Work Text:
Wajah yang terlampau familiar, desah napas yang terlampau akrab dengan telinga, begitu dengan hangatnya yang seperti sudah menyatu membaur dengan atmosfer kamar ini. Rasanya seperti membuka arsip perpustakaan yang lama tak dijamah, berdebu dan kala dibuka, kenangannya berhamburan mengusik respirasi.
Langit tak pernah menyangka akan ada hari seperti ini. Hari di mana semua yang begitu akrab dengan seketika asing, terlalu asing. Ia ingat betul bagaimana selimutnya tak pernah rapi sebab selalu ada tamu yang tak diundang memasuki kamarnya ataupun meja belajarnya yang tiba-tiba ada sebungkus es krim rasa coklat tergeletak yang ia tahu betul siapa pelakunya.
Helaan napas terdengar berikut dengan suara berdebam, langit menjatuhkan dirinya ke atas ranjang. Ia berguling pelan, seperti mencoba merasakan sisa hangat yang mungkin masih tertinggal di sana.
“Jav.. Gue kangen.”
---
Langit bukan tipe orang yang gemar keluar malam-malam seperti kembarannya. Tapi entah apa yang terjadi, tiba-tiba ia tergugah untuk keluar sekadar mencari udara segar. Dia keluar dengan hoodie yang tak terlalu tebal, tujuannya saat ini adalah minimarket depan gerbang kompleks. Mungkin es krim cokelat bisa sedikit mendinginkan kepalanya yang terlalu panas terbakar kenangan yang lewat sekelebat.
Tapi sepertinya pilihannya ini salah. Bukannya dingin, tapi dia terasa seperti mendidih dari dalam. Semesta memang pembuat lelucon terbaik. Langit melihat dia di balik rak camilan. Mimik wajahnya yang bingung kala memilih... bahkan dengusan kesal yang dia keluarkan saat menyadari yang ia cari ternyata tak ada masih begitu akrab di matanya.
Javier Aryasena.
Langit seketika terdiam. Detik demi detik terasa panjang, seolah dunia sengaja melambat.
Javier juga diam, mematung. Mimik wajah yang dulu bisa ia baca tanpa harus menerka. Sekarang? Ia bahkan tak tahu apa yang sedang Javier pikirkan.
Tak ada senyum yang dilemparkan hanya saling melempar pandangan kemudian menoleh ke arah yang berlainan. Oksigen terasa menipis bagi keduanya, menyisakan kejanggalan yang pekat. Langit mengusap tengkuknya dengan rasa kikuk yang begitu kentara. Dia menggigit pipi dalam penuh kontemplasi.
“Gue duluan ya Jav.” Dan ya hanya itu yang akhirnya berhasil lolos dari kotak suara Langit setelah berkontemplasi. Javier pun hanya mengangguk kikuk, jauh dari mereka yang dulu.
Dan akhirnya Langit pergi lebih dulu menuju kasir dengan sekotak kecil ice cream yang berisi tiga rasa dan sebungkus keripik singkong di tangannya. Lalu dia pulang tanpa berniat menengok ke belakang walau detak jantungnya memohon. Napasnya keluar dalam embusan gusar yang coba ia samarkan.
---
Ruang keluarga malam itu terasa lenggang, terlalu hening. Televisi hidup namun volumenya tak terlalu besar, lebih cocok menjadi latar belakang penghalau hening daripada tontonan. Ayah menyamankan posisinya di pangkuan Papah yang tengah asyik menyimak sinetron sembari sesekali mengusap lembut rambut sang suami yang sudah dihiasi warna perak kelabu.
Di saat keduanya tengah larut dalam dunianya, Langit lewat di depan mereka dengan wajah kusut, bahu turun. Tanpa mengatakan apapun, dia dengan usilnya mematikan siaran televisi yang tengah orang tuanya tonton. Belum sempat Papahnya protes Langit sudah berlalu, naik ke kamarnya.
“Mas,” Papah akhirnya bersuara sembari menyalakan kembali televisi, “kamu ngerasa abang agak beda gak sih?”
Ayah yang berada di pangkuannya mengangguk, mengamini. “Iya mas juga ngerasa, abang agak beda pulang liburan ini. Biasanya juga Javi main, ini tumben banget gak pernah kelihatan,” balasnya dengan mata terpejam menikmati afeksi yang suaminya berikan.
“Sebentar, mas kepikiran hal yang sama gak?”
Ayah membuka mata, “Iya...”
Tak lama gelak tawa terdengar dari Papah, cukup keras hingga perutnya sedikit sakit. Namun itu tidak berlangsung terlalu lama sebab setelahnya delikan ia berikan pada sosok yang berada di pangkuan.
“Lagi-lagi ya Estu.” Lalu jeweran ia berikan pada sang suami. Dan seketika ayah mengaduh kesakitan.
“A-aduhh kok mas dijewer sih, dek?”
“Ya menurut kamu aja itu abang niru siapa?!”
Dengan wajah murung ayah menjawab, “Niru aku.”
“Itu tahu! Jadi kamu juga harus tanggung jawab!”
Papah semakin memelintir telinga ayah hingga memerah. “A-aa sakit sayang. Iya-iya nanti mas bilang ke abang.”
“Ya memang harus bilang! Kalau mas gak nasihati abang…” Papah menyilangkan tangannya dramatis, “…gak usah tidur sama adek!”
Seketika wajah ayah memucat.
Oh tidak itu ancaman yang terlalu mematikan untuknya, tidur sendiri adalah mimpi buruk dari yang terburuk.
---
Keesokan malamnya Ayah mengajak Langit berbicara di rooftop tempat Papah biasa melihat bintang dan sanak saudaranya dengan teleskopnya. Percakapan malam itu di temani dengan satu stoples cookies hasil kolaborasi Langit dan Papah, dan juga secangkir susu dan kopi.
Percakapan malam itu hangat, semua Langit ceritakan. Tentang bagaimana kehidupannya di Jogja sana sebagai seorang mahasiswa mulai dari mata kuliah hingga kejadian absurd yang dia alami. Hampir semuanya ia curahkan pada sosok yang menjadi panutannya ini. Hingga akhirnya Ayah menyenggol topik yang Langit hindari.
“Di sana Abang sama Kakak Javi gimana? Sering keluar bareng?”
“Ya gitu deh yah.”
Kernyitan bingung terlihat jelas di dahi ayah. “Gitu gimana? Kalian kan deket banget.”
“Yaa deket?” tersirat nada bingung disana, Ayah paham. Dia hanya tersenyum mafhum lalu memberikan cangkir susu milik langit, “Ini minum dulu.”
Langit menerimanya dengan senang hati, walau sedikit bingung, “Makasih Ayah.”
“Pasti abang awalnya ngira Javi udah sibuk sama dunia barunya sampai akhirnya ngelupain abang. Lalu abang juga mulai cari kesibukan lain juga.” Ujar ayah dengan tidak sopannya menerjang ulu hati Langit, seperti pukulan uppercut.
“...Gimana yah?”
“Udah jujur aja sama ayah.”
“Ya gitu deh Yah, namanya juga pertemanan.” Ayah bersyukur kalimat ini tidak didengar suaminya, atau dia lagi yang akan jadi korbannya. Ayah menghela napas dan mencubit pipi gembil putra sulungnya itu.
“Sakit ayahhh.”
“Abang emang gak ngerasa sayang? Kalian temenan dari kecil loh, dari bayi terus asing kayak gini. Pertemanan itu bisa awet kalau kalian ada usaha buat ngejaganya.”
Helaan napas kembali terdengar dari ayah, “Ibaratnya begini, abang minyak kakak air. Biar bareng terus gimana caranya? Ya perlu ada emulsifier, emulsifier ini anggap aja usaha biar pertemanan kalian tetep langgeng.”
“Tapi yah,” Langit menundukan kepalanya, “emulsifier aja gak cukup. Kemarin abang buat aja pecah.”
“Berarti abang ada yang salah sama prosedur kerjanya. Coba inget-inget lagi kurangnya apa?”
Langit menyerah, “Ngobrol sih yah.”
“Nah. Besok ajak main Kakaknya.”
“Caranya gimana yah? Abang ketemu dia aja sekarang canggung.”
“Coba chat aja dulu.”
“kalau emulsi yang kemarin rusak, coba buat lagi pakai formulasi yang baru.”
Masih dengan wajah yang murung, “Kalau rusak lagi gimana?”
Ayah menyentil dahi Langit, “Kamu bikin formulasinya liat standar baku gak sih bang?”
“Ya lihat yah.”
“Soal gagal atau enggak itu urusan nanti, yang penting coba aja dulu. Usaha dulu, nanti kurangnya masukin ke bagian evaluasi.”
“Jadi chat nih yah?”
“Iya abang.”
Waktu berjalan.
1 menit
5 menit
10 menit
“Ayah ini cara ngechatnya gimana?”
“Kasih paddlet bang, atau carrd.co juga boleh,” seloroh Ayah dengan sedikit rasa kesal.
“Isinya apa yah? Ayah aja yang isiin deh.”
Helaan napas lelah kembali ayah embuskan, “Ya Tuhan.”
“Maaf Ayah, habis abang bingung banget. Kayak udah gak pernah ngobrol lagi.”
“Ayah anter ke rumahnya mau?”
Pekikan kesal Langit terdengar, “Ih ayah mahhh.”
“Kalau mau ya ayo, nanti ayah yang ngomong sama Javi. Abang mau ngajak main.”
“Gak mau! Nanti diledekin bapaknya Javi.”
“Tapi abang bingung ayah. Ih lagian kenapa deh harus bikin emulsi?! Kenapa gak bikin puyer?” dengus Langit dengan wajah yang tampak sangat kusut.
“Puyer daya simpannya cuma seminggu loh abang. Abang mau sesingkat itu juga?”
“Ya gak mau ayah,” rengek Langit.
“Ya makanya, ribet sedikit gak apa-apa. Yang penting stabil.”
“Cara bikinnya bingung.” Dengusan kembali terdengar dari Langit.
“Sini hpnya.” Ayah mengambil paksa ponsel yang berada di tangan Langit, dan tanpa aba-aba langsung memencet tombol panggilan. Nada sambung terdengar namun tak jua diangkat hingga panggilan itu mati dengan sendirinya.
“TUH!”
Ayah tertawa melihat wajah lesu putra sulungnya itu, “Jangan lesu gitu dong bang.”
“Gimana gak lesu, abang bikin emulsinya aja gak ada yang bantu.” Entah berapa banyak rengekan dan helaan napas frustasi terdengar dari laki-laki 20 tahun ini.
Ayah dengan sisa-sisa tawanya menjawab, “Coba chat ngajak jogging nanti pagi. Kalian ‘kan biasanya begitu.”
“Ayah telepon aja gak diangkat. Ah gak tahu lah yah.” Oh Langit, kamu terlalu mudah menyerah sayang.
“Loh siapa tahu lagi di kamar mandi. Abang jangan gampang nyerah gitu dong. Kamu emangnya gak iri sama kembaranmu yang tiap malem bobo bareng pacarnya itu?”
“YA IRILAH, ada yang dipeluk gitu. Abang mah yang bisa dipeluk cuma keyakinan itu aja gak yakin.” Tawa ayah kembali pecah karena celetukan anaknya itu.
“Makanya ayo chat dulu, soal dibales atau enggak pikir nanti, yang penting usaha.”
Langit menatap nanar ponselnya, dia berkontemplasi dengan dirinya haruskah dia chat Javi atau biarkan saja, yang asing biarlah asing. Yang jauh biarlah menjauh. Namun saat pikirannya membayangkan skenario-skenario buruk, ponselnya berdenting, tanda pesan masuk.
Javier
Kenapa ngit? Sorry tadi gue di dapur gak denger telepon masuk.
Langit seketika memekik, “AYAH AYAH!” ayah sampai menutup telinga karena suara putranya yang melengking.
“Gak usah teriak-teriak abang. Ayah di depan kamu persis.”
Langit mengacak-acak rambutnya bingung, ini dia harus membalasnya bagaimana. “Ayah ini gimana balasnya?”
“Bilang, ‘itu gue mau ngajak lo jogging nanti pagi, lo mau gak’ coba gitu aja.”
“Oke-oke.”
Langit
oh itu kepencet Jav.
Melihat balasan yang dikirim putranya seketika membuat ayah kembali menghela napas, “Sini ayah aja yang balas.”
Langit menjauhkan ponselnya dari jangkauan tangan Ayah. “Eh, eh, eh, nanti typingnya beda yah.”
Langit
tadi gue mau ngajak lo main besok, tapi gak sengaja kepencet telepon. kan udah lama gak main, mumpung lagi di rumah
Javier
Oh, terus mau ngapain?
Maksudnya mau kemana
Langit
keliling Jakarta saja gimana? spent time bareng, tujuannya tentuin besok aja.
Javier
Sama Sam, Apta juga? Tapi bukannya besok mereka mau diving ya? Tadi Apta cerita.
Langit
berdua doang
itu kalo lo mau sih
Lalu habis. Pesan terakhir yang Langit kirimkan hanya dibaca oleh Javi, seketika mimik wajah yang awalnya sudah sedikit memiliki rona menghilang seketika—kembali lesu. Ayah hanya menatap dengan senyum kecil. Ia yakin setelah ini mimik wajah putranya akan kembali semringah.
Ponsel Langit kembali berdenting
Javier
Jam berapa ngit?
“AYAH LAMPU IJO YAH!”
Kan.
Tak hanya semringah namun juga datang bersamaan dengan pekikan yang memekakkan telinga. “Abang, syuttt. Malu.” Ayah menaruh jari telunjuknya di bibir Langit.
“Ayah ini enaknya jam berapa yah?”
Ayah mengerutkan keningnya, “Ya jam 9 atau jam 10an aja kali bang. Biar gak terlalu pagi gak terlalu siang.”
Langit segera mengetikkan apa yang ayah bilang tadi dan berakhir dibaca oleh Javi, namun senyum di bibir Langit tak luntur. Ternyata benar kata ayah, yang penting coba dulu. Ah Langit jadi tidak sabar menunggu esok hari.
---
Kamar Langit tidak pernah seberantakan ini sebelumnya. Kaos, kemeja, jaket, hoodie hingga kardigan rajut berserakan dimana-mana berikut dengan bawahannya. Benar-benar kacau bahkan lebih berantakan dari kamar kembarannya yang jauh dari kata rapi itu. Dan untuk pertama kalinya Langit merasa tidak memiliki pakaian yang layak, padahal lemarinya sendiri ada dua, dan ukurannya sama sekali tidak kecil.
“Minta tolong papah aja lah.” Akhirnya dia menyerah dan memilih turun dari kamar dan memanggil Papahnya. Dan ya akhirnya Papahnya naik ke kamar Langit.
Helaan napas terdengar dari papah kala melihat kondisi kamar putra sulungnya itu. “Abang sama kakak mau jalan kemana emangnya?”
“Gak tahu sih Pah, niatnya baru mau muter-muter Jakarta saja sih.” Helaan napas kedua terdengar dari papah.
“Loh ya tinggal pakai kemeja flanel terus dalamnya kaos, nah bawahnya jeans aja atau gak celana bahan yang selutut itu,” ujar Papah sembari merapikan sedikit pakaian yang berserakan.
“Emangnya gak effortless banget ya Pah?”
“Ya masa kamu mau pakai jas, udah niat kok ini, bagus daripada pakai hoodie doang. Yang penting rapi, wangi.”
“Iya-iya. Abang pakai ini berarti ya pah.” Langit mengambil kemeja flanel berwarna merah hitam, kaos berwarna putih dan celana kargo selutut dan diangguki Papah. Kemudian Papah beralih ke rak khusus tas milik putranya dan sibuk menyiapkan isinya.
“Nanti abang bawa tas ini ya, udah Papah siapin isinya. Kamu peka sedikit di sana. Tolong act of service ayahmu ditiru juga, jangan denialnya doang.”
“Iya Papah iya Abang tahu.”
“Nah bagus, nih pakai topinya.” Papah memakaikan topi ke Langit, topi yang nantinya akan menjadi salah satu modus yang akan Langit lakukan saat bersama Javi.
“Bagus. Goodluck buat datenya ya abang.”
“IHH bukan date papah ih.” Tawa Papah pecah seketika saat mendengar celetukan Langit.
“Udah sana-sana udah ditungguin Kakak.”
Langit mengecup pipi Papah dan beranjak pergi. “Bye-bye Papah, doain abang ya semoga lancar.”
“Iya abang ganteng.”
---
Pagi itu entah kenapa Depok terasa lebih ramah dari biasanya. Matahari tak begitu terik dan juga bersembunyi malu dibalik mendung, cahayanya hangat—terasa seperti tepukan lembut di bahu. Dan hangat itu sampai ke hati dua pemuda yang tengah melawan gundah sebelum membuka pintu.
Langit berdiri di depan pagar rumah Javier, ragu sejenak menghampiri benaknya untuk memencet bel, haruskah dia lakukan itu atau tidak perlu? Belum juga Langit selesai berdebat dengan isi pikirannya pintu rumah Javier terbuka. Menampakkan sosok yang menjadi alasan utama kontemplasi hatinya. Langit refleks menenggakkan tubuhnya.
Javier keluar sembari menenteng totebag kanvas warna putih gading—yang tak asing di mata Langit, sebab lukisan ubur-ubur berwarna biru muda itu adalah hasil karya tangannya. Rambut Javier sedikit berantakan, seperti hanya disisir asal dengan tangan. K aos putih, vest biru dongker, celana jeans yang sedikit menyita perhatian langit sebab tergantung karabiner berisi kunci motor di sana—entah untuk apa. Senyum canggung terbit di birainya sebelum sapa.
“Eh, Langit. Sorry ya lo pasti nunggu lama sampai nyamperin ke sini...”
Langit menggeleng, menahan tawanya yang nyaris lolos, “Nggak apa-apa, santai saja.”
Hening mengisi jeda di antara mereka, bukan karena canggung tapi lebih seperti menikmati waktu yang akhirnya datang juga. Tatap tak percaya dan adorasi mereka lemparkan untuk satu sama lain.
“Yuk?” tanya Javier setelah keluar dari pagar rumahnya. Dan dibalas dengan anggukan oleh Langit.
Mereka mulai berjalan berdampingan menuju halte Transjakarta. Langkah mereka pelan, tak jarang saling bersinggungan. Javier mengambil kesempatan, menggandeng tangan Langit. Tangan yang terasa sedikit lebih kasar dibanding terakhir kali dia menggenggamnya. Sepertinya dia sudah melewatkan banyak bab dari kehidupan sahabatnya ini.
Jika kalian bertanya bagaimana reaksi Langit, jelas dia terkesiap namun pada akhirnya hanya senyuman kecil yang terbit di ranumnya tak ada kalimat apapun yang keluar darinya.
Suara kehidupan pagi kota ini mengiringi mereka berdua. Dengungan sepeda motor yang lewat, bisik-bisik suara ibu-ibu yang tengah berbelanja sayur ataupun riuh rendah canda anak-anak kecil yang kebetulan melewati mereka. Ramai sekali, namun di dalam kepala mereka dunia terasa lebih kecil hanya tersisa isi riuh pikiran mereka saja.
“Sudah lama ya kita gak jalan bareng kayak gini,” ujar Javier yang akhirnya membuka suara.
Langit menoleh dan berdeham singkat—mengiyakan. “Iya, terakhir sebelum kuliah.”
“Wah, hampir dua tahun ya... gila lama banget.”
Langit tidak menjawab, hanya mengangguk. Atensinya beralih mengamati kabel listrik yang membentang di atas mereka, meski nyatanya jantungnya berpacu terlalu cepat lebih cepat dari hilir mudik stasiun Manggarai tiap harinya.
Halte sudah tampak di ujung jalan. Namun baik Javier maupun Langit, langkah kaki mereka melambat seperti ingin mengulur waktu untuk lebih lama bersama dan dalam keadaan saling menggenggam seperti sekarang. Keduanya sadar tak ingin meninggalkan hangat terlalu cepat. Bahkan setelah keduanya sudah di dalam halte genggaman itu tak mereka lepas, mereka sadar namun berpura-pura acuh tak acuh karena takut merusak atmosfer yang sudah mereka coba bangun.
Bus datang. Tangan Langit ditarik Javier tuk memasuki bus yang masih sepi penumpang. Mereka memilih duduk di bangku belakang dan Langit melonggarkan sedikit genggaman mereka memberi kode dia ingin melepaskan barang sejenak untuk mengambil earphone dari slingbag yang ia bawa. Tanpa diberitahu Javier mengerti dan melepaskan genggaman mereka.
Seperti berbagi pikiran yang sama, keduanya sama-sama menggunakan earphone untuk menghalau situasi canggung yang dapat datang kapan saja sepanjang perjalanan mereka ini. Langit tampak sibuk dengan novel yang dia bawa entah atas dasar apa begitu pun Javier yang sibuk dengan ponselnya, meski begitu kita dapat melihat dengan kentara pandang yang diam-diam mereka curi, senyum yang diam-diam terbit, dan juga rona merah tipis yang menghiasi telinga mereka berdua.
Kita tahu bus itu jalannya tak selalu mulus seperti kereta, seperti saat ini, tanpa aba-aba bus mengerem mendadak. Dan tentu saja pergerakan yang mendadak itu membuat Langit limbung ke depan, hampir jatuh dari tempat duduknya, Javier refleks menahan bahu Langit agar ia tidak betulan jatuh.
Pandang mereka bertemu dan rona pun muncul begitu saja. Keduanya spontan memalingkan wajah setelah Javier melepaskan tangannya yang menahan bahu Langit. Panas menguasai wajah Langit saat ini, dia malu sekali. Ada banyak hipotesis yang berseliweran di kepalanya, dia takut dan malu hingga tak sadar rona tak hanya menghiasi telinganya namun wajahnya juga.
“Makasih...” cicit Langit.
“Iya sama-sama, gak apa-apa.”
Langit berharap bus ini segera sampai ke stasiun MRT yang mereka tuju, dia tak sanggup menahan panas di wajahnya ini lama-lama begitupun debaran yang terasa sangat nyata di dadanya. Dia takut Javier mendengarnya.
---
Stasiun MRT sudah tampak begitu mereka turun dari bus, berdiri tepat di bawah teriknya matahari Jakarta yang terasa lebih terang dibanding saat berangkat tadi. Lantai keramik memantulkan cahaya matahari yang turun melalui atas kaca besar. Dingin AC peron menyapa kulit, tapi anehnya hati dua pemuda itu masih sama hangatnya atau mungkin sedikit tergelitik.
Mereka berjalan berdampingan. Javier menarik totebagnya sedikit lebih rapat ke bahu, lalu menoleh ke belakang. “Langit, bawa kartunya?” tanyanya.
Langit mengangguk, “Aman.”
“Mana? Biar nanti gue aja yang tap-in,” ujar Javier sembari menyodorkan tangannya. Dan Langit pun mengambil kartunya dari slingbag yang ia pakai dan memberikannya pada Javier.
Mereka berdiri berjejer di depan gate. Javier men-tap kartunya dan juga milik Langit. Suara beep yang terdengar menjadi musik latar awal perjalanan mereka hari ini. Mereka berdua kembali jalan bersisian menaiki eskalator dengan langkah yang selaras.
Hening mengisi, keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Setelah turun dan sampai di peron, angin dingin menyapa, bau besi dan suara pengumuman MRT menggantikan hening yang terisi. Di tengah ramai itu keduanya berhenti.
Kereta belum datang.
“Nanti kita mau turun dimana?” tanya Javier memecah hening.
Langit diam, berpikir sampai bibirnya maju beberapa senti. “Blok M aja gak sih? Udah jamnya makan siang juga, nanti nyari makan dulu di sana.”
“Boleh, udah laper juga,” balas Javier sembari mengangguk.
“Pujasera?”
“Boleh.”
Kereta mendekat. Angin kencang menyapu peron, membuat rambut mereka berantakan. Javier menahan totebagnya yang hampir tertiup ke samping. Langit memegang tali slingbag-nya erat.
Pintu kereta terbuka. Gelombang penumpang keluar, lalu masuk. Javier hampir terseret arus orang-orang yang buru-buru. Langit otomatis menarik lengan Javier, menahannya di sisi yang aman sebelum mendorongnya masuk.
Mereka akhirnya masuk kereta yang cukup ramai. Langit berdiri dekat tiang pegangan. Javier, karena dorongan penumpang dari belakang, terdorong lebih dekat dari niat awalnya—bahkan terlalu dekat untuk sepasang sahabat yang sempat asing.
Langit menatap handle pegangan di atas. Javier meraih salah satunya. Bahunya sedikit goyah karena dorongan dari belakang. Sepuluh menit awal perjalanan mereka berjalan baik-baik saja, sedikit desak-desakan seharusnya bukan masalah. Ya seharusnya.
Hingga akhirnya masalah klise yang sering terjadi di transportasi umum terjadi, jatuh terdorong kerumunan. Javier kehilangan pegangannya, handle itu lolos dari tangannya, dan dia benar-benar kehilangan keseimbangan. Langit refleks menangkap tubuh Javier sebelum menghantam pintu kereta.
Jika hubungan baik-baik saja seperti saat sekolah, hal ini bukanlah masalah. Tapi saat ini jelas masalah. Jarak mereka terlalu dekat atau dapat dikatakan tak lagi berjarak terlebih dengan tangan Langit yang melingkar apik di pinggang Javier.
“Javi…” suara Langit terdengar pelan. “Sorry ya. Gue… izin meluk lo bentar. Biar lo nggak kedorong lagi.”
Dia berbicara sambil menahan napasnya sendiri, telinganya bersemu merah, dadanya bertalu-talu dengan jarak sedekat ini embusan napas Javier pun terasa di kulitnya.
Javier menunduk sedikit, suaranya kecil. “Emm… oke.”
Dia kemudian bersandar pelan—hampir hati-hati—menyandarkan kepalanya di bahu Langit. Tatapannya dialihkan ke kaca pintu kereta, seakan memaksa dirinya untuk tidak melihat wajah Langit.
Sebaliknya, Langit justru memalingkan kepala ke samping, mencari bayangan Javier di kaca.
Dan entah kenapa, melihatnya dari pantulan membuat segalanya terasa lebih nyata.
Hening mengisi udara hingga Javier memutuskan untuk memecahnya, “Jantung lo berisik banget.”
Langit mendengus, “Lo juga sama saja, jantung lo gak kalah berisik.” Tawa kecil keduanya berhamburan —ringan, gugup, tapi cukup untuk mencairkan sesuatu yang selama ini terasa menegang di antara mereka.
“Kita canggung awalnya gara-gara apa sih?” lanjut Langit, mengutarakan hal yang mengganjal di pikirannya sejak lama.
Dapat Langit lihat dahi Javier berkerut. “Gak tahu,” jawabnya pelan, nada suaranya menggantung. “Mungkin karena gue ya? Suka lupa balas chat lo.”
Ia memejamkan matanya lalu menambahkan, lebih lirih, “Gue minta maaf ya, Langit.”
“Dimaafin,” balas Langit cepat. “Tapi gue juga salah paham sama lo Jav. Maaf ya Jav.”
Javier perlahan mengangkat tubuhnya dari bahu Langit. Sekarang wajah mereka sejajar. Embusan napas mereka saling menyentuh kulit satu sama lain. Hangat. Dekat. Membuat pipi keduanya memerah tanpa izin.
Detik itu terasa panjang. Hingga—
Satu dorongan dari belakang entah siapa asalnya membuat tubuh Javier kembali terdorong. Segalanya terjadi terlalu cepat untuk dicerna. Langit sempat menarik napas tajam saat tubuh Javier kembali jatuh ke arahnya—dan sebelum salah satu dari mereka sempat menghindar—
bibir mereka bertemu.
Bukan ciuman yang disengaja. Bahkan terlalu cepat untuk disebut ciuman.
Hanya sentuhan singkat yang lembut, hangat, dan membuat dunia seolah berhenti selama satu detik penuh.
Dan entah apa yang merasuki Javier, bukannya tersentak mundur saat keseimbangannya kembali dia justru melumat ranum merah milik Langit. Yang mana empunya masih terpaku kaku sebelum akhirnya tersadar apa yang tengah terjadi.
Matanya membulat, wajah memerah hingga telinga. Terlebih saat dia merasakan tangan Javier balik merengkuh pinggangnya.
Javier melepas pagutannya kala dia merasa tak ada balasan dari Langit, dan saat pagutan itu terlepas Langit segera menyembunyikan wajahnya di bahu Javier. Malu.
Ia yakin wajahnya sudah menyerupai kepiting rebus.
Javier berdeham pelan, menetralisir rasa canggung yang mendadak hadir karena tingkah implusifnya itu. Dan hening kembali datang, untungnya itu tak berlangsung begitu lama.
Kereta melambat mendekati peron, mereka yang awalnya masih dalam posisi yang sama sontak melepaskan pelukan mereka. Namun Javier tetap menggenggam tangan Langit agar keduanya tak terpisah lautan manusia.
Mereka turun di stasiun MRT Blok M, angin stasiun yang dingin langsung menyapa merek, cukup kontras dengan panas pipi yang belum turun sejak insiden yang diperparah dengan tingkah Javier.
Suara langkah orang-orang, deru AC stasiun, dan pengumuman petugas memantul di sekitar mereka; ramai, namun di dalam kepala mereka justru kosong.
Langit menelan ludah, berdeham singkat. Dia membuka suara, pelan sekali.
“Jav, mau makan apa?”
Javier berhenti, menoleh ke arah Langit. “Bakmi?”
“Mie ayam aja gak sih?”
“Kebab aja sekalian. Guna lo tanya apaan dah?”
Tawa Langit pecah, melihat gurat sebal di mata Javier. “Ya basa basi aja, lagian canggung banget.”
“Gak canggung itu, gue laper.”
“KOCAK LU.”
Mereka keluar gate sambil sesekali saling melempar canda dan tawa yang mengudara, udara di sekitar mereka perlahan menghangat kembali begitupun suasana hati mereka. Mereka terlalu asyik sampai tanpa sadar mereka akhirnya memasuki area pujasera Blok M Square, aroma perpaduan mie ayam, sate, nasi goreng dan berbagai makanan lainnya begitu memanjakan indera penciuman mereka dan memancing lapar yang semakin menjadi.
Suasana ramai namun hangat, suara denting sendok, obrolan random hingga riuh para pedagang bercampur menjadi melodi tersendiri siang itu.
Mereka langsung melesat ke salah satu tenant mie ayam yang tampak begitu menggoda selera. Duduk di meja kosong dekat kipas angin tuk menetralisir hawa sumuk yang mulai terasa. Mereka bermain batu gunting kertas tuk menentukan siapa yang akan memesan dan hasilnya Javier kalah.
Javier melangkah dengan langkah gontai, memesan lalu kembali duduk. Setelah beberapa waktu akhirnya pesanan mereka sampai juga. Langit langsung menyantap mie ayamnya begitu datang, entah dia terlalu bersemangat atau bagaimana hingga pinggir bibirnya belepotan kaldu.
Dan itu mengundang gelak tawa Javier sembari mengambil tisu dan memberikannya pada Langit, “Makannya pelan-pelan Langit, gue gak bakal minta.”
“Apaan sih?!” sinis Langit namun tetap menerima tisu yang Javier berikan.
Tanpa mereka saling sadar, senyuman terbit di ranum mereka. Di antara wangi mie ayam, keributan pujasera, dan sendok yang beradu dengan mangkuk; ada sesuatu di antara mereka yang kembali pelan-pelan, menghangat seperti kuah kaldu mie ayam yang baru matang.
Mangkuk mereka akhirnya tandas. Langit yang terakhir menyendok kuah bakmi menghela napas panjang seperti baru selesai perang.
“Akhirnya kenyang juga.”
Javier menatap Langit lucu, “Lebay.”
“Apa dih, ikut campur banget.”
Javier tertawa kecil sambil berdiri berniat untuk membayar, sedangkan Langit membereskan meja mereka seadanya. Keduanya akhirnya berjalan keluar pujasera dengan langkah yang jauh lebih ringan dibanding sebelumnya.
“Habis ini enaknya kita lanjut ke mana lagi?” tanya Langit melirik Javier.
Javier mengangkat bahu, “Terserah lo saja, kan lo yang ngajak.”
Langit berpikir sebentar, lalu senyum tipis muncul di wajahnya. “Ke Kotu yuk.”
Javier berhenti sejenak, menatap Langit lamat-lamat. “Serius?”
“Iyalah, kenapa?”
“Panas ege.”
Langit tertawa mengejek. “Laki kok takut panas, kalah lo sama banci taman lawang.”
“Heh si anjing, mereka mah nongkrongnya malem. Iya deh iya, ke Kotu,” balas Javier setengah menggerutu, mendengarnya tawa Langit semakin keras.
“Begitu dong.”
Mereka kembali memasuki area stasiun MRT Blok M, mengikuti arus orang yang turun menuju peron. Suasananya sudah jauh lebih ringan dibanding beberapa jam sebelumnya, tak ada rasa canggung ataupun jantung yang terlalu berisik.
Dan saat kerumunan kembali menebal di dekat eskalator, Javier tetap menggenggam tangan Langit; seolah itu sudah menjadi kebiasaan yang tidak perlu dijelaskan lagi. Langit tidak protes.
Perjalanan mereka kali ini cukup panjang dan crowded karena mereka juga harus mengejar dua krl yang tentunya memakan tenaga yang tidak sedikit, hingga akhirnya mereka sampai di kota tua setelah berjalan kaki dari stasiun Jakarta Kota.
Aroma roti yang baru matang datang bersamaan dengan semilir angin menyapa begitu mereka menginjakkan kaki di sana. Meski tak dapat dipungkiri panas yang cukup terik menyengat kulit. Dan tanpa aba-aba Langit memakaikan topi ke kepala Javier.
Javier menoleh dengan tatapan heran yang ditanggapi dengan kedikan bahu dari Langit. “Kan lo sebelum kesini ngeluh panas.”
Javier berkedip. Senyumnya naik perlahan, “Ah jadi sayang deh.”
Mendengar balasan Javier, Langit langsung memberi gestur seolah mual, “Huek.”
Javier tertawa, “Makasih ya.”
“Yoi.”
“Ke museum yuk?” celetuk Javier sambil mengelap keringat dengan punggung tangan.
“Museum mana dulu? Fatahillah?”
“Museum wayang,” balas Javier sambil sibuk mengambil digicam yang berada di totebagnya.
Langit langsung berhenti, “Enggak mau ah, katanya dulu itu bekas gereja Belanda. Tar pulang-pulang ada yang ngikut.”
Javier menoleh, ekspresinya campuran geli dan speechless, “Penunggu sana juga enggak berani kali deketin lo, Lang. Badan segede bemper begitu.”
“Fatahillah saja deh, jangan wayang. Gue takut.” Nada suaranya melemah, sedikit malu.
Javier tertawa, “Badan security, nyali hello kitty.”
“Biarin sih, suka-suka gue,” ujar Langit defensif namun telinganya memerah.
“Iya deh iya, Fatahillah.”
Mereka mulai berjalan lagi melewati lapangan, menghindari anak-anak kecil yang berlarian ataupun naik sepeda ontel sewaan. Javier sesekali mengangkat digicam, memotret gedung-gedung tua dan suasana di sana. Namun di sela-sela itu, lensa kameranya beberapa kali berhenti tepat ke arah Langit, tanpa Langit sadar.
“Lo foto gue ya barusan?” tanya Langit sambil melirik.
“Enggak,” jawab Javier cepat. Sangat cepat. Digicam masih terarah ke Langit.
Langit memicingkan mata. “Boong lo.”
“Terserah deh,” Javier mendengus sambil menurunkan kamera.
Langit menghela napas panjang, tapi bibirnya terangkat sedikit. “Jav.”
“Hm?”
“Fatahillah aja ya.”
“Udah dari tadi gue bilang boleh, Abang.”
“Tapi jangan ke penjara bawah tanahnya.”
“Iya cantik.”
Javier menahan tawa lagi. Karena cara Langit minta, meski hal sepele, entah kenapa terdengar… manis.
Mereka akhirnya tiba di depan halaman museum, langkah keduanya melambat tanpa sadar. Gedung putih tinggi dengan pintu kayu lebar menyambut, dan tubuh mereka secara natural berdiri berdampingan, cukup dekat hingga lengan mereka sesekali bersenggolan.
Javier memutar digicamnya ke arah Langit. “Duduk bentar yuk sebelum masuk.”
Langit mengangguk.
Mereka duduk di pinggir beton pembatas lapangan. Di sekeliling mereka, suara sepeda, anak kecil ketawa, dan musik musisi jalanan bercampur jadi satu.
Untuk pertama kalinya hari itu, suasana di antara mereka terasa… pelan. Bukan canggung, bukan kacau. Hanya… pelan, nyaman, dan hangat di dada.
Begitu melangkah masuk, udara langsung berubah. Hening, dingin, dan bau kayu tua bercampur debu yang entah kenapa terasa menenangkan.
Langit melirik ke kiri dan kanan, agak menunduk; refleks karena ruangan besar itu membuat langkahnya terdengar terlalu jelas. Di sisi lain, Javier tampak tenang, asyik dengan kamera yang berada digenggamannya. Memotret apa pun yang menurutnya ‘lucu’.
“Jav,” tegur Langit pada Javier yang tampak asyik sendiri. “Bangku kulit pribumi beneran ada gak sih di sini?”
Javier menoleh, dahinya berkerut, “Emang ada ya yang begituan?”
Langit mengendikan bahunya, “Enggak tahu, makanya gue tanya, kata tiktok ada.”
“Tiktok lo percaya,” balas Javier meledek.
“Dih, memang kenapa sih?? Sirik banget.”
Langit berjalan dengan kesal mendahului Javier. Tanpa Langit sadari Javier dengan santai menaikkan digicamnya.
klik
Langit yang mendengar suara itu langsung berbalik, “Lo foto gue ya??”
“Enggak,” balas Javier cepat, “cuma ngetes shutter.”
Langit mendengus, “Bohong, kuping lo merah.”
Sontak Javier memegang telinganya.
“Tuhkan bohong!”
Mereka kembali berjalan, menyusuri lantai kayu yang berdecit. Cahaya dari jendela besar jatuh tepat di tengah ruangan, membuat partikel debu seolah berterbangan bak peri-peri kecil. Javier tiba-tiba berhenti.
“Langit, berdiri di situ sebentar,” tunjuknya ke arah cahaya.
“Ngapain?”
“Udah deh nurut.”
Langit akhirnya menurutinya. Mungkin karena dia penasaran atau mungkin juga ia tak tega melihat wajah antusias Javier.
Begitu Langit berdiri di bawah cahaya, Javier mengangkat digicamnya. Wajahnya tampak serius. Bunyi ‘klik’ terdengar berulang kali.
“Cantik,” ujar Javier dengan suara lirih yang tak dapat Langit tangkap sepenuhnya.
“Apa Jav?”
“Hah? Enggak, fotonya bagus. Nanti kalau sudah gue pindahin disk nya, gue kirim ke lo ya.”
“Oh gitu,” balas Langit, mengangguk.
Javier pun menurunkan kameranya, masih menatap layar kecil di belakang digicam. Langit pura-pura melihat ke arah lain yang sebenarnya hanya pengalihan dari wajahnya yang memanas karena tatapan Javier barusan.
Atmosfer di antara mereka semakin ringan tak lagi ada canggung. Namun ada sesuatu yang menggantung; tipis, hangat dan berdenyut pelan di bawah kulit.
Langkah mereka kembali berpadu menyusuri ruangan-ruangan museum. Tidak banyak bicara, sesekali hanya terdengar suara ‘klik’ dari kamera Javier atau decitan lantai kayu yang menjadi saksi banyak cerita.
Mereka melewati lemari kaca berisi artefak, lukisan-lukisan kolonial dan benda bernilai sejarah lainnya. Tidak ada percakapan panjang, hanya kehadiran yang saling mengisi.
Tak butuh waktu lama akhirnya mereka berdiri di pintu keluar museum. Udara panas Jakarta langsung menyergap mereka, kontras dengan dinginnya museum tadi.
Langit memicingkan mata, “Panas ya?”
“Banget,” jawab Javier, langsung menurunkan topinya sedikit agar menutupi mata. Topi yang—secara tidak sengaja atau sengaja—Langit pakaikan tadi.
Beberapa detik berlalu tanpa mereka bergerak, seakan keduanya masih menenangkan hati masing-masing setelah serangkaian kejadian yang terjadi hari ini.
“Duduk dulu gak sih?” Javier menunjuk pinggiran beton lapangan Fatahillah.
Langit mengangguk. “Lumayan… kaki gue pegel juga.”
Mereka berjalan ke arah lapangan, arus pengunjung museum hilir-mudik di belakang mereka. Di sekitar, suara anak kecil naik sepeda, denting gitar musisi jalanan, dan semilir angin sore menyapu pelan.
Begitu duduk, Javier membuka layar digicam. “Langit,” panggilnya.
“Apa?”
“Nih. Mau lihat nggak?” Tanpa sadar, tubuh keduanya miring ke arah yang sama, kepala mereka nyaris bersentuhan.
Foto yang tampil di layar: Langit berdiri di bawah cahaya, debu-debu kecil berterbangan seperti efek film murah. Tapi entah kenapa—atau mungkin jelas kenapa—foto itu terlihat…
Indah.
Dan Langit terdiam.
Javier ikut diam. Untuk pertama kalinya hari ini, keduanya sama-sama tidak punya kata.
Udara di antara mereka berat tapi hangat—tepat sebelum mereka akhirnya bangkit untuk melanjutkan perjalanan.
“Habis ini mau ngapain lagi?” tanya Javier sembari meregangkan badannya .
“Sewa sepeda gimana?” balas Langit menatap para pengunjung yang berseliweran menaiki sepeda ontel warna-warni.
“Serius?”
“Seriuslah!” Ada binar kecil yang muncul di matanya.
Akhirnya mereka menyewa dua sepeda ontel; satu hitam untuk Langit, satu biru muda untuk Javier. Mereka menuntun sepeda ke arah bagian lapangan yang agak lebih sepi. Javier naik terlebih dahulu, namun dia sempat hampir kehilangan keseimbangan. Dan sama seperti saat MRT tadi siang, Langit dengan sigap menangkap bahu Javier.
Keduanya sempat terpaku beberapa detik.
Setelah berhasil stabil, mereka mulai mengayuh, pelan-pelan mengelilingi lapangan. Matahari yang tadinya bersinar terik mulai meramah begitupun angin yang bergerak lembut, membawa aroma roti dan suara tawa anak-anak.
Langit mengayuh lebih santai, memperhatikan bagaimana Javier berusaha terlihat lihai meski masih tampak goyah. Dan setiap kali Javier berhasil lurus untuk beberapa meter, bahunya naik sedikit—bangga pada hal-hal kecil yang selalu membuat Langit ingin tersenyum.
Beberapa putaran kemudian mereka berhenti di sisi lapangan. Javier menurunkan sepedanya sambil mengatur napas, wajahnya tampak memerah—entah karena panas, lelah, atau hal lain yang tak ia akui. Dan langit berdiri di sebelahnya, menatap langit sore yang mulai berubah warna.
Matahari perlahan turun, menyisakan cahaya keemasan yang jatuh di barat. Dan sejenak, tanpa perlu kata apapun, waktu terasa melambat di antara mereka. Benturan kecil roda sepeda anak-anak, sorak riuh pengunjung, semuanya terdengar sayup—hanya tersisa napas, degup, dan jarak yang kian menipis yang tak lagi terasa asing.
Cahaya keemasan jatuh di wajah Javier, membuat siluetnya terlihat seperti potongan memori yang terlalu rapuh tuk dijamah namun terlalu indah jika hanya dikenang. Mereka masih di tempat yang sama, di sebelah sepeda ontel yang mulai kehilangan bayangannya.
Langit memalingkan wajahnya, jantungnya berpacu terlalu laju sampai ia takut itu akan terdengar Javier. Dan Javier pun hampir serupa, gugup yang ia rasa begitu kentara. Menggigit pipi penuh kontemplasi, menimbang apakah yang akan ia katakan layak atau hanya akan memperburuk suasana yang mereka bangun dari pagi tadi.
“Langit.”
“Javi.”
Tak dinyana mereka berdua justru membuka mulut bersamaan, sontak keduanya sama-sama terkesiap.
“Eh? Lo duluan aja Lang,” ujar Javier cepat dan Langit membalasnya dengan gelengan. “Lo aja dulu.”
Javier melirik ke arah lain, semburat jingga di langit berpindah ke pipi hingga telinganya. “Menurut lo, bisa gak kalau kita mulai semuanya dari awal lagi, tapi bukan sebagai sahabat?” ujar Javier dengan nada yang begitu lirih, penuh sarat takut akan penolakan. Bahkan dia memejamkan matanya, bersiap akan kalimat penolakan maupun tamparan jika memungkinkan.
Langit diam. Bukan karena bingung, dia hanya terlalu kaget untuk menanggapinya dengan normal. Kalimat yang tidak dia sangka akan dia dengar dari Javier. Kalimat yang sejujurnya sudah bermukim lama di tenggorokannya namun ia tak pernah berani mengeluarkannya.
Diamnya Langit membuat Javier membuka matanya ragu. Javier menunduk, dia takut jika ini hanya akan merusak apa yang baru berhasil diperbaiki. “Kalau gak bisa, gak apa-apa Lang,” ujar Javier pada akhirnya.
“Bisa.”
“Hah?” Javier mengangkat kepalanya, menatap Langit dengan tatapan penuh tanya.
“Iya bisa, tapi gue gak mau digantung. Gue mau status yang jelas,” balas Langit tanpa melihat Javier. Sedangkan Javier masih menatap Langit tidak percaya lalu sedetik berikutnya wajahnya sepenuhnya memerah.
“Serius? Langit lo gak bohong kan?”
“Bloon banget sih lo Jav.”
Javier memekik senang, “Langit Wirajati Estu, lo mau gak jadi pacar—“
Belum jua Javier menyelesaikan kalimatnya, Langit memotongnya dengan kecupan singkat di bibir Javier. “Iya mau,”
Bulan yang sudah berganti shift dengan matahari menjadi saksi tubuh Javier yang membeku karena kecupan singkat itu. Dunianya seperti terhenti sejenak begitupun napasnya yang ikut tertahan. Dan setelah tersadar di detik berikutnya Javier menyergap Langit dengan pelukan.
Akhirnya dua anak adam yang saling menjauhi garis edarnya itu kembali menapaki jalur yang seharusnya meski sedikit berbeda. Sebab setelah ini, langkah mereka akan saling beriringan. Untaian benang kusut mereka bukan hanya terurai namun juga perlahan membentuk simpul cantik yang hanya mereka yang memilikinya nanti.
---
Perjalanan pulang terasa lebih sunyi. Sunyinya tak lagi canggung, namun hangat. Mereka berdua berhasil mengejar krl yang akan mengantar mereka pulang setelahnya mereka beralih ke transjakarta. Meski napas mereka memburu itu tak mengurangi bahagia yang mereka raih hari ini.
Beruntungnya mereka mendapatkan kursi, duduk bersisian dengan tangan saling menggenggam. Earphone kabel terhubung di antara keduanya dan kepala Langit bersandar nyaman di bahu Javier. Hari ini begitu menyenangkan namun lelah tak dapat mereka mungkiri, terlebih Langit. Energinya habis.
Javier sesekali mencuri pandang wajah Langit yang terlelap. Wajah itu seolah masih memiliki sisa cahaya matahari sore dan entah mengapa itu membuat dadanya begitu hangat.
Saat bus berhenti di halte dekat komplek perumahan mereka, Javier membangunkan Langit dengan terlampau lembut hingga ia terbangun. “Sudah sampai ya?”
Javier mengangguk.
---
Mereka berdua berjalan menyusuri jalanan komplek yang mulai gelap. Lampu-lampu rumah sudah menyala membantu rembulan menerangi malam. Udara sudah lebih sejuk, suara jangkrik pun terasa lebih jelas. Namun hening di antara mereka tidak pernah terasa lebih aman dari ini.
Di depan pagar rumah Langit, keduanya berhenti. Tak ada yang bergerak lebih dahulu. Pintu pagar pun masih tertutup rapat. Lampu teras menyinari wajah Langit, membuat ekspresinya terlihat lebih lembut dari biasanya. Javier menunduk sebentar, entahlah mendadak jantungnya lagi-lagi berpacu terlalu laju.
“Javi.” Langit memanggil dengan suara lirih, tanpa dialog lebih panjang dia membuka kedua tangan.
Javier mendekat dan akhirnya jarak mereka sepenuhnya hilang. Hangat, seperti pulang.
Mungkin karena pelukan memang pulang untuk mereka, dua orang yang sudah terlalu lama menahan rindu dan akhirnya semesta mengizinkan mereka membayarnya tuntas. Langit menghirup dalam aroma tubuh Javier menjadikannya seolah syarat akhirnya hari itu lengkap.
Begitu jarak kembali mengisi keduanya. “Besok, lo senggang?”
Langit tertawa kecil, sedikit merasa aneh. “Lo nanya begitu kayak sama siapa aja. Kalau mau ketemu tinggal ke sini. Kamar gue masih sama, pintu warna kuning sebelah kamar Sam.”
Kali ini keduanya sama-sama tertawa. “Oke-oke.”
“Dadah, pacar! Jangan kangen!” pekik Javier sebelum akhirnya mundur selangkah dan berjalan ke rumahnya sendiri. Langit yang tadinya sedang membuka gerbang seketika berbalik namun pemilik suara sudah menjauh. Seketika wajah Langit memerah.
Dan ya, hari ini berakhir namun dari sinilah awal bab baru di mulai. Bab yang mereka tulis bersama dengan tinta yang berbeda dari sebelumnya.
