Work Text:
Masih dapat tercium sisa harum masakan yang mengudara dari dapur keluarga Uzuki itu. Lelaki berpostur jangkung itu sedang menyusun beberapa kotak berisi makanan di dalam tas yang cukup besar.
“Kei! Kei! Lihat ini, lihat!” Lelaki yang dipanggil Kei itu menoleh mendengar suara kesenengan istrinya. Rasa penasarannya muncul dan kakinya menghampiri asal suara tersebut.
“Lihat! Coba dek tunjukkin ke Ayah.” Hati Kei mendadak berbunga melihat pemandangan di depannya, putri kecil mereka tersenyum mengenakan dress berwarna baby blue, bagian bawah dress dibentuk dengan beberapa lapis bahan tile memberikan efek mengembang, jangan lupakan lengan kerut pendek yang memberikan kesan ringan, membuat Kei melihatnya bak peri kecil.
Rion menurunkan Himeko—anak perempuan mereka— berdiri di lantai, Himeko lalu dengan girang berjalan seperti mencari sesuatu. Kei memerhatikan gadis kecil itu, ternyata bayi berusia satu setengah tahun itu berjalan mencari cermin.
Kedua orang tuanya lantas mengikutinya, saat berada di depan cermin Himeko menunjuk cermin sambil matanya mencari kedua orang tuanya.
“Hime suka?” Mendengar suara ibunya, Himeko melihat cermin lama, kemudian terkekeh.
“Dia suka bajunya, Rion.” Kei lalu berlutut di samping Himeko. “Cantik banget, anak Ayah.”
“Hime cantik, coba tolong tunjukkin berputarnya gimana Sayang?” Mata bulat balita itu melihat wajah Rion sejenak dengan wajah yang masih tersenyum, kemudian dia dengan riang melakukan putaran kecil guna menunjukkan dress yang sedang dipakainya. Setelah itu Rion bersorak kegirangan sambil bertepuk tangan kecil, diikuti oleh Himeko yang juga bertepuk tangan.
Rion menoleh ingin mengetahui reaksi suaminya. Ternyata, mata suaminya itu malah berkaca-kaca.
“Kamu nangis?” Rion tergelak melihat hidung merah suaminya.
“Tidak kok.” Kei mengusap hidungnya belum menyadari Himeko memerhatikan ayahnya dengan mata yang berkedip polos, “Dia tumbuh cepat banget, Rion. Perasaan Himeko masih merah kemarin.”
Detik berikutnya Kei merasa Himeko menubruk dan memeluk badan Kei seolah memberikan isyarat bahwa dia ingin di gendong, dengan sisa haru yang masih membekas, Kei mengangkat putri kecilnya itu ke dalam dekapannya. Kecupan-kecupan gemas mendarat di pipi Himeko.
“Himeko udah siap? Mau ketemu siapa, sih? Kok cantik banget gini?” Rion berujar sambil langkahnya mengikuti Kei ke ruang tengah, tangannya menoel-noel pipi Himeko.
“Cinn! Kiya!” seru Himeko sambil mengacungkan tangannya ke atas, gerakan bersemangatnya itu menyenggol wajah ayahnya, Kei hanya terkekeh.
“Iya, iya, sebentar lagi kita akan ketemu sama om Shin, terus Kak Akira juga.”
“Sudah siap semua, Kei?” tanya Rion memastikan sambil meraih kunci mobil dan topi kecil milik Himeko.
“Sudah. Bekal sudah siap, perlengkapan Himeko juga sudah siap,” jawab Kei mantap, “Himeko sudah pakai sunscreen kan?”
“Tentu saja sudah. Yuk, berangkat.”
Hari ini memang spesial. Mereka akan pergi piknik, Aoi mengundang mereka untuk pergi piknik bersama. Tidak hanya keluarga Sakamoto, bahkan Akira Akao dan Nagumo pun tak luput diundang oleh Aoi. Menambah daftar keramaian yang akan tercipta di tengah hamparan rumput nanti.
Cuaca hari ini sangat bersahabat untuk pergi piknik. Rion mendorong stroller memasuki area taman, Kei menjinjing tas; langkah mereka di lengkapi dengan ocehan kecil dari Himeko. Rion melihat di sana sudah duduk keluarga Sakamoto beserta Shin dan Lu, bahkan Nagumo si paling tepat waktu pun sudah tiba. Aoi yang melihat segera melambaikan tangan ke arah mereka.
Saat mereka tiba, Himeko mendadak menjadi primadona.
“Aduh, Himeko udah besar ya sekarang. Gemas sekali.” Aoi lalu dengan girang menggerak-gerakkan tangan Himeko dan di jawab ocehan kecil dari bibir bayi itu. Rion mendudukkan balita itu di tikar, Himeko itu tidak mudah rewel dan Rion bersyukur atas itu. Memiliki anak yang tenang menjadi keuntungan sendiri bagi Rion dan Kei. Aoi, Lu, bahkan Hana mulai mengajak berbicara Himeko. Sedangkan Shin hanya senyum-senyum melihat kegemasan Himeko.
“Kok Uzuki sepertinya semakin tinggi ya, perasaan dulu lebih tinggi Akao. Ikut nyusu ya kamu?” ucapan itu juga mengundang batuk keras dari seorang pemuda berambut pirang, Shin.
“Orang gila.” Rion menendang lutut Nagumo dengan keras.
“Nagumo, lu pulang aja deh. Banyak anak kecil disini.” Shin lalu tersulut dengan ucapan Nagumo.
“Apa sih? Memang tidak boleh orang dewasa minum susu?” Nagumo berujar dengan wajah pura-pura bingung. Rion tidak menyangka teman—najis—nya ini masih saja bersifat menyebalkan.
“Oh iya, Akira belum tiba ya?” Aoi terlihat bingung
“Tadi dia bilang sih, masih di perjalanan.” Rion melihat Himeko yang mulai merangkak ke sana kemari.
Himeko tidak bisa diam di atas tikar. Terkadang bangkit dengan langkah-langkah kecil yang masih sedikit goyah namun cepat, balita itu berhenti ketika matanya berhasil memindai sosok lelaki berambut kuning. Wajahnya sumringah.
“Shin!” ucapan cadelnya menarik perhatian lelaki itu, Himeko berjalan dan menubruk badan kecilnya ke bahu Shin—lelaki berambut kuning, dan di sambut dengan tangan Shin yang mendekap balita itu.
Rion tertawa kecil, Himeko menoleh, memberikan cengiran lebar yang memperlihatkan deretan gigi susunya yang rapi.
Tidak lama dia berada di dekapan Shin, tubuh kecilnya beringsut turun mulai merangkak ke ujung tikar. Keasyikan eksplorasi mandiri itu seketika pecah oleh suara melengking yang membelah udara.
“HIMEKOOOOOOOOOO!!” Semua orang di sana menoleh ketika mendengar suara familier memekik dari kejauhan. Orang tersebut adalah keponakan Rion—Akira Akao, seperti biasa dia adalah orang yang paling bersemangat jika melihat Himeko.
“Himeko, kakak udah datang nih. Himeko kangen tidak?” Akira memeluk dengan erat sang bayi, membuat Himeko merengek.
“Aduh cantik banget, adik aku, sayang aku.” Akira memekik gemas, hal itu mengundang tawa dari beberapa orang di sana. Kei hanya tersenyum, perasaan ini tidak pernah dia bayangkan semasa kecilnya. Memiliki keluarga, menjadi ayah, memiliki orang-orang sekitar yang peduli padanya, piknik di cuaca yang bagus, makan makanan yang enak. Tenggelam dalam lamunannya, Kei berjengit ketika merasakan Rion menepuk pahanya.
“Sudah overthinking-nya?” Rion berbisik, membuat Kei hanya tersipu. Kei bahkan tidak berkata apa pun, tetapi Rion bisa mengetahui apa yang tidak biasa dari dirinya.
Hari-hari seperti ini lah yang dinantikan oleh Rion. Karena dalam kesempatan berkumpul layaknya sekarang anaknya pasti akan diasuh oleh beberapa orang dan Rion hanya menonton saja.
Kegiatan piknik itu berlangsung secara natural dengan obrolan ringan para orang dewasa dan para anak muda yang terlihat lebih sibuk dengan makanan mereka.
Rion hanya terkekeh ketika Akira agak menjahili Himeko dengan tidak memberikan balita tersebut makan, menggodanya dengan sesekali menjauhkan sendok membuat Himeko memekik kesal. Pemandangan tersebut membuat hati Kei menghangat, Himeko benar-benar menjadi favorit semuanya. Melihat wajah Himeko berantakan, Rion dengan telaten mengelap bibir Himeko dan kembali membiarkan anaknya diasuh oleh Akira.
Piknik itu masih berlangsung, beberapa makanan terhidang di tengah tikar.
“Wah sumpah, ini enak. Akao dimasakin kayak gini setiap hari?” Nagumo berbicara sambil mengunyah. Sumpitnya berkali-kali mencomot honey garlic chicken buatan Kei.
“Akira, makan dulu sini. Nanti keburu habis makanannya sama Nagumo,” ujar Rion kepada keponakannya. Akira lalu hanya tertawa, dia mulai ikut makan sambil memangku Himeko.
Beberapa saat setelah mereka makan para anak-anak semakin bersemangat. Hana, Himeko, Akira dan Lu sedang bermain bersama. Akira membawa pistol gelembung untuk menghibur Himeko. Tawa mereka terdengar girang. Kei sempat khawatir ketika melihat Himeko beberapa kali terjatuh pelan di rumput, dan hanya di balas tawa oleh Rion.
“Tidak apa-apa Kei, selagi Himeko tidak menangis berarti tidak masalah,” ujar Rion geli. Aoi mengangguk terlihat setuju dengan ucapan Rion, “Betul, Uzuki-kun. Jangan khawatir, kalau tidak dibiarkan eksplorasi nanti dia kurang terasah motoriknya.”
“Wah, ada ayah yang baik nih ya,” ujar Nagumo usil. Kei hanya melihat lurus ke arah Nagumo.
Begitu nikmat masih memiliki jiwa anak muda. Energinya tidak akan mudah habis.
Di bawah pohon rindang itu terdengar suara musik yang bak diulang-ulang tak jauh dari tempat mereka duduk. Di depan ponsel yang terpasang di tripod, Lu dan Akira terlihat sedang merekam diri mereka sendiri ala-ala tren masa kini, kadang mereka tertawa saat melihat hasilnya.
Saat kakak-kakaknya masih bersemangat, Himeko mulai lelah. Balita dengan rambut serupa dengan Kei itu sedang duduk anteng di pangkuan Nagumo. Dia menyusu di botol miliknya dengan khidmat.
“Anakmu tuh Kei, habis dikasih duit sama Nagumo jadi nempel begitu.” Rion terheran-heran, kecil-kecil sudah mengerti uang.
“Himeko, coba minta lagi satu juta yen, gitu.” Rion berujar menoel-noel Himeko.
“Kerja, gila. Minta kok satu juta Yen, sinting emang,” ujar Nagumo sambil menggulirkan bola mata.
“Tolong ya itu mulutnya, ada Himeko.” Kei berujar serius lalu menghela napas. Rion dapat melihat anaknya itu mulai mengantuk. Aoi memerhatikan Himeko.
“Himeko, bisa dipegang siapa saja ya.” Aoi berujar dengan lembut.
“Iya nih, terus juga dia murah senyum. Tidak pernah tantrum, paling menangis sebentar-sebentar doang. Ngikut siapa ya dia?” Rasa bangga muncul di dada Rion. Matanya memerhatikan Himeko yang mulai menyamankan diri di pangkuan Nagumo untuk segera terlelap. Rion hanya terkekeh.
“Nagumo, sumpah lu udah cocok banget itu.” Rion meledek Nagumo dan dibalas dengan Nagumo yang memerhatikan Himeko tertidur di pangkuannya.
“Himeko gemes banget sih, aku bawa aja ya. Kalian bikin lagi.”
“Enak aja! Anak gue itu.”
Luapan energi para remaja ternyata tidak selama itu, suara musik yang diulang-ulang sudah menghilang, digantikan dengan suara gesekan kecil antara baju dan tikar di sana.
“Yah, bocah. Habis makan, main, pada tidur mereka,” ujar Rion bercanda ketika melihat Akira, Lu, dan Hana tertidur meringkuk di atas tikar. Tidak terlupakan Himeko yang sudah tertidur pulas di pangkuan Nagumo. Aoi hanya terkekeh menyaksikan anak-anak dan para remaja itu. Sekarang tersisa orang dewasa yang masih menikmati pikniknya.
Kei melihat pohon rimbun di atas mereka, cuaca hari ini memang sangat nyaman sampai bisa tertidur di luar. Rasa-rasanya Kei juga ikutan mengantuk.
“Uzuki. Benar kamu jadi vasektomi?” Mendengar ujaran Sakamoto, Kei lalu menatap Sakamoto. Terlihat perhatian empat orang di sana tertuju padanya.
“Ah...” Kei mendadak merasa canggung dengan obrolan ini, “A—aku hanya masih mencari-cari informasi."
“Kamu tidak tega ya Rion yang kontrasepsi?” ujar Aoi lembut, dibalas anggukan mantap oleh lelaki berambut putih itu, “Efek sampingnya banyak. Cukup Rion tersiksa ketika melahirkan saja.”
“Ya sudah, kontrasepsi minimarket dulu kali, jangan langsung vasektomi,” Nagumo menimpali.
“Nagumo, sumpah kalau lu yang ngomong kok kedengerannya jorok banget ya.” Rion merinding mendengarnya.
“Buset, salah lagi aja gue.”
Obrolan semi dewasa namun berbobot itu terus mengalir natural, Kei dan Rion menjadi memiliki pandangan baru dari mereka semua. Rion lalu melihat Shin yang sering tersenyum malu dalam obrolan ini
“Apa kamu, Shin? Senyum-senyum begitu,” ujar Rion agak galak tetapi dengan nada bercanda. Mendengar itu membuat Shin tertegun sebentar merasa canggung.
“Tidak, aku cuman baru menyadari kalau Uzuki kedengarannya sayang banget sama Akao-san.” Shin mengusap belakang lehernya.
“Tentu saja. Rion kan istriku.” Kei lalu tersenyum dengan tulus, semua orang juga tahu bahwa Rion adalah dunia Uzuki Kei.
“Aku masih penasaran deh, kenapa Shin cuma pakai panggilan formal ke aku sama Sakamoto?” Rion mengalihkan pandangan ke arah Shin, membuat sekarang perhatian tertuju pada Shin.
“Khusus untuk yang baik-baik saja.” Shin mengangkat bahu.
“Dih, takut kan kamu sama, Rion?” Kei berujar dengan lempeng dan polos, membuat Shin tersedak, dan Rion terbahak mendengarnya.
Angin sore berhembus pelan, bak membawa sisa-sisa tawa mereka. Matahari mulai tergelincir ke arah barat, membiaskan semburat jingga yang hangat. Bayangan dedaunan pohon besar yang bergerak terlukis di wajah Himeko yang baru terbangun dari tidurnya sepuluh menit lalu.
Piknik itu hampir berakhir.
Sebelum benar-benar berkemas. Aoi lalu berujar dengan wajah ceria
“Eh, ayo sebelum pulang, kita foto dulu,” ujarnya mengeluarkan kamera dari tas pikniknya.
Ajakan itu disetujui oleh semuanya.
Semua orang berkumpul. Figur orang tua berjejer di belakang. Rion berdiri di sisi kanan, dan Kei yang berdiri di sampingnya mendekap bahu istrinya, Sakamoto berdiri tegak di samping Aoi dengan Hana di antara mereka. Di tengah-tengah figur orang tua, Akira menggendong Himeko yang wajahnya masih saja terlihat ceria. Shin yang sudah mengatur timer kamera berlari dan memosisikan diri berjongkok di depan bersama Lu, sementara Nagumo menyelip di antara mereka dengan senyuman khasnya.
Cekrek!
Satu potret sempurna tertangkap, sebuah bukti nyata yang sempat di idam-idamkan Kei di masa lampau, dapat terealisasikan sekarang.
Namun, suasana manis itu sedikit terusik saat Akira mencoba menyerahkan Himeko kembali kepelukan Rion. Begitu tangan Rion ingin menggendong Himeko, bibir mungil balita itu mulai melengkung ke bawah, tangan kecilnya mencengkeram erat jaket milik Akira.
“Eh? Himeko sayang? Kenapa cemberut?” Akira mendekatkan wajahnya ke wajah Himeko.
“Kiya... Kiya...” gumam Himeko dengan suara cadelnya. Dia seolah tidak rela berpisah dengan Akira. Himeko menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Akira enggan berpaling ke arah ayah atau ibunya.
Rion tertawa geli melihat drama kecil itu, “Wah, Kei. Posisi kita kegeser nih sama ponakanku.”
Kei tersenyum tipis, meski ada sedikit rasa cemburu dan jenaka di matanya. Dia mendekat, lalu mengusap lembut kepala Himeko, “Himeko, kak Akira harus pulang dulu. Nanti kita main lagi ya? Di rumah ada puding loh, katanya kemarin mau puding?”
Mendengar suara tenang ayahnya dan sogokan ‘puding’, Himeko mendongak menatap ayahnya. Dia kembali melihat Akira lama, lalu beralih lagi menatap Kei. Dengan berat hati Himeko akhirnya mengulurkan tangannya pada Kei. Akira memberikan kecupan perpisahan di pipi gembul Himeko yang masih tampak cemberut.
“Dadah! Himeko cantik! Kakak janji bakal sering main ke rumah!” Akira berujar sambil menggoyang-goyangkan tangan Himeko.
Satu per satu mereka berpamitan. Nagumo sempat menjawil hidung Himeko hingga bayi itu memalingkan muka kesal, sementara Sakamoto dan Aoi memberikan lambaian hangat. Shin juga menyempatkan berpamitan ringan dengan Himeko membuat balita itu semakin cemberut.
“Himeko! Bye-bye!” ujar Hana riang, di balas lambaian tangan kecil oleh Himeko yang dibantu oleh Rion. Pikniknya berakhir dengan kehangatan yang akan tetap membekas diantara mereka.
Kei memasukkan stroller ke bagasi, sementara Rion mendudukkan Himeko di car seat. Balita itu masih terlihat agak lesu, memainkan ujung dress biru indahnya sambil sesekali menghela napas berat.
“Waduh, kayanya berat banget ya, Himeko,” Rion tertawa geli. Sebelum menutup pintu mobil, Kei datang menghampiri mereka. Mereka berdua terdiam sejenak, menatap rona jingga di cakrawala.
“Hari yang melelahkan, tapi sangat berharga,” gumam Rion. Mereka berdua berdiri berhadapan.
Kei merangkul pinggang Rion, menariknya mendekat. “Aku senang melihatnya punya banyak orang yang menyayanginya. Dia tidak akan pernah merasa sendirian, ‘kan?”
Rion menatap mata Kei yang kini nampak sangat damai, “Iya, dong. Kan kita memilih untuk memulai ini semua, Kei. Terima kasih ya sudah menjadi ayah yang hebat hari ini, eh setiap hari sih.”
Kei tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya mengecup bibir Rion singkat namun penuh perasaan, sebuah janji bisu bahwa ia akan menjaga kebahagiaan ini selamanya.
“Himeko! Himeko!” Himeko mengangkat tangannya ke arah Kei, memberikan isyarat yang menginginkan ciuman dari ayahnya juga, membuat Kei terkekeh dan mencium gemas pipi Himeko.
Rion tertawa, lalu mereka berdua pun masuk ke dalam mobil, berkendara pulang menuju rumah dengan hati yang nyaman dan bahagia.
