Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-02-27
Words:
2,106
Chapters:
1/1
Comments:
6
Kudos:
35
Bookmarks:
1
Hits:
371

Bentuk Cinta yang Diperbolehkan

Summary:

Woonhak kira ia akan cepat mati karena jantungnya bermasalah, rupanya ia hanya sedang jatuh cinta dan rupanya orang-orang menganggap cinta itu sesuatu yang gila. Woonhak jadi kebingungan mengartikan bentuk cinta yang diperbolehkan.

Work Text:

Kim Woonhak berumur 12 tahun ketika ia merasakan jantungnya berdebar kencang saat lengannya tak sengaja bersentuhan dengan milik seorang kakak kelas.

Bukan hal istimewa, ia tak memedulikannya.

Lalu, jantungnya berdebar tak karuan lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi, di berbagai momen yang berbeda, namun sebab orang yang sama.

Di masa itu, Woonhak mulai panik. Ia pikir ada yang salah dengan kakak kelas tersebut. Bukan dirinya tentu saja, ia baik-baik saja saat bersama teman yang lain.

Ia tidak merasa perutnya tiba-tiba mulas saat temannya tertawa akan leluconnya, ia tidak pernah merasa malu saat teman-temannya tersenyum padanya, ia tidak merasa selalu ingin bertemu dengan teman-temannya lalu justru kabur begitu berpapasan.

Ia tidak merasakan semua itu kecuali saat dengan kakak kelas tersebut.

Entah, mungkin saja kakak kelasnya itu memiliki sesuatu yang disembunyikan, punya kekuatan super misalnya. Woonhak tidak terlalu paham, intinya, mungkin saja kakak kelasnya itu punya sesuatu yang ajaib yang tidak Woonhak ketahui.

Sewaktu umurnya 13 tahun dan ia naik kelas 2 SMP, ia lihat kakak kelas ramai mengerubungi tepi lapangan upacara.

Katanya Kak Taeha akan menyatakan cintanya! Ayo ke lapangan!

Mendengar hal itu, meski tidak tahu pasti, Woonhak ikut berlari menuju lapangan untuk melihat apa yang membuat teman-temannya berlarian.

Woonhak berdiri di pinggir lapangan bersama banyak siswa lainnya, menyaksikan Taeha, salah seorang kakak kelasnya menyerahkan sekuntum bunga, yang Woonhak rasa dipetik dari kebun belakang, kepada Sora, kakak kelasnya yang lain.

“Berani sekali Taeha!”

Woonhak menoleh, kakak kelas itu, Park Sungho, berdiri persis di sebelahnya, melontarkan komentar diselingi tawa kecil.

Perut Woonhak melilit seketika. 

Woonhak ingin lari, tapi juga tetap ingin diam di tempatnya. 

Saat ia menoleh, Park Sungho juga menoleh, pandang mata keduanya bertemu, dan Sungho tersenyum padanya. 

Bukan senyum khusus, hanya sebuah senyum sapa, namun Woonhak mendadak kehilangan kemampuan bersosialisasinya. Ia melengos begitu senyum manis barusan terarah padanya, mengabaikan bagaimana Sungho sedikit terkejut pada responnya barusan.

Setelah kekuatan berkumpul di kedua kakinya, ia berlari kencang menuju kelasnya.

Ia mengadu pada Jihoon teman baiknya sembari meremas dada yang berdebar tak karuan.

“Aku takut sakit jantung.”

“Si bodoh ini.”

Woonhak mengernyit tak terima. Ia baru saja mengadukan jantungnya yang bermasalah dan teman baiknya malah mengatainya bodoh.

“Kurasa kau menyukai kakak itu.”

Woonhak terlalu malu mengakui siapa yang membuatnya seperti ini, jadi Jihoon berakhir selalu menyebutnya kakak itu.

“Apa katamu?”

“Mau aku ulangi?”

“Jangan,” cegah Woonhak, tangannya buru-buru menutup kedua telinga sebagai antisipasi.

Pernyataan barusan, buat dada Woonhak yang mulai tenang kembali jadi tak karuan dan ia mulai khawatir terhadap dirinya sendiri.

Sepulang sekolah,  ia minta tolong kepada kakaknya yang kelas 2 SMA untuk mengantarkannya ke rumah sakit.

“Aku takut tidak bisa hidup lama, Kakak.”

Sang kakak tergelak. “Kau tidak sakit. Percaya padaku.”

“Kakak yang tidak percaya kepadaku!”

“Aku percaya. Katamu kau sering berdebar karena kakak kelasmu yang bernama Park Sungho itu, ‘kan?”

Woonhak mengangguk kencang, berharap sang kakak segera melarikannya ke rumah sakit begitu mendapat jawaban.

“Kalau begitu kau didiagnosa jatuh cinta. Selamat, adikku.”

Sejak mengetahui nama dari berbagai gejala yang sering Woonhak alami rupanya bernama jatuh cinta, dengan sendirinya ia mulai belajar menerima, mulai berhenti ketakutan dan lari saat berpapasan dengan penyebab jatuh cintanya.

Woonhak mulai membalas senyum dan sapa Kak Sungho saat berpapasan di kantin atau lapangan upacara. Ia yang sulit sekali dibangunkan bahkan jadi tidak sabar untuk bangun lebih awal setiap pagi supaya bisa bertemu dengan Kak Sungho di gerbang sekolah.

Woonhak senang karena rupanya ia tidak benar-benar sakit. Kalaupun ini memang penyakit, ia tidak akan segera mati karenanya.

Woonhak senang karena rasanya seperti ada taman bunga yang dikerubungi kupu-kupu di dalam perutnya, rasanya geli, terkadang sampai mual, tetapi ia senang.

Woonhak menyukai semua perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan yang datang ketika ia sadar ia mungkin benar-benar merasakan jatuh cinta.

Semua perasaan aneh dan menggelikan itu Woonhak simpan dan ingin ia ungkapkan di hari kasih sayang minggu depan.

Dengan uang jajan yang setiap hari disisihkan selama dua minggu, Woonhak berhasil membeli sebatang coklat, sebuah amplop cantik berwarna biru muda yang sudah diisi dengan selembar surat pernyataan cinta, dan setangkai bunga mawar artifisial yang dibelinya di toko di perjalanan pulang sekolah.

Sepertinya aku jatuh cinta padamu. Kakak baik, kakak pernah meminjamkan dasi waktu aku lupa bawa, kakak juga sering tersenyum padaku. Ayo bertemu di kebun belakang saat makan siang.

“Jatuh cinta apanya! Anak kecil fokus belajar saja sana!”

Surat cinta yang ia lipat rapi seketika remuk diremas tangan besar ayahnya.

“Menghabiskan waktu saja. Padahal kalau kau gunakan waktumu untuk belajar dibanding menulis surat yang pada akhirnya akan masuk tempat sampah, kau bisa ranking satu semester ini.”

Woonhak melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana hasil dua minggu menabungnya masuk ke dalam tempat sampah begitu saja.

Ia terlalu terkejut dan kebingungan pada apa yang baru saja disaksikannya, sehingga ia hanya mematung di tempat sampai ayahnya pergi meninggalkan ruangan.

Di seberangnya ada sang kakak yang sama terpakunya dengan Woonhak, bingung mau melakukan apa untuk menghibur adiknya.

Sejurus ketika kontak mata keduanya bersirobok, tangis Woonhak pecah.

“Kenapa kakak tidak bilang kalau anak kecil tidak boleh jatuh cinta?!”

Woonhak membanting pintu kamarnya di depan wajah sang kakak sebelum ia sempat mengatakan apa-apa.

Dan sejak saat itu, cinta berubah jadi istilah yang menyakitkan untuk Woonhak yang baru berusia 13 tahun. 

Cinta merupakan sesuatu yang tidak boleh anak kecil sepertinya rasakan.

Dan jatuh cinta, semoga tidak akan pernah kembali Woonhak alami.

Ayah mungkin benar, anak kecil tidak seharusnya merasakan cinta. Anak kecil harus fokus belajar. Salah kakak yang tidak jujur dan membiarkannya jatuh cinta tanpa peringatan.

Mungkin kakak tidak begitu suka punya adik sepertinya makanya ia sengaja membiarkan Woonhak dimarahi seperti itu oleh ayah.

Kakak bahkan tidak pernah datang untuk meminta maaf, pun Woonhak merasa semua sudah terlambat, ia sudah terlanjur dimarahi dan perasaan senang akan cinta pertama yang tumbuh sudah terbuang ke dalam tempat sampah.

Setidaknya, sekarang Woonhak tahu bahwa ia tidak boleh lagi menceritakan kisahnya kepada sang kakak.

Dan begitu Woonhak berhenti jatuh cinta, ternyata benar, ia ranking satu berturut-turut hingga akhir kelas 2 SMA.

Saat memasuki kelas 2 SMA, Woonhak bertemu teman baru yang jadi teman sebangkunya, Kwon Ohyul. 

Temannya itu tidak banyak bicara, senangnya bersembunyi di belakang saat semua orang maju ke depan. Kalau tidak Woonhak ajak bicara, ia akan menyumpal telinganya dengan sepasang earphone.

Keduanya hampir selalu bersama. Meskipun Ohyul tidak banyak bicara, berteman dengan Ohyul menyenangkan bagi Woonhak. Ohyul makan banyak seperti dirinya dan Ohyul senang menyimak ceritanya.

Dan di suatu siang ketika jam pelajaran terakhir berlangsung, Woonhak menemukan Ohyul tertidur dengan wajah menoleh ke arahnya.

Woonhak tidak berniat untuk membangunkan, ia justru ikut merebahkan kepala di atas meja, berhadapan dengan wajah Ohyul yang tertidur pulas, dan di saat itulah Woonhak tiba-tiba merasakan dadanya berdebar seperti yang pernah ia rasakan sewaktu jatuh cinta dengan kakak kelasnya dulu.

Woonhak terkejut. Ia menegakkan kembali punggungnya lalu menggelengkan kepala, menghalau imajinasi yang serta-merta berkeliaran di dalam kepala. 

Ia tidak tahu apakah itu perasaan yang serupa dengan yang pernah ia rasakan dulu. 

Ia belum cukup dewasa, ia harap debaran barusan tidak akan pernah datang kembali.

Sampai suatu hari, kakaknya tidak sengaja melihat fotonya bersama Ohyul yang tergeletak di atas meja belajarnya.

Ada tulisan tangannya di foto tersebut: kalau pun aku sudah cukup dewasa untuk jatuh cinta, aku mungkin tetap tidak boleh jatuh cinta.

Kakak tidak lancang, ia masuk kamar atas persetujuan Woonhak, tapi Woonhak merasa marah karena tulisannya yang memang tidak ia sembunyikan itu tidak sengaja terbaca.

“Kau tidak ingin menceritakan apa pun?” 

“Tidak ada yang perlu diceritakan.”

Kakaknya diam sejenak.

Mereka sudah tidak banyak bicara sejak Woonhak menghempas pintu kamarnya di depan sang kakak beberapa tahun silam.

Namun, kemudian kakak tersenyum lembut lalu menepuk kepala Woonhak.

“Kau boleh jatuh cinta, Woonhak. Dari dulu kau selalu boleh. Cinta boleh dirasakan oleh siapa pun, kepada siapa pun.”

Woonhak hampir memeluk sang kakak apabila ia tak lupa dengan rasa marahnya yang terpendam dan bertahan sampai sekarang. 

Terakhir kali Woonhak percaya pada kakaknya, ia terluka. 

Ia tidak akan membiarkan dirinya mempercayai kakaknya lagi.

Meski begitu, terkadang ia diam-diam berpegangan pada perkataan kakaknya, bahwa cinta boleh dirasakan siapa pun.

Terkadang, ia ingin membiarkan dirinya percaya, karena ketika debaran aneh di dadanya muncul kembali, Woonhak jadi gelisah dan ia butuh sesuatu untuk berpegangan.

Intensitas debarannya masih sama saja, tetapi frekuensinya yang meningkat. Ia sudah coba berbagai macam teknik pernapasan untuk membuat debarannya lebih tenang, namun semua jadi sia-sia selagi Ohyul masih ada di sekitarnya.

Woonhak mulai tidak karuan. Ia uring-uringan.

Daun telinganya bersemu merah saat Ohyul merangkulnya, bulu mata Ohyul yang sebelumnya terlihat biasa saja kini jadi terlihat sangat cantik dan lentik, pipinya yang menggembung saat makan yang sebelumnya tak pernah Woonhak pedulikan kini jadi terlihat menggemaskan.

Semua mulai terasa mengerikan. 

Woonhak mulai merasa Ohyul indah pada tiap hal yang selama ini tidak pernah ia pedulikan.

Woonhak benci merasakan semua ini. Woonhak benci merasakan ratusan kupu-kupu berterbangan di taman bunga di dalam perutnya. Ia benci perasaan mual ini, ia benci.

Woonhak benci, karena kali ini ia tak perlu berkonsultasi dengan kakaknya untuk mengerti apa yang tengah ia alami.

Woonhak sudah tak sepolos Woonhak 13 tahun dan kenyataan itulah yang membuat perasaannya jadi rumit dan menakutkan.

Jatuh cinta tak membuatnya bahagia kali ini.

Jatuh cinta, jadi semakin mengerikan setelah ia saksikan sendiri bagaimana kakaknya ditampar dan dimaki hanya karena merasakannya. 

Kata ayah, kakak tak seharusnya jatuh cinta seperti itu, yang normal-normal saja. Bahkan, kalau bukan oleh ayah, oleh orang lain di luar sana pun kakak akan dicaci maki.

Betapa mengerikannya. 

Woonhak pernah merasakan bahwa cinta itu indah, tetapi mungkin ia salah sangka, tetapi mungkin dulu ia masih begitu naif. Cinta tidak pernah benar-benar indah bila sekedar merasakannya saja bisa dapat caci maki.

Woonhak tak tahu lagi bentuk cinta seperti apa yang diperbolehkan. Kakaknya tak dapat ia tanyai, karena kakaknya sendiri pun telah divonis bersalah.

Lalu, di tengah ketakutan dan kebimbangannya, ia coba menguji peruntungannya. 

Karena Woonhak masih tetap naif, meski tak senaif dulu, dan ia pikir temannya mungkin juga masih senaif dirinya.

“Seandainya ada yang menyukaimu, menurutmu bagaimana?”

“Tidak mungkin, jadi tidak perlu kupikirkan.”

“Seandainya.”

“Aku malas berandai-andai.”

Woonhak mengacak-acak rambutnya frustrasi. 

“Kalau begitu, bagaimana tanggapanmu tentang laki-laki yang menyukai laki-laki?”

Ohyul mengerutkan dahi sesaat, namun tak memberi tanggapan berarti.

Oleh karenanya, Woonhak pikir langkahnya barusan cukup keliru.

“Gila,” kata Ohyul tiba-tiba setelah habis satu lagu.

Telinga Woonhak seakan berdenging menangkap komentar barusan.

Woonhak menarik napas cukup panjang, sebelum berucap, “kau benar, memang gila.”

Benar-benar gila. Woonhak tahu itu.

Itulah mengapa Woonhak mau gila rasanya.

Perasaan itu tak seharusnya ia rasakan. Tidak kepada teman lelakinya.

Jadi, semenjak secara tidak langsung dianggap gila, Woonhak coba mati-matian menghapus setiap jejak rasa dan debar yang ia derita. 

Ia rangkul bahu Ohyul tiap ada kesempatan, ia harap ia segera mati rasa. 

Ia tatap Ohyul tepat di matanya tiap kali mereka berbicara, ia harap ia terbiasa, ia harap debarannya tak lagi jadi masalah baginya. 

Ia ajak Ohyul cicipi makanan di semua tempat yang belum pernah mereka datangi, dan ia harap tak ada lagi rasa tersisa saat ia pandang pipi Ohyul yang menggembung penuh makanan hasil traktirannya.

Terakhir, ia dan Ohyul datangi sebuah taman, duduk di ayunan masing-masing yang bersebelahan. Tanpa earphone di telinga Ohyul, tanpa celoteh keluar dari mulut Woonhak, dan tanpa gawai di tangan keduanya.

Kaki Ohyul bermain dengan pasir di bawah mereka, sementara Woonhak mulai mengayunkan tubuh ke depan dan ke belakang.

“Kim Woonhak.”

Woonhak berdehem tanda menyimak.

“Bagaimana pun aku, apa kau masih tetap mau berteman denganku?”

Woonhak memperlambat laju ayunannya.

“Kau tahu? Aku pikir aku mungkin saja sudah gila.”

Woonhak jatuh terjerembab ke depan saat ia hentikan laju ayunannya mendadak.

Di hari-hari mereka yang biasanya, kejadian barusan benar-benar akan jadi lelucon sampai sepuluh tahun ke depan setelah mereka tertawakan sampai menangis, tetapi nampaknya khusus malam itu, kejadian barusan tidak begitu penting dibanding apa yang baru saja Ohyul nyatakan.

Ohyul mengabaikan kejadian tersebut, ia termangu, begitu pun Woonhak, sikapnya seakan beberapa detik sebelumnya ia tak jatuh dari ayunan dengan cara yang konyol hingga terduduk di atas pasir taman, di depan seseorang yang diam-diam terlalu sering membuat isi kepala dan jantungnya berisik.

Woonhak biarkan dirinya tetap di posisinya, duduk di pasir membelakangi Ohyul.

“Gila, ya?” gumamnya setelah pulih dari nyeri ringan di bokongnya.

Mereka sama-sama diam, diam-diam mencerna pernyataan barusan, diam sembari bertanya-tanya dalam hati masing-masing; apa gilanya kita adalah gila yang sama?

Tangan Woonhak naik meremas dada kirinya yang lagi-lagi berdebar aneh.

Debarannya tumbuh jadi sesak. Sesak karena mau bagaimana pun gilanya mereka, mereka tidak akan pernah berhasil.

Ia tak ingin Ohyul jelaskan bahwa mereka gila disebabkan oleh hal yang sama.

Ia tak mau percaya kakaknya. Ia tak mau percaya bahwa cinta boleh dirasakan siapa pun, karena kakaknya sendiri tak dapat membuktikan perkataannya.

Karena pada kenyataannya, karena pada realita yang ia temukan, tak ‘kan benar dan tak ‘kan berhasil cinta antara dua orang laki-laki.