Actions

Work Header

Sudikah Dirimu untuk Berdansa dengan Saya, Crotalina?

Summary:

Di sore hari itu, satu lagi pembatas di antara mereka berdua runtuh.

//Ditulis untuk Aolady

Notes:

Fanfiksi ini ditulis untuk Aolady: yume sebanyak 1.3 ribu kata dari OCnya dan Shalem!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

"Nona Crotalina, biar saya bantu."

Kalimat tersebut diiringi dengan figur Shalem muncul di sebelah Crotalina dan tumpukan barang yang belum sempat dipindahkan ke dalam gedung troupe. Sebelum sang wanita sempat memberi jawaban, dengan mudahnya sang lelaki mengangkat kotak di bagian paling atas yang ditandai 'peralatan medis' dan membawanya ke tempat seharusnya.

"Ah, tidak perlu repot-repot padahal, Tuan Shalem!" Crotalina mengikuti di belakang dengan sedikit panik. Tangannya memang sudah dipenuhi dokumen dari anggota troupe yang baru saja dia pisahkan, tapi bukan berarti ia kesulitan mengangkat kotak barusan. "Aku bisa sendiri."

Namun Shalem tersenyum pada kalimat barusan, justru memilih untuk melirik dan menemui mata milik rekan kerjanya. "Walaupun kamu bisa sekalipun, tetap saja saya tidak bisa membiarkanmu kerepotan seperti itu."

Crotalina hanya menghela napas pada respon Shalem yang selalu membuatnya menggelengkan kepala, tapi langkah kaki mereka tidak berhenti untuk mencapai tujuan mereka: gedung troupe di mana keduanya bekerja sekarang.

Shalem dan Crotalina telah beranjak dari Rhodes Island sejak beberapa bulan silam. Setelah Lucian menggantikan posisi Tragodia sebelumnya, Shalem memutuskan untuk mengikuti jejaknya dengan cara membantu kegiatan operasional di troupe baru yang dipimpin Lucian tersebut. Sementara itu, Crotalina sendiri direkrut untuk menjadi tenaga tambahan karena pengetahuan dan pengalaman medisnya.

Kepergiannya yang sedikit mendadak itu mengejutkan baik teman dan pasien yang telah ia bantu, tapi hatinya mengajaknya untuk pergi membantu di troupe yang lebih membutuhkan dirinya, dan keputusannya tidak berubah. Pada akhirnya, Gavial menyusun pesta perpisahan yang dihadiri seluruh anggota departemen medis—yang entah kenapa berakhir diikuti oleh Operator dari departemen lain dan juga Dr. Alize.

Namun Crotalina melihat sisi positifnya. Setidaknya, di sini pun, ia dapat membantu anggota troupe yang membutuhkan keahliannya. Ditambah lagi, karena tempat mereka sekarang tidak sebesar kapal Rhodes Island, Crotalina tidak dapat memiliki ruangan sendiri. Untungnya, setelah pembicaraan dengan Lucian yang dilakukan bersama brainstorming tentang posisi dua kasur yang paling nyaman di dalam satu kamar, Crotalina sekarang tinggal bersama dengan Shalem.

Perkembangan hubungan mereka menjadi semakin baik setelah keduanya dapat berbincang di situasi yang lebih privat, dan sudah sampai ke titik di mana berbagi ruangan bukanlah sesuatu yang membuat mereka kagok.

Shalem membuka pintu dengan tangan kosongnya, dan menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa Crotalina mengikutinya. Setelah mengucapkan terima kasih, Crotalina masuk ke dalam gedung dan membantu Shalem kembali menutup pintu.

Mereka lanjut berjalan menyusuri lorong untuk menuju ruangan medis tempat di mana Crotalina bekerja, dan sebelum lama, kicauan burung yang lewat menarik perhatian kedua insan tersebut untuk berhenti dan memandang ke luar.

Pemandangan yang membentang dari luar jendela yang mereka lewati sangatlah mengagumkan. Gedung troupe yang mereka tempati memiliki jendela yang tinggi dan lebar untuk seluruh ruangan, dan di luar lorong di mana mereka berdiri merupakan padang dengan rerumputan dan bunga liar yang menjadi tempat favorit beberapa anggota troupe untuk bersantai di antara latihan untuk pertunjukkan selanjutnya. Ditambah lagi, jika cuaca sedang cerah seperti sekarang, angin berhembus sepoi-sepoi bersamaan dengan sinar matahari yang menghangatkan, dan menjadikan lokasi tersebut tujuan utama bagi anggota yang ingin menikmati ketenangan.

"Indah ya," gumam Crotalina. "Aku tahu kita juga bisa melihat pemandangan seperti ini dari Rhodes Island saat kita melewati kota lain, tapi … melihatnya dari sini rasanya berbeda."

Shalem terdiam sebentar sebelum tersenyum. "Saya setuju."

Dengan diam-diam, ia melirik ke arah Crotalina. Meskipun mereka berhasil melewati rintangan terkait masa lalu mereka dan sudah dapat minum teh berdua saja, meskipun dengan tatanan kamar tidur mereka sekarang … ia merasa tetap ada jarak di antara mereka berdua yang tidak bisa dilangkahi begitu saja.

Mata sewarna tapak dara Shalem beralih dari wanita di sebelahnya sebelum ia sadar dengan pandangannya barusan yang penuh perasaan membingungkan. Mereka bukanlah pasangan; bukan secara formal. Namun, Shalem berbohong jika ia tidak merasa hatinya sakit setiap mengingat bahwa hubungan antara mereka berdua masih dihambat sesuatu yang cukup besar:

Nama.

Bukan penggunaan codename yang menjadi masalah, bukan, mengingat keduanya sudah memahami asal usul masing-masing dengan lebih jelas dan cukup normalnya codename bagi anggota (atau mantan anggota) Rhodes Island. Yang memakan isi kepala Shalem adalah kata sapaan yang selalu ia gunakan sebelum menggunakan nama Crotalina.

'Nona'. Ia tidak pernah memanggil sang wanita tanpa awalan tersebut, dan sebaliknya juga, namanya tidak pernah keluar dari bibir Crotalina tanpa menjadi iringan dari kata 'Tuan'.

Beberapa kali ia melihat Crotalina nyaris memanggil namanya tanpa embel-embel secara tidak sengaja, dan setiap kali, ia menyaksikan wanita berambut cyan gelap itu membenarkan kata-katanya dengan cepat dengan ekspresi yang seakan menyampaikan bahwa ia tidak ingin Shalem merasa tidak nyaman dengan kesalahannya barusan.

Padahal tidak begitu, Shalem selalu ingin mengatakan. Ia justru ingin Crotalina memanggilnya dengan lebih santai, ia ingin Crotalina menutup lebih banyak jarak di antara mereka—tapi ia tidak pernah dapat mengutarakannya. Entah karena waktu yang tidak tepat, orang di sekeliling mereka yang memotong pembicaraan, atau sekadar kurangnya keberanian, selama ini kalimat tersebut tidak pernah tersampaikan.

"Kalau cuacanya bagus seperti ini terus, aku jadi mau menghabiskan waktu bersantai-santai di luar saja," kata Crotalina dengan tawa.

Lamunan Shalem buyar, dan ia membuka bibirnya sebentar sebelum menutupnya kembali. Apapun yang ia ingin katakan barusan sebagai balasan, tiba-tiba saja hilang dari pikirannya, digantikan dengan rencana yang ia yakin dapat dilakukannya.

Jika usahanya untuk menyampaikan kalimat mengecewakan dirinya sendiri, maka ia akan mencoba mengutarakannya melewati aksi.

Dengan ide yang sudah didapatkan, Shalem tersenyum. Ia hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan rencananya. Dan hari itu datang beberapa minggu kemudian.

Langit yang terlihat dari troupe milik Lucian di sore hari itu dihiasi semburat oranye dan ungu lembayung yang saling melengkapi. Sang matahari yang mulai tenggelam di ujung sana tidak dilewati satupun awan, mengizinkannya untuk membalut padang bunga di samping gedung troupe dengan lampisan keemasan yang menyempurnai cyan gelap dari rambut Crotalina yang tertiup angin.

Sang wanita mengikuti langkah phidia di depannya, sepatunya melewati rerumputan sedikit tinggi dengan beberapa pertanyaan dalam pikirannya. Siang tadi, Shalem menghampirinya saat waktu klinik untuk bertanya apakah sore itu ia memiliki waktu kosong, dan dengan sedikit bingung, sang tenaga medis menjawab iya. Ia tidak diberi tahu apa dan kemana mereka akan pergi, jadi kejutan bahwa Shalem membawanya ke padang di samping troupe membuatnya makin penasaran tentang … semuanya.

"Tuan Shalem sebenarnya ada rencana apa? Apa jangan-jangan ada hal spesial hari ini?" tanya Crotalina.

Shalem tidak langsung menjawab. Keduanya lanjut menyusuri rerumputan hingga akhirnya Shalem berhenti nyaris di tengah lautan hijau tersebut dan berbalik untuk menghadap pada Crotalina.

"Bukan apapun yang spesial kok," gumamnya, "hanya sesuatu yang ingin kulakukan sejak lama."

Sebelum Crotalina sempat bertanya apa maksudnya, Shalem mendunduk sedikit dan mengulurkan tangannya, diiringi dengan sebuah senyuman simpul yang merekah di wajahnya.

"Sudikah dirimu untuk berdansa dengan saya, Crotalina?"

Mata sang wanita membelalak. Tidak hanya karena gestur bernada romantis tersebut yang mengangetkannya, tapi, barusan saja, nama yang keluar dari bibir Shalem tidak diawali dengan sapaan kata 'nona' seperti biasanya, dan jantungnya tidak bisa berhenti berdegup hanya dengan mendengarnya.

Sang lelaki tidak langsung bergerak atau berkata apapun, memilih untuk menunggu respon dari Crotalina, memilih untuk melihat apakah 'kejutannya' kali ini merupakan hal yang seharusnya ia lakukan.

Setelah beberapa detik yang terasa terlalu terulur, Crotalina memberikan tangan kanannya pada sang lelaki.

"Tentu saja aku sudi, Shalem," jawabnya.

Jemari mereka saling bertaut dan dilingkupi dalam diam sebentar, keduanya menikmati hangatnya suhu tubuh satu sama lain. Kemudian, Shalem melangkah satu kali ke belakang dan menarik Crotalina ke dalam awal mula tarian yang sempat ia pelajari dahulu—dan yang ia latih ulang selama beberapa minggu kebelakang.

"Jangan khawatir," ucap Shalem saat melihat keraguan di mata Crotalina, "saya akan mengajarimu langkah-langkahnya."

Dengan jaminan tadi, senyuman merekah di wajah sang anggota medis, beringinan bersama kalimat yang ia bisikkan pada lelaki di depannya.

"Terima kasih," kata Crotalina. "Aku … senang bisa memanggilmu seperti ini."

Kata 'akhirnya' tidak terucap, tapi keduanya sadar atas keberadaannya.

"Kamu tidak perlu berterima kasih hal sesimpel ini," Shalem membalas senyumnya, "aku juga merasakan hal yang sama."

Di kejauhan, Playwright memandang siluet mereka yang terus berdansa. Sesuai dengan janji Shalem, sang lelaki membantu Crotalina mempelajari gerakan dari dansa tersebut, dan sang wanita sendiri dengan bahagia mencoba mengikutinya.

Akhirnya.

Playwright mendorong kacamatanya naik dan mengangguk pelan pada dirinya sendiri. Naskahnya kali ini berjalan lancar, dan sang Tragodia baru pasti juga akan merasa puas dengan hasilnya. Karena pada akhirnya, semua hal akan memiliki akhir bahagia selama-lamanya ….

 

Notes:

Terima kasih telah membaca hingga akhir! Jika berkenan, mohon beri kudos dan berikan pendapatmu tentang ceritanya!

Semoga hari kalian semua menyenangkan! <3