Work Text:
Genap setahun Aaron membersamai Samuel, dan selama itu pula keduanya meredam kasih—kisah mereka tidak dipandang ramah di tanah ini. Entah berapa kali Aaron terpaksa menahan sentuhan dan senyuman di antara banyak mata yang mengawasi, karena pria itu tidak bisa berinteraksi lama dengan Samuel tanpa menumbuhkan kecurigaan. Bahkan semua sahabatnya tahu tentang rasa sukanya, jauh sebelum dirinya sendiri sadar.
Aaron yang sangat suka menempel dengan Samuel itu harus senantiasa belajar mencukupkan diri, meski sebatas bertaut jemari diingkarkan darinya. Misalnya saat berkencan, mereka lebih sering memilih area tertutup, intim, atau memang tempat yang lebih menerima eksistensi mereka.
Tapi malam ini berbeda dengan kencan mereka biasa, karena band favorit Samuel akhirnya kembali menggelar konser tunggal di Jakarta. Pacarnya itu bukan tipe yang mudah menangis, jadi Aaron jelas mengingat suara pria yang lebih tua itu bergetar saat curhat tentang pembatalan konser One OK Rock tahun 2021. Sementara tahun 2023, tanggalnya bertepatan dengan jadwal penting shoot Samuel yang tidak bisa dibatalkan.
Aaron sebenarnya bersyukur, karena tahun ini status mereka sudah bebas dari teman. Jangan tanya apa yang sudah ia lakukan untuk mengamankan dua tiket band itu. Segala hal ia pastikan jadi, demi kakak ganteng dan cantik kesayangannya. Apalagi mereka belum pernah kencan konser hanya berdua. Ia jadi tersenyum sendiri, masih terbayang ekspresi bahagia kekasihnya saat ia membuka amplop berisikan tiket itu. Tidak lupa setelah itu ia merasakan hebatnya se-
‘WAH GILA, YON!’
Seruan antusias Samuel memecahkan lamunan Aaron. Lampu gemerlap sudah menyala, lantas gegap gempita audiens banjir ke seluruh penjuru area. Kebalikan dari semua orang yang berfokus pada panggung, Aaron justru beralih ke sosok yang sedari tadi memenuhi pikirannya.
It’d be a lie if Aaron said he’s there to watch the band. No. He’s there solely for a piece of heaven he has the pleasure to cherish—Samuel. Kekasihnya. Tambatan hatinya. Sumber bahagianya.
Persetan dengan konser, bagaimana bisa ia melepaskan pandangan dari mata yang berbinar indah itu? Inilah kenapa ia mati-matian mengusahakan momen mereka sekarang. Aaron berlama-lama menghitung tiap bintang coklat di wajah kekasihnya yang sudah sangat familiar. Ia susuri perlahan lekuk wajah Samuel mengikuti alur bintik cantik miliknya, dari ujung matanya yang bulat, hidung mancungnya, pipinya yang sedikit tirus namun tetap berisi—Damn, the love of his life is so gorgeous.
Perjalanan mata Aaron berakhir di bibir Samuel. Astaga, bibirnya! Ranum dan tebal, berisi manis. Semesta menyimpan ragam candu dan nafsu dunia di sana—tempat Aaron mencipta mimpi dan doa. Pusat yang berdaulat penuh atas hasratnya.
Riuh tepuk tangan seakan mengizinkan Aaron membentuk angan di bibir Samuel—hati Aaron hampir menyangkal kuasa akalnya. Tetapi di ruangan penuh manusia, segala eksistensi keinginan mereka harus diingkarkan.
Maka Aaron cukupkan dengan sekadar tatapan, sepuluh detik lamanya—terlampau panjang daripada yang “seharusnya”. Lalu senyuman hangat merekah di bibirnya melihat raut bahagia sang kekasih yang dari tadi fokus ke arah panggung.
Semesta, apakah kasih kami serakah?
