Work Text:
“Kak Edward, is there an elf on that shelf?”
Seanㅡatau yang sekarang sedang menjadi Greta itu menunjuk pada sebuah rak di pojok kamar dengan wajah perlihatkan ekspresi setengah datar dan kantuk yang samar.
“There’s no elf on that shelf. Kenapa Greta tanya begitu?”
Greta dekatkan diri pada Edward dan pelukannya mengerat.
“Greta takut nanti ditulis nakalnya banyak dan gak dikasih hadiah buat natal.”
“Elf nya cuma ada pas natal aja, sekarang kan lagi gak natal. Greta juga gak pernah nakal kok, Greta anak baik, Greta pinter, Greta manis. Greta mau liat salju lagi?”
“Salju itu bakal ada kurcaci di rak buku, Kak Edward!” Jawab Sean dengan nada sebal.
Seketika ingatan Edward melayang kembali saat mereka umur tujuh dan delapan di mana keduanya dan keluarga lengkap berliburan ke negera empat musim, kala itu sedang natal dan turun salju.
Edward dan Sean satu kamar dengan tersedia dua kasur berbeda tetapi tetap tidur di ranjang yang sama karena Sean ketakutan akan datangnya Kurcaci yang selalu diceritakan tiba pada saat malam hari natal untuk mengawasi keduanya. Mama bilang kalau Kurcaci itu datang untuk melihat mereka sepanjang malam, tidak boleh ada yang nakal karena jika begitu, nanti kurcaci akan melaporkan pengawasan pada Santa lalu Edward dan Sean tak akan mendapat hadiah natal.
Baru menyadarinya setelah ia baca bahwa Elf on the Shelf itu hanya budaya atau akal-akalan dewasa agar anak mereka mendisiplinkan diri dari kecil membuat Edward tersenyum miring terasa dikelabui dan itu sangat membekas di hati.
“Salju emang ada kurcaci, tapi mereka baik kok. Mereka jaga tidur kita. Greta pasti dapat hadiah natal nanti dari Santa karna Greta anak baik, suka nurut."
“Greta mau lihat salju.”
Iya, Greta. Edward harap juga begitu. Melihat senyum mengembang dengan pipi semu merah karna kedinginan dan mata membentuk sabit itu sangat dirindukan oleh Edward setiap saat.
“Nanti kita liat salju, ya."
"Huum! Mau lihat salju main salju bikin manusia salju sama Kak Edward." Balas Sean tanpa jeda.
Edward tersenyum sebelum akhirnya menyisir rambut Sean ke belakang memakai jari karena dirasa sudah mulai menghalangi.
"Sekarang Greta mau sarapan apa?"
Tepat sekali, mereka sebetulnya sedang terbaring di ranjang dari kemunculan cahaya pertama datang sampai siang akan menjelang. Sean enggan untuk beranjak dari kasur entah kenapa, inginnya terus berada di pelukan Edward padahal sepanjang malam pun terus begitu.
"Mau roti kapai telur!"
"Pakai, pakai telur?"
"Huum, telur roti!"
"Roti telur ya .. Mm.. Ya udah yuk? Mau ikut Kak Edward masak?"
"Mau! Mau lihat Kak Edward masak telur!"
Edward refleks memegang tangan Sean dan mengaitkan telapak keduanya, membantu beranjak dari ranjang sampai ke dapur lalu memintanya untuk duduk melihat bagaimana cara Edward memasak meskipun hanya sekedar french toast.
“Greta duduk aja di sini liat Kak Edward masak, ya.”
“Iyah! Greta lihat!”
“Pinter!”
Segera mengeluarkan bahan masakan seperti roti dan telur dari lemari dapur, sesekali mata melirik ke belakang melihat yang sedang terdiam tenang memperhatikan.
"Greta mau bantu Kak Edward masak?"
Tanpa menjawab pun Sean sudah menghampiri dengan wajah penuh senyum berseri.
Lekas mengambil spatula dan tubuhnya ia dekatkan pada tungku dua yang satunya dipakai untuk memasak telur sekarang, punggung Sean nyaman sedikit bersandar pada dada Edward yang tepat berada di belakang, mengawasi.
"Sini biar Kak Edward bantu angkat telurnya."
Tangan Edward mengambil alih tanpa melepas genggaman Sean pada spatula, telapak yang bersentuhan dengan punggung tangan lebih kecil itu bergerak meletakkan telur di atas piring yang sudah tersedia.
"Pinternya Greta masak."
Semuanya berjalan sesuai rencanaㅡtak ada drama, sampai satu suara memekikan telinga berasal dari Sean terdengar karena sang empu kesakitan tangannya terkena wajan anti lengket yang masih panas.
Tentu saja nampak bekas kemerahan muncul di antara telapak dan jarinya. Berusaha tak panik meski wajah sudah setengah mati tahan tangis dengan air bening berkumpul di ujung mata yang satu kedip saja sudah akan jatuh bulirnya, Edward segera mengambil telapak yang luka itu dan meniup pelan.
Netra tatap Sean seolah memberitahunya untuk tenang.
"Maafin Kak Edward, ya." Ibu jari Edward usap Sean saat bulir bening jatuh di pipi nya.
Dibalas anggukan kepala dan senyum yang terlihat masih manis meski sedang menahan perih, meringis.
Edward ingat sekali kata Mama, jika berhadapan dengan seorang anak kecil itu tidak boleh panik. Justru tangisan anak kecil muncul karena adanya kepanikan yang diperlihatkan si dewasa saat melihat anak kecilnya sedang tidak baik-baik saja.
Kebetulan yang dihadapinya ini adalah Sean Kecil alias Greta yang sedikit sentil saja sudah kena emosionalnya. Bisa saja Greta ini menangis berteriak karena kesakitan, tapi karna Edward menghadapinya dengan tenang, maka Sean jadi ikut seperti itu.
Edward Kecil harusnya belajar mendengarkan Mama dari dulu.
“Nancy bilang kalo ada yang luka harus dicium biar cepat sembuh ..” ucap Sean sedikit tergagap.
“Nancy bilang begitu?”
Anggukan kepala muncul lagi dari Sean, bibirnya ia gigit sedikit masih terlihat menahan sakit.
"Iyaa .. Nancy bilang begitu."
Mata tak alihkan pada Sean yang sedang menatap ke arah tangan. Alih-alih menunduk, Edward bawa telapak itu dan mensejajarkan dengan wajahnya lalu mengecup permukaan yang dirasa Sean perih.
Wangi berbedak langsung menyeruak saat Edward cium telapak tangan Sean, tak pernah lagi cium wangi ini semenjak mereka menginjak sekolah pertama. Sean selalu menghindarinya. Dan kali ini dia cium lagi wangi alami keluar dari tubuh Sean yang selalu ia rindukan.
“Sudah Kak Edward cium, liat tangan Greta udah sembuh lagi.”
Puncak kepalanya, Edward elus sekejap sampai timbulkan senyum yang makin mengembang.
“Makan dulu yuk? Mau di luar aja?”
“Iya! Mau makan di luar aja!”
Ada sedikit perasaan kecewa tersimpan saat menyadari bahwa semasa kecil kebanyakan hal yang diingat oleh Sean adalah tentang apa yang diajarkan oleh Nancyㅡperawat tua di rumahnya.
Saat Sean mengalami little space syndrome ini tak pernah Edward mendengar kata Mama atau Papa di mulut kecilnya. Yang diingat hanya Nancy, dan kalau bisa dibilang percaya diri, Sean malah sering memanggil Hanselㅡyaitu Edward sendiri.
Selama merawat dan seingat Edward, Nancy itu tak pernah melarang apapun yang akan dilakukan keduanya. Beliau biarkan Edward dan Sean melakukan apa yang disukai di umur di mana mereka senang mengeksplorasi.
Nancy juga tak pernah meninggikan suara jika Edward melakukan kesalahan, justru memberitahu bahwa Edward harus besar hati mengakui lalu meminta maaf atas apa yang telah dilakukan.
“Kenapa kok udahan makan nya? Masih banyak roti nya itu, Greta. Mau Kak Edward suapin?”
Sean bergumam.
“Iyah, mau disuapin Kak Edward.”
Edward menyendokkan potongan roti dan telur lalu menggerakkan suapan tersebut layaknya mainan pesawat sedang terbang akan mendarat.
Tentu saja Sean menerima dengan lahap.
Kegiatan mereka selalu diawali dengan hal-hal kecil menyenangkan, selipkan candaan dan pujian lalu diakhiri dengan Edward yang membawa Sean ke dalam dekapan. Edward juga sering mengajak hal yang tak pernah dilakukan oleh Sean bersamanya dulu.
Setelah makan, malah Edward mengajak Sean untuk mencuci pakaian meskipun Sean awalnya mengira akan bermain air saja. Ujungnya, Edward ikut juga bermain busa.
Namun sepertinya kali ini juga tidak mulus berjalan sesuai rencana karna satu teriakan kembali muncul bersamaan dengan pecahan gelas dari kamar mandi saat Edward tengah mengeringkan pakaian. Hampiri Sean saat keadaan panik setengah mati dan dapati pria kecil itu setengah telanjang dengan mata tertutup rapat wajah dipenuhi buih putih, perih.
Suara pecahan kaca berasal dari tempat penyimpanan sabun penginapan yang tak sengaja tersenggol saat Sean panik matanya tertutup.
Tanpa pikir panjang dan hal yang pertama dilakukan adalah Edward cari kertas entah dari mana yang penting bisa untuk membungkus dan membuang pecahan gelas itu agar Sean tak terkena serpihannya.
Tahu apa yang terjadi selanjutnya? Tentu saja Sean harus mandi membersihkan diri karena sudah terlanjur bermain air sedari tadi, sedang mata tak bisa terbuka sepenuhnya akibat busa yang masuk terlalu dalam hingga mata menjadi sangat perih, sakit sampai bengkak sedikit.
Dibantu oleh Edward, segalanya. Jangan ditanya Edward lakukannya bagaimana. Dari mulai membantu mandi sampai sekarang memakai baju lagi meskipun hanya sekedar sleeveless dan celana santai.
Buat Edward cukup berkeringat.
Pastikan bahwa tidak ada lagi hal yang perlu dikerjakan setelah sibuk melakukan aktivitas seharian, keduanya kini sedang terduduk di sofa ruang tengah. Posisinya, kaki Edward terlentang menghadap ke utara dengan tubuh bagian atas menopang pada bahu sofa, sementara Sean tepat berada di samping dengan menghadap ke selatan dan menempelkan sepenuhnya tubuh bagian atas pada dada dan tangannya pun ia kalungkan pada bahu lebar Edward.
Semenjak mata perih terkena busa, Sean tak bisa berhenti menangis. Perasaan stress muncul meski Edward sudah coba untuk tak mengindahkan. Wajar saja, yang namanya remaja usia tujuh belas harus merawat anak kecil sepanjang hari merengek itu cukup membuatnya frustasi.
Edward biarkan Sean menangis di pelukan sampai suara kecil mencicit datang terdengar.
“Greta nakal, maafin Greta, Kak Edward.”
Tangan yang semula mengusap punggung Sean itu, kini terangkat mengusap kepala. “Greta gak nakal, sayang."
Bibir secara tak sadar mengecup puncak kepala Sean.
"Greta gak mawu main busa lagi."
"Iya, jangan main itu lagi. Nanti mata Greta tambah sakit, mana sini coba Kak Edward liat?"
Dari kepala yang tadinya tertempel di dada, kini menengadah ke arah muka Edward. Jaraknya hanya seukur buku jari saja, tatap mata kemerahan itu sambil tak sadar telan ludah. Tangkup wajah yang tenggelam di genggaman dan membuka kelopak matanya dengan lembut memakai jari lalu meniup sepelan mungkin.
Sean langsung memejamkan mata saat rasakan angin berasal dari tiupan Edward tepat pada matanya, tubuh kecil itu kembali ambruk ke pelukan Edward dan kini lebih erat sampai detak jantung Edward terasa sangat kencang dari sebelumnya.
Mata pandangi sekitar penginapan makin terasa asing jika dihabiskan bersama Sean yang tiba-tiba berubah menjadi anak kecil. Meski Edward tak benci keadaan, tapi tak bisa dipungkiri, Edward merasa sedikit tertekan jika terus seperti begini.
Ia ingin liburannya dihabiskan dengan Sean seperti keadan biasa.
Menghitung hari dari sejak kapan Sean berubah membuat Edward tercengang dapati tanggal di kalender dinding berlalu begitu cepat padahal ia kira baru empat hari dihabiskan untuk liburan ini.
“Kok udah tanggal 16? Harusnya tanggal 13 kan?”
Sean tatap Edward tak percaya.
“Greta beneran dianggap mimpi?”
Yang ditanya langsung kembalikan ingatan di mana saat Greta tak sengaja memecahkan gelas kaca dan Edward membungkus pecahannya dengan merobek beberapa lembar tanggal di kalender dinding.
Memegang kepala yang terasa sakit berdenyut karena pertanyaan yang dilemparkan oleh Sean.
“Maksudnya apa?! Greta beneran ada? Se, gue inget waktu itu pernah robek kertas kalender buat bungkus pecahan kaca.”
Alis Sean langsung mengernyit tajam.
“Hah?! Kok bisa?! Waktu di mimpi ada kejadian apa sampe ada pecahan kaca? Lu berantem sama Greta sambil mecahin gelas, ya, Ed?”
Edward tutup kedua telinga dengan tangan.
“Maksud lu tadi apa bilang Greta beneran dianggap mimpi? Ini sebenernya tanggal berapa sih?!”
Niat hati ingin mengelabui malah Edward menjadi betulan panik begini, Sean langsung memegang tangan Edward menenangkan.
“Tadi gue bercanda, Ed. Greta beneran mimpi, tanggal di kalender udah gue robek sesuai sama tanggal kita check out di penginapan ini nanti.”
“Buat apa kayak gitu?”
“Biar gak lupa. Jadi tiap kali gue liat kalender, tau harus beres-beres kapan buat pulang.”
"Bohong!"
"Gue bohong buat apa, Ed? Serius, liat aja hp gue sama hp lu sekarang masih tanggal 13 kok."
Edward melihat layar ponsel yang ditunjukkan oleh Sean dan mengecek tanggal di ponselnya sendiri ternyata memang benar masih tanggal 13. Jujur selama berlibur, Edward sangat jarang main ponsel malah hampir tidak pernah karena waktu benar-benar dihabiskan bersama Sean.
Memainkannya hanya saat ia akan mengambil foto dengan Sean atau apapun yang sekiranya diperlukan. Malam langsung tidur, pagi langsung sarapan, siang habiskan waktu dengan Sean.
Edward dengan kepanikannya yang masih tersimpan itu segera membawa Sean ke dalam pelukan, menaruh sepenuhnya kepala di bahu yang lebih kecil darinya.
"Gue keterlaluan ya bercandanya, Ed? Maafin lu sampe panik gini."
Tak cuma dada Edward yang dirasakan Sean berdebar kencang namun juga tubuhnya sedikit bergetar. Tangan Sean terangkat untuk mengusap punggung Edward, menenangkan.
"Ed?"
"Kenapa nangis?"
"Kak Edward?"
Rasanya seperti dipukul oleh benda tumpul tepat di kepala karena sekarang Sean benar-benar pusing mendapati Edward yang tiba-tiba menangis di pelukannya.
Tak kunjung melepas dekapan malah terus mengeratkan sampai Sean dirasa sudah kehabisan nafas.
"Kak Edward? Maafin Sean ..."
Ada satu rasa yang muncul membuat mereka malah makin tak ingin saling melepaskan.
Biarkan posisi ini selama beberapa menit dan pelukannya mengendur dengan tangan yang masih saling berkaitan, Edward tatap mata Sean dan segera mengecup bibir memerah itu singkat.
"Kenapa sampe nangis?" Tanya Sean lagi, kali ini lebih lembut.
Edward ungkap segala perasaan yang ia rasakan, dari mulai senang karena bisa lagi melihat Sean Kecil meskipun hanya mimpi sampai keadaannya dengan Sean Besar yang sudah amat baik seperti sekarang.
Dia tak bisa membayangkan jika ia tak mengalami mimpi itu, mungkin saja hari ini mereka masih menjalankan Summer Camp dengan keadaan masih sedang tidak baik-baik saja.
Justru mimpi itu yang membawa Edward dan Sean saling mengerti perasaan sampai mengungkapkan rasa yang selama ini tertahan.
Sean usap pipi Edward tak biarkan satu tetes lagi bulir bening jatuh di pipinya lalu tangan beralih pada dada Edward.
"Makasih Kak, udah terus jagain aku di semesta manapun. Aku gak tau juga kalo hidup tanpa Kak Edward, mungkin aku gak akan kuat sendirian."
Keduanya saling jatuh pada tatap masing-masing, senyum seketika saling sapa bersambutan.
Takdir seperti ini telah menemukan jalannya sendiri.
Dari pelukan, kecupan, dan ungkapan perasaan yang dilakukan saat siang menjelang itu membuat keduanya lupa harus ada kegiatan yang dijalankan. Edward mengulang kembali apa yang dilakukan dengan Greta di mimpi dengan Sean tanpa sadar.
Dari mulai membuat sarapan roti telur, mencuci pakaian bersama, dan ya, bisa ditebak juga, mereka kini sedang berada di luxury bathtub berdua.
Keheningan menyelimuti saat keduanya saling berhadapan, badan atas penuh telanjang namun bagian bawah masih mengenakan pakaian.
Rambut basah saling dibiarkan tertata ke belakang, dua-duanya tadi melakukan keramas bersama. Kaki Sean terlentang lurus di atas kaki Edward.
"Mau dibantu gosok punggung gak?"
Sean mengangguk sebagai jawaban atas penawaran yang Edward berikan.
Dengan cepat ia berdiri sambil mata tak lepas dari Edward yang juga sedang tatap netranya. Berbalik lalu duduk kembali memunggungi Edward.
Pelan Edward usapkan sponsshower di punggung Sean yang sudah di beri sabun cair di atasnya, sampai saat Edward menggosok ke bagian bahu kanan Sean, lelaki itu agak terkesiap.
"Kenapa? Ada yang sakit?"
Sean bergumam sebagai jawaban.
"Yang waktu kecil itu?"
"Iya."
"Udah lama loh? Kenapa gak diperiksa aja sih?"
"Gak mau."
Edward hela nafas, Sean itu keras kepala. Jika tidak suka sesuatu, maka jangan harap Sean akan melakukannya meski dalam keadaan terpaksa. Dia akan tetap pada pendiriannya.
Lalu dengan pikiran intrusif nya, Edward dekatkan diri pada Sean. Memegang kedua lengan bagian atas Sean dengan lembut dan entah apa yang telah merasuk pada dirinya, kali ini ia mencium pelan pundak yang dirasa Sean sakit.
"Kata Nancy harus dicium, Kak Edward! Biar cepat sembuh."
Bibir Edward yang menempel pada pundaknya itu justru membuat Sean sedikit terkejut, namun ia tak menghindar. Biarkan Edward melakukan apa yang diinginkan.
Wajah keduanya memanas padahal mereka air sudah berubah dingin.
Sadar bahwa perlakuannya ini akan menjadi cibiran di kemudian hari oleh Sean, dengan pelan Edward jauhi badannya dan beranjak dari bathtub mewah itu tinggalkan Sean sendirian.
"Jangan kelamaan berendam, nanti tambah sakit."
Habiskan sore bersama setelah seharian melakukan kegiatan baru yang belum pernah mereka lakukan bersama sebelumnya.
Seperti membereskan seluruh pondok, contohnya.
Karena demi apapun, tinggal di sini sudah empat hari dan selama itu pula mereka tak pernah membereskan apa yang sudah mereka lakukan di penginapan termasuk mencuci baju yang sudah menumpuk.
Kali ini Sean terlihat tengah bersantai di sofa dan sangat sibuk dengan ponselnya, sementara Edward yang duduk di samping merasa bosan karena memainkan ponsel milik sendiri pun tak temukan serunya.
Kepala yang sedari tadi bertengger nyaman di pundak Sean itu kini mendekat pada layar ponsel yang dimainkan oleh Sean.
"Lagi liatin apa sih? Dari tadi keliatan sibuk terus."
Sean langsung terduduk tegap sambil tatap Edward penuh semangat.
Tunggu, kejadian ini seperti telah dilakukan. Ah, iya. Ini seperti Greta yang sering menatap Edward antusias.
"Kak, aku abis liat-liat hotel di Jepang. Nanti libur desember kita ke sana? Berdua aja! Aku udah pesen Hotel nya dari sekarang karena cuma beberapa bulan lagi menuju desember ... " Ucap Sean sambil tunjukkan layar ponsel yang tertera nama penginapan. " ... Kali ini, Hotel di aku. Aku ngerasa gak cukup kalo cuma traktir Kak Edward makan aja."
Aduh, rasanya pusing. Ini bukan Sean, ini Greta. Suara lembutnya, raut wajah manisnya, cerewetnya. Tidak!
"Harus jadi! Gak sabar ngabisin waktu berdua lagi!"
Sean, tolong berhenti.
"Mau ya, Kak Edward?"
Bahkan binar mata nyaris seperti Greta saat ini.
"Sean mau liat salju."
Mati.
Tuhan, kenapa rasanya Edward sedang dipermainkan begini?
