Chapter Text
Owen Sanjaya si gitaris nonchalant yang masuk jurusan matematika-sains di tahun ke-2 saat sekolah menengah atas tidak pernah mengira bahwa ia akan dekat dengan Adriel Malaka, anak basket hits yang terkenal friendly dengan siapapun hanya karena pertemuan mereka yang tiba-tiba sesaat sebelum pulang sekolah
Menjadi teman satu kelas dengan kepribadian yang berbeda membuat mereka tidak terlalu dekat secara komunikasi. Adriel yang sering dispen karena kegiatan basket pun, membuat kehadirannya dalam 1 bulan bisa dihitung dengan jari.
Namun, Owen tidak terlalu peduli. Dia memang tidak memusingkan diri tentang hal itu. Namun, pada petang yang disinari cahaya matahari yang hampir hilang, di kelas yang kosong itu menumbuhkan pertemanan di antara mereka
Owen baru saja selesai dengan kegiatan band musiknya, dia mampir ke kelas yang berada di lantai dja itu untuk mengambil bekal yang tertinggal di bawah meja
Lorong-lorong kelas sudah kosong, hanya ada petugas kebersihan di lantai satu yang sedang membersihkan sisa-sisa debu kegiatan pembelajaran hari ini.
"Sreeet".
Suara pintu berderit sesaat Owen membuka pintu kelas. Kaget, itulah yang ia pikirkan saat melihat Riel, anak kelasnya yang sedang duduk di meja paling belakang dengan tangan yang secara cepat mengusap matanya yang terlihat sembab
“Lah, El? Tumben belum balik” Tanya Owen mencoba berbasa-basi
Empu yang ditanya hanya mengangguk dan berdiri membawa ransel di pundaknya. Owen diam-diam melihat gerak-gerik pria lain yang terlihat lunglai.
Entah apa yang ia pikirkan, tetapi Owen mendekati Riel yang berhenti di dekat pintu
Tinggi dan badan mereka yang selaras, membuat mereka saling menutupi satu sama lain. Owen memperhatikan bagaimana pria di depannya itu bermata sendu dan bahkan tidak memiliki tekad untuk melihat mata sang lawan bicara
“El, is there anything wrong? Bukannya gua mau ikut campur masalah lu ta-” Owen mencoba bertanya dengan segala nada yang sudah ia pikirkan beberapa detik yang lalu
“Tapi kita kan temen ya, kita juga sama-sama cowok. Maybe, I can help you a little?” Ucapnya lagi mencoba meyakinkan walau tidak memaksa
Tidak ada balasan dari sang lawan bicara, hanya ada sunyi di antara mereka berdua
Saat pikiran Owen dipenuhi rasa tanya dan malu, sesuatu yang hangat memenuhi dadanya. Almetnya mulai terasa basah karena tangisan sang lawannya yang sudah tak kuasa menahan semuanya
Kerah baju nya ditarik dengan lemah oleh Riel dan tubuh Owen masih mencoba untuk meresapi apa yang sedang terjadi. Riel menempatkan kepala nya yang penuh dengan awan mendung di dada Owen, mengharapkan sinar matahari datang setelahnya
Owen bergerak untuk menepuk pelan punggung lebar milik Riel. “Keluarin aja, El. Gua disini kok, tenang aja.” Ucap Owen sembari diikuti tangisan yang lebih keras.
Abaikan saja air mata Riel yang telah memenuhi Sungai Amazon. Karena sang empu masih diam menyandarkan kepalanya di dada teman kelas yang belum lama ia kenal itu
Kesadaran Riel datang menyambar seperti kilat, dengan cepat ia melangkah mundur dari orang yang baru saja memberi sinar matahari di antara badai yang ia miliki
"Aduh, maaf ya, Wen. Gua lebay gini sampe meluk lu tadi wkwkwk” Ucap Riel mencoba menutupi suaranya yang masih serak itu. Owen memilih untuk tersenyum dan mengangguk sebagai respon dari pernyataan Riel
“Emm..."
Tapi, makasih.” Ucap Riel sedikit terbata
“Makasih ya, Wen. Rasanya hati gua dah lega banget sekarang” Segera dengan Riel menghela nafasnya yang sudah terasa ringan
“Santai aja kalau sama gua, El. Daripada dipendam gitu, nanti makin ancur kepala lu” Candaan ringan Owen ucapkan kepada Riel yang bersandar ke pintu kelas yang sudah sedikit lapuk
“Mas!”, teriak seseorang dari lantai bawah
Kedua remaja pria itu pun segera berjalan ke balkon untuk mencari asal suara tersebut
Sesaat mereka menginjakkan kaki mereka disana, laki-laki paruh baya dengan sapu lidi yang bertengger di bahu kanannya melanjutkan ucapannya “Udah sore, Mas. Gerbangnya mau saya tutup, cepet pulang yak!”
“Siap, mang!” Teriak mereka berdua sembari bergegas menuruni tangga
Mereka berjalan ke arah rumah masing-masing, dengan jalan yang selalu mereka lalui setiap hari. Namun, setelah hari ini, ada bayangan baru di perjalanan itu
