Work Text:
Barth percaya bahwa tiap orang memiliki waktu dalam sehari yang paling disukai. Bagi Barth, waktu tersebut adalah ketika hujan turun di sore hari, kemudian tak lama pelangi muncul bagaikan obat penenang yang diberikan oleh alam untuk manusia. Selain alasan filosofis di baliknya, ada alasan tersendiri bagi Barth. Tiap kali momen itu terjadi, Barth selalu seperti dibawa kembali ke masa lalunya. Lebih dari 15 tahun yang lalu.
Kejadiannya sama. Hujan turun begitu deras membasahi bumi. Petir sesekali menyambar. Di momen seperti itu, orang pada umumnya berlindung di dalam rumah. Tapi, Barth bukan orang pada umumnya. Di momen itu, ia berdiri getir di bawah guyuran hujan. Ia tidak merasa takut ataupun khawatir. Sebaliknya, Barth merasa ini adalah kesempatannya untuk benar-benar mengikhlaskan hatinya.
Di hadapan Barth, Tanrak berdiri menatapnya. Air matanya menyatu dengan air hujan, sulit dibedakan. Tapi, Barth bisa merasakan emosi yang begitu panas di ratusan bulir air lain yang dingin.
Tanrak menundukkan kepalanya. “Maafkan aku. Aku tidak seberani dirimu.”
Barth sudah tahu ia akan mendengarkan kalimat serupa itu suatu saat. Ia telah mempersiapkan dirinya sendiri selama ini. Meski begitu, ternyata hatinya tetap merasakan sakit walau ia telah berusaha mempersiapkan diri. Seberapa lama pun, ternyata ia tetap belum siap.
“Aku mohon, jangan jadikan aku sebagai penghalang bagi perjalanan panjang hidupmu. Aku tau jiwamu menyukai kebebasan, dan aku tak mau jadi penjaramu.” Meski Tanrak berusaha terdengar tegar, Barth bisa merasakan getaran pada suaranya. Dia yakin, sebenar-benarnya, Tanrak juga tak menginginkan hal ini.
“Aku tidak pernah menganggapmu sebagai penghalang,” Barth berkata. “Akulah ujian dalam hidupmu.”
“Mungkin begitu. Ini ujian terbesar dan terberat dari Tuhan yang pernah kujalani.”
“Dan kamu berhasil melewatinya. Kamu berhasil melewatinya, Tanrak.”
“Kita berhasil.” Tanrak mengoreksi. Matanya memandang langsung ke arah Barth.
Barth menggeleng. “Sejak awal, aku tidak pernah menganggapnya ujian. Kamu tau aku tidak percaya Tuhan,” kata Barth. Dia bisa melihat perubahan raut wajah Tanrak—seolah-olah dirinya baru saja diguyur seember penuh air dingin dan kembali disadarkan akan sesuatu. Sejak awal, Barth sadar bahwa dirinya dengan Tanrak adalah suatu kemustahilan. Tidak akan pernah ada akhir yang mereka inginkan. Tanrak tidak ditakdirkan untuk hidup di dunia Barth, dan Barth juga tidak bisa hadir di hidup Tanrak.
Hidup Barth jauh dari kata mudah. Ia tidak pernah merasakan kenyamanan dalam hidupnya. Sejak dirinya kecil, Barth harus bertarung—baik secara harfiah atau sekedar metafora—untuk mempertahankan dirinya. Sejak ibunya tiada, hidupnya semakin keras. Barth tumbuh tanpa ayah, tanpa ibu, tanpa tempat untuk disebut rumah. Ketika pada akhirnya Barth dimasukkan ke sekolah seminari dan bertemu dengan Tanrak, Barth merasakan bagaimana cara ia melihat dunia perlahan berubah.
Sebelum bertemu dengan Tanrak, hidup Barth hitam putih. Tak peduli apapun, yang penting adalah bagaimana caranya ia bisa tetap hidup keesokan harinya. Sering kali, Barth merasa lebih baik bagi dirinya untuk tidak usah lagi bertemu dengan hari esok. Mungkin akan lebih baik jika ia tidak perlu menjalani hidup lagi. Ia mulai mencoba segala hal yang dapat membantunya lebih cepat mendekati kematian. Barth hidup dengan kebebasan yang ia buat—meski orang kerap kali menyebutnya kecerobohan. Hal yang sama dengan yang membuatnya kemudian dicap sebagai “anak liar”. Ia tak heran mengapa orang tua menjadi was-was jika ia bergaul dengan anak mereka, barangkali takut ia membawa pengaruh buruk. Barth tidak peduli. Ia sudah terbiasa hidup dengan pandangan tak mengenakan dari orang-orang.
Tapi, Tanrak tidak begitu.
Tanrak tak pernah sekalipun memberikan pandangan itu. Ia adalah orang pertama yang Barth rasa sungguh-sungguh melihatnya sebagai manusia biasa. Ketika Romo meminta Tanrak untuk menemaninya, Barth merasa senang. Saat itu, ia tidak tau alasannya. Yang jelas, ia senang bisa menghabiskan waktu dengan Tanrak. Mungkin karena sama-sama yatim piatu, mereka dapat memahami kondisi satu sama lain.
“Aku ingin pergi ke surga.” Suatu hari, Tanrak berkata demikian. Matanya memandang langit-langit kamar.
Barth menoleh ke arah Tanrak. Ia bisa melihat sepasang mata itu memancarkan sebuah harapan dan mimpi yang tinggi. Terlalu tinggi untuk bisa ia pahami. Namun, Barth tidak mengatakannya. Justru, ia bertanya, “Kenapa?”
“Romo bilang, ayah dan ibuku berada di surga. Jadi, aku ingin pergi ke sana juga dan bertemu dengan mereka lagi.”
“Apa karena itu kamu begitu taat dengan agamamu?” Barth bertanya. Baginya, sulit untuk memahami dan mempercayai ajaran-ajaran agama. Tipuan, pikirnya.
“Ya,” jawab Tanrak dengan pasti. “Aku ingin menjadi seorang pendeta, aku ingin melayani Tuhan. Dengan begitu, aku bisa pergi ke surga-Nya.”
Barth tak pernah menyangka, kata-kata itu akan terus menghantuinya. Bahkan ketika Barth menyadari perasaannya pada Tanrak, ia sadar bahwa terdapat benteng penghalang yang begitu tinggi. Ia tahu Tanrak. Ia tahu perasaannya akan menjadi sebuah beban bagi laki-laki itu.
Sepanjang hidupnya, Barth tidak pernah peduli dengan orang lain. Tapi untuk pertama kalinya, Tanrak menjadi orang yang begitu ia pedulikan. Untuk pertama kalinya, Barth merasakan sakit yang mendalam. Ia terbiasa melakukan hal semaunya, tapi Tanrak tidak demikian. Barth tahu Tanrak juga merasakan hal yang sama sepertinya, namun Tanrak tidak menjalani hidup seperti dirinya. Tanrak hidup sebagai anak baik, bukan anak liar sepertinya. Bagi Tanrak, perasaan mereka adalah sebuah dosa besar. Artinya, bagi Tanrak, perasaan mereka adalah penghalang baginya menuju surga.
Barth terbiasa hidup di masa kini. Pemikirannya sederhana. Ia tak suka berpikir terlalu rumit dan jauh ke depan—menurutnya, sama saja seperti sedang menghayal. Maka, malam itu, di dalam kamar mereka, Barth memberanikan diri untuk mencium Tanrak untuk pertama kalinya. Ia pikir, ia akan mendapatkan sebuah pukulan. Ternyata tidak. Barth hanya mendapatkan keheningan.
Tanrak tak berkata apapun. Bibirnya tertutup rapat. Ia memandang Barth, entah apa isi pikirannya. Kemudian, laki-laki itu melenggang pergi keluar kamar. Sejujurnya, detik itu juga, Barth rasa lebih baik ia mendapatkan pukulan di wajahnya. Setidaknya, Tanrak memberikannya sebuah respon.
Setelah malam itu, Barth kira hubungan mereka akan hancur. Ia kira Tanrak akan menjauhinya. Tapi, ternyata keesokan harinya Tanrak bersikap seperti biasanya. Seolah tidak terjadi apapun. Sikap Tanrak membuat Barth berpikir bahwa tidak ada harapan bagi perasaannya. Mungkin memang seharusnya ia tak memiliki perasaan bagi Tanrak. Mungkin seharusnya ia tak menciumnya. Mungkin ciuman itu adalah sebuah kesalahan. Tapi, Barth menolak untuk mengakui bahwa perasaannya adalah sebuah kesalahan. Baginya, cinta adalah cinta. Jika Tuhan mengajarkan untuk mencintai, lantas dimana letak kesalahannya?
Namun, Barth sadar, barangkali Tanrak tidak berpikir begitu. Tanrak tumbuh di sekolah seminari. Ia seharusnya membenci orang-orang sepertinya, kan? Barth berpikir demikian. Akan tetapi, satu minggu setelahnya, saat mereka berada di kolam renang—hanya mereka berdua—mereka kembali berciuman. Bedanya, kali ini Tanrak yang menginisiasinya.
Saat itu, Barth merasa bahwa ia sepertinya bisa melawan seisi dunia, asalkan ada Tanrak di sisinya. Untuk pertama kalinya sepanjang hidupnya, Barth merasakan kebahagiaan. Tanrak seolah-olah telah mengangkat beban yang selama ini berada di pundaknya. Setiap hari, ia dan Tanrak seperti tak terpisahkan. Barth selalu merasa bahagia saat bersama Tanrak. Bahkan hal-hal kecil dapat membuatnya girang sepanjang hari.
Pernah suatu hari Barth mengajak Tanrak untuk keluar berkeliling. Pada awalnya, Tanrak menolak. Namun setelah beberapa bujukan, Tanrak akhirnya mau. Barth membawa Tanrak berkeliling menggunakan sepeda motor. Tanpa melihat, Barth tahu bahwa Tanrak juga merasa senang ketika angin jalan membelai kulitnya. Ketika rambut Tanrak tersibak terkena angin. Ketika Tanrak tersenyum lebar dan tertawa puas saat Barth membawanya ke pantai. Pada hari itu, Barth seperti dibuat semakin jatuh oleh Tanrak. Ia merasa, ia rela melakukan apapun untuk Tanrak. Apapun itu.
Hari-hari Barth semakin berwarna. Ia seperti telah menemukan cahaya dalam hidupnya. Cahaya itu adalah Tanrak. Mungkin memang cahaya itu hanya terlihat oleh Barth, tapi tak apa. Barth tak suka sembunyi-sembunyi, ia terbiasa menunjukkan apa adanya pada dunia, tapi jika itu untuk Tanrak, Berth mau menurunkan egonya. Tak apa jika mereka hanya bisa menunjukkan kasih ketika tak ada siapapun. Tak apa jika mereka hanya bisa menunjukkan diri mereka ketika dunia telah tidur. Barth memang tidak peduli apa kata dunia, tapi Tanrak peduli. Baginya, alasan itu lebih dari cukup.
Barth tidak tahu kesalahan apa yang telah ia perbuat. Ia merasa kian hari, Tanrak semakin menjauhinya. Padahal, tidak terjadi perseteruan di antara mereka. Ia yakin, ada yang salah.
“Kamu menghindariku, ya,” kata Barth pada Tanrak segera setelah laki-laki itu memasuki kamar mereka.
“Apa? Tidak,” jawabnya. Tanrak sibuk mengatur buku-buku di mejanya. Barth tahu itu palsu. Tanrak hanya berpura-pura sibuk dan berusaha menghindari tatapan matanya.
“Kamu menghindariku.” Barth semakin yakin. Ia mendekati Tanrak yang enggan menatap wajahnya. “Kenapa? Aku ada berbuat kesalahan?”
“Aku tidak menghindarimu, Barth,” kata Tanrak sekali lagi. Ia masih enggan menatap Barth.
“Ya, kamu menghindariku. Jelaskan, Tanrak. Aku tidak suka kalau kamu hanya diam begini saja.”
Tanrak tetap bergeming.
Barth menggenggam kedua tangan Tanrak. “Jawab aku.”
Kedua tangan Barth dihempaskan oleh Tanrak. Akhirnya, Tanrak menatap mata Barth meski hanya untuk beberapa detik. “Barth, kumohon. Sudah. Aku salah—kita salah. Aku telah berbuat dosa.”
Sesuatu rasanya seperti menusuk hati Barth. Ia membeku sesaat. “Dosa? Tanrak, apa salah dari kita? Bukannya Tuhan mengajari kita untuk mencintai? Lihat, kita saling mencintai, kan? Iya, kan? Jawab aku, Tanrak.”
Barth berusaha membuat Tanrak untuk memandangnya. Ia yakin, bukan begitu isi hati Tanrak. Ia kembali memegang tangan Tanrak, namun genggamannya ditepis untuk kedua kalinya.
“Tidak ada cinta antara dua pria, Barth!” Tanrak berteriak. Ini pertama kalinya ia mendengar Tanrak berteriak. Kedua matanya memerah dan berkaca-kaca. Tidak, bahkan pipinya sudah dibasahi oleh air matanya. “Apa yang kita—apa yang aku punya, semua tidak benar. Ini salah. Romo benar. Tuhan memberi kita kebebasan untuk memilih kebenaran dan keburukan, dan aku telah melakukan keburukan. “
Tanrak menunduk, lantas menarik rambutnya sendiri. Kakinya tak kuat menopang tubuhnya dan ia berakhir berjongkok di lantai. “Maaf. Maafkan aku Barth—maaf, Tuhan. Tolong, aku sadar aku salah. Maaf.”
Tanrak terus berbicara, kata-katanya semakin tak beraturan. Ia menarik rambutnya semakin keras.
Barth merasa marah, namun ia justru memeluk Tanrak. Laki-laki itu menangis dalam pelukannya. “Tanrak, apa gunanya Tuhan jika kita tidak bisa saling mencintai?”
Pertanyaan itu keluar dengan pelan, terdengar begitu getir.
“Aku mohon, Barth.… Aku—aku ingin berkumpul kembali dengan orang tuaku.”
Sesuatu dalam diri Barth seperti sedang tertusuk. Setelah dibawa terbang tinggi, ia seperti dihempaskan kuat-kuat ke tanah. Ia ingin egois. Ia ingin Tanrak untuk dirinya. Tapi, ia tak cukup hati untuk melakukannya. Rasanya dunia Barth dihancurkan dari luar. Seolah-olah semuanya adalah adegan dalam film, dan kini lembaran film itu telah digunting-gunting oleh seseorang.
Tanrak masih terisak dalam pelukannya. Tangan Barth bergerak mengelus rambut Tanrak begitu perlahan dan lembut. Barth sadar—sangat sadar, malah—ketika ia bergerak mengecup rambut Tanrak.
—————
Ada yang berbeda sejak perbincangan mereka di kamar hari itu. Meski Tanrak tak lagi menghindarinya, tapi Barth menyadari jarak yang berusaha diciptakan oleh Tanrak. Barth tahu seberapa besar keinginan Tanrak, dan sama sepertinya yang juga mendambakan kebebasan, Barth tak ingin menghancurkan impian Tanrak.
Saat itu pukul empat sore. Hujan terus turun sejak siang hari. Semakin sore, hujan justru semakin kencang diiringi oleh petir sesekali. Seharusnya setiap siswa saat itu berada dalam kamar masing-masing, tapi Barth justru duduk di bawah derasnya hujan. Ia kabur, entah untuk yang keberapa kalinya. Pikirannya kacau. Ia kembali ke kehidupannya dulu—abu-abu. Kelulusan semakin dekat dan ia semakin tak tahu arah setelahnya.
Lamunan Barth terganggu ketika ia sadar butir hujan tak lagi mengenainya. Ia menoleh, menjumpai Tanrak yang berada di sampingnya sambil membawa payung. “Ayo berteduh, nanti sakit.”
Tanrak tidak menanyakan alasan mengapa Barth memilih kehujanan dan dingin, dan Barth mengapresiasinya. Tanrak membawa Barth ke halte bus. Meski tubuhnya sudah basah kuyup, setidaknya Barth tak lagi kehujanan.
Entah untuk berapa lama, mereka diam saja. Saling terlelap dalam pikiran masing-masing.
Tiba-tiba, Tanrak berkata, “Mau hujan-hujanan?”
Barth tak mengerti. Sejenak ia memintanya berteduh, sekarang ia mengajaknya bermain di bawah hujan. Barth melirik langit yang masih abu-abu. Masih deras, tapi tak sederas beberapa saat yang lalu ketika ia duduk sendirian.
Tanrak menutup payungnya, kemudian melangkah keluar lebih dahulu. Barth menyusul di belakangnya. Ia memandangi tubuh belakang Tanrak. Kemeja putihnya basah, memperlihatkan punggungnya.
Tanrak berbalik dan menundukkan kepalanya. “Maafkan aku. Aku tidak seberani dirimu.” Kemudian, laki-laki itu menatap Barth. Barth terkejut kala melihat air mata di wajahnya. “Aku mohon, jangan jadikan aku sebagai penghalang bagi perjalanan panjang hidupmu. Aku tau kamu punya mimpi yang besar, Barth. Aku tau jiwamu menyukai kebebasan, dan aku tak mau jadi penjaramu. Lanjutkan perjalananmu, dan aku juga akan melanjutkan perjalananku sendiri.”
“Aku tidak pernah menganggapmu sebagai penghalang. Yang ada, akulah ujian dalam kehidupanmu.”
“Mungkin begitu.” Ketika jawaban itu terlontar dari mulut Tanrak, Barth tertawa pahit dalam hatinya. “Ini ujian terbesar dan terberat dari Tuhan yang pernah kujalani.”
“Tapi kamu berhasil melewatinya,” kata Barth. “Kamu berhasil melewatinya, Tanrak.”
“Kita berhasil.”
Barth terkekeh dan menggeleng. “Sejak awal, aku tidak pernah menganggapnya ujian. Kamu tau aku tidak percaya Tuhan.” Barth diam sejenak. “Namun aku akui, aku juga cukup sakit.”
“Aku tahu. Aku minta maaf.”
Barth bisa melihat rasa bersalah pada raut wajah Tanrak. Sejujurnya, ia tidak pernah membayangkan Tanrak meminta maaf padanya. Tidak dengan kondisi di bawah hujan deras, tidak dengan mata memerah, dan tidak dengan menangis. Barth tidak pernah menginginkan permintaan maaf dari Tanrak.
“Tanrak,” panggil Barth. “Katakan, mengapa kamu begitu percaya Tuhan? Apa yang sudah Tuhan berikan padamu?”
Tanrak tersenyum simpul. “Kalau kamu percaya, kamu akan tahu. Kalau kamu belum tahu, artinya imanmu belum kuat. Aku bisa hidup, bisa bahagia, semuanya karena Tuhan. Aku di sini karena Tuhan. Tuhan itu baik, Barth. Aku tidak mau mengkhianati-Nya.”
Barth diam sejenak. “Apa aku masih bisa pergi ke surga jika aku menyukai laki-laki?”
Tanrak tak langsung menjawab. Barangkali ia tidak pernah menyangka Barth akan menanyakan hal demikian. Atau barangkali, pertanyaan itu terasa terlalu dekat dengannya.
Setelah beberapa saat, Tanrak berkata, “Romo pernah bilang, Tuhan selalu membebaskan kita, namun bagaimana kita menjalani hidup adalah pilihan kita. Tuhan selalu memaafkan umatnya. Selama kamu mau kembali, Tuhan selalu membuka pintu untukmu.”
“Begitu,” kata Barth. “Aku senang bertemu denganmu, Tanrak. Aku tau hidup kita berbeda, tapi kamu memperlihatkanku bagaimana duniamu, walaupun singkat.”
“Mhm. Aku yakin hidupmu bukan di sini. Aku yakin hidupmu adalah berkeliling dunia, bebas lepas tanpa jeratan apapun. Aku harap kamu mencapai keinginanmu,” kata Tanrak. “Setelah lulus, aku akan menjadi pendeta. Aku ingin menjadi pendeta. Barangkali, kemudian kita bisa berjumpa lagi.”
“Aku akan mengusahakannya.”
Hanya Barth yang tahu dengan makna sebenarnya kalimat itu. Selepas kelulusan, ia benar-benar meninggalkan kota itu. Ia benar-benar mengelilingi dunia, seperti apa kata Tanrak. Mungkin orang luar hanya mendengar mengenai kisah Barth, si anak liar, yang pada akhirnya pergi melanjutkan kehidupan penuh kecerobohannya itu. Barangkali Tanrak juga berpikir demikian.
Hanya saja, Barth yang pergi meninggalkan kota adalah Barth yang berbeda dengan yang dikenal orang. Ia tumbuh. Pikirannya lebih dewasa. Kini, ia telah menemukan tujuan hidupnya. Selama bertahun-tahun setelahnya, Barth tidak pernah menikah. Saat usianya menginjak kepala tiga, Barth memutuskan untuk mengadopsi seorang putra. Sendirian, tanpa pasangan. Bersama putranya, ia berkeliling dunia. Mempelajari dan memperdalam pemahaman agama.
Selama bertahun-tahun, Barth tahu masa kecilnya tidak bisa disebut beruntung. Ia tumbuh tanpa kasih sayang dan bimbingan orang tua. Maka dari itu, ia ingin menjadi sosok yang tak pernah ada dalam hidupnya. Ia ingin menjadi sosok pembimbing bagi putranya. Ia ingin putranya tumbuh untuk mengasihi dan bukan mengadili. Barth paham betul bagaimana rasanya hidup di antara orang-orang yang menganggap eksistensinya sebagai sebuah kesalahan. Ia tak ingin putranya menjadi salah satu dari mereka.
Barth dewasa berusaha menjadi orang baik dan membantu setiap orang yang bisa ia bantu. Ia tidak menganggap dirinya sebagai orang suci, ia hanya ingin menebar kebaikan kemanapun dirinya pergi. Meski begitu, di kepala lima, Barth semakin sakit-sakitan. Ia tak selincah di usia kejayaannya. Tubuhnya mengurus. Mungkin karena ambisinya yang membuatnya seringkali lupa untuk mengurus dirinya sendiri, Barth akhirnya mengidap kanker. Ia tak menyesali maupun membenci kondisinya. Di masa mudanya, ia berusaha untuk mendekati akhir hidupnya. Kini, ia memaknainya sebagai cara Tuhan mendekatkan dirinya pada-Nya.
Dengan kondisinya yang kian memburuk, Barth memutuskan untuk membawa putranya kembali ke kampung halamannya. Sebuah kota yang menyimpan begitu banyak kenangan untuknya—baik yang manis maupun yang pahit.
“Di sini tempat di mana Ayah besar,” kata Barth pada anaknya, North, setibanya mereka di sebuah rumah. Rumah yang sengaja Barth beli. Rumah yang sengaja ia beli karena jaraknya yang dekat dengan sekolah seminarinya dulu. “Barangkali kamu juga bisa mendapatkan pelajaran di sini, seperti Ayah dulu.”
“Sejujurnya, aku penasaran akan sesuatu, Yah. Kenapa Ayah memilih rumah ini? Maksudku, jaraknya tidak sedekat itu dengan pusat kota.”
Barth tersenyum. “Ayah ingin tempat ini menjadi tempat dimana Ayah menghabisi sisa hidup Ayah.”
“Jangan berkata begitu, Yah.”
“Semua orang pada akhirnya akan mati, North, dan kembali pada-Nya. Ayah dulu bukanlah orang yang baik, begitu kata orang-orang. Ayah ingin memperbaikinya sekarang. Ayah harap, dengan begitu, Ayah bisa pergi ke surga-Nya.”
“Aku rasa semua orang juga ingin begitu,” kata North.
“Memang benar, tapi ada sesuatu yang istimewa bagi Ayah. Sejujurnya, Ayah pernah tidak percaya. Tapi, dulu, Ayah bertemu dengan seseorang. Seseorang yang membuat ayah pada akhirnya merasa bahwa Ayah ingin pergi ke surga. Mungkin, jika tak bertemu dia, Ayah tidak akan ada di sini sekarang.”
“Kenapa begitu?”
“Karena Ayah ingin ke surga, dengan harapan dapat bertemu dengannya kembali.”
North tertawa, sebelum akhirnya segera menghentikan dirinya sendiri. Ia tersenyum geli, mungkin sedang berusaha menggoda ayahnya. “Ah, Ayah ternyata juga pernah jatuh cinta, ya?”
Jatuh cinta. Barth tidak tahu apakah kata itu cukup untuk menjelaskan perasaan dan apa yang ia alami. Baginya, ia bukan hanya sekedar jatuh cinta. Apa yang ia rasakan dan alami mengubah hidupnya. Jatuh cinta tak cukup untuk menggambarkannya. Ia bukan hanya dibuat jatuh cinta, namun ia juga dibuat percaya. Percaya akan hidupnya, akan dirinya, dan barangkali—ia akhirnya dibuat percaya akan eksistensi Tuhan.
Setelah bertahun-tahun lamanya, Tanrak sudah terbiasa dengan suasana gereja. Setelah segala perjuangannya, Tanrak berhasil mencapai mimpinya menjadi seorang pendeta. Hidupnya adalah untuk Tuhan. Hidupnya adalah untuk mengabdi pada gereja.
Namun hari itu, matanya menangkap sebuah wajah yang asing. Setelah sekian lama, Tanrak sudah pernah melihat dan bahkan mengenal tiap jemaatnya. Namun, kali itu, adalah pertama kalinya ia menjumpai laki-laki muda itu.
“Nak, aku baru melihat wajahmu. Apa kamu datang bersama temanmu ke mari?” Tanrak menghampirinya. Entah kenapa, ada sesuatu yang membuatnya merasa bahwa ia harus mengenalnya.
“Ah, tidak, Romo. Saya memang baru saja pindah ke mari beberapa hari yang lalu. Ini memang pertama kalinya saya ke gereja ini.” Anak itu menjawab.
“Begitu. Siapa namamu?”
“Nama saya North. Saya ke mari untuk berdoa untuk Ayah saya, Romo.” Tanrak diam, menyilakan anak itu untuk bercerita. “Mohon doanya juga, Romo, Ayah saya saat ini sedang sakit kanker. Kondisinya semakin memburuk. Saya khawatir.”
“Jangan khawatir, nak. Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi kita. Semoga ayahmu lekas sembuh. Apa ayahmu pendatang juga?”
“Oh, bukan, Romo. Ayah saya asli daerah ini, tapi baru kembali setelah bertahun-tahun. Mungkin Romo kenal? Ayah saya bernama Barth. Bartholomeus.”
Mungkin Tuhan sedang memberikannya ujian lagi saat itu, Tanrak berpikir demikian. Setelah bertahun-tahun tak mendengar kabarnya, tiba-tiba saja ia bertemu dengan seseorang yang mengaku sebagai putra dari Barth, seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Seseorang yang masih menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Tanrak berusaha berpikir positif, barangkali namanya saja yang sama. Namun, ketika ia memutuskan untuk mendatangi rumahnya, ia diperlihatkan Barth yang pernah ia kenal. Tanrak tidak tahu harus merasa seperti apa. Barth di depannya berbeda dengan Barth yang terakhir kali ia lihat bertahun-tahun yang lalu. Barth yang kini berada di hadapannya, duduk dengan kondisi pucat, kepala tanpa rambut, dan terlihat begitu lemah, sama sekali berbeda dengan ingatannya. Berbeda dengan Barth yang terlihat selalu bisa melakukan apapun di dunia beberapa tahun yang lalu.
“Senang melihatmu benar-benar berhasil, Romo.” Suara Barth masih terdengar sama di telinga Tanrak, meski tak setegas dulu.
Ada rasa yang aneh ketika Tanrak mendengar panggilan itu dari mulut Barth. “Aku juga bahagia untukmu. Putramu itu hebat.”
“Oh, dia bukan putra kandungku. Aku mengadopsinya. Aku tak pernah menikah.” Tanrak tak tahu mengapa Barth berkata demikian, tapi Tanrak juga tak mengerti mengapa ia merasa lega mendengarnya. “Tapi, aku menganggapnya sebagai putraku sendiri. Dia anak yang baik.”
“Kamu yang membesarkannya dengan baik.”
Barth tertawa kecil. “Terima kasih.”
“Bukan apa-apa, memang kamu yang membesarkannya.”
“Bukan, bukan itu.” Barth menyela. “Aku berterima kasih kepadamu untuk apa yang sudah pernah terjadi. Terima kasih, Romo. Semenjak hari itu, aku rasa, belum terlambat untuk mengusahakan surga-Nya, kan? Hari itu membuatku sadar akan sesuatu. Aku tidak akan pernah bisa lepas dari penghakiman manusia, tapi untuk apa aku khawatir? Aku berusaha untuk menjadi orang baik, Romo, agar aku layak menjadi penduduk surga-Nya.”
Tanrak terhenyak. “Begitu. Aku bahagia mendengarnya. Sejujurnya, keberanianmu juga membuatku berani. Terima kasih untuk itu.”
Barth mengangguk. Bahkan setelah bertahun-tahun, Tanrak tetap mengingat dengan jelas segala hal yang pernah terjadi. Di masa lalu, ia akui ia adalah seorang pengecut. Ia tak seberani dirinya sekarang.
“Harus kuakui, Barth.” Tanrak berkata, “Aku tidak bisa berbohong bahwa aku sungguh merasa nyaman dan senang denganmu saat itu. Tapi, dulu aku terlalu takut. Semakin aku besar, aku sadar bahwa kamu benar; perasaan cinta tidak pernah salah. Cinta dan kasih itu murni, tapi perilaku manusia yang menodainya.”
Tanrak pikir, setelah sekian lama, mungkin ia seharusnya berkata jujur pada Barth. Ia pikir, Barth pantas mengetahui sebetul-betulnya apa yang ia rasakan dahulu.
“Setelah perbincangan terakhir kita saat hujan itu, aku dibuat banyak berpikir. Kepergianmu membuatku sadar bahwa tak seharusnya aku takut. Pertanyaanmu kala itu membuatku semakin yakin untuk memantaskan diri sebagai hamba-Nya. Sungguh, aku tidak pernah sekalipun menyesali pertemuan kita.”
Barth tersenyum. “Kalau begitu, mari kita bertemu lagi di surga-Nya kelak, ya, Romo.”
Tanrak tak pernah menyangka, bahwa kalimat itu akan menjadi kalimat terakhir yang ia dengar dari Barth. Dua hari setelah pertemuannya, North datang mengabari bahwa Barth telah meninggal dunia. Tanrak merasa sedih, namun ia tak merasa kehilangan. Ia merasa, dan ia percaya, bahwa ia masih akan bertemu dengannya lagi, meski mungkin di tempat yang akalnya tak dapat bayangkan. Barangkali, kalimat Barth saat itu memang merupakan sebuah perpisahan untuknya.
Di hari pemakaman Barth, Tanrak menjadi orang yang menghantarkan doa untuknya. Tanrak tak pernah membayangkan hari ini. Ia tak pernah menyangka bahwa ia akan menghantarkan Barth ke surga-Nya, menghantarkan laki-laki yang sempat mengecam eksistensi Tuhan. Namun, Tanrak menganggap bahwa ini adalah kasih Tuhan yang sesungguhnya.
“Terima kasih sudah menghantarkan Ayah, Romo,” North berkata seusai pemakaman.
Tanrak mengangguk. “Ayahmu adalah pria yang baik, nak. Tuhan pasti menerimanya.”
“Saya harap begitu, Romo. Ayah dulu pernah berkata, kalau dia ingin bisa pergi ke surga dan bertemu dengan seseorang. Tapi, Ayah tidak pernah mau memberitahu saya. Saya berdoa semoga keinginan Ayah bisa terwujud.”
Tanrak tertegun mendengarnya. “Nak North, jikalau kamu perlu sesuatu, datang saja pada Romo. Ayahmu dan Romo adalah teman baik dulu, jadi tidak perlu sungkan.”
Meski Barth telah tiada, Tanrak tidak merasa betul-betul kehilangan. Sebaliknya, ia merasa seperti sedang ditemani dimanapun dirinya berada. Meski tak terucap jelas, namun ia memperlakukan North sebagai putranya sendiri. Tanrak merasa bahwa barangkali North adalah sosok Barth jika saja ia tumbuh dengan cinta orang tua, dan ia ingin memastikan bahwa North benar-benar tumbuh dengan baik. Kehadiran North menyadarkan Tanrak bahwa setelah segala hal yang terjadi, cinta selalu kembali, meski mungkin dengan bentuk yang berbeda.
Jauh dalam alam bawah sadarnya, terdapat pemikiran, barangkali, mungkin North adalah putra Barth dan Tanrak di sebuah realitas lain yang mengizinkan mereka untuk bersama.
