Work Text:
Kazuki, Rei, dan Miri berusaha menjalankan kehidupan baru mereka. Sudah setahun sejak Rei ‘berpamitan’ pada ayahnya di mansion keluarga Suwa. Miri sudah berumur 5 tahun dan Kazuki serta Rei sekarang sudah menjadi warga sipil biasa, anggota masyarakat yang normal, bukan lagi seorang pembunuh bayaran yang harus bersembunyi di balik bayang-bayang.
Mereka kini tinggal di sebuah rumah di pinggiran kota, menjauh dari hiruk pikuk padatnya Tokyo, serta menghindari kemungkinan jika ayah Rei mengirim seseorang ke apartemen mereka. Rumah baru mereka bukan rumah yang besar dan mewah, melainkan rumah kecil sederhana yang cukup nyaman untuk ditinggali oleh tiga anggota keluarga. Kyutaro yang merekomendasikan rumah ini pada Kazuki, milik salah satu kenalannya, katanya.
Kazuki mendiskusikannya dengan Rei, setelah mempertimbangkan segala aspek, apalagi harga sewa rumah tersebut lebih murah dibandingkan harga sewa apartemen mereka, mengingat mereka tidak lagi bekerja sebagai pembunuh bayaran dengan gaji tinggi, mereka akhirnya sepakat untuk menyewa rumah tersebut. Mengapa menyewa rumah? Hal ini sebagai antisipasi jika ternyata mereka masih diincar oleh organisasi dan merasa terancam, mereka bisa segera pindah dan menyewa rumah lain.
Miri bersekolah di TK yang baru, Kazuki dengan kemampuan memasaknya yang sangat handal, diterima bekerja sebagai juru masak di restoran populer tak jauh dari rumah mereka, sedangkan Rei, karena tangan kanannya sudah tidak bisa digerakkan seleluasa seperti sebelumnya dan kemampuan sosialnya yang buruk, ia memutuskan untuk menjadi seorang penjoki game di rumah. Pekerjaan ini menguntungkan bagi Rei, ia tidak perlu sering keluar rumah, tidak perlu bertemu langsung dengan kliennya karena cukup melalui chat, tidak ada yang mengatur pasti kapan ia harus bekerja, serta dapat menjaga Miri jika ia tidak bersekolah.
Rumah mereka hanya memiliki dua kamar, satu kamar dipergunakan untuk kamar Miri sehingga Rei dan Kazuki harus berbagi kamar. Tidak ada masalah dengan hal itu, toh, mereka sudah beberapa kali tidur bersama semenjak mereka akhirnya saling menyatakan perasaan mereka di malam Natal setelah keluar dari mansion keluarga Suwa. Awalnya Rei ingin tidur di kamar mandi seperti biasanya karena di kamar mandi di rumah yang baru juga memiliki bathtub, akan tetapi Kazuki segera mencegahnya.
“Rei, kita sudah sepakat kan untuk memulai hidup baru. Itu berarti kau juga harus meninggalkan kebiasaan lamamu. Kalau kau tetap tidur disana, aku dan Miri tidak bisa menggunakan kamar mandi karena dirumah ini kamar mandi hanya ada satu,” tegur Kazuki saat ia memergoki Rei sedang membawa selimut hendak masuk ke dalam kamar mandi. “Ayo, kita ke kamar.” Kazuki menarik paksa tangan Rei.
Dan disinilah mereka setiap malam, tidur di atas kasur yang sama, saling berbagi selimut dengan Kazuki yang selalu memeluk Rei dalam tidurnya, seperti Miri yang selalu memeluk boneka-bonekanya bergantian setiap malam saat tidur. Rei tidak protes sama sekali. Sejujurnya, ia malah merasa nyaman. Seumur hidup Rei tidak pernah tidur di dalam dekapan seseorang, mungkin pernah dengan ibunya saat ia masih bayi. Entahlah, Rei pun hanya memiliki ingatan samar tentang ibunya.
.
.
.
Malam ini adalah malam ketiga dimana Rei selalu terbangun akibat suara dengkuran keras Kazuki tepat di belakang telinganya. Kazuki selalu tidur menempel pada punggung Rei, kedua tangannya memeluk tubuh Rei dengan erat seakan takut Rei akan pergi kapan saja, dan meletakkan wajahnya tepat menempel di tengkuk Rei, menghirup aroma tubuh Rei bercampur dengan aroma sabun dan shampo yang sama seperti yang ia gunakan merupakan salah satu kegiatan favorit Kazuki.
Bulan ini adalah bulan Desember dimana orang-orang sedang menikmati libur Natal mereka. Hal ini menyebabkan restoran tempat Kazuki bekerja lebih ramai dua kali lipat daripada biasanya sehingga Kazuki harus bekerja lebih keras, tidak heran jika ia pulang dalam kondisi kelelahan hingga tidur mendengkur. Kazuki biasanya tidur dengan tenang, ia hanya mendengkur saat tubuhnya kelelahan saja.
Rei sudah beberapa kali mencoba mendorong Kazuki supaya menjauh dari dirinya, paling tidak agar Kazuki tidak mendengkur tepat di telinganya dan ia bisa kembali tidur. Rei pun juga lelah, ia harus beberapa kali begadang demi mengejar target dan tenggat waktu yang diberikan kliennya, menatap layar selama berjam-jam, menahan motion sickness yang diberikan oleh game yang ia mainkan, mengerjakan pekerjaan rumah, serta mengasuh Miri selama Kazuki belum pulang.
Rei juga butuh istirahat. Sayangnya usaha Rei menggeser Kazuki dari dirinya juga sia-sia. Saat ia akhirnya bisa kembali tidur, tak lama Kazuki akan kembali menempel pada dirinya dan kembali mendengkur keras di telinganya. Sejujurnya Rei tidak menyangka jika Kazuki adalah orang yang se-clingy itu hingga tidak mau melepaskan Rei dalam tidurnya.
Rei merasa sangat terganggu, karena dengkuran keras Kazuki menyebabkan ia tidak bisa tidur sampai pagi atau tidurnya tidak nyenyak sehingga pada esok harinya ia bangun dengan keadaan lemas, mengantuk, kelelahan, bahkan kantung matanya muncul kembali padahal semenjak ia pensiun dari pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran ia sudah dapat tidur dengan nyenyak hingga kantung matanya memudar.
Kazuki menyadari perubahan kondisi Rei, ia beberapa kali bertanya pada Rei apa yang menyebabkan kondisinya bisa seperti itu. Rei yang ditanya hanya menjawab kalau ia merasa kelelahan karena pekerjaannya. Ia tidak tega jika harus mengatakan yang sejujurnya bahwa yang menyebabkannya seperti ini adalah Kazuki sendiri. Kazuki sudah bekerja sangat keras demi keluarga mereka dan merawat mereka dengan sangat baik. Walaupun Rei juga bekerja, akan tetapi penghasilannya tidak sebanyak Kazuki untuk menunjang kebutuhan mereka. Ia tidak mau membuat Kazuki merasa bersalah.
Keesokan malamnya, Miri meminta untuk tidur bersama dengan Rei dan Kazuki. Mereka dengan senang hati mengiyakan keinginan putri kecil mereka itu. Miri berbaring di antara mereka berdua, raut wajahnya sudah terlihat mengantuk akan tetapi secercah antusiasme masih terpancar di matanya saat mendengar dongeng tentang seekor singa dan tikus yang dibawakan oleh Kazuki. Di sisi kanan kasur, Kazuki duduk bersandar pada headboard sedang membacakan dongeng pengantar tidur untuk Miri, suaranya ia buat-buat menyesuaikan karakter yang sedang berbicara. Rei di sisi kiri, berbaring menghadap Miri, tangan kirinya ia jadikan bantal, dan tangan kanannya menepuk-nepuk dada Miri berusaha menidurkannya.
Saat Kazuki selesai membaca, terlihat Miri sudah hampir terlelap menuju dunia mimpi. Ia taruh buku cerita ke atas nakas lalu mencium pipi Miri. “Selamat malam, Miri,” ucap Kazuki. Rei memperhatikan Kazuki lalu menirunya, Kazuki yang melihat hal tersebut tersenyum hangat, ia senang melihat Rei berusaha menjadi sosok ayah bagi Miri, ia tahu mereka berdua sama-sama berusaha keras menjadi orang tua yang baik bagi Miri, supaya tidak seperti orang tua mereka.
Mereka bertiga terlelap di bawah selimut yang sama, Kazuki dan Rei menghadap satu sama lain, salah satu tangan mereka sama-sama terjulur memeluk Miri. Sejujurnya Rei merasa sangat bersyukur Miri meminta tidur bersama mereka, karena dengan adanya Miri di antara mereka, Kazuki tidak akan mendengkur tepat di telinganya lagi, ia sudah membayangkan senyenyak apa tidurnya malam ini.
Sayangnya, tidak sesuai dengan ekspektasinya, Rei kembali terbangun dari tidurnya karena mendengar dengkuran keras di sebelahnya. Rei yang matanya masih terpejam membatin, bukannya Kazuki ada di sisi kanan kasur? Mengapa ia mendengar suara dengkuran keras tepat di hadapannya? Dan mengapa kali ini suara dengkuran terdengar lebih banyak, seperti tidak berasal dari satu orang saja.
Rei akhirnya memutuskan untuk membuka mata, bangun dari posisinya menjadi duduk sembari mengucek matanya berusaha melihat dengan jelas. Di hadapannya, ketemulah tersangka yang membuat Rei terbangun dari tidurnya, Kazuki dan Putrinya, mereka sama-sama mendengkur keras hingga suaranya memenuhi kamar.
Rei lelah, ia benar-benar mengantuk, akhirnya ia berusaha tidur kembali, selimut ia tarik hingga menutup kepalanya, dan telinganya ia tutup dengan tangan, berharap hal itu dapat membantu menahan suara dengkuran yang masuk ke pendengarannya. Sayangnya hal tersebut tidak membantu, dengkuran mereka terlalu keras hingga menembus ke gendang telinganya.
Muak, Rei kembali bangun dan memutuskan untuk keluar dari kamar. Sebelum ia menutup pintu, ia berbalik badan, menatap putri tersayang dan pria yang ia cintai sedang tidur dengan nyenyak, seutas senyum terukir di wajah Rei. “Ayah-anak sama saja,” ucapnya sembari menggelengkan kepala, kemudian ia menutup pintu kamar sepelan mungkin supaya mereka tidak terbangun.
Rei menuju sofa di depan televisi dan berbaring di sana. Menggunakan bantal sofa sebagai alas kepala dan tidur meringkuk, posisi tidur favorit Rei sejak ia kecil. Di sini terasa lebih baik, lebih lega tanpa ada seseorang yang menempel padanya. Bukannya ia tidak suka saat Kazuki dan Miri tidur bersamanya, akan tetapi kasur tempat ia tidur tidak seluas itu untuk dipakai tiga orang, dan Rei sudah cukup kelelahan karena kurang tidur beberapa hari ini, ia hanya ingin tidur tanpa gangguan. Suara dengkuran Kazuki dan Miri masih terdengar dari arah kamar, hanya saja lebih samar, hal itu tidak mengganggu Rei yang ada di ruang keluarga. Rei memutuskan untuk memejamkan mata dan akhirnya terlelap.
Cukup lama Rei tidur nyenyak hingga bermimpi. Dalam mimpinya, ia sedang berbaring dengan seekor kucing berwarna hitam putih sedang mengelilinginya. Kucing itu menggosokkan tubuhnya ke tubuh Rei, mencari perhatiannya. Gemas, Rei menjulurkan tangannya pada kucing tersebut dan mengelusnya, kucing itu terlihat senang, kemudian ia naik ke atas tubuh Rei dan memposisikan tubuhnya seperti roti. Rei mengelus-elus kepala kucing tersebut hingga terdengar suara dengkuran darinya. Namun, lama-kelamaan suara dengkuran itu semakin keras, saking kerasnya Rei sampai ingin menutup telinganya.
Rei membuka mata terkejut, napasnya sedikit tersengal-sengal, ia terbangun dari mimpinya. Ia melihat ke depan, di atas tubuhnya, yang semula adalah seekor kucing, sekarang berubah menjadi seonggok kepala berambut pirang. Sejak kapan Kazuki menyusulnya ke sofa? Ia tidur terlalu nyenyak hingga tidak merasakan adanya pergerakan yang mendekati dirinya.
Kazuki tidur tengkurap menggunakan dada Rei sebagai bantal, tangannya berusaha memeluk tubuh Rei, dan dari mulutnya terdengar LAGI suara dengkuran keras yang memekakkan telinga Rei. Rei akhirnya berpasrah, dipeluknya tubuh Kazuki sembari mengelus-elus punggungnya. Rei tidak bisa bergerak, sebenarnya bisa, hanya saja Kazuki pasti akan ikut terbangun, Rei tidak tega.
Rei menatap kosong ruang keluarga yang cukup remang, hanya cahaya yang berasal dari lampu koridor yang sedikit menyinari ruangan tersebut. Pandangannya beralih pada televisi di dekatnya, hanya layar hitam yang ia lihat, kemudian matanya tertuju pada sebuah pigura terletak di sebelah kiri televisi. Di dalam pigura tersebut terpajang foto mereka bertiga saat hari pesta olahraga yang diadakan oleh TK Miri setahun yang lalu, terpampang wajah mereka bertiga tersenyum dengan Miri di tengah mengenakan medali emas.
Rei merenungkan kembali apa saja yang telah ia lalui hingga ia dapat menikmati hari-hari indah bersama keluarga kecilnya. Tiga orang tanpa ikatan darah yang dipertemukan oleh takdir dan bersatu menjadi sebuah keluarga, ikatan yang dapat menariknya dari kehidupan kelam sebagai pembunuh bayaran, ikatan yang menariknya dari kekangan ayahnya yang membesarkannya sebagai sebuah senjata, ikatan yang membuatnya berani melawan ayahnya dan melepaskan diri dari aturan keluarga Suwa. Seribu ucapan terima kasih pada Kazuki dan Miri pun sepertinya tidak cukup mengingat besarnya pengaruh mereka dalam hidup Rei.
Tidak terasa pagi pun tiba, suara kokok ayam jantan menyapa telinga Rei, dan dari sela-sela tirai jendela terlihat langit yang berwarna ungu, pertanda sang mentari hendak memancarkan sinarnya untuk mengingatkan para makhluk hidup bahwa hari yang baru telah dimulai. Entah mengapa dengkuran keras Kazuki berhenti, berganti dengan suara dengkuran halus yang menenangkan. Mata Rei pun lama-kelamaan semakin berat, ia akhirnya memejamkan mata dan terlelap.
.
.
.
Kazuki sedang berkutat dengan peralatan memasaknya di dapur. Di atas kompor terlihat sepotong roti sedang dipanggang di atas teflon. Menu sarapan hari ini adalah french toast, menu favorit keluarganya. Terdengar suara pintu kamar dibuka, terlihat Miri sedang mengusap-usap matanya, jelas bahwa putri kecilnya ini masih mengantuk.
“Selamat pagi, Miri.”
“Selamat pagi, Papa Kazuki...” Miri berjalan menghampiri Kazuki.
“Miri mau bantu papa menghias french toast?” tawar Kazuki.
“FRENCH TOAST?! Mau! Miri mau bantu!” balas Miri dengan semangat. Rasa kantuknya menghilang begitu ia mendengar kata french toast.
“Kalau begitu cuci muka dan cuci tangan dulu, ya?”
Miri mengangguk antusias, kemudian berlari menuju kamar mandi untuk melakukan apa yang diperintahkan papanya. Kazuki yang melihatnya hanya tersenyum sambil menggeleng, sungguh anak yang penuh energi.
Setelah semua french toast matang, Kazuki memisahkan semua french toast ke atas tiga piring dan memindahkannya ke meja makan, ia taruh ketiganya di depan sebuah kursi, kemudian ia menyiapkan sekaleng whip cream, sebotol kecil sirup, dan semangkuk kecil berisi potongan buah stroberi di depan ketiga piring tersebut supaya Miri mudah menggapainya.
Miri kembali dari kamar mandi, diangkatnya kedua tangannya untuk memperlihatkan ke Kazuki bahwa ia sudah mencuci tangan. Kazuki mengacungkan jempol sebagai tanggapan, lalu mengarahkan Miri ke meja makan dimana semua bahan-bahan sudah disiapkan. Miri segera naik ke atas kursi dan sibuk menghias french toast masing-masing untuk dirinya dan kedua papanya.
Kazuki melepas apron dan menggantungkannya di tempatnya. Melihat ke arah sofa, terlihat Rei yang masih tertidur nyenyak. Kazuki berjalan mendekati Rei hendak membangunkannya untuk sarapan.
“Rei, Rei, bangun. Ayo sarapan.” Kazuki mencoba mengguncangkan tubuh Rei. Bukannya bangun, Rei malah membalikkan badannya memunggungi Kazuki. Mengernyit melihat respon Rei, Kazuki tidak menyerah, ia sekali lagi mengguncang-guncangkan tubuh Rei hingga yang dibangunkan akhirnya menjawab dengan gumaman kesal.
“Bangun Rei, french toastnya tidak akan enak kalau dimakan nanti. Miri juga sudah membantu menyiapkan sarapan.”
Mendengar Kazuki menyebut Miri, mata Rei langsung terbuka, ia memaksakan dirinya untuk bangun, tidak mau mengecewakan putrinya yang sudah repot menyiapkan sarapan. Rei mengubah posisinya menjadi duduk, kantung matanya semakin jelas, pandangannya kosong berusaha mengumpulkan nyawa. Sungguh, Rei masih membutuhkan waktu untuk tidur, seharian jika boleh, untuk mengganti 4 malamnya yang terganggu.
Selesai mengumpulkan nyawa, Rei memutuskan untuk berdiri, badannya sedikit oleng kehilangan keseimbangan hingga ia akhirnya berpegangan pada punggung sofa sebagai penahan tubuh. Kazuki yang tadinya sudah kembali ke meja makan, melihat kondisi Rei yang semakin buruk ia jelas khawatir, ia langsung menghampiri Rei.
“Rei, kau tidak apa-apa? Apa kau sakit?” tanya Kazuki sambil meletakkan punggung tangannya ke dahi Rei, mengecek apakah kekasihnya ini demam. Rei hanya menggeleng dan menjawab, “Hanya kurang tidur.” Kazuki menghela napas, lalu menyilangkan kedua tangan ke depan dadanya.
“Ck ck ck. Kurang-kurangi tidur larut malam, lihat kantung matamu sudah setebal itu.”
Mendengar ucapan Kazuki, Rei benar benar kesal, asal Kazuki tahu bahwa ia lah yang menyebabkan Rei kurang tidur. Rei meraih bantal sofa di sampingnya, bantal yang semalam ia gunakan untuk tidur, dan melemparnya ke wajah Kazuki.
Kazuki yang terkejut segera menangkap bantal yang jatuh dari wajahnya. “REIII?????” Ia benar-benar bingung mengapa Rei semarah itu padanya. Seakan tidak peduli, Rei segera berjalan menghampiri Miri yang sedang tertawa melihat wajah kebingungan Kazuki setelah dilempar bantal oleh Rei. Setelah menarik kursi dan duduk di sebelah Miri, Rei dengan tatapan tajamnya memperingatkan Kazuki, “Kazuki, kalau kau melihatku tidur di sofa, tolong jangan ikut dan tetaplah di kamar jika kau ingin kondisiku membaik.”
Kazuki yang masih kebingungan pun hendak melayangkan protes.
“T-tapi—”
“Tidak ada tapi-tapi,” potong Rei.
Kazuki pun hanya menerima kekalahan, jika memang membiarkan Rei tidur di sofa akan membuat kondisinya membaik ia tidak akan mendebat, walaupun hal tersebut berarti Kazuki akan bangun sendirian tanpa Rei di pelukannya.
“Papa Kazuki, sudah selesai!” ucap Miri setelah meletakkan sepotong stroberi di atas whipping cream pada french toast yang terakhir. Kazuki kemudian ikut bergabung bersama Miri dan Rei di meja makan, duduk di hadapan Miri, seperti posisi duduk mereka biasanya. Mereka pun menyantap sarapan mereka sambil diselingi perbincangan ringan hingga akhirnya waktu menunjukkan jam dimana Kazuki dan Miri harus bersiap-siap untuk berangkat ke tempat kerja dan ke TK.
Kazuki hendak berangkat ke tempat kerja bersama dengan Miri, ia akan mengantar Miri ke TK terlebih dahulu sebelum menuju restoran. Rei mengantar mereka hingga ke ambang pintu, memperhatikan mereka sambil mengingatkan kembali barang-barang yang mungkin belum mereka bawa seperti kotak bekal dan sapu tangan. Setelah memastikan semua siap, Kazuki dan Miri berpamitan sambil melambaikan tangan, Rei pun membalas lambaian tangan mereka. Setelah melihat Kazuki dan Miri sudah masuk ke dalam mobil, Rei menutup pintu dan masuk ke dalam rumah.
“Sepertinya aku bisa tidur sebentar...”
