Chapter Text
Pada suatu sudut di sebuah toko rental komik, hembusan angin dari kipas yang dipasang di dinding terdengar bergemuruh. Hal itu membuat rambut milik seorang Choi Youngjae bergerak kesana kemari. Namun hal itu bahkan tidak mengganggunya. Di hadapannya, terbuka sebuah komik yang baru saja ia selesaikan. Pipinya basah, menangisi Junghwan—tokoh utama komik—yang meninggal setelah berbulan-bulan mengidap suatu penyakit aneh yang ia simpan sendiri tanpa memberitahu siapapun.
Penyakit aneh mematikan yang menumbuhkan bunga paling indah di paru-paru Junghwan yang malang.
Youngjae mengangkat tangan, menggunakan bagian ujung dari lengan seragam sekolahnya untuk mengusap air matanya yang terus turun. Dadanya sakit membayangkan Junghwan yang harus memendam penyakitnya seorang diri dan meninggal tanpa ditemani siapapun. Napasnya sesak membayangkan duri-duri dari bunga yang tumbuh di paru-paru Junghwan itu menusuknya perlahan-lahan, menghancurkan tubuh Junghwan pelan-pelan dari dalam.
Konon katanya, penyakit itu hanya menimpa siapapun yang memiliki cinta tak berbalas.
Youngjae pikir, Junghwan lebih dari layak untuk menerima cinta yang setara. Ia terlalu sempurna untuk seseorang yang harus mengidap penyakit cinta tak berbalas ini. Namun begitulah yang terjadi. Junghwanlah yang terlalu naif karena mengira perasaannya pada Kim Dohoon akan bersambut baik.
Semakin dipikirkan, semakin basah pula wajah Youngjae. Entah bagaimana komikus itu dapat merangkai kisahnya dengan begitu apik hingga tanpa sadar emosi Youngjae mampu terikat begitu saja pada Junghwan sang tokoh fiksi. Matanya semakin basah ketika ia pada akhirnya memutuskan untuk menyandarkan kepalanya di meja. Masa bodoh dengan suara kipas angin yang semakin bergemuruh. Masa bodoh dengan toko rental komik yang mungkin akan segera tutup sore itu. Masa bodoh pula dengan semuanya. Ia pejamkan matanya sejenak, berbisik pelan pada semesta supaya di dunia yang lain Junghwan dapat hidup dengan baik-baik saja.
Kira-kira begitulah yang terjadi sebelum Youngjae terbangun dengan panik dan mendapati dirinya ada di sebuah tempat tidur bertingkat yang asing. Ada begitu banyak poster-poster berbau biologi yang tidak Youngjae mengerti. Alisnya mengernyit memperhatikan istilah-istilah berbahasa latin yang asing di ingatannya.
Ketika Youngjae mengedarkan pandangan ke sekeliling, ia menemukan seseorang yang mungkin tinggal di kamar ini juga. Cukup berantakan, begitu pikir Youngjae. Ada sepatu kets yang diletakkan asal-asalan di depan pintu, kemudian jersey sepak bola yang sepertinya masih kotor—Youngjae mendengus—dan disampirkan begitu saja di kursi. Pun dengan meja belajar yang dipenuhi kertas-kertas berserakan—Youngjae juga tidak mengerti apa itu.
Seseorang yang tinggal di ruangan ini pasti cukup sibuk hingga tidak memiliki waktu untuk merapikannya, kira-kira begitu menurut Youngjae.
Namun dari seluruh keanehan yang Youngjae temui sore itu, satu hal yang paling membuatnya tertegun adalah ketika pintu kamar mandi yang terletak di sudut ruangan itu terbuka. Seseorang keluar dari dalamnya, dengan rambut yang masih basah dan aroma sabun yang semerbak harumnya memenuhi ruangan. Laki-laki itu praktis hanya menggunakan celana pendek selutut dan membiarkan tubuh bagian atasnya tertiup udara dari pendingin ruangan.
Youngjae menggigil, menelan ludah tatkala ia bertemu tatap dengan laki-laki pemilik rambut ikal itu.
“Youngjae? Udah bangun?” Tanya orang itu—yang membuat Youngjae lagi-lagi menelan ludah kebingungan. Ia meraih pengering rambut yang ia simpan di laci dan mulai mengeringkan rambut, membiarkan ruangan kamar itu berisik oleh desingnya.
Bagaimana dia bisa tahu nama Youngjae?
“Kamu kenal aku?” Tangan Youngjae meremat ujung seragamnya gugup. Pasalnya ia baru saja terlempar ke tempat antah berantah dan orang yang pertama kali ditemuinya justru tahu namanya tanpa ia beri tahu. Bagaimana mungkin ia tidak bingung?
Menanggapi pertanyaan Youngjae, laki-laki yang masih sibuk mengeringkan rambut tadi tertawa. Mata sipitnya semakin terlihat sipit yang membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih manis dibandingkan sebelumnya. “Kita udah sekamar sejak kamu masih mahasiswa baru, Youngjae.”
Semakin bingung, Youngjae kembali melihat ke sekitarnya. Perlahan-lahan, sesuatu yang familiar mulai tersambung ke pikirannya. Ia merasa pernah melihat tempat ini—ia hanya tidak yakin. Kemudian tatkala tatapannya jatuh pada jersey yang tadi sempat dilihatnya, sesuatu yang kuat sekali seolah sedang dipukulkan ke dadanya. Ada nama sang pemilik di sana. Besar dan jelas sekali: Shin Junghwan.
Dahi Youngjae berkerut, menciptakan sebuah tanda tanya besar yang melintas tanpa permisi di kepalanya.
Apakah ia terlempar ke dalam komik yang baru saja selesai ia baca?
Seingatnya, tidak ada tokoh bernama Youngjae yang menjadi teman sekamar dari si tokoh utama. Tidak ada pula cerita dimana Junghwan memiliki teman sekamar. Ia hanya tahu Junghwan sedang melabuhkan hati pada seseorang bernama Kim Dohoon—yang tidak terbalas— dan menderita penyakit aneh yang tidak ada di dunia nyata, kemudian—
Uhuk! Uhuk!
—terdengar suara batuk dari Shin Junghwan yang masih sibuk mengeringkan rambut. Dahaknya terjatuh ke lantai kamar, bercampur dengan beberapa kelopak bunga berwarna kebiruan dan sedikit bercak darah.
Tunggu, apa?
“Aduh, maaf Youngjae. Nanti aku bersihkan. Maaf, maaf—” Laki-laki tadi panik meletakkan pengering rambutnya dan terburu-buru mengambil pel lantai di kamar mandi.
Namun suara batuk beruntun yang menyusul kemudian sukses membuat Junghwan menghentikan langkahnya. Tangan kanannya naik untuk menutupi mulutnya, mencegah supaya dahak dan kelopak bunga yang keluar dari mulutnya tidak memperparah lantai kamar yang sudah kotor.
Saat itulah Youngjae dapati kelopak-kelopak bunga hydrangea berguguran dari mulut malang Shin Junghwan. Matanya terbelalak, dan yakinlah ia bahwa ia benar-benar telah terperangkap dalam dunia komik yang baru saja ia baca.
Dan Youngjae tidak akan pernah tahu bagaimana ia bisa membebaskan diri dari dunia komik yang memenjarakannya ini.
