Work Text:
characters:
kencana - keonho
sangkara - seonghyeon
mahardika - martin
jimmy - james
julian - juhoon
kencana menghembuskan napas lega setelah lembaran buku kecil berwarna hijau tua itu dibuka. kegelisahannya selama beberapa hari ke belakang seketika luntur.
"sayang," dengan nada riang, ia memanggil seseorang yang seingatnya tengah berada di dapur, memanaskan sop ayam untuk makan malam. "dapet, nih, visa schengen-nya."
selang beberapa detik, sebuah balasan akhirnya terdengar, "iya, mas. syukurlah."
kencana larut dalam kebahagiaan karena untuk pertama kalinya ia akan mengunjungi eropa, prancis lebih tepatnya, sehingga tidak menyadari kekosongan sejenak yang tercipta sebelum ucapan syukur itu terlontar.
pria berusia tiga puluh tujuh tahun itu meletakkan dua paspor di atas meja. ia beranjak menghampiri seseorang yang jari manisnya tersemat cincin emas sejak enam tahun lalu, untuk kemudian ia peluk erat dari belakang.
"ah, mas, lepas. gerah banget aku, nih, lagi ngangetin sop." yang dipeluk sedikit berontak, berpura-pura tidak suka meski ujung telinganya merah.
meski begitu, kencana tidak mau mendengar. ia malah memparah situasi dengan mencium pipi suaminya bertubi-tubi sampai cubitan kecil didapatnya.
"mas! please, deh!"
kencana terkekeh. ia pun menghentikan kejahilannya sebelum pria di depannya ini semakin cemberut.
"makasih, ya, sayang."
"untuk?"
"sesuai nama kamu, sangkara, pembawa keberuntungan, aku bisa jalan-jalan ke prancis untuk pertama kalinya. sebelum nikah sama kamu, aku cuma bisa ke malaysia. ada kamu di hidup aku bikin aku beruntung di beberapa hal, termasuk naik jabatan sampai aku bisa nabung buat liburan kita ke prancis."
"bukannya harusnya aku yang bilang makasih? itu kan pakai uang kamu semua, mas."
"tanpa kamu aku gak mungkin bisa nabung sampai sebanyak itu, sayang."
sangkara tampaknya tidak mengerti perkataan kencana. pria manis itu hanya diam, kembali sibuk dengan sop yang kuahnya sudah mulai bergejolak.
kencana menyusun piring dan gelas di atas meja makan. suasana hatinya sangat bagus, ia menggumamkan le festin. tidak sabar untuk menaruh lagu itu sebagai backsound dari foto dirinya dan sangkara di depan menara eiffel.
"sayang,"
"iya?"
"tolong jadi pemandu aku ya selama di sana. bantu aku untuk ngerasain apa yang kamu rasain tiga belas tahun lalu."
sangkara menatap lembut kencana. senyum manisnya terukir, senyum yang berhasil menggoyahkan hati kencana sejak mereka pertama kali bertemu, senyum yang menenangkan kencana hingga tidurnya terasa nyenyak. sangkara mencondongkan wajahnya lebih dekat, menghapus jarak antara mereka, untuk mengecup bibir kencana tanpa maksud yang kencana pahami.
"semuanya?"
jika yang sangkara maksud adalah menunjukkan tempat di mana ia duduk sambil membaca buku, memakan baguette, atau memberi makan burung-burung kecil tepat tiga belas tahun yang lalu, kencana mengangguk.
"semuanya."
siapapun bisa melihat kencana begitu bahagia. sejak mendarat di bandara charles de gaulle, senyum tidak pernah luntur dari wajahnya. dalam hati mengucap syukur berkali-kali karena bisa bertandang ke kota impiannya bersama orang terkasih. tangan kiri menyeret koper, sedangkan tangan kanan mengenggam erat jari-jari sangkara.
sembari menunggu uber yang akan membawa mereka ke hotel, kencana berkali-kali membubuhkan cium entah di bibir, pipi, atau pelipis sangkara. kejahilannya itu berhadiahkan pelototan tajam. sangkara berdecak sebal karena malu kencana melakukan itu di tempat umum.
"mas, udah."
"cuek aja, sayang. on est dans la ville de l'amour."
mata sangkara membulat. "belajar dari mana kamu? kok bagus pelafalannya?"
"sejam sebelum landing."
"dasar."
hotel yang mereka tempati cukup strategis, hanya berjarak 20 menit dari menara eiffel jika berjalan kaki. sampai di kamar, sangkara meminta kencana untuk beristirahat dahulu siang ini. nanti malam, baru mereka mengunjungi menara eiffel. kencana setuju, kakinya terasa sangat pegal. tidur sebentar akan mengembalikan energi yang telah mereka keluarkan selama lima belas jam perjalanan.
sangkara langsung tidur membelakangi kencana. sedikit membuat kencana bingung karena sangkara selalu tidur menghadapnya. kalaupun ingin membelakangi, sangkara akan meminta kencana untuk mendekapnya atau sekedar menaruh tangan kencana di pinggangnya. namun, kencana tidak ingin ambil pusing. mungkin sangkara terlalu letih.
"sayang, bangun. kamu belum makan sejak di pesawat."
dengan lembut, kencana membangunkan sangkara. jam sudah menunjukkan pukul enam, matahari sedikit lagi terbenam.
sangkara perlahan bangun. duduk bersandarkan bantal, matanya sayu. meski begitu, senyumnya tetap manis, membuat kencana untuk kesekian kalinya jatuh cinta.
"maaf, aku tidurnya lama banget."
"gak papa, sayang. mau siap-siap sekarang atau kamu masih butuh waktu?"
"sekarang aja, aku laper. nanti kita makan di restoran kebab yang dulu biasa aku datengin, ya." kencana mengangguk riang. memikirkannya saja sudah membuat ia antusias. kencana ingin tahu semua yang sangkara lakukan. menapak tilas, mendengar langsung cerita dari mahasiwa master di paris tiga belas tahun lalu.
selesai bersiap-siap, mereka keluar meninggalkan hotel. berjalan sembari berpegangan tangan di trotoar. kencana sangat menyukai suasana eropa saat malam hari karena lampu jalanan yang mereka gunakan berwarna kuning. membawa suasana menjadi lebih hangat dan tenang. orang-orang makan dan bercengkrama di luar restoran. lebarnya trotoar membuat siapapun dapat menikmati kota pelan-pelan sambil berjalan kaki. jika beruntung, natif akan menyapa dalam bahasa kebanggaan mereka. bonsoir.
"ada kemungkinan gak kalau staf restoran kebab itu masih kenal sama kamu?"
"kayaknya enggak, mas. banyak ganti staf menurutku karena udah lama juga kan tiga belas tahun."
"iya, sih."
benar kata sangkara. tidak ada yang mengenalinya ketika pria itu memesan makanan. kencana memilih meja dekat jendela. memandangi jalanan yang seakan tidak berhenti dipenuhi oleh pejalan kaki. saking ramainya, beberapa mobil bahkan memilih mengalah. sudah terbiasa dengan padatnya paris.
lima belas menit kemudian, kebab mereka tiba. kencana cukup terkejut karena ukuran kebabnya begitu besar dibandingkan kebab di negaranya sendiri.
sangkara terkekeh melihat ekspresi kencana.
"kaget, ya? aku juga kaget pas pertama kali liat kebab di sini. karena besar, aku jadi bisa sisihin buat besoknya. dimakan sama nasi biar kenyang seharian."
"hah?"
ternyata, kencana lebih tercengang mendengar penyataan sangkara barusan. sangkara seperti tersadar kalau ia baru saja melontarkan sesuatu yang sebaiknya disimpan rapat. tatapan sangkara jatuh ke nampan, memutus kontak mata dengan kencana.
"aku paham kebab ini besar sampai bisa dimakan buat besoknya, tapi.. kamu yakin gak makan apa-apa lagi setelah itu? bukannya terlalu sedikit porsinya? kamu kan selalu makan tiga kali sehari di rumah."
"aku makan buah juga, kok," jawab sangkara. "itu normal buat mahasiswa di sini."
tetapi tidak normal untuk sangkara yang kencana kenal. sangkara tidak pernah melupakan makan. apapun situasinya, sangkara selalu makan. bahkan ibu sangkara pernah bercerita ke kencana kalau putranya tidak pernah ada drama mogok makan sejak kecil.
"karena lagi di negara orang, mau gak mau makanku gak sebanyak kayak di rumah. apalagi di sini gak terbiasa makan nasi."
kencana hanya mengangguk. ia tidak tahu bagaimana cara bertahan hidup di sini, terutama bagi mahasiswa asing penerima beasiswa. yang penting sekarang sangkara tidak pernah lupa untuk makan yang benar. malah, sangkara selalu memasak di rumah.
selesai makan, mereka kembali berjalan. semakin malam ternyata semakin ramai. para turis bergegas menuju ke satu titik, titik yang menjadi impian banyak orang. siapapun yang pernah melihatnya secara langsung adalah orang yang paling beruntung di dunia.
langkah demi langkah, puncak itu mulai muncul dari balik bangunan. cahayanya sudah terlihat sangat terang. kencana tiba-tiba berhenti.
"mas? kenapa?"
"aku.. gak siap. jantung aku kenapa berdebar-debar, ya?"
mendapati suaminya gelisah, sangkara perlahan mengalungkan kedua tangannya di leher kencana. seketika sudah lupa untuk malu meski di depan mereka ada sebuah restoran dengan orang-orang makan di terasnya.
"aku deg-degan karena aku gak nyangka bisa ngeliat dunia lebih jauh. aku kira aku gak akan punya kesempatan buat ke mana-mana karena gak ada uang. bahkan, kunjungan aku ke malaysia itu karena program dari kampus dan dibiayain sama mereka. aku gak bohong waktu aku bilang kamu bawa keberuntungan di hidup aku. pas kita masih pacaran, aku bisa switch career ke perusahaan yang lebih bagus dan semenjak kita nikah, karier aku berkembang pesat."
satu tetes air mata jatuh di pipi kencana. ia tidak bisa untuk tidak terharu. sesuatu yang rasanya mustahil di masa lalu ternyata bisa ia genggam sekarang. sangkara berperan sangat besar di hidupnya. setiap sebelum tidur, sangkara selalu berbisik kalau ia akan selalu ada untuk kencana, tidak akan membiarkan kencana sendirian menghadapi apapun dalam hidup. kencana tidak tahu kenapa sangkara selalu menekankan kata-kata itu, tapi sangkara membuktikan ucapannya. hangatnya pelukan sangkara menjadi tempat pelarian kencana dari suara-suara berisik itu.
"kencana."
yang dipanggil mengerjapkan mata, itu karena sudah lama sekali sangkara tidak memanggil namanya tanpa embel-embel di depan. sejak menikah, sangkara memutuskan untuk memanggil kencana dengan panggilan 'mas' meski usia mereka sama karena menurut sangkara itu romantis.
"orang itu yang seharusnya kamu ucapin terima kasih. kencana. kencana adiputra," sangkara menghela napas. "jangan pernah mengecilkan diri sendiri, mas. kemampuan dan ketekunan kamu yang ngebawa kamu sampai di titik ini. aku sebagai suami cuma dukung sepenuhnya."
memori kencana terulang kembali pada pertemuan pertama mereka. saat itu, kencana diajak oleh temannya yang sangat suka membaca buku, julian, untuk menghadiri silent reading. kencana yang baru tahu ada acara semacam itu pun menyetujui ajakan julian, ia membawa buku filosofi teras. sampai di sana, kencana segera mencari keberadaan julian. tiga puluh menit lalu, julian sudah mengirimkannya pesan kalau ia sudah sampai. setelah menengok ke sana ke mari, kencana akhirnya mendapati julian tengah berbincang dengan seseorang. dari jauh terlihat mereka sudah saling akrab karena tertawa bersama. kencana menghampiri mereka dan di situlah pandangannya beradu dengan sepasang mata paling indah yang pernah kencana lihat.
"eh, kenalin, ini sangkara. kita kenal karena sering ikut silent reading. kar, ini temen kuliah gue dulu, kencana."
kaos lengan panjang abu-abu. celana jeans. syal hitam. totebag putih. kacamata hitam di atas kepala. penampilannya sederhana, tapi kencana sama sekali tidak bercanda kalau wajah itu sangat mempesona. semburat merah di pipi, uluran tangan, dan senyum malu-malu itu membuat kencana seketika bersyukur ribuan kali akan keputusannya datang ke pertemuan ini.
"halo, aku sangkara."
maka, kencana meluapkannya ke julian setelah itu.
"yang bener aja lo, jul! orang secantik itu gak pernah lo kenalin ke gue!"
"dih, siapa lo? effort sendiri sana!"
"ya udah apa nama IG-nya? gue mau DM dia." "anjir, cantiknya gak nahan." "loh, jul? dia pernah kuliah di prancis? gila, udah cantik, pinter lagi. cocok banget sama gue!"
"mimpi!"
mimpi yang menjadi kenyataan. kini, wajah menawan itu adalah pemandangan sehari-harinya ketika bangun dan sebelum terlelap. sangkara adalah orang hebat. berwawasan luas dan tidak pernah berpikir dua kali untuk membantu orang lain. ia sering membeli makanan di pedagang kecil karena tersentuh melihat penjualnya adalah orang tua. sangkara lebih suka berdiam diri di rumah, terlebih karena kerjaannya dilakukan secara jarak jauh. menanti kencana pulang bekerja dengan membaca buku atau memasak. sangkara tidak pernah terbawa emosi terlalu dalam jika ada masalah dari luar. menerima jika ia memang sedang tertimpa masalah, untuk lalu memikirkan solusinya sembari berkata pada diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. sungguh kemampuan emosional yang tidak semua orang punya. sangkara baru menunjukkan sisi rentannya dengan merajuk sampai menangis kalau kencana menggoda atau menjahilinya.
mereka akhirnya benar-benar tiba di depan menara eiffel. kencana tidak berhenti terpukau melihat gemerlap cahaya yang dikeluarkan bangunan tinggi itu. dikeluarkannya handphone, memotret sebanyak mungkin pemandangan di depannya dari berbagai sisi. kencana bersandar pada tembok setinggi pinggangnya, mengamati dalam diam selama bermenit-menit lamanya. tenggelam dalam kekaguman, kencana baru menyadari sangkara tidak ada di sebelahnya.
begitu kepala menoleh ke belakang, di situlah kencana mendapati sangkara berdiri agak jauh darinya. sorot mata yang selama ini kencana kagumi karena kelembutannya, kini berubah menjadi sesuatu yang kencana tidak kenali. datar, letih. bibirnya membentuk garis lurus, seakan berhadapan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. angin musim gugur yang bersemilir mengacak lembut rambut sangkara. mantel yang membungkus tubuh rampingnya menyelamatkannya dari dingin malam. cahaya yang terpancar jatuh di wajah sangkara, menonjolkan gurat-gurat pilu. meski begitu, sangkara tetap berdiri tegak di sana.
sejenak, kencana tidak mengenalinya. sangkara yang ia tahu adalah sangkara yang tersipu malu ketika wajahnya dicium, sangkara yang menangis ketika hari terasa berat baginya, sangkara yang melompat-lompat senang ketika perusahaan memuji kinerja kerjanya, sangkara yang mengaku sangat bahagia ketika kencana menepati janjinya untuk sudah ada di rumah sebelum matahari terbenam. sangkara yang dewasa dan tenang, tapi tetap berekspresi.
berbeda jauh dengan apa yang kencana lihat sekarang. dingin, menelan dalam-dalam apa yang dirasakan.
"setiap minggu, aku pergi ke sini ketimbang ke jardin des tuileries yang rame turis. di sini lebih tenang karena agak jauh dari louvre dan eiffel. aku baca buku, dengerin lagu, ngeliatin orang jogging."
sebelum tidur, kencana berkata bahwa ia ingin menikmati udara pagi sambil berjalan kaki. maka, pukul setengah sembilan pagi, tiga puluh menit setelah matahari terbit, sangkara membangunkannya. belum ada toko yang buka, jalanan masih sepi akan turis. hanya ada beberapa penduduk lokal yang bergegas menuju stasiun metro untuk berangkat kerja.
mereka berada di parc monceau, taman yang jaraknya 20 menit dari arc de triomphe. pain au chocolat ada di masing-masing tangan, roti yang mereka beli tadi malam di carrefour city setelah dari menara eiffel. duduk bersebelahan, mengunyah roti dingin, tidak membuka suara, menatap kolam kecil di depan. kencana merasa lebih dari cukup.
"bonjour."
seorang nenek-nenek dan anjing putih kecilnya lewat sambil menyapa ramah.
"bonjour," balas sangkara, tersenyum lebar sampai nenek tersebut sudah jauh dari mereka.
terik matahari perlahan menembus sela-sela daun. kencana menoleh ke sangkara, diam-diam memperhatikannya. mata cantik itu bersinar, mengunyah pelan sisa terakhir roti, napasnya teratur.
"you look like you belong here."
kunyahannya berhenti.
"maksud mas?"
kencana menyelipkan rambut sangkara ke belakang telinga.
"pas kamu udah tidur, aku liat hasil foto-foto kita di menara eiffel. senyum kamu tulus, siapapun yang liat pasti ikut bahagia. with your black mantel, subtle blush pink, and contagious smile, you look like you belong here. itu maksud aku."
sangkara terdiam.
"mas."
"ya?"
"i belong wherever you are."
ucapan sangkara sukses membungkam kencana.
tatapan itu.
tatapan yang sama ketika kencana meminta sangkara untuk hidup bersamanya sampai akhir.
"sangkara, aku gak bisa janji masalah akan hilang sepenuhnya dari hidup kamu, tapi aku bisa janji, aku akan nemenin kamu ngelewatin semua itu."
tatapan bahwa harapan masih ada.
mereka menghabiskan empat hari di paris dengan mengunjungi tempat-tempat terkenal. musée du louvre, jardin des tuileries, arc de triomphe, champs-élysées, basilique du sacré-cœur, galeries lafayette haussmann, dan tentu saja, sorbonne nouvelle, tempat di mana sangkara mengambil gelar masternya lewat beasiswa.
sangkara tidak berhenti bercerita mengenai kehidupannya dahulu. seperti saat pergantian kelas, ia selalu membeli kopi dan kinder bueno di vending machine, pernah tertidur di bangku taman sampai dibangunkan polisi, hingga muntah karena tidak cocok makan salah satu jenis keju prancis. cerita-cerita itu membuat kencana terhibur sekaligus melihat paris dari sudut pandang berbeda.
di tiap tempat yang mereka kunjungi, kencana akan menarik pinggang sangkara dan menyatukan bibir mereka. bagaimana pun, ia tetap memanfaatkan momen berada di kota cinta ini dengan menunjukkan pada dunia bahwa sangkaralah yang ia cintai. sangkara, meski masih malu-malu, tetap membalas ciuman kencana.
masih saling mendekap, sangkara mempersilahkan kencana untuk menyamankan kepalanya di ceruk lehernya. tubuh mereka sedikit berayun, mengikuti permainan biola seorang musisi jalanan yang melantunkan la vie en rose, dengan menara eiffel sebagai latar belakang mereka.
"lusa kita pulang, ya, mas?"
"mau kamu?"
"loh, kok, malah nanya balik?"
"aku, sih, maunya di sini terus sama kamu."
"nanti caca gimana?"
kencana seketika terbahak. "kamu lebih mikirin caca daripada aku?"
dibalas begitu, bibir sangkara manyun.
"nanti caca gak ada yang kasih makan."
caca adalah kucing liar yang biasa datang ke rumah mereka untuk meminta makan. sangkara menamainya caca meski kucing itu jantan. tidak ada alasan, caca juga senang-senang saja dipanggil itu.
sisa waktu dihabiskan untuk bercengkrama di pinggir sungai seine. melambaikan tangan ke setiap kapal yang lewat. tertawa jika ada yang membalas. agenda mereka besok adalah membeli oleh-oleh dan merapihkan koper. selesai sudah perjalanan mereka di paris, mereka akan kembali ke rutinitas sehari-hari. mengumpulkan uang sedikit demi sedikit agar suatu saat bisa menjelajahi sisi lain dunia.
kelopak mata kencana terbuka.
sinar matahari sudah menembus jendela.
di kasur, hanya ada kencana dengan rambut berantakan dan dada telanjangnya.
sepi.
tidak ada bunyi dari kamar mandi atau barang-barang dimasukkan ke koper.
"sayang?"
sahutan yang diharapkan tidak kunjung tiba.
sangkara tidak ada di kamar.
kencana berusaha memikirkan keberadaan sangkara. tadi malam, sangkara berkata bahwa ingin membeli yogurt yang dahulu pernah ia beli. jadi, mungkin saja sangkara sedang pergi ke carrefour city yang terletak sepuluh langkah dari hotel untuk membelinya.
kencana mengangguk. yakin dengan konklusi yang ia buat. lalu, ia memutuskan untuk mandi sebelum sangkara tiba.
lima belas menit setelah mandi, kencana masih tidak curiga. ia menyantap dendeng yang mereka bawa dari rumah sembari menunggu sangkara. dibukanya jendela agar udara segar masuk ke kamar.
tv dinyalakan. kencana tidak paham apa yang presenter berita itu jelaskan. tiba-tiba, seekor burung hinggap di jendela. agaknya, kencana sedikit berhalusinasi karena merasa burung itu menatapnya lekat.
"nous passons maintenant à l'actualité sur l'université sorbonne nouvelle. le président estime que cette année il y aura la hausse des frais d'inscription pour les étudiants étrangers."
kencana menyaksikan kampus sangkara itu dari layar tv dan di waktu yang bersamaan, burung itu ribut bercicit sambil mengepak-ngepakkan sayapnya.
kencana sontak bangun dari duduk. firasatnya mengatakan untuk meraih handphone-nya dan menghubungi sangkara. tak disangka-sangka, dering panggilan terdengar dari bawah bantal. kencana melempar bantal itu, handphone sangkara ada di sana.
tidak, tidak. sejak kapan sangkara pergi begitu saja tanpa berkabar? bahkan sesibuk apapun kencana di kantor, sangkara selalu mengabarinya jika ia ingin pergi ke luar, walaupun itu hanya ke supermarket dekat rumah.
belum berhenti dari situ, ujung mata kencana menangkap benda-benda di atas meja samping kasur. kencana langsung merasa bodoh karena baru menyadari itu adalah dua paspor dan dua dompet.
apa yang dilakukan sangkara dengan hanya membawa pakaian di tubuhnya?
kencana meninggalkan handphone sangkara di kamar dengan harapan jika sangkara kembali, ia bisa menghubungi kencana sementara kencana pergi mencarinya.
jantung kencana berdebar kencang. di kota yang sama sekali asing, kencana berlarian menuju ke suatu tempat. entah kenapa, ia yakin sangkara ada di sana. derai tawa para turis menghampiri pendengarannya. seketika, itu tidak lagi menyenangkan karena yang terkasih tidak ada di genggamannya.
sekarang sudah sangat jelas. kencana mulai menghubungkan kepingan-kepingan itu. dimulai dari ketika kencana berencana mengunjungi paris dan sangkara tidak menjawab apapun selain menyakinkannya bahwa ia akan menemani kencana, yang tentu saja sempat membuat kencana bingung karena ia sudah pasti ingin pergi bersama sangkara, bisikan sangkara tiap malam bahwa ia akan selalu ada untuk kencana, dan pernyataan sangkara bahwa ia hidup di mana pun kencana berada.
ada yang belum selesai antara sangkara dengan apapun yang terjadi bertahun-tahun yang lalu.
benar dugaan kencana, sangkara berdiri di depan kampusnya. memakai mantel cream dengan bekas seperti kopi di dekat kerahnya. kencana baru pertama kali melihat mantel itu.
"sangkara!"
bagaimanapun, kencana tetap manusia. ia masih bisa marah ke suaminya, termasuk karena tindakan ceroboh sangkara pergi begitu saja tanpa membawa handphone.
kencana sudah siap menegur, namun tetes-tetes air mata yang jatuh di pipi sangkara langsung menghentikannya.
sangkara terisak begitu melihat kencana.
"mas.."
"sangkara, kamu kenapa?"
"kamu masih mau tau apa yang aku rasain tiga belas tahun lalu?"
delapan tahun sudah kencana mengenal sangkara, tapi ternyata itu belum cukup untuk mengetahui apapun tentang sangkara. kencana membawa sangkara ke dekapannya, tidak akan mengingkari janji yang diucapkannya ketika melamar sangkara enam tahun lalu.
"aku selalu ada buat kamu, sayang."
sangkara maheswara. dari kacamata akademik, ia termasuk anak pintar. tidak pernah mengulang mata kuliah dan nilai terendah yang pernah ia dapatkan adalah b plus. namun, sangkara adalah anak pendiam. selesai kelas, jika tidak ada keperluan penting, ia akan langsung pulang. selama masa studinya, sangkara bahkan hanya punya satu teman dekat.
"sangkara."
selesai kelas, seseorang menghampiri sangkara.
"iya?"
"gue suka sama lo. boleh gak gue deketin lo?"
anak-anak yang belum keluar kelas langsung terperangah mendengarnya, begitupun sangkara. matanya membulat sempurna. tidak menyangka di tengah siang bolong ini, ia akan mendapat pengakuan cinta.
perlahan, sangkara tersenyum lebar sampai pipinya sakit. ia menunduk malu, menyadari bahwa selama ini dirinya juga mengagumi laki-laki di depannya.
"boleh, mahardika."
laki-laki periang dengan segudang mimpi, laki-laki yang disenangi banyak orang. tampan, berprestasi, supel, tidak sedikit yang diam-diam menaruh hati, tapi ternyata perasaan laki-laki ini sudah tertambat pada satu orang, sangkara.
mereka menjalin hubungan asmara tidak lama setelah itu. dinamika mereka sungguh lucu di mata orang-orang. si extrovert dan si introvert. di mana-mana, mahardika selalu memperkenalkan sangkara sebagai kekasihnya, mengajak sangkara bermain bersama teman-temannya. sangkara melihat dunia lebih berwarna berkat mahardika, bahwa berkendara malam-malam untuk melihat cahaya kota dan setelahnya berbagi ciuman adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. mahardika adalah segala pertamanya bagi sangkara.
hubungan mereka masih kuat setelah lulus kuliah. sangkara yakin kalau mereka akan meneruskannya sampai ke jenjang pernikahan. terlebih, mereka memutuskan untuk menyewa kosan bersama agar lebih dekat dengan kantor. tidak ada lagi jarak di antara mereka maka dari itu.
namun, ada satu hal yang menyangkut di pikiran sangkara. sejak mereka masih kuliah, mahardika bercita-cita menempuh master di eropa, targetnya adalah jerman atau prancis. sangkara sangat tahu ambisi mahardika dalam mengejar cita-citanya. berbagai perlombaan ia menangkan, berbagai kegiataan baik nasional maupun internasional ia ikuti, semua dilakukan agar bisa dilirik oleh universitas luar.
sangkara tidak masalah jika harus menunggu mahardika menyelesaikan masternya. setelahnya, mereka bisa lanjut membahas pernikahan.
ternyata, mahardika tidak berpikir demikian.
"kamu gak mau daftar beasiswa juga?"
"maksud kamu?"
"kita sama-sama lanjut master di sana. kamu pernah bilang kalau kamu pengen s2 di eropa."
"cuma pengen, dika. bukan berarti aku bener-bener ngelakuin itu. aku gak ada niat besar kayak kamu."
"tapi kamu pinter, kara. sayang kalau kamu gak lanjut ke mana-mana. asal kamu tau, di beberapa hal, kamu bahkan lebih jago dari aku."
sangkara menggeleng-gelengkan kepalanya. "nonsense. aku gak mau denger ini lagi, dika."
"atau kita nikah sekarang biar kamu mau gak mau ikut aku ke sana?"
tawaran mahardika itu sukses membuat sangkara marah. berhari-hari sangkara mendiamkan mahardika. sungguh, mahardika sudah kelewat batas. tidak seharusnya mahardika memaksa sangkara untuk memiliki ambisi yang sama dengannya sampai mengungkit pernikahan.
sangkara menceritakan itu semua ke teman dekatnya, jimmy. apa yang sebaiknya ia lakukan di situasi ini dan jawabannya membuat sangkara termenung.
"ya daftar aja, kar. gak ada salahnya. gak ada jaminan juga lo pasti lolos, kan? siapa tau dika yang lolos. kan lo sendiri yang bilang kalau prestasi dan pengalaman lo kalah jauh dari dika."
benar juga. sangkara tidak mungkin lolos jika dibandingkan dengan mahardika. maka dari itu, sangkara menyanggupi permintaan mahardika untuk mendaftar beasiswa.
mahardika sangat senang mendengarnya sekaligus meminta maaf pada sangkara karena sudah keras kepala. diam-diam, sangkara berdoa agar mahardika yang lolos. ia tidak siap berkuliah di luar negeri, jauh dari makanan kesukaan dan keluarga. sangkara malah lebih percaya ia akan menikah dengan mahardika lebih cepat dari perkiraan daripada menghabiskan waktu dua tahun di negara orang.
tahap demi tahap mereka lalui bersama. sangkara mulai merasakan stres karena berbagai hal. jika ternyata hanya ia yang lolos, apa yang akan ia lakukan? menolaknya? apa mahardika akan tersinggung? rasanya sangat muak berada di situasi sesulit ini. tidurnya tidak lagi nyenyak, apalagi melihat mahardika terlelap di sampingnya. di pagi hari, sangkara akan bangun dengan perasaan buruk. sangkara hanya berharap ini cepat berlalu.
di hari pengumuman, sangkara memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. ia tidak membuka handphone sama sekali. sangkara bahkan meminta adiknya untuk mengecek jika ada email penting, sementara yang ia lakukan seharian adalah tidur untuk kabur dari realita.
"KAKAK! BANGUN!"
sangkara tersentak. jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"KAKAK KE PRANCIS! IBU! BAPAK! KAKAK LOLOS!"
dunia benar-benar runtuh.
dua hari kemudian, sangkara kembali ke kosan. langsung mendapati mahardika duduk di kursi sambil menyesap teh. pandangan mereka beradu. sebelum ini, sangkara selalu berusaha tampil apik tiap bersama mahardika. semua sangkara lakukan karena ia mencintai mahardika, tapi sekarang, membuka mata saja sangat sulit. entah apa yang dipikirkan mahardika begitu melihat auranya sekarang.
"dika, aku mutusin kalau aku batal—"
"ambil."
napas sangkara tercekat.
"aku gak sanggup, dika. kamu gak tau apa yang aku rasain."
"kamu pikir ini main-main? aku tersinggung kalau kamu batalin gitu aja cuma karena aku."
"EMANG DARI AWAL SEMUA INI AKU LAKUIN KARENA KAMU!"
teriakan sangkara memenuhi satu ruangan. untuk pertama kalinya dalam hidup, sangkara berteriak sekencang itu. menumpahkan emosinya begitu saja. sangkara jatuh ke lantai, mulai terisak sambil memegang dadanya.
mahardika lari memeluk sangkara. mereka sama-sama menangis, mengungkapkan keletihan yang selama ini hanya mereka pendam.
"kara, cantik, liat aku," mahardika menangkup dua pipi sangkara. "gak ada yang berubah dari kita meskipun kamu berangkat ke prancis. ini cuma takdir yang terbalik, aku yang akan nungguin kamu di sini. setelah itu, kita nikah, ya? aku—aku bahkan udah beli cincin buat kamu."
kotak merah itu dikeluarkan dari kantong celana mahardika. sebuah cincin emas mengkilap kemudian dipasangkan ke jari manis sangkara. tetes air mata kembali jatuh, tapi kini adalah karena kebahagiaan. sangkara berharap cinta mereka masih tetap kuat sampai kapanpun.
"liat positifnya aja, kar. lo ke prancis, loh. sekali lagi, prancis. lo itu pinter dari dulu. mungkin lo ngerasa dika lebih pantes dapetin itu, tapi kalau udah namanya takdir, kita gak bisa apa-apa selain nerima."
ucapan jimmy sedikit membangkitkan semangat sangkara. mahardika juga benar, ini hanya takdir yang terbalik. tidak akan ada yang berubah dari hubungan mereka.
maka, sangkara mulai mengurus segala administrasi. ia sudah mengundurkan diri dari pekerjaan, berujung menghabiskan seluruh waktunya di kosan. ternyata semua tidak semudah yang dipikir. sangat sulit mengurus pemberkasan itu sampai sangkara hanya duduk di depan laptop dan lupa makan. ia pun harus menghubungi beberapa alumni beasiswa agar mendapat informasi lebih. kalau mahardika sudah pulang, sangkara sedikit rileks karena mahardika akan memijat punggungnya. memberi sangkara perhatian seperti biasa.
namun, seiring berjalannya waktu, mahardika mulai sering pulang tidak tepat waktu. berbagai alasan dilontarkan. makan malam kantor, futsal bersama teman-teman, lembur, dan mama memintanya pulang. ketika sangkara bertanya ke kakak perempuan mahardika, perempuan itu bilang bahwa adiknya tidak ada di rumah.
sangkara sangat lelah. ia hanya ingin ditemani. jimmy punya kesibukan sendiri sehingga sangkara enggan merecokinya terus, ibu bahkan membuat kue basah untuk dijual sebagai tambahan pegangan sementara sangkara di sana sebelum beasiswa turun, sementara bapak masih sibuk dengan kios daging ayamnya di pasar untuk biaya sekolah adik sangkara.
"dika, aku capek."
sangkara akhirnya mengutarakan keluhnya. jam menunjukkan pukul sepuluh malam. mahardika baru pulang.
helaan napas terdengar.
"aku juga capek, kara. ada projek besar di kantor. waktuku kesita banyak buat itu."
"tapi aku butuh kamu, dika." dada sangkara seperti diremas-remas. sulit menerima kenyataan bahwa hubungan mereka semakin runyam. "kalau kamu gak bisa nemenin aku selama ngurus dokumen-dokumen itu, aku gak papa. tapi aku cuma mau kita balik kayak dulu.. yang apa-apa kita lakuin bareng.. makan, nonton film, tidur, baca buku, apa sesulit itu, dika? bahkan kamu gak perlu ngomong apa-apa, aku butuh presensi kamu aja.." bahkan untuk berteriak seperti waktu itu, sangkara sudah tidak punya tenaga. sisa kekuatannya sangkara lakukan untuk melepas cincin dari jari manisnya dan ia letakkan di atas meja. "aku pulang ke rumah. kalau dalam seminggu kamu gak ngasih cincin ini lagi, aku anggap hubungan kita selesai. aku akan suruh orang buat ambil barang aku."
seminggu kemudian, bukan mahardika yang datang, melainkan semua barang sangkara dan sepucuk surat.
maaf, sangkara. aku gak sanggup liat orang lain nyentuh baju, buku, dan boneka kamu. aku yang rapihin semuanya ke dalam kardus. maaf aku udah nyakitin kamu berkali-kali. aku minta ke kamu untuk yang terakhir kalinya, tolong lanjutin gelar master itu sampai selesai. di prancis, kamu gak akan ketemu aku lagi. tuhan lebih tau kenapa kamu yang dipilih, sangkara, itu karena kamu mampu dan pantas. - m
berkuliah di prancis sama sekali tidak mudah. sulit mendapat teman natif, terlebih sangkara tidak percaya diri untuk mengajak bicara pertama kali. lalu, meskipun sangkara berada di kelas internasional yang memakai bahasa inggris sebagai bahasa pengantar, sangkara tetap mengalami kesulitan berkomunikasi di luar kampus karena benar nyatanya bahwa bisa bahasa prancis akan jauh lebih memudahkan hidupnya. maka, sangkara juga belajar lebih keras bahasa prancis di luar belajar mata kuliah wajibnya.
perbedaan waktu pun menyiksa. ketika malam hari datang, sangkara terperangkap dalam kesunyian sampai ia terlelap. ia tidak bisa menelpon keluarga dan jimmy karena di sana masih dini hari. situasi benar-benar terbalik. di kosan, ada mahardika yang menyambutnya. di rumah, ada ayah, ibu, dan adik. sangkara tidak pernah merasa kesepian seperti ini sebelumnya.
di kesendiriannya, sangkara masih mengingat mahardika. laki-laki itu adalah cinta pertamanya. sulit untuk dilupakan. sangkara berandai-andai jika ia jadi menikah dengan mahardika. mungkin sangkara akan sering memasak untuknya, memanggilnya dengan panggilan khusus, selalu tidur menghadapnya, dan tidak akan melepas cincin pernikahan.
beban akademik, jauh dari orang-orang terdekat, proses adaptasi di lingkungan baru, belum sepenuhnya bangkit dari patah hati. meski sangat berat, sangkara telan semuanya dalam-dalam. menangis hanya akan membuatnya letih. sangkara lebih baik mencurahkan konsentrasi dan tenaganya untuk belajar.
sangkara hanya makan sekali sehari dengan porsi sedikit. kebab yang ia beli hari ini, ia sisakan sedikit untuk besok. sangkara tidak makan apa-apa lagi setelah itu selain buah, kopi, atau kinder bueno. sangkara hanya akan makan jika perutnya sudah sangat sakit. itu semua ia lakukan karena waktunya sibuk untuk belajar, menghabiskan hari di perpustakaan, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan bisa kuliah di prancis.
atau sangkara hanya berusaha melupakan masa lalu.
setahun kemudian, sangkara duduk menunggu kelas berikutnya sambil meminum kopi. sangkara merasa hari ini sedikit lebih baik karena ia memakai mantel cream yang baru ia beli dari brocante. tidak lama, sebuah pesan dari jimmy sedikit menarik perhatiannya.
jimmy
lo sering main instagram gak sih?
sangkara
jarang
jimmy
nah bagus
instagram itu bisa bikin kita adiktif, apalagi reels-nya
sangkara
setuju
jimmy
makanya gue hapus instagram
gue gak mau attention span gue jelek
sangkara
seorang jimmy hapus instagram?
lo kan bisa tiap hari update
jimmy
ya makanya itu gue mau ngurangin
pengen agak private juga
coba deh lo hapus instagram
pasti bakal lebih tenang
sangkara
gue masih bisa ngontrol diri
jimmy
yah coba dulu deh
ini bentuk ngurangin screen time juga
sangkara
iya iya
tidak ada salahnya mengikuti saran jimmy. toh, sangkara juga jarang sekali upload sesuatu di sana. ia masih bisa membuka instagram lewat web jika ada yang penting.
namun sebelum itu, sangkara ingin mengecek sebentar berandanya. apa kira-kira yang muncul pertama kali di layar.
mahardika0320
officially engaged 💍
gelas kopi itu jatuh dari tangan, mengenai mantelnya.
jimmy
kar? udah dihapus instagramnya?
"mantel ini jadi pengingat aku akan dunia yang lagi-lagi seakan runtuh."
sangkara mengusap bekas kopi di mantelnya. mungkin, bekasnya akan hilang total jika sangkara benar-benar berusaha menghilangkannya. tapi, sangkara sengaja tidak melakukannya karena itu menjadi bagian dari cerita hidupnya.
"aku pengen menghadapi traumaku dengan cara datang ke kampus pakai mantel ini, tanpa kamu. aku minta maaf karena udah bikin kamu khawatir, mas." sangkara memegang tangan kencana. "aku sayang sama kamu. dari awal kita dikenalin julian, aku bisa ngerasa kamu orang baik. aku paling takut ditinggalin lagi, tapi kamu selalu ngebuktiin kalau kamu ada di samping aku."
selama sangkara bercerita, tidak sedikitpun kencana memotong. ia mendengarkan sampai selesai. begitu sangkara sudah diam menduduk, siap menerima tegurannya, kencana menarik sangkara pelan-pelan untuk masuk ke rengkuhannya. ciuman lembut di dahi kencana bubuhkan cukup lama.
"maaf, masmu ini gak sadar dari awal apa yang kamu rasain."
kencana tahu sangkara sudah lebih bahagia sejak menikah dengannya, tapi setelah mereka pulang dari paris, kencana mengajak sangkara untuk pergi ke psikolog. kencana hanya ingin sangkara mendapat pertolongan profesional sebelum benar-benar melanjutkan hidup. awalnya sangkara takut karena ia tidak pernah pergi berkonsultasi, tapi kencana berjanji akan menemaninya, bahkan rela mengambil cuti hanya untuk memastikan sangkara merasa nyaman dan aman di konsultasi pertamanya karena ada kencana di sampingnya.
seperti janji yang kencana ucapkan pada sangkara. []
