terguling-guling dari tangga lantai atas akibat mendengar teriakan haru yang begitu membahana. Kejadian heboh ini menggagalkan kejutan yang haruaki rencanakan, mengingat hari ini adalah hari yang spesial.
Seimei kecil sih hanya memperhatikan saja saat tragedi itu terjadi, lagipula sang abang pasti akan langsung membereskan masalah yang disebabkan oleh sang kakak.
“Maafkan kakak. Gara-gara kakak yang gagal masak ini kamu jadi tidak bisa menikmati telur mata sapi favoritmu.” Haruaki, sang pelaku utama berjalan dengan pelan dan tertunduk lesu.
"Kakak memang payah kalau soal memasak, tapi kakak sudah melakukan yang terbaik kok. Saat ini sei sangat senang kakak punya waktu untuk mengantar sei ke sekolah." Anak itu berujar dengan senyum manis dan mata yang berbinar cerah.
Sedetik kemudian tubuh seimei dipeluk brutal oleh sang kakak yang menangis sesegukan, seimei dengan perlahan mengusap kepala sang kakak.
Setelah puas berpelukan, haruaki menggandeng tangan kecil sang adik dan berjalan dengan suasana hati yang riang gembira.
Kakak memang aneh, tapi sei sayang kakak, batin si kecil setelah melihat perubahan mood haruaki.
Saat keduanya berjalan santai dengan haruaki yang terus berbicara dan seimei yang menjadi pendengar setia, terlihat di depan terdapat gerombolan ibu-ibu yang terang-terangan menatap sinis dan julid pada seimei, namun saat melihat haruaki mereka tersenyum tanpa rasa bersalah. Haruaki balas tersenyum tapi tangannya dengan erat menggengam tangan seimei. Setelah melewati kelompok itu haruaki menatap Seimei lalu mengarahkan lagi ke depan.
“Sei ingat kan ini hari apa?”
“Sei ingat, mana mungkin sei lupa.”
“Bagus, ingat sei habiskan hari ini dengan tersenyum bahagia.” Ujar haruaki lagi.
“Iya.”
“Kakak sayang sei.”
“Aku juga sayang kakak.”
***
Pelajaran pertama kelas 5A pagi ini dimulai dengan pelajaran Matematika. Seimei berhasil menjawab dengan tepat soal-soal yang diberikan gurunya dan mendapatkan bintang sebagai tanda prestasi. Di kelas, seimei memiliki dua teman yang sangat akrab dengannya, yaitu ashiya douman dan karasu suzaku. Seimei punya teman akrab lainnya, tapi sayang mereka berbeda kelas dengan seimei.
Selama jam istirahat pertama seimei duduk di kelas bersama douman dan suzaku. Sedari tadi douman melotot ke arah seimei dengan raut wajah yang tidak mengenakkan untuk dilihat, sementara suzaku asyik menyantap gorengan yang ia curi dari bekal douman.
“Douman payah, soal mudah aja kamu nggak bisa jawab.”
Kerutan imajiner muncul di wajah bocah berambut ungu.
"Heh aku cuman ngalah aja sama kamu. Aku pasti bisa ngalahin kamu seimei." Ucapkan douman dengan ketus ke arah seimei.
“Kamu ngomongnya udah berapa kali deh acchan, ujung-ujungnya juga kalah dari seimei.” Suzaku berujar disela-sela kenikmatan gorengan curian di tangannya.
“Kamu nggak usah ikut campur.” Ashiya melotot lalu memukul kepala suzaku.
“Bentar, KAMU AMBIL GORENGANKU YA?”
"Aduh sakit tau! Asal kamu tau ya acchan kata pamanku berbagi itu indah." Ucapkan suzaku sambil merintih kesakitan.
"Berbagi itu indah matamu! Keluarin nggak? Atau aku pukul kamu?"
Oke, sebelum peperangan kembali pecah. Seimei angkat bicara.
“Udah, kalian makan bekalku aja.”
“Ogah.”
“Aku nggak doyan sayur.”
Keduanya serempak menjawab dan sibuk dengan urusan masing-masing. Seimei heran, mereka berdua jarang meminta bekal seimei tapi selalu memberikan sebagian bekal atau makanan pada seimei. Setelah suara bel istirahat berbunyi tadi saja douman masih sempat memberikan dua potong risolnya pada seimei dan suzaku yang entah darimana memberi satu buah apel pada seimei.
“Oh ya hari ini ulang tahun kamu kan?” Bocah berambut ungu memulai percakapan.
“Iya,” Seimei tersenyum jahil.
“Fufufufu douman kamu pernah bilang nggak peduli sama ulang tahunku kan?”
“AKU NGGAK PERNAH NGOMONG GITU KOK?” Douman meminta kesal hingga mengundang tatapan sinis dari teman kelas lain.
“Acchan kamu pernah ngomong gitu sehari yang lalu loh.” Suzaku menimpali.
“Tck, ini untuk kamu dari aku dan suzaku.” Ujar bocah berambut ungu sambil mengeluarkan sepaket pensil warna dan buku cerita anak-anak pada seimei. Wajahnya merah seperti tomat.
Seimei sedikit terkejut, ia melihat kado yang diberikan douman lamat-lamat.
“Terima kasih.” Seimei menerima pemberian douman dengan senyum manis di wajahnya. Pipi gembilnya bersemu merah dan mata ruby anak itu berbinar-binar indah.
Douman dan suzaku saling berpandangan dan tersenyum.
“Jangan senyum-senyum nggak jelas gitu, aku pasti ngalahin kamu suatu saat nanti.”
“Aku tunggu.”
"Kalian mulai lagi. "
***
Seimei ingat betul petuah sang abang, bahwa di dunia ini ada beragam jenis manusia. Ada yang benar-benar baik dan tulus padamu, ada yang menusukmu dari belakang dan ada yang terang-terangan menujukkan ketidaksukaannya, dan hari ini seimei berhadapan dengan jenis manusia yang ketiga
Semuanya bermula saat ia berpisah dengan douman dan suzaku. Yang ketiga berbeda arah dan seimei harus pulang sendirian. Ada dua orang yang menghadang seimei dan sambil tersenyum picik salah satunya berujar. Salah satunya memiliki tahi lalat di mulut dan yang lainnya berambut cepak.
“Pembawa sial seperti kamu harusnya nggak pantes dapetin bintang itu.”
“Aku bukan pembawa sial dan lagipula kamu yang bodoh karena tidak bisa menjawab pertanyaan pak guru.” Seimei menjawab tanpa rasa takut. Baginya yang paling menakutkan adalah amukan sang abang dan kak haru yang mengabaikannya.
"Anjing kamu. Kamu pikir gara-gara siapa ibumu meninggal?"
“Terserah kamu mau bicara apa, bukannya kalian bakal kena hukuman dari mama kalian karena gagal di kuis tadi?” Skakmat . Lawan bicaranya diam tak berkutik. Seimei tahu kelemahan kedua lawan di depannya.
“Menjijikkan.” Salah satu dari yang menimpali.
“Biarin aja dia mau ngomong apa, kalo aku sih yakin pasti kedua kakak anak pembawa sial ini mikir yang sama kayak kita. Kata mamaku, si pembawa sial ini yang ngambil nyawa papa mamanya, bener-bener nggak tau malu.” Bocah itu menjawab lalu terkekeh pelan.
Seimei kecil menjawab. Apa yang anak ini ucapkan memasuki kepalanya seperti roket yang dilepaskan ke langit. Tubuhnya berdiri kaku, kulitnya pucat pasi.
“Lihat anak ini beraninya di mulut saja.” Si rambut cepak meraih kerah seimei dan memukulnya.
Seimei jatuh tersungkur. Napasnya putus-putus, mengeluarkan air liur. Jeritannya tertahan di mulut. Terakhir, dirasakannya tasnya diambil dan semua barang-barangnya dihamburkan di depan matanya.
“Orang kayak kamu nggak pantes dapat hadiah.” Memberi douman dan suzaku diinjak-injak.
Seimei kecil hanya bisa pasrah. Dia harus nyari alasan apa lagi buat bohong ke douman dan suzaku?
Sekali lagi bahunya diinjak ke bawah, hingga tubuhnya tersungkur mencium tanah.
“Hari ini kami kami pengen main sama kamu loh seimei, kamu mau nemenin kami kan?” Si anak tahi lalat berujar manis sambil menatap seimei yang tersungkur di tanah.
Seimei kuat, tapi rasanya tubuhnya tidak mampu lagi. Siapa saja tolong seimei.
***
Saat situasi bertambah genting, samar-samar seimei mendengar suara douman dan suzaku. Selang beberapa detik si cepak jahanam yang menginjak tubuh seimei jatuh ke belakang dengan tidak elit, rekannya yang lain langsung mundur
“Seimei, kamu nggak papa?” Si ungu berujar risau.
Suzaku memeloti kedua bocah di depan mereka, dan berbicara keras-keras.
“Acchan kayaknya mereka harus kita tabok sekarang.” Suzaku udah berancang-ancang seperti atlet kungfu.
Perkelahian pun tidak terhindarkan. Si cepak memukul wajah Suzaku, dan Suzaku balas menggigit tangan bocah itu dengan keras. Douman dan si tahi lalat saling aduh jotos hingga berguling-guling di tanah. Seimei duduk lemas dan berusaha mencari pertolongan, tapi perutnya betulan sakit. Untung saja suara perkelahian mereka mengundang datangnya dua pria dewasa yang sedang lewat.
Sebelum kedua orang tersebut mendekat, si kecil terjatuh ke depan. Kelopak matanya perlahan-lahan menutup; ia masih bisa melihat perkelahian Suzaku dan Douman yang diberhentikan oleh pria berseragam polisi dan seorang pria lainnya yang berusaha menjaga seimei tetap sadar.
***
Saat membuka mata, visual pertama yang ditangkap oleh seimei adalah raut wajah sang abang yang sepertinya baru selesai menangis dan sang kakak yang tersenyum lembut. Hal yang dirasakan seimei berikutnya adalah pelukan erat dari ame dan usapan hangat di kepala oleh haru. Saat kedua bola matanya menyelidik ke seluruh ruangan seimei sadar sedang berada di kamar rumah sakit.
“Kamu kenapa nggak pernah bilang sama abang kalau kamu diganggu sama temen-temenmu?” Amaaki menutupi pelukannya pada tubuh kecil Seimei lalu ia mengungkapkan sedikit kekesalannya.
“Sei pasti punya alasan sendiri ame.”
“Tapi aku ngerasa nggak berguna jadi abang kalian haru. Aku gagal ngelindungin kalian.” Amaaki kepalkan tangan.
Seimei yang mendengar ucapan sang kakak tertua, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras.
“Tidak abang, tidak seperti itu.” Anak itu berujar dengan raut wajah bersalah.
“Lalu kenapa sei nggak mau cerita sama kakak dan abang kalau selama ini seimei dirundung?” Haruaki bertanya pada seimei kecil.
“Kalau nggak ada paman yamazaki dan dokter akira, kakak nggak tau bakal gimana nanti.” Haruaki melanjutkan lagi.
“Kakak dan abang gak pernah mikir kalau sei itu pembawa sial.” Mata haruaki berkaca-kaca, ia menarik nafasnya untuk menenangkan diri.
“Kehadiran kamu di keluarga ini adalah berkah, sei. Jangan pernah takut untuk meminta bantuan ke abang dan kakak. “ Setetes air mata jatuh ke kasur pasien.
Jangan merasa sendirian seimei .
“Jangan pernah ragu untuk cerita apapun ke abang. Amaaki menunduk sedikit lalu lanjut berbicara.
“Abang banting tulang buat kamu dan juga haru, seimei. Kematian ayah dan bunda bukan kesalahan kamu.”
Jangan merasa bersalah lagi .
Seimei jarang menangis, tapi malam ini anak itu menangis di pelukan kedua saudaranya. Ia menumpahkan segala sakit yang ia rasakan. Setelah puas menangis amaaki mulai menceritakan kronologi saat seimei tak sadarkan diri, mulai dari amaaki dan haruaki yang bertemu dengan orang tua kedua bocah yang menggangu seimei, amaaki dan haruaki yang bersitegang dengan orang tua kedua bocah tersebut, lalu akhirnya pada penyelamatan epik oleh pak yamazaki, dokter takashi, dan ebisu.
Semuanya amaaki ceritakan pada seimei dengan menggebu-gebu, sementara haruaki hanya diam memeluk seimei dan seekali menimpali saat amaaki bercerita.
“Kamu nggak usah takut lagi, abang dan kakak akan berusaha nyiptain dunia yang aman buat kamu.” Tutur Haruaki. Melihat raut wajah adiknya yang seolah ingin bertanya lagi, ia menimpali.
"Kalau soal douman dan suzaku, kamu jangan khawatir, mereka baik-baik saja. Mereka nangis minta maaf ke kakak sama abang pas kamu tidak sadarkan diri."
“Bentar abang ke toilet dulu.” Amaaki berjalan dengan sedikit tergesa-gesa.
“Iya abang, tapi jangan lama-lama.”
Iya seimei.”
Seimei tersenyum lembut, ia senderkan kepalanya ke dada sang kakak. Tiba-tiba lampu kamar dimatikan dan munculah ame dengan sebuah kue yang dihiasi lilin
Selamat ulang tahun
Selamat ulang tahun
Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun
Selamat ulang tahun
Selamat ulang tahun Haruaki & Seimei.
Malam itu mereka habiskan dengan makan kue, bercanda ria, menangis, dan saling menguatkan. Yang ketiga tertidur di satu kasur dengan memeluk seimei yang berada di tengah. Meskipun dunia membenci mereka asalkan mereka memiliki satu sama lain, maka bintang di angkasa pun dapat mereka raih
Bagian satu, selesai .
