Work Text:
Seoul sepertinya memang terlalu besar buat Kim Dokja. Gemerlap cahaya kala malam tiba di sana tak pernah redup sehingga lambat laun matanya kelewat silau. Kelu. Ia, mau bagaimanapun, tidak dapat merengkuh bahkan sebagian kecil dari gegar hebatnya ibu kota Korea Selatan tersebut. Kota yang tak ramah mendamparkan dirinya dalam keadaan terpuruk di tepi Sungai Han. Kata-kata penyemangat dari orang-orang di tepi pembatas sudah tidak mempan buat hatinya yang kepalang kebas. Pikir Kim Dokja, jika ia melompat dan benar-benar merealisasikan niat bunuh diri, setidaknya dia bakal rehat sejenak dari tuntutan kehidupan meskipun tidak berhasil mati. Tangannya menggenggam palang jembatan erat-erat. Tatapannya kosong. Kakinya diberanikan perlahan mulai memanjat.
Namun, Seoul selalu punya rencana lain.
Satu pelukan asing menahannya. Jari jemari di pinggang Kim Dokja meraih tubuhnya agar tidak jatuh: buku jari si Pemeluk sampai memutih tegang. Ia ditarik turun dan kembali memijak jalan untuk disuguhi wajah rahang tegas, rambut legam, tatapan tajam yang secara mantap bilang, "Jangan."
Jangan.
Mungkin perlu satu kata itu saja bagi seseorang mengurungkan niat mengambil nyawanya sendiri. Jangan. Pencegahan dari orang lain. Betapa tidak beruntungnya orang yang tiada sempat mendengar dan nekat padahal di dalam hati mereka sendiri tidak menginginkan tindakan tersebut. Tatapan Kim Dokja mulai berembun. Satu-dua tetes turun dari matanya berakhir ia menangis tersedu-sedu.
Si Pria Pemeluk tidak lanjut melakukan apa-apa tetapi juga tidak pergi dari sana. Ia bergeming mendengarkan isak tangis Kim Dokja. Beberapa saat kemudian, tidak disangka-sangka salju turun. Oh, seandainya Kim Dokja berhasil melompat tadi. Jembatan Hanpo tengah sepi, semua orang selain keduanya pasti sibuk kedinginan karena suhu di bawah nol, bakal nihil petugas darurat benar-benar mengawasi kamera pengawas di sekitar. Kim Dokja akan mati beku duluan sebelum diselamatkan. Rencana pengambilan jiwanya akan sempurna jika saja tidak ada si Pria yang kini menaruh mantel hitam di pundaknya—niatannya agar ia tidak kedinginan, sepertinya, karena tangannya sekarang terasa dingin tetapi kering akibat salju—dan syal warna serupa di lehernya. Semacam si Pria menganggap Kim Dokja boneka salju belaka.
"Yoo Joonghyuk." Dia akhirnya membuka suara. "Aku dari Busan. Pertama kali datang ke Seoul jadi jangan mati dulu, setidaknya tidak di depanku."
Kim Dokja masih bungkam.
Yoo Joonghyuk lanjut bertanya, "Kenapa?"
Kenapa? Haruskah Kim Dokja mengatakan alasannya: mengapa ia ingin mengakhiri saja nafasnya sekarang? Bagaimana dia akan menjelaskan pada Yoo Joonghyuk jikalau dirinya sudah letih akan semuanya? Bekerja sambil kuliah tidaklah keren, bukan sesuatu yang patut dipuji, hal itu sangat melelahkan. Paruh waktu membuat tubuhnya remuk. Ibunya yang narapidana sama sekali tidak membantu; begitupula ayahnya yang telah minggat sedari lama. Semua olokan diam-diam ada di belakang Kim Dokja. Ia merasa memikul beban keseluruhan caci maki manusia di atas pundaknya. Pikirannya mengawang jauh sampai pada kesimpulan bahwa ingin diotak-atik maupun dicegah bagaimanapun, dirinya tidak akan pernah bisa menghentikan segala bejatnya manusia.
Semuanya hipokrit. Termasuk dirinya. Ia benci.
Namun, Yoo Joonghyuk senantiasa berdiri di depannya, memandang tanpa kepalsuan. Sesaat Kim Dokja lupa bahwa semua manusia munafik.
"Pergilah, aku sudah tidak apa-apa," ucap Kim Dokja. Ia menambahkan kalimat selanjutnya dengan nada lugu setengah mengejek, "Orang Busan."
Yoo Joonghyuk tidak beranjak. Entah karena ia menyayangkan jika harus meninggalkan mantel dan syal buat orang asing atau khawatir Kim Dokja berubah pikiran kembali. Ia memandang lurus ke arah Kim Dokja. Sesuatu di hatinya berdesir, dan itu lebih dari sekadar perasaan khawatir dari orang Busan ke orang Seoul agar dirinya tidak bunuh diri. Yoo Joonghyuk tidak disangka-sangka memutuskan berujar, "Biar kubayar 1864 hari bersamamu."
Kedua mata Kim Dokja yang tadinya lesu refleks membulat terkejut akan ucapan tidak wajar barusan. Ia menjawab tak percaya, "Bagaimana?"
"1864 hari itu ada empat tahun lebih. Setiap malamnya kamu hanya perlu datang ke sini, di Sungai Han, akan kubayarkan makan sampai hidupmu menjadi lebih baik." Yoo Joonghyuk mengulurkan tangan kanan tanda mengajukan tawaran kesepakatan. "Akan kutagih balasannya di hari ke 1865. Anggap saja tengah menang lotre. Aku tahu kamu bukan tipe orang yang menyia-nyiakan kesempatan begitu saja, lagipula tidak ada salahnya, pun sudah jelas terdapat untungnya."
"Kenapa dirimu begitu peduli? Kita bahkan baru saling mengenal," ucap Kim Dokja curiga. Sebenarnya jauh di lubuk hatinya telah terpedaya. Jika Yoo Joonghyuk berniatan jahat meminta bayaran dengan menjualnya ke luar negeri mungkin Kim Dokja akan terima-terima saja. Ia merupakan tipe orang yang akan membuatmu percaya meskipun baru bertukar beberapa patah kata. Kim Dokja menatap uluran tangan tersebut secara ragu.
"Ada satu kesamaan di antara kita, orang Seoul." Yoo Joonghyuk menaikkan sudut bibirnya—ekspresi pertama yang dilihat Kim Dokja selain terus menatap tegas—yang lebih mirip seringai tanpa maksud mentertawakan, menjatuhkan, maupun berniat jahat. Lebih ke ... sebab dia bahagia? "Kita sama-sama sendiri di kota besar ini."
Maka begitulah kesepakatan di antara keduanya dibuat. Tangan Kim Dokja menyambut dinginnya telapak tangan Yoo Joonghyuk. Salju meleleh di antara jari-jari mereka. Pada momen tersebut Kim Dokja sadar: mungkin memang benar orang-orang katakan, salju pertama membawa keajaiban.
***
Jajangmyeon sebenarnya tidaklah spesial selain mie berbalur rasa kecap biasa menurut Yoo Joonghyuk, tetapi Kim Dokja tidak bosan-bosan memesannya lagi dan lagi. Lidahnya seakan dapat peka pada bawang putih cincang, jahe, minyak wijen dan saus tiram di sebalik pekatnya rasa manis-gurih di mie kenyal tersebut. Saus chunjang, yang membuat mie jadi berwarna hitam pekat sekaligus membuat Yoo Joonghyuk mengecapnya sebagai mie kecap biasa, justru menjadi alasan utama Kim Dokja begitu menggandrunginya. Ia mengunyah khidmat potongan kentang pengganti ayam, wortel, bawang bombay, zucchini dan mentimun yang disajikan di atas mie hingga memunculkan sensasi kres renyah pada tiap gigitan. Tak lupa, dirinya pun menyertakan acar lobak kuning atau danmuji buat memakannya. Tiap sumpit mencampuradukkan bumbu chunjang ke seluruh mie, lantas Kim Dokja memakannya hingga timbul bunyi seruput tak jelas sebab mie tidak putus-putus, tatkala itu juga Yoo Joonghyuk jadi kepengen dan berakhir memesan menu sama meski berakhir tidak begitu menyukainya.
Di beberapa kesempatan lain keduanya begitu menikmati chapchae, naengmyon, kalguksu atau paling basic yaitu ramyeon panas, pedas, nan pengar didampingi kimchi. Menu terakhir bahkan dapat bertahan tanpa bosan meski telah mereka pesan tujuh hari berturut-turut. Taman Yeouido Hangang, tempat piknik populer di tepi Sungai Han, pada malam hari setidaknya sedikit lenggang sehingga mereka bebas duduk-duduk santai tanpa beralas apapun sembari memakan deretan mi tadi. Tidak ada hidangan mewah. Yoo Joonghyuk sesuai janji sebatas mentraktirnya makanan jalanan.
Malam tersebut sedikit berbeda. Yoo Joonghyuk sebatas menatap kosong pada air mancur warna-warni Banpo Bridge yang padahal cukup jauh dari pandangan. Kerlap-kerlip kapal Erland Cruise di Sungai Han depan sana saja tidak diindahkannya. Kim Dokja dengan cepat menyadari hal berikut setelah kebersamaan mereka di hari ke seratus sekarang. Ia lantas menyeletuk, "Pekerjaanmu sedang tidak berjalan lancar, ’kah?"
"Biasa saja." Yoo Joonghyuk secara cepat mengalihkan pandangan.
Kim Dokja jelas tahu bahwa pria di sebelahnya punya watak keras kepala. Ia telah khatam betul bahwa Yoo Joonghyuk tidak akan pernah—atau mungkin memang tidak bisa—mengekspresikan perasaannya secara gamblang. Karenanya Kim Dokja tidak lanjut bertanya. Dia sebatas menyenderkan kepalanya pada bahu Yoo Joonghyuk. Dirinya beruntung jadi sepersekian orang yang punya kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Yoo Joonghyuk tidak termasuk di antaranya: dia pindah dari Busan buat mengadu nasib lebih baik di Seoul. Kadang sebagai streamer, penjoki game, atau jual-beli konsol yang membuat dia berpindah dari warnet satu ke lainnya. Kondisi antara keduanya tidak ada yang lebih baik, sebenarnya. Makanya sukarela hadir tiap malamnya teruntuk saling menguatkan.
Yoo Joonghyuk kelihatan nyaman saat Kim Dokja berada di dekatnya begitu. Kini, Kim Dokja tinggal menunggu dia untuk akhirnya mau bercerita.
Tujuannya tercapai.
"Aku sebenarnya punya Adik. Namanya Yoo Mia. Dia sudah meninggal; bunuh diri dengan melompat ke dalam kolam renang." Suara Yoo Joonghyuk barusan terdengar lugas tanpa beban apapun. Seakan sudah melepaskan segalanya. Namun, Kim Dokja samar-samar menangkap pekatnya getir dalam tiap kata yang diutarakan. Nafasnya sempat tertahan karena terkejut. Pantas saja Yoo Joonghyuk tidak membiarkannya bunuh diri kala itu: sebab menenggelamkan diri ke dalam air sungai berarti men-trigger kenangan saudarinya yang sama-sama melompat ke dalam air. Itu bukanlah alasan orang Busan ke orang Seoul. Melainkan memang murni kepedulian Yoo Joonghyuk terhadap Kim Dokja. Tak terasa kini tangan Kim Dokja sudah melingkar di pinggang Yoo Joonghyuk. Memeluknya.
"Dia meninggalkan dunia atas alasan yang sama dengan dirimu. Ekonomi, pertemanan, keluarga, seperti itu." Yoo Joonghyuk menghela nafas panjang. Ia turut balik menyandarkan kepalanya ke Kim Dokja. Dua orang laki-laki yang tengah duduk selonjoran tidak jelas di tepi Sungai Han sembari saling berdempetan itu sesaat menghentikan hiruk pikuknya dunia. Terutama saat Yoo Joonghyuk melanjutkan, "Kadang aku berpikir agar kehidupan dapat diulang kembali. Reset seperti di game. Cuma ingin bagaimanapun, entah seberapa banyak diulang, kita akan selalu menjalani momen yang terus baru dalam setiap babak hidup. Memutar waktu tidak ada artinya maka jalani saja."
Yoo Joonghyuk terlihat lebih manusiawi sekarang.
Kim Dokja tersenyum lembut. Ia mengelus lengan Yoo Joonghyuk terus menerus secara telaten lantas mengecup lama pundaknya. Atas keterbukaan Yoo Joonghyuk pada Kim Dokja pada akhirnya: musim semi merekah gempita di Sungai Han mereka.
***
Sepertinya tanpa kata-kata pun kemeja dan jas yang tengah dipakai Kim Dokja; serta leather jacket modis punya Yoo Joonghyuk telah menjelaskan jerih payah mereka empat tahun ke belakang. Keduanya menginjak hari ke 1865. Beruntungnya, masih dalam keadaan hidup. Mereka seakan telah tahu bahwa masing-masing akan panjang umur dari hari ke satu hingga ribuan sampai berani membuat janji kuat semacam itu. Kim Dokja ada di firma bagus. Yoo Joonghyuk sendiri lebih baik: banner dirinya terbentang di sepanjang Seoul. Janji mentraktir makan malam masih terpenuhi setiap hari tanpa absen sedikit pun meski kadang itu berupa transfer saldo. Keduanya masih acapkali menjamah Sungai Han walau tidak dalam artian harfiah. Macam sekarang, mereka sedang asyik naik kereta MRT di Jamsil Railway Bridge yang punya pemandangan tepi satu-satunya tempat mereka sukai. Sungai Han-nya Kim Dokja dan Yoo Joonghyuk.
"Sudah tenggat waktunya kubayar bukan?" Mereka duduk bersebelahan. Kim Dokja posisinya berada di dekat jendela. Ia menyentuh kaca yang berembun dan memainkannya menggunakan jari. Ada tulisan di sana secara bergiliran punya bunyi: harus kubalas dengan apa semua yang kamu beri selama ini?
Yoo Joonghyuk tertawa kecil melihatnya. Sumpah, jika Kim Dokja dapat menghentikan waktu, ia mau dunia kiamat di saat itu saja. Pemandangan terakhirnya adalah yang terindah dilihatnya seumur hidup. Namun, buncah hatinya tidak sampai di situ. Yoo Joonghyuk lekas tanpa perhitungan tunjukkan cincin sederhana dari saku jaketnya yang segera disodorkan pada Kim Dokja. "Bayarlah dengan menyerahkan semua sisa harimu bersamaku."
Kim Dokja meresponnya dengan tangisan tersedu. Tanpa perlu menunggu waktu lama untuk Kim Dokja mengangguk setuju dan mereka berpelukan. Sungai Han telah benar-benar membawa keajaiban di antara keduanya: baik karir maupun romansa. []
