Chapter Text
Essex, 2013
Sudah satu bulan sejak libur panjang tahun ini dimulai, satu keluarga lengkap Ibu, Ayah, dan anak remaja satu-satunya yang masih berusia tujuh belas habiskan waktu di Epping setelah beberapa tahun menjalani hiruk pikuk kehidupan kota London yang tak ada matinya.
Tak memakan waktu lama bagi mereka sampai pada tempat tujuan, yang membuat lama itu dari pusat kota ke tempat mereka tinggal. Ini bukan untuk wisata semata, sebenarnya mereka penduduk asli di sana namun memilih pindah dan tinggal di Ibukota saat masih berusia sepuluh anak mereka.
Hari ini angin datang menyapa dengan daun berjatuhan ikuti setiap arah tiupannya.
Tinggal di sini memang sebuah pilihan yang tepat diambil saat hati ingin merasa tenang, lahan hijau dengan banyak pepohonan asri lalu danau yang menambah perasaan nyaman tak ingin ditinggalkan.
Entah kenapa kali ini hujan turun walaupun tidak terlalu deras tapi mampu membuat jalanan menjadi basah, satu demi satu langkah remaja itu ambil menuju tempat yang setiap hari ia tuju selama sebulan ke belakang dan saat usia sepuluh dirinya tinggal di pedesaan.
Payung hitam yang ia gunakan segera ia simpan di depan halaman kala dirinya sudah sampai di tempat tujuan.
Memasuki sebuah tempat ibadah umat katolik yang bangunannya masih terpahat rapih dengan gaya Gothic Victorian serta wangi khas yang langsung datang pada indra penciuman, mata mencetak jelas bagaimana gereja indah ini lengang tak ada yang bersambang, memang katanya wilayah sekitar sini hanya ditempati oleh beberapa kepala keluarga saja.
SeanㅡSang remaja duduk paling belakang ujung sambil tatap setiap inchi dari interior ruangan yang tak henti membuatnya terpana meski sudah berkali-kali ia sering menatapnya, ada satu titik kedamaian tersimpan di hati paling dalam. Setiap hari habiskan waktu di London cukup membuatnya lelah karena terlalu banyak bertemu dengan orang-orang. Beruntung keluarganya asli penduduk sini, wilayahnya sepi dan libur musim panjang ia bisa habiskan untuk bertandang setelah tujuh tahun tidak lagi jejak kan kaki di tanah ini.
Hati semakin tentram mendapati ada satu remaja lain yang tengah duduk di bangku paling depan seperti sedang rapalkan doa sambil pejamkan mata.
Tatap muka remaja itu yang nampak tak asing di kehidupannya, rambut pendek coklat gelap sedikit berantakan dan baju serba hitam.
Hari perhari habiskan waktu di pedesaan ini dan setiap hari itu pula Sean melihat satu remaja lain yang sama saat ia berkunjung ke gereja dengan posisi duduk tak berbeda, tangan terkatup tanpa berhenti berdoa.
Datang sudah ada di sana pulang pun masih tak beranjak dari duduknya.
Dia jadi penasaran kenapa remaja yang terlihat seumuran dengannya itu selalu berdoa sangat khusyuk seperti tak ada kehidupan lain yang harus dijalankan.
Dalam kurun waktu sebulan tersebut, Sean ikuti kata hati mencoba mendekati remaja itu meski sangat sulit untuk di ajak berbicara.
Dengar dari orang, namanya adalah Martin Edward.
Tak banyak lagi informasi tentang Martin Edward yang ia dapatkan karena orang-orang selalu langsung mematikan pembicaraan ketika Sean bertanya lebih tentang dia.
Dan itu membuatnya semakin penasaran.
Satu hari di mana Sean sedang berjalan untuk mengunjungi gereja lagi, ia melihat Martin sedang berada di taman tampak sedang membaca buku tebal. Hal yang sangat jarang dan ini adalah kesempatan baginya untuk bisa mengajak Martin berbicara.
Perlahan namun pasti langkah mendekati, temani Martin yang terduduk di kursi. Berhasil tinggal dengan bibir yang tak kunjung menyapa atau lebih tepat menunggu Martin menyadari kehadirannya.
Perlu diulangi kembali, ini adalah kesempatan dan Sean tak ingin melewatkan.
Angin pagi di cuaca lembab ini memang tak ada tandingannya, wangi udara bak sudah ditaburi oleh serbuk rimpang iris yang sudah dikeringkan bertahun-tahun timbulkan aroma tanah bercampur lembut bedak lalu ditambah wangi kayu dan segarnya bunga.
Sudah lama semenjak tinggal di kota, Sean tak pernah lagi mencium aroma ini. Dia beranikan menyapa meski gugup melanda.
"Hai!"
Martin menengok pada sumber suara tepatnya pada Sean yang bibirnya sudah berkedut antara senyum dan tak ingin terlihat canggung.
"Ya? Ada yang bisa aku bantu?"
Mendengar balasan dari Martin itu membuat Sean langsung menggeleng kepala cepat.
"Ngga! Aku cuma mau duduk di sini."
Kali ini tidak ada jawaban dari Martin, dia total diam saat Sean menyatakan bahwa dia hanya ingin duduk di sana.
Tak tahu berapa banyak rasa kaku tahan tinggal di atas kepala mereka, lebih banyak tersimpan pada Sean tepatnya. Kaki terayun sambil kepala riuh dengan apa pertanyaan yang akan ia tanyakan kepada Martin selanjutnya.
Takut kesan pertama ini malah berbalik akan menjadi hal terburuk bagi Martin.
Hirup kembali udara yang kali ini seribu kali lipat terasa nyaman yang dinginnya masuk ke hati sampai menyentuh titik paling dalam.
Sean melirik berusaha tidak gugup tatap Martin yang sedang fokus dengan buku tebal miliknya.
"B-boleh kita temenan?"
Pertanyaan terlontar begitu saja buat jantung Sean berdegup kencang, hidup matinya ada di jawaban Martin kali ini. Namun sayang, yang diajak berteman tak kunjung menjawab membuat Sean menggaruk tengkuk, kikuk.
"Gak apa kalo gakㅡ"
"Kita udah temenan dari semenjak kamu pergi ke London."
Sean terkejut dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh Martin. Coba ingat kembali kejadian beberapa tahun lalu, Sean langsung hafal.
"Jadi bener kamu yang terakhir aku temui di gereja waktu aku mau pergi ke London?"
Anggukan kepala datang dari Martin.
Ternyata Sean memang tak salah lihat dan ingat, ketika pertama lagi memandang wajah Martin ia seperti kembali ke masa di mana dirinya berumur sepuluh. Kala itu Sean akan meninggalkan Epping menuju London, ia sempatkan kunjungi gereja untuk terakhir kali.
Tujuh tahun lalu itu adalah pertemuan pertama mereka, sangat singkat karena Sean harus cepat-cepat pergi tak sempat mengobrol panjang karena sudah ditunggu oleh Ibu dan Ayah untuk berangkat.
"Aku pikir kamu gak bakal pulang lagi ke sini."
Hari ini tepat di mana Sean dan Martin bertemu kembali setelah beberapa tahun tak berjumpa dan Sean mengajaknya berbicara, ketika itu pun mereka seharian habiskan waktu seharian bersama kawasan sekitar gereja.
Dari pagi sampai sore tiba mereka tak henti saling berbagi cerita, kendati lebih banyak Sean yang berbicara, namun tak apa, bisa tamatkan hari dengan Martin saja rasanya sudah seperti taman bunga bermekaran penuhi isi hatinya.
Keesokan hari, Sean kembali kunjungi taman kembali. Kemarin ia sudah berjanji dengan Martin untuk bermain lagi. Pikiran sudah tayangkan kembali setiap detik bersama Martin membuat senyum Sean mengembang.
Rasa nyaman tiap berada di dekat Martin tak bisa ia hilangkan, ternyata Martin itu anak yang sangat tenang. Tutur kata yang dikeluarkan bisa membuat orang yang mendengar terpana, ia lembut, manis, menawan hingga bisa membuat orang lain nyaman berada di dekat dia.
Namun hingga sore tiba, Martin belum juga menampakkan hidungnya.
Sekujur tubuh basah terkena hujan deras saat menunggu datangnya Martin di tempat yang sudah dijanjikan, langkah yakin ikuti kata hati untuk mengunjungi gerejaㅡtempat di mana Martin selalu berada.
Netra runut setiap inchi dari ruangan dan tangkap satu orang yang dicari sedang berdoa dengan keadaan sama sepertinya.
Martin juga basah kuyup, entah kenapa.
Tapi kali ini kelihatan posisinya sangat berbeda. Biasa Martin hanya duduk di bangku kayu, lalu sekarang sampai menunduk-nunduk di lantai serta katupkan tangan dengan suara terdengar bergetar seperti sudah lakukan dosa paling besar.
Martin menangis tersedu, bicaranya tak jelas akibat dari tangisan yang tertahan, sampai tiap potongan kata yang keluar mengiris hati Sean. Banyak pertanyaan tersimpan memaksa ingin dikeluarkan sampai rasanya susah untuk kembali ditelan.
Kendati demikian, Sean pilih tak indahkan keadaan, ia berjalan keluar menunduk tinggalkan Martin di dalam gereja sendirian.
Esok harinya Sean kembali ke gereja, kebetulan hari ini adalah Misa. Telusuri dan amati satu persatu muka yang hadir. Tak banyak, hanya beberapa kepala saja yang menghadirinya, tapi tetap Sean tak temukan Martin di sana.
Katanya dia sedang sakit, maka dari itu ia tak bisa ikuti Misa minggu ini.
Esoknya lagi tetap sama, Martin tidak ada di tempat biasa.
Bagi Sean, Gereja Katedral ini seperti rumah kedua untuknya. Sebulanan habiskan waktu di sini, ia jadi sering Misa Harian. Selain membuat hati menjadi tenang, ada alasan lain mengapa ia selalu kunjungi ke gereja ini secara berulang. Tak perlu ditanya lagi, Martin Edward adalah jawabannya.
Ada perasaan aneh tiap kali melihat Martin Edward sedang rapalkan doa dan wajah fokus perhatikan renungan misa selalu menjadi favorit bagi Sean.
Ujung bibir selalu terangkat ke atas secara tidak sadar tiap netra menangkap garis wajah tegas itu diterpa oleh cahaya matahari yang muncul di sela-sela jendela.
Sayang.
Esoknya lagi Sean belum temukan Martin. Itu artinya sudah hari ketiga Martin tidak kunjungi gereja. Begitu seterusnya sampai seminggu tepat Sean mencari, Martin tetap tak nampakkan sedikit pun batang hidungnya.
Tak ada yang bisa ditanyakan lagi tentang Martin di pedesaan ini, semuanya terlihat biasa saja saat seseorang yang justru sering terlihat di gereja kini tak bersama mereka.
Pejamkan mata dan fokuskan pikiran untuk berdoa, Sean hela nafas dan mengatupkan tangan.
Tolong jaga kami.
Lindungi kami.
Lepaskan kami dari yang jahat.
Kali ini Sean tak lagi duduk di bangku paling belakang, melainkan di jajaran pertama karena ingin cepat dikabulkan doanya.
Mata terbuka saat rasakan tangan hinggap di pundak.
"Hai, kamu pendatang baru dari London itu, ya?"
Sean menoleh ke samping tepat di mana sumber suara berada, remaja lain seumuran dengan dia. Ada dua orang, yang satu manis terlihat jenaka, satu lagi manis juga tetapi sedikit lebih ketus.
"Iya, namaku Sean. Kalian siapa?"
"Aku Kanael. Kamu panggil aja Kael." Ucap si Jenaka, lalu tangannya mementung dada si Ketus. "Kalo dia, William."
Sean tersenyum sambil membalas jabatan tangan dari Kael.
Mereka duduk bersebelahan masih ada jarak di antara ketiganya, sama-sama katupkan tangan dengan mata terpejam.
Tak lama momen itu dirasakan karena suara bariton yang dipaksa pelan nyaris berbisik masuk ke dalam indra pendengaran.
"Udah kan? Ayo sekarang pergi, Kael!"
"Diem, aku lagi berdoa."
"Biasanya gak pernah doa!"
"Jangan gitu, aku Anak Tuhan, tau!"
Alis Sean sedikit mengernyit dengar bisikan-bisikan dari sampingnya.
"Psst .. Sean .. mau main sepeda di luar?"
"Sebentar aku lagi berdoa."
"Ah, lama! Lagian mana ada doa sambil bicara!"
Sean buka mata lalu melirik samping tepatnya pada Kael yang tengah menatapnya dengan tangan disilangkan di depan dada, merajuk, padahal baru mengenal beberapa menit yang lalu. Dan yang satunya lagi, William itu tentu masih menatapnya ketus.
Pilih terima ajakan Kael dan William untuk pergi ke sebuah taman yang jaraknya lumayan jauh dari gereja. Gerimis tak hentikan ketiganya menyewa sepeda dan bermain di sana.
Berkayuh kelilingi taman dengan tawa tiada henti, yang namanya lelaki remaja memang cepat dapat teman baru apalagi Kanael ini orang yang jenaka dan ternyata William juga begitu adanya. Dia hanya ketus pada orang yang tidak dikenal saja.
Sean memberhentikan sepeda karena terlalu lelah dikejar oleh gerakan lincah Kael dan William.
Nafasnya terengah setengah mati.
"Payah! Pasti di London gak pernah sepedaan, makanya sepedaan sebentar jadi capek!"
"Sembarangan! Kamu ngejar aku terlalu cepet!"
Melihat Kael yang sedang berancang-ancang mengejarnya lagi, pandangan Sean terdistraksi oleh satu orang yang seminggu tak ia temui di gereja kini sedang berjalan santai ke arah rumah kecil dengan menenteng buku tebal.
"Kael! Willi! Kanael tunggu!"
"Kenapa?"
Kael dan William ikuti arah pandang Sean pada tempat di mana Martin berada.
"Kita ajak Martin main!"
Hening.
"Kael? William? Ayo kita ajak dia main, dia seumuran dengan kita kan?"
Tungkai yang awalnya akan melangkah itu kini terhenti oleh sahut kencang William.
"Jangan! Jangan sama dia!"
Sean terkejut dengan jawaban yang diberikan olehnya, padahal Martin sebaya dengan mereka tapi seperti tidak punya teman dan harinya dihabiskan di tempat ibadah.
"Kenapa?"
"Pokoknya gak boleh!"
"Kenapa gitu, Willi?"
Ada yang janggal ketika Kanael memilih untuk diam tak menjawab dan hanya William yang menanggapi pertanyaannya.
Pulang dengan keadaan basah kuyup kembali, tungkai mulai lemas tak bisa untuk melangkah lagi, rasanya seperti ditimpa benda besar di kepala dan hati saat ini.
Memori putar balik momen di mana dirinya berhasil mendekati Martin dan habiskan waktu bersama seharian.
"Kamu belum pernah main ke luar kah, Martin?"
"Terakhir aku main waktu umur sepuluh."
Tak mungkin! Tak mungkin apa yang dibicarakan oleh William begitu adanya. Martin adalah orang paling lembut yang pernah Sean kenal.
Tiba di rumah abaikan pertanyaan Ibu dan Ayah, pilih langsung ke kamar mengunci pintu dengan badan terduduk lemas.
Dua pasang tangan terlentang guna menyeimbangkan badan yang tengah berjalan di atas dinding cukup tinggi.
"Aku selalu pengen begini."
"Maksud kamu bermain gini?"
"Bebas! Aku pengen selalu bebas."
Sekujur tubuh rasakan panas walaupun seharusnya dia kedinginan karena sudah diguyur oleh hujan sewaktu pulang. Kepalanya pusing total seperti diputar kuat lalu dibanting dan membentur benda keras sampai tak bisa berpikir waras.
"Jauhi Martin! Dia bahaya!"
Hati bagai ditusuk ribuan duri tajam yang tanpa ampun keras menghujam saat mendengar dan harus terpaksa menelan kebenaran cukup mencekam.
"Dia akan jadi Bapak."
Mungkin ini alasan kenapa setiap pagi ia temui Martin sudah ada berada di gereja untuk berdoa tanpa kenal masa.
Atau meminta pengampunan atas apa yang dilakukan olehnya.
Kesedihan Sean membuncah hebat.
"Martin itu pembunuh!"
