Work Text:
“Mamiiii!"
Kira'na merentangkan tangan lebar-lebar menyambut putri kecilnya yang menerjang menghampiri.
“Anak mami sayang." Kira'na dengan gemas menciumi wajah tembam putrinya. “Capek nggak sekolahnya hari ini?"
“Capek. Tadi adek ikut senam sama Bu Guru!"
“Oh, ya? Bagus, dong! Nanti badannya jadi sehat kalau sering senam."
"Kayak mami?”
"Iya!” Kira'na tersenyum dan memamerkan postur tubuhnya. "Nanti adek ikut senam sama mami juga biar terbiasa dan nggak capek lagi, ya?”
"Nggak mau, ah. Adek mau nonton kartun aja sambil rebahan.”
Kira'na mencibir dan mencubit pipi putrinya. "Nanti pipinya ini makin gembul, makin sering mami gigitin nanti. Mau?”
"Kalau gigit nanti adek ngadu sama papi!”
“Dasar tukang ngadu."
“Biarin." Sa’rang menjulurkan lidah sebelum merentangkan tangannya. “Mami, mau gendong!"
"Iya, iya, sini.” Kira'na menyampirkan ransel Sa’rang di sebelah bahunya sebelum meraih sang putri ke dalam gendongan. "Ayo, papi udah nungguin di mobil.”
"Lho, mami bukan sama Uncle Pang?”
"Bukan. Papi pulang cepat hari ini, jadi ikut jemput adek, deh!”
"Padahal adek udah janji mau dibeliin donat sama Uncle.” Sa’rang memanyunkan bibirnya.
"Nanti minta dibeliin papi aja. Sekalian minta risol mayo sama seblak buat mami, ya?”
“Nggak mau. Mami minta aja sendiri."
Kira'na semakin gemas dan menggigit pipi Sa’rang dan membuat putrinya merengek tak senang.
“Papi, liat mami gigitin pipi adek lagi!"
Sa'rang langsung mengadu begitu masuk ke mobil.
“Gigit aja balik," balas Kaizo lugas. “Gitu aja repot."
“Kulit mami keras, nggak enak digigit."
“Enak aja! Mami rajin perawatan, kulit mami nggak keras, ya!" protes Kira'na. “Tanya papi kalau nggak percaya. Papi sering makan—"
Kaizo berdeham keras dan segera mengalihkan topik. “Gimana sekolahnya hari ini?"
“Nggak asik.” Sa'rang cemberut. "Adek disuruh senam, capek."
“Cuma senam kok capek. Itu ‘kan bagus buat kesehatan.”
"Nggak bagus buat kaki sama tangan adek. Bikin pegel.”
"Nanti papi pijetin di rumah,” kata Kaizo selagi melajukan mobil meninggalkan pekarangan sekolah. "Adek mau es krim?”
"Mau!” Sa'rang langsung tersenyum cerah. "Mau donat juga! Uncle Pang bilang ada toko donat yang baru buka enak banget! Ada es krimnya juga!”
"Di mana?”
"Nggak tau. Papi yang cari tau dong, kok malah tanya adek.”
Kira'na tergelak. “Dasar, mulut pedas adek mirip banget sama papi."
“Ya iya. Adek ‘kan anak papi. Atau jangan-jangan mami selingkuh?"
“Hush, sembarangan aja ngomongnya." Kira'na menjawil gemas pipi putrinya. “Coba liat papi adek yang super ganteng ini. Mami waras nggak kalau sampai selingkuh dari papi?"
“Mami udah duluan nggak waras nggak, sih?" ucap Sa'rang polos.
Kira'na berdecak. “Kai, anak kamu, nih!"
“Anak kamu juga," balas Kaizo kalem.
"Adek mau jadi anak Uncle Pang aja,” cerocos Sa'rang. “Nanti bisa makan donat tiap hari.”
"Nanti lama-lama adek yang jadi donat, terus mami makan, mau?”
Sa'rang berusaha menghindari gigitan Kira'na di pipinya sambil merengek.
"Papi, liat mami, nih!”
"Gigit aja balik, udah,” kata Kaizo.
"Nggak mau. Mami nggak enak, nanti adek sakit perut.”
Kaizo berusaha tetap fokus menyetir selagi istri dan anaknya bergelut di kursi penumpang.
"Mami jelek, pipi adek jadi banyak bekas lipstiknya pasti.” Sa'rang bersungut-sungut, mengusap pipinya yang sudah puas dimainkan sang ibu.
"Adek secantik dan segemes ini turunan dari mami, enak aja bilang mami jelek,” cibir Kira'na.
"Adek cantiknya turunan dari papi. Iya ‘kan, pi?”
"Iya,” Kaizo menyahut asal.
"Tuh, ‘kan,” Sa'rang tersenyum penuh kemenangan. "Nanti kalau adek punya adek, baru cantiknya mirip sama mami aja. Biar nggak ngalahin cantiknya adek sama papi.”
Kira'na tertawa geli. “Emangnya adek mau punya adek?"
“Mau aja kalau mami juga mau." Sa'rang mengusap-usap perut Kira'na. “Adeknya di perut mami, ‘kan? Kapan keluarnya?"
“Nggak ada adek di perut mami, enak aja."
“Tapi perut mami buncit kayak guru adek di sekolah. Katanya ada adek bayi makanya buncit."
Kaizo mendengkus dan berusaha menyembunyikan tawanya.
“Mami buncit bukan karena ada adek bayi!" Kira'na berdecak. “Kebanyakan makan seblak aja ini."
“Terus adek bayinya di mana?"
“Ya belum ada. Minta papi sana."
“Papi bisa beliin adek bayi?" Sa'rang menatap Kaizo penasaran. “Lebih mahal beli donat atau adek bayi? Atau seblaknya mami? Kalau mahal seblak mending mami nggak usah makan dulu deh biar kita bisa beli adek bayi. Lagian mami udah buncit gitu.”
Kaizo terlalu sibuk tertawa untuk menjawab pertanyaan putrinya, sementara Kira'na mencak-mencak.
“Nanti mami kasih adek bayi beneran biar adek repot ngurusinnya sebagai kakak, mau?"
“Mau. Adek suka main sama adek bayi kayak dedeknya Bu Guru di sekolah."
“Tuh, Kai." Kira'na menoleh pada Kaizo. “Udah dikodein minta adek bayi. Gimana?"
“Beli donat aja dulu, ah," Kaizo berdecak. “Kedai donatnya di mana, sih?"
“Papi kayaknya belum mau punya adek bayi lagi," Kira'na berbisik di telinga Sa'rang. “Nanti adek bujukin, ya?"
“Oke," Sa'rang mengangguk antusias. "Nanti mau adeknya dua, ya?”
"Satu dulu aja, dong. Repot nanti kalau dua.”
"Ya nggak apa-apa nanti adek bantuin jagain adek bayinya,” Sa'rang merengek. "Kalau tiga lebih bagus lagi, mami. Nanti rumah jadi rame. Bisa ajak Uncle Pang sekalian buat bantuin ngurus dedek bayinya.”
"Dua aja udah ngos-ngosan bayanginnya, apalagi tiga,” Kira'na menghela napas. Ia menyandarkan pipinya di rambut Sa'rang dan menatap Kaizo yang masih fokus menyetir. "Tapi kita liat nanti aja, deh.”
"Janji ya mami mau ngasih adek adek bayi."
“Iya, iya. Tapi ….” Kira'na kembali berbisik. "Nanti malam adek nginep sama Uncle Pang aja, ya?”
"Kenapa?”
"Yah, mami ‘kan perlu bujukin papi buat bikin—uh, siapin adek bayi buat adek.”
"Adek mau ikut bujukin juga, dong. Sekalian mau milih adek bayinya yang kayak gimana.”
"Adek bayi nggak bisa dipilih, sayang.” Kira'na dengan gemas menciumi rambut putrinya. "Kalau udah waktunya juga nanti dia datang ke keluarga kita, dan kita bakal sayangi adek bayinya apa adanya, oke?”
"Oke!”
Kira'na tersenyum. Ia mendekap Sa'rang erat di dadanya dan melempar kedipan penuh isyarat pada Kaizo yang melirik mereka.
Misi baru: menyiapkan adik untuk Sa'rang akan segera dimulai.
