Actions

Work Header

Darah Marzuki

Summary:

Gak ada hari tanpa keributan di rumah Ryul Marzuki. Sebagai juragan dari banyaknya bisnis, ngadepin kelakuan Woojin dan Louis adalah hal yang paling sulit. Dibawah asuhan Papah Ohyul yang disiplin dan tangan dingin sang Bapak, keduanya tumbuh dengan cara yang tak terduga.

Ini bukan cuma soal siapa yang paling hebat pas udah gede, tapi soal proses mereka nemuin jati diri dari masa bocah sampe jadi laki-laki dewasa. Sejauh mana pun kaki mereka melangkah dan setinggi apa pun jabatan yang mereka punya, buat Ryul ama Ohyul, mereka tetep aja "bayi" yang perlu diselimutin pas tidur. Karena di rumah ini, darah Marzuki gak cuma soal keturunan, tapi soal janji buat selalu ada buat satu sama lain. 4sho!

Notes:

Halo semuanya! Selamat datang di kericuhan Keluarga Marzuki. Ini work baru gilaaa, family comedy. Cerita ini bakal ngajak kalian ngintip gimana sih tuh repotnya jadi orang tua dari dua anak macan, dan gimana perjuangan anak-anaknya nemuin jati diri. Siapin camilan, karena drama akan kita mulai! Enjoy the ride,

LNGSHOT! 4sho!

Chapter 1: Fase 1

Chapter Text

Matahari bahkan belum tinggi-tinggi amat di atas langit, tapi suhu di dalam rumah Ohyul dan Ryul rasanya sudah mencapai titik didih. Suasana pagi itu nggak ada bedanya sama tawuran warga di Gang Komar—gaduh, penuh teriakan, dan bikin kepala nyut-nyutan. Punya dua anak yang umurnya cuma beda dua tahun itu ibarat piara dua ekor anak macan yang hobi rebutan wilayah kekuasaan.

Hai, kenalin. Ini keluarga Ryul Marzuki, seorang juragan kelas berat yang menguasai pangkalan elpiji, bengkel motor, sampai toko elektronik di lingkungan sekitar. Biar gelarnya "bos", Ryul sebenernya cuma bapak-bapak santai yang prinsip hidupnya cuma satu: yang penting anak diem nggak rewel dan, yang paling utama, nggak kena semprot bininya. Sementara itu, sosok yang paling ditakuti seisi rumah adalah Ohyul, sang primadona kediaman Marzuki. Bagi Ohyul, titahnya adalah mutlak dan pantang dibantah kalau nggak mau sutil dapur melayang. Urusan anak adalah prioritas nomor satu, sementara urusan suami? Ya, bisa dibilang nomor sekian setelah jemuran kering.

Pangkal kekacauan pagi ini siapa lagi kalau bukan dua jagoan mereka. Ada Woojin yang baru umur 3 tahun tapi udah pinter banget bikin skenario kerusuhan, dan si kecil Louis yang baru 1 tahun tapi tenaganya udah kayak pemain bola profesional yang selalu minta gendong. Di rumah ini, damai itu mahal harganya, dan pagi ini harganya lagi anjlok total.

Ohyul sudah berdiri di depan cermin besar, tampak ganteng dan klimis. Aroma parfum mahalnya sudah menyerbak, menutupi bau minyak telon yang hari-harinya nempel di baju. Hari ini dia punya misi penting: survey sekolah taman bermain buat Woojin. Soalnya, Woonhak—temennya yang nggak mau kalah itu—udah pamer di grup chatting kalau anaknya mau dimasukin sekolah biar makin pinter. Ohyul tentu nggak mau Woojin kalah saing. Lagipula, jujur saja, kalau Woojin di rumah terus, Ohyul takut dia sendiri yang bakal darah tinggi saking pusingnya.

"Ganteng bener Papah hari ini, mau nyari suami baru apa gimana?" goda Ryul sambil lewat. Penampilan Ryul kontras banget; cuma pakai kaos oblong putih yang lehernya sudah melar dan celana kolor motif batik, khas Bapak-bapak komplek lagi libur.

Tapi, pujian atau lebih tepatnya ledekan itu cuma bertahan tiga detik.

Prak!

"ASTAGHFIRULLAH HAL ADZIM! YA ALLAH, DEDEK!" Ohyul menjerit tertahan.

Louis, si bungsu yang lagi rungsing alias rewel tingkat dewa karena nggak mau duduk diam, mendadak berontak minta digendong.

Tangannya yang mungil menyenggol mangkok keramik berisi nasi tim ati ayam yang masih hangat. Alhasil, bubur kental berwarna kecokelatan itu mendarat dengan estetik tepat di dada kemeja putih bersih Ohyul.

Ohyul memejamkan mata rapat-rapat. Dia menarik napas dalam, berusaha mengingat semua kutipan parenting tentang kesabaran yang di tonton di Youtube sebelum tidur. Wajahnya merah padam, bibirnya gemetaran nahan omelan.

"Gusti... Dedek Louis... ini kemeja harganya bisa buat bayar kontrakan sebulan, Nak," gerutu Ohyul dengan logat Betawi yang keluar saking emosinya. "Kanapa sih lu rungsing amat? Papah udah wangi begini malah dikasih saos ati ayam!"

Melihat 'singa' rumah sudah mau meledak, Ryul langsung sigap. Sebagai Bapak yang merasa paling jago nenangin suasana, dia niatnya mau jadi pahlawan.

"Waduh, tenang Pah, tenang. Tarikan napas dulu biar nggak stroke dini," kata Ryul santai. "Sini, sini. Biar Bapak yang pegang si Dedek, kamu ganti baju gih. Biar Bapak yang jinakin ini bocah."

Baru saja Ryul melangkah dua kali mau menghampiri Ohyul, suara lengkingan dari arah meja makan memecah konsentrasinya.

"NGGAK MAUUUU! ITU PUNYA DEDEK! UJIN MAUNYA GELAS BIRU, BAPAKKK!" Woojin menjerit histeris sambil menunjuk gelas plastik merah yang baru saja ditaruh Ryul di hadapannya. Wajahnya ditekuk, bibirnya maju lima senti.

Ryul yang sudah telanjur panik langsung putar balik badan layaknya mobil kena tilang. "Eh, iya, iya! Salah ambil Bapak! Maaf, Ujin! Kirain lu masih ketuker-ketuker soal warna!"

Saking gemas dan pusingnya karena diteriaki anak umur tiga tahun, Ryul tanpa sadar mencomot pelan mulut Woojin dengan jarinya—membuat bibir anaknya jadi monyong kayak bebek.

"Berisik, Bang! Papah lu lagi pengen makan orang itu di sana, jangan ditambahin jerit-jerit! Diem lu ah, monyong banget itu bibir!" bisik Ryul sambil melotot, tapi tangannya tetep gemetaran buru-buru nuker gelas sebelum Woojin berubah jadi Godzilla betulan.

_____

Sore harinya, keadaan bukannya makin adem, malah makin gerah. Kali ini giliran si sulung Woojin yang kumat rungsing-nya. Dari tadi ditawarin main mobil-mobilan nggak mau, diajak mewarnai malah krayonnya dipatahin. Puncaknya, mainan kereta Thomas & Friends miliknya yang bahannya besi solid itu melayang di udara.

TAK!

"ADUHHH! BUSYET DAHHH!" Ryul menjerit sambil memegangi tulang keringnya. Thomas sukses mendarat dengan telak di sana. Rasanya? Beuh, kayak lagi disleding pemain bola profesional.
Ryul meringis-ringis, matanya sampai berkaca-kaca menahan linu yang luar biasa. Saking refleksnya karena nggak terima, Ryul mengambil bola plastik warna warni dari kolam bola Louis, lalu melemparkannya balik ke arah Woojin. "Nih, gua balees! Lu kenapa sih, Jin? Kagak ada angin, kagak ada ujan, tulang kering Bapak lu dijadiin rel kereta!"

Woojin nggak nangis, tapi wajahnya makin ditekuk, matanya mulai berkaca-kaca. Melihat itu, hati Ryul yang tadinya dongkol langsung luluh lagi—namanya juga Bapak-bapak, mana tega lihat anaknya mewek. Dengan kaki masih agak pincang, Ryul nyamperin Woojin dan duduk di sampingnya.

"Kenapa sih lu? Manyun amat itu muka, udah kayak cucian nggak kering seminggu. Cerita sini sama Bapak," kata Ryul sambil mengelus kepala anaknya.

Woojin diam sebentar, lalu pelan-pelan dia merosot, glendotan ke badan Ryul. Dia membisikkan sesuatu dengan suara parau, "Bapak... kenapa sih si Dedek nggak turun-turun dari gendongan Papah? Dedek kan punya kaki ya?"

Ryul langsung terdiam. Detik itu juga dia paham. Oh, si Abang lagi cemburu berat ternyata. Si jagoan kecil ini merasa wilayah kekuasaannya di dekapan Papah-nya lagi curi sama Louis.

"Oalah, jadi ini ceritanya si Bos lagi mau dimanja juga?" Ryul terkekeh, lalu berteriak memanggil belahan jiwanya. "PAAAH! PAPAH SAYANG! SINI DULU DEH BENTAR!"

Nggak lama, Ohyul muncul dari arah dapur, sepaket lengkap dengan Louis yang nempel kayak koala di gendongannya. Ohyul kelihatan lelah, rambutnya yang tadi pagi klimis sekarang sudah acak-acakan.

"Apaan sih, Pak? Berisik banget suara lu teriak-teriak kayak dihutan," gerutu Ohyul.

"Ini nih, anak sulung lu lagi mogok main gara-gara kangen Papah-nya. Katanya lu seharian nemplok mulu sama si Dedek," lapor Ryul.

Woojin mendongak, menatap Ohyul dengan tatapan memelas. "Ujin juga mau digendong Papah..."

Ohyul langsung merasa dadanya sesak karena bersalah. Dia sadar, seharian ini dia emang terlalu fokus ngurusin Louis yang lagi rewel. "Ya ampun, Abang... maafin Papah ya. Sini, Papah gendong juga."

Ohyul mencoba menurunkan Louis, tapi baru kakinya nyentuh lantai, Louis langsung menjerit histeris dan makin erat meluk leher Ohyul hampir mau nyekek. Nggak mau lepas sama sekali!

"Tuh kan, Mas... gimana dong? Dedeknya nggak mau lepas, nempel mulu," keluh Ohyul pusing.

Ryul menggaruk kepalanya yang nggak gatal. Dia langsung putar otak pakai insting pengusaha suksesnya. "Ya udah gini aja, Bang Ujin ikut Bapak aja yuk? Kita jalan-jalan naik motor matic yang baru, kita keliling sekalian Bapak mau mampir ke toko elektronik bentar, mau tutup soalnya. Bapak mau cek hasil closing, takut ada yang korupsi uangnya. Nanti pulang kita beli kue balok paling enak, gimana?"

Ohyul ikut ngebujuk, "Iya, Abang pergi sama Bapak dulu ya? Nanti malem, tidurnya sama Papah, nanti Papah pelukin kenceng-kenceng sampai besok pagi. Janji!"

Mendengar kata 'peluk' dan 'motor', pertahanan Woojin runtuh. Dia mengangguk setuju. Tapi sebelum dia lari ke garasi buat nyusul Ryul, Woojin nyamperin Ohyul dulu. Dia mencium tangan dan pipi Papah-nya, lalu mencium kening adiknya dengan lembut. "Dah, Dedek... Abang pergi dulu ya."

Ohyul sudah mau terharu melihat pemandangan manis itu. Namun, baru saja dia mau bilang 'pintar anak Papah', tiba-tiba...

CUBIT!

"AKKKK!" Louis menjerit kaget karena pipinya dicubit gemas (dan kencang) sama kakaknya.
Woojin langsung lari ngacir ke garasi sambil ketawa jahil, meninggalkan Ohyul yang melongo dan Louis yang mulai nangis lagi.

"WOOJIIIN! AWAS LU YA KALAU PULANG!" teriak Ohyul, suaranya menggelegar sampai keluar rumah.

Sementara di garasi, Ryul cuma bisa ketawa sambil manasin motor. "Emang bener-bener dah itu bocah, buah jatuhnya nggak jauh dari pohonnya. Gue banget jahilnya!"

____

Malam harinya, rumah sudah mulai tenang, tapi janji tetaplah janji. Bagi Woojin, janji Papah-nya itu ibarat piutang yang harus ditagih sampai lunas.

"Pah, katanya mau pelukin Ujin? Tadi katanya kalau bobo mau dipelukin kenceng..." rengek Woojin sambil narik-narik ujung kaus Ohyul.
Ohyul yang lagi nyandar di kepala ranjang cuma bisa menghela napas panjang. "Iya, Abang sayang... Papah inget. Baru juga jam segini, emang Abang udah ngantuk?"

"Udah! Ayo tidur sekarang, biar dipelukinnya lama!" sahut Woojin nggak mau kalah.

Ohyul cuma bisa geleng-geleng kepala. Ini bocah kenapa ingatannya kenceng bener dah? batin Ohyul heran. Perasaan tadi sore dia ngomongnya sambil lalu pas lagi riweuh, tapi kok Woojin nggak lupa sama sekali. Padahal baru tiga tahun lebih dikit umurnya, tapi kalau soal nagih janji udah kayak pegawai bank plecit.

Biasanya anak seumur dia mah ditawarin es krim juga udah lupa sama omongan sebelumnya.
Aslinya, Ohyul pengen banget selonjoran sendirian dulu di sofa depan TV. Badannya rasanya mau rontok. Untung ada si Bibi yang bantuin urusan dapur sama cuci baju, kalau nggak, mungkin Ohyul udah pingsan berdiri. Louis akhirnya bisa lepas dari dekapannya setelah tadi dibujuk Ryul buat nonton kartun sambil ngedot.

Di ruang tengah, Ryul lagi berjuang antara hidup dan mati—eh, maksudnya berjuang nahan pegel. Louis tidur tengkurap di atas perut Bapaknya sambil nonton kartun hewan-hewan.

"Duh, Gusti... ini anak apa karung beras ya? Gembrot bener, makin hari makin berat aja timbangan lu, Dek," gumam Ryul sambil meringis. Belum lagi tangan mungil Louis yang hobi banget nyubitin kulit lengan Ryul sampai merah-merah—kebiasaan Louis kalau lagi nonton. "Perih banget ini tangan Bapak, Dek. Lu kira kulit Bapak lu ini kue apa dicubitin mulu?"

Tapi nggak lama, suara dengkur halus terdengar dari perut Ryul. Louis akhirnya tepar, pulas dengan botol susu yang masih nempel di mulut. Dengan gerakan super pelan seolah-olah lagi mindahin bom aktif, Ryul menggendong Louis masuk ke kamar.

Di dalam kamar, ternyata Woojin masih melek. Kepalanya lagi diusap-usap pelan sama Ohyul, mereka lagi asyik bincang-bincang deep talk ala balita dan orang tua.

"Tuh, dedek lu udah KO. Sekarang giliran Abang yang tidur ya," bisik Ryul sambil merebahkan Louis di kasur samping Woojin.

Begitu kedua kurcaci itu benar-benar sudah masuk ke alam mimpi, suasana kamar mendadak sunyi senyap. Ohyul dan Ryul saling lirik, lalu secara kompak mereka berdua merangkak menuju ujung kasur dan duduk selonjoran.

"Mas, pijitin pundak adek dong... rasanya mau copot," keluh Ohyul sambil memutar lehernya sampai bunyi krek.

Ryul langsung sigap, dia duduk di belakang Ohyul dan mulai mijit pelan. "Sama, dek. Tulang kering Mas masih nyut-nyutan kena Thomas, tuh liat ada ijo-ijonya, tangan gue abis dicubitin si bungsu, nih nih ada merah-merahnya bekas kuku dia. Nasib, nasib... punya anak ganteng-ganteng begini amat ya kelakuannya."

Ohyul memejamkan mata, menikmati pijatan Ryul yang meskipun nggak seprofesional tukang urut, tapi lumayanlah buat ngurangin beban hidup. "Tapi ya gimana ya, Mas... pas lihat mereka tidur anteng begini, kok rasanya kangen lagi ya? Padahal tadi sore gue udah mau teriak panggil Damkar saking pusingnya."

Ryul terkekeh pelan, lalu mengecup pundak Ohyul. "Namanya juga orang tua, Pah. Capeknya dapet, pegelnya dapet, tapi bahagianya ya nggak ada lawannya. Besok siap-siap ya, kayaknya bakal lebih chaos lagi."

"Diem lu, Mas. Jangan sekate-kate kalo ngomong," sahut Ohyul sambil nyenderin kepalanya ke bahu Ryul.