Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-03-16
Words:
5,239
Chapters:
1/1
Comments:
6
Kudos:
40
Bookmarks:
3
Hits:
644

Forever, and Almost

Summary:

Martin merasa yakin bahwa ini akan berakhir lama. Selamanya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Kenangan pertama Martin tentang James bukanlah tentang sesuatu yang besar. Bukan momen dramatis di lapangan, Bukan adegan slow motion saat seseorang menjatuhkan buku dan yang lain membantu memungutnya. Bukan juga senyum yang membuat waktu berhenti. Kenangan pertamanya tentang James adalah serutan pensil.

Aroma serutan itu memenuhi udara kelas XI-IPA 2, bau kayu dan grafit yang khas, bercampur dengan bau keringat dari terlalu banyak siswa yang duduk berdesakan di bangku kayu dalam ruangan itu. Bangku-bangku tua yang dipenuhi coretan, entah itu nama, umpatan, bahkan kadang kalimat ungkapan cinta dan patah hati. Kipas angin di langit-langit berputar pelan, seperti sudah terlalu lelah untuk bekerja. Sinar matahari menembus jendela dalam garis-garis tipis, membuat debu melayang berkilau seolah dunia sedang mencoba terlihat lebih indah dari yang sebenarnya.

Sebelum pagi itu, Martin merasa dirinya cukup paham tentang cinta, atau setidaknya versi remaja dari kata itu. Ia pernah berpacaran beberapa kali, dengan beberapa gadis berbeda, berpegangan tangan saat berjalan, berbagi earphone, sengaja membuka notifikasi chat dengan emoji hati agar teman-temannya melihat. Semua dilakukan dengan gaya sok santai yang sebenarnya cuma membungkus gengsi.

Martin tahu ritmenya. Tahu kapan harus membalas chat lama agar terlihat misterius. Tahu kapan harus bersikap posesif agar dianggap serius. Semua terasa seperti permainan yang sudah ia hafal aturannya.

Setidaknya hingga pagi itu, saat wali kelas mereka bertepuk tangan.

“Mulai hari ini, tempat duduknya diacak. Tidak ada protes, tidak ada tawar-menawar.”

Suara keluhan memenuhi kelas. Kursi diseret, tas dijatuhkan terlalu keras, bahkan ada seseorang mengumpat pelan di ujung ruangan.

Martin berdiri dengan setengah senyuman, pasrah. Ia sudah siap duduk jauh dari lingkaran pertemanannya. Lalu ia melihat daftar yang di tempel dekat papan tulis, namanya tertulis tepat di sebelah satu nama, James.

James bukan anak populer. Tapi semua orang tetap tahu siapa dia. Anak itu pendiam, tapi bukan pemalu. Ia hanya berbicara jika memang perlu, dan ketika ia berbicara, orang cenderung mendengarkan. Tubuhnya lebih pendek (atau mungkin Martin memang terlalu tinggi untuk kebanyakan orang), namun entah bagaimana kehadiran James kerap memberi kesan lebih besar dari ukuran fisiknya.

Rambutnya selalu dipotong cepak rapi. Kadang ia memakai kacamata, kadang tidak, seolah dunia bisa ia lihat dengan atau tanpa perantara. Dan ketika ia tersenyum (yang jarang sekali) rasanya seperti kelas tiba-tiba mendapat pencahayaan lebih baik.

Martin berjalan menuju bangku baru mereka dengan perasaan aneh, seperti langkahnya terlalu berat, terlalu sadar. James sudah duduk lebih dulu. Buku catatan terbuka dan pensil di tangan. Seragamnya rapi, lengan kemeja digulung satu kali, memperlihatkan pergelangan tangan dengan urat tipis dan sebuah gelang kepang sederhana di tangan kiri.

Dan di antara jari-jarinya, pensil itu berputar pelan sebelum ia menyerutnya lagi. Serutan kayu jatuh ke meja, tipis, seperti serpihan waktu. Beberapa detik pertama terasa canggung, James tidak menoleh.

Martin berdeham, mungkin sedikit terlalu keras. “Ehm… halo.”

James mengangkat wajah. Dan untuk alasan yang tak bisa ia jelaskan, Martin terpaku. Mereka sudah dua bulan berada di kelas yang sama, tapi baru kali itu ia benar-benar melihat James. Mata coklat gelap yang dalam, bukan coklat terang, tapi cokelat yang mengingatkannya pada kopi tanpa gula yang sering di seduh ayahnya. Gelap, tegas, dan hangat.

“Hai,” jawab James.

Martin otomatis memasang senyum percaya dirinya. “Anyway, kita jadi teman sebangku.”

James tidak langsung menjawab. Ia justru menunduk, menulis sesuatu di sudut bawah bukunya.

Rasa penasaran menggerakkan Martin tanpa izin. Ia sedikit mencondongkan badan. Di sana ada gambar kecil, dua figur sederhana duduk di satu meja. Yang satu rambutnya digambar sedikit berantakan, yang satu lagi punya bintang kecil di atas kepalanya.

Martin mengerjap. “Itu… gue?”

Sudut bibir James terangkat, hampir tersenyum. “Tergantung.”

“Tergantung apa?”

“Tergantung lo ngeselin apa enggak selama jam kelas.” James melirik papan tulis sebentar, lalu kembali menatap Martin, seolah menantangnya.

Ada sesuatu di dada Martin yang bergemuruh. Ia tertawa. Bukan tawa yang biasa ia pakai untuk menarik perhatian. Bukan tawa performatif yang ia lempar saat nongkrong bersama teman-temannya yang lain. Ini tawa yang keluar begitu saja, jujur dan apa adanya.

“Berarti gue harus behave, dong?”

James mengangkat bahu. “Lo yang bilang.”

Martin menyandarkan punggungnya ke kursi, tapi rasanya seperti duduk di tempat yang berbeda dari sebelumnya. Seolah bangku kayu itu tiba-tiba menjadi batas antara dunia yang sudah ia kenal dan sesuatu yang baru.

Guru mulai menjelaskan materi. Suara kapur di papan tulis menggores pelan. Kipas tetap berputar lambat. Sedang James kembali menyerut pensilnya, aroma kayu dan grafit itu kembali menyapa hidungnya.

Martin tidak tahu kenapa ia begitu sadar akan hal kecil itu, ia juga tidak tahu kenapa suara serutan yang jatuh ke meja terasa seperti penanda. Ia belum tahu bahwa hidupnya baru saja bergeser satu derajat dari sumbu yang biasa.

 


 

Awalnya mereka dekat tanpa sengaja, lalu karena terbiasa. Dan pada akhirnya, karena mereka memang memilih satu sama lain. Semuanya bermula dari bangku yang sama, dua kursi kayu tua yang disatukan oleh aturan wali kelas dan takdir yang saat itu terasa remeh. Setelah itu, segalanya mengalir seperti rangkaian domino yang jatuh satu per satu.

James meminjamkan penghapusnya ketika Martin kehilangan miliknya untuk ketiga kalinya dalam sebulan.

“Penghapus lo makan atau gimana sih?” gumam James tanpa menoleh, sudah menyodorkan penghapus putih kecil yang sudutnya yang masih rapi.

Martin mendengus. “Gue yakin ada yang nyolong.”

James akhirnya menatapnya, alis sedikit terangkat. “Iya. Kayaknya emang ada sindikat maling penghapus yang targetnya cuma lo.”

Martin terkekeh, lalu menerima penghapus itu. Jari mereka bersentuhan sepersekian detik.

Matematika selalu jadi musuh Martin. Angka-angka berderet seperti bahasa asing yang menolak dipahami. Ia biasa menyiasatinya dengan humor, dengan pura-pura santai, dengan berkata, “Ah, nanti juga gue remed.”

Tapi James tidak pernah menertawakan ketidaktahuannya. Ia hanya memutar pensilnya sekali, lalu mulai menjelaskan.

“Lo jangan lihat semuanya sekaligus,” katanya pelan. “Pecah aja. Satu langkah dulu.”

Nada suaranya datar, tenang. Tidak menggurui dan tidak merendahkan. Untuk pertama kalinya, Martin tidak merasa bodoh saat bertanya, “Ini kenapa bisa jadi negatif?”

James menulis ulang setiap langkah di buku Martin. Tulisannya rapi, garis-garisnya lurus tanpa penggaris. “Karena lo pindahin ruasnya. Lo kebiasaan lompat ke hasil akhir.”

Martin memiringkan kepala. “Kok bisa sih lo sabar banget James..”

James mengangkat bahu. “Gue cuma gak suka lihat lo gampang nyerah gitu aja.”

Kalimat itu membekas lebih lama dari yang seharusnya di kepala Martin. Sebaliknya, James pura-pura tidak peduli ketika Martin mulai menyisakan kursi untuknya. Di kantin, di lab, atau di aula saat ada event sekolah.

“Eh, ini kosong nggak?” tanya teman lain.

“Udah ada yang duduk,” jawab Martin cepat, seperti refleks.

James selalu datang beberapa menit kemudian, berjalan santai seperti tidak ada apa-apa. Duduk di kursi itu tanpa komentar, tanpa terima kasih, tanpa bertanya. Tapi ia selalu duduk di sana, tepat di sebelah Martin.

Kedekatan itu tumbuh perlahan, tidak ada deklarasi ataupun momen besar. Hanya kebiasaan yang menumpuk sampai menjadi sesuatu yang tak bisa diabaikan. Hingga teman-teman Martin mulai memperhatikannya

“Wah, lengket banget lo berdua kayak orang baru jadian,” celetuk salah satu dari mereka sambil menyikut rusuknya.

Martin memutar mata. “Ngaco.”

James, seperti biasa, tidak bereaksi. Ia duduk bersandar, satu kaki ditekuk ke kursi, jempolnya menggulir layar ponsel. Entah membaca komik digital, entah artikel random tentang fakta unik yang ia temukan di media sosial. Ia bertingkah seolah dunia tidak pernah benar-benar bisa mengusiknya.

Namun beberapa detik kemudian, ketika tawa teman-teman sudah mereda, ketika perhatian beralih ke topik lain, James mencondongkan tubuhnya mendekat. Cukup dekat untuk membuat bahu mereka hampir bersentuhan.

Ia menunduk, suaranya nyaris tak terdengar. “Jadian?” ulangnya pelan. “Emang lo demen sama gue?”

Martin hampir tersedak minumannya. “Apaan sih—”

James masih menatap layar ponselnya, tapi sudut bibirnya melengkung samar.

“Bercanda doang itu, elaah,” Martin menambahkan cepat, terlalu cepat.

“Hmm.” James mengangguk kecil. “Sayang banget cuma bercanda.”

Dunia seperti berhenti sepersekian detik. Martin menoleh, benar-benar menoleh kali ini, mencoba membaca wajah James. Tapi James sudah kembali fokus pada ponselnya, ekspresinya datar seperti biasa. Seolah ia tidak baru saja menjatuhkan sesuatu yang berat di tengah dada Martin.

Jantungnya berdetak tidak teratur. Martin pernah mencium perempuan sebelumnya. Pernah menggenggam tangan mereka di lorong yang sepi. Pernah mengantar pulang dan disambut ibu yang tersenyum ramah di pintu depan. Ia pernah merasa bangga memperkenalkan seseorang sebagai pacarnya. Pernah merasa suka, atau setidaknya ia pikir begitu.

Tapi Martin belum pernah merasakan hal ini. Perutnya seperti bergetar. Dadanya terasa penuh, bergemuruh, dan sensasi itu menjalar naik ke kerongkongan seperti sesuatu yang ingin keluar tapi tidak punya bentuk.

Ia selalu menganggap “kupu-kupu di perut” cuma metafora murahan. Kalimat klise dari puisi cinta yang terlalu dramatis. Ternyata itu nyata. Ternyata rasanya seperti berdiri di tepi sesuatu yang tinggi dan indah sekaligus menakutkan.

Dan James adalah orang pertama yang membuatnya merasakan hal itu. Bahkan tanpa menyentuhnya sedikit pun.

Martin menelan ludah, memaksakan tawa kecil untuk menutupi detak jantungnya yang terlalu keras.

“Lo aneh,” katanya akhirnya.

James akhirnya menoleh, menatap Martin main-main. “Lo lebih aneh lagi.”

 


 

Basket justru membuat semuanya jadi lebih buruk. Bukan karena James jago memainkannya (walaupun memang iya). James adalah tipe orang yang terlihat berbakat tanpa tampak berusaha keras. Gerakannya efisien dan bersih, seolah tubuhnya sudah tahu ke mana harus bergerak bahkan sebelum otaknya memberi perintah. Jenis pemain yang membuat orang lain berdecak antara kagum atau diam-diam merasa kesal.

Bukan, bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah basket membuat mereka terlalu sering berada dalam jarak yang berbahaya. Jarak yang cukup dekat sampai Martin mulai memperhatikan hal-hal kecil yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Ia mulai memperhatikan bagaimana James selalu mengikat tali sepatunya dua kali, bagaimana kerah kaos latihannya menggelap oleh keringat yang menempel di kulit lehernya, atau bagaimana ia selalu mengusap kedua telapak tangan ke sisi celana sebelum melakukan free throw, seperti ritual kecil yang tak pernah anak itu lewatkan.

Martin menyaksikan semuanya dari jarak beberapa langkah. Dari garis samping lapangan, dari bangku pemain cadangan, dari bawah ring saat mereka beradu bahu. 

Basket memberi Martin kursi paling depan untuk melihat tubuh James bergerak. Awalnya bukan dengan fantasi aneh-aneh, sungguh. Martin bahkan belum punya kosakata untuk menjelaskan apa yang terjadi dalam dirinya. Rasanya lebih seperti matanya lapar, tapi ia tidak tahu sedang lapar akan apa. Ia hanya tahu ia memperhatikan James terlalu banyak.

Setelah latihan, mereka biasanya duduk di bangku tribun, kaki diluruskan dengan napas yang terengah. Mereka berbagi sebotol air mineral yang sama, James  selalu minum dulu, lalu menyerahkannya ke Martin tanpa banyak bicara. Dan Martin akan selalu menerimanya tanpa ragu.

“Coach gila banget hari ini,” keluh Martin suatu sore, menyeka keringat dengan handuk. “Drill-nya gak ada ampun.”

James bersandar ke belakang, menatap langit-langit aula. “Lo yang telat, bego.”

“Lima menit doang!”

“Lima menit itu cukup buat sepuluh push-up tambahan.”

Martin mendengus. “PR juga numpuk. Fisika, kimia, matematika. Gak bisa apa, santai bentar? Baru juga kita kelas sebelas.”

James menoleh padanya dan mendengarkan. James selalu mendengarkan seolah semua yang Martin katakan penting. Seharusnya itu hal yang biasa. Teman juga bisa begitu. Tapi Martin menjadi sengaja banyak bicara, ia sengaja mengulur cerita, menambahkan detail tak perlu hanya untuk memastikan perhatian James tetap tertuju padanya.

Suatu sore, setelah keluhannya tentang panasnya ruang aula yang seperti  “sauna”, James bertanya pelan, “Lo main gitar, kan?”

Wajah Martin langsung berubah. Musik adalah wilayah yang ia kuasai, dunianya. “Iya. Sedikit.”

James melirik tas Martin yang tergeletak di lantai. “Besok lo bawa deh.”

Martin mengerjap. “Buat apaan?”

James mengangkat bahu. “Gue juga ada gitar. Mungkin kita bisa… ya, jamming bareng.”

Dada Martin terasa sesak tanpa alasan jelas. “Lo bisa main juga?”

“Sedikit.”

Dan begitulah semuanya tentang musik dimulai.

Kelas sudah hampir kosong saat mereka kembali ke bangku mereka setelah jam sekolah usai. Sebagian besar siswa sudah pulang. Sinar matahari sore masuk dari jendela, membuat papan tulis tampak keemasan dan bayangan bangku memanjang di lantai.

Martin membawa gitarnya, warnanya hitam, mengkilap, masih relatif baru. James membawa gitar yang lebih tua, sedikit tergores di bagian pinggir, dengan stiker Pokémon di bagian depan yang sudah mulai terkelupas.

Mereka duduk di bangku yang sama dengan lutut hampir bersentuhan. Mereka menyetem gitar dengan wajah serius seperti bak dokter bedah sebelum melakukan operasi.

Martin memainkan rangkaian nada yang sedang ia latih. Tidak terlalu rumit, tapi cukup untuk terdengar keren.  James mendengarkan, lalu menirukan. Jemarinya bergerak pelan dan pasti.

“Lo jago juga,” kata Martin, sedikit kaget.

James mengangkat bahu. “Bokap gue yang ngajarin.”

Nada suaranya berubah sedikit, terdengar lemah dan parau, tapi itu cukup untuk membuat Martin menangkap ada hal yang salah.

Martin ragu sejenak. “Bokap lo, kan…?”

James menunduk, menatap senarnya. “Cerai. Udah nggak di rumah.”

Martin tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak tahu kalimat apa yang pantas untuk diucapkan di situasi seperti ini. Jadi ia memilih diam. Sebagai gantinya, ia memainkan nada itu lagi. Lebih pelan kali ini dan lebih hati-hati.

Dan James mengikuti. Suara dua gitar mereka memenuhi ruangan dengan nada yang masih asing, seperti dua orang yang sedang belajar berbicara menggunakan bahasa yang berbeda satu sama lain.

Di satu titik, Martin bahkan tak ingat kapan James mulai bersenandung pelan.Ia mendongak. Mata James terpejam dan bibirnya sedikit terbuka. Suaranya tidak keras, tidak ada teknik di alunan nadanya, tapi terdengar tulus dan jujur. Nada itu bergetar pelan dari dadanya, menyatu dengan petikan gitar yang mereka mainkan.

Napas Martin berhenti sesaat. Ia bahkan sampai lupa nada yang sedang ia mainkan sendiri. Suara gitarnya berhenti canggung di tengah progresi.

James membuka mata. “Kenapa?”

Martin menelan ludah. Tenggorokannya tiba-tiba kering. “Gapapa, sorry. Cuma… lo bisa nyanyi juga? Gue sempet kaget.”

James menatapnya beberapa detik. “Suka, gak?” tanyanya pelan.

Pertanyaannya sederhana. Tapi berhasil membuat tenggorokan Martin terasa sempit. Ia bisa saja bercanda. Bisa saja menjawab setengah hati seperti biasa. Tapi kali itu tidak.

“Iya,” jawabnya, suaranya lebih pelan dari biasanya. “Gue suka.”

James menahan tatapannya seolah mencari sesuatu di balik mata Martin.

Kupu-kupu di perut Martin seperti menabrak tulang rusuknya sendiri. Sedang James menjadi yang pertama mengalihkan pandangan. Ia mulai memainkan lagu lain dan Martin mengikuti, seolah itu satu-satunya hal yang bisa membuat kedua kakinya tetap menapak di atas tanah.

 


 

Di awal kelas dua belas Martin mencoba berpacaran lagi dengan seorang perempuan, dan rasanya begitu.. konyol?

Perempuan itu bernama Ian. Cantik, cerewet, dan baik dengan cara yang mengingatkan Martin pada sinar matahari. Ian tertawa setiap kali Martin melontarkan lelucon. Ia memanggilnya “bodoh” dengan nada sayang yang membuat teman-teman mereka bersorak kecil seperti penonton sitkom murahan. Hubungan itu terlihat wajar di mata semua orang, normal, dan masuk akal.

Martin menggandeng tangannya di lorong sekolah dan Ian menyelipkan jemarinya ke sela-sela jari Martin dengan mudah. Mereka duduk berdampingan di kantin. Teman-teman Martin menepuk punggungnya dengan tatapan bangga yang nyaris menyebalkan.

“Udah balik ke setelan awal?” canda salah satu dari mereka.

Martin tertawa. Ia tahu bagaimana memainkan peran ini dengan baik. Ia pernah melakukannya sebelumnya, beberapa kali malah. Ia tahu kapan harus membalas chat dengan emoji hati, tahu kapan harus mengantar pulang atau sekedar memberi hadiah kecil seperti coklat atau minuman manis kesukaan Ian. Ia tahu kapan harus mencium pipi anak perempuan itu di depan gerbang sekolah seperti drama percintaan remaja yang dikeluhkan banyak orang. Semuanya terasa seperti skrip lama yang ia hafal di luar kepala.

Namun tetap saja, semua itu hanya bertahan dua bulan. Hubungan itu berakhir karena Martin menyadari dirinya memikirkan James saat Ian mendekat untuk menciumnya di sudut perpustakaan.

Martin spontan menarik diri. Ian mengernyit. “Kenapa?”

Martin menatap lantai keramik, seolah-olah di sana ada jawaban yang ia cari. Ia tidak ingin menyakiti Ian, ia juga tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa dirinya sedang berdiri di tepi jurang yang besar dan menakutkan. Bahwa di dalam dirinya ada pintu yang selama ini terkunci rapat dan sekarang seseorang sudah memasukkan kunci tanpa meminta izinnya.

“Gue… gue nggak bisa,” katanya pelan, suaranya gemetar.

Wajah Ian berubah. “Ada orang lain yang lo suka, ya?”

Martin hampir menjawab tidak. Lalu ia teringat wajah James, suara anak itu saat bersenandung pelan, bentuk tubuhnya, lengannya, bagaimana kakinya melompat saat melempar bola ke ring basket. Terutama cara James memandangnya seolah Martin pantas untuk digambar di sudut buku catatan miliknya.

Martin tidak mengatakan yang sebenarnya. Tentu tidak. Ia hanya berkata, “Maaf.”

Ian menatapnya lama, mencoba mencari penjelasan yang tidak pernah Martin berikan. Lalu ia mengangguk kecil.

“Okay,” katanya singkat. Ia pergi dengan dagu terangkat, menolak terlihat patah hati di depan siapa pun.

Martin memperhatikannya punggung ramping itu menghilang di balik pintu dan merasa kosong. Lalu tanpa sadar, ia menoleh ke sisi lain perpustakaan. Ada James di sana, duduk di meja panjang dekat rak fiksi. Buku terbuka di depannya, kepala tertunduk, kacamata bertengger apik di hidungnya yang runcing.

Perut Martin terasa diaduk-aduk, seolah tubuhnya tahu sesuatu yang otaknya masih terlalu takut untuk akui. Kemudian James mengangkat wajahnya dan tatapan mereka bertemu. Seketika ruang kosong di dada Martin tidak lagi terasa hampa, melainkan penuh oleh sesuatu yang sulit ia jelaskan.

James tidak tersenyum, anak itu hanya memandanginya dengan sorot mata tajam seperti biasa, yang anehnya selalu berhasil membuat Martin pusing bukan main.

Sore itu Martin keluar dari perpustakaan tanpa meminjam buku satu pun.

 


 

Martin ingat kali pertama James dengan sengaja menyentuhnya. Hal yang begitu sepele, konyol bahkan. Hampir tidak berarti apa-apa jika kita melihatnya sekilas.

Hari itu hari Jumat, hari yang seharusnya biasa saja. Pelajaran terakhir membosankan, udara panas, dan semua orang sudah setengah melayang menuju akhir pekan. Mereka baru saja melangkah keluar gerbang sekolah ketika langit berubah pikiran.

Hujan turun mendadak, deras dan dramatis. Jenis hujan yang membuat orang basah kuyup dalam hitungan detik. Dan begitu saja, aspal berubah gelap, udara berbau tanah basah, dan seragam coklat mereka berubah hampir transparan.

“Anjir!” Martin berseru, refleks mengangkat tas ke atas kepala. “Seriusan??”

Beberapa siswa berlari ke halte, sebagian lain menjerit setengah tertawa. Martin hendak ikut berlari ketika sebuah tangan meraih pergelangannya. Itu James.

“Sini,” katanya singkat.

James meraih pergelangan tangannya untuk berteduh di bawah atap bangunan terdekat. Ruang yang sempit membuat tubuh mereka berdempetan. Jika itu temannya yang lain, mungkin Martin bisa bersikap biasa saja. Tapi kali ini ia justru merasa sekujur tubuhnya meremang. Mungkin karena udara dingin, atau karena kini ia hanya berjarak beberapa inci dari James?

Martin tertawa terengah, lebih untuk mengalihkan dirinya sendiri. Air menetes dari rambutnya pelan, jatuh ke pelipis kemudian merambat ke leher. 

James menatapnya dengan tangan yang masih menggenggam pergelangan Martin. Ada sesuatu yang berubah di wajah James, seolah ia berhenti berpura-pura bahwa ini bukan apa-apa.

Tawa Martin perlahan mereda tapi jantungnya berdetak tak karuan. Dunia terasa menyempit hanya pada jarak di antara mereka, hangat jari-jari James di kulitnya, kain seragam yang lembab, suara hujan yang cukup keras untuk menyembunyikan apa pun yang mungkin tak sengaja terucap.

Ibu jari James bergerak, mengusap pelan bagian dalam pergelangan tangan Martin. Napas Martin tercekat, dan James menelan ludah.

Lalu dengan suara sangat pelan, hampir seperti bisikan, ia berkata, “Lo pernah gak…”

James berhenti. Suara hujan mengisi ruang kosong di antara mereka. Tubuh Martin menegang seperti menunggu keputusan besar yang keluar dari mulut teman sebangkunya.

“Pernah apa?” tanya Martin tidak sabar, suaranya sedikit pecah.

James menatap tangan mereka yang masih saling menggenggam, seolah itu sesuatu yang bisa memakannya hidup-hidup.

“Lo pernah gak ngerasa,” ucapnya pelan, “kalau lo… nggak normal? Like you’re… not the way you’re supposed to be?”

Dunia Martin terasa miring. Ia bisa saja berbohong, bisa saja tertawa dan berkata, apaan sih lo. Ia bisa saja menarik tangannya dan mengalihkan pembicaraan ke PR, ke basket, ke hal lain apapun.

Tapi Martin tidak melakukannya. Ia justru berbisik, “Setiap hari, James. Setiap hari.”

James mengangkat pandangannya dan menatap Martin. Sekilas ada ketakutan di sana, sama seperti miliknya. Takut tentang apa arti kalimat itu dan semua konsekuensi yang akan mereka hadapi. Tapi justru, James merasa lega.

Kini, kupu-kupu di perut Martin berubah menjadi badai. James melepaskan pergelangan tangannya perlahan, seolah sentuhan itu baru saja membakar habis sekujur tubuhnya. Namun anak itu tidak menjauh, ia tetap berdiri di sana dan berbagi detak jantung yang seirama dengan Martin.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Tatapan-tatapan yang mereka bagi di dalam kelas, bahu dan lutut yang bersentuhan dengan sengaja, serta pesan larut malam tentang lirik lagu dan meme bodoh yang terasa seperti pengakuan terselubung.

Lalu, malam pensi sekolah datang.

Lampu panggung berpendar terlalu terang dan musik yang terlalu keras. Jantung Martin berdegup lebih cepat dari biasanya, tapi ini bukan karena ia dan bandnya baru saja tampil di depan ratusan orang. Itu karena James menonton dari barisan depan dengan tatapan yang begitu intens sampai Martin salah memainkan satu nada hanya karena merasa salah tingkah.

Setelah semuanya selesai, dan setelah tepuk tangan mereda, mereka berakhir di ruang kelas kosong. Suara keramaian terdengar jauh dan lampu-lampu terasa redup.

“Bagus main lo tadi,” kata James. Suaranya hangat, lebih lembut dari biasanya.

Martin menghembuskan napas. “Lo tau? Gue hampir mati tadi di sana karena miss pas bagian reff.”

Sudut bibir James terangkat. Ia tertawa pelan. “Tetep keren kok.”

Martin menatapnya, “I messed up because you were staring.”

James berkedip. “I was watching.”

“Sama aja lah.”

Tatapan James menggelap, “beda dong.”

Tenggorokan Martin kering, ia balik bertanya, “apa bedanya?”

James melangkah mendekat hingga Martin bisa mencium aroma sabun, parfum murah dari minimarket, dan sesuatu yang khas yang hanya dimiliki James.

“Watching is… noticing.”

Jantung Martin menghantam tulang rusuknya sendiri. “And staring?” Tanyanya pelan.

Tatapan James turun ke bibir Martin. “Staring…” bisiknya, “staring is wanting.”

Martin seharusnya mundur, ia tahu itu lebih dari apapun. Ia tahu garis yang sedang ia lewati. Tapi, ia tidak bergerak. Sedang tangan James mulai terangkat, sempat berhenti beberapa detik karena anak itu ragu. Lalu jemarinya mulai menyentuh pipi Martin, pelan dan hati-hati.

Seluruh tubuh Martin menegang.

James menelan ludah. “Boleh?”

Cara James bertanya membuat mata Martin terasa panas. Ia tiba-tiba menjadi bodoh, otaknya kehilangan cara untuk berpikir, dan tak ada satupun kata yang keluar dari mulut. Martin hanya bisa mengangguk.

Dan ciuman itu terjadi, seperti rahasia yang akhirnya dibagi. 

Ini jelas bukan ciuman pertama bagi Martin. Ia pernah melakukannya sebelumnya, berulang kali. Ia tahu bagaimana rasanya, tahu bagaimana gerakan yang “benar.” Ia tahu caranya.

Tapi jelas ini berbeda dari yang lain. Ini kali pertama ia mencium seorang laki-laki. Sekujur tubuhnya kaku, ia diam, tak bergerak, bibirnya bahkan bergetar. Ia masih ingat dengan jelas ciuman pertamanya tak sekaku ini. Martin mencoba mengingat adegan film yang pernah ia tonton, tapi mustahil. Otaknya tiba-tiba kosong. 

Ciuman itu terlepas, James menjadi orang pertama yang menjauh. Ia menyandarkan dahinya pada dahi Martin dengan napas yang masih naik turun. Dan Martin merasa seperti baru saja di ajak terjun bebas.

“Gila…” bisik Martin, suaranya gemetar tak percaya.

James tertawa kecil, juga gemetar. “Ya, kayaknya gue emang udah gila.”

Tangan Martin akhirnya menemukan pinggang James, jemarinya menggenggam kain kaos yang sedikit lembab oleh keringat. Ia lalu menarik tubuh temannya mendekat. Kali ini, Martin membiarkan insting menuntunnya. James tidak menolak.

Martin menunduk sedikit, ia menarik napas sebelum kembali mempertemukan bibir mereka. Ciuman kedua itu terasa lebih pelan, lebih dalam. Dan kali ini Martin balas menciumnya seperti seseorang yang kelaparan.

 


 

Tak ada label untuk hubungan mereka. Mereka tak serta merta menyebutnya cinta, mereka menyebutnya kita.

James dan Martin tetap duduk di bangku yang sama dan saling mengoper catatan seperti hari-hari sebelumnya. Mereka masih bermain basket bersama, masih bermain gitar bersama di ruang kelas yang kosong.

Martin dan James belajar bagaimana caranya berhati-hati. Mereka belajar bahwa selalu ada harga yang harus dibayar karena mereka berbeda. Bahwa tatapan bisa berubah menjadi bisik-bisik, bahwa dunia tidak selalu ramah pada hal-hal tabu seperti mereka. Tapi saat hanya berdua, di balik pintu yang terkunci, di bawah selimut, di kamar James saat ibunya bekerja terlalu larut, mereka berani menjadi diri sendiri sepenuhnya.

Mereka mulai mengenal satu sama lain lebih dalam. Martin belajar bahwa James sebenarnya suka dipeluk, anak itu suka ujung kepalanya diusap saat sedang merajuk. James pun begitu, ia belajar bahwa Martin akan bicara lebih banyak saat sedang gugup. 

Mereka mengenal bekas luka satu sama lain seperti menghafal kamus. Dan Martin, anak itu jatuh cinta begitu dalam sampai rasanya seperti semesta memang sengaja memilihnya.

Semua tentang James menjadi favoritnya. Wajah, tubuh, aroma, terutama suaranya. Tawa James selalu bisa membuat hari Martin jadi lebih baik. Jari-jari James di atas senar gitar bisa membuat darah Martin terasa seperti musik. James membuat Martin mengerti mengapa orang-orang bisa berkorban sedemikian rupa demi cinta. Martin understand why poets ruined themselves for love.

Jika ada versi “selamanya” yang bisa dimiliki remaja, Martin percaya James adalah salah satu bentuknya. Karena James memandangnya seolah ia bukan sebuah kesalahan. Karena James menciumnya seolah Martin adalah rumah.

Dan ketika Martin berbisik dengan gemetar, “Kita salah gak sih, James? What if we can’t, what if this ends?”

James menempelkan dahinya ke dahi Martin dan berkata, “Then we make our own ending.”

Martin mempercayainya, selalu.

Hingga akhirnya mereka melewati masa SMA. Mereka lulus dengan telapak tangan berkeringat dan senyum kaku untuk foto buku tahunan, menyembunyikan jemari yang saling bertaut di belakang punggung.

Martin dan James sengaja memilih universitas di kota yang sama dan menyebutnya “kebetulan” atau “praktis” pada siapa pun yang bertanya. Setelah tahun pertama, mereka menyewa apartemen kecil dan berkata pada orang tua bahwa itu lebih murah dan lebih mudah.

Padahal jelas bukan itu alasannya. Itu karena cinta. Cinta yang membeli furniture murah, berdebat soal siapa yang harus mencuci piring, dan tertidur di sofa. Cinta yang membuat mereka menulis keinginan dan cita-cita bersama di secarik kertas lalu menempelkannya di pintu kulkas. Cinta yang membuat mereka meraih banyak hal di kehidupan.

Saat usia dua puluh satu, suatu pagi Martin bangun dan sadar bahwa ia sudah tidak lagi merasa malu seperti dulu. Meski tidak sepenuhnya bebas dan hal itu tak datang tiba-tiba, dunia jelas tak pernah membiarkanmu benar-benar lepas dari norma. Yang jelas, kini rasa takut itu tidak lagi menguasainya.

Ketika ia melihat James tidur di sampinganya, Martin berkata dalam hati. Ini hidupku, ini pilihanku, ini milikku.

“You’re staring,” gumam James tanpa membuka mata.

Martin tersenyum ke arah bantal. “I was watching.”

Mata James terbuka perlahan. “Noticing?”

Martin mencium keningnya. “Wanting.”

James mendengus pelan. “Gombal.”

Martin menyeringai. “Kesukaan lo, kan?”

Sudut bibir James terangkat, pasrah. “Iya sih.”

Mereka bahagia dengan cara yang hampir terasa tidak masuk akal. Mereka masih cukup muda untuk percaya bahwa kebahagiaan bisa dijaga apabila digenggam erat-erat. Naif.

Dan badai itu datang dalam bentuk kelelahan. Bukan metafora, ini lelah secara harfiah, lelah yang nyata.

James mulai pulang lebih larut dan terlihat sangat lelah. Tawanya semakin jarang. Ia sering mengeluh sakit kepala dan menyipitkan mata saat terkena cahaya terang. Ia menyalahkan tugas kuliah. Menyalahkan stres. Apa saja, kecuali rasa takut yang mulai tumbuh di dada Martin.

Martin mulai melihat memar yang tidak biasa di tubuh James.

James mengangkat bahu, menganggapnya remeh. “Ini gara-gara basket.”

“Tapi lo kan udah gak main basket berminggu-minggu,” kata Martin, mengernyit.

James menghindari tatapannya. “Gue nabrak sesuatu.”

“Sesering itu lo nabrak sesuatu?”

James mencium pipinya cepat. “Stop worrying.”

Martin mencoba. Demi Tuhan, dia benar-benar mencoba untuk berhenti khawatir. Tapi mustahil.

Dua tahun setelah lulus kuliah, James berusia dua puluh empat. Mereka merayakan ulang tahun anak itu dengan mi instan yang ditambah telur dan daun bawang, karena James bilang ia tidak ingin hal-hal yang mewah. Martin tetap membelikannya strap gitar baru, terbuat dari kulit dan berwarna hitam, lengkap dengan gambar pokemon kecil di ujungnya agar cocok dengan stiker di gitar lama James.

James menatapnya lama, matanya berkilat. “Kenapa sih selalu ngerepotin diri sendiri,” katanya pelan.

Martin mengangkat bahu, berusaha terdengar santai. “Gak ada yang namanya repot kalau tentang lo, James.”

James menyentuh jemari Martin. “You always say that..”

Martin tersenyum. “Ya. Always.”

James mendekat dan menciumnya. Pelan dan hangat. Dan untuk sesaat yang singkat dan bodoh, Martin merasa yakin bahwa ini akan berakhir lama. Selamanya. 

Selamanya.

Selamanya.

Selamanya.

Selamanya.

Kata itu terus menggema di kepalanya, setiap hari, setiap detik, selama bertahun-tahun.

Dan James meninggal saat usianya dua puluh empat tahun.

Martin mengingat detailnya seperti hal itu terukir di tubuhnya sendiri. Langit biru, matahari terik, udara berbau tempe goreng dari warung di bawah apartemen mereka. Ia sempat mengirim pesan kepada James soal makan malam.

James tidak membalas. Awalnya Martin kesal. Lalu gelisah. Lalu takut. Dan ketika membuka pintu apartemen, Martin menemukannya terbaring di lantai ruang tengah.

Lampu rumah sakit begitu berpendar terlalu terang sampai ia merasa dunia tak nyata. Yang ia tahu, saat ini seorang dokter berbicara dengan suara hati-hati, suara yang dipakai orang saat mereka tahu akan membuat hidup seseorang terbelah dua.

“Ada komplikasi,” kata dokter itu.

Martin mendengar potongan kalimat “pendarahan dalam,” “terlambat terdeteksi,” “kami sudah berusaha.”

Ia mengangguk seperti murid yang patuh. Terus mengangguk sampai lehernya terasa sakit. Saat akhirnya ia diizinkan masuk, James terlihat… lebih kecil.

Bukan karena tubuhnya berubah, tapi karena kehadirannya tidak lagi memenuhi ruangan. Ruangan itu terasa aneh tanpa dirinya. Martin berjalan mendekat, tangannya gemetar, lalu ia menyentuh jemari James.

Dingin.

“No,” bisiknya. Suaranya lebih mirip suara hewan terluka daripada manusia. “No, no, no….”

Ia menunggu James menggenggam balik tangannya, menunggu James memutar mata dan menyebutnya lebay, gombal dan hal-hal aneh lainnya.

Menunggu semesta mengakui dan berkata bahwa ini adalah kesalahan.

Tapi tidak.

Tangis Martin datang terlambat, seolah tubuhnya sendiri tidak percaya bahwa detik itu dunianya hancur. Ia menempelkan dahinya ke tangan James.

“James,” bisiknya. “Ngomong dong. Please.”

Hening.

Dan dalam keheningan itu, Martin mengerti satu hal bahwa cinta bukanlah kontrak mati, dan “selamanya” tidak pernah menjadi jaminan. 

Ia teringat lagu-lagu yang dulu mereka mainkan di apartemen. Lagu-lagu yang terasa seperti janji tersembunyi dalam melodi. Ia teringat lagu pop yang pernah dimainkan James sambil tertawa sambil berkata, “Ini dramatis banget, tapi bagus.”

Lagu tentang cinta yang gagal bertahan.

Dulu,Martin menertawakannya. Sekarang rasa perih dari lirik lagu itu melilit tulang rusuknya seperti kawat berduri.

The one that got away.

Ia menatap wajah James dan berbisik, you weren’t supposed to get away, not like this.

Not you, not us.

 


 

Duka tidak datang sekaligus, ia datang dalam jeda. Bergantian. Ia datang saat Martin tanpa sadar meraih ponselnya untuk mengirim pesan kepada James, lalu ingat bahwa tidak ada lagi orang yang akan membalasnya.

Duka datang saat Martin pulang ke apartemen dan hanya mendengar gema langkahnya sendiri, terlalu keras karena tidak ada James yang mengisi ruang itu. Duka datang saat ia melihat strap gitar hitam milik James masih tergeletak di meja ruang tengah, dan otaknya yang bodoh selalu  saja berpikir bahwa James akan pulang dan mengeluh karena Martin selalu menaruh barang tidak pada tempatnya.

“Aku turut berduka.”
“Sekaran James sudah ada di tempat yang lebih baik.”
“You’re still you, nanti juga bakal move on kok.”

Kalimat-kalimat itu datang dari orang-orang di sekitarnya. Dari keluarga, teman, dari orang yang tidak tahu bagaimana rasanya bangun setiap pagi dan lupa selama tiga detik bahwa orang yang kau cintai sudah tiada. Meski Martin tahu mereka berniat baik, tapi tetap saja move on terasa seperti pengkhianatan. Seolah cinta bisa dimasukkan ke dalam kotak dan dibuang di pinggir jalan. Seolah ruang dan kenangan yang James tinggalkan bisa diganti begitu saja.

Martin berhenti keluar rumah. Berhenti main basket. Berhenti menjawab telepon. Malam hari, saat apartemen terlalu sunyi, ia memainkan gitar sampai jarinya sakit. Ia memainkan lagu-lagu yang dulu sering mereka mainkan bersama. Ia memainkannya sampai senarnya berdengung dan nadanya berantakan. Kadang ia menangis, kadang juga tidak. Kadang Martin hanya akan duduk diam, gitar di pangkuan, menatap dinding seperti berharap dinding itu bisa mengembalikan apa yang dunia renggut dari dirinya.

Martin kembali mulai berdoa. Bukan karena yakin Tuhan akan memperbaiki semuanya. Tapi karena doa adalah satu-satunya bahasa yang ia tahu bisa menyampaikan rindunya ke atas, ke sesuatu yang ada di luar jangkauan tangannya. Ia menyebut nama James dalam gelap dan ibadahnya.  Ia menyebut nama James seperti sesuatu yang suci. Dan di akhir setiap doa, selalu ada kalimat yang tak pernah selesai ia ucapkan, sesuatu yang tak sanggup ia utarakan karena mengucapkannya akan membuat rasa kehilangannya semakin nyata.

Karena kalimat terakhir yang ingin ia ucapkan, adalah membawa James kembali ke sisinya. Mustahil, Martin tahu itu dengan jelas. Jadi ia membiarkannya menggantung, kosong. Martin membiarkan semesta melihat jeda itu dan mengisinya dengan belas kasihan.

Jika Tuhan memang benar ada, dan memang Ia maha mengasihi segalanya. Martin tak akan meminta pengampunan atas dosanya di dunia, ia hanya meminta James benar-benar menemukan tempat yang lebih baik di sisiNya.

 

 

Notes:

I wrote this because someone messaged me and asked for a MarJames fic inspired by the song “The One That Got Away” hehehehehe..