Work Text:
Sambil mengunyah permen asam jawa, Yudistira memutar kunci pintu. Feromon beraroma melati berpadu dengan kayu manis dan cengkeh menyambutnya begitu masuk ke kamar kosnya. Dia telan permen yang sudah lunak di mulutnya sambil mengunci pintu, kemudian menghampiri tempat tidur sambil membawa dua kantong plastik hitam.
Di sana, Nakula tengah meringkuk di atas kasur yang hanya beralaskan karpet tanpa rangka. Dia merintih kesakitan dan wajahnya merah padam, bajunya pun basah oleh keringat karena heat.
Sebagai late bloomer, manifestasi Nakula sebagai omega pada usia sembilan belas tahun sempat menjadi kejutan kecil yang kemudian terlupakan begitu saja. Heat tidak ada bedanya dengan masuk angin dan tidak ada juga alpha yang membuatnya tertarik. Setelahnya, delapan tahun dia habiskan dengan hari-hari yang monoton seorang diri. Semua itu bertahan hingga hari di mana dia kembali tinggal bersama Sadewa, kakak kembarnya yang seorang alpha.
Perubahan itu membuat Sadewa bukan lagi sekadar saudaranya. Tubuh omega-nya kerap meraung meminta digagahi dan hatinya memohon untuk dicintai. Karenanya, tiap kali heat dan sebelum akal sehatnya hilang, Nakula selalu kabur dari rumah dengan alasan perjalanan dinas, kali ini ke tempat tinggal Yudistira, temannya yang lebih muda empat tahun dan juga seorang omega.
Yudistira melangkah pelan sembari memungut vest dan coat Nakula yang tercecer di lantai. Dia kemudian duduk di pinggir kasur, melipat kedua pakaian itu sebisanya, lalu meletakkannya di sisi tubuhnya.
“Mas Nakul,” panggil Yudistira seraya menyibak rambut biru Nakula yang menempel di kening karena keringat.
“Yudis?” suara serak Nakula terdengar tidak yakin. Pandangannya mengabur, tidak bisa melihat siapa yang ada di depannya dengan jelas. Kedua kakinya refleks merapat karena takut.
“Iya, ini Yudis.” jawab Yudistira sambil menepuk ringan dada Nakula, berusaha menenangkan.
Yudistira bangun mengambil handuk putih yang menggantung di belakang pintu, lalu kembali pada Nakula. “Maaf, kosanku panas, ya?” Yudistira menyeka kening Nakula perlahan.
Nakula tersenyum tipis dan menggeleng, “ga kok, ini kan karena aku lagi heat.”
Yudistira mengangguk. Dia tahu itu, tapi kamar kos kecil enam ratus ribuannya—yang cuma punya satu jendela kecil dan kipas angin yang hanya bisa menghadap ke satu arah—selalu membuat Yudistira sungkan tiap kali ada yang berkunjung, karena dia pun tidak bisa merasa nyaman saat pertama kali pindah ke sana.
“Mas Nakul makan dulu, ya? Biar bisa minum suppressant. Aku udah beli nasi rames.” Yudistira menunjuk salah satu kantong plastik yang dia taruh di lantai.
Nakula menggeleng, “nanti, mulutku pait.”
“Oh, aku punya permen!” seru Yudistira sambil merogoh saku jaketnya. Dia keluarkan sebungkus permen asam jawa tanpa merk yang dia beli di warung, lalu mengambil satu untuk dia makan sendiri sebelum memberikan semuanya pada Nakula.
Sambil berbaring, Nakula mengambil permen dan mengunyahnya. Indra perasanya belum sembuh betul, tapi rasa asam membuatnya memejamkan mata sesaat.
“Aku juga punya ini,” Yudistira membuka kantong plastik satunya.
Nakula memperhatikan Yudistira seraya mengunyah. Dari dalam kantong plastik, benda yang muncul membuat mata Nakula seketika terbelalak.
Nakula sangat kenal benda itu; kemeja kerja Sadewa.
Tangannya dengan cepat merebut kemeja itu hingga membuat Yudistira tersentak. Nakula mengendus kemeja itu sesaat, bau keringat dan wangi parfum sudah berganti bau panas matahari dan pelembut pakaian, tapi feromon Sadewa yang tertinggal di sana masihlah sangat kuat, hingga bisa memberi sengatan-sengatan kecil yang membuat bibirnya melenguh pelan.
“Kok kamu bisa punya ini?” Nakula memiringkan kepalanya. Sebelah tangannya memeluk kemeja Sadewa di dadanya, sementara tangannya yang lain menyuapkan permen ke mulutnya sendiri.
“Heat lebih enak sambil nyium feromon alpha yang disuka, kan?”
“Terus?”
“Ya aku maling aja jemurannya Mas Dewa buat Mas Nakul.”
Nakula menggigit bibirnya sendiri menahan tawa. Aneh, tapi itu adalah kebaikan hati dan rasa perhatian yang Yudistira-banget.
“Makasih, ya, Yudis,” ucap Nakula dengan lembut. Dia memeluk erat kemeja kembarannya dengan tangan yang meremas.
Ada rasa ngilu asing yang mendadak Yudistira rasakan di dadanya. Dia tertawa kecil dengan kikuk, “sama-sama.”
Nakula pun bergeser, membuat tempat yang cukup di kasur untuk ditiduri satu orang lagi. “Yudis, sini,” ajak Nakula untuk tidur di sebelahnya. Tanpa menjawab, Yudistira segera merebahkan diri sambil tersenyum lebar—punggungnya memang sudah pegal.
Yudistira merogoh bungkus permen di antara dirinya dan Nakula, mengambil sebutir, lalu memakannya. Pria bertubuh kecil itu menjilat ujung ibu jari dan telunjuknya, membersihkan sisa-sisa kristal gula yang tertinggal di sana. Dia kemudian menoleh pada Nakula yang membenamkan setengah wajahnya di kemeja Sadewa sambil merintih kecil.
Nakula yang tampak ringkih dan kesakitan saat itu justru terlihat cantik dan menggoda, seperti buah yang ranum—membuat Yudistira sibuk dengan isi kepalanya sendiri; bertanya-tanya, apakah akan tiba saat Yudistira juga tampak seperti itu.
Terakhir kali Yudistira mengalami heat, dia malah tampak seperti kangkung kemarin sore. Mungkin, itulah bedanya omega yang tengah jatuh cinta dan tidak.
Lamunan Yudistira buyar begitu mendengar jeritan kecil Nakula.
“Mas, kenapa?” tanya Yudistira panik sambil menurunkan kemeja Sadewa yang menutupi wajah Nakula.
“Pipi dalemku kegigit,” jawab Nakula disusul dengan suara merengek. Tangannya memegangi pipinya yang sebelah kanan.
“Coba aku liat, takutnya luka,” Yudistira menangkup kedua pipi Nakula dengan hati-hati. Sentuhannya ringan, seolah Nakula adalah barang pecah belah.
Nakula mendongak sedikit, kemudian membuka mulutnya. Luka robek kecil terlihat di dinding mulut.
“Luka dikit ini, Mas—”
Yudistira tertegun saat matanya bertemu dengan milik Nakula. Keindahan iris biru itu memang sudah menarik perhatiannya sejak mereka bertemu untuk pertama kali. Tidak hanya matanya, alis lurus Nakula yang rapi juga terlihat cantik. Hidung mancungnya. Kulit putih gadingnya. Bibir tipisnya.
Semua yang ada pada Nakula begitu menghipnotis.
Mata Yudistira tidak bisa lepas dari bibir itu. Dia menelan ludah. Dengan jemari yang sedikit gemetar, Yudistira mengusap permukaan lembut itu menggunakan ibu jarinya. Pria bertubuh kecil itu bergeser mendekat, menghilangkan jarak hingga napasnya membaur dengan Nakula. Saat kelopak matanya perlahan menutup, Yudistira akhirnya menyesap bibir itu.
Bibir Nakula mirip dengan permen yang dia makan, tapi tanpa rasa asam dan hanya ada rasa manis yang membuat ketagihan. Tubuh Yudistira yang berangsur-angsur memanas, mengeluarkan feromon beraroma manis gula aren berlapis wangi pandan.
Brak!
Suara pintu yang ditutup keras dari kamar kos sebelah menyentak Yudistira. Di hadapannya, Nakula menatapnya terperanjat. Yudistira bergegas menjauh dan bangkit berdiri, hingga matanya tak sengaja menangkap bayangan diri di cermin lemari.
Heat semu yang mulai menderanya membuat wajahnya merona hebat. Bibirnya yang terbuka sedikit, melepas napas yang terasa panas dan berat. Kaos putih yang lembap oleh peluh kini melekat erat, mencetak lekuk kulit di baliknya. Cantik dan menggoda.
Yudistira terlihat ranum.
Sontak, Yudistira mengambil suppressant dan botol air mineral dari tasnya. Dia meneguk dengan terburu-buru hingga membuatnya tersedak. Yudistira jatuh terduduk, memuntahkan air dan tablet suppressant-nya. Air yang termuntahkan dan yang keluar dari hidung meninggalkan rasa perih yang menyengat.
Nakula berusaha bangun sekuat tenaga, merangkak dengan tangan yang lemas ke arah Yudistira yang mulai menangis sambil terbatuk-batuk.
“Yudis,” Nakula segera memeluk tubuh kecil Yudistira. “Kamu mungkin ketularan heat-ku.”
“Aku ga apa-apa,” lanjut Nakula berulang sambil mengusap punggung Yudistira.
Tangisan Yudistira tidak berhenti. Yang mengguncangnya bukanlah rasa panik karena telah mencium temannya. Namun, kesadaran bahwa semua yang dia lakukan demi Nakula tidaklah tulus. Kesadaran bahwa feromon Nakula tidak berefek apapun padanya.
Kesadaran bahwa tubuh omega-nya ranum untuk Nakula yang tidak akan pernah menginginkannya.
