Actions

Work Header

Little Swan

Summary:

Orang bilang balet adalah olahraga untuk orang berada dan boxing untuk orang kurang mampu.

Leo dan Anxin adalah anomali, mereka tidak peduli apa kata orang.

Mereka bertemu di tempat yang sama dan di ruang berbeda.

---

Ritual yang tidak pernah direncanakan terjadi begitu saja dan akhirnya menjadi rutinitas di setiap sebelum perlombaan.

Leo yang berlutut menali sepatu pointe Anxin sebelum Anxin naik ke panggung.

Tangan Anxin yang memasang sarung tinju Leo sebelum Leo naik ke ring tinju. Kemudian menggenggam tangannya, menciumnya, dan mendoakannya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter Text

Sepulang sekolah Anxin pergi ke toko buku. Dia ingin membeli komik. Komik favoritnya sudah ada di toko buku. Dia tidak sabar untuk membaca hari ini. 

Toko buku itu terletak di ujung jalan yang agak tersembunyi, diapit oleh barber shop dan warung mie ayam yang selalu ramai. Papan namanya sudah memudar, catnya mengelupas di sudut-sudut, tapi entah kenapa toko itu selalu terasa hangat setiap kali Anxin mendorongnya masuk.

Lonceng kecil di atas pintu berdenting.

"Anxin!" Junseo pria paruh baya berumur 51 tahun yang merupakan pemilik toko buku itu, mengangkat kepalanya dari balik kacamata baca yang miring di ujung hidungnya. "Mau beli komik?"

"Iya, Pak."

"Oh." Junseo mengangguk seolah itu informasi yang sangat penting. 

Anxin tersenyum dan masuk lebih dalam.

---

Rak-rak buku di toko Junseo seperti labirin kecil yang menyenangkan. Anxin sudah hafal jalurnya. Belok kanan untuk komik, belok kiri untuk novel, lurus terus untuk buku pelajaran yang tidak pernah ia sentuh kalau bukan karena terpaksa.

Ia menggosok rak komik dengan jari-jari yang sesekali menyentuh punggung buku. Dia mengambil komik yang sudah menjadi incarannya. Membolak-balik halamannya dan memutuskan untuk mengambilnya.

Entah apa yang merasukinya hari itu, dia memutuskan untuk berkeliling, perhatiannya tertuju pada ruangan di belakang rak buku yang berisi buku tua yang jarang dikunjungi. Pintunya setengah terbuka, dan dari celah itu mengalir cahaya yang lebih terang dari ruangan toko yang remang. Ada jendela di dalam, menghadap ke taman sempit di belakang toko, dan sinar sore menerobos masuk dengan warna keemasan yang pelan-pelan.

Di tengah cahaya itu, Jiahao pasangan dari Junseo sedang menari.

Anxin tidak bergerak.

Jiahao yang saat ini berusia lima puluh tahun, yang biasanya duduk di belakang meja kasir sambil merajut, berdiri dengan satu kaki. Tangannya terangkat seperti sayap yang sedang terbuka, ujung jarinya melengkung lembut. Kakinya yang lain terangkat ke belakang dalam garis yang panjang dan bersih. Gerakannya lambat tapi tidak lemah. Setiap perpindahan mengalir seperti air yang tahu ke mana harus pergi.

Anxin tidak tahu apa nama gerakan itu. Ia hanya tahu bahwa ia tidak bisa berhenti melihatnya.

Ada sesuatu yang aneh dan mengharukan tentang pemandangan itu.

Jiahao berputar perlahan.

Mata terbuka dan langsung bertemu dengan mata Anxin.

---

Anxin nyaris menjatuhkan komiknya.

Jiahao berhenti. Keduanya diam sejenak, saling menatap. Anxin merasa wajahnya memanas. Ia menunduk dan berpura-pura sangat tertarik pada komik di tangannya. Anxin ingin pergi, tapi Jiahao sudah melangkah ke arah pintu.

Jiahao keluar dari ruangan, masih mengenakan sepatu khusus yang Anxin baru sadari berbeda dari sandal jepit yang biasanya Jiahao pakai. Rambutnya yang putih sedikit berantakan. Tapi senyumnya tidak terlihat marah.

“Sudah lama kamu di sana?” tanya Jiahao.

"Ti-tidak lama. Maaf, aku tidak sengaja—"

"Tidak apa-apa." Jiahao memandangnya dengan cara yang membuat Anxin merasa dinilai, tapi tidak dengan cara yang tidak nyaman. Lebih seperti seseorang yang sedang membaca sesuatu dengan teliti. "Kamu suka?"

Anxin tidak tahu harus menjawab apa. Kata "suka" terasa terlalu luas untuk menggambarkan apa yang baru saja ia rasakan. Tapi dia juga tidak punya kata yang lebih spesifik, jadi dia hanya mengangguk.

Jiahao mengangguk balik, seolah itu jawaban yang tepat.

"Kamu mau mencoba?"

---

Ruangan itu ternyata tidak kecil-kecil amat bila tidak ada furnitur. Hanya sebuah cermin besar di satu dinding, lantai kayu yang sedikit berderit di beberapa titik, dan jendela itu.

Jiahao meminta Anxin melepas sepatunya.

"Balet bukan tentang kaki yang lentur atau tubuh yang kecil," kata Jiahao sambil berdiri di depan cermin. "Balet adalah tentang mendengarkan tubuhmu sendiri. Tentang menggerakkan satu bagian sambil menahan bagian yang lain. Tentang keseimbangan, bukan hanya yang di kaki, tapi juga di dalam sini." Jarinya menunjuk ke dada.

Anxin mencoba berdiri dengan posisi yang ditunjukkan Jiahao. Tumit rapat, jari kaki membuka ke dua sisi. Ia melihat dirinya di cermin dan hampir tertawa, ia terlihat seperti bebek.

Jiahao tidak tertawa, tapi matanya berbinar.

"Bagus. Sekarang tekuk lututmu pelan-pelan. Pelan. Jangan buru-buru."

Anxin menurut. Lututnya sedikit gemetar.

“Rasakan lantainya,” kata Jiahao. "Kamu harus mengenal lantai sebelum kamu mencobanya."

Anxin tidak terlalu mengerti maksud kalimat itu, tapi dia merasakannya, menginjakkan kaki di atas kayu yang hangat, beratnya sendiri yang dia tahan, cara tubuhnya mencari keseimbangan tanpa dia minta.

Lima belas menit berlalu tanpa ia sadari.

Ketika Jiahao akhirnya berkata "cukup untuk hari ini," Anxin menyadari ujung jarinya sakit dan betisnya sedikit pegal, napasnya sedikit lebih cepat dari biasanya. Tapi ada sesuatu yang ringan di dada. Sesuatu yang tidak ia punya kata untuknya.

"Mau datang lagi?" tanya Jiahao.

Anxin melihat ke arah komik yang tadi ia letakkan di atas kursi.

"Boleh, Pak?"

“Hari Minggu besok,” kata Jiahao. 

"Baik."

"Kita latihan setiap hari Kamis dan Minggu."

---

Hari Minggu, Anxin datang.

Kemudian hari Kamis. Lalu hari Minggu. Begitu seterusnya.

Setiap sesi Jiahao mengajarkan hal-hal kecil yang ternyata sangat sulit. Cara menegakkan punggung tanpa menjadi kaku, cara berjinjit seolah beratnya nol, cara berpindah dari satu posisi ke posisi lain.

Anxin sering salah. Ia sering hampir terjatuh. Suatu hari ia benar-benar terjatuh dan Jiahao hanya berkata, "Lantainya tidak kemana-mana. Kamu hanya perlu belajar kembali ke sana dengan perlahan."

Setiap kali dia pulang, ada sesuatu yang berbeda. Anxin sudah semakin terbiasa. Ia mulai mengenal tubuhnya dengan cara yang berbeda, bahwa tubuhnya bisa ditahan dengan jari kakinya, bahwa pundaknya bisa turun begitu, bahwa napas bisa menjadi bagian dari gerakan dan bukan gangguan dari gerakan.

Di cermin, ia masih sering melihat sesuatu yang aneh. Tapi kadang-kadang, di satu atau dua detik, dia melihat sesuatu yang lain.

Sesuatu yang mengalir.

---

Suatu sore, ketika latihannya hampir selesai, Junseo mengintip dari balik pintu. Wajahnya serius seperti biasa, kacamatanya masih miring.

"Dia selalu begitu kalau mau mulai," Junseo berkata kepada Jiahao sambil menunjuk Anxin dengan dagunya. "Terlalu ragu-ragu."

"Semua orang begitu di awal," Jiahao.

"Kamu dulu juga begitu," kata Junseo. "Aku masih ingat."

Jiahao tersenyum tipis tidak menyangkal.

Anxin melihat keduanya dari cermin. Junseo di pintu dan Jiahao di sebelahnya. Dia tiba-tiba mengerti bahwa ruangan kecil ini sudah ada jauh sebelum ia datang. Bahwa cermin ini sudah menyimpan banyak gerakan. Bahwa Jiahao tidak berhenti menari, meski usia terus bertambah dan meski tidak ada yang menonton.

---

Hari itu Anxin datang seperti biasa.

Tas sekolahnya masih di punggung, sepatunya masih kotor dari lapangan, dan di kepalanya sudah ada bayangan ruangan kecil itu. Lantai kayu yang hangat, cermin, suara Jiahao yang lembut tapi tegas.

Ketika ia mendorong pintu toko, bel berbunyi. Suasana di toko hari itu terasa berbeda.

Junseo duduk di belakang meja kasir. Tidak ada buku di tangan. Tidak ada kacamata yang miring di ujung hidungnya. Ia hanya duduk, dengan kedua tangannya di atas meja, menatap sesuatu yang tidak ada.

"Pak Junseo?"

Junseo mengangkat kepalanya. Ada sesuatu di wajahnya yang membuat Anxin berhenti melangkah.

"Anxin." Suaranya lebih pelan dari biasanya. "Duduklah."

---

Anxin tidak ingat dengan jelas apa yang Junseo katakan setelahnya. 

Anxin ingat kata rumah sakit. Ia ingat kata tiba-tiba. Ia ingat Junseo yang tidak menyelesaikan kalimatnya, dan jeda panjang yang mengisi ruang di antara kata-kata itu, dan cara Junseo melihat ke arah pintu ruangan kecil di ujung rak buku, pintu yang hari ini tertutup.

---

Dua hari yang lalu, Jiahao masuk rumah sakit.

Selama ini ia menderita kanker. Walau begitu penyakit itu tidak ia biarkan mengambil semuanya. Ia masih menari. Bukan untuk melupakan sakitnya, tapi untuk mengingat bahwa masih ada hal-hal yang menjadi miliknya.

Kenangan. Kegembiraan. Napasnya.

Empat hari yang lalu, ia masih di sini mengajarkannya seperti orang yang sehat, seperti orang yang punya waktu yang tidak terbatas.

Ternyata tidak. Sekarang, dia sudah bebas. Hanya kenangan yang tertinggal dan jejak kaki di lantai yang masih ingat cara ia menari.

---

Anxin menatap pintu itu.

Jiahao tidak akan keluar dari sana.

Ia tidak akan pernah ada lagi di ruangan itu.

---

Dia tidak tahu bagaimana cara pulang ke rumah hari itu. Kakinya berjalan sendiri, melewati jalan yang sudah ia hafal, melewati warung mie ayam yang ramai, melewati tikungan yang biasanya ia lewati.

Mama sedang di dapur ketika Anxin masuk.

Anxin tidak bilang apa-apa. Ia hanya berjalan ke dapur, dan ketika Mama berbalik dan melihat wajahnya, Mama langsung membuka kedua tangannya.

Anxin menerobos masuk ke pelukan itu.

Tangisnya keluar dengan cara yang tidak sopan, keras, dan tidak tertahan. Mama tidak bertanya. Mama hanya mempererat pelukannya, satu tangan di punggung Anxin, satu tangan lagi di kepalanya, seperti cara yang sama Mama lakukan ketika Anxin masih sangat kecil.

"Pak Jiahao, Ma" kata Anxin di sela tangis. “Pak Jiahao.”

Mama tidak menjawab. Tapi pelukannya semakin erat.

---

Beberapa hari setelahnya, kamar Anxin menjadi studio kecil yang tidak direncanakan.

Ia menggeser meja belajarnya ke sudut. Ia menggulung karpet tipis di lantai agar ada ruang. Cerminnya kecil, hanya sepotong cermin persegi yang biasanya ia pakai untuk menyisir rambut dan harus berdiri agak jauh untuk bisa melihat seluruh tubuhnya.

Tapi itu sudah cukup.

Ia mulai dari awal, dari hal paling dasar yang Jiahao ajarkan. Tumit rapat, jari kaki terbuka, tekuk lutut. Pelan-pelan. Rasakan lantainya.

Gerakannya kaku. Tanpa Jiahao yang mengoreksi, ia tidak selalu tahu apakah yang ia lakukan sudah benar atau belum. Kadang ia mencoba mengingat suara Jiahao "Pundaknya turun. Jangan tegang di sana. Atur napas" dan mencoba mendengarkan instruksi itu dari ingatannya sendiri.

Tidak selalu berhasil. Tapi ia terus mencoba.

---

Dua minggu kemudian, Anxin kembali ke toko buku.

Bukan untuk latihan, ia tahu itu sudah bukan lagi bagian dari kunjungannya ke sini. Ia datang karena ada komik baru yang sudah ia tunggu sejak bulan lalu, dan karena sebagian dirinya ingin melihat tempat itu lagi, ingin memastikan bahwa ia masih bisa masuk tanpa dadanya sesak.

Lonceng berbunyi.

Junseo ada di tempat biasanya, kali ini dengan kacamata yang sudah kembali miring di ujung hidungnya. Di depannya ada tumpukan buku yang sedang ia sortir. Ketika melihat Anxin masuk, ia mengangguk tanpa banyak kata.

Anxin menyusuri rak komik. Menemukan yang ia cari. Membawanya ke kasir.

Junseo menerima uangnya, menghitung kembalian, lalu meletakkan sesuatu di atas meja.

Sebuah buku.

Sampulnya berwarna krem yang sudah menguning di pinggir-pinggirnya, dan di dalamnya ketika Anxin membukanya dengan jari-jari yang tidak ia sadari sedikit gemetar. Ada halaman-halaman penuh gambar. Sketsa gerakan. Keterangan yang kecil dan miring. Beberapa halaman ada coretan di pinggirnya, catatan tambahan yang ditulis dengan tinta yang sudah memudar.

Tulisan Jiahao.

Anxin mengangkat kepalanya.

"Dia ingin kamu punya itu," kata Junseo. Suaranya datar, tapi matanya sedih.

"Sudah lama sekali dia memiliki buku itu. Sejak dia masih muda."

Anxin menatap buku itu lagi. Halaman pertama, ada tulisan tangan di pojok atas 'Untuk yang mau mendengarkan tubuhnya sendiri'.

Tenggorokannya terasa penuh.

"Terima kasih, Pak Junseo," katanya. Suaranya keluar lebih kecil dari yang ia inginkan.

Junseo hanya mengangguk. 

---

Malamnya, Anxin duduk di lantai kamar dengan buku itu terbuka di depannya.

Ia membaca setiap halaman dengan pelan. Gambar-gambar sketsa itu sederhana, tapi jelas. Posisi kaki, posisi lengan, arah pandangan, di mana berat tubuh harus bertumpu. Di beberapa halaman ada catatan kecil Jiahao yang membuat Anxin tersenyum tanpa sadar: 'Jangan seperti patung', tulis Jiahao di bawah sketsa satu posisi.

Anxin berdiri.

Ia mencoba gerakan di halaman pertama. Lalu halaman kedua. Lalu kembali ke halaman pertama karena ia merasa sesuatu belum tepat.

Malam itu ia tidak tidur sampai hampir tengah malam.

Dan keesokan harinya, sepulang sekolah, ia langsung kembali ke kamarnya.

Dan hari berikutnya lagi.

Buku itu menjadi kamus yang ia pelajari pelan-pelan. Setiap gerakan adalah kata baru, setiap sesi latihan adalah kalimat yang ia coba susun dengan benar. Setiap kali ada waktu kosong, setelah makan siang, sebelum belajar, kadang bahkan sambil menunggu nasi matang, Anxin berdiri dan mencoba sesuatu.

Ruangan kecil di kamarnya semakin ia hafal. Lantainya yang sedikit dingin di pagi hari, cerminnya yang tidak cukup besar, suara Papa yang kadang terdengar dari kebun di luar jendela.

---

Papa adalah orang yang bangun paling pagi di rumah itu, dan pulang paling sore. Kebun buahnya tidak pernah benar-benar selesai diurus, selalu ada yang harus dipangkas, dipupuk, dipetik, atau dicek.

Mama yang mengurus segala sesuatu di dalam rumah, memasak, mencuci, kadang ikut membantu Papa ketika musim panen tiba dan tenaga tidak cukup.

Mereka tidak pernah mengeluh tentang hal ini di depan Anxin. Tapi Anxin sudah cukup besar untuk melihat.

Jadi ketika suatu sore pintu kamarnya tidak tertutup rapat dan Anxin sedang berlatih, ia tidak tahu bahwa Papa dan Mama berdiri di luar dan melihat dari celah pintu itu.

Anxin tidak tahu berapa lama mereka di sana.

Yang ia tahu, malam itu ketika makan malam sudah selesai dan piring-piring sudah dicuci, Papa tidak langsung pergi ke depan televisi seperti biasanya. Ia dan Mama duduk di meja makan, dan mereka meminta Anxin duduk juga.

Anxin duduk dengan perasaan yang tidak bisa ia beri nama, separuh khawatir, separuh tidak tahu harus merasa apa.

Mama yang mulai bicara.

"Kamu mau les balet?"

Anxin membeku.

Ia menatap Mama. Lalu Papa. Lalu Mama lagi.

"Ma—"

"Kami selalu melihatmu," kata Papa. Suaranya seperti biasa, tidak banyak nada, seperti orang yang sudah terbiasa bicara langsung ke intinya. "Kamu bahagia saat melakukannya."

Mama menautkan tangannya di atas meja. "Ada tempat les balet di kota. Bukan yang paling bagus, tapi gurunya sudah lama mengajar. Kami sudah tanya-tanya sedikit."

Anxin tidak bergerak. Ia merasa seperti orang yang sedang berdiri di tepi sesuatu yang sangat besar dan tidak tahu apakah itu jurang atau jalan.

"Tapi kamu harus tahu dulu sebelum kamu jawab," kata Mama. "Lesnya mahal. Kalau kamu mau les, uang jajan untuk beli komik tidak ada lagi. Dan tempat lesnya jauh, kamu harus naik bus sendiri pulang dan pergi."

Anxin melihat ke meja.

Komik. Ia memikirkan rak komik di toko Junseo, judul-judul yang selalu ia tunggu, kesenangan kecil yang selalu ada di hari-hari biasa.

Lalu ia memikirkan lantai kayu di ruangan kecil itu. Jiahao yang berdiri dalam cahaya sore. Buku dengan tulisan tangan yang memudar. 'Untuk yang mau mendengarkan tubuhnya sendiri'.

Ia mengangkat kepalanya, menatap Mama dan Papa.

Lalu mengangguk cepat, sungguh-sungguh, dan tidak ada keraguan.

Mama menatapnya sejenak. Lalu senyum kecil muncul di wajahnya, senyum yang Anxin sukai.

"Baik," kata Mama. "Minggu besok kita ke tempat itu ya."

Papa tidak berkata apa-apa. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan pergi ke depan televisi setelah sebelumnya menyempatkan mengelus rambut Anxin lembut.

Anxin sangat senang hari itu.

---

Malam itu sebelum tidur, Anxin membuka lagi buku pemberian Jiahao.

Ia membalik ke halaman yang paling sering ia buka. Sebuah sketsa sederhana, seorang penari berdiri dengan satu kaki, tangan terentang, kepala menghadap ke atas. Di bawah sketsa itu, tulisan Jiahao:

'Keseimbangan bukan tentang tidak pernah goyah. Keseimbangan tentang selalu tahu cara kembali.'

Anxin tertidur sambil memeluk buku itu erat-erat.

Di luar jendela, kebun buah Papa gelap dan sunyi. Uang jajannya akan habis untuk ongkos bus dan biaya les. Sepatunya yang sekarang mungkin tidak cukup bagus untuk lantai studio. Tapi tidak apa-apa.

Anxin tidak sabar untuk hari Minggu.

Notes:

Haloo, aku bawain fanfic leoxin. Cerita ini terinspirasi dari manhua Salad Days. Top 1 manhua versiku yang gk pernah bosen reread.

Semoga suka ya.

 

Tadi udah sempet upload tapi kek pendek bgt, jadi kugabungin aja deh sama chapter 2nya.

Next chapter first meetnya anxin ma leo.