Chapter Text
NOVEMBER, 2054.
Ia kembali kepada jendela kesayangan. Sudah lama tak berkunjung setelah sekian lama, akhirnya Pond Naravit memunculkan diri di sana. Sebuah rumah cukup usang, sebab lama tak ditinggali pemiliknya. Berpuluh-puluh tahun berlalu, tetapi rasanya masih sama. Seekor laba-laba termenung di ujung kaca dan tertidur di atas rumah jejaringnya.
Nara mendekati rumah makhluk berkaki delapan itu, niatnya ingin membersihkan. Tapi di umurnya yang semakin beranjak tua dan mendekati waktu krusial, ia tak tega. Lelaki itu merasa, sang laba-laba berhak memutuskan untuk tinggal di mana. Bukan salahnya juga ia membangun sarang di rumah yang jarang sekali dibersihkan selama ini.
Ya, mungkin memang salahku… batin Nara terdiam di tempat, lalu menduduki sebuah kursi yang lama pula tak dihinggapinya.
Hujan mulai membisikkan rintik-rintik yang kian menderas. Awan mendung berkeliaran ke sana kemari bersama angin berhembus hingga dingin mulai terasa. Tak dirasa waktu sudah berlalu sekian lama dari pertama kali Nara menginjakkan kaki di rumah ini bersama sang anak.
Pikiran Nara melayang pada masa-masa itu; masa-masa ketika salju mulai turun menyelimuti bumi, tetapi kehangatan justru terasa ketika seseorang sering kali membuatkannya cokelat panas. Bukan, bukan sang anak yang melakukan. Melainkan sosok lain yang kehadirannya sehangat matahari terbit di atas perbukitan dan tak pernah tenggelam seiring berjalannya waktu menuju arah barat.
“Rupanya… Ayah di sini.”
Yang dipanggil tak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara. Sang anak, Gemini, datang menjejakkan kaki di lantai kayu kamar orang tuanya. Ia memandangi punggung sang ayah, tapi tahu kalau beliau tahu akan kehadirannya.
Tanpa perlu diperhatikan, Nara juga tahu kalau saat ini Gemini berselimut rintik hujan di banyak titik jaket panjangnya. Rambut yang biasa ditata rapi kali ini cukup berantakan, sebab angin berusaha meredam kesempurnaan helai-helai. Deru nafas yang bertolak belakang dengan Nara juga pertanda kalau ia sempat panik dan berlari untuk bisa ke sini.
Kamar orang tuanya yang ada di lantai dua.
“Tenangkan dirimu, Nak,” ucap Nara pelan memecah keheningan. Masih tak menoleh dan memandangi lanskap favoritnya. “Kenapa harus berlari di rumah kecil ini?”
Gemini menghela nafas lalu berdeham. Tak mau ketahuan kalau yang dibicarakan ayahnya benar. “Bukan apa-apa.”
“Ayo duduk, temani Ayah.”
Lantai kayu yang lapuk mulai berderit seiring Gemini melangkah. Ia berpikir, mungkin sudah saatnya semua ini dilepaskan saja. Sudah bertahun-tahun lamanya, dan betapa sulit membujuk sang ayah untuk melupakan dan membiarkan tempat ini berhamburan bersama waktu.
Rumah lama bersama sang ayah ini sudah tak terhitung jumlah usianya. Yang diketahui Gemini hanyalah fragmen-fragmen kecil yang mengatakan kalau ia besar di rumah ini. Rasa nyaman dan tenang masih menyergap hati setiap kali datang kemari. Tetapi mengapa justru Gemini yang lebih mudah merelakan rumah ini dibanding sang ayah yang notabenenya baru memiliki ketika sudah beranjak dewasa?
Nara tak mau kehilangan.
Ia masih ingin kemari karena hanya ini satu-satunya yang tersisa dari sebagian entitas di masa lalunya. Ia teringat kembali ke masa-masa dirinya resmi beranjak dari rumah ini dulu. Memutuskan untuk ikut bersama keluarga kecil Gemini lalu pindah ke luar kota. Berat hati dirasa hingga membanjiri pelupuk mata yang tak terasa akan tumpah. Hanya bisa diratapi, dan dirawat sepenuh hati meskipun sudah tak tinggal di rumah ini lagi.
Tetapi setidaknya Gemini masih ingin melihat sang ayah tersenyum, sehingga anak itu akhirnya memutuskan mengajak sang ayah berkunjung sesekali dengan waktu sejam atau dua jam.
“Ayah ingin tahu pendapatmu,” ucap Nara memalingkan sejenak perhatiannya menuju wajah sang anak. Menyadari bahwa yang dilihatnya saat ini adalah versi dewasa dari anak kecil yang masih suka berlarian di sekeliling rumah. “Bagaimana dirimu memaknai 'Waktu'?”
“Waktu?”
Sang ayah mengangguk samar, kemudian kembali memandang keluar jendela. Penglihatannya jauh, menembus kaca dan tertuju pada rongga kosong di rumah seberang mereka.
Gemini memandang ayahnya dengan kedua alis merengut, berpikir bahwa pertanyaan yang diajukan cukup berat dan spontan. Alhasil, pemuda itu bertanya kembali. “Dalam konteks apa yang Ayah maksud?”
“Tergantung dari pemaknaanmu,” jawab Nara tanpa menoleh. “Tak perlu terlalu dipikir, Nak. Ini bukan sesi tanya jawab presentasi seperti yang kamu lakukan di kantor.”
“Ah, ya, mungkin aku terlalu tegang.” Gemini menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia terdiam sejenak, lalu berkata, “Tapi tetap saja harus kupikirkan. Beri aku waktu, Ayah.”
Nara mendengus lucu, dan Gemini paham bahwa itu pertanda sang ayah justru membiarkan sebab tahu bagaimana kelakuan anaknya. Nara menunggu selagi berpikir bahwa Gemini memang tak pernah berubah. Selalu kritis ketika menghadapi segala pertanyaan, dan sifat itu memang bagus bagi pengemban beban cukup besar di jabatan yang dipunya di kantor.
Tetapi sebagai bayarannya, sifat kritis itu juga dibawa ke dunia interaksi sosial. Segala hal harus benar-benar diperhatikan dan dipikir betul-betul. Isi kepala lelaki itu tak pernah terlalu sederhana, sebab jika terjadi sebaliknya sang ayah akan merasa bahwa Gemini bukanlah anaknya.
“Waktu… adalah sesuatu yang tidak bisa digantikan. Tidak ada yang namanya kesempatan kedua. Aku percaya, kesempatan pertama dan kedua memiliki esensi dan rasa yang berbeda. Kalau memilih kesempatan kedua, bisa jadi aku sudah melewatkan sesuatu yang jauh lebih berharga dan hanya terjadi di kesempatan pertama.”
Gemini terdiam sejenak, merangkai kata-kata yang selanjutnya akan dituangkan.
“... Dan ini berhubungan dengan betapa pentingnya waktu di dalam kehidupan. Karena kalau tidak, pasti segalanya tidak akan sesuai rencana yang sudah dibuat. Seluruh tujuan batal terlaksana hanya karena waktu dan kesempatan pertama itu terlewatkan begitu saja.”
“Ada lagi yang mau ditambahkan?” tawar Nara ketika tak lagi mendengar ucapan dari sang anak.
Gemini menggeleng. “Tidak ada. Cukup sampai di sana.”
Ketika mendengar respon itu, Nara terkekeh pelan kemudian menghela nafas. Menikmati oksigen yang perlahan memenuhi relung dadanya.
“Jawaban yang menarik, dan sangat bisa Ayah bayangkan kamu menjawab demikian.”
“Apakah sudah bisa ditebak?”
“Antara iya dan tidak,” jawab Nara. “Ayah mengiyakan, karena Ayah-lah yang membesarkanmu. Ayah tahu seperti apa dirimu, dan kamu adalah—bisa dibilang—representasi dari Ayah ketika muda dulu. Hampir mirip tujuh puluh lima persen.”
“Lalu, bagaimana jika ‘tidak’, dan ke mana persentase tidak mirip dua puluh lima persen itu?”
“. . .”
Pond Naravit tahu kalau pertanyaan itu cepat atau lambat akan melayang bersama waktu yang ada sekarang. Sudah saatnya ia berbagi kisah yang tak pernah benar-benar tertuang kepada sang anak.
Nara kembali menjelajah ke dalam ruang-ruang ingatan yang sempat ditinggalkan. Ruang-ruang itu perlahan terbuka kembali, sebab kunci yang digunakan masih tersimpan begitu baik. Hanya butuh sedikit pemantik, lantas terbukalah seluruh pintu yang mengarah kepada bagian terpenting dari segala hal berkaitan dengan waktu;
Kesempatan kedua untuk merasakan kasih sayang dari seorang pujaan hati di tahun 2024.
To be continued . . .
