Work Text:
Kei berdiri mematung di trotoar depan gedung perkantoran yang menjulang tinggi, tampak seperti raksasa yang mengintimidasi. Dia menatap gelisah setiap kali pintu otomatis itu terbuka. Di tangannya tergenggam paper bag berisi hadiah kecil hasil buatannya sendiri.
Besok adalah White Day.
Namun...
Alih-alih suasana romantis, yang dia rasakan adalah sesak yang mengimpit dada.
Sudah dua hari Kei diabaikan Rion. Dua hari pesannya tidak dibalas. Rion sedang marah besar karena Kei terlalu larut dalam kesibukan penerbitan awal Maret ini, seolah-olah Rion juga sedang balas dendam.
Sekarang pukul 19:30. Sudah dua jam Kei disini, matanya yang biru jernih mulai memerah, menatap setiap sosok yang keluar dari pintu otomatis itu. Setiap kali pintu itu berdesis terbuka, jantung Kei berantisipasi. Namun, setiap sosok yang keluar bukanlah wanita berambut biru yang dia cari, bahunya merosot lebih dalam. Kei mulai bertanya-tanya dengan pikiran yang kalut. Apakah Rion sudah pulang lewat pintu lain? Apakah dia sengaja menghindar? Atau... apakah dia memang sudah tidak peduli lagi.
Rasa dingin mulai merayap di telapak tangan Kei hingga ke ulu hati. Dia memang terbiasa sendiri, tapi setelah kehadiran Rion dihidupnya kesendirian terasa seperti hukuman mati.
Pintu kaca itu terbuka lagi. Kali ini sosok dengan setelan formalnya dan langkah kaki yang tegas muncul. Itu dia. Rion.
“Rion!” seru Kei, suaranya mulai parau entah karena udara malam, rasa cemas, atau mungkin menahan tangis.
Langkah wanita itu terhenti. Netra emasnya melirik tajam ke arah Kei, tidak ada binar hangat yang biasanya ada. Hanya tatapan dingin yang membuat Kei merasa seolah dia adalah orang asing.
“Ngapain lu disini?” ujar Rion ketus.
“Rion, maaf...” Kei melihat Rion yang masih menatapnya, hening disana dia artikan sebagai waktu untuk menjelaskan segalanya.
“Maaf... Aku terbiasa sendiri. Aku kadang masih tidak terbiasa memiliki seseorang yang menungguku. Aku... aku bodoh, aku tidak melihat ponselku karena kupikir aku harus menyelesaikan semuanya dulu baru bisa bersamamu.” Napas Kei tercekat, “Maaf. Bukan begitu maksudku, aku tidak akan beralasan lagi. Ini salahku. Aku minta maaf.” Tangan Kei terulur menyodorkan paper bag itu.
Rion melirik bingkisan itu sekilas, dia memutar bola matanya.
“Terbiasa sendiri ya?” Rion mendengus, “Kalau gitu sendirian aja sana sampai tahun depan. Ngapain repot-repot nyari gue.”
Udara malam yang dingin mendadak terasa seperti ribuan jarum yang menusuk paru-paru Kei saat kalimat Rion masuk ke kepalanya.
Pegangan jarinya pada tali paper bag terlepas. Tas berisi kue-kue kering yang dia buat dengan sisa energinya itu jatuh begitu saja ke aspal, terabaikan. Dunia di sekitar Kei seolah melambat, lalu luruh berkeping-keping.
Tubuh Kei gemetar hebat, bukan karena dingin tapi karena ketakutan yang melumpuhkan.
“R–Rion...” suara Kei tercekat. Dia melangkah maju terhuyung, mata birunya bergetar memancarkan kepanikan yang murni. Jemari Kei meraih ujung lengan setelan Rion dengan jari-jarinya yang sedingin es.
“Maaf... Tolong, jangan bilang begitu,” bisik Kei, suaranya parau dan pecah. “Jangan suruh aku sendiri lagi. Aku... aku tidak tahu cara melakukannya lagi setelah ada kamu.”
Rion sempat tertegun melihat reaksi itu. Dia berniat memberikan serangan verbal untuk memberi pelajaran, tapi melihat Kei yang hancur dalam hitungan detik membuatnya kehilangan kata-kata.
“Kei, gue—“
“Aku salah, aku tahu. Aku bodoh karena mengabaikanmu,” Kei memotong dengan nada yang semakin kalut, napasnya mulai pendek dan tidak teratur.
“Aku akan lakukan apa saja. Aku akan mengabarimu setiap saat, atau aku bisa berhenti bekerja sekarang juga. Jangan suruh aku pergi. Aku harus pulang ke mana lagi kalau kamu tidak ada? Aku tidak punya siapa-siapa lagi... Rion... Aku–”
Kei berhenti berbicara, matanya bergetar menyadari bahwa kalimatnya itu sangat egois, kalimatnya itu hanya berpusat padanya, kalimatnya terkesan hanya perasaan dirinya yang valid. Rion juga memiliki perasaannya sendiri, di dunia ini Kei bukan satu-satunya orang yang harus dimengerti.
Matanya kosong, hancur sudah dunianya. Kalau Rion memang berpikir untuk melepaskannya, mau bagaimana lagi—air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, mengalir melewati pipinya yang pucat.
Hening merayap di antara mereka di tengah bisingnya jalanan kota. Rion bisa merasakan jari-jari Kei yang sedingin es meremas kain bajunya, sebuah permohonan bisu agar tidak ditinggalkan di dalam kegelapan kesendirian yang selama ini menghantuinya.
Rion menghela napas panjang, melepas genggaman tangan Kei di lengan bajunya. Dia berjongkok mengambil paper bag yang tergeletak, kemudian dia berdiri dan menggenggam tangan dingin kekasihnya.
“Cengeng banget! Cengeng,” ujar Rion ketus sebenarnya hatinya sangat panik melihat reaksi Kei. Kei tidak hanya sekadar minta maaf, dia sedang menunjukkan bahwa tanpa Rion, dia benar-benar tidak punya tempat untuk kembali.
“Siapa juga sih yang mau putus atau apalah itu.”
Rion melihat Kei masih menunduk, “Kesini naik apaan? Tangan lu dingin begini.”
"Kereta... sama bus," jawab Kei lirih, suaranya masih bergetar.
"Lu beneran minta dimarahi ya? Terus kalau misal hari ini enggak ketemu gue, lu mau pulang naik apa malem-malem gini, Hah? Apart lu tuh jauh!" Rion mengomel, suaranya keras tapi kali ini penuh dengan kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan. "Lu perlu gue omelin lagi deh. Pokoknya lu gue hukum nginep di apartemen gue dua malem. Nggak ada tapi-tapian!"
“Hah?” Kei mendongak dengan mata berairnya dilanda kebingungan.
Di dalam mobil yang sunyi, suasana masih terasa berat. Kei menunduk, menciut di kursi penumpang. Paper bag yang malang itu mendarat di kursi penumpang belakang.
"Maaf, Rion," bisik Kei lagi, merasa dirinya adalah beban.
Rion tidak menjawab dia belum ada keinginan menyalakan mesin. Mata emasnya menatap lurus ke depan.
"Gue maafin,” gumam Rion pelan, wajahnya memerah padam. "Tapi lu harus masakin gue, terus kita cuddle dua malam. Besok Sabtu sama Minggu kalau lu megang kerjaan gue tendang lu keluar.”
Kei menoleh, melihat profil samping Rion yang masih tampak galak tapi tangannya memegang Kei seolah tak ingin melepaskannya lagi. Senyum tipis yang pedih namun lega akhirnya muncul di bibir Kei.
"Iya, Rion. Apa pun..."
Di dalam sana hanya terdengar deru mesin pendingin mobil yang sudah menyala.
“Coba lu pikir pake kepala jenius lu itu. Kenapa gue ngediemin lu?”
Kei mendadak berdebar karena dia merasa seperti tiba-tiba kuis. Dia memutar otak, mencoba mencari jawaban yang paling logis di balik kemarahan wanita di sampingnya ini.
“Karena... aku mengabaikan pesanmu selama tiga hari?” tebak Kei hati-hati. Suaranya masih sedikit bergetar. “Karena aku terlalu fokus pada naskah sampai lupa memberi kabar? Aku tahu itu sangat tidak sopan dan—”
“Salah,” potong Rion cepat. Dia mendengus, "Itu ngeselin juga sih, tapi bukan itu. Coba lagi."
Kei terdiam. Dia menatap tautan tangan mereka, mencoba meraba emosi Rion lewat genggamannya yang masih sangat erat. Jika bukan karena ego yang terluka akibat diabaikan, lalu apa?
“Lu baru sembuh kan akhir bulan lalu? Lu pikir gue marah karena gue haus perhatian? Gue marah karena gue takut lu pingsan sendirian di apartemen lu tanpa ada yang tahu!”
Rion menghela napas.
“Sebelum gue enggak bales pesan lu, gue udah siap mau pergi ke apartemen lu, udah siap mau dobrak pintu kalau misal lu enggak jawab telepon sekali lagi. Tapi pas lu akhirnya bales dan bilang ‘maaf aku lagi tenggelam di kerjaan, nanti aku hubungi lagi ya Rion’ Cih, saat itu juga rasanya gue mau ngamuk.”
Kei terpaku. Rasa bersalah menghantamnya, lebih dalam dari sebelumnya.
“Maaf, Rion... aku benar-benar tidak berpikir sejauh itu,” bisik Kei. Ia menggerakkan tangannya, mencoba mengusap punggung tangan Rion yang masih menggenggamnya. "Aku pikir aku hanya perlu menyelesaikan tugas agar bisa segera bersamamu. Aku tidak tahu kalau aku malah membuatmu takut."
“Halah. Inget ya hukuman dua malemnya masih berlaku.”
Waktu bak berlalu begitu cepat.
Mereka sudah tiba di apartemen Rion. Wanita itu keluar dengan setelan tidur kasualnya, dia menggosok rambutnya dengan handuk kecil sambil berjalan kearah dapur. Matanya menangkap figur Kei yang cemberut melihat ke arahnya dari balik pintu kulkas.
“Rion, konsep masakin disini tuh gimana sih? Tidak ada bahan yang bisa aku masak loh ini. Kamu juga tidak punya telur?" Kei menatap bingung kulkas yang hanya berisi minuman kaleng, botol saus, dan bumbu instan.
Rion tergelak, “Loh, anggap saja ini salah satu ujiannya.”
Kei menghela napas, dia meraih ponselnya. Kayaknya yang perlu dinasihati makan itu Rion bukan dirinya. Kei dengan sigap memilih bahan masakan yang bisa didapat dengan cepat secara online melalui pesan antar.
“Woi. Curang banget kok pesan online. Kan syaratnya masakin gue.” Rion melirik ke ponsel Kei yang masih menyala.
“Bahannya doang, Rion. Tetap aku yang memasaknya.”
“Berapa menit dia datang?” ujar Rion penasaran.
“30 menit paling lama.” Kei bersiap berjongkok hendak membereskan isi kulkas Rion. Sebelum tangannya ditarik menuju sofa di ruang tengah, Rion mendorong dada Kei untuk duduk. Kei mengerjap bingung menatap Rion yang berdiri di depannya sambil berkacak pinggang.
“Eh? Kenapa?”
“Hukuman kedua. Cuddle.” Rion lalu dengan gerakan pelan naik ke pangkuan Kei. Lelaki itu menahan napas.
“Ada gunanya juga gua beli beberapa kaus oblong baru buat lu.” Rion mengalungkan lengannya ke leher lelakinya itu. Aroma sabun mandi yang segar dan sisa kehangatan dari tubuh Rion yang baru selesai mandi menyerang indra penciumannya, membuat wajah Kei yang tadinya pucat kini semakin memanas hebat.
“Rion. Bahannya akan datang sebentar lagi,” bisik Kei lemah, mencoba memberikan pembelaan yang bahkan telinganya sendiri tahu itu sia-sia.
Rion tidak peduli. Ia semakin melingkarkan lengannya di leher Kei, jari-jarinya menyusup ke rambut putih Kei yang sedikit berantakan. Mata emasnya mengunci tatapan biru Kei yang bergetar.
“Tiga puluh menit itu lama, Kei. Lu hutang banyak waktu, dan hutang banyak permintaan maaf.”
Wajah Rion mendekat. Ujung hidung mereka bersentuhan, menciptakan listrik statis yang membuat jantung Kei berdentum liar di balik rusuknya.
“Gue masih marah,” gumam Rion tepat di depan bibir Kei, suaranya merendah, parau dengan nada yang sulit diartikan. “Tapi gue lebih kangen.”
Rion mengecup pipi Kei gemas, sudah terlihat wajah merona Kei, bahkan hingga ke lehernya. Perlahan tapi pasti Rion yang mulai mengikis jarak diantara mereka. Sembilan bulan mereka menjalin hubungan Rion yakin hanya beberapa kali mereka berpagut mesra seperti ini, Kei itu terlampau sopan.
Ciuman itu awalnya terasa menuntut, Rion menggigit kecil bibir bawah Kei, seolah ingin memastikan bahwa pria di hadapannya ini nyata, bukan sekadar bayangan yang bikin dia kesal.
Kei tersentak, tangannya yang gemetar perlahan naik ragu-ragu, sebelum akhirnya mendarat di pinggang Rion, menarik wanita itu lebih dekat. Rasa malu yang biasanya membentengi Kei luruh seketika. Di balik sifat malu-malunya, ada rasa haus akan afeksi yang selama ini dia tekan. Tangan Kei bertaut di belakang pinggang Rion saat mendengar lenguhan kecil dari tenggorokan kekasihnya.
Perasaan mereka seolah tersalurkan diiringi bunyi kecupan intens diantara mereka. Lidah mereka bertemu dalam tarian yang canggung namun penuh emosi. Kei bisa merasakan detak jantung Rion yang sama cepatnya dengan miliknya. Dunia di luar sana—pekerjaan, naskah, dinginnya malam—seolah menguap. Yang ada hanya rasa manis yang tertinggal dan napas yang memburu.
Napas Kei tersengal saat Rion akhirnya menarik diri, menyisakan jarak hanya beberapa inci di antara wajah mereka. Mata biru Kei yang sayu menatap Rion dengan tatapan penuh damba.
“Muka lu merah banget, Kei.” Rion terkekeh sambil menempelkan dahinya di dahi Kei. Rion menyeringai tipis, ibu jarinya lalu mengusap sudut bibir Kei yang sedikit basah. "Ternyata lu nggak sebego itu ya kalau soal beginian. Gue kira lu bakal pingsan duluan."
Kei menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Rion, menghirup aroma sabun atau mungkin sisa parfum yang menenangkan itu dalam-dalam. "Jangan menggodaku terus, Rion. kepalaku rasanya mau meledak."
Bahan-bahan itu sampai tak lebih dari tiga puluh menit. Tak menunggu waktu lama Kei mulai mengeksekusinya. Lelaki itu bergerak dengan ritme yang tenang dan telaten di dapur Rion. Kei memutuskan untuk membuat omurice sederhana namun dengan teknik yang sempurna—telur yang lembut dan nasi goreng yang harum. Rion dapat melihat Kei menambahkan hamburg juga, memastikan protein tambahan masuk ke dalam sistem pencernaan kekasihnya. Rion memperhatikan dari meja makan, kepalanya bertumpu pada satu tangan. Dia melihat bagaimana cahaya lampu dapur yang kekuningan menerpa punggung Kei, menciptakan bayangan yang hangat. Rasanya aneh, pikir Rion. Pria yang biasanya tampak begitu rapuh dan tidak terlihat dunia itu kini terlihat begitu nyata dan ada di dapurnya.
“Selamat makan, Rion.” Kei meletakkan piring berisi omurice dengan topping hamburg yang masih mengepulkan uap panas di hadapan Rion. Telur yang menyelimuti nasi dengan hamburg yang sudah di siram saus.
“Yah, padahal aku mau potong telurnya sebelum lumer,” ujar Rion dengan pura-pura kecewa membuat raut wajah Kei menjadi sedih.
“Maaf, Kei. Gua cuma bercanda.”
“Ayo sini, kita lanjut hukuman cuddle nya.” Rion menepuk ranjang luasnya.
“R–Rion...”
“Rion, Rion mulu lu, cepet naik.”
“K–kayanya aku tidur di sofa depan aja deh,” ujar Kei malu-malu
“Hah?” Rion mengernyitkan dahi, “Kenapa sih?”
Rion berkacak pinggang di atas tempat tidur, menatap Kei yang berdiri kaku di samping tempat tidurnya seperti terdakwa yang menunggu vonis. Wajah Kei yang biasanya pucat kini sudah sewarna kepiting rebus, merambat hingga ke telinga dan lehernya.
“Kenapa? Lu takut gue apa-apain? Atau lu yang takut nggak bisa nahan diri?” tembak Rion telak, seringai jahil tersungging di bibirnya.
Kei tersentak, tangannya meremas ujung kaus oblong pemberian Rion yang sedikit kebesaran di tubuhnya. “B-bukan begitu... Hanya saja, ini... ini kamar pribadimu, Rion. Dan... aku kan laki-laki, sepertinya ini tidak sopan—”
“Cie ilah, sopan santun...” Rion tersenyum meledek. “Kita udah ciuman hebat masih aja bahas sopan santun.”
Lelaki itu tersedak ludahnya sendiri, ucapan frontal Rion membuat mentalnya yang sudah tidak karuan menjadi semakin berantakan. Kei menatap Rion yang kembali menepuk bagian kasur yang kosong dengan wajah girang.
Gerakan Kei kaku bak robot, Rion lalu tertawa dia menggenggam tangan Kei yang sekarang sudah duduk di atas kasur luas Rion.
“Tangan lu masih dingin. Gugup atau masih stres?” Kedua tangan Rion menangkup satu tangan besar Kei. Kei hanya diam tidak tahu ingin merespons apa.
“Maaf ya Kei. Maaf atas ucapan gua tadi yang di depan kantor.”
“Aku yang minta maaf, Rion. Maaf—.”
“Syut!” Rion menekan telunjuknya di bibir Kei, “Bisa fokus aja gak sama permintaan maaf gue?” Wanita itu menghela napas, netra emasnya melirik nakas. Jam digitalnya menunjukkan waktu 00:07. Di samping jam itu terdapat kaleng kecil berisi berbagai macam kue kering buatan Kei.
Mata Kei ikut melihat arah pandang Rion.
“Oh? Sudah ganti tanggal, ya? Happy White Day Rion. Maaf kuenya jadi banyak yang rusak karena jatuh tadi. Tapi, kenapa dibawa ke kamar sih? Aku jadi merasa diledek oleh kuenya.” Kei menutup wajahnya dengan tangan.
“Lebay.” Rion menarik selimut di ujung kasur dan mulai menyelimuti kaki mereka berdua. “Gue pengen makan kuenya, tapi kita udah sikat gigi. Besok deh kita makan bareng.”
Kei hanya mengangguk seperti anak kecil yang diberi nasihat oleh ibunya.
“Udah ah tidur yuk.” Rion berbaring menyamping, Kei akhirnya memberanikan diri untuk berbaring. Kasur Rion terasa sangat empuk, jauh lebih nyaman dari sofa mana pun. Begitu tubuhnya menyentuh kasur, Rion langsung bergerak mendekat, tidak terlalu dekat dan juga tidak terlalu jauh. Cukup dekat untuk menggenggam tangan Kei, tetapi tidak sampai mendekap Kei.
Rion tertawa.
“Ya ampun! Jantung lu kenceng banget. Padahal gak dipeluk juga.”
“Sekasur sama kamu gimana enggak deg-degan, Rion...”
Kei memerah mendengar suara tawa Rion. Rion mendekat dan mendekap tubuh kurus itu.
“Deketan sini, cuddle ya harus dempet-dempetan lah,”
Di kamar itu hanya menyisakan pendar dari lampu tidur. Keheningan malam itu tidak lagi terasa mengancam bagi Kei, alih-alih kesepian yang mencekam, kini telinganya hanya dipenuhi oleh irama napas Rion yang mulai teratur dan detak jantungnya sendiri yang berangsur tenang.
Rion sudah terlelap, wajahnya tampak jauh lebih lembut saat tidur, kehilangan semua gertakan ketus yang biasa kekasihnya itu tunjukkan. Tangan wanita itu masih melingkar protektif di pinggang Kei, seolah memastikan bahwa pria itu tidak akan melenyapkan diri ke dalam kerjaan yang entah kenapa selalu ada terus.
Kei memberanikan diri untuk bergerak sedikit, memperbaiki posisi selimut agar menutupi bahu Rion. Dia menatap kaleng kue kering di atas nakas sekali lagi. Meski beberapa isinya mungkin sudah retak karena hantaman aspal, bagi Kei, kue-kue itu telah menunaikan tugasnya. Mereka bukan lagi sekadar simbol balasan, melainkan saksi bisu dari sebuah kata pulang.
Perlahan, Kei mengecup puncak kepala Rion dengan sangat ringan, hampir tak menyentuh.
“Terima kasih, Rion,” bisiknya nyaris tak terdengar.
Ternyata, White Day bukan tentang seberapa sempurna hadiah yang diberikan, atau seberapa megah perayaan balas budi yang disiapkan. Bagi Kei, White Day tahun ini adalah tentang rasa hangat tangan Rion yang mengusir dingin di ulu hatinya, dan kesadaran manis bahwa mulai saat ini, dia tidak perlu lagi belajar cara sendirian. Kei memejamkan mata, menyandarkan dagunya di atas kepala Rion, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia tertidur dengan senyuman yang menetap hingga fajar tiba.
