Actions

Work Header

MANTAN PACAR BUAT EYANG

Summary:

Ada permintaan eyang uti yang selalu sukses Kaelix hindari sampai ia tak bisa mengelak lagi tahun ini: bawa calon. Masalahnya, eyang uti ulang tahun di akhir bulan nanti. Dari mana Kaelix bisa cari pacar secepat itu?

Kecuali mantannya mau bantu.

Mantan terindahnya.

Notes:

Buat Nath. I miss you.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

 

 

 

 

"RENCANA acaranya pas di hari eyang uti ultah atau di weekend-nya kayak biasa, Kae?"

Kayak biasa.

Sial.

Belum apa-apa Kaelix sudah acak-acakan. Di seberangnya, Seible, sepupu terkutuknya, terlihat tengah tertawa puas sambil memegangi perut yang dihadiahi pelototan dari Kaelix. Ia sedang asyik-asyikan berbaring dengan paha tunangannya yang dipakai sebagai bantal. Si hobi PDA ini, memang.

Ini semua adalah ide gila Seible.

"Iya. Kayak biasa, Zeal. Di Sabtu sorenya, tanggal 14 Februari."

Terdengar bunyi gemerisik kertas dari ujung panggilan telepon. Mungkin Zeal sedang mengecek kalender mejanya atau buku agenda berukuran A6 usangnya yang selalu ia bawa ke mana-mana. Kaelix menunggu.

"Aman, Kae. Aku bisa, ya."

Jika lutut Kaelix sedikit bergetar saat mendengar "aku" barusan, Zeal tidak perlu tahu.

"Oke kalo gitu. Nanti kujemput. Detailsnya aku wasaf, ya?"

"Boleh."

"Nomor kamu masih sama, Zeal?"

"Masih kok. Tinggal dibuka aja block-nya." 

Sialan.

Walau tidak sedang berhadapan, Kaelix sudah bisa membayangkan selebar apa cengiran Zeal di seberang sana.

"Will do. Sekali lagi, makasih udah mau bantu ya, Zeal ..."

"Mm, sama-sama. Totally my pleasure. Kangen juga sama eyang uti."

"Alright. See you around then?"

"See you around, Kaelix."

Setelah menutup panggilan di ponselnya, Kaelix menghempaskan dirinya di sofa. Tiba-tiba ia merasa bisa bernapas normal kembali—juga tidak sadar bahwa beberapa saat tadi ia sempat menahan napasnya.

"Elu ngobrol sama mantan aja udah kayak abis teleponan sama debt collector."

"Lu diem ya."

Seible terkekeh.

Perlu ditekankan lagi, ini semua adalah ide gila Seible.

Ulang tahun nenek mereka ada di akhir bulan ini. Tiga minggu lagi. Di arisan keluarga sebelumnya, eyang uti sudah berseloroh supaya cucu-cucunya membawa calon untuk diperkenalkan ke keluarga. Tentu saja calon yang serius. Dengan dalih bahwa usianya semakin betambah dan ia ingin melihat anak-cucunya dikekelilingi orang yang dikasihi.

Sebenarnya tidak ada paksaan. Permintaan eyang uti juga tidak mutlak seperti cucunya akan dikeluarkan dari silsilah keluarga atau akan kehilangan hak warisnya jika tidak menikah tahun ini. Hanya saja, eyang uti sempat dengan girangnya berkata pada Kaelix, "Nanti Zeal dateng kan, Kae?" dan Kaelix tidak bisa menjawab tidak pada nenek kesayangannya yang tengah menatapnya penuh harap. Zeal sudah beliau anggap seperti cucunya sendiri.

Eyang uti tidak perlu tahu bahwa hubungannya dengan Zeal sudah kandas sejak enam bulan lalu.

"Mau bantu 'kan dia?"

"Mau."

"Apa kata gue. Nggak mungkin dia nolak maunya elu."

"Lagi gabut aja kali."

"Masih sayang nggak sih?"

"Bacot, Seible."

"Pepet lagi sih kata gue. Masih minat itu dia sama lu. Yakin deh gue—eh, Darling! Kok aku dicubit!?" Seible tiba-tiba mengerang protes akan cubitan Freodore di pipi kirinya.

"Tone it down, would you? Liat itu Kaelix masih pucet gitu mukanya."

"Furifuri, kenapa elu mau sih sama sepupu gue yang sangat blangsak ini?"

"Dia pake pelet ori Banten. Pasrah aja gue."

"KOK GITU SIH, DARLING?!"

Seible bangkit dari posisi berbaringnya untuk mencubit pipi Freodore yang sigap menghindar sambil tertawa-tawa. Kaelix memperhatikan kedua manusia di hadapan mereka sambil tersenyum. Rasanya hangat melihat mereka akur. Biasanya mereka berkumpul begini berempat, dengan Zeal di sisi Kaelix. Tahun lalu, Freodore belum melamar Seible. Kini, keduanya sudah bertunangan dan akan menikah dalam tiga bulan ke depan. Jujur, Kaelix merindukan masa-masa itu—saat Zeal ada di sisinya untuk ikut meledek Freodore dan Seible jika sudah terlalu mesra di depan mereka.

Tidak akan lama lagi ia akan merasakannya kembali. Menjadi pacar Zeal dalam tiga minggu ke depan. Pacar bohongan.

Kaelix mendadak dihantam kesadaran bahwa ia baru saja meminta mantan pacar terbaiknya untuk berpura-pura kembali jadi kekasihnya. Terlebih lagi bahwa dulu, adalah dirinya yang memutuskan Zeal Ginjoka. Kini, malah ia sendiri yang meminta Zeal kembali, walau dalam konteks pura-pura. Terdengar tidak tahu malu sekali, 'kan?

Kaelix seketika menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan kembali. Ia mengerang.

Apa yang akan ia lakukan setelah ini?

 

 

 

*

 

 

 

Zeal

Hi, morning

Kita nanti mau ngado apa buat eyang uti, Kae?

 

Kaelix hampir menjatuhkan ponselnya saat melihat notifikasi masuk dengan nama Zeal yang muncul berpendaran di layarnya. Ia sedang membawa termos kopi di tangan kiri dan tangan kanannya yang menggenggam ponsel baru saja disambil memencet tombol lift menuju lantai kantornya.

Harapannya, sesuatu mengenai pekerjaan dan meeting dengan direksi di jam sepuluh nanti yang akan memenuhi notifikasi ponselnya di Senin pagi ini. Persiapan Kaelix dan timnya sudah matang untuk itu. Ternyata semesta punya cara kreatif lain untuk membuatnya panik di awal minggu.

Zeal menyebut "kita" barusan.

Setelah sampai di mejanya, Kaelix segera meminum kopinya—bukan menyalakan laptopnya terlebih dahulu seperti biasa—sebelum membuka aplikasi pesan. 

 

Morning, Zeal

Aku kepikiran antara wheelchair kecil atau dress centil kembang-kembang yang dia mau

Still thinking in between, yet I bought a wheelchair at last

Anyway, kamu nggak usah mikirin kado eyang uti

On me aja. Atas nama kita berdua 

 

Zeal

Yah, jangan dong

Kan aku juga mau caper ke eyang uti ;)

 

Payah. Melihat emoji Zeal berkedip saja, jantung Kaelix rasanya mau copot. Kaelix baru akan mengetikkan balasannya saat melihat pesan baru dari Zeal datang kembali.

 

Zeal

Kamu udah beli wheelchair kan? Gimana kalo dress-nya on me?

 

Kebanyakan, Zeal. Nanti kesenengan itu yang ada si eyang

Serius deh kamu nggak usah bawa apa-apa

 

 

Zeal

Akunya yang mau bawa apa-apa :(

 

Astaga. Sejak kapan mantannya jadi imut begini? Apa selama enam bulan mereka berpisah ini Zeal sempat gegar otak atau bagaimana? Apa ini pengaruh pacar barunya? Atau teman mesra-mesraannya yang lain? Zeal yang dulu cenderung dingin dan tidak menye-menye begini. Mungkin benar, ia sudah kenal dengan orang baru yang mengubah karakternya.

Sial. Kemarin waktu meminta tolong padanya, Kaelix sama sekali tidak menanyakan status Zeal kini sedang ada pacar atau tidak. Gawat juga, kalau nanti tiba-tiba ada yang melabrak Kaelix bagaimana? Salahkan Seible dan idenya yang sembarangan dan membuat Kaelix panik sendiri sampai tidak mencerna rencananya matang-matang.

 

Zeal

Eyang uti ada spesifik mau dressnya siapa gitu nggak, Kae?

 

Ada :(

Sapto Djojohadikusumo :'D

 

Zeal

Kenceng, yaaaa XD

Kira-kira kamu bisa nggak kalo nemenin aku cari kado ke butiknya Mas Sapto?

 

Kacau.

Kaelix menenggak kopinya lagi. Sampai habis. Ia tidak boleh kalut. Mengajak Zeal menjadi pacarnya lagi adalah kemauannya dan Kaelix bukan orang yang setengah-setengah dengan golnya. Maka, ia harus bertanggung jawab atas hal tersebut. Termasuk jika itu akan membuatnya baper sampai mampus. Ia menarik napas panjang sambil berhitung sampai lima dengan memejamkan mata. Kemudian fokusnya kembali pada ponselnya.

 

Ketemu di storenya aja gimana? Say, sepulang kerja?

Sekalian makan malem kalo kamu bisa. My treat :)

 

Zeal

Bisa dong. Kebetulan jadwal minggu ini agak kosong

Senayan City 'kan ya?

 

Yes. I'll make an appointment with Mbak Eliza then

Text me when will you be available ya, Zeal...

Aku mostly minggu ini aman juga

 

Zeal

I will. ASAP.

Thank you, Boyfriend ;)

 

My pleasure

Also, kalo boyfriend emojinya kissy-kissy dong :(

 

Zeal

Oh, my apologies

It's a date, ya...

See you soon, Boyfriend :*

 

Tidak seharusnya Kaelix sebegini bahagia saat diajak kencan oleh mantan pacar yang sekarang naik level menjadi pacar pura-puranya. Namun, toh keduanya setuju untuk melakukan ini. Zeal sepertinya juga sangat mendalami perannya dengan kekeuh ingin ikut memberi kado untuk eyang uti yang seharusnya tidak perlu. Kaelix tidak bisa menolaknya. Tidak ada salahnya juga berlatih menjadi pacar yang ideal.

Satu jam lagi Kaelix harus pelakukan pemaparan dan kondisinya sekarang benar-benar buyar. Ia menenggak kopinya sampai habis. Pusing soal Zeal Ginjoka bisa ditunda sampai jam pulang kerja. Sekarang ia harus fokus kembali pada tugasnya.

 

 

 

*

 

 

 

Zeal

Aku udah sampe rumah ya, Kae

Thank you so much for today

I had so much fun!

You're the best boyfriend ever <3

 

Kaelix melempar ponselnya ke ujung lain dari kasurnya lalu membenamkan wajahnya sambil mengerang di atas bantal. Sepulang kerja tadi ia akhirnya pergi ke butik kesukaan eyangnya untuk bertemu dengan Zeal yang ternyata sudah datang lebih awal. Lelaki itu berkata bisa kabur dari kantor karena sedang meeting di luar dan kebetulan tugasnya sudah selesai. Kaelix cukup terkejut dengan perubahan ini karena selama ini ia tidak pernah mengenal Zeal bisa senganggur itu.

Dulu, saat keduanya berkencan, Kaelix selalu yang lebih dahulu datang di lokasi karena terlalu semangat untuk bertemu kekasihnya tersayang. Zeal akan terlalu sibuk hingga datang tepat waktu pun adalah sesuatu yang hampir jarang dilakukan. Kaelix tidak masalah dengan itu, toh akhirnya keduanya bisa bertemu. Ia juga bisa menghabiskan waktu mencuci mata sambil menunggu.

Tadi, saat Kaelix sampai, Zeal terlihat sedang bercengkerama dengan Mbak Eliza, pramuniaga langganannya jika sedang datang ke butik untuk keperluan seragam keluarga atau mengambil pesanan ibu atau ayahnya. Ketika Kaelix menghampiri mereka, Zeal terlihat sudah punya pilihan. Ada tiga perpaduan atasan dan dress digantung di hadapan mereka. Kaelix, dan segala refleksnya yang terkutuk, datang menghampiri pacarnya dengan menyimpan telapak tangan di bawah punggung Zeal dan mengecup pipinya dengan kasual.

"Sorry, aku telat."

"N-no worries. Aku yang kepagian kok. Thanks to Mbak Eliza nih udah bantuin aku—please, kalo kamu ada preferensi lain, I won't mind, you can—"

"It's okay. Ini pilihannya ya, Mbak? Cakep-cakep, ya?" Kaelix tersenyum menatap pilihan Zeal. Sedikit bangga dan bernostalgia karena selera Zeal masih seperti yang Kaelix ingat.

"Mas Zeal matanya tajem juga ya, Mas? Pilihannya di koleksi terbaru semua ini, Mas Kae. Yang ini couture, malah," komentar Eliza sambil mendekatkan telapak tangannya ke dekat gaun dengan aksen kain organza yang cantik. Perempuan itu tidak menyembunyikan senyum semringahnya melihat kedekatan dua lelaki di hadapannya.

"Oh, iya dong. Seleranya emang nggak diragukan mas-mas yang satu ini." Kaelix menatap ke arah Zeal. Pipi lelaki itu sedikit merona. Senyumnya dikulum malu. Ia secara instingtif menarik pinggang Zeal mendekat ke tubuhnya. "Aku ngikut aja. Zeal, mau pilih yang mana?"

"Help me, Kae. Aku conflicted antara yang biru muda sama yang peach. Eyang lebih suka warna apa, ya? Atau kita kasih warna yang eyang belum punya?"

"Oma Debonair punya semua warna sih, Mas," tambah Mbak Eliza. Tidak salah.

"Peach keliatannya seger ya, Zeal?"

"Mm. Aku suka sih. Manis warnanya. Menurut kamu oke, ya?"

Keduanya berakhir menyepakati satu dress tanpa lengan sepanjang lutut berwarna peach. Ada momen kala Kaelix sibuk memperhatikan koleksi baru di butik dan Zeal menghampirinya lalu menyentuh bawah punggungnya.

"Kamu mau belanja juga? My treat."

Kaelix menoleh dengan wajah Zeal yang sangat dekat dengannya, tetapi ia bertahan untuk tidak berjengit kaget karena akan jadi sangat tidak sopan nantinya. Ditambah lagi, keduanya 'kan sedang pacaran.

"Kadonya eyang aja udah mahal itu, nggak usah boros-boros jajanin aku deh."

"It's okay. I'd love dolling you up."

"Mulutnya makin manis aja, ya, Om Zeal Ginjoka?" Zeal terkekeh. Dahinya ia sandarkan ke ujung bahu Kaelix yang lebih tinggi sedikit darinya.

"Lebih manis kamu, dateng-dateng udah ngasih aku sun pipi. Nggak tau apa aku gemeteran tadi?" bisik Zeal di dekat telinganya. Lelaki itu tengah  dagunya di bahu Kaelix.

"Sorry. Muscle memory," Kaelix meringis. Wajahnya memperlihatkan rasa bersalah yang kentara. "Too much, ya?"

"Enggak. Bikin kaget aja, but I don't mind. I liked it," ujar Zeal sembari menggaruk ujung hidungnya.

Ya ampun.

Kaelix lupa, apa memang Zeal seimut ini dulu? Atau ini orang yang sama sekali lain?

"Noted."

Keduanya berakhir menenteng tas belanjaan ke Bijin Nabe untuk makan malam bersama. Mereka menghabiskan waktu untuk saling update kehidupan. Sedikit kagok dan banyak momen malu-malu. Kaelix berkali-kali mengucapkan terima kasih atas ketersediaan Zeal untuk permintaan aneh-anehnya kali ini walau keduanya sudah tidak bersama. Namun, Zeal membuatnya seperti sesuatu yang tidak apa-apa untuk dilakukan dan meminta Kaelix untuk tidak sungkan padanya.

Lelaki itu juga sukses membuat Kaelix membatu saat ia mengecup pipi Kaelix sebelum keluar dari mobil untuk menuju rumahnya. Katanya, upaya membalas dendam atas kecupan Kaelix tadi di butik. Kaelix hanya menggelengkan kepalanya dengan kedua pipi yang panas terasa.

Kaelix Debonair sukses bengong seperjalanan pulang ke rumahnya. Menyebabkan ia seperti sekarang ini, berteriak-teriak di atas bantal saat ingatan berkelebatan melewati kepalanya soal kejadian malam ini dengan Zeal.

"Lu baru jalan sekali sama mantan aja udah baper gini tuh gimana ceritanya deh, Kae?" Seible tiba-tiba muncul di pintu kamar Kaelix sambil membawa semangkuk bening besar berisikan brondong jagung.

"Kapan dateng lu? Kok nggak kedengeran?" Kaelix menegakkan tubuhnya sambil berdeham.

"Barusan aja. Mobil gue di belakang lu. Sempet liat lu dicipok mantan juga tadi," ujar Seible sembari menaik-turunkan alisnya.

"Ide lu ya, Sialan." Kaelix mendesah lelah. Punggungnya merosot kembali di ranjangnya. Wajahnya ia tutup dengan lengan.

"Cerita dong sama Abang. Awut-awutan banget nih keliatannya yang abis balikan."

Walau enggan dan malu, Kaelix akhirnya menceritakan juga bagaimana kisah kencan pertamanya dengan sejak Zeal sore tadi. Sepupunya duduk anteng sambil mengunyah brondong di sampingnya. Ia bergumam sesekali untuk menanggapi kisah Kaelix.

Sampai dongengnya selesai, Seible melempar satu brondong jagung rasa karamel ke arah Kaelix yang segera ditepis oleh targetnya. Ia terlihat terhibur dengan kisah kencan berbalut mencari kado untuk eyang utinya barusan. Terlebih di bagian sosor-menyosor.

Kaelix menoleh dan mendapati Seible tengah menatapnya dengan penuh simpati.

"Waktu itu setelah putus 'kan lu beneran mutusin aneka kontak dari dia. Mungkin sekarang bisa jadi waktunya ngejelasin yang belum sempat terjelaskan dulu—"

"Telat nggak sih, Nyet?"

"—atau memperbaiki yang kemarin belum sempat diperbaiki."

Kaelix terdiam.

Jika mengingat bagaimana mereka putus dulu, rasanya sakit hati sekali. Namun, itu masa lalu. Sekarang, jika Kaelix mengingatnya lagi, rasanya ingin menenggelamkan diri saja ke segitiga bermuda. Saking alasan mereka berpisah sangatlah absurd.

Waktu itu, keduanya baru saja menjajaki karirnya di bidang pekerjaan masing-masing di kantor baru. Ada suatu masa saat keduanya sama sekali tidak bisa bertemu sampai dua bulan lamanya. Jadwal yang sibuk dan posisi sebagai pegawai baru membuat Kaelix frustrasi dengan keadaan ini. Ia merasa nelangsa sendirian karena Zeal terlihat tenang-tenang saja saat tidak bisa bertemu dengannya. Pun merasa tidak ada yang salah dengan komunikasi mereka yang menjadi sangat minim intensitasnya.

Sampai pada saat Kaelix memergoki Zeal makan malam berdua dengan kawan kerjanya. Dari angle mana pun, makan malam itu terlihat profesional, tetapi Kaelix marah sekali. Mungkin lebih kepada iri karena ia juga ingin berhadapan dengan Zeal menikmani menu dan berbincang mengenai hari-hari yang melelahkan berdua saja di restoran mahal dengan pencahayaan remang-remang.

Malam itu, Kaelix meledak.

Zeal menyebutnya cemburu tak beralasan dan Kaelix sangat tersinggung. Kala Kaelix mengajak menyudahi hubungan, Zeal mengiakan tanpa berargumen. Adalah faktor lain yang membuat Kaelix semakin merasa sendirian: Zeal sama sekali tidak memperlihatkan usahanya untuk mempertahankan hubungan mereka. Bukannya Kaelix meminta putus hanya untuk menggertak, tapi saat itu rasanya Zeal memang seperti menunggu Kaelix mengisiasi perpisahan mereka. Rasanya seperti pecundang, ada di dalam hubungan yang dijalani sendiri—rindu sendiri, cemburu sendiri.

Jika ditarik kembali ke saat ini, inginnya Kaelix membenturkan kepalanya sekuat tenaga ke tembok terdekat. Mengingat bagaimana dulu ia mengamuk dengan tidak elegan. Ia menangis kala itu, pasti penampilannya sangat berantakan dengan ingus, wajahnya memerah dan nada bicara tinggi. Sudah lama tidak bertemu dengan pacar, saat bertemu diberi tampilan tak mengenakkan dan dibentak-bentak, siapa yang betah? Kaelix juga mengingat bagaimana dulu ia tidak memberikan Zeal untuk menjelaskan. Mungkin jika ia mempersilakan Zeal berbicara, lelaki itu akan bisa menenangkannya dan mereka akhirnya bisa menghabiskan waktu berdua sampai akhir minggu.

Mungkin selama ini, semuanya adalah salah Kaelix.

Jika tadi Seible bilang Zeal sedang dalam usaha memperbaiki, menurutnya itu terlalu muluk. Namun jika Zeal mengeluarkan versi terbaiknya saat kini mereka bersama (walau pura-pura), rasanya Kaelix ingin melakukan yang sama juga. Setidaknya, hubungan ini bisa menjadi ilusi versi ideal yang bisa mereka bagi karena tak sempat mereka cicipi di masa lalu.

Mungkin begitu saja.

 

 

 

*

 

 

 

Zeal

Kae, bad news :(

Apologies in advance, meeting aku lanjut nih ampe gatau jam berapa :(

I'll make it up to you asap, I promise

 

Zeal

Kae, aku hari ini nggak ada lembur

Tapi ada dinner sekantor, Mbak Grace ultah

[picture attached]

Itu tadi waktu dia dikasih surprise rame2 :D

Kamu udah pulang belum ini? Hati222

 

Zeal

Kae, aku udah di resto

[picture attached]

Itu yang di kiri aku Mas Robert, dia udah tunangan sekarang

Yang kananku Mbak Agnes, sebelahnya lagi Mbak Gloria

Dah pada married mereka. Aku doang yang single di bangku itu ;(

 

Kaelix menggigit bibirnya. Tidak siap dengan hujan kabar dari Zeal di hari kerja. Zeal yang dulu, tidak pernah melakukan ini: sejelas ini melaporkan ini-itu seperti Kaelix adalah orang yang penting untuk ia bagi, seperti Kaelix adalah bagian dari kesehariannya.

Setelah sekitar jam 3 sore ia mendapat kabar dari Zeal soal makan malam mereka yang batal, ia memutuskan untuk mampir ke toko kopi untuk menyusun laporan dengan santai. Ternyata pacarnya itu terus mengabarinya dan membuat laporan yang Kaelix ketik memiliki kalimat yang tidak beraturan. Isi kepalanya tiba-tiba kacau.

Ia menggigit bibirnya ketika membalas pesan Zeal pada akhirnya.

 

Kalo diledekin, bilang kamu ada pacar namanya Kaelix trus sekarang lagi di jalan mau jemput kamu

Share location ya, Zeal

 

Untung saja, latte-nya sudah habis. Jika tidak, mungkin cairan itu akan tumpah memenuhi meja bar tempatnya nongkrong. Ia menyenggol cangkir tersebut sampai terguling saat membaca isi chat Zeal yang terakhir. Baristanya yang baik hati dan sudah mengenalnya dengan baik hati mengangkat cangkirnya supaya aman dari jangkauan Kaelix yang terlihat sedang sibuk. Ia juga sempat memesan beberapa potongan kue sebagai oleh-oleh.

Kaelix hampir memekik kala Zeal membalas pesannya dalam menit yang sama. Lelaki itu betulan mengirimkan lokasinya berada ditambah dengan emoji wajah malu-malu.

"Jalan lagi, Kak?" tanya baristanya sopan, melihat Kaelix tiba-tiba grasah-grusuh memasukkan laptop ke dalam tasnya dan mencabut charger-nya dari bawah meja.

"Iya nih, Mbak. Thank you, ya. Sorry, gue rusuhin."

"Aman aja, Kak. Hati-hati di jalan, ya, Kak."

Ia segera membuka aplikasi Maps-nya untuk mencari alternatif jalan terbaik. Sekarang sudah jam delapan malam. Sudah lewat jam pulang kantor. Seharusnya Jakarta sudah tidak sepadat itu. Namun, Kaelix tetap ingin mencari cara paling cepat ke tempat Zeal berada.

Tidak sampai tiga puluh menit, ia sudah berada di parkiran gedung tempat Zeal dan teman-temannya makan malam.

 

Zeal, heads up

Aku udah di parkiran, ya

You take time. Santai aja

 

Zeal

Repot nggak kalo aku minta kamu turun?

Mau mamerin kamu ke temen2 hehe

Only if you don't mind!

 

Wow.

Oke, Kaelix. Tenangin diri lu.

Kaelix mengatur napasnya perlahan. Perlu menyiapkan mental dan rohani ekstra ternyata, di malam yang penuh impromptu ini. Ia menurunkan sun visor-nya dan mematut dirinya di kaca. Merapikan rambut sekenanya. Meluruskan kaca matanya. Lalu memakai lip balm supaya bibirnya tidak terlihat kering dan menyemprotkan sedikit parfum ke kemejanya. Saat sudah mengunci mobilnya, Kaelix segera mengirimkan pesan pada Zeal.

 

Kamu di mana?

 

Zeal

Yippee!

Dari lobby naik ke lt 8. Pintu yang kiri dari kamu keluar lift

Ada usher-nya kok

 

Di dalam lift, Kaelix tidak berhenti untuk mematut diri di pantulan dinding sainless steel yang mengitarinya. Hari ini ia memakai kemeja lengan pendek berwarna hijau tua dan celana jeans berwarna cokelat muda. Tidak lama dari merutuki bagian bawah kemejanya yang terlihat sedikit kusut karena terlalu lama duduk, pintu geser di depan Kaelix terbuka. Ia mengikuti arahan Zeal untuk berjalan ke kiri dan disambut dengan bouncer berbadan tegap dengan senyuman ramah.

Setelah memasuki area resto yang sebenarnya adalah bar dengan pencahayaan remang-remang ini, tidak butuh waktu lama bagi Kaelix menemukan Zeal. Sosok itu dapat ia lihat dengan jelas dari belakangnya. Lelaki itu mengikat rambutnya di tengah menjadi sanggulan kecil. Ia memakai kemeja berwarna cokelat muda kotak-kotak yang lengannya dilipat sampai ke siku.

Seperti memiliki telepati, Zeal menoleh dan langsung menatapnya. Senyum lebarnya merebak dan Kaelix baru menyadari keduanya sudah tak bertemu selama empat hari. Ia sedikit kangen juga pada lelaki ini.

"Kae!" Lelaki itu berdiri dan melambaikan tangan padanya.

Zeal tampak memakai celana cokelat tua. Lucu juga, mereka bisa memakai pakaian dengan warna senada tanpa janjian. Lelaki itu menghampiri Kaelix sambil bertanya bagaimana perjalanannya kemari dan membisikkan terima kasih padanya sambil mengecup pipi Kaelix. Kaelix harus terbiasa dengan ini. Tangan Zeal tidak beranjak dari punggung bagian bawahnya kala membawa ia ke mejanya bersama kolega.

"Hai, semuanya."

Suasana meja yang tadinya berisi saling bisik dan tatapan ingin tahu seketika cair oleh sapaan Kaelix. Ia menyalami semua anggota yang duduk di meja tersebut dan menyapa mereka dengan nama yang tepat, hasil kisi-kisi dari Zeal sebelumnya. Kawan-kawan Zeal terlihat menyenangkan.

"Pantes Zeal tahan godaan kanan-kiri. Pacarnya cakep gini. Hai, kenalin aku Grace!"

"Happy birthday to you, Mbak Grace. Sorry aku nggak bawain kado. Ini ada slice cakes buat midnight snack, hope you like it. It's my favorite."

"Oh, Dear, makasih banyak! Malah ngerepotin. How thoughtful! Zeal! He's so sweet! Pacarmu boleh buat aku nggak?"

"Enak aja. Inget anak suami, Mbak!" gerutu Zeal sambil memeluk pinggang Kaelix lebih erat. Kaelix terbahak.

"Kaelix kok tahan sih sama ini anak? Kalo udah kerja, beuuh, ada gempa bumi juga nggak akan goyah dia."

"Bener! Mati lampu juga kalo bisa dia yang nyalain gensetnya!"

Ricuh sekali. Kaelix kebanyakan hanya ikut tertawa dan mengangguk karena kebanyakan pertanyaan yang dilontarkan padanya sudah terjawab oleh celetukan-celetukan lain dari senior-senior Zeal dalam nada menggoda. Sampai satu pramusaji membawakannya teh sereh madu jahe dingin dan gorengan calamari. Ia menoleh pada Zeal yang mengangguk padanya. Kaelix tak sadar kapan lelaki itu memesankannya sesuatu—mungkin sejak ia di perjalanan tadi? Cukup terharu karena mantannya itu ternyata masih hafal minuman dan camilan favoritnya.

"Kaelix, lu mau tau nggak si Zeal di kantornya gimana?"

"Mau dong, Mbak. Gimana tuh dia?"

Kaelix selalu antusias ketika dilibatkan dalam pembicaraan. Ia menoleh dengan lirikan jahil pada Zeal yang hanya ditanggapi dengan lengosan pasrah dari lelaki di sampingnya. Walau tangan Zeal yang bertengger di lututnya sedari tadi tidak beranjak dan tetap mengusapnya di sana dengan ibu jari. Sentuhan Zeal seperti dukungan bahwa ia hadir, ia ada di sana bersama Kaelix. Sesekali Kaelix menyimpan telapak tangannya di atas punggung tangan Zeal di lututnya. Tanda bahwa Kaelix menghargai gesturnya dan mengapresiasinya.

Di samping Zeal ada Mas Robert yang kalimatnya masih bisa Kaelix dengar dari tempat duduknya. Kaelix bisa saja berlagak fokus pada obrolan di hadapannya, tetapi telinganya tertarik pada percakapan pelan di sampingnya.

"Gini dong, Zeal, dibawa. Biar bisa saling jagalah kita semuanya. Jangan ada yang aneh-aneh."

"Iya, Mas. Harusnya dari dulu, ya?"

"Iyalah. Sering-sering dibawalah lakimu."

"Doain awet ya, Mas."

"Usahakan awetlah kau. Cocok itu kalian sama-sama ganteng, pinter. Tinggal rajin nabung aja itu."

Dada Kaelix berdebar. Ada senang dan miris yang dirasa bersamaan mendengar itu semua. Usapan di lutut Kaelix sekejap berubah menjadi remasan seperti Zeal sedang butuh pegangan akan sesuatu. Kaelix pura-pura tidak melihat bagaimana Zeal menatapnya saat itu—tatapannya seperti orang yang sedang merindu. Apa mungkin lelaki itu menaruh penyesalan yang sama dengannya?

Kaelix menghabiskan waktu kurang lebih satu jam di sana sebelum Zeal berbisik untuk mengajaknya berpamitan. Makanan dan minuman Kaelix sudah habis. Teman-teman Zeal sempat meminta keduanya untuk bertahan sebentar lagi, tetapi Zeal tegas mengatakan jika mereka harus pulang. Pun Kaelix ada meeting pagi besok—ia pun hampir lupa jika Zeal tidak menyebutkannya. Paham dengan agenda kerja yang tak dapat diganggu-gugat, juga Mbak Gloria yang mengingatkan jika mereka ada kick off meeting besok pagi untuk proyek baru, semua orang akhirnya memutuskan untuk turun dan pulang.

"Makasih, ya, udah dateng. When you shouldn't have to. Segala bawain oleh-oleh buat Mbak Grace," ujar Zeal saat keduanya sudah dalam perjalanan pulang ke rumah Zeal.

"My pleasure. Temen-temen kamu seru. Lagian nggak apa juga kalo suatu saat kamu perlu aku lagi buat nemenin kayak tadi. Biar seri kita."

"Still, perjanjian pertamanya 'kan nggak gini, Kae."

"Shush. I had fun. Aku yang makasih udah ditraktir makan malam."

"Cuma camilan. Kamu pasti udah makan nasgor di Anomali tadi?"

Cengiran Kaelix lebar saat Zeal menebak dengan tepat. Man I Need dari Olivia Dean mengalun dengan tidak sopan dari playlist mix di YouTube Music-nya. Kaelix merutuki situasinya yang mirip dengan lirik lagu tersebut. Ia menggigit bibirnya kala Zeal mulai menggumamkan nada lagunya, mengikuti vokal. Kaelix pada akhirnya ikut bernyanyi. Tiba-tiba perjalanan mereka ke rumah Zeal berubah menjadi carpool karaoke yang menyenangkan. Yang juga sarat akan nostalgia.

"Kae, uh ...."

"Ya, Zeal?"

"Besok ... boleh jemput kamu nggak? Kita pulang bareng."

"Oh?"

"Kamu bilang besok mobil mau dipinjem ayah, 'kan? Mau balik pake MRT? Ayo bareng? Kita mampir bentar makan di abang nasgor enak deket stasiun Dukuh Atas. How?"

Kaelix menaikkan alisnya.

"Boleh aja sih, Zeal. Cuma 'kan besok aku lembur. Aku udah info 'kan, ya, ke kamu? Wait, apa aku kelupaan?"

"Udah kok, kamu udah kasitau. Biasanya ampe jam 8-an nggak sih?"

"Iya, jam segituan kelarnya." Kamu masih inget juga?

"Aman. Aku nanti tunggu di bawah. Ada First Crack, 'kan?"

"You sure?"

"Serius. Kenapa sih? Kok senyum-senyum gitu, mencurigakan banget?"

"I don't know. This is ... new, I guess? Maaf bukan maksud apa-apa. Pure nggak kebiasa aja, jujur."

Kaelix memarkirkan mobilnya di depan rumah mungil yang Zeal tinggali sendiri—yang selama dua minggu ini masih tidak berani Kaelix mampiri.

"Nggak kebiasa kujemput, maksudnya?"

"Itu juga. Semuanya sih, in general. Termasuk kamu yang sesorean ini ngabarin aku waktu date kita nggak jadi. Ngajak aku ketemu temen-temen kamu and all. It's ... new."

"New good or new bad?"

"New good, actually. I appreciate it."

"Siplah. Boleh dilanjut dong, daily TMI-nya Zeal ke Kaelix?"

Ya ampun, manis sekali anak siapa ini?

"Boleh aja." Kaelix terkekeh. Ia baru berhenti saat Zeal mengatakan sesuatu yang memberi efek seperti baru tersambar petir saat ia mendengarnya.

"Aku nggak mau ngulang kesalahan yang lalu soalnya, Kae."

Malam itu, saat sudah sampai rumahnya sendiri, Kaelix tidak bisa tidur. Berkat kalimat terakhir Zeal yang itu. Juga berkat reaksinya dan aksi yang terjadi selanjutnya setelah Kaelix sejenak terdiam.

Lalu berkata, "Zeal, aku mau cium kamu, boleh?"

Pemutar musik di dasbor Kaelix memutarkan lagu Stay milik Blackpink sebagai latarnya.

 

 

 

*

 

 

 

Zeal

Kemeja bunga-bunga?

Matilah aku, Sayang!

 

Kaelix menahan senyumnya melihat panggilan kesayangannya disebut Zeal di pesannya. Setelah ciuman mereka di mobil sepulang Kaelix mengantar Zeal pulang, keduanya semakin nyaman satu sama lain dan mulai memanggil masing-masing dengan pet names. Alasannya supaya lebih mendalami peran sebagai pacar. Walau Kaelix tak yakin itu adalah ide bagus. Mengingat seperti sekarang, membaca satu kata saja sudah membuat Kaelix mesam-mesem sendiri.

 

Kenapa, Yang?

Nggak punyakah?

 

Zeal

Ada sih

Zaman aku masih 60kg kaliya

Now look

[picture attached]

 

Kaelix terbatuk karena tersedak kopinya sendiri saat melihat foto Zeal Ginjoka sedang memakai kemeja lengan pendek bermotif bunga-bunga yang superngetat di tubuhnya yang kini tinggi besar berisi oleh otot.

"Kenapa, Bang?" Ibunya yang tengah menyiram tanaman di belakang rumahnya melongok ke arahnya yang tengah bekerja di meja makan dari balik pintu, menatapnya khawatir.

"Aman, Bu! Soal kerjaan aja nih."

Walau sempat memicing curiga, tetapi ibu tidak mendesaknya lebih jauh. Keduanya menghabiskan waktu seharian ini berdua karena Kaelix memutuskan untuk mengambil jatah WFH-nya hari ini. Ia bisa memaksimalkan quality time dengan ibunya sambil beberes rumah dan memasak bersama ibunda sebelum membuka laptopnya.

Kaelix kembali melirik foto Zeal dengan kemeja ketatnya. Tiba-tiba satu ide muncul di kepalanya. Ia membalas pesan Zeal dan menunggu lelaki itu menyetujui usulannya. Saat sudah mendapatkan lampu hijau dari Zeal, Kaelix berlari ke halaman belakang, menuju ibunya. Ia terkekeh karena sempat tersandung langkahnya sendiri saking semangatnya.

"Bu, Bu!"

"Iya, kenapa, Bang?"

"Abang boleh ajak Zeal ke rumah nggak malem ini?"

"Oh?"

"Mau Abang dandanin buat ke acara ultah eyang uti. Keabisan kemeja bunga-bunga dia. Pinjem punya Abang."

"Boleh aja sih. Abang 'kan punya banyak kemeja gitu. Menu makan malem udah pada mateng juga. Sekalian bilang makan sini aja nanti. Tawarin nginep. Abang siapin baju, sikat gigi, kamarnya Mas Zeal."

"Sipp. Thank you, Ibu!" Kaelix merangkul ibunya sampai wanita setengah baya itu memprotes ingin dilepaskan. Kaelix tahu itu hanya akting belaka. Ibunya senang jika anak dan suaminya nempel begini.

"Mm, sama-sama." Beberapa saat terdiam, ibunya kembali bersuara. Hati-hati, "Abang beneran balikan sama Mas Zeal? Ibu denger sekilas-sekilas aja dari Bang Seible. Mau nanya langsung ke Abang tapi takut."

"Panjang ceritanya, Bu."

"Intinya aja deh kalo gitu. Balikan apa enggak?"

"Balikan sementara."

"Apaan tuh balikan sementara? Apa buat dibawa ke acara eyang uti doang?"

"Mm ...."

"Eyang nggak maksa Abang bawa siapa-siapa loh, Bang. Cuma bilang kangen Mas Zeal doang kayaknya, ya, waktu itu?"

"Iya, Bu. Zeal juga kangen sama eyang. Pokoknya Ibu doain ajalah yang terbaik buat Abang, oke oke?"

"Pasti. Abang hati-hati, ya. Pokoknya jangan nyakitin anak orang!"

"Siap, Juragan!"

"Mas Zeal apa kabar, Bang? Makin ganteng nggak?"

"Ibu liat aja nanti."

"Idih, idih? Kok Abang mukanya merah banget gitu? Makin cetar pasti ini Mas Zeal. Ibu telepon ayah deh biar cepet pulang. Mau makan malem sama orang ganteng. Calon mantu sementara."

"Buset, Ibuuuu!"

 

 

 

Zeal sedang mencuci piring di dapur sambil bercengkrama dengan ibunya saat ayah ikut duduk di samping Kaelix di ruang tengah. Tugas keduanya membereskan meja makan sudah selesai. Kini mereka bisa sedikit bersantai di sofa utama. Tatapan keduanya menuju ke arah dapur.

"Asik, ya, memandang punggung indah orang kecintaan?"

Mendengarnya, Kaelix melengos. Ayahnya terbahak.

"Kata ibu, Abang lagi gladi resik balikan sama Mas Zeal?"

"Gladi resik—bisa-bisanya ...."

"Iya apa enggak?"

"Ya, bisa dibilang."

"Halah, plintat-plintut jawabannya. Kalo iya, iya. Enggak ya enggak. Yang tegas, Bang. Jangan coba-coba. Nanti putus lagi."

"Ayah, coba filtering system mulutnya di-mark up dan dikondisikan."

"Mau didoain nggak? Biar balikan beneran?"

"... mau, Yah."

"Gitu, dong. Dah sana, bawa ke kamar. Katanya mau role play 'kan kalian?" Ayahnya berkata dengan wajah datar tetapi kedua alisnya naik-turun menyebalkan. Kaelix melotot.

"Mau milih baju, Yah! Role play apaan!? Buset bapak-bapak kalo ngom—"

"Kae, aku udah selesai. Kita ... naik?" Suara Zeal membuat fokus Kaelix telak berpindah. Ia menoleh kembali menatap ayahnya yang kini menaikkan satu alisnya dengan wajah yang masih sama datarnya.

"Ayo, Zeal. Tinggalin aja nih bapak-bapak stress."

Kala keduanya menaiki tangga menuju kamar Kaelix, dapat terdengar teriakan ayah Debonair yang menggelegar dari ruang tengah. "Mas Zeal hati-hati, ya! Abang belum suntik rabies!"

Zeal terbahak. Tawanya lepas. Ia sempat menjawab Siap, Yah! Matanya sampai membentuk bulan sabit terbalik.

Jantung Kaelix rasanya menggelundung jatuh di tangga.

Payah.

Saat sudah berada di depan kamar, Kaelix membukakan pintunya yang sedari tadi memang tidak ditutup supaya Zeal bisa masuk dengan leluasa. Setelah ibunya mempersilakan Zeal untuk datang ke rumah tadi sore, Kaelix segera membedah lemarinya. Ia memilah kemeja bunga yang sekiranya akan cukup di tubuh Zeal.

Keduanya memiliki ukuran badan yang sama, maka mencarikan Zeal baju yang seukuran tidak menjadi masalah. Kaelix mendapat hampir satu lusin atasan dengan motif kembang yang segera ia gelar di atas ranjang juga digantung di semua titik kamarnya yang memungkinkan untuk mencantolkan hanger.

"Wow ...," komentar Zeal kala melihat kondisi kamar Kaelix yang sudah seperti toko khusus thrifting.

"Sorry acak-acakan. Ini hasil nyortir dadakan tadi—please jangan buka lemari, longsor nanti. Ini yang kujembreng yang menurutku bakal cukup di kamu. Yang tiga di pojok itu belum pernah aku pake. Warnanya cocok semua sih di kamu menurutku. Tinggal nyali kamunya aja mampu pake motif kembang yang mana."

Zeal meminta izin untuk mengeksplorasi semua pakaian yang Kaelix sediakan sambil bulak-balik mematut diri di cermin tinggi di salah satu pintu lemari Kaelix. Kaelix menawarkan untuk meminjamkan Zeal celananya juga, tetapi lelaki itu menolak karena untuk celana, ia masih punya banyak pilihan di rumahnya.

Untuk membuat Zeal nyaman, Kaelix menyibukkan dirinya dengan membereskan isi salah satu lemarinya yang sempat awut-awutan saat ia sedang hunting tadi. Sampai tidak ada pergerakan Zeal di kamarnya. Kaelix menoleh ke arah lemari dengan pintu cermin di sampingnya.

Terlihat Zeal sedang menatap pantulan dirinya agak lama di sana. Ia memakai kemeja rayon berpotongan leher rendah berwarna dasar hitam dengan daun-daun besar berwarna hijau tua dan bunga mawar merah menyala.

Wow.

Kaelix bangkit dari duduk bersilanya di lantai. Ia lalu berdiri di belakang Zeal. Ikut memandang pantulan dari lelaki rupawan dengan rambut legam di hadapannya.

"Nah, gini cakep. Ganteng kamu." Zeal menoleh.

"Iyakah, Sayang? Aku ganteng?" Aduh, panggilan itu lagi.

"Iya, Sayang. Tanya ibu sama ayah deh. They're so head over heels with you."

Zeal tampak akan mengatakan sesuatu, tetapi lelaki itu urung melakukanya. Alih-alih menanggapi Kaelix, Zeal melipat bibirnya yang tak henti tersenyum.

"Aku tau, ya, kamu mau ngomong apa. And you better shut up," ancam Kaelix. Senyum Zeal semakin dikulumnya.

"Roger that, Mr. Stylist, Sir."

"Very well."

"Kae ...." Zeal membalikkan badannya untuk menghadap Kaelix seutuhnya. Jaraknya cukup dekat hingga Kaelix dapat mencium wangi parfum yang mulai luntur dari tubuh Zeal. Ada refleks yang memerintahkan dirinya untuk bergerak mundur, tetapi Kaelix tak menghiraukannya. Ia tetap berdiri di tempatnya. Kembali menghadapi masa lalunya.

"Mm?"

"Makasih, ya."

"Kebalik nggak sih? Kamu repot gini 'kan gara-gara mau bantuin aku. Aku yang makasih."

"Can we stop this lempar-lemparan makasih and just accept my gratitute aja, Kaelix Sayangku?" protes Zeal. Kaelix tertawa.

"Alright, alright. Refleks soalnya. Aku masih ngerasa kamu yang lebih banyak bantu aku di sini."

"Mungkin awalnya kerasa gitu—walau dari awal aku nggak pernah ngerasa kayak gitu sih. Ke sini-sininya, kalo nggak kamu ngasih kesempatan gini, mana aku bisa makan masakan rumahan ibu lagi? Trus bisa ketemu ayah lagi—"

"Orang jayus gitu dikangenin."

"—termasuk sama becandaan jayusnya ayah yang bikin kangen. Didandanin lagi sama anaknya yang rabies, model kekinian ibu kota." Zeal terkekeh saat Kaelix meninju lengannya main-main.

"Ya udah, makasihnya diterima. Sama-sama, ya, Zeal. The pleasure is all mine."

"I'm the luckiest ...," ujar Zeal pelan. Kemudian lelaki itu mendekat, sedikit mendongak, lantas mengecup kening Kaelix.

Malam itu, setelah Zeal pulang ke rumahnya—ia tak bisa menginap karena harus berangkat subuh besok ke luar kota—lagi-lagi, Kaelix tidak bisa tidur.

 

 

 

*

 

 

 

"Canggih pacar lu." Seible berujar sembari menggedikkan dagunya ke arah Zeal berada.

Kaelix tersenyum bangga. Zeal melakukan tugasnya dengan sangat baik hari ini. Memakai kemejanya yang terlihat pas pada tubuhnya, dipadukan dengan celana bermuda berwarna krem. Rambut hitam legamnya dikuncir kuda dengan rapi. Memamerkan tengkuknya yang membuat Kaelix sering memalingkan muka darinya karena malu jika harus menatap ke sana terlalu lama. Kaelix tidak akan menghibur dirinya dengan menganggap lelaki itu kekasih betulannya. Khawatir sakit hati karena memang bukan begitu kenyataannya.

"Mantan."

"Kok gue liatnya kayak beneran lu balikan lagi, ya?"

"Gara-gara ide sinting lu 'kan, ini?"

"Ide gue cuma bawa dia ke acara hari ini. Nggak termasuk diem-diem ciuman di ruang musiknya eyang uti waktu nggak ada yang liat, Kaelix Debonair."

Kaelix melotot. "How—"

"Relax, Cousin. Cuma gue kayaknya yang liat—sama security eyang yang mantau CCTV, for sure. Lagi mau ambil scarf-nya Freo tadi, malah ketemu sama pemandangan anonoh."

"Shit, sorry, Sei." Hangat menjalari kedua pipi Kaelix.

"Nah. No need."

Keduanya sama-sama menatap arah gubukan dessert berada. Tengah berdiri Zeal dan Freodore, yang mengobrol entah apa yang sepertinya seru, sambil memegang pisin berisi panna cotta. Seible menyenggol lengan Kaelix dengan bahunya.

"Give it a shot, Kae," ujarnya sembari menyeruput espresso dalam sloki berwarna putih di tangan kanannya. Tatapannya lurus ke depan. Ke arah tunangannya.

"What—"

"You know what." Sepupu badung Kaelix itu mengedipkan satu matanya kemudian berlalu untuk berjalan mendekat pada Freodore dan Zeal.

Sepupu sialan.

Sejak dijemput di rumahnya, Zeal terlihat—selain ganteng sekali—gugup. Lututnya tak henti bergoyang. Tatapannya resah. Terkadang ia menggigit kuku ibu jarinya. Seharusnya Kaelix tidak terlalu menikmati Zeal yang tengah senewen begini, tapi bagaimana lagi? Zeal yang ini imut sekali. Sampai beberapa saat lelaki itu tidak berhenti gelisah, Kaelix menyimpan telapak tangannya di lutut mantan kekasihnya itu.

"It's okay, Zeal. Ada aku."

Lelaki itu menoleh ke arah Kaelix dengan cepat. Lalu menatap Kaelix seperti baru menyadari bahwa ada seseorang di sampingnya. Zeal mengangguk. Kaelix merasa bersalah juga.

"Apa yang kamu khawatirin, mm, Sayang?" Zeal melotot. Lalu memejamkan matanya sembari menarik napas panjang. Kaelix menggigit bibirnya. Mungkin ia masuk terlalu kuat barusan.

"What if they hate me, Kae?"

"Mm? Siapa?"

"Eyang uti? Keluarga kamu? Om, tante, sepupu-sepupu, keponakan—"

"They loved you, and they still do, trust me. Kamu 'kan udah kenal Seible, Freo. Kemarin kamu sempet hang out juga sama ibu ayah di rumah. Dan aku udah bilang 'kan, hari ini eyang uti mutusin pake dress dari kamu? You've got everyone wrapped around your finger, Darling. Don't you worry."

"You think so?"

"I do."

"Okay." Zeal menyimpan tangannya di atas tangan Kaelix, lalu menautkan jemari mereka di sana. Kaelix harus menahan napasnya kala lelaki di sampingnya membawa tautan tangan mereka ke dekat wajahnya dan ia kecup punggung tangan Kaelix sambil menggumamkan Thank you.

"You got this, Ginjoka."

"I think I don't deserve a welcome." Kaelix mendengar gumaman kecil Zeal itu. Ia memutuskan untuk tidak menanggapinya dan berlagak fokus pada jalan. Omong kosong. Zeal terlalu dramatis. Namun, sepertinya harus ada yang diluruskan di sini karena setelahnya, Kaelix mendengar Zeal berbisik sambil menatap ke luar jendela.

"I hurt you once."

Semuanya berjalan dengan lancar. Eyang uti mendapatkan kembali cucu favoritnya yang sukses beliau sabotase dalam setengah jam sebelum ibu Debonair mengingatkan mereka untuk memulai acara. Zeal memang seorang introvert. Namun, saat berada dalam acara kumpul-kumpul begini, kemampuan mingle-nya sungguh juara satu. Sepupu-sepupu dan keponakan-keponakannya menempel padanya.

Kala momen potong kue selesai dan acara mulai beralih ke gim-gim seru, Kaelix mulai melipir. Zeal mengikutinya. Tujuannya ke ruang musik eyang uti di lantai dua. Banyaknya orang membuat Kaelix kewalahan secara mental dan ia butuh mengisi daya tubuhnya dengan menyendiri untuk beberapa saat.

Menyendiri dengan Zeal sama sekali bukan ide buruk.

Karena keduanya hanya akan duduk merosot di sofa dengan dua kaki naik ke meja. Saling bersandar nyaman tanpa berkata apa-apa. Mungkin berciuman untuk beberapa saat. Lalu kembali bersantai sambil saling memainkan jemari. Cara mengisi daya tubuh yang menyenangkan. Yang tak disadari bahwa ada Seible yang melihat keduanya bermesraan dari balik ruangan yang pintunya tidak tertutup sempurna. Biarlah.

Jam sudah hampir menunjukkan pukul delapan malam saat Kaelix mengantar Zeal pulang keesokan harinya. Pria itu ikut menginap bersama anggota keluarga Kaelix lainnya di rumah eyang uti semalam. Ikut pula ia acara karaoke dan api unggun bersama. Selalu di samping Kaelix. Maka, saat keduanya kini sudah berada di depan teras rumah Zeal, Kaelix merasa sulit untuk melepaskan ini semua. Kebersamaan yang mereka bagi dalam tiga minggu terakhir terlalu nyata untuk dianggap tidak ada ke depannya.

"Ginjoka."

"Debonair?"

"I can't thank you enough."

"Nah. The pleasure is all mine. Makasih udah ajak aku ke huru-hara ultahnya eyang uti. Such an experience, this year."

"Emang hebring banget taun ini. Semoga taun depan nggak escalate than this one or I'd be drained, deadass." Keduanya terkekeh. Kaelix menoleh pada Zeal, "Makasih banyak ya, Zeal. Serius."

"Sama-sama, Kae. Makasih udah ngasih aku kesempatan buat remedial kegagalan yang aku lakuin di hubungan kita sebelumnya. Aku minta maaf dulu udah jadi pacar yang ... nggak present buat kamu."

"Zeal, you didn't need to—"

"No, please, listen to me. Please?"

"Okay."

"Dulu aku udah jadi orang yang nggak tau prioritasku di mana, yang jelek manajemen waktunya, dan yang nggak ... berjuang lebih buat kita. Dan aku baru nyeselnya di akhir waktu udah kehilangan kamu. Selama kita jalan waktu itu, aku sama sekali nggak adil ke kamu, Kae. Aku minta maaf sekali ke kamu. Aku banyak salah."

Kaelix terdiam. Cukup kaget. Tak tahu harus berkata apa. Tak menyangka Zeal akan membahas itu sekarang. Di sini. Di dalam mobil Kaelix yang AC-nya sudah dimatikan. Di depan teras rumahnya.

"Maaf kalo dulu aku udah banyak ngebuang waktu kamu, Kaelix. I was so fucking asshole back then, it's embarrassing."

"Zeal. You hurt me, it's true. Yet you made me happy too. I loved you, that's also true. Aku simpen semuanya di memori aku, nggak cuma yang sedih-sedihnya, tapi juga yang seneng-senengnya. Kita masih noob aja waktu itu. Aku nggak nyesel pernah ada kita di hidup aku. You should too."

"Kamu terlalu baik aja pada dasarnya."

"Jangan mulai pake kalimat kamu-terlalu-baik-buat-aku kind of bullshit, ya, Ginjoka. Atau aku tereak keliling kompleks nih!" Zeal tertawa kecil.

"I won't, I promise."

Keduanya terdiam beberapa saat. Seperti tak mau mengakhiri semua ini cepat-cepat. Apa saja, untuk mengulur waktu.

"So ... this is it, then?" tanya Kaelix. Sedikit enggan.

"If you say so."

"Kamu punya opsi lain?"

"Aku ikut proposal kamu. Kurasa aku nggak punya bargaining position di sini."

Tentu saja ada. Namun Kaelix menghargai Zeal jika lelaki itu menyerahkan keputusan di tangannya. Mengingat bagaimana ia barusan mengakui kekurangan dan penyesalannya di hubungan mereka yang lalu. Kaelix yang kini mendapatkan privilese dalam menentukan akan menuju ke mana mereka.

Give it a shot, Kae. Suara Seible berbunyi di kepalanya.

"Beberapa minggu ini, waktu kamu jalan sama aku ... ada yang marah nggak, Zeal?" Mendengarnya, Zeal melongo. Lalu menggelengkan kepala sambil terkekeh.

"Itu, nanya gitu mastiin aku ada gandengan apa gimana, Kae? Emang kamu nggak ngerasa kalo aku masih itu ke kamu?"

"Itu apa, heh!?"

"Ya ... itu. S word."

"Ya ampun. S word, katanya."

"Tiga minggu ini kira-kira udah lolos masa probation belum aku? Buat diajak balikan?"

"Damn, Zeal. Selama ini aku ngerasa aku udah sangat nyusahin kamu buat ngelakuin ini-itu terus sekarang aku ditodong gini?"

Cengiran Zeal lebar menghiasi wajahnya.

"A man can hope. Also, thanks to Seible."

"What did you guys do? Were you guys plotting this, because if y'all did—"

"No no, I swear! Seible kayaknya bosen aku tanyain kabar kamu tiap hari. Ketauan kali ya, susah move on-nya. Dia bilang aku harus coba lagi, sama kamu, kalau ada kesempatan. Aku nggak tau kesempatan apa itu ampe kamu telepon aku minta aku jadi pacar bohongan kamu. I took the shot. Like, immediately, nggak pake mikir dua kali."

"Emang anak setan. Itu dia yang ngide ke aku buat ngajak kamu ke acara eyang uti."

"Really?"

"Iya, serius."

Keduanya menggelengkan kepala. Saling bertatapan, lalu terkekeh. Kaelix harus memberi Seible salah satu wishlist-nya sepertinya, sebagai tanda terima kasih.

"Kae, inget nggak, Seible pernah minta kita jadi best men kalo dia sama Freo nikah?"

"That piece of shit. He did this for his own sake."

"I appreciate it, the dedication."

"Jadi, kalau kuminta kamu jadi pacarku lagi, lampu ijo nih?"

"Ijo royo-royo banget."

"Oke."

"Mm?"

Kaelix memiringkan tubuhnya untuk dapat sepenuhnya menghadap Zeal. Lelaki di sampingnya melakukan yang sama. Kala Kaelix membuka dua telapak tangannya, Zeal otomatis menyimpan telapak tangannya di atasnya. Kaelix berdeham. Ia lalu berkata dengan nada yang ia pakai saat persentasi pekerjaan.

"Zeal Ginjoka."

"Iya, Kaelix Debonair?" Zeal mengulum senyumnya. 

"Balikan lagi, yuk?"

"Yuk."

"I, Kaelix, s-word you."

"Sama. Aku, Zeal, juga sayang sama kamu. Belum berhenti."

"Damn. Manjur juga doa ortu dan eyang uti."

Zeal terkekeh. Sepasang matanya terlihat sedikit berkaca-kaca. Terlebih saat Kaelix baru saja mengecup kedua punggung tangannya. "I'll thank them soon."

"Yeah, you better."

Malam itu, langit terlihat lebih cerah dari biasanya. 

 

 

 

*

Notes:

Omg it's finally out. It's almost like, four months in my draft and now it's OUTT. Be free my child!!! 🕊

I missed by BTB Guys so much oughhhh. Really enjoyed writing them, my zeaka babies—feelings feelings feelings all the way. I need to go writing crack/porn after this.

Hope you enjoyed this one as well heheh. 🫶🏼