Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-03-08
Words:
1,874
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
54
Bookmarks:
5
Hits:
1,120

Friday night.

Summary:

Jum'at malam adalah waktu yang paling menyenangkan bagi semua orang, termasuk bagi Juhoon dan Seonghyeon.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Jum’at malam adalah waktu yang paling menyenangkan bagi semua orang, karena keesokan harinya adalah hari libur yang dinanti sepanjang minggu. Hal tersebut juga berlaku bagi Juhoon dan Seonghyeon, sebab keduanya kini tengah bergumul di tengah kasur sambil menonton film jepang berjudul “Drawing Closer” dari laptop Juhoon. Kaki keduanya berhimpitan satu sama lain dalam selimut, dengan bahu Seonghyeon yang bersandar nyaman pada lelaki disampingnya. Ini adalah ide Seonghyeon untuk menyaksikan film tersebut, dikarenakan akhir-akhir ini mereka tidak punya waktu untuk berduaan.

Bagi Seonghyeon yang kuliah jurusan Sastra, berpacaran dengan Juhoon selaku mahasiswa Teknik adalah tantangan terbesar dalam hidupnya. Ia menyukai Juhoon, tergila-gila malah. Saat pertama berkenalan dengan Juhoon, semua stigma mengenai Teknik redflag langsung sirna dari pikirannya. Tapi masalah lain justru muncul ketika hubungan mereka mulai memasuki tahap serius. Juhoon ternyata super duper sibuk, berbeda dengan masa pendekatan mereka yang tiap saat akan bertemu untuk mengikis waktu. Bayangkan saja, kekasihnya itu selalu sibuk dengan urusan laboratorium dan praktikan, habiskan waktu dari pagi ke pagi berkutat dengan larutan dan laporan, tak sisakan waktu sedikitpun tuk menyayangi dirinya. Tak jarang kesibukan Juhoon picu pertengkaran hebat dalam hubungan mereka, yang ujung-ujungnya buat mahasiswa Teknik Kimia itu bertekuk lutut meminta maaf di kamar kos milik yang lebih muda.

Film tersebut berlangsung selama dua jam, dan selama waktu tersebut baik Juhoon maupun Seonghyeon sibuk mengunyah popcorn sebagai camilan pendampingnya. Di pertengahan, saat suasana sedih mulai menyapa, jemari yang lebih muda bergerak mencari pegangan pada kekasihnya. Gerakan tersebut disadari oleh Juhoon dengan cepat, dalam sepersekian detik jemari keduanya sudah terperangkap dalam tautan. Ia berikan usapan halus pada telapak tangan Seonghyeon seakan berusaha hadirkan kenyamanan dalam suasana sedih yang dihasilkan oleh tontonan mereka.

“Kalau semisal aku meninggal duluan daripada kamu kayak Haruna, kamu bakalan gimana, Kak?” tanya Seonghyeon tiba-tiba sambil memfokuskan pandangannya pada Juhoon, genggaman tangannya semakin erat pada jemari lelaki tersebut.

Juhoon tak langsung menjawab, ia memilih untuk diam seakan tak mendengar pertanyaan pacarnya tadi. Barulah saat pertanyaan tersebut akan diulang, ia segera membalas dengan lugas, “Kamu pernah bilang ‘kan sama aku, kalau kamu pengen nerbitin buku yang isinya pembelaan terhadap kaum kita. Kamu bilang, setidaknya dunia harus tau, kalau kita juga sama dengan mereka yang dianggap normal. Kalau kita juga berhak mencintai dan dicintai dengan bebas tanpa diskriminasi apapun.”

Juhoon menjeda kalimatnya sejenak, sedikit perbaiki posturnya untuk kemudian menatap kekasihnya dengan seksama. “Kalau kamu pergi lebih dulu dari aku, aku bakal wujudin keinginan kamu yang satu itu. Aku bakal suarain hal yang belum sempat kamu sampaiin ke orang-orang. Dan aku bakal mastiin kalau satu dunia tau bahwasannya gagasan itu asalnya dari kamu, sayang.”

Ada jeda yang lama diantara mereka ketika kalimat tersebut selesai diucapkan. Bukan keheningan yang mencekik, namun justru hadir dengan rasa tenang yang hangat. Seonghyeon menatap Juhoon dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Ada rasa senang, sedih, dan perasaan tak adil yang hinggap di dadanya. Lagi-lagi ia merasa bersyukur karena ada Juhoon disisinya, yang menerima segala baik buruknya, jatuh bangunnya, dan beribu gagasan yang ia tahu akan hasilkan caci maki dari dunia.

Bersama Juhoon, Seonghyeon bisa bernapas dengan lebih ringan.

Tak ada kata yang keluar setelah itu, mereka hanya kembali berfokus pada tayangan seakan percakapan barusan tak pernah ada. Namun memori tentang ucapan Juhoon tadi akan selamanya tinggal dalam sudut hati Seonghyeon, pada tempat tersembunyi yang tak akan pernah terjamah oleh siapapun.

Pada saat film tersebut mencapai menit akhirnya, tangisan Seonghyeon pecah menjadi raungan kesedihan, kedua kelopak matanya terasa bengkak dan panas. Lembaran tissue habis dalam sekejap untuk menghapus jejak air mata yang tak mau berhenti mengalir pada pipinya. Juhoon tak kalah parah, seluruh mukanya memerah akibat intensitas tangis yang berlangsung. Isak kecil terus-terusan lolos dari bibirnya bahkan ketika dirinya sudah berusaha redam sekuat mungkin. Saat tangisan mereka mereda, keduanya tergelak melihat kekacauan di wajah satu sama lain.

Seonghyeon tak dapat menahan diri untuk tak menangkup wajah lelaki tersebut dalam genggamannya, rasakan hawa panas menjalar melalui kulitnya. “Lihat deh muka kamu, kayak kepiting rebus”, ucapnya seraya mengusap lembut pipi yang basah akibat air mata. Aksi tersebut buat lelaki dihadapannya memejamkan mata disertai hembusan napas yang lembut, merasa nyaman dengan tindakan kekasihnya.

“Kamu juga ga kalah merah, sayang.” jawab si pemilik wajah dengan suara rendah nan lembutnya kemudian.

Seonghyeon terkikik kecil, pipi Juhoon yang semula ia usap lembut kini berganti menjadi cubitan pelan. Ia tarik perlahan bongkahan kenyal itu beberapa kali karena gemas, tak sadar bahwa bibirnya ikut manyun ke depan saat fokus lakukan tindakan tersebut. Sementara ia sibuk menjamah pipi Juhoon dengan jemarinya, pandangan lelaki yang lebih tua justru jatuh pada belah bibirnya. Netra gelapnya mengamati dengan seksama, penuh dengan keinginan terlarang yang sering ia tahan diam-diam.

“Ngapain manyun-manyun begitu?” tanya Juhoon pelan, intonasi suaranya keluar lebih berat dari yang ia harapkan. Sementara itu kedua netranya masih terpaut pada ranum berisi milik Seonghyeon.

Pupil Seonghyeon melebar saat mendengar pertanyaan dari Juhoon, tak sadar akan tindakannya sendiri. Rasa bingung terpancar sesaat dari matanya untuk kemudian sirna dalam sekejap mata. Ia menarik kedua tangannya dari wajah Juhoon dengan gerakan secepat kilat. Kemudian, tanpa sadar, menggigit bibir bawahnya sendiri akibat tatapan milik Juhoon seakan ingin melahapnya. Jantung Seonghyeon perlahan mulai berdebar lebih cepat, diikuti rasa gugup yang menyelimuti seketika. Namun di balik itu semua, keinginan yang sama turut hadir di bagian terdalam hatinya. Rasa ingin untuk melabuhkan bibirnya pada milik Juhoon, merasakan bagaimana belah lembut tersebut bergerak bersama miliknya dengan seksama.

Sebagai pasangan kekasih yang sudah cukup lama menjalin hubungan, Seonghyeon dan Juhoon sangat jarang berbagi cinta melalui ciuman. Mungkin, seberapa banyaknya bisa dihitung dengan jari. Juhoon lebih senang merangkul dirinya dalam pelukan hangat, seraya mengusak sorai coklat miliknya dengan kelembutan tak terhingga. Pun untuk Seonghyeon, ia lebih nyaman bersandar sembari sembunyikan wajahnya pada lekukan leher Juhoon untuk hirup aroma parfum yang menguar.

“Sayang...”

Panggilan tersebut buat Seonghyeon seketika tersadar dari lamunannya, “Huh? Kenapa?”

“Aku kan barusan nanya, duh. Kamu sengaja apa gimana sih?” ucap Juhoon sedikit kesal melihat raut wajah yang terkasihnya saat ini.

Gemas sekali rasanya saat melihat Seonghyeon dalam keadaan linglung. Lelaki itu seperti punya translate pribadi di wajahnya—semua yang ia pikirkan akan terpancar jelas di air mukanya. Saat kebingungan, lelaki manis itu akan buat ekspresi seperti anak kucing kehilangan induk, buat sisi primal dalam diri Juhoon ingin menguasai secara penuh. Biasanya, Juhoon dapat dengan mudah menahan diri dari pikiran bejatnya—mencium Seonghyeon hingga kehabisan napas contohnya. Tapi dengan kondisi saat ini, lebih baik turuti keinginan hatinya, ‘kan?

Tanpa berlama-lama, Juhoon singkirkan laptop miliknya ke meja di samping kasur, bersamaan dengan bungkus popcorn yang sedikit berserakan di atas selimut. Gerakan tersebut tertangkap secara jelas oleh Seonghyeon, buat dirinya dipenuhi dengan antisipasi atas hal selanjutnya yang mungkin terjadi. Benar saja, Juhoon kemudian angkat tubuh mungil lelaki tersebut untuk duduk di pangkuannya. Pandangannya menyapu lembut figur sang pujaan hati, berikan tatapan mendamba yang sarat akan rasa ingin.

“Cantik banget, sayang.”

Sudut bibir Juhoon terangkat membentuk senyuman kecil yang malas. Tangannya beristirahat dengan nyaman di pinggang milik yang lebih muda. Jemarinya ia bawa untuk meremas lembut lekukan tersebut seraya berikan usapan ringan, buat Seonghyeon tak dapat berkata-kata akibat rasa yang berlebihan. Kim Juhoon gila, batinnya.

Seonghyeon rasakan degup jantungnya berdebar dengan keras, begitu keras hingga ia khawatir akan terdengar oleh yang lain. Kedua tangannya bertumpu pada bahu Juhoon, seolah berpegangan padanya akan menjaga kewarasannya tetap ada. Tubuh keduanya menempel satu sama lain dengan erat seperti sudah menjadi kebiasaan, seakan memang diciptakan hanya untuk momen ini. Dalam posisi sedekat ini, Seonghyeon dapat melihat dengan detail garis wajah Juhoon yang begitu sempurna. Dan sekali lagi buat ia sadar, lelakinya amat sangat menawan hati.

Tangan Juhoon beralih pada tengkuk Seonghyeon, menahannya untuk tetap ditempat dan tak bisa kabur. Napas mereka beradu dalam tempo yang lambat, hasilkan sensasi mendebarkan bagai adegan slowmotion dalam film-film. Senyuman lemah yang ia tampilkan begitu mematikan, buat Seonghyeon kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Napasnya tercekat beberapa kali, bersamaan dengan dadanya yang naik turun dengan tak sabar akibat adrenalin.

“Kak...” cicit Seonghyeon saat memperhatikan bagaimana wajah yang lebih tua perlahan mendekat hingga tak sisakan jarak. Panggilan tersebut tentu tak dihadiahi balasan, sebab perhatian Juhoon saat ini hanya pada bibirnya, bibirnya, dan bibirnya.

Saat ranum mereka akhirnya bertemu dalam kecupan singkat, kepala Seonghyeon terasa pening luar biasa. Matanya terpejam otomatis, nikmati bagaimana yang lebih tua bawa tubuhnya lebih dekat hingga tak ada jarak apapun diantara mereka. Ranumnya disesap dengan lembut yang seketika hadirkan sensasi kupu-kupu beterbangan di perutnya. Perasaan menggelitik itu kirimkan arus listrik di sepanjang jemarinya, buat Seonghyeon bergidik sekujur badan. Saat Juhoon menarik diri dari tautan mereka, ia dapat melihat bagaimana netra lelaki itu tampak sayu, namun penuh dengan hasrat membara.

“Yaampun, cantiknya bikin aku gila.”

Ibu jari Juhoon mengusap bibir bawah Seonghyeon yang sedikit basah oleh liur, buat rona merah semakin menjalar melalui lapisan kulit lelaki diatasnya. Dengan penuh kesengajaan, Juhoon menjilat bibirnya sendiri, merasakan bagaimana tatapan yang lebih muda mengikuti lidahnya. Lelaki itu tau, bahwa dirinya punya kendali penuh atas hasrat yang terbakar dalam diri Seonghyeon. Kepuasan mutlak bergema di jantungnya melihat bagaimana rasa lapar terpancar jelas dari wajah manis itu.

Seonghyeon maju lebih dulu kemudian, tampak tak kuasa dengan tempo berlama-lama milik Juhoon. Ia menyapukan bibirnya pada lelaki dihadapannya dengan lembut—hampir tak terasa. Kedua tangannya kembali menangkup wajah Juhoon dengan lembut, ibu jarinya gemetar seolah takut lelaki tersebut akan lenyap jika ia menggenggam terlalu erat. Ciuman lembut penuh hasrat di sepanjang bibir mereka hasilkan debaran tak terkendali dalam hati. Lengkungan kecil terbentuk di sudut bibir Seonghyeon ketika ia menarik diri dari ciuman tersebut. Binar matanya tunjukkan kepuasan dan rasa sayang mendalam terhadap lelaki di hadapannya.

“Manis.” bisiknya dengan senyum lebar, begitu puas sampai dadanya terasa sakit akibat perasaan yang begitu meluap.

Gambaran Seonghyeon yang diliputi perasaan senang buat Juhoon menggila. Kekasihnya begitu cantik, selalu cantik, selalu berhasil buat ia ingin mendekap tubuh kecil itu selamanya. Begitu cantik, sampai-sampai ia tak rela yang lain akan melihat bagaimana wajahnya tersapu cahaya lembut lampu tidur yang tonjolkan fitur wajahnya. Bagaimana lesung pipinya muncul saat senyum hiasi wajahnya, bagaimana sudut matanya gemetar saat dipenuhi perasaan berdebar, bagaimana tarikan napasnya tersengal saat jemarinya perlahan jelajahi tubuhnya.

Bibir Juhoon kembali meraup bibir Seonghyeon dengan intensitas lebih besar, perlahan memagut bilah bibir tersebut dengan tempo yang semakin lama semakin dalam. Lelaki di pangkuannya membalas dengan tak sabaran, hasilkan bunyi basah yang semakin mendorong keduanya pada ambang batas. Seonghyeon bawa jemari rampingnya menuju sorai milik Juhoon, meremas helaian rambut tersebut untuk salurkan rasa frustasi akibat nikmat berlebihan yang hantam dadanya.

Ciuman mesra itu berlangsung lebih lama dari apapun, seakan keduanya lupa akan waktu bahkan dunia sekalipun. Seonghyeon sesekali melenguh ketika Juhoon dengan sengaja menggigit bibirnya, buat kekasihnya itu semakin gencar permainkan dirinya. Ketika pagutan mereka terlepas, Seonghyeon sandarkan dahinya pada yang lebih tua dengan napas yang memburu, Dadanya naik turun dengan cepat, berusaha meraih oksigen yang terasa menipis di ruangan. Jemarinya masih mencengkram erat kedua bahu kekasihnya. Rasa puas menghantam dengan keras hingga buat kepalanya pening, mabuk akan dopamin yang terus-terusan mengalir melalui pembuluh darahnya.

Saat suasana panas itu mereda, Juhoon bawa yang lebih muda untuk berbaring bersamanya diatas kasur. Tubuh mereka saling berpelukan seakan enggan untuk berpisah barang sedetikpun. Juhoon menarik selimut hingga sepenuhnya menenggalamkan kedua tubuh tersebut. Mereka tetap seperti itu untuk waktu yang lama, nikmati presensi satu sama lain sebelum rasa kantuk menyerang. Bahkan saat terhanyut dalam alam mimpi sekalipun, keduanya tetap berpegangan erat satu sama lain hingga fajar menyingsing.

Notes:

hi, if you see me on twitter, yes it's me @contabct