Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-03-05
Completed:
2026-03-07
Words:
6,960
Chapters:
2/2
Comments:
23
Kudos:
53
Bookmarks:
3
Hits:
747

the stars aligned (i thought we were too)

Summary:

"I like you, Nyul. I like you a lot."

Chapter 1: the stars aligned

Chapter Text

Langkahnya yang terburu-buru berhenti saat lampu pejalan kaki masih menunjukkan warna merah. Laki-laki itu mengecek jam di pergelangan tangannya berulang kali yang menunjukkan seberapa telatnya dia untuk menghadiri upacara kelulusan sekolah. Mulutnya tidak henti bergumam agar lampu pejalan kaki segera berganti berwarna hijau—Ohyul harus segera sampai ke sekolah.

“Anjir lah.”

Terdengar gerutuan dari seseorang di sebelahnya.

Ohyul melirik sebentar dan melihat laki-laki yang mengenakan seragam yang sama dengannya. Tetapi seragam itu terlihat jauh lebih berantakan darinya. Seragamnya tidak dikancing dengan sempurna, bajunya dikeluarkan begitu saja dari celana dan rambutnya juga terlihat sangat acak-acakan.

Pasti kelas satu nih, batinnya.

Saat melihat laki-laki di sebelahnya berlari mendahuluinya, Ohyul melotot terkejut sebab lampu pejalan kaki masih berwarna merah. Terdengar bunyi klakson dari kendaraan yang berada di sana.

Eh gila kali.

Dan tanpa merasa ragu, Ohyul mengekori laki-laki itu dan berlari menyebrangi jalan dengan lampu pejalan kaki masih berwarna merah. Masa bodoh dengan klakson yang berbunyi, Ohyul harus segera sampai ke sekolah sekarang juga.

Gerbang sekolah masih terbuka dengan lebar, mungkin karena tidak ada kegiatan belajar hari ini sebab kelas tiga sedang mengadakan upacara kelulusan. Ohyul memasuki sekolah dan segera berlari menuju lapangan. Upacara sudah dimulai, dia harus melipir dan bersembunyi untuk bisa memasuki barisan paling belakang—setidaknya dia masih bisa mengikuti upacara kelulusan di tengah acara.

Pandangan Ohyul kembali terfokus kepada laki-laki yang tadi berdiri di sebelahnya di seberang jalan, kini juga berdiri di barisan lain paling belakang—berada di sebelahnya lagi.

Ohh kelas tiga juga ternyata, tapi berantakan banget seragamnya deh ketauan lagi upacara kelulusan, Ohyul membatin lagi.

Laki-laki itu menoleh, membuat pandangan mereka beradu. Laki-laki itu menaikkan sebelah alisnya, seolah meminta penjelasan mengapa Ohyul terus memperhatikannya. Menyadari itu Ohyul segera mengalihkan pandangannya, tidak ingin mengucapkan apapun yang tidak penting apalagi dengan seseorang yang tidak akan dia temui lagi setelah kelulusan hari ini.

Gradasi antara biru dan putih terlihat sangat cantik hari ini dan memberikan warna yang sangat indah untuk menghiasi langit. Ohyul tersenyum tipis melihat langit yang tampak sangat cerah di hari kelulusannya. Hari ini mungkin akan menjadi terakhir kalinya Ohyul memakai seragam yang sudah dipakai setiap hari selama tiga tahun terakhir.

Ohyul selalu suka setiap kali harus berangkat ke sekolah. Ohyul sangat menyukai segala aktivitasnya di sekolah bersama teman-temannya. Dan Ohyul juga suka dengan salah satu teman di kelasnya.

Ohyul tidak memiliki banyak teman, Ohyul tidak pandai dalam mendekatkan diri dengan orang lain. Tetapi suatu pagi di kelas sepuluh lalu, seseorang menawarkan untuk membagi buku pelajarannya untuk dibaca bersama sebab Ohyul lupa membawa bukunya saat itu.

Buku yang dibaca bersama berubah menjadi pergi ke kantin bersama. Dan Ohyul dikenalkan kepada banyaknya teman yang dimiliki oleh teman sebangkunya. Pergi ke kantin bersama perlahan juga berubah menjadi pulang sekolah bersama. Ada banyak sekali kebersamaan yang mereka miliki selama tiga tahun menjadi teman sebangku. Ohyul belum pernah merasakan rasa suka terhadap orang lain sebelumnya, sehingga dia juga tidak menyadari apa maksud dari bentuk suka yang dia miliki kepada teman sebangkunya.

Rasa sedih karena mereka tidak akan menjadi teman sebangku lagi?

Atau rasa sedih karena mereka sudah tidak akan bertemu setiap hari lagi seperti tiga tahun ini?

Ohyul tidak memahami rasa suka yang dia miliki saat ini. Tetapi Ohyul rasa, dia menyukai segala bentuk kebersamaan mereka. Ohyul menyukai bahwa teman sebangkunya membuat Ohyul bisa menikmati masa sekolahnya dan memiliki banyak teman. Ohyul menyukai teman sebangkunya yang sering menariknya untuk ikut bergabung dan menongkrong dengan anak-anak lain sepulang sekolah.

Ohyul menyukai teman sebangkunya karena membuat masa terakhir di sekolahnya terasa jauh lebih menyenangkan dari yang dia kira.

“Yul.”

Sebuah suara menginterupsi pikirannya saat ini. Upacara kelulusan telah selesai. Anak-anak lain sudah berhambur untuk menghampiri teman mereka masing-masing dan saling berpelukan.

“Selamat lulus.”

Teman sebangkunya berjalan mendekat ke arahnya dengan senyuman manis andalannya itu. Ohyul ikut tersenyum melihatnya.

“Selamat lulus, Woo.”

Dan berdatangan lagi teman-temannya yang lain. Mengucapkan segala kalimat perpisahan dan juga mengungkit kejadian-kejadian lucu dari pertemanan mereka yang terjalin selama tiga tahun di bangku sekolah.

Kalau kelulusan sekolah seharusnya menjadi hari paling bahagia dan juga menyedihkan karena akan berpisah dengan teman-teman sekolah, mungkin hal ini tidak sepenuhnya berlaku untuk Ohyul. Sebab dia merasa sangat bahagia hari ini. Hari terakhirnya di sekolah diakhiri dengan Ohyul yang berkumpul bersama teman-temannya. Berbeda dengan hari pertama Ohyul masuk ke sekolah dan hanya berdiri sendirian di hari upacara penerimaan siswa baru tiga tahun lalu.

Ah, mungkin Ohyul harus berterima kasih kepada laki-laki yang berani menyebrang jalan saat lampu pejalan kaki masih berwarna merah tadi.

Ohyul memisahkan diri dari kerumunan teman-temannya. Dia berjalan ke posisi barisannya saat upacara tadi untuk mencari laki-laki itu. Tetapi lapangan sekolah sudah terlihat sangat tidak beraturan. Semua orang berlarian ke sana kemari dan laki-laki itu juga sudah tidak ada di sana. Dan Ohyul tidak mengenalnya untuk bertanya kepada temannya tentang laki-laki itu.

Ohyul mengedikkan bahunya tak acuh dan kembali menghampiri teman-temannya.

Intinya buat siapa pun yang tadi berani nyebrang jalan pas lampu masih merah, makasih deh.


Ryul tidak pernah menyukai acara pertemuan keluarga.

Malam ini Ryul harus berpakaian rapi dan duduk di salah satu restaurant mewah yang berada di pusat kota Jakarta. Dia hanya bersandar di kursinya dengan tangannya memainkan gelasnya yang berisi soda. Ryul sama sekali tidak minat untuk ikut masuk ke dalam obrolan dua keluarga di meja ini.

Dan ketika merasa sudah sangat muak dengan semua pembicaraan yang berada di sini, Ryul memutuskan untuk bangkit dari kursinya dan berjalan meninggalkan meja tersebut tanpa mengucapkan apa-apa.

“Mau ke mana, kak Ryul?”

“Sebat.” jawabnya tak acuh.

Kakinya membawanya ke rooftop yang berada di restaurant itu. Tidak ada orang di sini. Ryul berniat menyalakan rokoknya sebelum suara pintu yang dibanting masuk ke indra pendengarannya.

Ryul menoleh dan mendapati laki-laki dengan pakaian yang hampir sama dengannya—rapi di dalam balutan jas, berjalan dan berdiri tepat di sebelahnya dengan ekspresi yang tidak bisa dilihat dengan jelas oleh Ryul.

Laki-laki itu memejamkan matanya, merasakan angin malam yang menyentuh rambutnya dengan lembut. Membuat rambut yang semula rapi juga ikut berantakan karena dipermainkan oleh angin malam.

Ryul tidak menghiraukan laki-laki itu dan kembali mengeluarkan koreknya dari saku celana.

“Mau ngerokok?”

Suara itu datang dari laki-laki di sebelahnya. Ryul melirik dan mengangguk sekilas dengan rokok yang sudah terselip di bibirnya.

“Anginnya lagi kenceng banget.” lanjut laki-laki itu. “Kalo lu ngerokok, asep atau bahkan abu rokoknya bisa kena mata lu sendiri.”

Ryul masih memegang korek di tangannya dengan rokok yang juga masih terselip di antara bibirnya. Gerakan untuk menyalakan rokoknya itu entah mengapa tidak terlaksana terlebih setelah mendengar penuturan orang asing di sebelahnya.

Bad night?

Ryul mengalihkan topik pembicaraan dan memasukkan kembali rokok beserta koreknya ke saku celana.

Bad day.

Cahaya malam yang hanya diterangi oleh bulan mampu menyembunyikan wajah mereka dari satu sama lain. Sebab Ryul tidak bisa melihat wajah laki-laki itu dengan jelas. Tetapi melalui suaranya Ryul dapat memahami nada emosi yang tersirat di sana.

Suara laki-laki itu persis seperti suara Ryul saat dia juga sedang memendam amarahnya.

Bad night?

Laki-laki itu memberikan pertanyaan yang sama.

Bad day.

Sama seperti Ryul yang tidak bisa melihat wajah laki-laki itu dengan jelas, laki-laki di sebelahnya juga tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Sepertinya cahaya bulan malam ini tidak cukup terang untuk menerangi dua manusia yang berpakaian rapi tetapi memilih datang ke rooftop dan menjauhi keramaian.

Laki-laki itu terkekeh mendengar dan menyadari jawaban yang sama dari pertanyaan yang sama juga.

Bad day, it is.

Suara pintu yang kembali dibuka membuat Ryul dan laki-laki itu menoleh ke sumber suara. Pintu rooftop di sini merupakan pintu besi. Sudah jelas mengapa Ryul sangat terganggu setiap kali pintu itu dibuka.

Perempuan yang sangat Ryul kenali berdiri di sana.

“Kak, come on, we should go back to apartment. Aku ada test besok di matkul pagi.” ucapnya. “Aku juga udah bilang ke orang tua kamu kalo kita mau langsung ke apart. Kamu gak perlu balik ke dalem.”

Ryul berjalan menghampiri perempuan itu. Malam yang panjang ini akhirnya akan segera berakhir dan Ryul bisa kembali ke kehidupannya yang tidak perlu mengikuti acara yang dibuat oleh keluarganya.

Sejak lulus SMA satu setengah tahun lalu, Ryul sudah memutuskan untuk keluar dari rumah dan tinggal di tempatnya sendiri. Ryul tidak sesering itu kembali ke rumah kecuali ada acara keluarga seperti malam ini. Tetapi mungkin memang Ryul yang tidak akan pernah bisa akrab dengan segala bentuk acara yang dibentuk oleh keluarga dan para kerabat atau teman-teman orang tuanya.

Ryul tidak akan pernah menyukai acara ramai seperti itu.

Sekalipun acara itu penting untuknya, sekalipun acara itu merupakan acara kelulusan seperti upacara kelulusan di SMA satu setengah tahun lalu. Ryul akan selalu menghindari keramaian.

Dan malam ini Ryul menghindari keramaian dengan berdiam diri di rooftop yang awalnya berniat untuk merokok. Tetapi niatnya itu tidak terlaksana karena ucapan laki-laki yang secara misterius juga naik ke atas sini dan berdiri tepat di sebelahnya.

Ryul tidak mengucapkan apa-apa lagi. Tidak untuk laki-laki itu, tidak juga untuk perempuan yang menghampirinya barusan. Ryul hanya berjalan dengan langkahnya yang tegas dan menuruni tangga untuk segera menuju lobby dan masuk ke dalam mobilnya agar bisa cepat kembali ke apartmentnya.

Ryul hanya ingin kembali ke kamarnya sekarang.


Sepertinya kafe yang berada di dekat apartmentnya merupakan salah satu tempat yang tidak akan pernah tidur. Pukul satu malam saat ini, Ohyul masih berada di kafe untuk menyelesaikan revisi laporan magangnya.

Hari ini seharusnya sudah masuk musim libur semester dan Ohyul masih harus berkutat dengan laptopnya yang menampilkan revisian laporan magangnya. Satu minggu lalu Ohyul sudah selesai melakukan sidang magang dan juga sudah menyelesaikan laporan tersebut. Tetapi hari ini, dosen pembimbingnya secara tiba-tiba menghubungi Ohyul untuk menambahkan sesuatu di laporan magangnya.

Dan di sini lah Ohyul sekarang, berada di salah satu kafe yang masih ramai pengunjung.

Semester besok Ohyul sudah memasuki semester tujuh. Dia harus mulai melanjutkan projek akhirnya. Maka selama liburan ini, Ohyul tidak ingin diganggu sama sekali dengan segala bentuk projek atau tugas lain yang tidak sempat dia selesaikan di semester enam. Meskipun dosen pembimbingnya secara ajaib meminta Ohyul menambahkan beberapa laporan di laporan magangnya, Ohyul akan tetap menyelesaikannya malam ini.

Perutnya berbunyi saat Ohyul teringat bahwa dia belum makan apa-apa sejak tadi. Hanya ada dua gelas kopi yang sudah kosong di atas mejanya. Ohyul hendak bangun untuk memesan makan saat dia menyadari bahwa baterai laptopnya sudah hampir habis dan akan segera mati jika tidak segera dicharger. Dan Ohyul juga baru menyadari bahwa di tepatnya duduk tidak memiliki colokan sama sekali.

Ohyul mengacak rambutnya frustasi. Rasa lapar tidak lagi menginterupsinya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar untuk mencari meja yang memiliki colokan. Tetapi sayangnya semua meja sudah terisi penuh dan colokan pun terpakai oleh pemilik meja.

“Yah, tolol.”

Umpatan yang terdengar sangat dekat oleh kupingnya membuat Ohyul menoleh ke sumber suara. Ada laki-laki di meja belakangnya. Ohyul tidak dapat melihat wajah laki-laki itu karena posisi mereka yang tidak saling berhadapan. Tetapi Ohyul mengintip untuk melihat apakah ada colokan di dekat meja laki-laki itu.

Ada! Ohyul bersorak dalam hati.

Ohyul bangkit dari posisinya untuk menghampiri laki-laki yang sedang fokus dengan ponselnya.

Sorry.” ucap Ohyul membuka percakapan. “Colokan di meja lu dipake gak? Boleh numpang bentar?”

Laki-laki itu hanya melirik sekilas ke arah Ohyul dan kembali fokus kepada ponselnya sendiri.

“Pake aja.” jawabnya singkat.

“Di sini ada orangnya gak?” Ohyul kembali bertanya sambil menunjuk satu kursi kosong di depan laki-laki itu.

“Kaga.” jawabnya lagi.

“Numpang bentar, ya. Bentar doang.”

Ohyul segera mengambil laptopnya dan memindahkan barangnya ke meja yang sama dengan laki-laki itu. Dia tidak lagi memikirkan rasa laparnya melainkan langsung kembali memusatkan seluruh atensinya kepada laporan yang terbuka di laptopnya saat ini.

“Ah, tolol dah.”

Laki-laki itu kembali mengumpat. Membuat Ohyul yang baru saja duduk di kursi yang berhadapan dengan laki-laki itu menghentikan aktivitasnya.

Ini orang marah ke siapa sih? Ke gua? Gara-gara numpang colokan?

Merasa diperhatikan, laki-laki di depannya beralih untuk menatap Ohyul. Kali ini tatapan itu tidak segera dialihkan karena mata mereka bertemu dengan waktu yang cukup lama. Ohyul tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena laki-laki itu memakai topi.

Laki-laki itu berdeham, “Game.” ucapnya sambil menggerakkan ponselnya.

Ohyul ber-oh ria dalam hati dan hanya menganggukkan kepalanya untuk merespon penjelasan laki-laki itu.

Keduanya kembali pada kegiatan masing-masing. Ohyul juga kembali memfokuskan perhatiannya pada laporan yang seharusnya bisa selesai pagi ini.

“Tengah malem dan lu masih sama laptop.” sebuah suara terdengar olehnya. “Lu pasti bocah ambis kan.”

Ohyul menaikkan sebelah alisnya. Laki-laki itu berbicara tanpa mengalihkan perhatian dari ponselnya sama sekali. Tetapi Ohyul yakin bahwa ucapan itu ditujukan untuknya.

I have some revision to do. Kalo ngga juga males gua buka laptop jam segini.” jawabnya. “Tengah malem dan lu main game di kafe. Lu pasti gak ada kerjaan kan.” Ohyul melanjutkan kalimatnya, mengulang ucapan yang dilontarkan untuknya tadi.

Laki-laki itu melirik ke arahnya sekilas dan tertawa kecil mendengarnya.

I just got back from my parents' house dan males balik ke tempat gua.” jawab laki-laki itu. “Tapi lu bikin gua pengen balik.”

Tepat setelah menyelesaikan kalimatnya, laki-laki itu mematikan ponselnya dan mengambil beberapa barangnya yang berada di meja. Dia bangkit dari posisi duduknya dan berjalan begitu saja keluar dari kafe. Meninggalkan Ohyul dengan ekspresi bingungnya melihat perlakuan tersebut.

“Lah?” ucapnya. “Kalo gak mau sharing meja bilang aja anjir.”

Dari tempatnya, Ohyul masih bisa melihat laki-laki itu di parkiran dan memasuki salah satu mobil yang berada di sana. Rubicon hitam itu menghilang dari pandangan Ohyul saat berjalan membelah jalanan malam.

“Gak jelas.”

Ohyul tidak ingin memikirkan tindakan dan perlakuan dari seseorang yang baru dia temui tidak lebih dari sepuluh menit. Tetapi tidak dipungkiri bahwa rasa sebal sangat mendominasi perasaannya saat ini. Maka alih-alih kembali memfokuskan perhatiannya kepada laporan yang harus dia selesaikan pagi ini, Ohyul masih menatap jalanan di mana rubicon hitam milik laki-laki itu menghilang dari pandangannya.

“Anjir nyebelin banget dah ternyata.” gerutu Ohyul tak terima. “Mulai hari ini semua orang yang punya rubicon sifatnya pasti annoying semua kayak dia.”

Jangan salahkan Ohyul kalau dia mulai merasa jengkel kepada siapa pun yang mengendarai rubicon berwarna hitam mulai hari ini. Sebab Ohyul tidak melihat jelas wajah laki-laki itu karena dia mengenakan topi yang hampir menutupi wajahnya. Tetapi Ohyul akan terus mengingat rubicon hitam tersebut dan seberapa menyebalkannya pemilik mobil jeep itu.


Menjadi sutradara untuk project akhir tentu tidak ada dalam rencana Ryul. Tetapi dosen pembimbing dan diskusi dari timnya lah yang menentukan Ryul untuk menjadi sutradara pada project akhir pembuatan film pendek mereka.

Project timnya juga sudah berjalan hampir lima bulan. Ryul tidak memiliki waktu untuk complain dan meratapi posisi yang tidak begitu dia inginkan ini. Selama project berjalan, tim mereka juga bisa bekerja sama dengan baik.

Ryul sebenarnya sangat cocok dengan posisi sutradara pada project ini. Kemampuan yang dia miliki dalam perfilman juga sudah terbukti melalui portfolionya selama magang di semester enam lalu.

Ryul hanya tidak suka menjadi orang penting di tengah keramaian ataupun di dalam kelompok.

Semester tujuh sudah terlewat selama lima bulan. Ryul dan timnya harus segera menyelesaikan proses syuting supaya mereka bisa memulai semester delapan dengan final editing pada film pendek mereka.

Hari ini Ryul kembali ke kampus untuk menemui dosen pembimbingnya dan membahas tentang hasil rekaman yang sudah selesai. Suasana di kampus siang ini sangat ramai. Membuat Ryul ingin segera menemui dosennya dan kembali ke apartment sebelum kembali melanjutkan proses syuting sore nanti.

Langkah Ryul sangat santai. Tangannya memegang script miliknya sampai tiba-tiba seseorang menabraknya dengan keras. Script yang Ryul pegang jatuh bersamaan dengan barang milik laki-laki yang menabraknya.

Laki-laki itu mengambil barangnya dan juga script milik Ryul dan memberikan itu kepada Ryul dengan gerakan yang tergesa-gesa.

Sorry. Sorry banget lagi buru-buru. Gak sengaja nabrak. Sekali lagi sorry ya.”

Dan laki-laki itu menghilang dari pandangan Ryul ditelan keramaian.

Ryul mengedikkan bahunya tak acuh. Dia kembali melangkah menuju ruangan dosennya. Tetapi pergerakan tangannya yang ingin mengetuk pintu terhenti begitu dia menyadari sesuatu yang berbeda pada script yang dia pegang.

Nama yang tertulis di sana bukan namanya. Script yang Ryul pegang saat ini bukan miliknya.

Sutradara: Kwon Ohyul.

Dan satu-satunya pertanyaan yang langsung terbesit di pikirannya adalah, bagaimana caranya Ryul mencari Kwon Ohyul di kampus ini?


Lokasi syuting hari ini terasa lebih sibuk dari biasanya karena hari ini merupakan hari terakhir.

Ohyul yang sedang menonton ulang hasil rekaman yang sudah selesai diambil beberapa saat yang lalu menghela nafasnya berat karena masih saja ada beberapa scene yang perlu diulang.

Sepertinya produksi project akhir skripsinya bisa selesai di semester ini. Sehingga tim mereka bisa memulai editing awal di akhir semester tujuh. Dan memfokuskan pasca-produksi di semester delapan nanti.

Scene 14 harus retake.” ucap Ohyul. “Scene 17 juga harus retake. Buat scene 19 masih bisa diakalin pas editing. Lu sanggup gak? Atau mau retake juga?” lanjutnya bertanya kepada editor di tim mereka.

Editor itu mengangguk. “Masih bisa diakalin, Yul.” jawabnya. “Biar sekalian pas bikin credit nanti. Gampang, dah.”

Ohyul menganggukkan kepalanya. Hari ini dia akan menyelesaikan seluruh proses syuting sesuai dengan rundown. Dan besok Ohyul baru akan mencari seseorang yang menjadi pemilik script yang dia pegang sekarang.

Sutradara: Kim Ryul.

Entah bagaimana Ohyul akan menemukan seseorang bernama Kim Ryul. Mungkin Ohyul bisa kembali ke tempat tadi dia menabrak seseorang—yang dia yakini adalah Kim Ryul.

Semoga ada deh si Kim Ryul besok di kampus, batinnya.


Ryul baru memarkirkan mobilnya di basement apartmentnya pukul dua dini hari. Proses syuting hari ini berjalan lebih lama dari biasanya sehingga mereka masih harus berada di lokasi syuting sampai larut malam.

Lift terbuka di lobby dan menampilkan laki-laki yang sekiranya sepantaran dengannya sedang membawa banyak sekali barang dengan ponsel yang tertempel di telinganya. Ryul menahan pintu lift sampai laki-laki itu masuk dengan sempurna. Laki-laki itu tersenyum kecil ke arah Ryul yang hanya dibalas anggukan singkat olehnya.

“Kim Ryul.” ucap laki-laki di sebelahnya.

Mendengar namanya disebut, Ryul dengan cepat menoleh. Tetapi laki-laki itu masih berbicara dengan ponselnya.

“Iya. Kim Ryul.” ucap laki-laki di sebelahnya lagi. “Besok gua ke kampus dulu nyari Kim Ryul. Nanti kalo gua otw studio gua telfon lu.”

Merasa terus diperhatikan, laki-laki itu menoleh dan ikut menatap Ryul dengan ekspresi penuh tanda tanya. Dia mengakhiri panggilan teleponnya tanpa memutus kontak mata antara mereka.

“Apa?” tanya laki-laki itu.

“Gua Kim Ryul.”

“Hah?”

“Gua Kim Ryul?”

Laki-laki itu masih menatap Ryul dengan tatapan bingungnya. “Lu nanya?”

“Hah?”

“Apa sih?” omel laki-laki itu.

“Lah.” ucap Ryul. “Tadi lu telfonan katanya mau nyari Kim Ryul. Gua Kim Ryul.” lanjutnya. “Lu mau nyari gua tapi lu gak tau gua yang mana?”

Laki-laki itu masih melongo di tempatnya sampai pintu lift terbuka tepat di lantai lima—lantai yang dituju oleh Ryul. Tetapi Ryul tidak segera keluar. Dia hanya menahan pintu lift agar tidak tertutup.

“Kok lu nguping, sih?” ucap laki-laki itu. “Stalker lu ya gila? Gua gak mencet lantai nomor berapa. Kenapa bisa pas di lantai kamar gua?”

Sekarang gantian Ryul yang menatapnya dengan ekspresi bingung. “Lah. Lantai kamar gua di sini. Narsis juga lu.”

“Hah?”

For God’s sake” ucap Ryul. “It’s 2 A.M right now and I don’t have time for this. Gua Ryul, dan gua gak ada niat nguping obrolan lu. Tapi di lift kita cuma berdua, of course gua denger suara lu yang lagi telfonan?” lanjutnya.

Laki-laki itu masih berdiam di posisinya sebelum berdeham, “Oh. Gua Ohyul.” ucapnya.

Ryul menaikkan sebelah alisnya, kayak gak asing, batinnya.

If you bumped into someone di kampus tadi, that’s probably me. I think you have something that belongs to me soalnya gua juga punya barang lu.” lanjut Ohyul.

Ohyul berjalan keluar dari lift dan menoleh ke arah Ryul yang masih berada di dalam lift.

“Gak keluar?”

Pertanyaan itu dengan ajaib membuat Ryul melepas tangannya yang menahan pintu lift dan keluar dari sana.

Script?” tanya Ryul. “So you’re Kwon Ohyul.

Ohyul mengangguk sambil berjalan beriringan dengan Ryul menyusuri lorong lantai lima untuk menuju kamar masing-masing.

“Ada di tas. Tapi tangan gua penuh bawa ini.” ucapnya sambil menyodorkan barang-barang yang dibawa. “Taro ini bentar.”

Dan sekali lagi langkah keduanya berhenti secara bersamaan dan mereka saling berhadapan.

Ryul menunjuk pintu di belakang Ohyul dengan dagunya. “Kamar gua.”

Ohyul menoleh ke belakang dan kembali menatap Ryul dengan tertawa kecil. “Very well then, di belakang lu itu kamar gua.” ucap Ohyul. “Salam kenal, tetangga.”

Mendengarnya, Ryul ikut tertawa. “Lu baru pindah?” tanyanya bingung. “Gua udah di sini dari semester satu. And I never met you before.

Ohyul menggeleng dan berjalan untuk membuka pintu apartmentnya. “Gua juga udah tinggal di sini dari semester satu.” jawabnya. “Masuk, Ryul.”

Ryul ikut masuk ke dalam apartment milik Ohyul begitu pintu kamarnya terbuka dengan sempurna. Tidak ada cahaya di dalam sini. Hanya cahaya dari lorong yang menuntun mereka masuk ke dalam. Ohyul berjalan untuk menyalakan lampu. Dan begitu ruangan tersebut diterangi dengan cahaya bohlam, Ryul baru menyadari seberapa rapi dan tertatanya seluruh barang yang berada di tempat tinggal Ohyul, berbanding terbalik dengan tempatnya yang berantakan.

“Duduk aja, Ryul.” ucap Ohyul yang dibalas anggukan oleh Ryul. “So?” Ryul menaikkan sebelah alisnya bingung dan Ohyul terkekeh melihatnya. “So, how come we never saw each other before? Dari script lu gua juga baru tau kalo kita satu angkatan. Bahkan satu jurusan?”

Ryul tidak menjawab apa-apa dan hanya memperhatikan Ohyul yang terus berbicara sambil merapikan barang yang tadi dia bawa. Merasa tidak mendapat jawaban, Ohyul melirik ke arah Ryul.

I don’t know.” jawab Ryul asal. “Maybe the stars haven't aligned before.

Ohyul kembali terkekeh mendengarnya. “Alright, Mr. Poetic.

Ryul baru menyadari ucapannya setelah mendengar respon Ohyul. Dia ikut tertawa singkat dan menggelengkan kepalanya. “Lu tau alasan bintang-bintang sejajar di langit?” tanyanya.

Ohyul menggeleng. Dia ikut duduk di sofa kosong sebelah Ryul dengan script milik Ryul yang berada di genggamannya.

Somehow it's just about perspective.” ucap Ryul. “Dan mungkin menurut sudut pandang garis bintang, garis bintang lu dan gua baru ketemu sekarang. Gak peduli lu dan gua ada sedeket apa sebelumnya.”

Ohyul masih menatap Ryul dalam diam. Dia tidak mengucapkan apa-apa sejak Ryul berhenti berbicara. Ada keheningan yang menyelimuti mereka cukup lama saat ini. Maka Ohyul memecah keheningan dengan memberikan script milik Ryul yang sedari tadi berada di genggamannya. Ryul menerima itu dan memberikan juga script milik Ohyul yang berada di dalam tasnya.

Membawa orang asing masuk ke dalam apartmentnya pada pukul dua pagi merupakan tindakan impulsif yang dilakukan oleh Ohyul. Hanya bermodalkan nama dan tempat tinggalnya yang dia ketahui, entah bagaimana Ohyul seolah terhipnotis untuk mempercayainya.

Dan usai menghabiskan waktu kurang dari sepuluh menit duduk bersama dan mendengarkan bagaimana laki-laki yang tinggal di depan kamarnya ini berbicara membuat Ohyul tidak menyesali keputusannya untuk membawa Ryul masuk ke dalam apartmentnya.

Ryul memiliki sudut pandang dan cara berpikir yang tidak pernah dibicarakan oleh orang lain sebelumnya.

Maka Ohyul menyukai konsep ini.

So our stars finally aligned.” ucap Ohyul.

Ohyul tersenyum tipis, sangat tipis sampai dia sendiri tidak menyadari senyuman yang terukir di wajahnya. Ohyul menyukai sudut pandang dan cara berpikir laki-laki yang baru ditemuinya hari ini.