Chapter Text
Hari itu adalah hari yang cerah, yang sayangnya tidak secerah perasaan Ohyul saat ini. Di sebuah gazebo fakultas lah Kyujin — kekasih Ohyul, secara sepihak meminta untuk mengakhiri hubungan tanpa status mereka. Hubungan yang bisa dibilang tidak terikat itu sudah berlangsung selama 1 tahun lamanya, sehingga Ohyul pun kebingungan dengan permintaan mendadak tersebut.
“Ohyul, kayaknya kita udahan aja deh sampe disini. Aku udah gak bisa lagi sama kamu.” Ucap Kyujin dengan nada yang terdengar sangat yakin.
“Hah…? HAH?!” Dan begitulah reaksi pertama Ohyul yang sebelumnya sedang asik membaca materi untuk kelas mata kuliah selanjutnya.
“Maksud kamu putus? Kok tiba-tiba? Kalau emang aku ada salah kita obrolin dulu aja yuk, sayang”
“Enggak, kamu gak ada salah. Aku yang salah karena aku naksir orang lain sekarang.” Begitulah singkatnya bagaimana hari Ohyul yang seharusnya cerah jadi hancur dan gelap seketika.
Bagaimana tidak? Orang yang sangat Ohyul sayang selama satu tahun kebelakang tiba-tiba mengatakan bahwa ia ingin putus karena menyukai orang lain. Posisinya pun serba salah, mau melarang juga tidak pernah ada status yang mengikat keduanya, tapi diposisi lain Ohyul pun tidak bisa terima begitu saja.
Percakapan keduanya tidak berlangsung terlalu lama, dikarenakan Kyujin yang benar-benar sudah tidak ingin melanjutkan hubungan tersebut dan Ohyul memiliki kelas yang akan segera dimulai dan ia sedang tidak bisa menitip absen pada siapapun.
Kyujin yang merasa sudah cukup menjelaskan akhirnya memutuskan untuk segara pergi dari hadapan Ohyul.
“Duluan ya, Ohyul. Makasih satu tahunnya. Kamu orang baik, pasti ketemu sama yang baik juga. Next time jangan HTS lagi ya, yul. Coba sekali-kali kamu serius. Goodbye, Ohyul.” Kemudian perempuan tersebut berjalan menuju kelasnya yang berbeda gedung dengan kelas Ohyul berikutnya.
Dan disitulah Ohyul, hanya bisa duduk kebingungan sampai akhirnya ia sadar bahwa masih ada kelas yang harus ia hadiri.
“HAH?! GILA YA TU CEWEK??!?!?!”
Kali ini suara dengan penuh emosi tersebut keluar dari salah satu teman baik Ohyul, Woojin namanya.
“Gw juga gak ngerti, Jin…”
“Gak Yul, masalahnya dia nyalahin ELU anjir. Jelas-jelas selama ini yang gak mau ada status tuh dia! Kok malah jadi playing victim gitu sih, anjing. Emang siapa sih orang yang dia sukain sekarang? se-mantep apa gw tanya?” Woojin benar-benar sudah marah dikarenakan ucapan Kyujin yang tidak sesuai dengan realitanya.
Sejujurnya, Kyujin lah yang tidak pernah menginginkan status dalam hubungan mereka. Katanya sih; kita kan sama-sama tahu perasaan masing-masing, jadi gak perlu lah segala ada statusnya.
Ohyul tahu betul bahwa bukan kesalahannya jika selama ini tidak pernah ada status diantara keduanya. Namun, yang membuat Ohyul benar-benar berpikir keras adalah siapa orang baru yang membuat Kyujin mengakhiri hubungan tersebut.
“Nah, itu dia Jin. Gw juga gak tahu siapa orangnya. Sumpah gw juga jadi pengen liat, se-mantep apa sih emang kalau dibanding gw???” Ucap Ohyul dengan nada frustasi.
“Yaudah Yul, coba ya nanti gw cari siapa orangnya. Udah sekarang lu fokus move on aja, gak perlu lah galau-in cewek kayak begitu.” Ohyul hanya bisa mengangguk mendengar ucapan Woojin. Namun, ia juga tahu bahwa sepertinya dirinya akan lumayan galau, mengingat perasaannya yang cukup besar terhadap Kyujin.
Beberapa hari pun Ohyul lewati dengan semangat yang hanya cukup untuk dirinya gunakan berangkat kuliah — berangkat doang, sisanya cuma duduk dikelas dan tidak ada satupun materi yang masuk ke dalam otaknya.
Woojin, satu-satunya teman Ohyul dikampus, sebenarnya sadar akan tingkah Ohyul yang sudah seperti mayat hidup. Woojin juga yakin Ohyul hanya pura-pura baik-baik saja tiap ia bertanya mengenai kabarnya.
Tidak tega, akhirnya Woojin pun memberanikan diri untuk bertanya pada beberapa teman terdekat Kyujin, siapa sih cowok yang Kyujin sukai ini?
Usaha Woojin tersebut membuahkan hasil, setelah dicari tahu akhirnya ia mendapat sebuah nama yang sudah tiga minggu ini membuat sahabatnya galau mampus.
Kim Woonhak.
Itu namanya. Woojin tidak terlalu mengenalnya, namun yang pasti Woojin tahu bahwa Woonhak adalah salah satu anak BEM yang cukup dikenal di angkatannya dan usut punya usut, ternyata Kyujin dan Woonhak ini ada di kelas yang sama.
“Yul!! Gw tau siapa orangnya!!” Tanpa basa-basi, setelah mengetahui siapa orang tersebut, Woojin langsung menemui Ohyul untuk mengabari temannya tersebut.
Ohyul yang sedang bengong di kantin sambil sesekali menyuapi nasi goreng ke dalam mulutnya hanya bisa kaget atas teriakan Woojin tersebut.
“Hah? Tau apa lu??”
“Gw tau siapa cowok yang sekarang lagi Kyujin incer, Yul!” Jawabanya antusias.
“Namanya Kim Woonhak, rombel A. Harusnya lu tahu sih, dia lumayan terkenal dan denger-denger anaknya emang friendly banget. Paling si Kyujin geer tuh, dikira Woonhak mau sama dia padahal mah emang dia begitu ke semua orang.” Lanjut Woojin tanpa henti. Ia menjelaskan detail-detail mengenai Kim Woonhak yang ia ketahui melalui desas-desus yang pernah ia dengar.
Sejujurnya Ohyul tidak tahu siapa itu Kim Woonhak, bahkan tidak pernah mendengar namanya sama sekali. Ohyul yang tiba-tiba mendapat informasi sebanyak itu pun mulai merasa tidak nyaman. Rasanya ego Ohyul agak tercoreng sedikit.
Anjing, kayaknya si Woonhak Woonhak ini beneran lebih oke ya dibanding gw?
Tidak mau terlalu ambil pusing, Ohyul akhirnya hanya mendengarkan semua informasi dari Woojin. Bahkan Woojin sudah mulai menunjukan profile instagram Woonhak, yang dari jumlah followers nya saja membuat Ohyul makin ciut.
“Tapi ya, Yul…” Diakhir percakapan Woojin tiba-tiba seperti ingin mengatakan sesuatu, namun sedikit tertahan.
“Kenapa?” Tanya Ohyul yang jadi sedikit penasaran dengan lanjutannya. Woojin pun mulai mendekat ke Ohyul untuk membisikannya sesuatu.
“Tapi, kata orang-orang, Kim Woonhak ini gak suka cewe. Alias dia nih gay, Yul.”
Saat ini Ohyul sedang berada di ruangan TU fakultas, sebab ada beberapa hal yang harus ia urus. Setelah cukup lama disana, Ohyul pun selesai dengan urusannya dan berencana untuk bertemu dengan Woojin di perpustakaan fakultas.
Saat ia sedang berjalan di lorong menuju perpustakaan, dari jauh ia tak sengaja melihat sesosok familiar yang namanya baru-baru ini ia dengar dan ketahui.
Iya, Kim Woonhak ada disana bersama beberapa temannya. Mereka sedang asik bercanda gurau, namun entah kenapa Ohyul rasanya tidak bisa melewati jalan tersebut. Jadi disinilah Ohyul, bersembunyi dibalik tembok dengan jarak yang mana ia masih bisa mendengar obrolan mereka.
“Ah, anjing. Gw ngapain sih sembunyi gini? Gw harusnya hajar aja si Woonhak Woonhak itu ditempat.” Ohyul dengan monolog hati nya yang tidak habis-habis karena ia benar-benar bingung harus bagaimana.
“Eh, tapi beneran kah, Nak?” Ucap salah satu teman Woonhak yang suaranya bisa Ohyul dengar cukup jelas.
“Beneran apaan dah?” Tanya Woonhak.
“Beneran itu lu sekarang sama si Kyujin? Denger-denger si Kyujin sampe putusin pacarnya biar bisa sama lu.”
Mendengar ucapan tersebut, hati Ohyul rasanya sakit sekali. Ternyata jika diingat-ingat hal tersebut masih cukup menyakiti Ohyul.
“Hah? Demi apa, Nak? Gila lu pelet ya tu cewek?” Timpal teman Woonhak yang lain.
“Ya enggak, lah! Emang gw ganteng aja kali, makanya dia naksir.” Mendengar hal tersebut, entah kenapa rasanya Ohyul sedikit emosi, dirinya masih tak terima diputusin begitu saja demi seseorang bernama Kim Woonhak.
“Lagian tu cewek bego, anjing. Masa cowoknya diputusin cuma karena naksir si Woonhak. Minimal selingkuhin dulu lah, nanti kalau udah dapet baru deh putusin hahahahaha.” Kemudian ucapan tersebut disambut dengan tawa-tawa lain dan beberapa ucapan tanda setuju dengan pernyataan tersebut.
Marah. Hal itu yang saat ini Ohyul rasakan.
Ucapan tersebut benar-benar tidak pantas untuk diucapkan, bagaimana bisa mereka menormalisasi perselingkuhan?
Baru saja Ohyul ingin keluar dari persembunyiannya, ternyata Woonhak dan teman-temannya sudah ingin meninggalkan lokasi tersebut.
“Yaudah Nak, kita duluan ya. Lu habis ini masih mau ngurus BEM, kan?”
“Iya nih, masih ada yang harus gw urus. Lu pada duluan aja, nanti gw nyusul.” Setelahnya teman-teman Woonhak mulai berjalan meninggalkan Woonhak.
Namun, disitu Ohyul masih sangat marah dengan obrolan mereka barusan. Tanpa pikir panjang, Ohyul keluar dari persembunyiannya dan berjalan ke arah Woonhak.
“Lu tuh anjing banget.” Ucap Ohyul sambil berdiri dihadapan Woonhak.
Disisi lain Woonhak sedikit kaget, tiba-tiba saja ada seseorang yang tidak ia kenali mengumpat kepadanya.
“Hah? Gw? Kok gw?” Ucap Woonhak dengan ekspresi yang kebingungan.
“Iya. Lu tuh anjing! Bisa-bisanya lu sama temen-temen lu ngomong se-enteng itu soal hubungan gw dan Kyujin!” Mendengar hal tersebut Woonhak langsung berpikir dengan cepat.
Oh, ini toh mantannya Kyujin Kyujin itu.
Entah kenapa, ada rasa ingin menjahili lelaki yang baru saja mengumpat kepada-nya. Padahal Woonhak tidak kenal siapa lelaki di depannya itu.
“Loh? Lu berarti daritadi nguping obrolan kita?” Tanya Woonhak dengan seringai di wajahnya. Melihat muka Woonhak yang terlihat meledek membuat Ohyul semakin emosi.
“Lu sama temen-temen lu tuh emang brengsek semua ya? Bisa-bisanya menormalisasi selingkuh. Anjing lu!”
“Hah? Itu kan ucapan temen gw. Gw aja tadi diem doang pas mereka ngomong begitu, karena gw gak setuju.” Jawab Woonhak tegas. Jelas dirinya tidak terima dibilang mendukung perselingkuhan.
“Ini mah lu cuma nyari-nyari alasan aja kan biar bisa marah sama gw?” Mendengar ucapan Woonhak yang memang benar adanya membuat Ohyul malu, sebab ia tidak mau mengakui hal tersebut.
“Bacot! Pokoknya lu brengsek dan gak cocok sama Kyujin!”
“Lah? Terus salah gw kalau cewek lu — eh maksudnya MANTAN lu naksir sama gw?” Woonhak sengaja menekan kata tersebut karena ia ingin saja membuat orang dihadapannya semakin geram.
Setelah mendengar hal itu Ohyul yang sudah tidak tahu harus membalas apa segera pergi dari hadapan Woonhak dengan muka yang sedikit memerah.
Melihat Ohyul yang langsung pergi begitu saja dengan mukanya yang merah dan bibirnya yang sudah maju 3 sentimeter, membuat Woonhak hanya bisa kebingungan namun tetap sedikit tersenyum. Sebab Woonhak tahu betul bahwa yang ia ucapkan benar dan orang yang memakinya itu merasa kalah dalam argumen.
“Hahaha, gemes dah.”
Sudah satu minggu setelah kejadian Ohyul dengan implusif memaki-maki Kim Woonhak. Sebenarnya, Ohyul sedikit menyesal setelah kejadian tersebut. Ia bertindak tanpa memikirkan kedepannya.
Sebab setelah kejadian tersebut, entah kenapa Ohyul selalu bertemu dengan Woonhak ditempat-tempat yang bahkan sebelumnya Ohyul rasa tidak pernah melihat Woonhak disana.
Mulai dari perpustakaan, ruang dosen, kantin, bahkan lorong menuju kelas pun beberapa kali mereka berpapasan.
Sebenarnya sih, Ohyul mungkin tidak akan terlalu peduli jika mereka hanya tak sengaja berpapasan. Namun, entah kenapa tiap bertemu Woonhak selalu menyapanya.
Iya, dia menyapa Ohyul secara terang-terangan dihadapan banyak orang. Dan sepertinya Woonhak diam-diam sudah mencari tahu siapa nama sesosok yang tiba-tiba mencaci-makinya.
Seperti saat ini, Ohyul yang sedang berjalan menuju kelasnya lagi-lagi berpapasan dengan Woonhak yang sepertinya sedang bersama teman-teman BEM nya.
“Pagi, Ohyul!” Ucap Woonhak dengan lambaian tangannya dan senyumnya yang cerah, cukup lantang hingga beberapa pasang mata menatap keduanya.
Ohyul yang benar-benar tidak menyukai atensi berlebih hanya bisa menatap Woonhak dengan sinis dan mempercepat langkahnya tiap kali Woonhak menyapanya.
Bahkan Woojin pun awalnya kaget melihat Woonhak menyapa Ohyul. Sebab, terakhir kali yang ia tahu Woonhak adalah seseorang yang Ohyul benci karena merebut Kyujin dari-nya.
Hari terus berlanjut. Saat ini Ohyul sedang berada di kantin sembari menunggu Woojin untuk makan siang bersama. Namun siapa yang menyangka, tiba-tiba saja Woonhak sudah duduk di depan Ohyul sembari membawa mie ayam untuk dimakan.
“Halo lagi, Ohyul!” Sapa Woonhak dengan senyumannya seperti biasa.
Melihat Woonhak datang secara tiba-tiba, Ohyul langsung sedikit tersedak.
“Uhuk…Uhuk…Lu — Lu ngapain disini?” Tanya Ohyul dengan wajahnya yang jelas menunjukan ketidaksukaannya.
“Ya gapapa dong, Ohyul. Tempat duduk di kantin kan emang random aja. Siapa pun bisa duduk kalau kursinya kosong, kan? Dan sebenarnya karena gw emang mau duduk sama lu aja sih.”
Jawaban Woonhak hampir membuat Ohyul tersedak lagi. Maksudnya apasih?
“Duh, terserah lu deh.” Ohyul yang sedang lapar akhirnya memilih untuk melanjutkan makan dibanding harus berdebat dengan Woonhak.
Awalnya keduanya hening selama beberapa menit. Ohyul sih merasa biasa saja, ia selalu nyaman dengan keheningan. Namun, disisi lain Woonhak benar-benar tidak nyaman dengan rasa hening dan canggung tersebut, sehingga ia memilih untuk membuat Ohyul marah lagi.
“Kok lu udah gak marah-marah sama gw? Udah gak benci sama gw?” Tanya Woonhak pada Ohyul.
“Apasih? Siapa juga yang benci sama lu. Geer banget jadi orang.” Jawab Ohyul ketus.
“Ohh, berarti lu suka ya sama gw?” Mendengar hal tersebut Ohyul tentu kaget.
“Apasih, anjing. Lu tuh emang gila ya?” Jawaban Ohyul yang seperti inilah yang Woonhak tunggu. Marah-marah dengan wajahnya yang sedikit memerah dan bibirnya yang sedikit maju.
“Lah, kan lu duluan yang tiba-tiba nyamperin gw dan marah-marah karena mantan lu naksir sama gw.”
“Gue nggak marah sama lu! Maksudnya… ya marah sih… tapi bukan LU penyebabnya… gitu deh pokoknya ribet!” Jawab Ohyul yang sudah kehabisan pembelaan diri.
Sedangkan Woonhak hanya tertawa mendengar jawaban Ohyul. Rasanya menyenangkan membuat Ohyul kehabisan jawaban.
“Hahaha lu lucu deh, Ohyul.” Ucap Woonhak tanpa pikir panjang. Kalimat sederhana tersebut jelas membuat Ohyul tersulut walaupun bingung kenapa ia disebut lucu.
“Gak usah ngomong gw lucu!”
“Padahal menurut gw lu beneran lucu.” Lagi-lagi Woonhak menjawab dengan santainya. Namun, entah kenapa kali ini keduanya merasa telinganya panas.
Iya, telinga Woonhak dan Ohyul saat ini sama-sama memerah.
