Actions

Work Header

lembayung senja

Summary:

Beberapa kedekatan tak pernah benar-benar diberi definisi, namun tetap tinggal seperti cahaya senja yang meluruh pelan. Sebuah cerita tentang masa yang ingin dipertahankan, meski dunia terus mendesak untuk berubah.

Notes:

gunwook as apta
gyuvin as samudera

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Jam itu selalu berputar ke kanan, berdetak perlahan namun pasti, tak ada kata kembali. Aku penasaran mengapa tidak berputar ke kiri seperti saat aku menggerus obat dengan stamper dan mortir? Bukan kah rasanya lebih nyaman dibanding memaksakan untuk menggerus ke kanan dan juga lebih efisien ya saat melakukan penghancuran maupun pencampuran?

Tapi mungkin waktu memang tidak diciptakan untuk mempermudah manusia. Sebab terkadang kita perlu merasa tidak nyaman untuk sadar dengan beberapa hal.

Tak pernah terlintas di benakku benang takdir dapat terberai sebegitu mudah oleh karat bernama waktu. Jika Tuhan mengizinkan jam berputar ke kiri sekali saja, akan kugunakan itu tuk kembali ke sana.

Ke suatu sore di kelas dua SMP, kala kepalanya yang rebah di lenganku tak lebih berat dibanding kontemplasi atas hidup yang tak mengenal basa basi. Lalu aku yang tidak berani bergerak terlalu banyak, sebab takut ia terbangun dari posisi nyamannya yang sampai kepadaku.

“Ta, kamu nyaman nggak?” tanyanya setengah menggumam, mata masih terpejam.
Aku hanya mengangguk—atau mungkin bukan anggukan, lebih seperti gerakan kecil yang bahkan tak bisa didefinisikan. Yang jelas, aku nyaman. Terlalu nyaman.

Kami saling melempar lelucon yang tak lucu namun menghasilkan tawa yang menggema. Suara kipas angin pun turut menjadi pengisi latar belakang di sela-sela tawa yang kami buat.   

Buku paket matematika tergeletak mengenaskan di ujung meja. Dua buku tulis yang terbuka berikut pulpen sudah entah berada di mana. Cahaya mentari sore begitu indah kala dia menyelinap dari tirai jendela yang tak sepenuhnya terbuka dan begitu lembut kala hangatnya menyapa kulit kami.

Seharusnya kami tengah belajar untuk ulangan esok hari, namun rumus-rumus di buku paket tak semenarik topik obrolan kami. Pada akhirnya daripada mengerjakan deretan angka kami lebih memilih rebah dan bercerita tentang satu dua pengandaian.

Dan pengandaian itu aku ulang sekarang, andai aku tahu kala itu merupakan satu dari sedikitnya kesempatan yang tersisa, mungkin aku akan menghafal lebih banyak hal; tawanya, senyumnya, aroma tubuhnya, bahkan cara dia menyebut namaku.

Apta. Suara yang masih begitu lekat dalam kepala, meski sudah sapta warsa tak bersua.

Menghafal lebih banyak dari yang aku pelajari tentang matematika.

Sore itu, tentu saja, aku tak tahu apa-apa. Kami hanya dua remaja naif yang percaya hari esok akan tetap sama. Bahwa tawa selalu punya tempat untuk pulang. Bahwa kebiasaan-kebiasaan kecil kami tak akan pernah kehilangan esensinya.

Kami masih terlalu polos dan sederhana. Tidak mengerti apa pun tentang jarak atau kehilangan yang menunggu bertahun-tahun kemudian. Andai saja waktu berhenti di sana, mungkin semuanya akan lebih mudah. Tak perlu dibayangi ketakutan akan perpisahan yang sudah pasti terjadi.

Sore yang begitu damai, aku harap aku dapat selalu merasakannya.

Namun dunia tak pernah sebaik itu pada penghuninya. Karena perlahan jingganya senja berubah menjadi merah hampir sewarna darah. Begitu juga kisah kami.

Kisah kami berjalan seperti biasa, seperti selayaknya remaja seusia kami kala itu. Bermain, belajar, menertawakan hal-hal yang tak penting bersama-sama, semuanya tetap sama. Atau sekiranya itu yang terlintas di kepalaku hingga kelulusan tiba.

Karena perlahan semua yang tadinya wajar mulai terasa janggal. Semua yang awalnya ringan menjadi beban. Sesuatu yang awalnya menggembirakan ternyata berbalik menjadi sesuatu yang membuat malam-malam tak tenang.

Ada perasaan aneh kala aku melihat binar di matanya saat menceritakan orang yang tak aku kenal atau ketika dia tertawa bukan lagi karena leluconku. Perasaan yang menusuk namun begitu tipis, rasa tak nyaman yang begitu menguar seperti pengar setelah mabuk.

“Apta, Apta, perasaanku pada kakak kelas itu ternyata terbalas!”

“Aptaaa, kamu ingat Oliv teman sekelas kita? Dia tampak begitu indah malam tadi.”

Dan lain lainnya

Sejujurnya aku tak butuh informasi itu bahkan tidak peduli. Tapi karena dia aku dengarkan sampai habis, berharap dia juga akan melakukan yang serupa. Atau mungkin mengganti obrolan itu menjadi kami, bukan orang lain.

Sempat aku bertanya lirih, nyaris tak terdengar.

“Kenapa harus cerita itu ke aku?”

Dia tak mendengarnya. Atau pura-pura tidak.

Lalu janji-janji yang hanya berakhir menjadi janji. Harap yang perlahan menguap namun disiram lagi tapi kembali ditinggal hingga tersisa uap. Selalu begitu.

 Kupikir rasa tak nyaman aku rasakan ini hanya setitik rasa rindu yang tak berbalas dan meradang hingga aku menjadi begitu sensitif atas hal-hal yang berkaitan dengannya. Namun semakin hari, aku menyadarinya, rasa tak bernama itu yang membuatku rela mengabaikan pekerjaan rumah kala ponselku berdering dan namanya terpampang di sana, mendengarkannya dengan lebih seksama, memperhatikan detail kecil tentang dan juga marah pada hal-hal kecil yang bahkan tidak masuk akal—seharusnya.

Aku tertawa kecil. Konyol rasanya, bagaimana ingatan-ingatan lama itu masih melekat begitu erat—masih terasa dekat. Kenangan itu seharusnya sudah memudar, namun ia menetap seperti noda yang tak mau hilang—menyelinap seperti mentari sore yang sementara namun hangatnya menetap selamanya.

Cahaya mentari sore di kamar ini persis seperti sore-sore kala dunia masih belum memberi tenggat pada kami, hangat dan indah. Rasanya aku melihat fatamorgana, aku seperti melihat dia tengah duduk di ujung ranjang tepat di tempat jatuhnya cahaya.

Aku menggelengkan kepalaku cepat. Sadarlah.

Sudah saatnya aku kembali ke permukaan, bukan terus menerus tenggelam dalam sosok yang sedalam namanya sendiri—Samudera.

Meski terdengar konyol, aku masih mengingat detail perasaan dan kenangan pada masa itu. Namun seiring berjalannya waktu, aku belajar bahwa kehidupan itu seperti senja, indah hangat namun perlahan memudar tanpa kita sadari. Sebagian senja menjelma menjadi kenangan indah, sebagian lainnya diam-diam menjadi sesuatu yang lebih pekat dari secangkir kopi.

Mungkin semesta sudah memberi pertanda, isyarat-isyarat kecil yang tak dapat dipahami seketika. Kalau saja aku lebih jeli, mungkin aku bisa menyiapkan hati lebih awal. Karena sama seperti senja, perlahan kisah kami berubah menjadi sesuatu yang tak bernama, mungkin dia ada namun aku terus menyangkalnya.

Terkadang aku bertanya, apakah rindu yang tak pernah diberi nama ini pantas dirasakan? Atau sudah seharusnya dia kubuang jauh-jauh.

Sudahlah Apta, tak ada gunanya meratap. Jarum jam selalu bergerak ke kanan, dan hidup akan terus memaksa yang bernyawa untuk tetap karsa dan berdaya, menebus nyawa mereka dengan sesuatu yang lebih bermakna.

Namun hidup selalu punya cara mengulang hal-hal yang kita ingin lupakan. Malam itu, di bawah langit yang sama, kami kembali berbicara.

“Aku tahu, relasi manusia gak ada yang selamanya dan aku gak minta itu,” ujarku sembari menatap lurus ke bintang yang berhamburan di cakrawala yang seperti mengejekku. “Tapi bisa gak ya masa kita... sedikit lebih lama?”

“Hmm, mungkin bisa?” balasnya mengantung penuh dengan sarat ragu. Aku tahu dia tengah menatapku dengan pandangan aneh yang tak biasa.

“Bisa ya? Tapi realita kita gak tahu bagaimana dan kalau saat kita sudah habis nanti, aku harap kita mengakhirinya dengan cara yang layak.”

Dia menatapku lama, lebih lama dari yang pantas.
“Ta,” katanya pelan, “kalau aku… bertahan terlalu lama di kamu, kamu keberatan?”
Aku tertawa kecil untuk menutupi degup yang kelewat jujur. “Aku cuma keberatan kalau kamu berhenti.”

“Tapi, Ta. Aku yakin kok, masa kita masih lama. Tuhan gak mungkin setega itu dengan hambanya.”

“Tuhan ya...”

Memangnya Tuhan mengizinkan hal-hal seperti ini? Aku tak tahu, aku hanya tahu aku ingin masa itu—masa kami—tidak cepat berlalu. Meski dosa, kata mereka.

Notes:

find me in x @seraphmooniight