Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-03-05
Words:
6,297
Chapters:
1/1
Comments:
8
Kudos:
172
Bookmarks:
17
Hits:
3,338

the end of love. mahae ver

Summary:

Mereka bahkan tidak tau sejak kapan dan mengapa semua kebahagiaan itu mulai pudar.

Lalu Haechan yang meninggalkan rumah. Itu hanya berselang dua hari setelah pertengkaran terakhir mereka dan setelahnya satu-satunya pesan yang diterima Mark adalah tentang perceraian mereka.

Mark mau tidak mau menyanggupi.

Notes:

ex to lovers. local settings. fluff with slight angst. 6k words written in bahasa.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

 

“Are you for real?”

 

 

Mendengar itu, Haechan menghela napas sebelum membalikkan tubuhnya untuk menatap laki-laki yang tengah terduduk di balik meja jati—di balik singgasananya. Alih-alih menumpahkan emosi yang diam-diam membuat hatinya meradang, dia malah memaksakan senyum ceria sebagai balasan ucapan bernada tinggi Mark.

 

“Mhm,” jawab Haechan, masih dengan senyum melekat pada wajah. Tungkai panjangnya membawa tubuhnya mendekati meja kerja Mark lalu berhenti tepat ketika ujung sepatunya menyentuh meja. “Aku gak mau orang-orang tau kalau kita mau pisah. It’s embarrassing.”

 

Alis Mark yang semula menukik kini melemas, wajahnya yang semula terlihat jengkel berubah menjadi menjengkelkan. Haechan merasa kesabarannya hanya berada satu langkah dari keinginannya untuk membenturkan wajah tampan itu ke permukaan meja yang penuh kertas.

 

 

“Kenapa harus malu? Bukannya kemarin kamu yang minta?”

 

Sialan lo Mark.

 

Laki-laki yang berdiri itu menggigit pipi dalamnya. Jika diibaratkan benda, rasanya Haechan adalah lava gunung berapi. Dia ingin sekali berteriak di depan wajah congkak Mark dan menghantamkan vas bunga ke kepalanya. Atau mungkin melemparnya dari puncak gedung empat puluh lantai ini.

 

“Kak, come on. Ini bukan waktunya ngungkit masa-masa jelek,” sangkal Haechan. Masih mempertahankan keceriaan demi mendapat persetujuan dari Mark —calon mantan suaminya.

 

 

Calon mantan suami.

 

 

Itu sebenarnya bukanlah kisah yang manis untuk diceritakan kembali. Namun menilik kembali ke beberapa tahun silam, Mark dan Haechan adalah high-school lovebirds, lalu menjadi college-lovers dan keberuntungan sempat berpihak pada mereka. Hubungan tujuh tahun itu berujung di altar dengan berbalasan “yes, I do” yang penuh cinta. Pernikahan itu berjalan dengan penuh senyum dan tawa, puluhan i love you dan i miss you hanya dengan dua jam berpisah, seks tiga kali sehari dan segala hal romantis yang dapat seseorang imajinasikan.

 

It felt magical, for both of them. But it only lasted for two years.

 

Memasuki tahun ketiga, keduanya menyadari bahwa untuk satu tahun terakhir, semuanya mulai berbeda. Manis yang dirasa mulai menjadi sepah dan yang semula pelangi menjadi hitam putih. Sudut-sudut rumah yang biasanya diisi tawa dan pernyataan cinta digantikan kalimat penuh amarah. Mereka berubah dan mulai menyalahkan satu sama lain bahkan atas hal kecil.

 

“Mungkin kalau kamu nutup pintu toilet kalau habis pakai…”

 

“Mungkin kalau kamu gak telfon aku terus tiap aku rapat…”

 

“Mungkin kalau kamu kabarin tiap mau lembur dan pulang telat…”

 

Itu hanya segelintir dari banyaknya argumen-argumen yang berujung dengan Mark meninggalkan rumah dan Haechan menangis di kamarnya. Saat itu, keduanya masih berpikir bahwa semuanya bisa dipertahankan. Saat itu, keduanya masih memiliki niat untuk memungut sisa-sisa kehangatan yang mungkin masih ada. Saat itu, keduanya masih naif.

 

Haechan lah yang pertama merasa lelah.

 

“Kita… masih bisa diselamatin gak sih, Kak?”

 

Malam itu hari Kamis jam sepuluh. Keduanya duduk saling membelakangi di atas ranjang. Mark dengan wajah merah padam dan napas memburu penuh emosi sedangkan Haechan dengan mata berair dan bibir bergetar.

 

Yang lima menit lalu terjadi bukan hal besar. Hanya pertengkaran seperti hari lain, namun sepertinya kali ini dengan ujung yang berbeda. Salah satunya merasa bahwa yang terjadi selama ini sudah cukup membuat hatinya berantakan dan kepalanya pusing. Dia merasa lelah karena harus selalu mengulur waktu dengan berkata “it’s okay, ini cuma sebuah fase,” atau “satu hari lagi, dan mungkin besok dia berubah,” atau kalimat omong kosong berbalut penenang lainnya.

 

“I’ve had enough—no, we’ve had enough.”

 

Dalam banyaknya tahun bersama, saat itu adalah satu-satunya dimana mereka berdua terlihat menyedihkan. Keduanya mungkin terlihat bahagia dengan rumah mewah, pekerjaan menjanjikan, finansial stabil dan pasangan yang sempurna. They were perfect, or at least that’s what people thought. Bagi mereka, satu tahun terakhir bagai menjalani hidup di neraka. Mereka bahkan tidak tau sejak kapan dan mengapa semua kebahagiaan itu mulai pudar.

 

Lalu Haechan yang meninggalkan rumah. Itu hanya berselang dua hari setelah pertengkaran terakhir mereka dan setelahnya satu-satunya pesan yang diterima Mark adalah tentang perceraian mereka. Mark mau tidak mau menyanggupi. Laki-laki itu pikir, tidak berguna mempertahankan seseorang yang memang tidak mau ditahan.

 

Itu semua terjadi satu bulan yang lalu. Mengingat masa itu memang membuat situasi sekarang terasa seperti lelucon; Haechan memohon kepada Mark untuk datang dengannya di pesta reuni SMA. Dimana saat SMA adalah saat mereka menjadi highschool sweethearts, dan semua orang ikut bahagia saat mengetahui mereka menjalin kasih.

 

“Haechan, dua hari di Bali itu nggak sebentar. Plus harus berangkat bareng dan belum lagi pulangnya. That would be four days.” Mark menegakkan duduknya, tangannya masih memegang undangan serta rundown acara yang diberikan panitia. “Kita harus ngapain? Pura-pura bahagia di depan banyak orang? Sejak kapan kamu jadi people pleaser begini?”

 

Sejak lo bikin gue ngerasa gue gak pernah cukup, Mark brengsek.

 

“Aku cuma gak mau orang-orang tau dulu…” cicit Haechan. Jujur, untuk pergi kesini saja butuh satu jam mengumpulkan keberanian dan diintimidasi segininya dengan Mark bukan salah satu yang Haechan harapkan. “Lagian bisa pulang pisah. Cuma tiga, then.”

 

“Kak, please?” Haechan melanjutkan dan mulai terdengar putus asa. Dia bisa jadi datang kesini dengan keberanian dan tekad yang luar biasa meledak-ledak, namun pada akhirnya dia tidak ubahnya seekor kucing kecil di depan Mark. Selalu seperti itu.

 

Mark memejamkan mata, menghela napas lalu menyenderkan punggungnya pasrah. Satu bulan berlalu dan Haechan yang memohon ternyata masih berhasil menggoyahkan prinsipnya yang—biasanya—kokoh.

 

“Fine. Cuma dua hari di Bali, nothing could go wrong, right?”

 

Mungkin umumnya manusia masih bergelung di balik selimut tebal mereka pada jam tujuh pagi di hari Minggu. Lain halnya dengan Mark dan Haechan yang kini sudah terduduk berdampingan di bangku pesawat.

 

Mereka boleh saja sudah bersama sejak di ruang tunggu dua jam yang lalu, namun keduanya tampak enggan memulai percakapan. Belum ada siapa-siapa di sini jadi mereka pikir tidak penting untuk berbicara—lakon belum harus dimulai.

 

Setelah dua puluh menit persiapan dan boarding, pilot menginformasikan bahwa pesawat akan segera lepas landas. Beberapa orang yang bosan menunggu mungkin akan merasa lega, namun beda dengan Haechan yang kini menegang. Ini memang bukan penerbangan pertama atau keduanya, namun rasa takutnya setiap harus bepergian dengan pesawat masih berhasil mengambil alih kontrol dirinya.

 

Critical eleven selalu menjadi ketakutan Haechan. Bukan yang pertama, namun masih ada di list teratas. Laki-laki itu tanpa sadar memejamkan matanya dan mengeratkan remasannya pada fabrik yang melekat di tubuhnya. Semakin kencang deru pesawat, semakin erat pula genggamannya.

 

It’s okay, Haechan. Lo akan mendarat dengan selamat di Bali. It’s okay.

 

Haechan sibuk menenangkan diri dalam hati, dia bahkan gagal menyadari ketika jemarinya dilingkupi jemari lain yang sedikit lebih besar. Yang dia sadari hanya talu jantungnya kini melambat dan akhirnya berangsur normal.

 

“Haechan, it’s okay. Cuma dua jam dan habis itu kita liburan di Bali. It’s okay.”

 

Menghabiskan banyak waktu bersama Haechan membuat Mark hapal di luar kepala kebiasaan serta tetek bengek laki-laki ini, tak terkecuali ketakutannya terhadap tiga menit pesawat lepas landas dan delapan menit sebelum pesawat mendarat. Dulu, mereka selalu berusaha untuk menghilangkan ketakutan Haechan akan hal itu. Satu-satunya cara hanyalah Mark yang menenangkannya, dan tampaknya hal itu masih bekerja sampai sekarang.

 

“Iya, Kak,” jawab Haechan pelan, telapak tangannya yang basah dia balik untuk balas menggenggam jemari Mark. Dia berusaha mencari keamanan di sana. Haechan sebetulnya tidak berharap banyak ketika melakukan itu, namun ternyata dia masih menemukannya pada Mark. Dia masih bisa menemukan keamanan pada calon mantan suaminya.

 

Tautan jemari itu bertahan delapan menit sebelum akhirnya Haechan yang lebih dahulu melepaskan. Mengundang tatap Mark yang oleh Haechan dibalas senyum kecil dengan satu makna di baliknya, sebuah “terima kasih” tanpa suara. Mark juga tersenyum, sebuah “sama-sama” yang tanpa suara. Bahkan dengan jarak yang jauh di antara mereka, keduanya masih bisa memahami satu sama lain, tanpa suara.

 

 

 

“Finally, bisa boboan!”

 

Betul kata orang, umur memang hanya sebatas angka formal yang hanya berguna untuk pendaftaran. Haechan boleh saja berusia dua enam tahun ini, namun jika orang-orang diberi tahu kalau laki-laki itu berusia dua belas, mungkin mereka akan percaya. Terbukti dengan tabiatnya yang mudah antusias bahkan dengan hal kecil.

 

Mark hanya terkekeh pelan ketika calon mantan suaminya itu menjatuhkan badannya pada ranjang resort yang dipesan atas nama mereka. Dia meletakkan barang-barangnya di sudut ruangan sebelum mengistirahatkan bokongnya pada permukaan ranjang.

 

“Yeah, finally,” sahut Mark kurang bertenaga. Dua jam di udara dan dua jam macet perjalanan sedikit banyak menguras energinya.

 

“Sisa hari ini free, Kak.” Haechan membalikkan badannya yang semula tengkurap. Pandangannya diarahkan menuju Mark yang masih terduduk dengan mata terpejam. “Kita gak harus mulai acting hari ini.”

 

Gumaman singkat adalah satu-satunya jawaban yang didapatkan Haechan. Mark tampak tidak tertarik dan Haechan manyun. Dia mengutuk dalam hati, benar-benar tidak ada yang bisa diharapkan dari Mark. Mark akan selalu menjadi Mark yang selalu lelah dan tidak bisa diajak bersenang-senang.

 

Cih, dasar jompo.

 

Lalu untuk tiga puluh menit selanjutnya, kesunyian yang mengambil alih. Bahkan deru angin yang masuk karena pintu balkon dibuka dan berisik televisi yang barusan Haechan nyalakan tidak banyak membantu. Mark sedari tadi sudah berpindah, berbaring di sofa panjang dengan ponselnya dan Haechan duduk di ranjang menatap televisi tanpa minat. Dia sangat-sangat-sangat ingin keluar dan jalan-jalan. Namun berada sendirian di luar sana dengan kemungkinan besar tersesat membuat nyalinya menciut. Tapi di sisi lain, mengajak Mark adalah hal terakhir yang akan dia lakukan.

 

“Haechan, berhenti ngeliatin aku sebelum mata kamu copot.”

 

 

Shit.

 

 

“Ew.” Haechan mengelak segera. Wajahnya terasa panas karena baru saja tertangkap basah setelah bolak-balik menatap mantan—belum resmi—nya. “Aku gak ngeliatin kamu. Stop ge-er.”

 

Mark tertawa mengejek dan Haechan melempar satu bantal ke arahnya.

 

Dengan dalih latihan-menjadi-pasangan-suami-yang-berbahagia, Mark dan Haechan akhirnya memutuskan untuk makan siang bersama setelah mempertimbangkan banyak hal. Pilihan mereka jatuh di sebuah warung sederhana di luar resort. Keputusan untuk makan di luar muncul dari sebuah teori 'perut aku mau makanan biasa dulu sebelum disuapin makanan resort' yang dicetuskan Mark.

 

“Ayam goreng satu pakai nasi putih, Pak,” pesan Haechan pada bapak-bapak berkumis yang adalah penjual. Sementara Mark sudah menyamankan diri di salah satu kursi yang kosong. “Satu lagi ayam bakar dada, nasinya jangan dikasih bawang goreng.”

 

Si bapak mengangguk lalu dengan sigap menyiapkan apa yang dibutuhkan, “Siap mas, silahkan duduk nanti saya antar.”

 

“Makasih, Pak.”

 

Setelah selesai dengan urusannya, Haechan menyusul Mark dan menempatkan dirinya di hadapan si cowok itu. “Aku udah pesenin ayam bakar, dada, no bawang goreng.”

 

“Jauh-jauh ke Bali makannya masih ayam bakar,” kata Mark diselingi kekehan ringan. “By the way, kamu masih inget ya. Kalau gini sih orang-orang bakal percaya aja kita masih bareng.”

 

Haechan memutar matanya malas. Terkadang Mark lebih baik tidak usah berbicara saja. “Kita pisah gak ada setahun, Kak. Sementara kita udah bareng for only-God-knows-how-long. Lebay.”

 

Mark tertawa sedikit lebih kencang. Dia setuju bahwa dia baru saja bertingkah lebay.

 

“Yeah, my bad,” jawab Mark setelah berhasil meredakan tawanya. Dia berdehem, mengambil napas panjang lalu melempar pertanyaan berikutnya, “Gimana kerjaan, Haechan?”

 

“Hmm—biasa aja, sih. Aku masih sibuk kaya biasanya, kadang-kadang lumayan bikin sakit kepala.” Haechan mengendikkan bahu, lalu melempar balik pertanyaan Mark. “Kalau kamu?”

 

“Jujur ninggalin kantor buat empat hari lumayan bikin deg-degan.” Mark menarik tangannya dari atas meja ketika seorang pelayan datang dan menaruh dua gelas es teh di hadapan mereka. “Meetings, tanda-tangan berkas ini itu, perjalanan bisnis and blah blah blah.“

 

Haechan tertawa kecil sembari mengaduk gula yang berkumpul di dasar gelas. Dia kemudian menyesap es tehnya pelan sebelum menjawab Mark, “but the money is good.“

 

“Yeah, money is good.“

 

“Don't overwork yourself, Kak,” kata Haechan, pelan namun Mark masih dapat mendengarnya dengan jelas. Pandangannya fokus ke gelas sembari jemarinya bermain dengan embun yang melekat di gelas. “Kebiasaan dari dulu, jarang istirahat. Maunya kerja, kerja, kerja terus.”

 

“Aku udah nggak gitu lagi, Haechan,” jawab Mark membela diri. Kebiasaannya yang satu itu dia sadari memang buruk, itu salah satu hal yang membuat dirinya kehilangan sosok di depannya. “You know, after—“

 

“Eh, itu makanan kita deh. Pinggir-pinggirin ih gelas sama dompet kamu.”

 

—after you left me, i'm trying to stop all of my bad habits that you've always hated.

 

Mark membuang napas pelan, menatap Haechan yang antusias dengan makanannya lalu tersenyum kecil.

 

“Makan yang banyak, Haechan.”

 

“Selamat makan, Kak.”

 

 –

 

Day One

 

 

“Inget, pegang tangan aku kek, rangkul pinggang aku kek, do whatever lovers do, oke?”

 

Ini terhitung kali kelima Haechan memperingatkan Mark yang kini mulai hapal dialog satu itu. Namun pada akhirnya dia akan mengangguk, berkata “iya, Haechan,” dan begitu lagi untuk seterusnya.

 

“Hari ini... ngumpul di lobby jam setengah sepuluh, naik bis bareng ke Jimbaran, lunch di sana...” Haechan mulai membacakan itinerary yang dipegangnya sementara Mark masih berbaring malas di sofa. Dia sudah mandi, tapi masih malas.

 

“Haechan, ini yang ikut reunian berapa orang sih?” Setelah sedari tadi iya-iya saja, Mark akhirnya bersuara. “Belum ketemu siapa-siapa deh dari kemarin.”

 

“Yang bisa cuma 12 kalau gak salah, kan reuni kelas aku sama kakak doang...” jawab Haechan sambil menerawang, nadanya seragu pandangannya. “Kayaknya sih dibagi ke resort lain juga.”

 

“Ah, i see.“

 

“Ya, Jeno sama Jaemin kayaknya di sini juga, aku liat Instagram storynya.”

 

“Haechan.”

 

“Iya?”

 

“Gimana kalau ciuman?”

 

Bola ping-pong mungkin akan kalah bulat dengan mata Haechan saat ini. Mark terlalu gamblang dan Haechan hampir tersedak liurnya sendiri.

 

“... sorry?“

 

“We're married. Orang kalau nikah terus ciuman tuh wajar, 'kan?” Tanya Mark. Sementara Haechan mulai terpikirkan seribu cara untuk membungkam mulut si mantan—dan hampir benar-benar melakukannya ketika Mark kembali membuka mulut untuk melanjutkan perkataannya, “kalau kita gak ciuman sama sekali, mungkin mereka bakal curiga.”

 

Tapi Haechan diam-diam menyetujui apa yang baru saja dituturkan Mark. Toh memang di antara pasangan menikah, ciuman itu sah-sah saja. Apalagi untuk pasangan yang terkenal suka menebar PDA seperti Mark dan Haechan.

 

“Ya, ya, terserah. Lakuin apa aja deh. Do what people in love do, Kak.“

 

But are we even in love, Haechan?

 

 

 

Pantai.

 

 

 

Baik Haechan dan Mark merupakan penyuka pantai. Alasannya sederhana, pantai itu luar biasa luas dan seperti tidak berujung. Untuk menemukan yang begini, Mark harus mengorbankan meeting bernilai ratusan juta dan Haechan bisa saja kecolongan jadwal operasi pasiennya.

 

Pantai itu luas. Ruangan kerja Mark tidak menyediakan ruangan seluas ini dan pemandangan sehari-harinya adalah gedung pencakar langit tetangga. Pantai itu tidak berujung, sementara yang disaksikan Haechan sehari-hari adalah ruang operasi, bau obat dan... pasien. Jadi jika hanya meeting ratusan juta atau kecolongan sedikit demi ini, Mark dan Haechan sanggup-sanggup saja.

 

Jadi ketika mereka turun dari bis dan disambut dengan pemandangan sebuah meja panjang di atas empuknya pasir pantai, keduanya tampak tidak bisa menyembunyikan senyum antusiasnya. Meja panjang itu ditata sedemikian rupa dengan makanan-makanan yang membuat perut bergetar minta makan. Satu-satu dari peserta reuni mulai menempati kursi-kursi yang kosong. Riweuh, lumayan.

 

“Halo semuanya, it's been a while, ya.”

 

Itu adalah suara Jaemin selaku inisiator reuni, menyusul segera setelah dia menghentikan ketukan garpunya pada permukaan gelas guna menarik atensi peserta reuni yang semula sibuk berbincang masing-masing.

 

“Thanks banget udah nyempetin buat ikut ginian karena gue tau lo semua sibuk banget,” lanjutnya diselingi tawa kecil. “Semuanya sukses gini, keren dah lo semua.”

 

Mark mengedarkan netranya ke sekitar. Meneliti satu-satu rekan satu kelasnya dulu yang sedikit banyak berubah wajahnya akibat dimakan usia. Hatinya menghangat menatap mereka-mereka yang dulu barangkali tidak pernah tau nasibnya akan kemana. Dia bersyukur mengetahui bahwa mereka semua berhasil meniti karir masing-masing dan memiliki kesuksesan di bawah kaki mereka.

 

“Karena gue tau lo semua laper then, enjoy the meals. Spesial nih dari restorannya si Jungwoo.”

 

Sambutan super singkat dari Jaemin diakhiri dan disusul dentingan alat makan di sana-sini. Tidak terkecuali Mark dan Haechan yang duduk berdampingan.

 

“Ambilin aku makanan,” bisik Haechan, matanya menatap panik pada sekitar seolah diperhatikan. Buru-buru dia melanjutkan, “ih cepetan.”

 

Mark tertawa sarat ejekan tapi menurut juga pada akhirnya. Tangannya terulur untuk mengambil sedikit nasi dan beberapa udang untuk diletakkan di piring cowok panik yang duduk di sebelahnya.

 

“Nih, makan ya, suami.”

 

Haechan merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih bersemangat dari normalnya kala otaknya selesai memproses panggilan yang baru saja disematkan padanya. Suami.

 

“Idih, udah tiga tahun married masih mesra aja lo berdua.”

 

Yang barusan melontar tutur adalah Karina. Perempuan cantik yang datang dengan Jungwoo, pacarnya yang juga satu kelas dulu. Kalau dipikir-pikir, banyak juga yang cinta lokasi.

 

“Liat nih laki gue, mana inget sama ceweknya kalau udah ketemu makanan.” Karina melanjutkan dengan tatapan menyindir pada Jungwoo yang memang sibuk dengan cangkang kepitingnya. Haechan dan Mark sama-sama terkekeh merespon pemandangan itu.

 

“Namanya juga cinta, Rin,” jawab Mark lempeng, tanpa mengetahui efek ucapannya terhadap Haechan yang seluruh tubuhnya berdenyut aneh.

 

Cinta, katanya.

 

“Yeah, namanya juga itu—cinta.” Haechan menambahkan dengan tawa hambar sementara Karina mengangguk setuju setelah memukul pelan bagian belakang kepala pacarnya. “Denger tuh. Kamu gak cinta ya sama aku?”

 

Detik berikutnya Haechan tidak tertarik mendengar lebih lanjut pertengkaran pasangan sebelah. Dia melirik pada Mark yang sibuk dengan makanannya sebelum melanjutkan kegiatannya yang sempat terputus—makan.

 

“Lo inget ga sih dulu si Jeno ngegambar foto anu di papan tulis, terus si Bapak keburu balik dan tau-tau tintanya permanen?”

 

Lalu gelak tawa mulai membesar kembali setelah sempat reda. Jaemin masih selalu menjadi pelawak kelas dan mereka semua masih tidak bisa menahan tawa jika Jaemin sudah bicara. Sementara objek rundungan tersenyum masam di kursinya. Dia berusaha menahan keinginannya untuk melempar satu ember pasir pantai ke wajah Jaemin.

 

“Diem kek lo.” Jeno membela diri. Dia akhirnya punya bahan membalas setelah memutar sekilas kenangan tahunan silam, “lo gak inget dulu pas penjaskes, celana lo robek gede banget pas nyoba split?”

 

Tawa lagi-lagi terdengar dan kini Jaemin yang wajahnya masam. Sementara Jeno dengan puas menenggak wine di gelasnya.

 

“Nih yang pasti lo semua inget.” Renjun menegakkan duduknya, melirik jahil pada Mark dan Haechan yang ikut menunggu kelanjutan dari ucapan cewek cantik itu.

 

“Pas Mark nembak Haechan di kelas. Bawa-bawa bunga sambil gitaran, tau-tau Haechan alergi bunga,” lanjut Renjun setengah menahan tawa. Yang lain bersorak dan beberapa yang jahil melempar gulungan tisu ke arah mereka. “Parah sih, habis jadian malah gatel-gatel semuka.”

 

Good old days.

 

Haechan diam-diam melakukan kilas balik singkat. Itu adalah hari yang terasa aneh namun terasa seperti sebuah awal dari kebahagiaan yang tak akan kenal akhir—walau perkiraannya salah besar. Dia tidak sadar ketika matanya mulai berkaca-kaca dan hidungnya berair.

 

“Ngomongin cinta masa SMA ya, coba ditanya. Mark sama Haechan gimana nih? Masih fase i love you sepuluh kali sehari atau sepuluh kali sebulan?”

 

Mark terkekeh mendengar pertanyaan jahil yang ditodong oleh Jeno. Dia menatap Haechan yang diam kikuk sebelum menyondongkan badannya untuk mendaratkan kecupan singkat di sudut bibir milik Haechan.

 

“Yaelaaah gausah ditunjukin gitu kali Mark. Inget umur!”

 

“Iya deh pasangan baru masih anget, ampun.”

 

“Anjir gak ada tobat-tobatnya lo berdua pasangan immoral.”

 

Jika Mark merespon dengan tawa, Haechan malah mematung di tempatnya. Otak cemerlangnya mendadak tolol dan berhenti berfungsi. Pipinya yang semula seputih susu kini mulai memerah. Beruntung semburat senja di hadapan mereka menyamarkan merahnya dan Haechan tidak harus berusaha menutupi.

 

Fuuuuck. Masa lo masih kayak gini sih, Haechan?

 

“Sirik aja, makannya kawin!” Sorak Mark membela diri.

 

Haechan berusaha relaks. Dia tidak mau bertingkah bodoh dan menjadi pihak yang membocorkan kebohongan mereka.

 

“Enak tau nikah, tiap baru bangun tidur dan kalau mau bobo ada yang meluk.”

 

Bohong. Dia selalu bangun dan tidur dengan ruang kosong di sebelahnya selama satu bulan terakhir.

 

“Eh tapi gue denger-denger kalian udah jarang bareng deh,” celetuk Chenle santai setelah meletakkan gelasnya di atas meja. Dia menyilangkan kakinya sambil menatap Mark dan Haechan sangsi. “Malah ada yang bilang kalian cerai.”

 

Mampus.

 

“Hah?” Haechan melongo, kali ini benar-benar merasa kaget. Dia tidak tau kalau orang-orang sebegitu kepo dengan kehidupan pribadinya dengan Mark.

 

“Iya sumpah,” jawab Chenle, yang lain memajukan tubuhnya demi mendengar percakapan lebih jelas. Beruntung Chenle bersuara kencang hingga yang di ujung lain meja bisa mendengar. “You two are that famous, tau.”

 

Mark mendengus sembari tersenyum tipis. Dibicarakan sana-sini memang bukan suatu hal yang baru baginya. Siapa sih yang gak tau Mark; one succesful businessman. Orang-orang rela menjilat sepatunya untuk berteman dengannya.

 

“Gosip mah gosip aja. Yang penting lo semua tau kan aslinya gimana.”

 

Ya... aslinya mah emang mau cerai beneran kali Kak.

 

Haechan mengangguk menyetujui Mark. Cowok manis itu menyondongkan tubuhnya untuk menempelkan pipinya ke bahu Mark. “Kayak gini masa dibilang cerai?”

 

Lalu Chenle dan semuanya terlihat menyesal membawa topik ini.

 

 

Day Two

 

 

Jam menunjukkan pukul satu lewat sepuluh menit dini hari ketika mereka sampai kembali ke kamar. Butuh sedikit tenaga ekstra untuk Mark memapah Haechan yang setengah mabuk karena tinggi badan mereka yang tidak jauh beda. Harusnya laki-laki yg ada dipelukannya ini menurut saja ketika Mark melarangnya untuk minum karena toleransi alkoholnya sangat rendah.

 

Mark membaringkan Haechan setelah berhasil mencapai ranjang. Dia melepaskan kaus kaki yang melekat dan membuangnya asal lalu beralih ke tubuh bagian atas. Matanya menatap bergantian pada kemeja dan wajah Haechan yang memejamkan mata.

 

Gantiin bajunya juga ga ya? Mark berpikir keras.

 

Setelah bergulat beberapa menit dengan pikirannya sendiri, Mark memutuskan untuk mengurungkan keinginannya dan membalikkan tubuhnya hendak beristirahat di sofa.

 

Namun itu berakhir menjadi sebatas niat karena saat merasakan pergelangannya digenggam, dia berhenti dan berbalik. Mendapati Haechan dengan mata setengah terbuka dan bibir manyun. Kedua pipinya yang sedikit memerah karena efek alkohol membuatnya seribu kali lebih lucu di mata Mark. Diam-diam Mark berterimakasih pada Jeno yang mengajak mereka minum terlebih dahulu sebelum kembali ke kamar tadi.

 

“Tidur sini aja...” Haechan menepuk sisi ranjang yang kosong dengan nada setengah merengek, tangannya menarik-narik ringan tangan Mark yang menatap dirinya ragu.

 

“Haechan, you're drunk.“

 

“I knooow—” Yang sedikit mabuk masih menjawab dengan nada merengek. Dia melanjutkan masih setengah meracau, “I'm drunk, exactly. Aku jadi ada alesan buat bela diri kan besok.”

 

Mark tidak dapat menahan tawanya melihat Haechan yang masih dengan kebiasaan lamanya—bertingkah seenaknya ketika sedang mabuk.

 

“Okay, aku harus apa?”

 

Haechan tersenyum lebar, matanya masih menatap Mark walau tidak fokus. Ia kembali menepuk sisi kosong ranjang beberapa kali sebelum menjawab. “Bobo sini.”

 

Laki-laki yang masih berdiri itu menurut akhirnya. Dia berjalan memutari ranjang sebelum akhirnya merebahkan tubuh pegalnya di sebelah Haechan yang kini tersenyum lebar sarat puas. Mark enar-benar tidak menolak untuk diperintah hari ini—bahkan saat tidak ada siapapun di sekitar mereka.

 

“Good boy,” gumam Haechan pelan, badannya segera beringsut mendekati sumber kehangatan di sebelahnya. Tubuhnya meringkuk dengan posisi dahi menempel pada bahu Mark.

 

Di posisinya Mark sedikit kikuk. Keinginannya untuk melingkarkan tangannya pada lelaki di sebelahnya sangat besar namun dia tidak mau melampaui batas tidak terlihat yang ada di antara mereka.

 

“Jo Malone. Kamu gak pernah ganti parfum ya...” Haechan terpejam namun mulutnya tidak bisa berhenti berbicara walau terdengar serak dan ngantuk. “You still smell like that Mark that i used to know.“

 

I am. I still am that Mark. I never changed.

 

Hal paling berguna yang Mark dapat lakukan hanya menarik selimut untuk menutupi tubuh ringkih sosok di sebelahnya. Dia menepuk-nepuk bahu Haechan beberapa kali sebelum akhirnya terdengar dengkuran halus yang menandakan si pemilik tubuh sudah jatuh dalam tidurnya.

 

Mark mengubah posisinya, berbaring di atas bahu untuk menatap mantan calon suaminya lamat-lamat. Netranya baik-baik menatap setiap inchi wajah menawan di depannya. Yang tetap lucu walau sedang cemberut. Yang tetap manis walau sedang marah.

 

Yang Haechan lakukan memang hanya diam dan tidur, namun Mark merasa bergetar luar biasa hanya dengan menatapnya.

 

Ketika Mark berkata bahwa dia masih Mark yang sama, dia tidak berbohong. Tubuh, pikiran, hati dan perasaannya memang masih seperti Mark sembilan tahun yang lalu.

 

 

“Good night, Haechan.”

 

 

Ketika Haechan membuka mata, dia menemukan nampan dengan semangkuk sup yang tidak lagi mengeluarkan uap serta jus jeruk dan air putih di meja. Kepalanya pening dan pandangannya masih berputar. Alkohol sialan.

 

Dia menoleh ke arah pintu menuju balkon yang terbuka lebar, menemukan balkon kosong dengan pemandangan langit cerah dan matahari terik.

 

“Shit—” Dia mendadak melek dan hampir meloncat dari ranjangnya ketika menyadari bahwa dia melewatkan jadwal hari ini. Jelas sekali dari tampak langit di luar, sekarang mungkin sudah hampir tengah hari.

 

“Haechan? Udah bangun?”

 

Itu adalah suara Mark, disusul dengan kepalanya yang menyembul dari balik dinding pembatas kamar tidur dan balkon.

 

“How's your head?” Tanyanya sambil berjalan mendekat, dengan gelas berkaki berisi cairan gelap di genggamannya. “Itu aku pesenin makanan. Kayaknya masih anget sih, coba aja.”

 

“I'm fine, thanks.” Haechan masih menunduk sambil memijat pelipisnya. Pusingnya memang tidak separah itu karena dia tidak minum terlalu banyak semalam. “Tapi kita jadi gak ikut jadwal hari ini...”

 

Mark menyandarkan bahunya pada dinding, sebelah tangannya diselipkan pada saku celana sementara tangan yang satunya memainkan cairan dalam gelas. “It's okay. Diem di kamar doang juga masih dihitung liburan.”

 

“Yeah...” Haechan mengangguk pelan sebelum menangkat kepala dan menatap Mark. Dia terkekeh pelan mendapati pemandangan di depannya. “Kamu beneran minum sendirian? Bisa lebih menyedihkan lagi gak?”

 

“Wine doang, Haechan. Emang kamu gak pernah minum sendiri?”

 

“Pernah sih... mana sambil nangis,” jawab Haechan, di akhir kalimat dia mengecilkan suaranya. Walau mendengar, Mark memilih untuk tidak berkomentar apa-apa.

 

“I'll be outside if you need me.“

 

Lalu Mark melangkah keluar dan Haechan mengikuti langkah cowok itu dengan matanya. Dia menyesap air putih di sebelahnya, membawa mangkuk supnya lalu beranjak dari kasur untuk menyusul Mark ke balkon.

 

“Gak enak tau minum sendirian. Siang-siang begini lagi.”

 

Mark yang bersandar pada tepian balkon menoleh mendengar celoteh Haechan. Cowok manis itu kini telah menyamankan dirinya di kursi sambil memakan supnya dengan anteng.

 

“Gak ada aturan khusus untuk minum wine, Haechan.”

 

“Gik idi itirin khisis intik minim win, Hichin,” ejek yang tengah duduk, mengundang tawa Mark yang kini sepenuhnya membalikkan tubuh dan memfokuskan atensinya pada Haechan.

 

“Did you just mock me?” tanya Mark, sebelah alisnya mengangkat. Sementara yang ditatap hanya mengendikkan bahu dan melanjutkan makannya.

 

Mark mengangkat gelasnya ke bibir, menuangkan setengah isi gelas ke dalam mulutnya lalu menelannya perlahan. Dia lalu berjalan menuju kursi kosong di sebelah Haechan dan mendaratkan pantatnya di sana.

 

“Thanks for bringing me here.“

 

Haechan menoleh sambil meletakkan mangkuk kosongnya di atas meja, dia mengusap ujung bibirnya lalu menatap Mark bingung.

 

“Ya karena kamu, aku bisa liburan sebentar.” Merasa dituntut penjelasan, Mark segera melanjutkan. Dia menunjuk pemandangan di depan dengan dagunya. “Kalau bukan gara-gara kamu, mungkin hari ini aku masih lihatin tukang-tukang manjat buat bersihin jendela gedung sebelah.”

 

Memang yang di depan mereka adalah pemandangan yang memanjakan mata. Itu adalah kolam renang dengan air biru yang menjanjikan, selanjutnya adalah area kosong yang ditumbuhi rumput pendek, lalu pepohonan hijau dengan tanaman cantik yang dibiarkan meninggi. Indah dan memberi kesan privat.

 

“Well, thanks to you too. Kalau kamu gak mau mungkin aku juga gak akan datang kesini.”

 

Mark mengangguk, menelan sisa minuman pekat pada gelasnya sebelum meletakkan gelas itu di meja. “My pleasure.“

 

Lalu setelahnya kembali diam. Walau mata mereka menatap jauh ke depan, masing-masing tenggelam dalam pikiran masing-masing. Atmosfirnya sunyi. Bukan sunyi yang mencekam, namun sunyi yang membuat nyaman. Jadi baik Mark atau Haechan tidak ada yang keberatan untuk berdiam dalam kesunyian itu.

 

“Rumah gimana, Kak?”

 

Yang membuka percakapan pertama kali adalah Haechan. Pertanyaan ini sudah lama bersarang. Selain penasaran, Haechan juga merindukan tempat itu.

 

“Baik-baik aja. Bibi masih sering dateng tiap weekend. Kemarin-kemarin sempet nanyain kabar kamu.”

 

“Kangen banget,” gumam Haechan pelan. “Walk-in-closet aku gimana? Gaada debu kan? Nanti aku kesana bawain sisanya.”

 

Mark tersenyum tipis lalu mengangguk. Ia lantas menjawab dengan sedikit menyelipkan lelucon mereka disana. “Bersih kok. Masa panggung runway pribadi kamu dibiarin kotor?”

 

Detik berikutnya pukulan mendarat pada bahunya dan Mark tertawa puas. Pukulan itu berasal dari Haechan yang sedikit tidak terima kebiasaan catwalk-di-closet-selama-2-jamnya diejek Mark. Padahal dulu Mark sendiri yang sering request.

 

“Diem ih. Aku udah gak pernah kayak gitu lagi ya!” serunya tak terima.

 

“Ya gimana, orang kamu yang nanya ya aku jawab aja.”

 

Pukulan lagi-lagi diterima bahunya dan Mark kembali tertawa kecil sebagai respon. Pukulan itu tidak sakit karena Haechan juga hanya main-main.

 

“Haechan, rumah sepi banget.” Mark mengalihkan topik ketika Haechan sudah diam. Dia tampaknya sudah mulai larut dalam kenyamanan berbincang dengan Haechan. “Biasanya kan ada kamu nyanyi-nyanyi ga jelas, atau suara drama di TV sama kamu yang nangis gara-gara dramanya sedih.”

 

Haechan mendengus, lagi-lagi dia dan kebiasaannya diejek.

 

“Itu juga udah lama banget Kak, 'kan sejak aku dan kamu lebih sibuk kita sama-sama udah jarang di rumah.”

 

Yeah, sama-sama udah jarang di rumah.

 

Ucapan Haechan tampaknya berhasil membungkam dirinya sendiri serta Haechan, yang mendadak mengalihkan pandangannya dengan asal. Tidak ada lagi yang buka suara.

 

Lama kelamaan awan menutupi matahari, yang semula terik menjadi kelabu dan membawa suasana mellow. Hal ini tampaknya berefek pada suasana hati Haechan.

 

 

“Kenapa ya...” Lirih Haechan membuka suara, sorot matanya meredup menatap ujung kakinya. “Kenapa ya kita jadi kayak gini.”

 

Mark lantas menoleh. Dia tau kemana arah perbincangan ini, namun tetap memilih berpura-pura bodoh. “Gini gimana, Haechan?”

 

“We used to be happy, Kak.” Nada bicara Haechan mulai terdengar putus asa. Dia tau ini bodoh namun suasana begini mungkin tidak akan dia dapatkan lagi. Jika ini kali terakhirnya berbincang intim dengan Mark, maka dia harus mengeluarkan ini dari dadanya.

 

“Iya, Haechan...”

 

“Harusnya kita dulu luangin waktu satu atau dua hari duduk di rumah, ngobrol dan sort things out.”

 

“Iya, Haechan...”

 

“Harusnya kamu dengerin aku dan nggak marah-marah terus.”

 

“Iya, Haechan... maaf...”

 

“Harusnya aku juga nggak ikut kebawa emosi kalau kamu mulai marah.”

 

“Iya, Haechan...”

 

“Harusnya—” Haechan berhenti untuk terisak, punggung tangannya mengusap air mata yang mulai menganak sungai. “Harusnya kamu kejar aku waktu itu, Kak.”

 

“Haechan...”

 

“I'm sorry—” Yang barusan terisak kini menangkup wajahnya dengan telapak tangan. Dia mengatur napasnya sebelum menurunkan kedua tangannya dan memaksakan senyum hambar. “Aku tadi kebawa suasana. Maaf.”

 

“Haechan,” panggil Mark. Nadanya menegas dan Haechan tidak berani barang untuk menatapnya sedikitpun. “Listen to me, okay?“

 

Kediaman Haechan dianggap persetujuan oleh Mark.

 

“Maaf, maaf waktu itu i was a big ass jerk, maybe i still am,” kata Mark memulai. Dia menarik napas panjang lalu melanjutkan, “we were very young, Haechan. Egois dan buat ngalah itu kita ogah banget.”

 

Haechan masih tidak berniat merespon. Alih-alih matanya kembali basah dan kali ini dia tidak berniat menghapus.

 

“Aku sibuk sama kantor, kamu juga sibuk di rumah sakit. Pulang-pulang bawa capek dan semua hal bikin kita marah.” Mark menatap Haechan, jantungnya serasa jatuh saat melihat wajah basah Haechan namun dia memilih melanjutkan ucapannya, “siapa yang ada di rumah? Ya kamu, aku. Terus ke siapa kita ngelampiasin? Ke kamu, ke aku.”

 

Keduanya sebetulnya mengerti keadaan mereka. Namun baru berani bersuara ketika semuanya sudah terlalu jauh. Terlalu jauh sampai hanya beberapa langkah lagi untuk mereka berjalan menuju perpisahan yang sebenarnya.

 

“And now we're here.” Mark tertawa getir. Cowok itu menyandarkan punggungnya pada kursi sembari menyugar rambutnya frustasi.

 

“Yeah, now we're here.“

 

Haechan menunduk, menyedot ingusnya lalu menoleh pada Haechan. Dia tersenyum kecil. “Aku seneng bisa ngabisin waktu sama kamu walau cuma tiga hari. You're still that Mark that i used to...“

 

Love.

 

“...know.“

 

“You're still that Haechan,” balasnya sembari tersenyum kecil, sembari mengulurkan tangannya untuk mengusap sisa air mata yang menjejak di wajah calon mantannya. “Yang gampang banget seneng, tapi gampang banget nangis.”

 

Walau jantungnya berdetak lima kali lebih kencang dan napasnya mendadak sesak, Haechan tidak menolak sentuhan itu. Diam-diam dia rindu dan kalau ini adalah kali terakhirnya dia bisa merasakan yang seperti ini, dia tidak akan keberatan.

 

Usapannya bertahan lima detik sebelum Mark kembali menarik tangannya dan menatap kembali lurus ke depan. Dia tidak suka suasana ini. Dia tidak suka merasa bahwa mereka benar-benar berada di pinggir jurang dan salah satu dari mereka harus jatuh. Dia tidak suka merasa bahwa Haechan terasa berada di ujung genggamannya. Dia tidak suka kenyataan bahwa semua ini adalah fakta dan akan terjadi.

 

“Aku masuk dulu.”

 

Mark bangkit, berjalan masuk ke kamar meninggalkan Haechan, mangkuk sup kosong serta gelas winenya di luar.

 

Kepalanya sakit tapi tidak sesakit dadanya. Dia tidak tau mengenal dan mencintai Haechan bisa terasa menyengsarakan seperti ini. Berpisah di keadaan yang baik-baik saja ternyata jauh lebih menyakitkan daripada saat Haechan meminta cerai saat itu.

 

Lelaki berdarah campuran itu terduduk di ujung ranjang, kepalanya tertunduk dan dia membiarkan rambutnya jatuh menggantung. Iseng dia memainkan cincin nikah—Haechan yang paksa pakaikan—yang melingkar di jarinya sementara satu dua kenapa mulai bermunculan di kepalanya.

 

Kenapa dia berada disini?

 

Kenapa kemarin Haechan harus mendatanginya dan memohon?

 

Kenapa juga dia mengatakan iya?

 

Khawatir meninggalkan kantor bukanlah hal yang membebaninya saat dia menolak permintaan Haechan saat itu. Satu-satunya kekhawatirannya adalah menyadari bahwa dia masih cinta. Menyadari bahwa lelaki manis itu belum benar-benar meninggalkan hatinya dan masih setia melekat dalam otaknya.

 

Haechan memang dekat sekarang dan dia bisa benar-benar merasakan cowok itu pada jemarinya. Namun dia tidak akan lupa fakta bahwa mungkin setelah trip ini berakhir, mereka benar-benar akan berpisah.

 

Mark larut terlalu dalam pada pikirannya. Dia bahkan tidak menyadari ketika ranjang sedikit bergerak ketika Haechan naik dari sisi satunya, berhenti tepat di belakang punggung lebar Mark lalu menyandarkan pipinya di sana.

 

“Jangan gerak. Let it be this way, sebentar aja.”

 

Kepala yang semula tertunduk kini sedikit menoleh dan mendapati rambut yang dia yakini milik Haechan. Dia bingung, tapi tertarik juga.

 

“Kenapa, Haechan? Capek?”

 

Haechan mengangguk. Dia memejamkan matanya. Biar saja untuk hari ini dia melepaskan segala gengsinya. Toh, besok sudah beda kan?

 

“Mhm, capek pura-pura.” Haechan bergumam. Dia bisa merasakan napas Mark lebih cepat dari gerak punggungnya.

 

“If you think that you're the only one who suffers then you're wrong, Kak,” lanjut Haechan. Jemarinya diangkat untuk menggambar pola acak pada punggung Mark yang terasa nyaman dan hangat. “Dari cara kamu liat aku, semua orang juga tau kalau kamu masih cinta.”

 

“Bahkan di balkon tadi, pas gak ada orang yang liat, pas kita seharusnya gak lagi akt—”

 

“What's your point, Haechan?“

 

Mendengar nada jengkel Mark, akan berbohong jika Haechan bilang tidak takut. Mark mungkin merasa Haechan tengah bermain perasaannya dengan tarik-ulur begini.

 

“Aku juga gak tau, Kak...” Haechan menjawab putus asa, tubuhnya dia tegakkan. Mark segera membalikkan badan untuk menatapnya dengan jengkel dan menuntut. Kilatan bingung dan berharap samar-samar menguar dari maniknya.

 

“Kalau kamu pikir semua ini main-main, you should stop.” Mark bangkit dari duduknya, menatap marah pada Haechan. Dengan napas sedikit memburu, dia melanjutkan, “kemarin kamu minta cerai seolah cerai itu perkara kecil, terus ngomong yang tadi juga gampang banget.”

 

“Nggak gitu, Kak. Aku salah, aku tau. Tapi setelah beberapa hari ini, aku sadar kita cuma kurang komunikasi dan semuanya sebenernya bisa diperbaikin, 'kan?”

 

Mark diam. Dia bingung karena dia baru saja marah ketika apa yang dikatakan Haechan adalah benar dan itu adalah apa yang dia juga inginkan. Dia sebenarnya tau alasannya namun dia menolak untuk mengakui; Mark takut ditinggalkan lagi.

 

“I don't know, Haechan.” Cowok yang berdiri mengusap kasar wajahnya dan membalikkan badan. “Kamu waktu itu yang minta cerai dan—i need to think.“

 

Haechan menatap punggung yang gusar itu dengan senyum getir. Itu memang salahnya dan reaksi Mark yang seperti ini memang apa yang dia sudah antisipasi. Jadi dia akan mencoba satu kali lagi.

 

Dia bangkit dari ranjang, berhenti di belakang Mark dan melingkarkan kedua tangannya pada tubuh yang sedikit lebih tinggi. Dia meletakkan dahinya pada bahu Mark dan berbisik pada punggung pria itu.

 

“I'm sorry, i really am.“

 

“Haechan you left me...” Mark menjawab, nadanya menyimpan ketakutan yang luar biasa. Punggungnya bergetar. “Sejak kamu ninggalin aku waktu itu, aku takut ditinggalin lagi. Kalau kita balik, kamu mungkin bakal ninggalin aku lagi, Haechan.”

 

“Kak, kalau kita coba lebih keras lagi, nggak akan ada yang ditinggalin, ya?”

 

Haechan melepas pelukannya untuk berjalan ke hadapan Mark. Dia menatap laki-laki itu dan menemukan, untuk pertama kalinya, wajah itu penuh ketakutan dan terlihat rapuh. Jika dia menyadari dari awal dampaknya akan begini, Haechan mungkin akan sujud meminta maaf pada kaki Mark.

 

“Kak—i'm sorry, i'm sorry,” bisik Haechan bergetar. Kedua telapak tangannya mendarat pada pipi Mark, mengangkatnya sedikit untuk menatap mata lelaki itu. “Maaf aku bikin kamu jadi gini.”

 

Mark tidak menjawab. Alih-alih dia menurunkan kedua tangan Haechan dari pipinya dan berjalan menjauh menuju pintu keluar.

 

“I need to think.“

 

Itu adalah satu-satunya yang dikatakan Mark sebelum menghilang di balik pintu yang tertutup.

 

 

Day 3

 

 

 

Menemukan Haechan tertidur di sofa dengan TV menyala bukanlah apa yang diharapkan oleh Mark ketika kembali ke kamar pada dini hari. Dia tau Haechan mungkin mengabaikan kasur agar tidak tertidur dan bisa menunggunya pulang. Itu adalah apa yang selalu dilakukan laki-laki manis itu bahkan sejak saat mereka pacaran.

 

Tanpa membangunkan si manis yang tertidur, Mark berinisiatif mengangkat tubuh itu dan memindahkannya ke atas ranjang. Mengurungkan untuk segera beranjak, dia akhirnya duduk diam ketika melihat Haechan mengerjap lucu. Rupanya dia masih seorang light sleeper.

 

“Kamu pulang...”

 

“Iya, aku pulang.” Mark tersenyum menjawabnya. “Sana geser.”

 

Walau bingung, Haechan tetap menggeser tubuhnya. Meninggalkan ruang kosong yang segera ditempati Mark.

 

“Kamu juga pulang sini.”

 

Lagi-lagi Haechan bingung. Ini mungkin sudah lewat jam dua belas dini hari namun Mark tampak senang sekali mengajaknya berpikir ekstra.

 

“Nanti sore kan pulang...?”

 

Markt erkekeh, menepuk lengannya yang dijulurkan.

 

“Pulang ke rumah, Haechan. Ke aku.“

 

Detik berikutnya, Haechan sudah berpindah ke dekapan Mark. Diselingi tawa kecil dan serta kecupan-kecupan kecil di antaranya.

 

Mark menyukai yang seperti ini. Dia menyukai fakta bahwa dia bisa menghirup wangi sampo Haechan di bawah hidungnya. Dia menyukai fakta bahwa dia bisa melihat Haechan nanti pagi, esok maupun tahun-tahun berikutnya. Tapi dia paling suka fakta bahwa Haechan kini tidak lagi terasa sejauh mentari.

 

“Kak, menurut aku kita pulangnya lusa aja deh.”

 

“Menurut aku sih minggu depan.”

 

Tawa keduanya mengudara. Haechan mengangguk sangat setuju.

 

“Call.“

 

Setelah meminta waktu untuk berpikir, Mark menghabiskan waktu selama berjam-jam untuk mencari alasan kembali dengan Haechan. Selama itu pula dia tidak menemukan apapun kecuali satu—dia masih cinta. Terdengar bodoh dan klise namun itulah yang memutuskan Mark untuk akhirnya mengabaikan takutnya dan mencoba kembali.

 

Dia pikir, dulu mereka terlalu muda, egois dan belum benar-benar menyadari bahwa apa yang mereka miliki adalah hal yang tidak ternilai harganya. Mereka pikir semua yang didapat akan tinggal menetap untuk selamanya, namun yang terjadi adalah sebaliknya. Mereka memang menetap untuk waktu yang lama—hanya tidak selamanya. Itu sedikit banyak membuka pikiran mereka bahwa jika tidak dirawat dan disimpan dengan baik, apa yang dimiliki bisa sirna.

 

Dan keduanya sama-sama hampir mati karena hal itu.

 

Ketika mereka berdua menyetujui untuk balikan, mereka mungkin kembali mempertaruhkan kebahagiannya. Tidak ada yang menjamin hari esok akan lebih baik dari hari ini. Tidak ada yang berani janji kalau hubungan mereka akan jauh lebih baik dari yang sebelumnya.

 

Orang boleh saja berpikir kalau balikan sama saja dengan membaca buku yang sama—endingnya sama saja. Tapi untuk Mark dan Haechan, mereka akan mempertaruhkan apa saja untuk mencapai puncak yang berbeda. Jalur di depan mereka mungkin tidak akan selalu terasa seperti pelangi dan cotton candy, tapi melewati petir dan badai bersama mungkin terdengar tidak buruk.

 

Pengalaman kemarin barangkali terasa pahit dan penuh kenangan yang tidak ingin diingat, tapi untuk hari esok... siapa yang tau?

 

 

 

FIN.

 

Notes:

Hai! terimakasih sudah membaca sampai akhir, semoga cerita ini cukup baik untuk dibaca ya <3