Work Text:
Bar itu berbau kayu ek tua dan asap rokok murah. Ethan Winters duduk di pojok paling gelap, jemarinya terus memainkan ponsel yang tidak mendapat sinyal. Ia merasa seperti orang asing di negeri antah berantah, mencari istrinya yang hilang di balik bayang-bayang sejarah yang kelam.
Lonceng pintu berdenting. Seorang pria masuk dengan langkah yang terlalu tenang untuk tempat sekumuh ini. Jaket kulitnya basah karena hujan salju, dan meski wajahnya lelah, ada ketajaman di matanya yang membuat suasana bar seketika berubah.
Pria itu duduk dua kursi dari Ethan. Ia tidak memesan vodka lokal yang keras, melainkan hanya segelas air mineral dan kopi hitam.
Ethan memperhatikannya dari balik tudung jaketnya. Pria itu terlihat seperti seseorang yang sudah melihat akhir dunia berkali-kali. Tanpa sadar, mata mereka bertemu di pantulan cermin di belakang bar.
"Kau bukan penduduk lokal," suara pria itu berat, tenang, namun penuh selidik.
Ethan berdehem, suaranya sedikit serak karena jarang bicara. "Hanya turis yang tersesat. Dan kau?"
Pria itu memutar gelas kopinya perlahan. "Hanya seorang pekerja kontrak yang benci cuaca dingin."
Ia mengulurkan tangan, gerakan yang santai tapi penuh perhitungan.
"Leon."
Ethan ragu sejenak sebelum menjabat tangan itu. Tangan Leon kasar, penuh kapalan, namun genggamannya mantap dan memberi rasa aman yang aneh.
"Ethan."
Malam itu, mereka tidak banyak bicara. Namun, setiap kali petir menyambar di luar, Leon secara instinktif menggeser posisinya, seolah menempatkan dirinya sebagai tameng antara pintu masuk dan Ethan.
"Kau sebaiknya tidak keluar malam ini," ucap Leon tiba-tiba saat Ethan hendak beranjak. "Ada sesuatu yang salah dengan udara di sini."
"Aku harus menemukan seseorang, Leon. Aku tidak punya waktu untuk menunggu cuaca membaik," jawab Ethan frustrasi.
Leon berdiri. Ia lebih tinggi dari yang Ethan kira. Ia mendekat, aroma gun oil dan dinginnya malam tercium dari tubuhnya. Ia meletakkan satu tangan di bahu Ethan—sebuah gestur yang terlalu intim untuk dua orang asing, namun terasa alami.
"Kalau begitu, biarkan aku mengantarmu sampai ke penginapanmu," ujar Leon.
Suaranya bukan sekadar tawaran, melainkan perintah yang dibungkus dengan kepedulian. "Dunia ini tidak ramah pada orang yang 'terlalu bersih' sepertimu, Ethan."
Sepanjang jalan yang gelap dan berbatu, bahu mereka sesekali bersenggolan. Setiap sentuhan yang tidak disengaja itu mengirimkan sengatan listrik yang aneh di balik jaket tebal mereka. Ada rasa penasaran yang mulai tumbuh—keinginan untuk tahu apa yang disembunyikan di balik tatapan mata biru Leon yang melankolis, dan mengapa Leon menatap Ethan seolah ia adalah satu-satunya hal yang masih murni di tempat itu.
Saat sampai di depan pintu penginapan Ethan yang reyot, Leon tidak langsung pergi. Ia berdiri sangat dekat, membelakangi lampu jalan yang temaram.
"Ambil ini," Leon menyelipkan sebuah pisau lipat kecil ke tangan Ethan. Jari-jari mereka bertautan cukup lama di atas logam dingin itu.
"Gunakan jika kau merasa terpojok. Sampai kita bertemu lagi, Ethan."
"Kita akan bertemu lagi?" tanya Ethan, jantungnya berdeber lebih cepat dari biasanya.
Leon memberikan senyum tipis—hanya sekilas, tapi cukup untuk membuat Ethan terbayang-bayang. "Di dunia yang sekecil ini? Pasti.
Sisa Musim Dingin
Salju di luar jendela tidak lagi terlihat mengancam seperti di Rumania, tapi Ethan Winters masih belum bisa berhenti menggigil. Ia duduk di tepi tempat tidur bunker yang kaku, menatap tangannya yang—secara teknis—seharusnya sudah hancur berkali-kali.
Pintu berdecit terbuka. Bukan Chris Redfield yang muncul, melainkan sesosok pria dengan jaket kulit cokelat dan rambut pirang yang jatuh menutupi salah satu matanya. Leon S. Kennedy.
"Masih belum bisa tidur?" suara Leon rendah, serak karena kopi hitam dan terlalu banyak misi rahasia.
Ethan tertawa kecil, suara yang kering tanpa humor. "Agak sulit memejamkan mata saat kau merasa tubuhmu bisa berubah menjadi debu kapan saja, Leon."
Leon berjalan mendekat, menyandarkan pinggulnya di meja besi kecil di depan Ethan. Ia tidak menatap Ethan dengan rasa kasihan—itu yang Ethan hargai darinya. Leon menatapnya sebagai sesama penyintas yang telah melewati neraka.
"Chris menceritakan semuanya," ucap Leon pelan.
"Tentang apa yang kau lakukan untuk Rose. Tentang apa dirimu sebenarnya sekarang."
"Dan kau tidak merasa jijik?" tanya Ethan, akhirnya mendongak.
Leon menghela napas, bayangan dari lampu neon di langit-langit membuat garis wajahnya terlihat lebih tegas.
"Ethan, aku pernah melihat teman berubah menjadi monster, aku pernah melawan tuhan gadungan, dan aku sendiri sudah berkali-kali lolos dari maut dengan keberuntungan yang tidak masuk akal. 'Manusia' itu relatif di dunia kita."
Leon mengulurkan tangan, ragu sejenak, sebelum meletakkannya di bahu Ethan. Telapak tangannya terasa hangat—sangat hangat dibandingkan kulit Ethan yang selalu terasa dingin.
Sentuhan itu sederhana, tapi bagi Ethan, itu adalah jangkar. Ia tanpa sadar condong ke arah kehangatan itu. Leon menyadarinya; ia tidak menarik diri. Sebaliknya, ia menggeser posisi, duduk di samping Ethan di kasur yang sempit itu.
"Kau tidak sendirian sekarang," bisik Leon.
Ia menoleh, wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Ethan bisa mencium aroma sisa tembakau dan sabun murah dari tubuh Leon.
"Kenapa kau peduli?" Ethan berbisik balik.
"Karena dari semua orang yang pernah kubantu selamatkan, kau yang paling membuatku ingin melihatmu benar-benar hidup, bukan sekadar bertahan," jawab Leon jujur.
Leon menggerakkan tangannya dari bahu ke leher Ethan, ibu jarinya mengusap garis rahang Ethan dengan lembut. Ethan memejamkan mata, membiarkan dirinya merasakan afeksi yang langka ini. Saat ia membuka mata, Leon sedang menatap bibirnya.
Tidak ada ledakan, tidak ada keajaiban. Hanya ada satu ciuman pelan yang terasa seperti sebuah janji di tengah badai salju. Bibir Leon terasa pecah-pecah tapi lembut, dan untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di desa terkutuk itu, Ethan merasa detak jantungnya—meskipun itu mungkin hanya imajinasi biologisnya—terasa nyata.
"Istirahatlah, Ethan," Leon melepaskan tautan mereka, meski tangannya tetap menggenggam tangan Ethan. "Aku akan tetap di sini saat kau bangun."
Ethan berbaring, menarik selimut tipisnya, dan untuk pertama kalinya, hawa dingin itu perlahan menghilang.
Badai salju di luar penginapan semakin menggila, melolong seperti serigala lapar. Di dalam kamar nomor 204 yang sempit, hanya ada suara kayu terbakar di perapian tua dan napas yang tertahan. Leon berdiri di dekat jendela, tirainya sedikit terbuka. Ia tidak melepas jaket kulitnya. Tangannya berada di saku, tapi Ethan tahu ada senjata di sana. Cahaya kilat sesekali menyinari profil wajah Leon—rahang yang tegas, mata biru yang sedingin es, dan luka kecil di pelipis yang tidak ia jelaskan.
"Kau terlalu gelisah, Ethan," ucap Leon tanpa menoleh. Suaranya datar, hampir seperti robot, namun ada otoritas di sana.
"Sulit untuk tenang saat seorang pria asing bersenjata mengikutiku ke kamar," balas Ethan, mencoba terdengar berani meski tangannya gemetar saat menuang wiski murah ke gelas plastik.
Leon berbalik perlahan. Langkah kakinya di atas lantai kayu hampir tidak terdengar—ciri khas seseorang yang terbiasa bergerak dalam kegelapan. Ia berjalan mendekat hingga bayangannya menelan tubuh Ethan. Ia tidak berhenti sampai jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Leon merunduk sedikit, menyamai tinggi mata Ethan. Hawa dingin dari luar masih menempel di pakaiannya, kontras dengan panasnya ruangan itu.
"Aku bukan musuhmu," bisik Leon.
Matanya menatap tajam ke arah mata Ethan, seolah sedang membedah setiap pikiran pria di depannya. "Tapi aku juga bukan temanmu. Aku hanya seseorang yang tahu apa yang akan terjadi jika kau keluar dari pintu itu sendirian."
Leon mengulurkan tangan, gerakannya lambat dan penuh perhitungan. Ia tidak menyentuh wajah Ethan, melainkan hanya memperbaiki kerah jaket Ethan yang berantakan. Jari-jarinya yang mengenakan sarung tangan taktis hitam terasa kasar dan dingin saat tidak sengaja menyerempet kulit leher Ethan. Ethan menahan napas. Ada ketegangan yang menyesakkan di antara mereka—bukan hanya rasa takut, tapi sesuatu yang lebih gelap dan lebih menarik.
"Kenapa kau membantuku?" tanya Ethan, suaranya nyaris hilang.
Leon terdiam cukup lama. Ia menatap bibir Ethan sejenak sebelum kembali mengunci tatapan matanya.
"Mungkin karena aku bosan melihat orang baik mati sia-sia."
Ia menarik tangannya kembali, menciptakan jarak yang tiba-tiba terasa kosong. Leon kembali ke sudut ruangan, duduk di kursi kayu yang keras, dan mulai membersihkan pisaunya dengan kain kecil. Gerakannya mekanis, tenang, dan sangat mengancam.
"Tidurlah. Aku akan berjaga di sini," kata Leon tanpa menatapnya lagi.
"Dan Ethan? Jangan coba-coba keluar tanpa izinku. Di luar sana, kau bukan lagi manusia... kau hanya umpan."
Ethan terbangun dengan sentakan pelan. Api di perapian sudah mengecil, hanya menyisakan bara merah yang sekarat, melemparkan bayang-bayang panjang dan menari di dinding kamar yang reyot. Suara badai di luar masih meraung, tapi ada suara lain di dalam ruangan—suara robekan kain yang tertahan dan desisan napas yang tajam. Ethan membuka matanya sedikit. Di sudut ruangan, diterangi oleh cahaya bulan yang menerobos awan badai, Leon sedang duduk di kursi kayu.
Dia tidak lagi mengenakan jaket kulitnya. Kaos hitam ketat yang dikenakannya ditarik ke atas, memperlihatkan perutnya yang berotot dan penuh bekas luka—peta jalan dari masa lalu yang penuh kekerasan. Tapi perhatian Ethan tertuju pada luka yang baru. Sebuah sayatan panjang dan dalam menghiasi sisi kiri pinggang Leon. Darah masih merembes perlahan. Leon sedang mencoba membalut luka itu sendiri. Ia memegang segulung perban di satu tangan dan sebotol alkohol medis di tangan lainnya.
Wajah Leon yang biasanya sedingin es kini berkerut menahan rasa sakit yang amat sangat. Ia menuangkan alkohol langsung ke luka itu. Tubuhnya menegang parah, buku-buku jarinya memutih saat ia mencengkeram botol, tapi tidak ada suara yang keluar dari bibirnya yang teratup rapat. Hanya napasnya yang memburu, berat dan dangkal. Dalam kegelapan itu, dinding pertahanan Leon yang tak tertembus runtuh sedikit. Ia tidak terlihat seperti agen super misterius sekarang; ia terlihat seperti seorang manusia yang terluka dan kelelahan.
Ethan bergerak sedikit di tempat tidur, menyebabkan kayu berderit. Gerakan Leon terhenti seketika. Matanya menyipit, waspada, dan dalam sekejap matanya kembali dingin dan keras seperti saat pertama kali mereka bertemu. Ia meletakkan perban dan tangannya bergerak menuju pistol yang diletakkan di meja di sampingnya.
"Ini aku," bisik Ethan cepat, mengangkat tangannya.
Leon merilekskan tubuhnya sedikit, tapi tatapannya tetap tajam.
"Kau seharusnya tidur."
"Dan kau seharusnya meminta bantuan," balas Ethan, duduk di tepi tempat tidur. Ia berdiri dan perlahan mendekati Leon.
"Aku bisa mengatasinya sendiri," ujar Leon datar, nada suaranya memberi peringatan agar Ethan tidak mendekat. Ia mencoba melilitkan perban, tapi sudut yang sulit dan rasa sakit membuatnya canggung.
Ethan tidak mempedulikan peringatannya. Ia berlutut di depan kursi Leon.
"Sini. Kau tidak bisa melihat apa yang kau lakukan di kegelapan ini."
Leon menatap Ethan cukup lama. Ada pertarungan di matanya—antara harga diri yang keras kepala dan rasa sakit yang melemahkan. Akhirnya, ia mendengus pelan dan menjatuhkan tangannya ke samping. Sebuah tanda menyerah yang langka.
Ethan mengambil perban dari tangan Leon yang dingin. Jari-jari Ethan hangat saat tanpa sengaja bersentuhan. Ia mulai membalut luka itu dengan hati-hati. Kulit Leon terasa kencang di bawah jemarinya.
Kedekatan ini menyesakkan. Wajah Ethan berada tepat di depan perut Leon. Ia bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh agen itu, aroma darah dan antiseptik, dan detak jantung Leon yang kuat tapi tidak beraturan. Setiap kali Ethan menarik perban sedikit terlalu kencang, Leon akan menahan napasnya dengan tajam. Ethan mendongak. Di bawah cahaya temaram, ia bisa melihat keringat dingin membasahi pelipis Leon. Mata biru Leon menatapnya—tidak lagi dingin, tapi penuh dengan sesuatu yang sulit diartikan. Kelelahan? Rasa terima kasih? Atau ketakutan bahwa ia membiarkan seseorang melihatnya terlalu lemah?
"Kau selalu melakukan ini?" tanya Ethan pelan, sambil mengikat ujung perban.
Leon menatap tangannya yang sekarang beristirahat di pinggangnya. "Ini pekerjaanku, Ethan. Terluka adalah bagian dari kontrak."
Ethan meletakkan tangannya di atas perban yang baru dipasang, memberikan tekanan lembut. Matanya mengunci mata Leon.
"Itu tidak berarti kau harus menjalaninya sendirian."
Hening menguasai ruangan. Leon tidak menjawab, tapi ia juga tidak menjauhkan tangan Ethan. Tatapannya melembut sepersejuta detik, retakan di dindingnya semakin melebar sebelum akhirnya ia berdehem dan menarik kaosnya kembali ke bawah, menutupi luka—dan kedekatan mereka—sekali lagi.
Ethan hendak menarik tangannya, merasa tugasnya sudah selesai dan suasana menjadi terlalu intim untuk dua orang yang baru bertemu beberapa jam lalu. Namun, sebelum ia sempat berdiri, jemari Leon yang kasar dan kuat menyambar pergelangan tangan Ethan. Sentakannya tidak kasar, tapi sangat absolut. Ethan membeku, terkunci di antara kedua lutut Leon yang duduk di kursi.
"Leon?" bisik Ethan, jantungnya berdegup kencang hingga ia bisa merasakannya di ujung telinga.
Leon tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap pergelangan tangan Ethan yang ada dalam genggamannya, seolah-olah ia sedang menimbang sesuatu yang sangat berat di kepalanya. Ibu jarinya—yang masih mengenakan sarung tangan taktis—mengusap perlahan kulit nadi Ethan.
Satu detik. Dua detik. Keheningan itu terasa lebih bising daripada badai di luar.
"Jangan bergerak," suara Leon hampir berupa geraman rendah. Ia mendongak, dan untuk pertama kalinya, mata biru yang biasanya sedingin es itu tampak berkabut karena kelelahan yang teramat sangat... dan sesuatu yang menyerupai rasa haus.
"Kau gemetar," lanjut Leon, suaranya kini lebih lembut, hampir seperti gumaman rahasia.
"Ini dingin, Leon. Dan kau sedikit menakutkan," jujur Ethan, meski ia tidak mencoba melepaskan diri.
Leon menarik tangan Ethan perlahan, membawa telapak tangan Ethan tepat ke arah dadanya—tepat di atas jantungnya. Ethan bisa merasakan detak jantung Leon yang kuat, stabil, namun cepat. Konsisten seperti mesin, tapi hangat seperti manusia.
"Aku sudah menghabiskan bertahun-tahun sendirian di ruangan seperti ini," Leon berbisik, matanya tidak lepas dari mata Ethan.
"Terluka, menjahit kulitku sendiri, lalu bangun besok pagi untuk melakukannya lagi. Aku sudah lupa bagaimana rasanya ada seseorang yang... tidak mencoba membunuhku."
Genggaman Leon di pergelangan tangan Ethan mengencang sedikit, seolah ia takut jika ia melepasnya, Ethan akan menguap seperti kabut.
"Tetaplah di sini," ucap Leon. Itu bukan perintah agen lapangan kali ini. Itu adalah permintaan seorang pria yang sudah terlalu lama berada di kegelapan. "Hanya sampai badainya reda. Jangan kembali ke tempat tidur itu."
Ethan menelan ludah. Jarak mereka sekarang begitu tipis hingga napas hangat Leon terasa di bibirnya. Ia bisa melihat detail kecil di wajah Leon—bekas luka tipis di bibirnya, bulu mata yang pirang gelap, dan sorot mata yang menuntut jawaban.
Ethan tidak pergi. Sebaliknya, ia membiarkan lututnya tetap bertumpu di lantai kayu yang dingin, membiarkan tangannya tetap berada di dada Leon.
"Aku tidak akan ke mana-mana," balas Ethan pelan.
Leon memejamkan matanya sejenak, bahunya yang tegang akhirnya merosot jatuh. Ia menyandarkan dahinya ke bahu Ethan, membiarkan berat kepalanya ditumpu oleh pria yang ia sebut "terlalu bersih" itu.
Di sudut kamar yang gelap, di tengah raungan badai yang mencoba menghancurkan dinding penginapan, dua orang asing ini baru saja menemukan satu-satunya tempat yang terasa aman: satu sama lain.
Keheningan di kamar itu terasa semakin berat, hanya dipecah oleh suara kayu yang sesekali meletup di perapian. Ethan bisa merasakan setiap helas napas Leon di ceruk lehernya—hangat, teratur, namun berat dengan ketegangan yang belum terucap.
Leon perlahan mengangkat kepalanya. Jarak mereka kini begitu tipis hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Leon tidak melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Ethan; sebaliknya, ia menarik tangan itu lebih dekat ke wajahnya, hingga jemari Ethan menyentuh rahangnya yang kasar karena mulai ditumbuhi janggut tipis.
"Kau seharusnya lari dariku, Ethan," bisik Leon. Suaranya serak, terdengar seperti gesekan logam di atas sutra.
"Siapa pun yang berada terlalu dekat denganku... biasanya berakhir hancur."
"Aku tidak mudah hancur," balas Ethan, suaranya lebih stabil dari yang ia duga. Keberanian yang nekat mulai muncul, didorong oleh cara Leon menatapnya—seolah-olah Ethan adalah satu-satunya hal nyata di dunia yang penuh halusinasi ini.
Mata Leon menggelap. Ia melepaskan pergelangan tangan Ethan hanya untuk menyelipkan tangannya ke belakang leher Ethan, menariknya sedikit lebih dekat. Ibu jari Leon mengusap bibir bawah Ethan dengan tekanan yang membuat napas Ethan tertahan di tenggorokan. Leon tidak langsung menciumnya. Ia seolah sedang memberikan Ethan kesempatan terakhir untuk mundur—atau mungkin ia sendiri sedang bergelut dengan sisa-sisa profesionalismenya yang dingin.
"Kau tahu apa yang kau lakukan?" tanya Leon pelan, matanya mengunci mata Ethan dengan intensitas yang nyaris menyakitkan.
"Aku tahu," jawab Ethan pendek.
Tanpa peringatan lagi, Leon memangkas jarak yang tersisa. Ciuman itu tidak lembut. Itu adalah ciuman yang penuh dengan rasa lapar yang terpendam selama bertahun-tahun, rasa pahit dari alkohol medis, dan keputusasaan seorang pria yang sudah terlalu lama hidup dalam kesendirian.
Tangan Leon yang besar dan kuat mencengkeram pinggang Ethan, menariknya hingga Ethan harus bertumpu pada paha Leon untuk menjaga keseimbangan. Ethan bisa merasakan dinginnya sarung tangan taktis Leon di balik bajunya, kontras dengan panas tubuh mereka yang menyatu. Ethan membalas ciuman itu dengan sama kuatnya, jemarinya meremas bahu Leon, merasakan otot-otot keras di bawah sana yang perlahan mulai rileks. Untuk sesaat, tidak ada monster, tidak ada misi rahasia, dan tidak ada masa lalu yang menghantui. Hanya ada sensasi kasar dari bibir Leon dan detak jantung yang berpacu liar. Leon melepaskan tautan bibir mereka hanya beberapa inci, dahi mereka masih bersentuhan. Napas mereka saling memburu.
"Besok pagi..." Leon berbisik, suaranya kembali terdengar lebih waspada, lebih "dingin", namun tangannya masih mendekap Ethan dengan posesif. "Besok pagi, segalanya akan menjadi berbahaya kembali. Tapi malam ini..."
Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Ia hanya menenggelamkan wajahnya kembali di leher Ethan, menghirup aroma sabun murah dan aroma tubuh Ethan, seolah sedang menghafal rasa kemanusiaan yang baru saja ia temukan kembali.
Di luar, badai salju semakin ganas, seolah-olah dunia sedang berusaha mengubur penginapan kecil itu. Namun di dalam kamar 204, dinding es Leon Kennedy telah runtuh sepenuhnya, menyisakan seorang pria yang akhirnya berhenti melarikan diri dari kesepiannya sendiri.
Sentuhan Leon yang tadinya ragu kini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menuntut. Di bawah temaram cahaya perapian yang hampir padam, suasana kamar itu tidak lagi terasa dingin. Setiap inci kulit yang bersentuhan seolah membakar udara di sekitar mereka. Leon mengangkat Ethan dengan satu gerakan mantap, memindahkannya dari lantai yang keras ke atas tempat tidur yang berderit. Ia bergerak di atas Ethan, menumpu berat tubuhnya dengan lengan yang kokoh. Dalam kegelapan, mata biru Leon berkilat—tidak lagi dingin seperti es, melainkan panas seperti api yang sedang melalap segalanya.
Penyerahan dan Dominasi
"Ethan..." Leon membisikkan nama itu seolah itu adalah sebuah mantra atau kutukan.
Ia menanggalkan sarung tangan taktisnya, membuangnya ke lantai tanpa suara. Kini, tangan telanjangnya yang kapalan menyentuh kulit Ethan, menjelajahi garis rusuk hingga pinggang dengan pemahaman yang mendalam. Ethan menarik napas tajam saat merasakan perbedaan tekstur itu—kekasaran tangan seorang prajurit yang kini menyentuhnya dengan kelembutan yang menyakitkan. Ethan menarik Leon lebih dekat, kakinya melilit pinggang sang agen, seolah takut pria itu akan berubah pikiran dan kembali menjadi bayangan yang tak tersentuh.
"Jangan berhenti," bisik Ethan di telinga Leon, suaranya parau oleh keinginan.
Leon membalasnya dengan ciuman yang lebih dalam, lebih dalam dari sebelumnya. Ia tidak lagi menahan diri. Suara badai di luar tenggelam oleh suara napas mereka yang beradu dan detak jantung yang berdentum di dada yang saling menempel.
Setiap gerakan Leon penuh perhitungan namun dipenuhi gairah yang meluap. Ia menandai setiap jengkal kulit Ethan dengan bibirnya, meninggalkan jejak panas yang seolah akan membekas selamanya. Ethan mencengkeram bahu Leon, kuku-kukunya menekan otot yang tegang, mencari pegangan di tengah badai sensasi yang menghantamnya.
Di kamar yang sempit itu, mereka bukan lagi seorang penyintas yang hancur dan seorang agen yang dingin. Mereka hanya dua jiwa yang saling menemukan di ambang kehancuran. Saat puncaknya datang, Leon menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ethan, tangannya menggenggam jemari Ethan dengan erat, mengunci mereka dalam satu kesatuan yang absolut. Keheningan setelahnya terasa begitu pekat, hanya diisi oleh suara napas yang perlahan mulai teratur.
Leon tidak segera menjauh. Ia tetap mendekap Ethan, membiarkan kehangatan tubuh mereka melawan hawa dingin yang mulai merayap kembali dari balik jendela. Esok pagi akan membawa kekacauan, tapi untuk beberapa jam ini, mereka aman dalam pelukan satu sama lain.
