Work Text:
"Gua nggak percaya cinta."
Empat kata yang sering Sagara ucapkan.
"Jangan harap itu berubah."
Frasa yang hancurkan hati Keandra.
Bagaimana tidak? Pujaan hatinya tidak percaya bahwa manusia akan pernah mampu menjalin hubungan kasih antara satu sama lain dengan tulus sepenuhnya.
Namun, entah mengapa, Keandra menemukan dirinya terus mendamba dan mencinta sosok yang tidak merasa layak menerima apa pun selain derita itu.
Begitu pula Sagara, lelaki yang lahir setahun lebih awal itu, yang kini sedang tiduran manja di atas paha lelaki satunya. Bibirnya berujar tidak percaya cinta, tetapi kelakuannya seakan mengemis minta dicinta.
"Kakak, besok mau jalan-jalan ke mana?" tanya Keandra sambil menyibukkan tangannya untuk memainkan surai kecoklatan pemuda satunya.
"Kalau Braga lagi bosen nggak sih? Asia-Afrika mau? Gua belum pernah foto di depan tulisan 'Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum' itu."
"Boleh. Naik motor aja ya kalau gitu? Biar parkirnya nggak susah."
"Okay."
Keandra terkekeh. Kakak ini lucu. Beberapa menit lalu, Sagara barusan ngedumel soal orang-orang yang pacaran di kampus. "Nggilani." katanya - menjijikkan. Melihat dua insan berjalan beriringan, bergandengan tangan dengan wajah berhiaskan senyuman dari telinga ke telinga itu memuakkan, menurutnya.
"Kakak dielus gini suka, tapi lihat orang lain begitu bilang mau muntah." ejek Keandra.
"Beda ah. Lu mah ganteng, wangi, jadi gua demen aja diginiin." tukas Sagara.
"Oh, jadi kalau gua jelek dan bau, lu nggak demen lagi?"
"Iya lah? Yang bener aja lu."
Gemas, Keandra memeluk erat tubuh di pangkuannya itu. "Nggak usah cemberut juga, kak. Yang ada malah lu jadi tambah lucu." katanya, mencubit pipi yang lebih tua.
"Gombal mulu lu, cil."
"Cal, cil, cal, cil. Gini-gini lu kalau minta dipangku, digendong, juga mintanya ke gua, si kecil ini."
"Iya, deh, gede. Gede lu, se-Gedebage. Memang lu paling gede seantero tanah Sunda nih." asbun Sagara.
"Ah, udah lah, kak. Lu makin malem makin ngablu. Tiduran aja sana."
"Kelonin."
"Hah?"
"Keloninn. Apa sih bahasa Indonesianya? Peluk? Cuddle?"
"Oh. Iya, bentar. Gua ke toilet dulu."
"Cuci tangan ya pakai sabun"
"Iya, iya. Lu pikir gua sejorok apa sih."
Keandra beranjak dari tempat tidurnya, mengurung diri di kamar mandi sebentar. Lima menit. Benar, lima menit harusnya cukup untuk menenangkan dirinya yang serasa ingin berteriak ke sekecamatan Jatinangor itu kalau malam ini lagi-lagi, ia akan memeluk kakak cantik itu sampai terlelap.
Iya, Sagara sudah sering seperti ini. Setiap hari Jumat, ia selalu menyempatkan naik bus dari Bandung ke Jatinangor, lalu berjalan kaki ke apartemen Keandra untuk menginap semalam - hanya untuk kembali lagi ke Bandung keesokan paginya karena rumah lelaki satunya itu di tengah kota.
Padahal, kalau setahun lalu Sagara ditanyai apakah dia mau berkunjung lagi ke Jatinangor, pasti ia akan menjawab tidak secara mentah-mentah. Sebab katanya setahun saja singgah di sana sudah cukup buatnya penat karena ke mana-mana jauh, repot harus sering bolak-balik Bandung.
Akan tetapi siapa manusia di dunia ini yang tidak pernah menjilat ludahnya sendiri? Sagara pun begitu. Malah sekarang ia yang rajin merecoki kamar adik tingkatnya itu, supaya alih-alih tidur sendirian setelah seminggu menjalani perkuliahan, ia didekap hangat dari belakang punggungnya oleh sang pemuda yang sangat kecintaan padanya.
Sagara tahu, seberapa berantakan Keandra dibuatnya. Sagara juga sadar, bahwa sebenarnya ini jahat - karena tidak ada apa-apa yang ia janjikan ke lelaki itu selain afeksi yang hanya bisa disaksikan keduanya dan bukan siapa pun, tanpa status ataupun kepastian.
"Gua nggak mau pacaran. Gua cuman mau main aja." begitu kata Sagara sebulan yang lalu, ketika Keandra mampir ke kosannya untuk memberi sebuket bunga.
Pun Keandra, sama sekali tidak keberatan. "Gua tahu. Main aja sepuas lu. Gua nggak masalah lu mainin." jawabnya tersenyum.
Keandra membasahi mukanya dengan air dingin. Biar nggak ikutan ngablu. Cukup Sagara saja yang asal bicara, dia jangan. Agar amit-amit seperti kata bapak dosennya tadi pagi, "Ibaratnya dia ngomong pakai mulut, lu ndengerinnya pakai hati."
Pas lima menit berlalu, Keandra keluar dari kamar mandi dan mematikan lampu kamarnya.
"Andra.."
"Apa, cantik?"
"Pelukk."
Wajahnya semburat merah, Keandra tersenyum dan memeluk tubuh yang terduduk di pinggir ranjangnya itu, sebelum mengangkatnya dan membawanya untuk duduk di atas dinding setengah badan yang memagari balkonnya.
"Ini kalau lu mau bunuh gua tinggal dorong dikit bisa keknya."
"Lu peluk gua yang kenceng aja biar kita jatuhnya bareng."
Sagara tertawa, "Ah, kita masih muda. Keknya sayang kalau mati sebelum umur 20."
Keandra menangkup pipi kanan Sagara kemudian membelainya lembut dengan ibu jarinya. Ia menarik pinggang Sagara, mempererat jarak antara keduanya. Kepalanya ia sandarkan ke dada yang ia dekap.
"Rambut kamu wangi banget." komentar Sagara, mengacak-acak helaian yang baru dipujinya.
Yang dipuji tak bersuara, hanya membalas dengan semakin mendusel-duselkan kepalanya ke dalam pelukan.
"Keandra."
"Hmm?"
"Kamu nggak mau cari pacar?"
Sontak kepalanya mendongak. Ia tampak berpikir sejenak sebelum menggelengkan kepalanya mantap, "Nggak. Gua nggak mau pacaran sama siapa-siapa selain lu, tapi lu-nya nggak mau pacaran."
Sagara terkekeh, "Ya kan ada banyak orang lain? Wong kita sama-sama demen mau itu laki atau perempuan."
"Tapi gua maunya lu, kak."
Ia menatap Sagara dengan serius. Sagara hampir saja kasihan mendengar pernyataan miris tersebut kalau ia tidak ingat bahwa orang di depannya ini punya ratusan pesan tidak terjawab di media sosialnya - yang kebanyakan isinya ajakan kenalan, jalan-jalan, bahkan juga pacaran. Anak itu sama sekali tidak mempunyai alasan yang cukup kuat untuk membuatnya bertahan dalam hubungan tidak jelas dengan Sagara seperti sekarang.
"Lu memang goblok, ya."
"Lu demennya orang goblok, kak."
Keduanya tertawa, Sagara mencubit pipi yang lebih muda. "Iya, Keandra. Orang goblok kalau kek lu juga gua demen."
Sagara memajukan wajahnya, mengecup kening Keandra singkat. Yang dicium lantas mematung.
"Gosh, what a loser. Breathe a little, cil." utas Sagara, mendengus.
"Kak, lu pernah ciuman nggak?"
"Kalau gua jawab pernah, lu kecewa nggak?"
"Nggak, keknya lebih aneh kalau lu nggak pernah."
Sagara tertawa, "Tapi gua nggak suka ciuman, ndra. It's disgusting. At least that's what I think."
"Lu salah orang aja kali ciumannya."
"Yah, kek lu pernah aja sok-sok-an ngomong gitu."
"Makanya cobain. Siapa tahu kalau sama gua enak."
"Dih? Pede banget lu?"
"Kalau nggak enak, gua nggak akan pernah minta lagi. Sekali aja plea-"
Belum usai Keandra utarakan pintanya, kalimatnya sudah terpotong oleh bibir Sagara yang menempel lembut di bibirnya. Matanya membelalak, menatap paras cantik Sagara yang matanya tertutup seakan tindakannya saat ini diambilnya secara enteng.
Sagara melepaskan ciumannya, "Katanya mau ciuman, tapi cuman bisa diem doang pas beneran dicium. Cupu banget dah."
"Kak."
"Apa?"
"Mau la-"
"Mau lagi?"
Keandra menganggukkan kepalanya cepat, Sagara menertawakannya.
"Cium balik ya tapi?"
Kali ini Keandra yang menyosor maju lebih dulu, mencumbu bibir lelaki di hadapannya. Sagara mengalungkan tangannya di leher Keandra, yang meletakkan tangannya sendiri di punggung Sagara untuk menopangnya.
BRRRTTT PRENG KETENG KETENG KETENG
Ah, sial. Sagara lupa bangunan ini berseberangan dengan jalan raya yang setiap malam dilewati motor dengan berbagai macam knalpot brong modifnya itu.
Mereka melepaskan ciuman itu dan terbahak-bahak bersama.
"Bangke, ngerusak suasana aja tuh motor." maki Sagara, sebelum ia memeluk Keandra erat hingga tubuhnya terhuyung ke depan sedikit.
"Easy, kak. Nanti beneran jatuh ini kita."
Sagara terkekeh, membelai belakang kepala pemuda yang ia dekap. "Banyak senyum ya, Keandra. Kamu manis." ujarnya.
Keandra terpaku sebentar, sebelum mendengus, "Yang manis gua atau bibir gua?" ledeknya, membuat Sagara reflek melepas pelukan keduanya dan memukul lengannya.
"Aw, sakit loh, kak.." rengek Keandra sambil mengelus-elus lengannya sendiri.
"Lebay." balas Sagara memutar matanya kemudian turun dari duduknya di pinggir balkon. Ia lantas berjinjit sedikit, mengalungkan tangannya di leher yang lebih muda lagi, kemudian mencubit pipinya.
"Jangan ikutan temen-temen lu ngerokok, ya. Nanti bibir lu nggak manis lagi." ucapnya lalu mengecup singkat bibir Keandra, lagi, sebelum melipir masuk ke dalam kamar seakan ia tidak baru saja melakukan apa-apa.
Ah.. Keandra bisa gila. Parah. Dia benar-benar dipermainkan. Lebih parah lagi. Dia tidak keberatan sedikit pun. Mungkin ia sudah gila.
"Gua nggak percaya cinta."
Baiklah, Sagara. Keandra terima.
Kita bukan apa-apa, dan tidak akan pernah jadi apa-apa.
