Work Text:
"Ini uangnya, Pak."
Begitu selesai mendapat sebotol air yang diinginkan dan memberi uang lebih pada sang pedagang kaki lima, Padma pamit, melangkah pergi. Meninggalkan sang pedagang yang kini membungkuk-bungkuk mengucapkan terima kasih.
Setelah berjalan cukup jauh, Padma berhenti sebentar untuk meminum air. Rasanya begitu lega dan menyegarkan ketika cairan itu melewati tenggorokannya. Satu tangan Padma terangkat untuk menyeka peluh di pelipis. Ia turut mendongak sedikit menatap ke arah langit—dan seketika disambut oleh sinar matahari yang begitu menyilaukan.
Sang mentari ternyata telah muncul, meskipun belum sepenuhnya.
Tak lama perempuan itu kembali melangkah, berpikir untuk jalan-jalan sebentar. Padma juga berpikir mungkin lebih baik sekalian mencari sarapan di sekitar sini, dan melupakan sarapan di hotel. Bagaimanapun ia merindukan sarapan yang dijual pedagang kaki lima di Ibu Kota.
Pagi ini, setelah sekian lama Padma akhirnya tiba di Ibu Kota. Bukan untuk menjalankan misi, namun sekadar untuk berlibur.
Sejak bergabung menjadi anggota resmi Organisasi, bisa dihitung berapa kali Padma mengunjungi Ibu Kota. Ia bersama Nina dan Sapti lebih sering menghabiskan waktu di markas besar Organisasi, yang berlokasi di kota lain. Ada banyak hal yang perlu mereka pelajari dan lakukan, sehingga datang berkunjung ke Ibu Kota menjadi satu hal yang mulai jarang terjadi. Sekali pun mereka datang, itu pasti untuk menjalani misi.
Namun, sebuah kejutan tiba-tiba muncul. Tidak bisa disebut kejutan juga, karena semua ini tim ekstrakurikuler dapatkan ketika mereka berhasil menyelesaikan misi besar di New York.
Atas hasil kerja keras itu, Organisasi memberikan hadiah berupa libur sejenak dari seluruh tugas kelompok untuk lima hari. Itu hari yang cukup, meskipun mereka tetap diminta untuk siap siaga jika terjadi sesuatu yang membuat tim ekstrakurikuler harus datang.
Padma tidak keberatan. Bagaimanapun tugas tetap tugas. Tapi, libur juga tetap libur, jadi ayo jalani saja. Pilihan libur Padma kemudian jatuh pada Ibu Kota. Ia ingin berkunjung ke sana dan melakukan apa yang biasa ia lakukan dulu.
Berlari mengejar KRL.
Tahun-tahun berlalu, kawasan KRL telah berubah. Sedikit lebih modern. Kecepatannya? Entah kereta itu yang tidak bertambah cepat atau kecepatan lari Padma yang memang bertambah, Padma ternyata tetap bisa mengejarnya. Delapan putaran yang ia lakukan tadi berjalan dengan mulus, tanpa cacat. Abu Syik pasti bangga jika mengetahuinya.
Ngomong-ngomong soal Abu Syik.... Padma sudah lama tidak mengunjungi tempat peristirahatan terakhirnya.
Area tempat Padma berhenti sejenak tadi mulai ramai dengan sahutan antar pembeli dan pedagang. Melihat itu Padma terus berjalan, sembari menatap deretan pedagang, mencari-cari makanan mana yang menarik perhatiannya untuk dijadikan sarapan.
Tiba-tiba langkah kakinya terhenti, setelah melihat seorang pedagang yang mengendarai sepeda motor baru saja menepi tidak jauh dari tempat Padma berdiri. Ia memperhatikan tumpukan kotak yang terikat di jok belakang motor tersebut.
Itu pedagang roti anget.
Roti legendaris yang selalu menjadi incaran orang-orang di pagi hari. Sayangnya, tidak semua orang bisa membelinya. Alasannya? Karena para pedagang roti anget itu sering kali mengendarai sepeda mereka dengan kecepatan di atas rata-rata, hingga para pembelinya selalu berakhir kehilangan jejak. Dulu sekali Nina selalu menjadi salah satu korbannya, lantas menyerah karena selalu gagal menemukan sang pedagang roti anget.
Melihat pedagang roti legendaris kini berada di depan matanya, Padma ingin sekali membelinya. Kebetulan sekali pedagang itu sedang berhenti, melayani pembeli yang beruntung.
"Padma?"
Ketika Padma bersiap untuk menghampiri pedagang roti anget, terdengar suara seseorang memanggil namanya. Ia menoleh, lantas tertegun di tempatnya.
"Hai, kebetulan sekali." Sosok itu kembali bicara, "Kau sedang apa, Padma?"
Padma mengerjap dua kali. Masih memproses kehadiran Bujang yang begitu tiba-tiba. Sosok itu memanglah Bujang. Sedang apa lelaki itu di sini?
"Kau sedang apa, Padma?" Bujang mengulang pertanyaannya.
"Aku sedang lari pagi," jawab Padma akhirnya.
"Aku juga datang untuk lari pagi," sahut Bujang.
Padma mengangguk, "Baiklah, kalau begitu lanjutkan lari pagimu. Aku permisi."
Meskipun cukup mengagetkan Padma, nyatanya kehadiran Bujang tetap tidak membuatnya melupakan pedagang roti anget yang syukurnya masih berada di tempatnya. Belum melarikan diri.
"Kau mau pergi? Kenapa kita tidak lari pagi bersama saja?" Bujang dengan segera menghadangnya.
"Sebetulnya aku sudah menyelesaikan lari pagiku," ungkap Padma.
"Kau sudah selesai?"
"Iya...." Padma menjawab, sembari sesekali matanya menatap pedagang roti anget yang sialnya telah usai melayani pelanggan dan bersiap untuk pergi. Jangan pergi dulu!
"Kalau begitu mungkin kita bisa jalan-jalan sebentar, lalu sarapan...." Bujang menggantung kalimatnya setelah menyadari pandangan Padma mengarah ke tempat lain. Ia berbalik sebentar dan satu alisnya terangkat. "Bukankah itu pedagang roti anget?" tanyanya mengenali gaya khas pedagang tersebut.
Padma tidak menjawab, tetapi perlahan membuang napas. Pedagang roti anget itu telah pergi.
"Kau ingin membeli roti anget, Padma?"
"Iya," Padma tidak mengelak. "Tapi, pedagang itu telah pergi."
"Kau tidak ingin mengejarnya?"
"Mengejarnya?" Padma menyahut, menatap Bujang dengan ekspresi tidak tertarik setelah mendapat pertanyaan tersebut. "Tidak," lanjutnya.
"Kenapa?" tanya Bujang penasaran.
"Ada lagenda yang menyatakan bahwa percuma mengejar pedagang roti anget."
"Lagenda?" Bujang mengerjap bingung. Kenapa tiba-tiba membahas lagenda?
Namun, tak lama ia tersadar akan sesuatu. Bujang lantas tersenyum geli, menatap ke arah Padma yang menatapnya aneh sekaligus penasaran karena ekspresinya tiba-tiba berubah.
"Kau masih tidak berubah ya? Di usia sekarang pun, kau masih percaya dengan dongeng," kata Bujang.
Dahi Padma terlipat, "Apa maksudmu?"
Bujang hanya mengangkat bahunya.
Perlu tiga puluh detik bagi Padma untuk memahami apa maksud dari perkataan Bujang kepadanya tadi, yang diikuti dengan kenangan mereka dua dekade lalu di hutan Bukit Barisan. Ketika mereka mencoba mencari tahu aroma menyengat yang datang dari arah lain di Bukit Barisan, dan berakhir Padma menceritakan asal usul namanya yang terinspirasi dari lagenda bunga padma.
"Kau bukannya minta maaf karena telah membuatku kehilangan jejak pedagang itu, tapi malah menggodaku dengan membawa-bawa kenangan masa lalu," cibir Padma kemudian.
Bujang tertawa kecil.
Padma mendengus, "Untuk apa juga aku meladenimu."
"Kau benar-benar tidak ingin mengejarnya?" Bujang masih gigih dengan pertanyaannya, yang justru membuat Padma heran. "Kau tahu, bahwa kau adalah seseorang yang mampu berlari mengejar kecepatan KRL, bahkan dengan gelang pemberat di kakimu. Lalu, kenapa lagenda pedagang roti anget harus mematahkan semangatmu?" ujar Bujang.
"Masalahnya pedagang itu sudah pergi dua menit lalu. Aku sudah kehilangan jejak—" Tunggu dulu. Padma segera menahan kalimatnya, begitu menyadari sesuatu. "Dari mana kau tahu aku bisa lari mengejar kecepatan KRL?"
Bujang terdiam.
"Kau.... Kau menguntitku ya?"
"Tidak." Bujang langsung menyahut, "Aku mendengarnya dari seseorang di dalam KRL."
"Apa?"
"Kau mungkin tidak tahu, tapi itu sudah menjadi rahasia umum. Beberapa penumpang kereta yang tiba persis dengan waktumu ketika lari pagi sering membahasnya. Ada perempuan misterius yang berlari mengejar KRL," beritahu lelaki itu.
Bujang tidak berbohong. Saking seringnya gosip itu dibicarakan oleh penumpang—terutama para penumpang di pagi hari, Bujang sampai berpikir jika di kereta memiliki papan mading yang bisa memuat berbagai macam artikel, kegiatan lari pagi Padma mungkin akan menjadi artikel yang paling sering dibaca. Alias trending topic.
Di sisi lain, Padma berpikir bahwa selama ini para penumpang kereta tidak akan peduli dengan kegiatan lari paginya.
"Lalu pemberat itu?" tanya Padma.
Pandangan Bujang tertuju pada pergelangan kaki Padma. "Siapa pun bisa menebak bahwa dua gelang di kakimu itu bukan gelang biasa. Itu gelang yang berat, mungkin mencapai dua puluh lima kilogram. Dan aku yakin bahwa aku bukan orang pertama yang menyadari 'perhiasan' saktimu itu."
Tebakan yang sempurna. Padma mengalihkan pandangannya. Ia benci Bujang yang bisa menebak sedemikian rupa.
"Aku yakin pedagang roti anget itu belum jauh. Bagaimana kalau kita berpencar dan mengejarnya? Lalu, siapa yang menemukannya duluan nanti bisa menentukan menu sarapan? Kita sarapan bersama," ujar Bujang.
"Menu sarapan? Kenapa tiba-tiba aku harus sarapan bersamamu?"
"Karena itu peraturannya?" Bujang menyahut, "Tapi, kalau kau tidak menginginkannya kau bisa berusaha lebih keras untuk menemukan lebih dulu pedagang roti anget itu. Kalau kau yang pertama menemukannya, kita tidak perlu sarapan bersama. Sedangkan, kalau aku yang menemukan pertama, tentu saja kita harus sarapan bersama."
Padma merengut. Kenapa lelaki itu bersikap seolah akrab dengannya? Jika yang di depannya ini adalah anak lelaki berbadan besar dan pandai bertarung seperti yang Padma temui dua dekade lalu di Pohon Tumbang, itu sih tidak masalah. Tapi, yang sedang berdiri di depannya ini, kan....
"Bagaimana, Padma?" Suara Bujang kembali terdengar.
"Tidak. Aku tidak—" Kalimat Padma tertahan begitu sesuatu tiba-tiba terlintas dalam pikirannya. Ia mengerjap dua kali, kemudian menatap Bujang yang tampak bingung menunggu lanjutan kalimatnya. "Baiklah, kurasa sarapan bersama bukan ide yang buruk," jawab Padma akhirnya.
Selesai mencapai kesepakatan tersebut, Padma dan Bujang akhirnya berpencar. Berdasarkan penglihatan mereka terakhir mengenai rute yang pedagang roti anget lalui tadi, mereka mulai mengatur strategi dan memutuskan dua jalur yang perlu mereka lalui untuk berpencar.
Hanya saja, begitu bayangan Bujang yang sudah tidak terlihat dari pandangan Padma, perempuan itu segera mengubah jalurnya.
Inilah rencana Padma, menyetujui ide gila Bujang, kemudian melarikan diri di tengah jalan. Katakanlah ia penipu atau apa, tetapi Padma tidak tertarik sarapan bersama lelaki itu. Lebih baik ia sarapan di hotel saja, selagi jam sarapan masih berlangsung.
Ini juga lebih baik untuk mereka berdua. Bagaimanapun seharusnya mereka tidak bisa sering bertemu, kan?
Padma berbelok kiri di ujung jalan, mengingat betul rute hotel tempatnya menginap. Ia menatap perumahan warga di sepanjang jalan dan langkahnya terhenti. Mendadak ada sesuatu yang perlahan muncul di dalam pikiran Padma, membentuk kepingan memori yang membuatnya mengerjap beberapa kali.
Tempat ini rasanya tidak asing....
"Padma!"
Sayangnya, sebelum pikiran itu benar-benar terkumpul, suara Bujang sudah lebih dulu terdengar memanggil namanya. Membuat Padma mau tidak mau berbalik menatap lelaki tersebut.
"Kenapa kau berada di sini? Bukankah kau seharusnya pergi ke jalur satunya?" tanya Bujang dengan raut heran.
Tidak ada jawaban dari Padma. Bujang malah mendapati perempuan itu menatap ke arah tangannya yang menggenggam erat kantong plastik. "Aku menemukan pedagang roti anget itu," beritahu Bujang sembari mengangkat tangannya.
"Kau menemukannya?" Padma tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.
Bujang mengangguk. "Ayo, cari tempat agar kita bisa memakannya segera selagi hangat. Kau ingin rasa apa? Aku membeli banyak varian rasa."
Padma tidak langsung menjawab, ia kembali menatap jalur perumahan yang sebelumnya hendak dilewatinya selama beberapa saat. Perempuan itu membuang napas, kemudian menatap ke arah Bujang. "Kita bisa kembali ke sepanjang jalan tadi. Ada banyak kursi di sana."
Tidak sampai lima menit mereka sudah sampai di tempat mereka bertemu pagi tadi. Keduanya duduk bersebelahan di salah satu kursi yang tersedia, tepat di bawah pohon besar. Cukup untuk melindungi diri dari sinar matahari.
Padma mengambil roti anget rasa keju dari dalam kantong plastik, sedangkan Bujang mengambil rasa cokelat. Masing-masing ditemani segelas teh hangat yang mereka beli bersama tadi. Bujang membeli semua varian rasa roti anget, dan masih ada empat rasa yang tersisa blueberry, kelapa, kacang ijo, dan stroberi. Mereka akan memakannya nanti.
"Ternyata namanya bukan sekadar iklan. Roti ini benar-benar masih hangat," komentar Bujang.
"Well, mereka pedagang yang jujur," sahut Padma.
Keduanya saling tatap, tersenyum jenaka.
"Bagaimana kabarmu, Padma?" Meski sudah bertemu sejak tadi, Bujang ingat masih belum bertanya kabar perempuan itu.
"Aku baik, bagaimana denganmu?" Padma menoleh, sembari menggigit roti anget miliknya. Bujang tampak mengangguk, memberitahu bahwa kabarnya juga demikian.
"Apa yang kau lakukan di Ibu Kota, Padma?"
"Tidak ada. Hanya sekadar berlibur." Padma menjawab dengan jujur, seadanya. "Bagaimana denganmu?"
"Tidak banyak, hanya mengurus beberapa pekerjaan kecil," jawab Bujang. Entah kenapa ada nada enggan dalam suaranya.
Padma menoleh lagi, "Kurasa itu tidak bisa langsung dikatakan pekerjaan kecil."
Bujang tersenyum kecil. "Kurang lebih."
Keduanya diam, memilih untuk membahasnya lebih jauh. Padma mengambil bungkusan roti kedua, rasa stroberi. Bujang turut melakukan hal yang sama, bedanya rasa kelapa.
"Ada alasan kuat kenapa roti ini bisa tetap hangat, dan mungkin itu sejalan dengan lagenda yang kau yakini sebelumnya."
Kalimat Bujang tersebut menarik perhatian Padma, hingga membuatnya kembali melirik lelaki itu. "Alasan apa?"
"Para pembeli sering kali kesulitan mengejar kecepatan kendaraan pedagang roti anget yang di atas rata-rata, itu semua terjadi karena si pedagang berusaha menjaga rotinya tetap hangat. Jika mereka berkendara begitu lambat, dan ternyata tidak ada pembeli yang membeli dagangan mereka, ada konsekuensi roti menjadi cepat dingin. Itulah jawaban pedagang roti anget yang kutemui tadi."
Bukannya tersanjung mendengar jawaban panjang itu, Padma justru tersenyum geli. "Kau mewawancarai pedagang roti anget itu?"
Bujang menggaruk kepalanya, salah tingkah. "Hanya untuk menjawab lagenda roti anget yang kau yakini."
Padma tidak kuasa menahan tawa. Melihat itu Bujang tersenyum ke arahnya.
Lengang sejenak.
Mereka memakan bungkus roti anget yang tersisa. Padma mengambil roti anget kacang ijo dan Bujang mengambil roti anget blueberry.
Tidak ada percakapan. Keduanya sibuk menikmati roti terakhir mereka, sembari melihat pemandangan di depan sana. Beberapa orang terlihat sedang pemanasan, lari pagi, dan beristirahat seperti mereka. Sejujurnya semua ini terasa begitu familiar. Mereka hanya duduk bersebelahan, bercerita dalam diam dan hening.
"Jadi, aku bisa menentukan sekarang kita akan sarapan apa?" Bujang memasukan bungkusan roti anget ke dalam kantong plastik dan tiba-tiba beranjak dari kursi.
Padma segera mendongak, "Kau masih ingin makan?"
"Kau tidak?" sahut Bujang.
"Sejujurnya aku sudah kenyang setelah makan tiga bungkus roti anget," kata Padma, ikut beranjak.
Bujang mengangguk, "Begitu...."
Melihat itu tiba-tiba Padma merasa tidak enak hati. Tapi, ia memang kenyang sekali setelah makan tiga bungkus roti anget. Memangnya Bujang tidak merasakan hal yang sama?
"Begini saja, kita bisa sarapan bersama di lain waktu. Bagaimanapun aku masih berhutang janji padamu," ucap Padma.
"Itu ide bagus," sahut Bujang. "Kita bisa bertemu besok—"
"Dua bulan lagi," Padma segera memotong.
"Apa?"
"Aku sudah ada rencana besok, dan lusa aku sudah meninggalkan Ibu Kota. Kurasa aku baru bisa kembali ke Ibu Kota dua bulan lagi."
Tapi, itu waktu yang cukup lama. Bujang menyahut cepat, dalam hati.
"Dua bulan lagi, di tanggal yang sama. Kita bertemu di sini, pukul tujuh pagi. Aku biasanya selesai lari pagi tiga puluh menit sebelumnya. Aku akan menunggumu di sini," ujar Padma.
"Kenapa kita tidak sekalian lagi pagi bersama?" balas Bujang.
Dahi Padma terlipat, "Bukankah janjinya hanya untuk menentukan sarapan, setelah itu sarapan bersama?"
"Itu benar, tapi—"
"Kurasa itu cukup." Padma kembali memotong ucapan lelaki itu dan Bujang tidak bisa lagi mendebatnya. "Lagipula jenis lari pagi kita pastilah tidak sama, pasti ada lari pagi khusus yang berbeda di Keluarga Tong."
"Memang berbeda, tapi kurasa tidak ada salahnya melihatmu secara langsung mengejar kereta-kereta itu," kata Bujang.
"Jadi, kau hanya ingin melihatku berlari mengejar kereta-kereta?" tanya Padma.
Bujang membuang napas, "Kurang lebih?"
Padma menggeleng, tersenyum kecil. Ia memasukkan bungkusan roti anget miliknya ke dalam kantong plastik yang dipegang oleh Bujang. Selanjutnya merapikan ikatan rambutnya dan membersihkan remahan roti anget di pakaian olahraganya.
"Kalau begitu, mudah saja. Kau bisa menjadi salah satu penumpang kereta pagi," ucap Padma kembali menatap lelaki itu.
"Apa?" Bujang menyahut, tidak mengerti.
Padma melirik jam di pergelangan tangannya. "Aku harus pergi."
Perempuan itu segera melangkah meninggalkan Bujang yang masih berdiri dengan perasaan bingung di tempatnya. "Padma! Apa maksud perkataanmu tadi?"
"Kau serius tidak mengerti?" Padma berbalik, jarak mereka telah terpisahkan tujuh meter. Melihat Bujang yang menggeleng, Padma pun melanjutkan. "Kau tadi mengatakan bahwa beberapa penumpang kereta pagi hari melihatku yang lari mengejar kereta. Jika kau memang sebegitu ingin melihatnya, kau bisa menonton bersama mereka sebagai penumpang."
"Tapi, aku ingin melihatnya secara langsung, bukan sekadar bayangan melalui jendela kereta," sahut Bujang.
"Terkadang, kau tidak bisa mendapatkan semua hal yang kau inginkan," balas Padma menggeleng, mulai berjalan mundur.
Bujang membuang napas frustrasi, "Tapi, apa aku harus berbuat sejauh itu?"
"Terkadang, kau juga harus berusaha keras untuk mendapatkan hal yang kau inginkan." Padma mengangkat bahunya, sekali lagi melirik jam di pergelangan tangan. "Aku benar-benar harus pergi. Sampai jumpa... dua bulan lagi," ucapnya sembari tersenyum manis dan melambaikan tangan, lantas berbalik badan—melangkah pergi menjauhi Bujang.
Setengah menit kemudian bayangan Padma hilang sepenuhnya dari pandangan Bujang. Meski bayangan Padma telah hilang sepenuhnya, Bujang masih tidak bisa melupakan senyuman terakhir perempuan itu kepadanya.
Bujang mendengus kesal, sekaligus terkesima. Sial, tadi itu sangat cantik.
