Actions

Work Header

rencana pelarian eden.

Summary:

Seharusnya vampire Eden tetap pada rencana awalnya untuk kabur sendirian.

Notes:

This is my first long fic, so I hope you guys still find it enjoyable. Updates may take some time....
The relationship between the two main characters is written purely as a romantic one. This story may include disturbing themes as indicated in the tags, so please read at your own discretion.
Visualisasi dari karya ini secara lengkap bisa dilihat di X @layingonmars. Happy reading!

Chapter 1: malaikat cantik.

Chapter Text

Sudah terhitung lima belas hari, Eden terkurung di balik jeruji, dengan rantai besi melilit kedua pergelangan tangannya. Atau mungkin lebih? Sejujurnya, Eden sendiri tidak terlalu mengingatnya. Waktu di pikirannya sudah kehilangan hitungan sejak obat-obatan aneh itu disuntikkan. Ia hanya ingat setiap kali terbangun bekas luka memar dan lebam di bagian perutnya telah bertambah. Kemampuan pemulihannya yang sudah buruk kini nyaris tak berfungsi sama sekali. Titik-titik kecil di lengannya pasti pertanda eksperimen yang telah dilakukan tenaga medis di tempat tanpa cahaya ini. 

Katanya, ia ini monster. Dasar manusia bodoh. Selalu saja memandang makhluk lain yang merugikan sebagai ancaman. Tidak, Eden bukanlah makhluk haus darah. Mungkin sedikit jika insting berburunya meningkat karena kelaparan. Namun, bukankah manusia juga tidak kebal terhadap hasrat? Bahkan, menurutnya lebih serakah. Munafik rasanya menilainya sebagai monster ketika perbuatannya sama sekali tidak dalam tingkatan yang sama untuk menyaingi kekejaman manusia.

Sedikit yang ia dengar dari perbincangan kepala penjaga dengan perawat yang baru saja keluar dari selnya, Eden sudah tidak diperlukan lagi. Perawat bajingan itu mengatakan dagingnya tidak cukup sehat karena ia dianggap vampire lemah. Sedikit tersinggung, Eden menyadari kondisi fisiknya memang selalu lemah karena menghindari darah segar manusia. Bukan karena tidak enak, hanya saja rasanya seperti mengaburkan sisa kemanusiaan yang ia coba pertahankan. Ah, Eden jadi teringat hidupnya sebagai manusia biasa sebelum vampire gila itu mengubahnya. Walaupun dulu ia sakit-sakitan dan berumur pendek, sepertinya masih lebih baik daripada lemah tapi tak kunjung mati.

Eden tak habis pikir. Orang berakal mana yang akan berpikir suatu penyakit genetik dapat disembuhkan dengan mengonsumsi daging vampire? Pasti orang itu sudah kepalang putus asa hingga otaknya ditinggalkan teraduk dalam larutan asam klorida.

Sial sekali Eden harus terjebak untuk memenuhi kebutuhan penyembuhan manusia rendahan itu. Kalimat setelahnya yang tidak lagi tertangkap telinga Eden adalah hasil akhir diskusi untuk mengeksekusi vampire itu setelah dua minggu jika satu saja kondisi fisiknya menyalahi daftar persyaratan medis. Membiarkan Eden bebas tentu saja terlalu berisiko untuk keberlangsungan tempat penelitian tersebut. 

Keputusan itu diambil jelas bukan tanpa pertimbangan rencana lain. Pada hari berikutnya, ditambahkan tahanan lain pada selnya. Sedikit dramatis, tahanan itu diseret dan dibanting untuk kemudian terkunci dalam satu sel bersama Eden. Rupanya, tempat ini tidak hanya menahan vampire, seperti Eden. Dari penampilannya, jelas sekali tahanan itu manusia. Parasnya tampan, terlihat seumuran dengan fisik manusianya. Fitur wajahnya cenderung halus dan lembut. Secara objektif, Eden akan mengkategorikannya sebagai laki-laki cantik. Tentu kecantikan itu subjektif, tetapi untuk manusia ini sepertinya setiap orang akan setuju dengan pendapatnya. 

Tidak seperti Eden yang fokus menelisik penampilannya untuk melihat tanda-tanda jika tahanan itu adalah penyamaran peneliti gila lainnya. Manusia itu terduduk di sudut terluar ruangan, tangannya bergetar menggenggam kotak berisi peralatan medisnya. Oh, tadi kepala penjaga itu menjanjikan kebebasan jika berhasil memulihkan kondisi Eden dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Tingkat kepercayaan pada nada bicara kepala penjaga menyiratkan jika manusia ini adalah ahli medis sebelum menjadi budak dan ditahan di sini. 

Jelas sekali manusia itu ketakutan karena mengetahui di depannya adalah makhluk penghisap darah yang kerap kali digambarkan sebagai pembunuh. Barangkali tahanan itu belum menyadari jika tangannya terbelenggu rantai dan mulutnya terpasang pelindung layaknya anjing. 

Berbalik menuju pintu sel, tahanan itu masih bersikeras membuka dan menggedor jeruji besi dingin itu. Eden menghela napas, mungkin manusia ini tidak sepintar yang ia pikirkan. Sepertinya, ide memanfaatkan manusia ini tidak sepenuhnya buruk. 

Usahanya sia-sia. Kini tahanan itu melihat ke arahnya dengan pandangan ngeri. Reaksi yang wajar terhadap luka-luka di sekujur tubuh Eden. Kali ini tahanan itu sudah cukup tenang untuk menyadari pergerakan Eden telah dibatasi dan taringnya tidak akan mampu menyentuh kulitnya. 

“Maaf, aku Shawn. Kuharap kamu bisa diajak bekerja sama demi kebebasan kita berdua. Namamu?”

“Eden.” 

Lelaki bernama Shawn ini memutuskan menerima kenyataan untuk mengobati Eden seperti yang telah dijanjikan. Sementara itu, Eden berusaha bersikap baik dengan menunjukkan sikap patuh demi menunggu dan mencari celah kelalaian Shawn. Eden yakin setidaknya satu dari peralatan yang dibawa Shawn akan cukup berguna untuk membantunya melarikan diri.

“Ed, ya? Bisa tunjukkan semua lukamu?” tanya Shawn tersenyum ramah. Eden berkedip pelan, tak percaya pada apa yang dilihatnya. Cantik. Ia terpesona, menundukkan kepalanya menghindari tatapan itu. Tidak diketahuinya jika pemikiran itu merupakan salah satu kesalahan terbesar Eden.

“Ya, seperti kelihatannya. Di punggung juga ada.” 

Shawn merogoh isi kotak perlengkapannya, mencari-cari sesuatu. Jarum, suntikan, pisau, perban, dan obat tablet kecil yang disimpan dalam botol. Firasatnya mengatakan itu obat penenang. 

“Sepertinya, di kotak peralatanku gak ada anestesi. Kamu tahan dulu, ya?” 

Shawn tersenyum lagi, sama lembutnya. Matanya berkilau dekat, begitu indah, sampai Eden hampir lupa cara bernapas. Dunia ini pasti sedang mengujinya dengan mendatangkan malaikat tepat di ambang kematiannya.

Satu kali, Eden mendapati dirinya mengangguk tanpa benar-benar berpikir panjang.

 


 

Beberapa hari terkurung bersama dengan Shawn, menumpulkan naluri bertahan hidup Eden. Sebenci apa pun Eden untuk mengakuinya, rencananya jadi terhambat karena berulang kali terkecoh paras tampan lelaki itu. Sejauh ini memang tak ada yang mencurigakan dari Shawn. Semua hal yang dia lakukan hanya bertujuan untuk menyembuhkan Eden. Jika ada kejanggalan, mungkin hanya pada caranya menganggap Eden sebagai teman dan bersikap terlalu perhatian. Namun, tidak ada jaminan Shawn akan tetap menjadi malaikat selamanya, kan?

Rencana Eden sebenarnya sudah berhasil setengah jalan. Sebilah pisau kini telah tersembunyi di genggamannya, hasil dari aksi jatuh yang ia lakukan dengan sengaja. Kesempatan tidak datang dua kali jadi Eden meraih satu benda yang ia anggap paling penting. Shawn cukup ceroboh membiarkannya pergi ke kamar kecil tanpa pengamanan lebih. Tindakan melepas rantai dari ikatannya pada dinding seharusnya dilakukan dengan lebih hati-hati. Meski kedua tangannya masih terborgol ke belakang, tidak menutup kemungkinan Eden sepenuhnya tak berdaya untuk melakukan aksi penyerangan. 

“Ed, kamu gak mau makan? Mau aku suapin?” 

Makanan-makanan manusia itu lagi. Eden menggeleng.

“Oh iya, kamu gak biasa makan ini, ya. Mau darahku?” 

Sungguh, Shawn mungkin akan menjadi pengantar kematiannya. 

“Aku gak tau caranya sih, kayaknya bisa dari suntikan. Atau mungkin kamu mau ajarin aku biasanya makan gimana?”

Kepalanya sedikit berdengung, mendengar kesediaan lelaki itu menawarkan darahnya sendiri. Gila, manusia ini benar-benar tidak punya rasa takut, ya? Jika Eden lapar sekalipun, dia lebih suka rasa menjijikkan dari makanan manusia. 

“Jangan bicara begitu, Shawn. Gak perlu segitunya buat bantu aku. Bisa aja darahmu dihisap sampai habis,” jawab Eden, suaranya sedikit serak seperti sedang menahan diri. 

“Hm iya sih, tapi Ed gak bakal kayak gitu, kan? Aku percaya Ed karena selama ini Ed selalu baik dan nurut.” kata Shawn terlampau yakin. 

Tangannya tergerak menepuk pelan lalu membelai rambut Eden dari depan ke belakang berulang. Naif sekali. Namun, cukup membuat Eden kehilangan kewarasan. Matanya ia pejamkan, tak sanggup membalas tatapan lawan bicaranya. Takut jika senyum itu membutakan rencana awalnya.

Tangan Eden gemetar, masih mencengkeram gagang pisau yang ia sembunyikan. Jemarinya mengencang di balik punggungnya. Peluang ini tidak bisa ia sia-siakan. Satu dorongan saja dan ia berhasil menyingkirkan salah satu bidak di papan caturnya. Kematian tahanan lain bisa menjadi umpan yang cukup baik agar dirinya bisa melarikan diri. Harusnya tidak terlalu sulit jika ia tahu jalan keluar. Jalan keluar, ya? Eden sendiri masih kurang yakin dengan yang itu lantaran ia hanya dibiarkan di ruangan ini sejak dikurung.

“Ed, gimana kalau di hari terakhir sebelum kita pisah kabur aja, yuk! Mau gak?” tanya Shawn bersemangat, kali ini senyumnya semakin lebar sampai matanya ikut menyipit. Membuka matanya, perhatian Eden teralihkan pada senyuman itu lagi. Ah, cantiknya. Padahal ada sesuatu yang lebih penting. 

Terpaku selama dua menit, Eden tidak menyadari Shawn sudah mengeluarkan kunci tua berlapis emas.

“Liat deh, aku punya kuncinya. Susah tau aku dapetinnya, harus nyuri dari penjaga serem itu. Aku udah lama di sini, jadi lumayan hafal sama denah dan letak pintu keluarnya.”

Semestinya Eden yang tidak terpengaruh akan mempertanyakan bagaimana tahanan biasa seperti Shawn bisa memiliki kunci tersebut dan belum melakukan apa pun. Apalagi, racauan tentang pengetahuan denah yang diperoleh hanya karena ‘sudah lama ditahan di sini’ terdengar tidak masuk akal. Kalau Shawn tahu dari awal, kenapa tidak melarikan diri saja? 

Sudah terlambat, Eden lebih memilih meragukan dirinya sendiri daripada menaruh rasa curiga terhadap malaikat cantiknya itu. Membiarkan rasa terpesona menenggelamkan instingnya yang seharusnya waspada.

Diletakannya kembali pisau yang ia genggam. Berhati-hati supaya tidak mengeluarkan suara yang terlalu kentara. Apa daya makhluk sepertinya juga lemah jika dihadapkan terus-terusan dengan keindahan. Menukar akal sehatnya demi kebebasan palsu yang dijanjikan malaikat secantik lelaki di hadapannya terdengar tidak buruk.

“Ed, hati-hati. Kenapa ada pisau di deket kamu sih. Padahal udah aku jauhin biar kamu gak luka lagi. Gak mungkin kan kalau pisaunya jalan sendiri? Atau… masa kamu ambil?” 

Detik berikutnya, Shawn tertawa sedikit terlalu berlebihan. Tidak selaras dengan matanya yang memicing tajam. Senyum miring muncul sepersekian detik setelah melihat jemari Eden masih meninggalkan bekas genggaman yang terlalu kuat. Ekspresi mikro itu luput dari perhatian Eden, yang sudah terpesona lagi oleh senyum manis Shawn.

Mendekatkan wajahnya, Shawn berbisik lembut tepat di telinga Eden. 

“Gimana, Ed? Mau kan kabur bareng aku?” katanya sambil memiringkan kepala, menunggu jawaban Eden dengan tatapan berharap.

Dua kali, Eden mendapati dirinya mengangguk tanpa benar-benar berpikir panjang.

Lagipula, malaikat cantiknya ini tidak akan mengkhianatinya, kan?