Work Text:
Dingin Paris tak ada artinya dibandingkan dinginnya sisi tempat tidur Geonwoo yang kosong.
Geonwoo membiarkan tubuhnya jatuh ke tepi kasur hotel, dasi masih menjuntai longgar di leher. Jas hujan tebal yang dikenakan sepanjang hari terlempar sembarangan di kursi dekat jendela. Mata Geonwoo terasa berat, efek lelah karena perjalanan bisnis selama empat hari yang memang selalu menguras tenaga, tapi pikirannya tak bisa beristirahat. Masih melayang melewati lautan, tertuju pada seseorang.
He Xinlong.
Namanya saja sudah cukup membuat sudut bibir Geonwoo terangkat. Manusia paling menggemaskan yang pernah Geonwoo temui seumur hidup. Dan sialnya, pekerjaan memaksa Geonwoo harus merelakan beberapa hari dalam hidupnya tanpa sang kekasih.
Geonwoo menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar yang asing. Lampu kristal di atasnya memantulkan cahaya temaram, menciptakan pola-pola aneh di dinding bercat putih gading. Di luar, Paris sedang diselimuti rintik hujan. Geonwoo bisa mendengar suara tetesan air membentur kaca jendela, berpadu dengan deru angin yang menyusup lewat celah-celah. Kota cahaya itu terasa dingin dan hampa tanpa Xinlong di sisinya.
Pagi hari sebelum berangkat, Geonwoo masih bergulat dengan kopi hitam yang pahit, matanya terus menatap koper yang dikemas dengan asal di tengah ruang tamu, tergeletak seperti sebuah rongsokan. Leo, kakaknya yang menyebalkan itu duduk santai di sofa dengan tangan terlipat, senyum puas mengembang di wajahnya.
"Coba saja kabur kali ini. Aku akan membuat Sangwon memonopoli Xinlong darimu selama seminggu. Kau tau kan itu keahlian Sangwon?"
Geonwoo hampir saja melempar sendok ke kepala kakaknya itu, ancaman itu terlalu ampuh untuknya. Sangwon, pacar kakaknya, memang tipe orang yang mudah bergaul. Bisa-bisa Xinlong akan lupa dengan dirinya jika Sangwon terus menempel pada Xinlong selama seminggu. Jadi dengan setengah hati, Geonwoo menggenggam erat gagang koper dan melangkah keluar rumah.
Dan sekarang, di sini Geonwoo berada. Satu-satunya kehidupan di kamar hotel mewah yang terasa kosong, lebih dingin daripada udara Paris malam ini.
Ponsel di sampingnya bergetar, menerangi seprai putih dengan cahaya redup. Geonwoo meraihnya, dan senyum langsung mengembang begitu melihat nama yang tertera.
Xiaolong Bao♡
Kak, aku sedang jalan-jalan bersama Hao ge dan Anxin!
Mereka mengajakku makan es krim, padahal di sini dingin -_-
Geonwoo tersenyum, membayangkan ekspresi Xinlong saat mengetik pesan itu, bibirnya berkerut, alisnya tertarik, tapi mata bak kucing dengan lingkaran hitam bulat itu akan tetap berbinar karena diajak keluar. Geonwoo membalas dengan cepat.
Jangan terlalu banyak, nanti sakit perut.
Berikan aku fotomu, aku belum melihatmu hari ini.
Dua menit kemudian, sebuah foto masuk.
Seketika itu juga, untuk sesaat Geonwoo lupa cara bernapas.
Di foto itu, Xinlong terlihat begitu mempesona. Wajahnya dekat dengan kamera, pipi putihnya sedikit menggembung, mungkin karena kedinginan atau baru saja mengeluh pada Jiahao dan Anxin. Mantel tebal berwarna hitam membungkus tubuh mungilnya, membuatnya tampak seperti boneka kucing kecil yang tersesat di tengah kota besar. Latar belakangnya sebuah bangunan, entah itu stasiun atau kafe yang mereka tuju, tapi yang pasti lampu di dalamnya memancarkan sinar hangat yang menerpa helaian rambut di dahinya. Pipinya merona dengan bibir tipis yang berwarna seperti buah jambu segar, menambah kesan lembut yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Cantik.
Xinlong cantik sekali.
Dan si cantik itu adalah milik Geonwoo.
Rasa rindu yang tadinya hanya menggelitik langsung berubah menjadi gelombang pasang yang menerjang dada. Geonwoo ingin mencubit pipi itu, ingin memeluk tubuh kecil yang terbungkus mantel tebal itu, ingin mengacak-acak rambutnya dan mendengar Xinlong tertawa kecil lalu menggerutu, "Kakak! Jangan isengin aku terus ih!" dengan nada manja yang selalu berhasil membuat hatinya meleleh.
Tanpa berpikir dua kali, jarinya sudah menekan tombol video call sebelum otaknya sempat memproses. Satu getaran, dua getaran. Geonwoo menahan napas, matanya terpaku pada layar yang masih gelap, berharap Xinlong akan segera mengangkatnya.
Tersambung.
Kini layar ponselnya dipenuhi wajah yang sejak padi pria itu rindukan.
Xinlong sedang berusaha menyembunyikan senyumnya, tapi ujung bibirnya sudah terangkat. Mata kucing dengan netra yang bulat itu berbinar, mirip seperti anak kecil yang mendapat kejutan. Di belakangnya, samar-samar terdengar suara pengumuman dari stasiun dalam bahasa Korea.
"Kak Geonwoo!" Suaranya itu menyambutnya dengan lembut, khas Xinlong sekali. "Kenapa tiba-tiba video call?"
Geonwoo menyandarkan ponsel di bantal, lalu menopang dagu sambil menatap layar dengan tatapan lekat. Matanya menyusuri setiap detail wajah Xinlong, dari alis yang sedikit terangkat, hidung dengan pucuk yang memerah menggemaskan, hingga bibir merah muda yang sedang membentuk senyum kecil. "Selesai lihat foto kamu. Cantik sekali, Xiaolong. Aku jadi tambah kangen."
Pipi Xinlong merona merah meski mantel tebal sudah menutupi setengah wajahnya. "Kak... jangan berbicara seperti itu. Hao ge dan Anxin ada di sebelah."
"Biarkan saja. Biar mereka tau kamu mempunyai pacar yang sedang kangen berat." Geonwoo tersenyum, matanya tak pernah lepas dari layar.
Xinlong menggeser posisi ponselnya, seolah mencoba menghilang dari tatapan Geonwoo yang terlalu intens. Namun karena berada di kereta, ruang geraknya terbatas. Geonwoo dapat melihat ujung telinga kecil itu ikut memanas, memerah seperti tomat kecil. Geonwoo tertawa pelan, merasa puas dengan reaksi Xinlong.
"Sedang di mana?" tanya Geonwoo, masih dengan nada menggoda namun matanya tetap fokus pada wajah sang kekasih.
"Di-di stasiun. Kami harus berganti kereta. Kakak sudah sampai di hotel?"
"Iya, baru tiba. Di sini sepi, dingin." Geonwoo menjeda, lalu menambahkan dengan suara lebih lembut, "Tidak ada kamu, aku merindukan Xiaolong baoku yang hangat."
Xinlong menggigit bibir bawahnya. Kebiasaan itu selalu membuat Geonwoo ingin menjulurkan tangan dan melepaskan gigitan itu dengan ibu jarinya. Geonwoo dapat membayangkan sensasi lembut bibir Xinlong di bawah sentuhannya, sesuatu yang terlalu jauh untuk diraih sekarang.
"Aku juga kangen kakak…" Bisik Xinlong pelan, nyaris seperti rahasia yang hanya boleh didengar Geonwoo. Suaranya hampir tertelan suara keramaian stasiun, namun Geonwoo bisa mendengarnya dengan jelas. Mata kucing yang cantik itu tampak sedikit berkaca-kaca, entah karena kedinginan atau karena emosi yang meluap.
Dan Geonwoo, pria dewasa berusia dua puluh tiga tahun yang biasanya pandai menggoda sang kekasih, mendadak kehilangan kata-kata. Hatinya menghangat, meleleh seperti mentega di wajan panas. Rasa rindu yang tadinya menggerogoti dada kini bercampur dengan rasa haru yang sulit dijelaskan.
"Bilang kepada Hao hyung suruh dia mengantarmu pulang sekarang."
"Eh? Tapi-"
"Bercanda." Geonwoo tersenyum tipis. "Andai saja Leo tidak menjebakku, mungkin kamu sudah aku culik ke sini. Aku masukkan ke dalam mantelku, agar kamu tidak kemana-mana."
Xinlong tertawa kecil. Tawanya pelan, seperti dering lonceng angin yang tertiup lembut. "Kakak aneh."
"Iya. Aneh karena kamu."
Hening beberapa detik. Di balik layar, Xinlong menunduk, ujung jarinya menyentuh layar ponsel seolah dapat merasakan wajah Geonwoo. Gerakan itu sederhana, namun membuat dada Geonwoo sesak. Di Paris, Geonwoo mengepalkan tangan di atas seprai, bermimpi andai saja kekuatan super seperti menembus benda atau teleportasi itu nyata, mungkin Geonwoo akan menggunakannya sekarang juga untuk menembus layar handphonenya dan menarik Xinlong ke dalam pelukannya.
"Xiaolong."
"Hmm?"
"Cepat pulang, lalu tidur yang cukup, jangan lupa makan."
"Iya, Kakak." Xinlong mengangguk patuh, namun sorot matanya masih menatap Geonwoo penuh kerinduan.
"Jangan cemberut. Itu membuatmu semakin menggemaskan, Anxin akan mencubit pipimu lagi hingga bengkak seperti minggu lalu."
"Aku tidak!" Sanggahan itu terlalu cepat, tapi Geonwoo tahu betul kebiasaan milik sang kekasih. Geonwoo dapat membayangkan Xinlong menggembungkan pipi, bibir akan mengerucut lucu karena dituduh. Ekspresi itu selalu muncul setiap kali Xinlong merasa kesal.
"Lucu sekali."
"Kak Geonwoo!" Xinlong berteriak sepelan mungkin, namun senyumnya merekah lebar. Di belakangnya, seseorang, mungkin Jiahao, berseru memanggil namanya. Xinlong menoleh sebentar, lalu kembali menghadap layar. "Aku harus pergi, Kak. Keretanya sebentar lagi datang."
"Iya, hati-hati. Saat sudah sampai di rumah kabari aku."
"Siap, Kakak!" Xinlong memberi hormat kecil ala tentara, membuat pemuda kecil itu terlihat konyol sekaligus menggemaskan. "Kakak juga jaga Kesehatan, jangan cuma makan yang pedas-pedas! Kalau kakak jadi kurus, aku tidak mau diajak foto bersama."
Geonwoo tertawa. "Astaga, takut sekali aku."
"Harus!" Xinlong melambaikan tangan kecilnya. "Sampai jumpa, Kakak. Aku sayang Kakak."
Dan sebelum Geonwoo sempat membalas, panggilan berakhir. Layar ponsel kembali ke galeri foto, menunjukan foto Xinlong yang dikirim sebelumya masih terpajang, senyum manisnya membeku dalam bingkai digital.
Geonwoo menatap layar itu lama. Jarinya mengusap lembut wajah Xinlong di foto, seolah dapat merasakan kehangatan sang kekasih. Geonwoo menghela napas panjang, lalu berbaring telentang di atas kasur yang terlalu besar untuk satu orang, kasur mewah ini tak sebanding dengan kasur di apartement Xinlong terasa lebih nyaman, entah memang karena kasurnya, atau karena kehadiran pemuda cantik itu.
Masih dingin, masih sepi. Namun di dalam dada Geonwoo, ada kehangatan yang ditinggalkan oleh senyuman dan tawa kecil dari seseorang di seberang lautan. Rindu itu masih ada, namun kini bercampur dengan rasa syukur yang dalam.
Xinlong memang manusia paling menggemaskan yang pernah Geonwoo temui. Dan jarak sejauh apapun tak akan pernah cukup untuk membuat Geonwoo berhenti jatuh cinta padanya.
Ponselnya bergetar lagi. Sebuah pesan masuk dari Xinlong.
Xiaolong Bao♡
Kak, aku sudah sampai rumah!
Hao ge mengantar sampai depan. Katanya, "Bilang ke pacarmu, jangan cemburu." Padahal kalian kan saling kenal?
Geonwoo tersenyum gemas. Tanpa Geonwoo sadari, jarinya bergerak begitu cepat, tak ingin membuat sang kekasih menunggu balasan terlalu lama.
Dia tau aku tipe yang mudah cemburu.
Mandi air hangat, Long bao.
Iya, Kakak. Kamu juga, dan jangan tidur terlalu malam!
Oh iya, aku akan kirim sesuatu. Coba kakak buka, semoga kakak suka^^
Beberapa detik kemudian, sebuah video pendek masuk. Xinlong merekam dirinya sendiri di sebuah taman, masih dengan mantel hitam yang sama. Rambutnya sedikit berantakan terkena hembusan angin, namun senyumnya merekah lebar.
"Kak, ini untukmu. Agar tidak terlalu kesepian di Paris." Mata kucing itu berkedip lucu, lalu mengirimkan ciuman jarak jauh ke arah kamera. "Selamat malam, Kakak. Mimpi indah, aku sayang Kakak."
Video berakhir. Namun Geonwoo tetap memutarnya lagi, lagi dan lagi. Hingga video itu terasa tak berujung.
Sialan, Geonwoo semakin ingin pulang lebih awal, persetan dengan Leo dan segala ancamannya. Xinlongnya lebih penting.
Tiga hari kemudian, Geonwoo tiba di Bandara Incheon dengan koper yang lebih ringan dan hati yang melompat kegirangan. Perjalanan bisnisnya selesai lebih cepat dari jadwal, dan Geonwoo berhasil mendapatkan tiket penerbangan lebih awal tanpa memberi tahu Xinlong, bahkan Leo. Hanya satu orang yang tahu tentang kepulangannya.
Pesawat mendarat pukul sembilan malam. Geonwoo melangkah keluar dari area kedatangan dengan mantel panjang abu-abu, dasi yang sudah dilonggar, dengan koper yang digenggam erat. Matanya menyapu kerumunan penjemput, mencari satu sosok yang selama ini menghantuinya.
Dan di sanalah dia.
Xinlong berdiri di antara kerumunan, mengenakan kemeja biru laut yang kebesaran, itu kemeja milik Geonwoo yang diam-diam Xinlong ambil sebelum Geonwoo berangkat. Rambut coklatnya terlihat lembut, sedikit berantakan terkena angin bandara. Di tangannya, pemuda berparas kucing itu memegang secangkir kopi dari cafe favorit Geonwoo.
Tak lama kemudian, mata mereka bertemu.
Xinlong membeku sejenak, tak percaya apa yang dilihatnya, mengingat Jiahao menyuruhnya datang untuk meminta tolong Xinlong menjemput temannya, tapi Xinlong tak menyangka yang dimaksud oleh Jiahao adalah kekasih yang dirindukannya, Geonwoo. Senyumnya merekah, lebih cerah dari lampu bandara, lebih hangat dari secangkir kopi di tangannya. Pemuda cantik itu berlari kecil menghampiri, hampir menumpahkan kopi karena terlalu senang melihat sang kekasih.
"Kak Geonwoo!"
Geonwoo melepas koper di genggamannya dan membuka kedua lengannya lebar-lebar. Tubuh kecil itu langsung masuk ke dalam pelukannya, dan dunia Geonwoo terasa lengkap kembali. Geonwoo membenamkan wajahnya di rambut Xinlong, menghirup aroma familiar yang selama ini pria tinggi itu rindukan. Tangannya melingkar erat di pinggang kecil itu, menariknya semakin dekat.
"Kakak, aku kangen sekali." Bisik Xinlong di dadanya, suaranya teredam namun terdengar penuh emosi yang meluap.
Geonwoo mengangguk, tak dapat berkata-kata. Geonwoo hanya memeluk lebih erat, merasakan kehangatan yang selama ini hilang dari sisi tempat tidurnya. Dingin Paris tak ada artinya dibandingkan hangatnya Xinlong dalam pelukannya.
"Kamu tidak bilang-bilang akan pulang!" Protes Xinlong setelah akhirnya melepaskan pelukan, meski tangannya masih menggenggam erat jari Geonwoo. Matanya sedikit berkaca-kaca, namun senyumnya tak pernah pudar.
"Kejutan." Geonwoo tersenyum, mengusap lembut pipi Xinlong dengan ibu jarinya. "Aku ingin lihat reaksimu. Hao hyung yang menyarankan ide ini."
Xinlong cemberut, namun matanya berbinar. "Kalian jahat."
"Marah saja ke Hao hyung, aku cuma mengikuti rencananya." Geonwoo mengecup keningnya lembut. "Ayo pulang. Aku mau tidur ditemani kamu."
"Kak!" Xinlong memukul lengannya pelan, tapi tangan kecil itu tetap menggenggam erat jari Geonwoo yang lebih besar.
Mereka berjalan berdampingan meninggalkan bandara, dengan tangan saling bertaut, hati penuh kehangatan. Di luar, langit Seoul sedang mendung, namun bagi Geonwoo, matahari sedang bersinar terang.
Mereka tiba di apartemen Geonwoo sekitar pukul setengah sepuluh malam. Xinlong segera berlari menuju kamar mandi untuk mandi air hangat, sementara Geonwoo merapikan koper dan meletakkan oleh-oleh di meja makan. Ada beberapa box makaron dari café yang terkenal di Paris, sebotol wine merah yang Geonwoo beli khusus untuk Leo, dan sebuah kotak beludru biru yang pria itu sembunyikan di dalam saku jas.
Ketika Xinlong keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan piyama bertudung beruang, Geonwoo sudah duduk di tepi ranjang dengan handuk kecil di tangannya.
"Kesini." Geonwoo menepuk tempat di depannya.
Xinlong mendekat dengan patuh, duduk bersila di lantai di antara kaki Geonwoo. Yang lebih tua mulai mengeringkan rambut Xinlong dengan lembut, jari-jarinya menyisir helai demi helai dengan penuh perhatian. Suasana hening, tapi anehnya keheningan itu terasa hangat. keheningan yang berbicara lebih banyak daripada seribu kata.
"Kak." Xinlong memecah keheningan, suaranya terdengar mengantuk.
"Hm?"
"Kamu akan pergi lagi kapan?"
Geonwoo menghentikan gerakan tangannya sejenak. "Dua minggu lagi, ke Jepang. Hanya tiga hari."
Xinlong tak menjawab, namun bahunya turun naik pelan. Xinlong sedang menghela napas.
"Hei." Geonwoo membalikkan badan Xinlong hingga mereka berhadapan. Geonwoo mennagkup wajah mungil itu dengan lembut, memaksa dengan lembut agar Xinlong menatapnya. "Tidak peduli sejauh apa aku pergi, aku akan selalu pulang kepadamu. Mengerti?"
Xinlong mengangguk pelan, namun matanya masih sayu.
"Lagipula." Geonwoo tersenyum nakal, "Kalau kamu kangen, kamu bisa menghubungiku kapan saja. Meskipun aku sedang rapat penting sekalipun."
"Benarkah?" Xinlong memicing curiga. "Kemarin kamu tidak mengangkat teleponku."
Geonwoo terbahak. "Itu karena aku sedang presentasi di depan para petinggi perusahaan. Kamu tahu berapa lama aku menahan diri untuk tidak langsung mengangkatnya?"
"Berapa lama?"
"Tiga jam. Dan aku gagal total dalam presentasi itu karena pikiranku terus tertuju padamu." Geonwoo mencubit hidung Xinlong gemas. "Untung kliennya masih setuju untuk kerja sama. Mungkin mereka kasihan melihat wajah tampan ini sedih karena merindukan kekasihnya."
Xinlong tertawa, tawa yang hangat, mengusir sisa-sisa kesedihan dari raut wajah cantik itu. Geonwoo memandangnya dengan takjub, bagaimana bisa manusia ini mengubah seluruh suasana hatinya hanya dengan sebuah tawa?
"Xinlong, aku sayang kamu." Ucap Geonwoo tiba-tiba, nadanya terdengar serius, tak ada kejahilan atau godaan pada nadanya.
Xinlong berhenti tertawa. Mata kucingnya sesaat melebar, lalu bercak merah mulai merayap di pipinya. "Kak..."
"Aku sayang kamu." Geonwoo mengulang perkataannya, lebih tegas. "Aku tidak tahu apakah kamu bosan mendengarnya, tapi aku ingin kamu tau. Setiap kali aku melihat fotomu, setiap kali aku mendengar suaramu, setiap kali aku memikirkanmu, aku sadar bahwa aku tidak bisa hidup tanpamu. Kamu mengerti, Xinlong? Kamu adalah rumahku."
Xinlong menunduk, bahunya bergetar pelan. Geonwoo mengangkat wajahnya dengan hati-hati, dan melihat genangan air di sudut mata kekasihnya. Jari besarnya menyeka butiran bening itu dengan ibu jari, lembut, penuh kasih.
"Long bao, Kenapa menangis?"
"Karena kakak membuatku Bahagia…" Isak Xinlong, senyum terlukis di wajah cantik itu. "Aku juga sayang kakak. Sangat sayang."
Geonwoo menariknya ke dalam pelukan, membiarkan Xinlong terisak kecil di dadanya. Tangannya membelai punggung kecil itu dengan lembut, menenangkan. Di luar, hujan mulai turun lagi, tapi di dalam kamar ini, hanya ada kehangatan.
Malam itu, Geonwoo akhirnya tak merasakan kekosongan lagi, tubuh Xinlong meringkuk di pelukan Geonwoo seperti kucing kecil yang mencari kehangatan. Dan Geonwoo tak bisa berhenti mencium puncak kepala sang kekasih, menghirup aroma sampo yang samar.
"Xiaolong."
"Hm?" Xinlong sudah setengah tertidur.
"Aku punya sesuatu untukmu."
Xinlong membuka mata, menatap Geonwoo dengan bingung. Geonwoo meraih kotak beludru biru dari nakas, lalu menyodorkannya pada Xinlong.
"Apa ini?" Xinlong duduk, menerima kotak itu dengan ragu. Pemuda cantik itu membukanya pelan-pelan, dan begitu kotak itu telah terbuka sempurna, mata kucingnya menatap Geonwoo dengan pandangan tak percaya.
Di dalam kotak itu, sepasang cicin berbentuk seperti tanaman rambat yang saling melilit satu sama lain, di dalam setiap cincin, terukir namanya dan Geonwoo.
"Ini..."
"Aku sudah bilang kamu adalah rumahku, kan?" Geonwoo tersenyum lembut. "Di mana pun kamu berada, aku akan selalu bersamamu."
Xinlong menangis lagi. Kali ini bahkan tak bisa berhenti, pemuda cantik itu hanya bisa memeluk Geonwoo erat-erat, wajah cantiknya dibenamkan ke leher kekasihnya. "Kakak ngeselin... kenapa kakak suka bikin aku nangis..."
"Maaf." Geonwoo tertawa pelan, tangan besarnya tetap membelai rambut Xinlong dengan lembut. "Tapi dalam tangismu pun kamu tetap cantik, ya."
"Kakak!"
"Oke, oke. Aku diam."
Xinlong tak benar-benar marah. Setelah beberapa saat, Xinlong mulai tenang sehingga melepaskan diri dari pelukan sang kekasih, lalu membiarkan Geonwoo memasangkan cincin itu di jari manisnya. Cicin berbentuk lilitan tak berujung itu terpasang cantik di jari manisnya, berkilau samar dalam cahaya lampu kamar. Dan Xinlong juga melakukan hal yang sama pada Geonwoo, saat kedua cincin itu telah terpasang di jari masing-masing, mereka menatapnya dengan senyum yang mengembang begitu saja. Geonwoo menggerakan jarinya untuk menggenggam tangan mungil sang kekasih.
"Cocok sekali." Bisik Geonwoo, hampir seperti berkata pada dirinya sendiri. "Cantik."
Xinlong tersipu, tapi Xinlong tak lagi menyembunyikan wajahnya. Pemuda cantik itu menatap Geonwoo dengan mata yang masih basah namun penuh cinta. "Aku tidak akan melepas ini. Sampai kapan pun."
"Aku tahu." Geonwoo mengusap pipinya. "Sekarang tidur, kita perlu energi untuk berkencan seharian besok."
"Iya, Kakak."
Mereka berbaring lagi, Xinlong kembali meringkuk ke dalam pelukan Geonwoo. Kali ini, sebelum tidur, Xinlong berbisik, "Kak."
"Hm?"
"Terimakasih."
Geonwoo tersenyum dalam gelap. Geonwoo mengecup puncak kepala Xinlong sekali lagi. "Ini bayaran yang sepadan karena kamu harus menghabiskan seluruh hidupmu di sisiku.”
Di luar, hujan mulai reda. Paris mungkin masih dingin dan asing, tapi di Seoul, di apartemen ini, di ranjang yang hangat, Geonwoo akhirnya menemukan apa yang selama ini pria itu cari.
Rumah.
Dan rumah itu kini tertidur lelap di pelukannya, dengan cincin kecil berkilau di jari manisnya, menggenggam erat jari manis dari seseorang yang Geonwoo paling cintai.
