Work Text:
1 jam berlalu sejak mereka sampai di asrama setelah melakukan live streaming tadi sore, kini seluruh anggota sedang bersantai untuk melepas penat.
"aku ke kamar dulu, ya," pamit seonghyeon di tengah film yang masih berlangsung.
keempat lainnya menoleh.
"dia masih ngambek?" tanya martin.
keonho melirik martin sinis. tanpa banyak bicara, dirinya langsung pergi ke kamar untuk menyusul seonghyeon.
james bingung. "kenapa deh? kalian berantem beneran?"
martin menanggapi dengan gelengan. "emang mereka nganggep bercandaan tadi beneran?"
juhoon menghela napas lelah.
di dalam kamar, seonghyeon sudah menutup diri dengan selimut—mengantuk berat setelah berdebat dengan keonho selama live.
"seonghyeon."
yang dipanggil tidak menyaut.
"eom seonghyeon, jawab. aku tau kamu belum tidur."
"apa."
"aku cemburu."
seonghyeon menyibak selimut, alisnya terangkat bingung.
"kamu dan martin hyung nempel terus selama live."
"terus kenapa? hak kamu apa ngelarang aku interaksi sama dia? aku juga masih marah ke kamu ya gara-gara sepanjang live kamu ledekin terus."
"aku ledekin terus karena reaksi kamu lucu."
"ya udah. impas kan?"
"gak ada yang bilang kita impas. padahal aku udah sering kasih kode kalo aku gak suka interaksi kamu sama martin hyung, kenapa kamu gak peka?"
"keonho, dia anggota grup kita. kamu cemburu cuma gara-gara itu? kamu udah 17 tahun, tolong dewasa sedikit."
"tetep aja aku gak suka."
seonghyeon malas menanggapi tingkah kekanakan keonho. dirinya kembali menutupi diri dengan selimut hingga hanya ujung kepalanya saja yang terlihat.
keonho mengusak rambutnya kasar.
hampir 10 menit berdiri tanpa melakukan apa-apa membuat ia akhirnya sadar dengan apa yang baru saja terjadi.
keonho sadar tingkahnya barusan terlalu kekanakan. ia bahkan tidak menyangka akan berada di tahap cemburu kepada anggotanya sendiri hanya karena teman seumurannya berinteraksi selayaknya.
keonho yakin fans pasti menyadari tingkah cemburunya terhadap interaksi seonghyeon dan martin tadi.
"seonghyeon," panggil keonho pelan seraya mendekati ranjang.
suara dengkuran halus menjawab keonho—seonghyeon sudah terlelap dalam mimpinya.
keonho naik ke atas ranjang dan memeluk seonghyeon dari belakang. selimut yang seonghyeon kenakan ia turunkan sebatas leher agar temannya itu tidak sesak.
"maafin aku, ya," bisiknya di tengkuk yang lebih tua dengan lembut. tangannya melingkar di perut seonghyeon, dan ia pun ikut tertidur.
keesokan paginya, seonghyeon terbangun begitu mendapati ranjangnya sempit—dan ada tangan besar yang masih memeluknya dengan erat.
seonghyeon menoleh, menemukan keonho yang masih memejamkan mata dengan bibir sedikit terbuka.
seonghyeon melepas pelukan keonho dan beranjak untuk mandi. sebelum keluar kamar, ia menyempatkan diri untuk menutupi tubuh keonho dengan selimut karena anak itu tidak memakai selimut semalaman.
melewati ruang tengah, terdapat juhoon dan martin yang sedang mengobrol.
"pagi, kamu masih ngambek?" sapa martin to the point.
"enggak. buat apa aku ngambek lama-lama, emang keonho."
"bilangnya udah gak ngambek tapi nada ngomongnya masih ketus gitu," gumam martin begitu seonghyeon sudah masuk ke dalam kamar mandi.
di sisi lain, keonho mulai bangun. ia beranjak mencari keberadaan seonghyeon yang hilang dari dekapannya.
di ruang tengah tersisa juhoon karena martin menghampiri james di kamarnya.
"seonghyeon mana?"
juhoon menoleh. "mandi."
"oke."
"kalian tidur seranjang tadi malem?" tanya juhoon memastikan setelah martin bercerita mengenai dua sejoli itu semalam.
keonho duduk di sebelah juhoon, tangannya menggapai keripik di atas meja seraya menjawab, "ya."
juhoon angguk-angguk paham.
15 menit menunggu, seonghyeon akhirnya selesai dengan ritual mandinya.
keonho kembali mengikuti langkah seonghyeon masuk kamar.
"kenapa lagi?" tanya seonghyeon lelah dengan tingkah keonho.
"maaf."
"untuk?"
"semalam."
"buat apa minta maaf kalo kamu terus ngulang kesalahan yang sama?"
seonghyeon duduk di tepi ranjang seraya menatap keonho yang memelas.
remaja kelahiran valentine itu berlutut di depan seonghyeon seraya menggenggam tangannya, "maafff.."
seonghyeon menepis pelan tangan keonho, membuat si korban sedikit melotot karena kaget.
"kamu masih marah?"
"iya."
"aku udah minta maaf..."
"kenapa kamu bandel banget sih, ahn? kamu makin nakal akhir-akhir ini, kamu pikir gak ada yang sadar tentang itu?"
keonho menunduk dalam, sadar 100% akan kesalahannya belakangan ini.
melihat bahu keonho yang sedikit bergetar membuat seonghyeon menghela napas kasar.
"gak usah nangis."
terlambat. karena begitu kepala keonho mendongak, pipinya sudah basah oleh air mata.
"maaf..." suaranya serak karena isak tangis.
"jangan cuma minta maaf ke aku, minta maaf ke hyung yang lain juga," tegas seonghyeon. walau termasuk anggota termuda, namun jiwa anak sulungnya tetap ada.
"i-iya..."
"sini." seonghyeon membuka lengannya lebar.
ia jarang marah besar, hanya saja kelakuan keonho memang sudah melampaui batas kesabarannya. meskipun begitu, ia juga tidak tega melihat keonho yang biasanya ceria kini justru menangis karena dirinya.
keonho langsung berhambur ke pelukan yang lebih tua. wajahnya bersembunyi di ceruk leher seonghyeon.
selagi keduanya asik berpelukan, 3 kakak mereka menguping di balik dinding kamar.
"kayaknya keonho beneran cuma nurut ke seonghyeon deh," celetuk martin.
"ayo ke depan lagi, kasih mereka ruang biar ngobrol lebih banyak," ajak james pada martin dan juhoon.
kembali ke dua termuda.
"seonghyeon."
"hm?"
"mau cium."
seonghyeon refleks mendorong bahu keonho agar memberi jarak di antara mereka.
"gak."
"pleaseee... ciumm! aku mau ciumann!"
keonho merengek seraya mengusap bekas air matanya.
"aduh, berisik. cium aja sana boneka anjingmu itu."
"gak mauuu! aku maunya cium kamu..."
seonghyeon memutar bola mata malas, lalu menyodorkan pipi kanannya secara rela tidak rela.
"buruan."
"gak mau pipii!"
"ya Tuhan. banyak mau ya kamu."
meskipun sedikit mendumel, namun tangan seonghyeon tetap menarik rahang keonho dan menempelkan bibir mereka.
keonho tersenyum senang. tangannya terangkat untuk menahan sisi wajah seonghyeon agar tetap di posisinya.
keduanya berciuman cukup lama, sebab ketika seonghyeon hendak mundur, tangan keonho beralih menahan tengkuknya dan memperdalam ciuman mereka.
"eumhh!" seonghyeon memukul bahu keonho kencang.
bibir keduanya mengkilap dengan sisa saliva yang menjuntai.
"gila ya kamu? bibir aku bengkak!"
"enggak. bibir kamu makin seksi."
"bocah gak jelas." seonghyeon mengambil kaca di atas nakas dan melihat penampilannya.
"masih cantik kok."
"orang gila. aku cabut hak bicara kamu," ketus seonghyeon.
"mukamu merah sampe telinga tuh," goda keonho.
"ahn keonho stop ngeselin!" seonghyeon melempar bantal di sampingnya tepat ke wajah tampan yang lebih muda.
"aduh! hey, sakit loh."
"biarin! sana keluar!" usir seonghyeon sedikit menendang betis keonho agar beranjak dari atas ranjangnya.
"jangan galak-galak gitu, kamu makin lucu soalnya."
"ahn keonho!"
"iya maaf!" keonho langsung lari keluar kamar menghindari lemparan barang dari seonghyeon.
tawa tengil keonho terdengar menyebalkan di telinga seonghyeon yang semakin memerah karena malu.
