Work Text:
Keadaan ruang tempat Juhoon bekerja saat ini sungguh berantakan dari biasanya.
Cat kosong yang berserakan di mana-mana, air tumpah yang belum Juhoon bersihkan, kanvas yang tadinya putih polos sekarang sudah berwarna—dilukis oleh Juhoon dengan apik dan indah—kuas patah karena terinjak sudah Juhoon singkirkan dari meja dan tergeletak asal di lantai.
Kim Juhoon. Laki-laki berusia dua puluh tiga tahun, lahir di kota Seoul, tengah mengambil proyek penting untuk karirnya.
Juhoon mendesah ketika lukisan kecil sudah ia selesaikan. Berkutat dengan kuas, cat air, cat akrilik, dan kanvas adalah kesenangannya sejak dulu. Rasa cintanya pada kuas yang menari-nari di atas kanvas polos sangat besar.
“Sepertinya aku harus membereskan kekacauan ini segera, dan bergegas keluar untuk bertemu Martin.”
Ia meletakkan kuas terakhir ke dalam wadah kaca yang sudah dipenuhi air keruh berwarna keabu-abuan. Air itu bergoyang pelan ketika kuas menyentuh dasarnya. Juhoon menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas lagi, kali ini lebih panjang.
Ruangan itu memang selalu menjadi tempat aman untuk dirinya, tempatnya untuk menumpahkan suasana hatinya, menjadi tenang dan lebih jujur.
Jika seseorang masuk sekarang, mereka mungkin akan mengira sebuah badai kecil baru saja lewat di sana. Padahal tidak. Semua ini hanya akibat dari cara Juhoon bekerja. Ia akan tenggelam, lupa waktu, dan mengabaikan segalanya selain warna di depan matanya.
Ia meraih lap kain yang sudah dipenuhi noda cat dan mulai mengelap meja kayu panjangnya. Meja itu penuh dengan palet cat yang mengering, tabung akrilik yang tutupnya terbuka, serta serpihan kecil kertas sketsa.
Juhoon bergerak perlahan dan teratur. Tak terburu-buru dalam artian ia tak mau ada yang terlewat setitik pun.
Satu per satu tabung cat ia kumpulkan. Kuas-kuas yang tercecer ia masukkan ke dalam wadah. Palet kotor ia letakkan di wastafel kecil di sudut ruangan.
Sambil bekerja, tubuhnya sedikit membungkuk. Rambut coklat terangnya—yang agak panjang dan jatuh sampai menyentuh tengkuk—terlihat sedikit berantakan karena terlalu sering ia sisir dengan jari saat melukis. Beberapa helai bahkan masih kaku karena terkena percikan cat biru yang sudah mengering.
Kim Juhoon bukan tipe orang yang terlalu peduli pada penampilannya ketika sedang bekerja.
Posturnya yang ramping dan tinggi, dengan bahu tegap. Kulitnya pucat khas orang yang terlalu banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan, sementara tangannya… tangannya adalah bagian yang paling menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.
Jari-jari panjang.
Ujung kuku pendek.
Dan noda warna yang hampir selalu menempel di sana. Berwarna biru, merah, kadang kuning, seolah menjadi tanda permanen bahwa ia adalah seorang pelukis.
Hari ini ia mengenakan kaus putih longgar yang kini tidak lagi putih sepenuhnya karena bercak-bercak cat. Di luar itu, sebuah apron hitam tergantung di tubuhnya, talinya terikat sembarangan di punggung.
Juhoon berjalan menuju jendela dan membukanya sedikit.
Udara sore Kota Seoul masuk perlahan, membawa aroma jalanan yang lembap dan sedikit dingin. Tirai tipis bergoyang pelan.
“Ah… akhirnya,” gumamnya pelan.
Setelah beberapa menit membereskan ruangan, kekacauan tadi perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih bisa ditoleransi. Setidaknya sekarang lantainya sudah terlihat kembali, dan meja kerjanya tidak terlihat kacau.
Juhoon menatap beberapa kanvas kecil yang baru saja ia selesaikan.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
Ia lalu melepas apron hitamnya dan menggantungnya di belakang kursi. Tangannya mengambil ponsel dari saku celana, memeriksa waktu.
Sudah hampir waktunya.
“Martin pasti sudah sampai duluan,” katanya pelan.
Juhoon berjalan ke kamar mandi kecil di ujung studio. Ia mencuci tangannya dengan sabun, menggosok sela-sela jari sampai noda warna yang menempel sedikit memudar—meski tidak pernah benar-benar hilang.
Air dingin menyentuh wajahnya ketika ia membasuhnya sekilas.
Beberapa menit kemudian ia keluar dengan penampilan yang sedikit lebih rapi. Rambutnya ia sisir dengan tangan, lalu mengambil jaket tipis berwarna biru tua yang tergantung di dinding.
Sebelum pergi, Juhoon menoleh sekali lagi ke arah studio.
Ruangan itu kini jauh lebih tenang.
Kanvas-kanvas yang belum selesai bersandar di dinding. Cahaya senja masuk dari jendela, membuat warna-warna di dalam ruangan terlihat hangat.
“Jangan berantakan lagi waktu aku pulang nanti,” gumamnya setengah bercanda.
Ia mematikan lampu utama, mengambil tas kecil berisi sketsa, lalu keluar dari studio.
Kafe tempat ia dan Martin biasa bertemu tidak terlalu jauh dari sana. Hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki.
Langit di Kota Seoul sudah mulai berubah warna ketika Juhoon sampai di sana. Lampu-lampu jalan mulai menyala, dan udara malam perlahan menggantikan hangatnya sore.
Ketika ia membuka pintu kafe, lonceng kecil di atasnya berbunyi pelan.
Matanya langsung menangkap sosok yang sudah sangat ia kenal di meja dekat jendela.
Martin Edwards Parks.
Teman kerja Kim Juhoon dari awal ia berkarir. Laki-laki itu lahir dan besar di kota yang sama dengannya, namun, perawakannya lebih tegas dan lembut di waktu yang bersamaan. Berdarah campuran Korea-Kanada, membuat Martin memiliki kulit yang lebih putih dan kemerahan jika dia merasakan lonjakan perasaan, entah malu, marah, sedih. Dan itu membuat Juhoon kerap menatap wajah itu lebih lama.
Laki-laki itu lebih tinggi dari Juhoon—cukup signifikan sampai sering membuat Juhoon harus sedikit mendongak ketika mereka berdiri berhadapan. Tubuh Martin juga lebih ramping, hampir kurus, tetapi bukan kurus yang terlihat lemah. Garis tubuhnya panjang dan lentur, seperti seseorang yang terbiasa bergerak bebas di ruang kerja penuh kanvas besar.
Ia duduk dengan santai di kursinya, satu tangan menopang pipi sementara tangan lainnya memegang cangkir kopi.
Rambutnya berwarna cokelat kepirangan, warna yang terlihat berbeda tergantung cahaya. Di bawah lampu kafe yang hangat, rambut itu tampak seperti campuran madu dan cokelat muda. Panjangnya sedikit melewati telinga dan jatuh lembut ke tengkuk, dengan beberapa helai tipis yang sering turun ke dahinya.
Ketika Juhoon melangkah mendekat, Martin langsung mengangkat kepalanya.
Mata cokelat mudanya langsung menemukan Juhoon di antara orang-orang di kafe.
“Juhoon! Di sini.”
Suara Martin terdengar ringan, cerah, dan Juhoon menyukai ketika senyuman manis di wajah itu ikut menyapanya.
Senyumnya benar-benar sesuatu yang sulit diabaikan.
Ketika Martin tersenyum, sudut bibirnya terangkat dengan lembut, menciptakan ekspresi yang manis, hampir cantik. Senyum yang bukan hanya tampan, tapi juga memiliki kelembutan yang jarang dimiliki laki-laki lain.
Ketika Juhoon mengambil kursi untuk duduk berhadapan dengan Martin, di meja ia melihat sebuah buku sketsa tebal sudah terbuka di depannya.
“Lama nunggu?” tanyanya.
Martin mengangkat alisnya, lalu tersenyum miring.
“Cuma sepuluh menit,” katanya santai. “Itu pun karena aku tahu kamu pasti tenggelam di dalam ruang kerjamu itu.”
Juhoon terkekeh mendengar candaan Martin.
“Lukisan baru lagi?” tanya Martin sambil melirik noda cat samar di jari Juhoon.
Juhoon ikut melihat tangannya, lalu mengangguk
“Kelihatan banget, ya?”
“Iya, noda jingga selalu ada di sana.”
Martin menutup buku sketsanya perlahan.
“Jadi,” katanya sambil menatap Juhoon dengan mata penuh minat, “gimana progres proyek kita?”
Suasana di antara mereka terasa hangat—seperti dua orang yang sudah terlalu sering bekerja sama sampai tidak perlu banyak basa-basi lagi.
Juhoon bersandar di kursinya sedikit.
Senyumnya tipis, tapi matanya berbinar.
“Kurasa,” katanya pelan, “kamu bakal suka yang aku kerjakan hari ini.”
Martin langsung tertarik begitu Juhoon menyebutkan bahwa ia membawa sesuatu untuk diperlihatkan. Tubuhnya yang tinggi dan ramping itu tanpa sadar condong lebih dekat ke arah meja, seolah jarak di antara mereka masih terlalu jauh untuk melihat dengan jelas apa yang sedang Juhoon keluarkan dari dalam tas kecilnya. Tangannya yang panjang bergerak pelan ketika Juhoon meletakkan buku sketsa di atas meja, sementara matanya yang cokelat muda sudah dipenuhi rasa penasaran. Ketika halaman sketsa itu akhirnya terbuka, Martin terdiam. Tatapannya berhenti di sana, mengikuti garis demi garis yang ditorehkan Juhoon dengan sangat teliti.
Sketsa itu menggambarkan sebuah kota yang tidak asing baginya. Bangunan-bangunan tua dengan dinding berwarna hangat berdiri rapat di sisi kanal air yang tenang, jembatan batu kecil melengkung menghubungkan dua sisi jalan sempit, dan di tengah kanal itu sebuah gondola digambar melayang pelan, seolah mengikuti arus yang tidak terlihat. Cahaya yang Juhoon arsiri dengan teknik bayangan halus membuat kota itu terasa hidup, seakan udara sore benar-benar mengalir di antara bangunan-bangunan tua tersebut.
Martin menahan napasnya.
Ia mengangkat kepalanya perlahan dan menatap Juhoon dengan mata yang membesar.
“Juhoon-ah…?” suaranya nyaris seperti bisikan yang terlepas tanpa ia sadari. “Ini… Venesia?”
Juhoon tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap reaksi Martin dengan senyum kecil yang tipis namun ada kehangat di sana, seolah memang sudah menunggu momen itu sejak tadi. Beberapa detik kemudian, ia mengangguk pelan.
Martin kembali melihat sketsa itu lagi, lebih lama kali ini, seakan ingin memastikan bahwa ia tidak salah mengenali setiap detailnya. Kota itu memang Venesia—kota yang selama ini selalu ia bicarakan dengan penuh semangat, kota yang entah sudah berapa kali ia sebut sebagai tempat impian yang ingin ia kunjungi suatu hari nanti.
“Aku… tidak mengerti,” gumam Martin akhirnya, sambil mengangkat pandangannya lagi. “Kenapa kamu melukis ini?”
Juhoon bersandar santai di kursinya, membiarkan bahunya menyentuh sandaran kayu sambil menautkan kedua tangannya di atas meja. Ekspresinya terlihat tenang, namun ada kilau halus di matanya yang menunjukkan bahwa ia sebenarnya cukup gugup menunggu reaksi Martin.
“Galeri tempat kita kerja sama itu akhirnya menghubungiku lagi minggu lalu,” katanya pelan. “Mereka akan mengadakan pameran musim gugur tahun ini. Tema utamanya adalah kota-kota yang punya cerita.”
Martin mengernyit sedikit, mencoba memahami arah pembicaraan itu.
“Bukan sekadar lukisan pemandangan semata,” lanjut Juhoon. “Mereka ingin karya yang punya emosi di baliknya. Kota yang berarti sesuatu bagi pelukisnya.”
Ia mengetuk pelan halaman sketsa Venesia itu dengan ujung jarinya.
“Setiap seniman diminta membuat satu karya utama. Lukisan besar yang akan jadi pusat perhatian ruangan.”
Martin menatapnya tanpa berkedip, hampir menangis.
Juhoon kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Gerakannya tenang, namun ketika dua lembar kertas kecil itu akhirnya diletakkan di atas meja di antara mereka, Martin langsung menyadari bahwa itu bukan kertas biasa.
Tiket pesawat.
Tulisan yang tercetak di sana begitu jelas hingga Martin tidak perlu membaca dua kali.
Seoul — Venezia.
Untuk beberapa saat, Martin hanya menatap benda itu tanpa bergerak sedikit pun. Wajahnya perlahan berubah, dari bingung menjadi terkejut, lalu akhirnya dipenuhi sesuatu yang jauh lebih dalam, kegembiraan yang begitu besar sampai ia tampak tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
“Juhoon…” napasnya terdengar pelan. “Kamu serius?”
Juhoon tersenyum kecil, kali ini lebih jelas.
“Kita harus melihat kotanya langsung kalau mau melukisnya dengan indah dan jujur,” katanya ringan. “Anggap saja riset untuk proyek kita.”
Kalimat itu baru saja selesai ketika Martin tiba-tiba berdiri dari kursinya. Gerakannya begitu cepat sampai kursinya bergeser sedikit di lantai kayu kafe. Beberapa orang di sekitar mereka menoleh sekilas, tetapi Martin sama sekali tidak memedulikannya. Ia hanya menatap Juhoon beberapa detik dengan wajah yang benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Lalu tanpa berpikir panjang, ia menarik Juhoon ke dalam pelukan.
Tubuh Martin yang lebih tinggi membungkus Juhoon dengan mudah. Pelukan itu hangat, erat, dan dipenuhi emosi yang begitu jujur sampai Juhoon sendiri sedikit terkejut pada awalnya. Namun beberapa detik kemudian ia tertawa pelan dan membalas pelukan itu dengan lembut, menepuk punggung Martin dengan gerakan yang hampir menenangkan.
“Terima kasih… serius, terima kasih,” gumam Martin di dekat bahunya, suaranya penuh kegembiraan yang hampir tidak bisa ia tahan.
Dan dalam momen itu, tanpa benar-benar memikirkan apa yang ia lakukan, Martin menarik wajahnya sedikit menjauh lalu mengecup pipi Juhoon dengan cepat.
Ciuman itu begitu singkat hingga hampir terasa seperti refleks. Namun, keduanya tetap membeku setelahnya.
Martin adalah orang pertama yang menyadarinya. Ia langsung mundur setengah langkah dengan wajah yang mulai memerah, sementara matanya yang biasanya tenang sekarang terlihat sedikit panik.
“Ah— itu— aku cuma—”
Namun Juhoon hanya tertawa kecil. Tidak ada protes. Tidak ada tanda bahwa ia merasa terganggu.
Sebaliknya, ada sesuatu yang lebih lembut dalam cara ia memandang Martin malam itu.
Percakapan mereka berlanjut lama setelah itu. Martin berbicara dengan semangat tentang Venesia. Tentang kanal-kanal air yang memantulkan cahaya matahari sore, tentang bangunan-bangunan tua yang berdiri sejak ratusan tahun lalu, tentang gondola yang meluncur pelan di antara jalan air yang sempit. Setiap kali ia bercerita, matanya berbinar seolah kota itu sudah hidup di dalam kepalanya sejak lama.
Juhoon tidak banyak bicara, ia hanya mendengarkan, dan menatap Martin.
Ada sesuatu di dalam dada Juhoon malam itu yang terasa semakin jelas, sesuatu yang selama ini ia simpan terlalu lama. Tanpa sadar, tangannya bergerak pelan di atas meja hingga akhirnya menggenggam tangan Martin yang sedang menjelaskan sesuatu dengan penuh semangat.
Martin berhenti berbicara sejenak.
Ia menatap tangan mereka yang saling menggenggam.
Namun ia tidak menariknya.
Sebaliknya, jari-jarinya justru menggenggam balik tangan Juhoon dengan lembut.
Malam itu terasa terlalu hangat.
Sampai tiba-tiba sebuah jeritan keras memecah suasana kafe.
“AAAAA! ADA BOM BUNUH DIRI!”
Segalanya berubah dalam sekejap.
Orang-orang di dalam kafe langsung berdiri panik, kursi berjatuhan ke lantai, beberapa orang berteriak sementara yang lain berusaha berlari menuju pintu keluar. Suasana yang beberapa detik lalu dipenuhi tawa kini berubah menjadi kekacauan yang mencekam.
Martin menoleh ke arah pintu dengan wajah pucat.
Namun Juhoon bergerak lebih cepat.
Ia langsung berdiri dan menarik Martin ke dalam pelukannya, seolah tubuhnya sendiri bisa menjadi pelindung dari apa pun yang sedang terjadi.
“Kita keluar lewat belakang,” katanya cepat.
Pegawai kafe mulai berteriak memberi arahan menuju pintu darurat di bagian belakang bangunan. Orang-orang berdesakan menuju arah itu, berusaha keluar sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi.
Namun sebelum Juhoon dan Martin sempat bergerak jauh—
Sebuah ledakan besar mengguncang udara.
Suara itu begitu keras hingga terasa seperti dunia terbelah.
Gelombang kejut menghantam bangunan kafe dengan kekuatan yang mengerikan. Kaca jendela pecah bersamaan, meja dan kursi terlempar, dan langit-langit bangunan runtuh dalam satu gerakan brutal.
Tubuh Juhoon dan Martin terpental keras.
Segalanya berubah menjadi cahaya putih, suara pecahan, dan debu yang memenuhi udara.
Kemudian sunyi…
Debu tebal menggantung di antara puing-puing bangunan yang runtuh. Dinding kafe yang tadi berdiri kokoh kini hanya tersisa rangka yang retak dan tumpukan beton yang berserakan. Kaca, kayu, dan potongan logam menutupi lantai, sementara dari kejauhan terdengar suara orang-orang berteriak dan menangis.
Di antara reruntuhan itu, dua tubuh tergeletak tidak jauh satu sama lain.
Sekitar satu meter jaraknya, dan darah menodai pakaian mereka.
Juhoon mengerang pelan, tubuhnya terasa seperti dihantam ribuan jarum sekaligus. Matanya perih dan hampir tidak bisa melihat apa pun karena serpihan kaca dan kayu yang melukai wajahnya. Ia mencoba membuka mata lebih lebar, namun dunia di sekitarnya hanya tampak seperti bayangan gelap yang kabur.
“Martin…?”
Suara itu keluar dari bibirnya hampir seperti bisikan.
Tangannya bergerak meraba-raba di antara debu dan pecahan kayu.
“Martinie…?”
Beberapa detik kemudian, jarinya menyentuh sesuatu.
Sebuah gelang yang sangat ia kenal. Gelang milik Martin yang ia berikan saat tahun baru.
Napas Juhoon tersangkut di tenggorokannya.
Tangannya bergerak lebih cepat sekarang, hingga akhirnya ia menemukan tangan Martin yang terasa dingin. Ia menggenggamnya erat, lalu meraba wajahnya dengan hati-hati, seolah memastikan bahwa Martin benar-benar ada di sana.
“Martin… aku di sini…”
Suara Martin terdengar lemah, hampir seperti desisan.
“Tanganku… Juhoon… aku tidak bisa merasakan tanganku…”
Juhoon mencoba mengangkat puing besar yang menindih lengan Martin, tetapi tubuhnya sendiri sudah terlalu lemah. Batu dan beton itu tidak bergerak sedikit pun.
Air mata mengalir dari matanya, bercampur dengan darah yang membuat penglihatannya semakin gelap.
Akhirnya ia menarik kepala Martin ke pangkuannya.
“Tidak apa-apa… kita akan baik-baik saja…” bisiknya dengan suara gemetar.
Namun Martin hanya menggeleng pelan dan ia tertawa kecil, tawa yang penuh rasa sakit.
“Juhoon-ah…”
“Iya, Martin. Aku di sini.”
Suara Martin semakin serak.
“Kenapa… kamu pilih Venesia…?”
Juhoon menunduk lebih dekat.
“Karena itu kota impianmu,” bisiknya.
Tangannya mengelus pipi Martin dengan lembut.
“Aku selalu ingin melukis sesuatu yang punya arti buatmu… semua lukisan yang aku buat… selalu ada kamu di dalamnya.”
Air mata Martin jatuh tanpa bisa ia tahan.
Ia menggesekkan pipinya ke telapak tangan Juhoon yang hangat. Lalu menatap Juhoon yang terpejam, darah yang agak mengering terlihat jelas di wajah Juhoon, Martin ingin sekali mengelus wajah Juhoon sekarang juga, namun tangannya tak berdaya. Dan Martin hanya bisa menangis, sesegukan sampai suaranya makin serak, Juhoon yang bisa mendengar itu hanya terdiam sambil mengelus pipi Martin.
“Juhoon-ah… aku… aku sangat-sangat menyayangimu…”
Juhoon tersenyum mendengarnya, berterima kasih kepada Martin karena sudah bersamanya sampai saat ini.
Namun perlahan tubuh mereka mulai kehilangan rasa.
Martin tidak bisa merasakan pangkuan Juhoon di kepalanya, begitu pun Juhoon yang tidak bisa merasakan Martin di bawahnya. Tangannya mendingin.
Dengan napas yang semakin lemah, Martin berbisik putus-putus.
“Juhoon-ah… Juhoon-ah... di kehidupan selanjutnya, kamu mau bersamaku lagi? Mau jadikan aku satu-satunya impianmu? Mau jadikan impianku di Kota Venesia menjadi nyata?”
Juhoon memaksakan dirinya tersenyum.
“Iya… Martin,” katanya menenangkan. “di kehidupan selanjutnya, kita akan terus bersama… jika gagal aku akan berusaha kembali… sampai kita berdua bisa mewujudkan impian itu.”
Di kejauhan, suara sirene ambulans mulai terdengar semakin dekat.
Lampu merah dan biru berkedip di antara debu dan puing-puing bangunan yang runtuh.
Namun di tengah kekacauan itu, Martin dan Juhoon tidak bisa meneriakan bantuan. Karena, napas mereka yang setiap harinya menghirup impian-impian besar telat berhenti dengan tenang.
Seolah hanya tertidur setelah hari yang sangat panjang.
Dan mimpi tentang Venesia, tentang kota yang belum sempat mereka lihat bersama, tetap tinggal di sana, menggantung lembut di antara dua hati yang akhirnya pergi bersama.
