Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-03-12
Words:
2,673
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
21
Bookmarks:
1
Hits:
399

"He's A Player (And I Love The Game)"

Notes:

Karakter
Seonghyeon as Sagara
Keonho as Keandra
Martin as Maverick
Juhoon as Jehian

Work Text:

Keandra tahu dia bodoh.

Menyukai seseorang yang jelas-jelas menolak untuk disukai.

Ah, bahkan kebodohannya melampaui itu.

Ia mencintainya.

Delapan belas tahun hidup di dunia, tidak pernah sekali pun terlintas di benak Keandra bahwa ia akan menghabiskan akhir masa remajanya jatuh hati kepada sosok yang tidak bisa menerima perasaannya, terlebih lagi membalasnya.

"Kenapa sih lu batu bener? Dah tahu naksir tuh orang cuman bikin sakit hati, masih aja lu lanjutin." ketus Maverick, mengerutkan alisnya. Sebab siapa yang tidak sebal lihat sahabatnya berulang kali terjun ke jerat yang sama, menyakiti dirinya sendiri walaupun sudah tahu akhirnya.

"It's not that deep, Mav. In fact, I may actually think it's fun." balas Keandra.

Maverick menatapnya tak percaya, "What in the world does that fucking mean?"

Jehian yang semula hanya memperhatikan keduanya pun ikut menimbrung, "Ken, ngaku deh. Lu sebenernya masokis, ya? Demen banget disakitin."

Keandra hanya tertawa mendengar tuduhan itu. Sebenarnya ia juga heran, mengapa ia sebegitunya bersikeras untuk bertahan mencintai dia, Sagara, kakak tingkatnya yang katanya not looking for a relationship itu. Sudah berapa kali Sagara menyatakan bahwa mereka tidak akan pernah bisa menjadi sesuatu, tetapi Keandra tetap diam di tempat, menolak untuk beranjak pergi dari menjalin hubungan yang tidak jelas dengan pemuda itu.

Ting!

Notifikasi itu mengalihkan seluruh fokus Keandra ke ponselnya. Maverick mendesah malas, "Pasti dari kakak kesayangannya itu lagi." ujarnya memutar mata.

Tepat sekali, apa yang dikatakan Maverick benar. Sebab siapa lagi selain Sagara yang dapat merebut seluruh atensi seorang Keandra hanya dalam sekejap mata? Lelaki itu selalu tampak enggan melakukan segala sesuatu, kecuali jika hal itu adalah tentang Sagara, Sagara, dan Sagara seorang.

Sudah hampir setahun berlalu sejak keduanya terlibat dalam hubungan tanpa status. Kalau kesepian? Menginap. Kalau bosan? Ngapel. Kalau stress? Pelukan, atau kadang ciuman juga boleh. Keandra lebih suka sebut hubungan mereka H.S.S., yakni hubungan suka-suka.

Apalagi sekarang Keandra sudah pindah ke Bandung, membuatnya tinggal satu kota - semakin dekat dengan sosok dambaannya. Kian hari, yang ada hanyalah perasaannya yang tumbuh kian besar terhadap Sagara.

"Jangan-jangan lu dipelet deh, Ken. Lu pas SMA aja tiap dideketin cewek cantik nggak pernah sesemangat ini. Mereka nembak juga asal lu terima, terus nggak lama ntar putus gara-gara lu nggak peduliin mereka. Lah ini? Dia cuman pernah muji lu cakep sekali. Se-ka-li. Dan lu baper sebaper-bapernya padahal dianya aja kagak mau pacaran sama siapa-siapa, bahkan sama lu." kata Jehian memaparkan analisisnya panjang lebar.

Maverick mengangguk, "Gua setuju, keknya lu diguna-guna deh, Ken. Memang sih tuh orang cakep, tapi keknya nggak wajar kalau sampai bikin lu se-head over heels ini. Kata gua sih ini too much." tambahnya.

Cerocosan kedua temannya itu sama sekali tak digubris oleh yang diajak bicara. Keandra sibuk senyum-senyum sendiri menatap layar HP-nya sambil menopang dagunya dengan tangan kirinya, sebelum meletakkan gawai segenggam itu dan kembali bertukar pandang dengan dua pemuda di hadapannya.

"Sorry, sorry. Tadi lu pada bilang apa?" tanyanya.

Jehian mendengus, "Ah, tai. Gua udah ngomong sampai mulut gua berbusa gini juga kagak lu dengerin. Memang dah yang penting di dunia ini cuman si Kak Sagara, Kak Sagara, itu." omelnya.

"Nggak gitu, Je.." sanggah Keandra, mengerucutkan bibirnya.

"Dichat apa lu sama dia?" tanya Maverick.

"Diajak makan malem di Braga. Eh, Je, kemarin lu bilang lu beli gelang ya di sana?"

"Iyaa, ada a'a-a'a yang jualan di depan salah satu cafe di sana. Gua lupa sih spesifiknya cafe apaan, tapi ada deh kalau lu jalan kaki di sana. Kenapa memangnya? Jangan bilang-"

"Hehe, Kak Sagara suka pakai kalung, terus kapan lalu katanya nyari yang rantainya lebih besar dari kalungnya yang sekarang. Bosen soalnya."

Jehian dan Maverick menatapnya kesal, mereka sudah kehabisan kata-kata dan tenaga untuk menyadarkan sahabatnya itu dari tingkah bodohnya sendiri. Sampai kapan Keandra akan pura-pura tak berakal? Ini hanya akan menghancurkannya di kemudian hari.

"Sama kalungnya yang suka dia pakai aja bosen, apa yang bikin lu yakin dia juga nggak bakal bosen sama lu." gumam Jehian. Hanya dia dan Maverick yang dengar, Keandra terlalu jauh untuk menangkap suara sekecil itu. Mungkin juga terlalu jauh untuk memahami nasihat kedua sahabatnya dari tadi.

"Gua cabut duluan, ya. Mau jemput Kak Sagara. Dadah." pamit Keandra, meninggalkan Jehian dan Maverick duduk berdua di bangku kesepian di sebelah gedung kuliah mereka. Redupnya lampu di samping hanya mendukung suasana menyedihkan yang terlihat dari menjauhnya punggung Keandra dari hadapan keduanya.

Miris. Temannya itu miris. Memprihatinkan. Sudah tahu akan terluka berat, bahkan sekarat, masih saja memilih loncat - sambil tersenyum lebar, seakan ia bahagia selama jatuh, dan tanpa banyak pikir, bersedia untuk melakukannya lagi dan lagi dengan senang hati.

"Menurut lu, sampai kapan dia bakal begini?" tanya Jehian ke Maverick, khawatir.

Maverick menghela napas kasar, "Keknya selama dia sama Kak Sagara sama-sama kuliah di sini, dia nggak bakal berhenti." jawabnya.

"Ya Tuhan, percepat lulusnya Kak Sagara. Banyakkan SKS-nya dan permudah skripsi serta sidangnya.." ucap Jehian melipat tangan dan menengadah ke langit malam.

Maverick tertawa kecil. Sebenarnya ia merasa doa Jehian barusan lucu, tetapi rasa kasihannya terhadap kawannya yang satu itu lebih besar daripada lelucon yang ingin ia ketawakan.

"Amin."

---

Sagara membuka isi galeri HP-nya, menghapus foto-foto yang menurutnya sudah tidak perlu atau kurang sedap dipandang untuk mengisi waktunya menunggu datangnya si penggemar yang hendak menjemputnya pergi.

Sebenarnya ia tidak punya alasan apa pun untuk mengajak yang lebih muda keluar makan malam berdua di jalan yang kerap kali disebut orang, romantis, itu. Tak lebih dari sekadar bosan mendekam di kos sendirian dengan perut laparnya yang keruyukan dan jadwal kosong tanpa janji di kalendernya itu.

Keren juga bosannya. Asal mengetik, "Mau makmal di Braga, nggak?", mengirimnya ke orang yang ia tahu pasti akan menjawab iya dan bergegas memapaknya tanpa pikir panjang.

Sagara hanya bermain-main.

Sengaja. Ia tahu Keandra pasti datang. Tidak mungkin pemuda yang kesemsem padanya itu menolak ajakan apa pun yang ia utarakan. Satu-satunya saat dimana ia menjawab tidak adalah jika Sagara bertanya, "Lu nggak mau cari pacar selain gua?"

Terkadang Sagara merasa adik tingkatnya itu kelewat tolol. Dengan paras yang dipuja-puja banyak orang bak pangeran itu, Keandra bisa saja memilih untuk menjadi lelaki brengsek yang hanya bermain-main - seperti dirinya. Namun, alih-alih meresponi ketenarannya, Keandra malah menawarkan diri untuk dipermainkan oleh sosok yang bukan siapa-siapa.

Sagara bukan mahasiswa yang terkenal. Dia hanya orang biasa yang tidak terlalu pintar, tidak terlalu aktif, juga menurutnya sendiri tidak terlalu indah dilihat. Di kelas, ia hanya sibuk mencatat, kadang tertidur jika kelewat mengantuk. Di himpunan, ia hanya menjadi anggota biasa di divisi internal, yang kerjanya tidak banyak dilihat orang luar. Di kampus, orang-orang tidak akan mengetahui eksistensinya jikalau tidak pernah ada keperluan berinteraksi dalam acara atau kegiatan tertentu.

Jadi, mengapa Keandra bisa sebegitu jauhnya menaruh perasaan cinta kepada dirinya?

Sungguh, tidak ada satu pun hal dari diri Sagara yang ia rasa layak dicinta.

Sagara hanya ingat pernah dicinta selama setahun pertama hidupnya di dunia. Sebab tahun-tahun berikutnya, hadir sosok adiknya, yang mencuri seluruh afeksi dan perhatian yang sebelumnya hanya terkhususkan untuk dirinya.

Akan tetapi, Sagara sudah tidak bersedih lagi dengan kenyataan itu. Ia sudah menerimanya sepenuhnya, dengan lapang dada. Toh, dia sendiri juga sangat menyayangi saudaranya. Seperti lagu "Nina" karya Feast, katanya - setiap ia ditanya seberapa sayang ia dengan sang adik.

Sagara pernah berharap dicinta, siapa sih yang tidak? Namun, harapan itu ia putuskan untuk buang jauh-jauh, lupakanlah - itu tidak penting, karena sepengetahuannya, ekspektasi hanya berujung pada patah hati.

Jadi, sejak duduk di bangku sekolah menengah, saat dimana teman-teman seusianya mulai ribut kanan-kiri membahas soal cinta-cintaan, suka sama siapa, pengen pacaran sama siapa, nanti mau nikah sama siapa - Sagara hanya diam, mendengarkan cerita teman-temannya dalam sunyi.

Tidak ada pertanyaan yang timbul dalam hati, baik seperti, "Kapan ya giliran aku yang seperti itu?" atau "Dengan siapa ya nanti aku akan begitu?" Sagara menghalau pikiran-pikiran itu dari otaknya. Lagipula, memangnya bisa seindah apa sih cinta antara sepasang manusia? Di sekelilingnya saja, yang ia temukan lahir dari cinta hanya rasa kecewa, sedih, dan amarah.

Tak ia pungkiri bahwa ia pun pernah iri, ketika melihat ada insan-insan yang tampak mencintai satu dengan yang lain sangat dalam. Namun, seperti yang orang-orang bilang, cinta tak selamanya indah. Rasa sakit yang diterima dari cinta sama besarnya dengan rasa cinta itu sendiri. Karena selama manusia hidup di dunia, akan selalu ada yang namanya kehilangan.

"Halo, kakak cantik. Sudah nunggu lama kah?" tanya Keandra tepat setelah menghentikan motornya di depan tempat Sagara berdiri.

"Halo, ganteng. Nggak kok. Aku barusan keluar." jawab Sagara, berbohong sedikit - ia sudah berdiri hampir sepuluh menit di depan pagar kosannya.

"Pegangan ya, kakak. Kalau kedinginan, peluk juga sok." goda Keandra, menoreh pukulan kecil di punggungnya.

Godaan itu selalu berhasil, sebab Sagara demen sekali melingkarkan tangannya di pinggang yang memunggunginya - selalu wangi dan hangat, nyaman untuk dijadikan sandaran.

Nyaman. Benar, ini nyaman, bahkan sangat nyaman. Keandra selalu membuatnya merasa nyaman. Tidak ada ikatan, tidak ada paksaan, dan tidak ada tuntutan. Keandra seperti ranting kayu yang mengapung di sungai, diam mengikuti ke mana pun air itu membawanya mengalir. Sedangkan Sagara seperti air sungai yang menuruni permukaan curam dari atas gunung, dengan aliran derasnya yang terjun ke bawah dalam tempo cepat.

Akan tetapi, Sagara juga paham betul - apa yang nyaman tidak akan bisa bertahan selamanya. Manusia mana yang layak merasakan nyaman seumur hidupnya? Bahkan, mengharapkannya saja Sagara merasa tidak pantas.

Jadi, Sagara putuskan sedari awal, ia tidak akan pernah membiarkan dirinya terlena dalam kenyamanan sesaat ini. Tentu ia akan menikmatinya, tetapi ia tidak akan tenggelam dalamnya.

Mereka tidak pernah banyak bicara ketika naik motor bersama seperti saat ini, soalnya si Sagara itu budeg - pendengarannya beuh, sungguh bermasalah, apalagi ketutupan busa tebal helm, makin-makinlah dia tidak bisa mendengar apa-apa. Ditambah Keandra yang suaranya juga kecil, memang kombinasi maut.

Belasan menit di jalan, keduanya akhirnya sampai di jalan Braga. Keandra memarkirkan motornya di depan minimarket, kemudian keduanya menyebrang untuk berjalan masuk ke restoran dimsum yang tadi Sagara bilang rindukan bakpao telur asinnya.

"Kamu sudah pernah ke sini?" tanya Sagara.

Keandra menggelengkan kepalanya, "Kakak?" balasnya bertanya.

Sagara mengangguk, "Beberapa kali, bareng temen-temenku."

Keandra ber-oh sebelum berkonsentrasi membaca menu hasil scan QR di ponselnya. Ah.. ia benar-benar tidak familiar dengan hidangan yang disajikan di sini, biasanya ia hanya makan makanan yang tinggal asal pilih langsung dipindah ke piring - alias makanan warteg, padang, dan semacamnya - bukan yang harus membaca satu per satu tulisan di buku menu seperti ini.

Hal ini bukan dilakukannya karena dia butuh berhemat atau bagaimana, hanya saja itu lebih mudah bagi dirinya yang ketika hendak mengambil keputusan, perlu waktu berpikir yang sangat lama. Kalau celetuk Jehian, "Keburu Tuhan Yesus datang untuk yang kedua kalinya."

"Keandra mau pesan yang ini, ini, sama ini, nggak? Nanti kita bagi dua gituu." usul Sagara, yang langsung diiyakan oleh Keandra. Puji Tuhan, pujaan hatinya itu sungguh peka dengan konflik batinnya.

Dengan begitu, keduanya mengirimkan pesanan, makanan dan minuman dihidangkan di meja, dan difoto sebelum disantap nikmat, memuaskan BM Sagara selama seminggu terakhir.

"Habis ini mau jalan ke mana, kak?" tanya Keandra.

Sagara menyeruput minumannya sebelum menjawab dengan mata berbinar, "Mau nyari kalung! Kamu bilang ada yang jualan di sepanjang jalannya kan?" jawabnya.

Keandra terkekeh, "Iya, yuk jalan. Kita cari a'a yang jualan." ajaknya. Sagara mengangguk, merapikan piring kotor di meja dan memastikan tidak ada kepemilikan mereka yang tertinggal di sana sebelum mengikuti Keandra beranjak keluar restoran.

Braga, jalan tempat orang-orang yang kebingungan mau ngapain di Bandung pergi untuk menghabiskan waktu. Jalanan yang tidak sebegitu lebar ini selalu ramai orang dari pagi hingga malam, hanya lumayan sepi saat subuh. Terlebih lagi hari ini hari Sabtu, banyak orang memilih bermalam minggu di sini.

Ah, sepertinya Sagara salah memutuskan jalan-jalan di sini, apalagi di waktu ini. Banyak orang yang berjalan lambat-lambat, menikmati tiap langkah yang mereka ambil, sambil mengobrol ria, tersenyum manis, dengan jemari tangan yang saling bertaut. Memuakkan, menurut Sagara. Love is everywhere in the air tonight, and it is sickening.

"Kak, jangan jalan cepet-cepet sendiri gitu dong. You're looking hella' uncomfortable right now."

Sagara menghentikan langkahnya untuk membiarkan Keandra mengejar ketinggalannya, "I am, very much." tukasnya.

Keandra merangkul bahu yang lebih tua, "Gini aja, I'll keep up with your pace kok, aman." ujarnya.

"Okay." balas Sagara seadanya.

Sagara berbohong kalau ia bilang ia tidak menikmati tingkah laku Keandra yang kecintaan padanya. Ia suka dirangkul, seperti saat ini, membuatnya merasa aman dan nyaman. Sagara jarang berjalan beriringan dengan orang lain seperti ini, sebab langkahnya cenderung terlalu cepat untuk disamai orang-orang. Sejauh ini hanya Omanya, Mamanya, dan Keandra, yang dapat menyamai laju langkah kakinya.

Bergandengan tangan itu merepotkan. Tanganmu yang satu terpaut oleh tangan orang lain, menyulitkan jika perlu mengambil atau melakukan sesuatu yang butuh kedua tangan. Belum lagi kalau tangan yang digenggam kotor, kasar, atau berkeringat - membayangkannya saja, Sagara yang terlalu bersihan itu sudah jijik sendiri.

Ia suka dirangkul, dan merangkul, itu jauh lebih efisien menurutnya. Mudah dilepas kapan saja, efektif membuat orang yang berjalan bersama tetap dekat, dan bisa juga digunakan untuk membantu mengarahkan atau melindungi jalan orang yang dirangkul.

Dan entah bagaimana Keandra menyadarinya.

Keandra selalu mengejutkan Sagara dengan hal-hal yang pemuda itu sadari tentangnya tanpa diutarakannya secara verbal.

Seperti bagaimana Sagara tidak menyukai seafood - selain salmon dan rumput laut, bagaimana Sagara hanya mengenakan jaket yang memiliki kupluk, bagaimana Sagara selalu memakai boots, bagaimana Sagara menyukai wewangian segar, dan bagaimana Sagara tidak merasa nyaman di tempat yang terlampau ramai. Semuanya Keandra sadari tanpa diberitahu secara langsung oleh Sagara.

"Oh, yang itu nggak sih? Mampir dulu, yaa. Permisi, A',"

Keandra menunggu Sagara yang sibuk melihat-lihat kalung di display putar itu, menatapnya lamat-lamat. Ia tidak akan pernah bosan kalaupun harus menunggu Sagara berjam-jam lamanya, karena pemandangan pemuda itu yang sedang fokus mencari apa yang hendak dibelinya dengan seksama, selalu membuat Keandra terpesona. Sagara terlihat keren ketika sedang serius, dan tentu saja, selalu cantik.

"Andraa, yang ini bagus, nggak?" tanya Sagara, menunjukkan kalung rantai berwarna perak dengan liontin salib.

"Bagus, rantainya sudah cukup besar?" balas Keandra, ikut bertanya. Sagara mengangguk sambil tersenyum manis, "Hu'um." gitu balasnya.

Lucu, Sagara selalu lucu. Mau bergumam, berbicara, berdiam diri, atau bertingkah juga selalu lucu. Namun, Keandra hanya simpan kata itu dalam hatinya sendiri. Ia tahu Sagara tidak suka dibilang lucu, jadi ia bungkam gemasnya di hati.

"Sudah ya, A'. Terima kasih banyak!" ujar Sagara kepada penjual perhiasan setelah menunjukkan bukti transfernya.

"Andra, tangan." utas Sagara.

Keandra menurut, mengeluarkan tangannya yang kemudian menadahi kalung yang dijatuhkan begitu saja oleh lawan bicaranya ke genggamannya.

"Tolong pakein dong." pinta Sagara sambil tersenyum.

Ah.. Sagara.. selalu tahu apa saja yang bisa membuat Keandra semakin tergila-gila. Keandra melepaskan kaitan pada rantai itu, kemudian memajukan badannya sendiri untuk memakaikan kalung itu pada leher si cantik.

"Cocok, nggak?" tanya Sagara, mengedip-ngedipkan kedua matanya cepat - genit.

Keandra tertawa kecil, memajukan kepalanya untuk berbisik di telinga Sagara, "Cocok, sayang."

Sagara dapat merasakan wajahnya memanas, ia yakin saat ini pipinya sudah semburat merah seperti kepiting rebus. Namun, ia tidak mau kalah. Ia balas berbisik ke Keandra, "Makasih ya, sayang."

Sayang. Sagara panggil Keandra sayang. Matahari besok sudah bisa pensiun karena binar mata dan senyum kemenangan Keandra mampu menggantikannya bersinar menerangi seantero bumi.

"Cil, sadar, cil. Bangun." celetuk Sagara, menyadarkan Keandra yang tadi memasuki sesi mematung saking terkejutnya mendengar bisikan yang tercinta.

"Ayo nyebrang, aku mau beli cake yang di sana. Kata temenku itu enak banget, pengen nyoba!" ujar Sagara dengan penuh semangat, merangkul Keandra untuk menuntunnya berjalan menyebrang.

Sagara dan seribu satu aksinya yang memorak-porandakan hati Keandra, juga Keandra serta pendiriannya yang tak pernah sempat selesai dibangun ulang karena selalu runtuh kembali tiap Sagara melancarkan siasat barunya.

"Keandra, anak Bunda yang tercinta, yang lahir di hari cinta, suatu hari nanti, kamu juga akan mencinta, maka janjilah sama Bunda, kalau sosok yang kamu cinta juga membuatmu merasa dicinta, dan biarlah kamu merasakan itu selama-lamanya."

"Iya, Bunda. Keandra janji."

Iya, Bunda. Keandra janji. Benar kok, Keandra menepatinya. Ia sangat mencintai Sagara, dan ia merasa sangat dicintai karena Sagara. Hanya saja, frasa terakhir dari pinta Bunda tidak bisa dipenuhinya - selama-lamanya. Sebab dengan Sagara, tidak ada kata selamanya, semua hanya sementara baginya.

Namun, sekali lagi, Keandra tidak keberatan, itu sama sekali tidak menjadi masalah. Karena Keandra bersedia merelakan apa pun, hanya untuk bisa bersama Sagara, bahkan jika sementara.

Sagara hanya bermain-main, dan Keandra dengan senang hati meladeni permainannya.

---

"And I'd give up forever to touch you, 'cause I know that you'll feel me somehow."
"Iris" - Goo Goo Dolls