Actions

Work Header

potret-potret setelah segalanya

Summary:

Dunia di dalam sistem rumit, tapi palsu. Dunia di luar sistem sederhana, tapi nyata. Setelah segalanya berlalu, yang tersisa hanyalah momen-momen kecil—dan bagi mereka, itu sudah lebih dari cukup. Mereka hanya perlu mengabadikan momen yang berarti bagi diri mereka masing-masing.

— Kumpulan potret kehidupan You Huo dan Qin Jiu, setelah segalanya.

Notes:

(See the end of the work for other works inspired by this one.)

Work Text:

i.

Qin Jiu memasuki kamar tidurnya dengan hati-hati. Langkahnya nyaris tanpa suara, seolah ia sedang menyelinap ke wilayah musuh, bukan kembali ke kamar sendiri.

Ketika ia mencapai ranjang tempatnya berbagi malam bersama You Huo, ia mendadak merasa agak bodoh. Ia datang ke sini memang untuk membangunkan kekasihnya itu, jadi mengapa ia harus begitu berhati-hati? Lagi pula, meskipun ia berisik, You Huo tidak akan terbangun semudah itu. Mungkin inilah yang dinamakan perhatian seorang kekasih—sesuatu yang tanpa sadar telah terukir dalam setiap tingkah lakunya.

Ia duduk di sisi ranjang dan kasur itu menjadi sedikit melengkung karena bebannya. Cukup untuk menggeser selimut You Huo dan menggoyangkan tubuhnya yang masih terlelap. You Huo berselimut hingga menutupi seluruh tubuhnya kecuali kepalanya. Rambutnya sedikit berantakan, sebagian menempel di dahinya, sementara napasnya stabil dan dalam, seperti seseorang yang benar-benar tenggelam dalam tidur.

Kebiasaan tidur You Huo sudah membaik sejak ia kembali bekerja—terlalu sulit untuk bangun bukanlah hal yang baik bagi seorang tentara, dan You Huo tentu menyadari hal itu. Namun tetap saja, meski sudah berlatih, bangun dari tidurnya yang lelap bukanlah perkara mudah. Setidaknya kali ini ia tidak tidur seperti orang mati. Ia sempat mengernyit seolah hendak terbangun. Bulu matanya bergetar sebentar, tetapi dengan cepat tubuhnya kembali rileks dan wajahnya kembali tenang. 

Masih terlelap.

Qin Jiu menunggu beberapa detik lagi, setengah berharap ia benar-benar bangun, setengah lagi berharap tidak.

Qin Jiu tertawa kecil tanpa suara. Jemari telunjuknya menyibak poni You Huo agar ia bisa melihat wajah kekasihnya dengan lebih jelas. Kebiasaan You Huo menutupi matanya dengan lengan saat tidur kini hampir sepenuhnya hilang, memudahkan Qin Jiu menatapnya. Saat ini, You Huo tidur menyamping. Tangannya memegang ujung selimut, namun posisi itu sama sekali tidak terlihat defensif. Wajah yang biasanya dingin dan tajam itu kini terlihat jauh lebih lembut, membuat Qin Jiu merasa ingin menggodanya.

Wajah You Huo tampak lebih merona dibandingkan biasanya, membuat wajahnya yang biasanya pucat kini terlihat lebih hangat. Aktivitas semalam tampaknya masih meninggalkan jejak pada tubuhnya. Bagi Qin Jiu, pemandangan itu terlihat begitu… manis. Saking manisnya, ia meraih ponselnya, membuka kamera, lalu diam-diam mengambil foto wajah You Huo.

Dibandingkan dengan gerakan tubuh, You Huo justru lebih peka terhadap keberadaan kamera yang menghadapnya. Tidak lama setelah foto itu tersimpan, pemuda itu membuka matanya. Matanya masih sedikit berair ketika menatap Qin Jiu. Sepertinya kesadarannya belum sepenuhnya pulih karena mereka hanya saling menatap tanpa berkata apa pun. Ada beberapa detik di mana Qin Jiu merasa You Huo seperti sedang menjadi seekor kucing yang baru saja bangun dari tidur siangnya.

You Huo tak berkata apa pun, sementara Qin Jiu menunggunya untuk berbicara. Semakin lama tatapan itu berlangsung, wajah dan telinga You Huo semakin merona, membuat senyum Qin Jiu kian melebar.

“…Pagi,” kata You Huo akhirnya, sambil menutup matanya lagi. Suaranya agak serak—entah karena baru bangun atau karena alasan lain. 

Qin Jiu merasa pagi ini You Huo benar-benar berperilaku baik. Karena itu, ia mengacak rambut pemuda itu, dan sebelum You Huo sempat protes, ia mencuri kata-kata yang hendak keluar dari mulutnya dengan sebuah ciuman.

 

ii.

Pemandangan yang ditangkap kedua mata You Huo saat ia memasuki ruang makan membuatnya sedikit tertegun. Di depan kompor, Qin Jiu sedang memasak… tanpa mengenakan atasan apa pun, seakan-akan ia tidak takut terciprat minyak panas atau bahkan api. Mendengar You Huo datang, Qin Jiu menoleh dan tersenyum padanya.

“Pagi, Sayang. Sarapan masih dalam proses. Silakan menunggu.”

Kata-katanya terdengar seperti ucapan pelayan restoran—tetapi kata “Sayang” dan nada suaranya yang setengah menggoda tetaplah khas Qin Jiu. You Huo mengangkat alis.

“Kamu sedang ingin menambah bekas luka di tubuhmu?” tanyanya.

Qin Jiu tertawa, memahami pertanyaan implisit yang diajukan You Huo, lalu menjelaskan, “Tadi minyaknya meledak dan apronnya terlalu kotor, jadi aku lepaskan saja.”

“…Minyaknya kenapa?”

“Meledak.”

“…”

You Huo segera berjalan mendekat dan membalikkan tubuh Qin Jiu untuk memeriksa kondisinya. Di beberapa bagian kulitnya tampak kemerahan—bekas cipratan minyak panas. Bekas-bekas itu kecil, tetapi cukup jelas untuk membuat alis You Huo semakin berkerut. Menghadapi kekasihnya yang sembrono ini, You Huo mendadak merasa pusing.

“Jadi kamu melepas apronnya dan memilih memasak sambil bertelanjang dada?”

Qin Jiu membela diri, “Aku tidak telanjang. Aku masih melindungi aset terpentingku—”

“Tutup mulutmu,” perintah You Huo.

Qin Jiu langsung memberi gestur seolah mengunci mulutnya. Sementara itu, You Huo berjalan menuju lemari tempat mereka menyimpan berbagai peralatan dapur, termasuk apron. Mereka hanya memiliki dua apron—dan You Huo langsung memahami alasan Qin Jiu memilih memasak tanpa apron ketika melihat satu-satunya apron yang tersisa di sana.

Apron itu adalah apron Labubu.

Qin Jiu tidak keberatan mengenakan apron merah muda bermotif hati yang kini sudah ternoda minyak, tetapi untuk yang ini tampaknya ia ragu. Warnanya sebenarnya normal—cokelat—namun ada boneka Labubu yang menempel di bagian depannya, merusak estetika apron tersebut.

Apron itu hadiah dari Chu Yue dari perjalanannya ke luar negeri.

You Huo memandanginya beberapa detik. Tentu saja ia tahu maksud Chu Yue menghadiahi mereka apron itu, namun baru sekarang rasanya alasan tersebut terasa begitu nyata. You Huo menahan senyum, lalu mengambil apron itu dan membawanya kembali ke dapur. Qin Jiu tidak memprotes ketika You Huo mengalungkannya ke lehernya lalu mengikat talinya di belakang. Ia hanya bisa pasrah mengikuti kemauan kekasihnya. Ekspresi pasrahnya terlihat seperti seekor singa yang dipaksa mengenakan pita.

Setelah itu, You Huo berjalan ke meja makan dan duduk di kursi yang menghadap langsung ke dapur. Dari sana ia dapat melihat Qin Jiu bergerak ke sana-kemari, menyiapkan berbagai hidangan untuk sarapan mereka. Otot-otot yang biasanya digunakan untuk berkelahi, mengangkat senjata, atau melempar peledak kini dipakai untuk mengayunkan spatula.

Tidak banyak orang yang tahu bahwa You Huo sebenarnya cukup peduli pada estetika. Biasanya hal itu jarang berkaitan dengan manusia. Namun, ia harus mengakui bahwa wajah dan tubuh Qin Jiu termasuk dalam daftar estetika yang ia sukai.

Tubuh Qin Jiu memiliki bentuk segitiga terbalik klasik—berotot, tetapi tidak berlebihan. Seperti kebanyakan tentara yang sering berlatih, tubuhnya lebih cenderung ramping dan padat. Kekuatan dan proporsi ototnya terasa pas di mata You Huo, dan ia tentu saja mengapresiasinya. Cahaya matahari pagi jatuh miring dari jendela dapur, menyorot garis otot di punggungnya dengan jelas. Tubuh itu bukanlah jenis tubuh yang dibuat untuk dipamerkan—melainkan tubuh yang ditempa oleh latihan, pertempuran, dan disiplin.

You Huo merogoh ponselnya dari saku dan memotret punggung Qin Jiu yang masih sibuk memasak, tak repot-repot menyembunyikan tindakannya. Qin Jiu, seperti biasa, tampaknya mampu mendeteksi kehadiran kamera yang mengarah padanya. Ia menoleh dan menyeringai.

“Suka pemandangannya?”

You Huo mengambil beberapa foto lagi. Kali ini ia akhirnya tidak dapat menahan tawa ringan ketika melihat Qin Jiu dengan boneka Labubu menempel di dadanya. Boneka kecil itu tersenyum lebar dengan ekspresi nakal. Entah mengapa, semakin lama You Huo menatap keduanya, ia semakin merasa ekspresi Labubu itu dan ekspresi Qin Jiu ketika sedang bersemangat membuat kekacauan sangatlah mirip.

“Ya,” jawabnya. Ia mengalihkan pandangan dari layar ponselnya dan menatap Qin Jiu secara langsung. “Aku sangat menyukainya.”

 

iii.

Saat You Huo menyukai sesuatu, biasanya ekspresinya tidak menunjukkan apa-apa. Jika seseorang tidak mengenalnya dengan baik, mereka mungkin akan mengira ia tidak menyukai apa pun. Hal ini juga berlaku untuk makanan. Saat mereka masih berada di dalam sistem, Qin Jiu jarang melihat You Huo makan dengan begitu lahap. Ketika ia masih bertugas sebagai Invigilator A, mungkin ia terlalu berhati-hati karena selalu diawasi oleh sistem, sehingga hal sekecil menikmati makanan pun tak bisa dilakukannya dengan bebas. Sebagian besar waktu, makanan hanya menjadi kebutuhan untuk bertahan hidup, bukan sesuatu yang benar-benar dinikmati.

Ketika ia kembali sebagai examinee, You Huo juga tidak memiliki banyak kesempatan untuk makan dengan nyaman. Tentu saja, ujian sejarah di Kastel Carlston adalah pengecualian. Meski begitu, Qin Jiu tahu bahwa You Huo sangat menikmati steak yang dipanggang oleh 922 dan bahwa ia sebenarnya menyukai makanan.

Kini, setelah mereka berhasil keluar dari kurungan sistem, Qin Jiu perlahan mulai hafal tanda-tanda ketika You Huo menyukai makanan. Kemampuan mengenali tanda-tanda ini sangat penting—karena Qin Jiu adalah orang yang memasak di keluarga kecil mereka, dan ia ingin menyajikan makanan yang sehat sekaligus disukai oleh You Huo. Bukan hanya soal rasa; ia juga memperhatikan estetika setiap hidangan agar You Huo berselera memakannya.

Sejauh ini, ada beberapa tingkat kesukaan.

Level pertama, jika ia menyukai tampilan makanannya, ia akan mengambil foto hidangan tersebut. Hal ini hanya konsisten berlaku untuk makanan yang disajikan oleh Qin Jiu—Chief Invigilator itu bukanlah tipe orang yang suka memotret hal-hal yang dianggapnya tidak penting. Dengan kata lain, setiap foto makanan di ponsel You Huo bisa dianggap sebagai pujian diam-diam untuk Qin Jiu.

Level kedua, ia akan mengunggah foto makanan itu ke WeChat, terkadang tanpa keterangan, terkadang dengan caption sederhana: “Masakan Qin Jiu”, membuat para jomblo yang sedang kelaparan meraung di kolom komentar.

Level ketiga, matanya akan tampak lebih hidup ketika ia menyukai rasa makanan tersebut, dan ia akan sangat fokus makan hingga jarang menanggapi percakapan. Mungkin orang lain tidak akan menyadari perubahan kecil di kedua iris mata You Huo, tetapi Qin Jiu bisa langsung mengenalinya. Mulutnya sibuk mengunyah, tetapi matanya seolah tersenyum. Qin Jiu tak pernah berpura-pura bahwa ia tak memperhatikan You Huo, namun You Huo telah terbiasa untuk tidak menghiraukannya.

Level keempat, ia akan memakan makanan itu dengan lambat—namun mengunyahnya dengan lebih lambat lagi, seolah berusaha memperpanjang waktu menikmati setiap suapan dan enggan membiarkan rasa itu berakhir dengan terlalu cepat.

Level kelima, yang jarang terjadi di depan Qin Jiu dan hampir tak pernah di depan orang lain, ia akan menumpuk makanan di mulutnya hingga pipinya sedikit menggembung. Dan pada saat seperti itulah Qin Jiu akan mengambil foto You Huo. Qin Jiu sadar betul bahwa ia senang memotret You Huo saat ia berpikir bahwa You Huo sedang bertingkah… imut.

Pertama kali Qin Jiu melakukan hal itu, You Huo langsung terdistraksi dari makannya. Ia menatap Qin Jiu dengan ekspresi bingung sebelum akhirnya bertanya, “Untuk apa kamu memotoku?”

“Foto ini akan kujadikan testimoni untuk restoran kecilku,” jawab Qin Jiu. “Seorang Chief Instructor yang terkenal suka pilih-pilih makanan menyukai masakanku—bukankah itu ulasan terbaik yang bisa kudapat?”

You Huo tidak langsung menjawab. Ia mengunyah sekali lagi, lambat, sebelum akhirnya bertanya tanpa mengangkat pandangan dari mangkuknya, “Memangnya kamu mau memasak untuk siapa lagi?”

“….”

Itu pertanyaan yang sama sekali tidak ia duga.

“Tidak,” jawab Qin Jiu. “Aku tidak akan memasak untuk siapa pun selainmu.”

You Huo tidak menjawab. Ia hanya menunduk dan memasukkan suapan berikutnya ke dalam mulutnya.

Qin Jiu mengangkat ponselnya.

Level enam.

Tampaknya restoran kecilnya memang hanya akan memiliki satu pelanggan seumur hidupnya.

 

iv.

You Huo hanya memiliki satu subjek favorit di galerinya.

You Huo memiliki banyak foto Qin Jiu—setidaknya, untuk standarnya, jumlah foto Qin Jiu di galerinya sudah terbilang cukup banyak, apalagi jika dibandingkan dengan foto-foto lainnya. Mungkin lebih mengejutkan bahwa banyak foto-foto tersebut diambil tanpa Qin Jiu menyadarinya. Ada beberapa foto Qin Jiu sendirian, tetapi sebenarnya lebih banyak foto yang You Huo ambil diam-diam ketika Qin Jiu sedang berinteraksi dengan orang lain.

Qin Jiu yang dulu hidup dalam kesendirian dan terbiasa bertindak seorang diri tetaplah Qin Jiu yang bersinar dengan brilian. Namun kini, Qin Jiu yang hampir selalu memiliki seseorang di sisinya—meskipun orang itu tidak selalu You Huo—terlihat lebih brilian lagi. Rasanya, seakan keberadaan orang lain di sekitarnya justru membuat cahayanya semakin jelas. 

Ada foto saat Qin Jiu dengan sengaja menakut-nakuti 922 dengan ancaman membuat kekacauan di dalam sistem yang baru saja diprogram ulang. Ekspresi 922 yang hampir panik ikut tertangkap di sudut foto, terkadang membuat You Huo hampir tertawa ketika melihat foto ini. Setiap kali melihat foto itu, You Huo selalu merasa bahwa 922 sebenarnya sudah cukup terbiasa dengan tingkah laku Qin Jiu—hanya saja ia tetap memilih untuk panik setiap kali mendengar omong kosong Qin Jiu.

Ada foto ketika Qin Jiu sedang berbicara dengan Old Yu, tampak sedikit canggung saat menerima nasihat setelah ia terluka dalam sebuah misi, sambil membiarkan Old Yu mencekokinya dengan berbagai suplemen kesehatan. Mungkin ini juga semacam balas dendam kecil You Huo pada Qin Jiu yang pernah menggodanya dengan mengatakan bahwa ia lemah ketika orang yang lebih tua menasihatinya. Padahal, kenyataannya, Qin Jiu juga sama saja.

Ada pula foto ketika Qin Jiu berlutut untuk berbicara dengan seorang anak kecil, dengan sabar mencoba membuatnya merasa nyaman sambil tetap menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan misi yang sedang mereka hadapi. Kesabaran Qin Jiu saat itu tidak jauh berbeda dengan kesabarannya ketika menghadapi Old Yu.

Ada pula foto-foto yang diambil saat Qin Jiu baru saja kembali dari sebuah misi. Pada foto pertama, Qin Jiu sedang berbincang dengan anggota S Squadron, dan mereka tampak bersukacita karena misi mereka berhasil. Seragam mereka masih berdebu, tetapi tawa mereka terdengar bebas.

Foto kedua dari hari itu sebenarnya tertangkap tanpa sengaja—ketika Qin Jiu menoleh ke arahnya. Senyumnya langsung melebar begitu menyadari keberadaan You Huo setelah lebih dari seminggu mereka tidak bertemu.

Di momen itu, Qin Jiu tampak lebih bersinar daripada biasanya.

Mungkin ini hanya bias.

Namun, bagi You Huo, Qin Jiu memang selalu tampak paling bersinar ketika sedang menatapnya.

Ia tak terlalu keberatan jika memang begitu.

 

v.

Qin Jiu senang melakukan selfie bersama You Huo ketika mereka mengunjungi tempat-tempat baru—baik tempat berlibur maupun tempat-tempat yang kebetulan menjadi lokasi misi pada momen langka ketika mereka ditugaskan bersama. Awalnya kebiasaan itu bahkan terasa agak aneh baginya. Dahulu ia bukan tipe orang yang menyimpan kenangan dalam bentuk gambar. Ia hidup dari satu bahaya ke bahaya lain; tidak banyak momen yang terasa dapat diabadikan. Namun, sejak bersama You Huo, ia mulai merasa bahwa beberapa momen memang layak disimpan.

You Huo sebenarnya bukan orang yang gemar berfoto. Jika Qin Jiu tiba-tiba mengangkat ponselnya, biasanya You Huo hanya akan melirik sekilas sebelum akhirnya membiarkan Qin Jiu menariknya lebih dekat ke dalam frame. Ekspresinya hampir selalu sama—tenang, sedikit datar, kadang hanya sedikit menaikkan alis, kadang tersenyum jika ia memang benar-benar tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Jika ia berpose, pose-nya pun hampir selalu sama. Namun, Qin Jiu tetap menyimpan semuanya.

Ada foto ketika mereka berdiri di depan laut yang luas, angin laut membuat rambut You Huo sedikit berantakan. Di foto itu Qin Jiu tersenyum santai, sementara You Huo terlihat seperti seseorang yang sebenarnya tidak terlalu ingin berfoto, tetapi tetap berdiri cukup dekat hingga bahu mereka saling bersentuhan. Ada juga foto yang diambil saat mereka sedang menjalankan misi. Seragam mereka masih berdebu, dan cahaya senja di belakang mereka. Foto itu sedikit buram karena diambil dengan cepat, dan misi tersebut cukup sulit sehingga bahkan kedua orang hebat seperti mereka terlihat kelelahan dan jauh lebih dari kata sempurna. Tapi Qin Jiu tetap menyimpan foto tersebut—sebuah bukti bahwa mereka selamat untuk menyambut hari baru yang akan datang.

Sebagian besar foto-foto tersebut terlihat terbiasa saja, namun bagi Qin Jiu, mereka memiliki arti yang jelas.

Mengunjungi tempat-tempat itu bersama You Huo selalu terasa berharga. Lebih berharga lagi karena tempat-tempat itu benar-benar nyata. Dunia di dalam sistem dahulu juga luas. Ada gunung bersalju, kastel tua, kota-kota asing, bahkan laut yang tampak tak berujung. Sekilas, semua itu terlihat indah. Namun, mereka berdua tahu bahwa semua itu hanyalah konstruksi—palsu. Udara di tempat-tempat itu selalu membawa hawa kematian, tak peduli seindah apa lokasi ujian yang mereka hadiri.

Sebaliknya, tempat-tempat yang mereka kunjungi sekarang terasa berbeda, bahkan di lokasi misi di mana bahaya selalu mengintai. Oleh karena itu, Qin Jiu hampir selalu mengambil foto ketika mereka berada di tempat baru. Mungkin ini adalah cara sederhana untuk memastikan bahwa semua ini benar-benar terjadi, bahwa dunia yang mereka pijak sekarang bukan lagi ilusi yang dapat runtuh kapan saja.

Foto-foto itu tidak selalu sempurna.

Ada yang terlalu terang, ada yang sedikit miring, ada yang bahkan terpotong di bagian pinggir. Pose mereka juga tak banyak berbeda, memberi kesan membosankan. Namun, Qin Jiu tetap menyimpannya.

Baginya, foto-foto itu adalah bukti yang sederhana bahwa tempat-tempat itu nyata, bahwa mereka benar-benar berada di sana. Foto-foto tersebut juga merupakan pengingat bahwa kini mereka benar-benar dapat bebas hidup bersama dengan satu sama lain dan bahwa masih ada banyak pemandangan menanti mereka di masa depan. Dan meskipun kehidupan di sini dapat membosankan, mereka ada di sana, berdiri dengan bahu yang bersentuhan dengan satu sama lain.

 

vi.

Foto-foto terpenting yang mereka miliki mungkin tidak diambil oleh tangan mereka sendiri.

Foto-foto itu diambil di pesta pernikahan mereka.

Sebenarnya, mereka tidak pernah berniat untuk mengadakan pesta. Bagi mereka, bertukar cincin dan mendaftarkan satu sama lain sebagai legal guardian sudah cukup—hanya itu yang dapat mereka lakukan untuk membuat hubungan mereka menjadi semakin resmi di mata hukum. You Huo bukan tipe orang yang menyukai pesta, terlebih pesta yang menjadikannya pusat perhatian. Qin Jiu mengetahui hal itu dengan sangat baik. Jika You Huo merasa sesuatu tidak perlu dilakukan, Qin Jiu biasanya tidak akan bersikeras, terutama jika ia tahu bahwa You Huo benar-benar tak nyaman.

Namun, ketika mereka menyampaikan rencana sederhana itu, Chu Yue langsung mengangkat alis.

“Kalian terpisah begitu lamanya,” katanya. “Dan ini momen spesial. Masa dibiarkan lewat begitu saja?”

Ia mulai berargumen dengan panjang lebar. Pada awalnya Qin Jiu hanya mendengarkan dengan santai, terhibur melihat betapa seriusnya Chu Yue memperjuangkan pesta yang bahkan bukan miliknya. Namun, perlahan-lahan argumen yang diberikannya menjadi semakin masuk akal. Ia terus berbicara tentang kesempatan yang jarang datang, tentang orang-orang yang telah melalui banyak hal bersama mereka, dan tentang bagaimana dunia nyata seharusnya memiliki lebih banyak momen yang tak diiringi rasa takut dan cemas.

Pada akhirnya, bahkan You Huo pun menyerah.

Pesta itu kecil. Mungkin terlalu kecil dan tak layak untuk disebut pesta pernikahan.

Tidak ada altar, tidak ada pula pertukaran janji pernikahan. Kata-kata seperti itu terasa agak dangkal jika dibandingkan dengan semua hal yang telah mereka lalui bersama—semua bahaya, kehilangan, dan keputusan yang secara perlahan mengikat mereka satu sama lain. Jika dipikir-pikir, acara itu lebih menyerupai pertemuan kecil para rekan lama. Sebuah cara sederhana untuk mengatakan kepada orang-orang terdekat mereka: mereka milik satu sama lain.

Tidak ada fotografer profesional yang disewa untuk acara itu.

Jadi, Chu Yue mengajukan diri.

Ia bahkan tampak lebih bersemangat dibandingkan dengan kedua orang yang tengah menjadi bintang utama. Sejak keluar dari sistem, Chu Yue memang memiliki kebiasaan baru yang mirip dengan Qin Jiu: memotret hampir semua hal yang menurutnya menarik. Rasanya, ini masuk akal. Di antara mereka semua, Chu Yue adalah salah satu orang yang paling lama terjebak di dalam sistem. Lebih lama lagi, ia pernah terkurung di satu lokasi yang monoton, menjalani hari demi hari dengan rutinitas yang hampir tak pernah berubah. Setelah keluar dari sana dan dapat melihat kembali, dunia nyata terasa terlalu luas dan berharga untuk dilewatkan begitu saja.

Karena itu, ia mulai mempelajari fotografi dengan cukup serius. Ia membeli kamera dengan kualitas yang lumayan, kemudian membaca banyak hal, mencoba berbagai teknik, bahkan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk pencahayaan dan sudut yang tepat. Semua itu demi satu tujuan sederhana: agar ia dapat menangkap pemandangan dan momen penting dengan sempurna.

Di pesta kecil itu, Chu Yue mengambil banyak foto.

Ada foto ketika Old Yu mencoba menasihati mereka berdua lagi, memberikan ceramah mengenai pernikahan yang langgeng, sementara Yu Wen terlihat bingung perlu menghentikan ayahnya atau tidak. Seharusnya Old Yu tahu mereka tak memerlukan itu, tapi sepertinya ia merasa bahwa sebagai seorang tetua ia harus melakukan itu. Ceramah itu terhenti saat Old Yu menyadari bahwa Chu Yue sedang memfotonya dan kemudian ‘memarahi’ Chu Yue karena sibuk sendiri.

Ada juga foto ketika Gao Qi tertawa terlalu keras hingga hampir menumpahkan minumannya sendiri sementara Zhao Jaitong memarahinya, foto 021 yang bahkan dalam acara ini masih mengenakan kacamata stylish-nya, dan juga 922 yang cengengesan sendiri saat sibuk berbicara dengan 154.

Sebagian besar foto selalu kembali pada dua orang yang menjadi pusat acara itu.

Ada foto ketika Qin Jiu sedang berbicara dengan beberapa anggota lama Suicide Squad, gelas minuman di tangannya. Ada foto Qin Jiu sedang diceramahi oleh para invigilator pertama di sistem, sementara You Huo terlihat ingin membungkam mulut mereka. Kadang mereka berdiri berdampingan sambil berbicara dengan orang lain. Kadang Qin Jiu sedikit mencondongkan tubuh ke arah You Huo, sebuah kebiasaan yang terbentuk secara alami. Kadang You Huo tampak sedang mendengarkan seseorang, sementara Qin Jiu memandangnya dengan ekspresi yang penuh dengan tatapan rasa cinta.

Dalam salah satu foto, You Huo yang terlihat lelah berinteraksi dengan orang lain mulai menundukan pandangannya dan memainkan cincin di jemarinya. Qin Jiu mengambil alih percakapan itu, membiarkan You Huo beristirahat sejenak. Dalam foto lain, mereka berdua sedang berdiri di dekat jendela. Cahaya sore jatuh dari samping, membuat bayangan mereka terlihat lebih panjang di lantai. Qin Jiu tampak mengatakan sesuatu yang membuat sudut bibir You Huo sedikit terangkat. Sebuah perubahan kecil yang hampir tak terlihat, namun untungnya Chu Yue adalah salah satu yang dapat melihatnya dan menangkap momen itu.

Chu Yue menangkap semuanya.

Bisa dibilang Chu Yue adalah salah satu orang yang menyaksikan perjalanan kisah You Huo dan Qin Jiu sejak awal. Dan sekarang, ia juga menjadi orang yang mengabadikan akhirnya.

Tidak.

Tentu saja ini bukan akhir.

Ini hanyalah awal yang lain.

 

vii.

Terkadang You Huo lupa bahwa kini ia sudah berada di dunia nyata.

Kebiasaan itu sulit dihilangkan. Terlalu lama hidup di dalam sistem membuat sebagian refleksnya masih tertinggal di sana—refleks untuk menahan diri, untuk tidak melakukan sesuatu yang sebenarnya ingin ia lakukan. Terkadang, ketika ia menatap Qin Jiu di hadapannya, sebuah pikiran sederhana muncul di benaknya: Aku ingin memegang tangannya.

Dahulu, saat mereka masih berada di dalam sistem, pikiran seperti itu akan segera ia singkirkan. Ia bahkan tidak akan membiarkannya bertahan terlalu lama di kepalanya. Di tempat seperti itu, hal-hal kecil semacam itu terasa terlalu berbahaya untuk dipikirkan. Karena itu, dahulu You Huo mecoba untuk hanya berjalan beberapa langkah di belakang Qin Jiu.

Tidak terlalu jauh, tetapi juga tidak benar-benar berdampingan.

Namun sekarang, ketika pikiran itu muncul, You Huo terkadang butuh beberapa detik untuk menyadari sesuatu yang sederhana: Ia tidak lagi berada di dalam sistem. Ia bisa melakukan apa pun yang ia mau. Menyadari hal itu, langkah You Huo biasanya akan sedikit menjadi lebih cepat.

Ia akan berjalan hingga ia berdampingan dengan Qin Jiu, lalu tanpa banyak kata, ia akan meraih tangan Qin Jiu. Qin Jiu hampir selalu langsung membalasnya—jari-jarinya menyelip di antara jari You Huo dengan santai. Kadang-kadang You Huo bahkan akan mengangkat tangan mereka yang saling menggenggam.

Cincin di jari mereka saling bersentuhan ketika mereka melakukan itu, logamnya terasa dingin di kulit, namun kehadiran Qin Jiu di sampingnya membuat sensasi itu terasa normal. You Huo akan menatap kedua cincin itu sejenak. Ia tidak selalu tahu apa yang sedang ia pikirkan saat melakukan itu. Mungkin ia hanya sedang memastikan bahwa semua ini benar-benar nyata.

Dahulu, telepon genggamnya bahkan hampir tidak memiliki sesuatu yang layak disebut personal. Wallpaper yang ia gunakan hanyalah gambar bawaan. Namun sekarang, wallpaper teleponnya telah berubah. Di layar tersebut, terpajang sebuah foto sederhana.

Foto kedua tangan mereka yang saling menggenggam, dengan cicin di jemari mereka sebagai fokusnya.