Work Text:
Suasana pagi ini cukup berbeda dari hari biasanya. Chris dapat menyadari hal itu. Setelah hampir satu tahun mereka tinggal bersama, Seungmin tidak pernah menunjukkan perilaku seperti ini.
Sembari memegangi sebuah termometer, Chris menatap Seungmin yang terbaring dikasur dengan sebuah plester dahi pereda demam. Beberapa angka terlihat di termometer yang ia pegang, tigapuluh delapan derajat Celcius. Suhu yang cukup tinggi, Chris jadi ikut memegangi kepalanya, karena pusing.
Kalau sudah begini, lebih baik ia izin untuk merawat Seungmin sementara waktu. Changbin, ku harap kau tidak menyerah, batin Chris dengan nada memohon. Di sisi lain, Changbin yang sedang mengecek beberapa berkas di ruang arsip tiba-tiba saja merasakan hidungnya terasa gatal.
"Ugh—efek debu kali ya."
Kembali lagi, Chris akhirnya memilih mengerjakan beberapa tugasnya di rumah. Haruskah Chris mengirimkan kata-kata motivasi berisi 'Changbin pemuda kuat, Changbin pemuda tabah'? Ya semoga Changbin menerima gaji yang sesuai dengan memiliki bos seperti Chris.
Suara bel apartemen memecah keheningan, itu pasti bubur yang Chris pesan untuk Seungmin. Chris lebih memilih untuk memesan bubur daripada menghancurkan dapur kesayangan Seungmin. Ia bangkit lalu segera pergi menuju pintu depan kamar apartemennya untuk mengambil bubur itu, lalu menghidangkannya kepada Seungmin.
Pintu kamar mereka dibuka, terlihat Seungmin yang masih dengan mata terpejam berbaring di kasur. Pemandangan yang sangat menyedihkan bagi Chris, tiba-tiba saja dirinya rindu dengan sifat Seungmin yang cerewet.
Chris meletakkan mangkok berisi bubur di atas nakas. Ia menepuk pelan pundak sembari menggoyangkannya, berusaha membangunkan Seungmin dengan pelan.
Berhasil, Seungmin mengedipkan beberapa kali kelopak matanya. Chris membantunya untuk duduk bersandar di sandaran kasur yang telah ia berikan sebuah bantal. "Yuk makan dulu, biar cepet sembuh." Ia mengambil mangkuk itu, mengaduknya sedikit agak bubur itu tidak terlalu panas untuk Seungmin makan, kemudian mengambilkan satu sendok yang akan ia suapkan untuk Seungmin.
Chris menyuapinya bubur, "Ayo makan dulu, babe." Dengan ogah-ogahan Seungmin tetap menerima suapan yang diberikan.
Satu suap, dua suap, tiga suap, ia masih menelan bubur itu. Tetapi, sejak dari tadi nafsu makannya tidak naik, ia tidak merasa lapar sama sekali. Pada suapan berikutnya Seungmin sudah terlalu malas untuk membuka mulutnya, "tinggal dikit lagi ini. Dihabisin ya?" Seungmin menggeleng tidak ingin. "Udah kenyang." Ia memegangi perutnya sembari menutup matanya.
"Nanti kalo gak dihabisin buburnya nangis loh," Chris masih gigih memberinya suapan bubur itu. "Gak mungkin, Chris."
"Mungkin—ayo suapan terakhir ini," tangannya tak lelah memberikan suapan bubur itu pada Seungmin, "Baru habis itu kamu tidur lagi."
Melihat tidak ada reaksi lagi, Chris menyadari Seungmin sudah tertidur saat ini. Ia membenarkan posisi tidur Seungmin yang terlihat kurang nyaman. Lalu pergi untuk membereskan mangkok yang kotor dan mengerjakan pekerjaannya. Sebenarnya ia cukup bimbang saat ini. Haruskah ia mengerjakan pekerjaannya di kamar saja? Sembari menemani Seungmin bila ia butuh apa-apa. Tetapi dirinya lebih takut mengganggu Seungmin yang sedang tertidur.
Keesokan harinya, Seungmin bangun dengan kondisi tubuh yang bugar. Plaster dahi pereda demam yang ia gunakan bahkan sudah terlepas. Ia bangkit, merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal karena seharian hanya bisa berada di ranjang.
Chris keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya yang basah. Bau sabun mandi yang segar tercium, Seungmin cukup heran karena mereka berdua menggunakan sabun dengan merek yang sama, tetapi ia tak pernah mencium aroma sesegar ini. Apakah Chris menggunakan seluruh sabun mandi untuk satu kali mandi??
"Gimana udah mendingan badannya?" Chris menyalakan hairdryer untuk mengeringkan rambutnya. Seungmin mengangguk, rasanya sudah jauh lebih baik dari kemarin.
"Aku bosen, jalan-jalan yuk!" Ia menampilkan wajah yang menurutnya paling menggemaskan untuk meluluhkan Chris. Awalnya Chris ingin menolak, terlebih kondisi Seungmin yang terlihat memprihatinkan saat sakit, tetapi ia begitu bosan berada di rumah saja.
Sebenarnya Seungmin memiliki pekerjaan. Ia memiliki sebuah toko dessert yang ia bangun bersama sahabatnya Felix. Karena kondisi kesehatannya kemarin dan juga Felix yang tengah berlibur di Australia, berakhirlah dengan keputusan untuk menutup toko itu sementara waktu hingga setidaknya Seungmin pulih. Mereka sendiri belum sempat mencari karyawan yang akan membantu karena terlalu sibuk. Mungkin ia harus berdiskusi dengan Felix tentang membuka lowongan pekerjaan bagi toko mereka.
"Yaudah kalo gitu, kita nanti jalan-jalan." Seungmin langsung memeluknya dengan erat, Chris hampir jatuh menimpa Seungmin karena tidak siap akan tingkah pemuda itu. "Tapi, kita baru bisa jalan-jalan nanti sore. Aku habis ini mau meeting dulu sama ngecek kondisi barang yang baru sampe sama Changbin. Gimana?"
Seungmin mengangguk setuju, begini lebih baik daripada ia malah tidak jadi pergi keluar.
Waktu terus berjalan, Seungmin menghabiskan sisa waktunya dengan menonton televisi sembari memakan beberapa snack simpanan yang berada di laci dapur. Inilah alasan ia sangat melarang Chris mendekati dapur, selain karena takut bila Chris menghancurkan dapur kesayangannya, ia juga menyimpan beberapa 'snack terlarang' yang sangat amat dilarang Chris.
Senja mulai terlihat dari jendela kaca apartemennya, disusul oleh suara bel dan pintu yang terbuka. Chris sudah pulang, beruntung ia telah bersiap-siap sebelumnya.
"Langsung aja ini?" Chris merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah sembari menaruh tas laptopnya di meja. Seungmin mengangguk, ia datang membawakan Chris segelas jus jeruk. "Nih minum dulu, habis ini kita pergi jalan-jalan."
Mengendarai sebuah mobil mereka tiba di sebuah pasar malam yang berada di dekat taman kota. Ya tetapi itu membuat mereka harus parkir cukup jauh dari sana. Suasana yang ramai, banyak anak-anak bermain di taman kota bersama orang tua mereka, stand makanan berjejer di sana. Tentu, Seungmin datang bukan untuk bermain, tetapi mencicipi berbagai jajanan baru yang ia temukan di sana. Trend makanan memang tidak ada habisnya.
"Mau main atau beli jajan aja babe?" Chris berjalan sembari menggenggam tangannya. Rasanya begitu hangat. "Aku masih belum mood main, mau jajan aja." Chris mengangguk, ia berjalan memimpin di depan. Kapan sih Chris menolak permintaan Seungmin? Membelah lautan manusia sembari menggenggam tangan Seungmin. Rasa lelahnya kini tergantikan dengan raut sumringah yang Seungmin tunjukkan.
Mereka berada di sana hingga cukup larut. Beberapa stand telah ditutup oleh pemiliknya. "Langsung pulang aja yuk?" Chris mengangkat beberapa jajan yang saat ini ada pada genggamannya. "Liat, udah banyak. Emang kamu bisa ngehabisin segini banyak?" Hanya gelengan serta senyum lebar yang Chris dapat. Ia menggeleng pelan. Dasar anak ini, batinnya.
Karena sudah cukup lelah, Seungmin akhirnya setuju untuk mengakhiri sesi jalan-jalannya lalu pulang ke apartemen. Toh beberapa stand sudah ditutup karena sebentar lagi acara akan berakhir. Mereka tiba di apartemen cukup larut.
Chris membuka pintu sembari menyalakan lampu. Ia menaruh beberapa jajanan di meja dapur lalu mengecek kondisinya satu persatu. Berbeda dengan Seungmin yang kini justru berbaring di sofa dengan posisi tengkurap. Energinya habis dilahap oleh suasana ramai di sana.
"Babe, ini jajannya gimana?" Chris memanggilnya dari arah dapur. Seungmin tidak merespon apa-apa, berjalan dengan lemas menghampiri Chris. Beberapa disana masih layak makan, sisanya sudah cukup berbau. Mungkin karena itu memang bukan tipe makanan yang tahan kedap udara terlalu lama.
Seungmin menutup kembali kantung plastik dengan makanan yang sudah cukup berbau itu, ia merasa tidak mengantuk lagi setelah mencium aroma yang keluar dari sana. "Kamu buang aja deh. Gak mungkin juga kan mau dibagiin" Seungmin meminum segelas air putih, ia begitu haus setelah banyak berjalan.
"Sisanya yang masih enak simpen aja di kulkas. Besok bisa dibagiin ke tetangga atau pak satpam." Ia mengambil beberapa kotak donat isi dan sebuah es yang telah dibeli ke ruang tengah. Menyalakan televisi sembari memilih tontonan yang ia tonton untuk menemaninya menghabiskan jajanan itu.
Chris menyusul setelah merapikan kekacauan yang ada di dapur, merebahkan dirinya di sofa dengan paha Seungmin sebagai bantalnya.
"Kamu kalo capek ke kamar aja Chris," Seungmin berbicara sembari mengunyah donat. "Aku masih mau ngabisin donat ini."
"Gapapa ku temenin, nanti kita sikat gigi dulu sebelum tidur." Suara Chris terdengar serak diakhir.
"Iya deh." Sudah terlalu larut, dengan cepat Seungmin menghabiskan seluruh jajalan yang ada di meja. Ia menepuk pelan pipi Chris yang saat ini tengah memejamkan matanya, bermaksud untuk membangunkannya, "Chris bangun, kita gosok gigi dulu habis itu pindah ke kamar" Ia bangkit setelah Chris duduk, membuang semua bungkus makanan yang kini tak berisi kedalam sampah.
Tidak banyak bicara karena terlampau lelah, Chris pergi menuju kamar mandi lebih dahulu, meninggalkan Seungmin yang kini masih mematikan televisi. Ia tidak ingin protes, Chris sudah terlalu lelah karena menurutinya untuk jalan-jalan hari ini.
Setelah beberapa saat, Seungmin pergi menyusul Chris yang telah tertidur. Suara nafas Chris saat tidur dan jam dinding yang berdetak membuatnya mengantuk.
Tiba-tiba, Seungmin terbangun setelah mendengar suara tangisan seseorang dari arah dapur. Dengan cukup panik, ia membangunkan Chris yang masih terlelap. "Chris, babe, bangun. Aku denger ada yang nangis dari dapur."
"Apasih babe, aku gak denger apa-apa." Chris menguap sembari mengusap matanya agar bangun. Tetapi ia tak mendengar suara yang dimaksud oleh kekasihnya, "udahlah langsung tidur aja, kamu ngehalu kali babe."
"Ih beneran, dari tadi nangisnya gak berhenti tau." Namun, justru suara dengkuran halus Chris yang terdengar.
Awalnya Seungmin coba untuk memejamkan matanya, berusaha tertidur dengan suara yang tangis yang menurutnya sangat mengganggu. Tetapi, itu tak berefek apa-apa. Ia justru semakin tidak bisa tertidur.
Dengan nekat, ia menyibak selimutnya lalu mengambil sebuah sapu yang tergantung di sudut kamar. Ia berjalan pelan, tetapi pasti, membuka pintu kamarnya, kemudian mendekati suara itu sembari memegang sapu dengan pose kuda-kuda.
Benar, suara bising itu berasal dari dapur. Lebih tepatnya dari tong sampah. Kebingungan, ia mencoba mengecek apa yang bersuara dari sana. Terlihat sebuah makanan yang tadi telah ia dan Chris buang, sedang menangis tersedu-sedu selayaknya bayi yang merindukan ibunya.
Menyadari kehadiran seseorang, ia menatap Seungmin dengan ekspresi yang menurutnya sangat aneh. Seungmin menganalisis, makanan itu memiliki tangan dan kak, ia juga memiliki wajah. Dan berperilaku selayaknya bayi.
Oh tuhan, Seungmin mungkin memang sedang berhalusinasi saat ini. Ia mencoba mencubit salah satu pipinya, hanya sakit yang ia rasakan.
Dengan rasa jijik, Seungmin akhirnya mengambil kantung plastik itu lalu membawanya ke meja dapur. Saat plastik itu dibuka, semua menjadi gelap. Hanya ada kegelapan di sana. Bahkan Chris dan seluruh isi apartemennya menghilang begitu saja.
Seungmin melihat ke arah makanan yang tadi telah ia buang, ia mengatakan sesuatu. "Kau! Beraninya mendapatkanku lalu kau buang begitu saja?!" Makanan itu memarahi Seungmin?
"Tapi kamu sudah bau, dan sudah tidak layak dimakan. Jadi kami memilih untuk membuangmu saja."
"Dasar tidak punya sopan santun, kau tidak pernah menghargai makanan remeh seperti kami." Setelah itu terlihat berbagai makanan basi yang datang entah dari mana, mendekatinya. Tiba-tiba mereka semua berkumpul, menjadi satu membentuk sebuah bola raksasa.
Seungmin mundur perlahan, tetapi bola itu maju, mengikuti arah Seungmin pergi. Dengan sigap, Seungmin berlari, mencoba untuk menjauh, tetapi bola itu terlalu besar dan cepat! Ia tak sanggup lebih lama lagi. Akhirnya bola itu semakin mendekat dan bam!
Seungmin terbangun dari bunga tidurnya dengan kondisi terengah-engah dan badan yang penuh dengan keringat. Ia mengingat semua itu, kemudian menangis tersedu-sedu meski mengetahui itu semua hanyalah mimpi. Ia tidak berjalan-jalan dengan Chris setelah sakit, ia juga tidak membeli jajan di pasar malam.
Chris yang mendengar Seungmin menangis dengan sigap datang berlari menuju kamar untuk mengecek kondisinya. Meninggalkan seluruh pekerjaan dan dokumen yang ada di meja ruang tengah. "Kamu kenapa? Kok nangis sih?"
"Buburnya.." Seungmin mengelap air matanya yang terus turun dengan kain dari lengan piyama yang ia kenakan.
Chris bingung mendengar hal itu, ia mendekat ke arah Seungmin, duduk di pinggir ranjang. "Buburnya kenapa? Kamu mau lagi?" Ia diam sejenak, berusaha menghentikan tangisnya. Seungmin menarik nafasnya lalu menjawab, "Aku mau bubur yang sisa tadi.." Mendengar hal itu, Chris menghela nafas lega. Ia kira Seungmin menangis karena apa.
"Udah dibuang. Kan kamu udah nggak mau tadi." Bukannya berhenti, Seungmin justru semakin menangis dengan kencang.
Chris justru semakin panik saat ini, "kamu mau buburnya lagi?" Dia membuka handphonenya, mengetikkan sesuatu di sana, lalu menunjukkan tempat dimana dia membelikan bubur itu untuk Seungmin. "Kalo kamu mau aku pesenin lagi." Seungmin hanyak menggeleng. Ia tak mengerti mengapa dirinya menangis setelah bermimpi perihal sepele seperti ini.
Dengan sesegukan, Seungmin akhirnya berbicara lagi. "Katanya nanti.. Kalo makanannya gak dihabisin bakal nangis. Jadi, mana sisanya? biar Seungmin habisin.."
Hening selama beberapa saat, kemudian Chris justru tertawa lepas setelah mendengar apa yang Seungmin katakan. "HAHAHA—aduh!" Meski masih lemas tenaga Seungmin masih tersimpan untuk memukul Chris.
"Kok kamu malah ketawa sih!" Seungmin memasang muka dengan ekspresi cemberut. Bibirnya mungkin sudah maju sepanjang dua centimeter ke depan. Chris semakin tak dapat menahan tawanya. Dia mengusap sebagian air mata yang keluar dari sudut matanya karena tertawa.
Chris menggeleng pelan, "Maaf hehehe. Habisnya lucu banget." Ia memeluk Seungmin sembari membubuhkan seluruh muka Seungmin dengan ciuman.
"Kamu percaya pas aku bilang soal buburnya nanti nangis?" Tak mengelak, Seungmin langsung mengangguk. "Tadi kamu bilang gak mungkin, yaudah ku biarin aja. Gak taunya malah beneran percaya."
Seungmin langsung meliriknya dengan tatapan tajam, "emang cuma boongan?"
"Dibilang bohong juga nggak sih. Itu cuma perumpamaan aja." Chris menggenggam lembut tangan Seungmin. Kemudian mencium kedua punggung tangan Seungmin. "Soal bubur yang kalo gak dihabisin bakal nangis itu tuh cuma perumpamaan."
"Maksudnya ya, bukan berarti buburnya nangis beneran tuh nggak ya. Arti nangis tuh lebih punya makna kayak perjuangan kita buat dapetin makanan itu." Ia mengelus kepala Seungmin dengan pelan.
"Biasanya sih ini dipake buat nakut nakutin anak kecil. Jadi digambarin secara sederhana. Makna aslinya lebih dalam lagi. Intinya, ada orang yang susah buat dapetin makanan, ada juga yang nggak. Makanan itu dibuat pake keringat dan tangis darah seseorang, buat menghidangkan makanan yang siap makan dan dikasih ke kita."
Chris mengambil nafas sebelum berbicara lagi. "Nah, kita yang udah enak dapetinnya masa gak bisa menghargai jerih payah yang mereka buat? Anggep aja, juga sebagai bentuk buat menghargai jerih payah kita nyari uang beli makanan itu. Kedengarannya sepele, tapi kalo gak ada uang juga gak bisa beli kan? Makanya aku bilang buat ngehabisin makanan tuh seenggaknya kamu juga menghargai diri kamu sendiri. Ngerti kan?"
Setelah berbicara seperti itu, Chris justru mendapati Seungmin yang kembali menitihkan air matanya. Ia mengusap air mata itu dengan pelan sembari terkekeh. "Kenapa malah nangis lagi sih?"
"Kamu cerita sedih-sedih sih."
"Loh bukan cerita sedih ini. Aku kan cuma ngejelasin maksud dari perumpamaan yang aku bilang babe." Chris memberikan sebuah pelukan hangat kepada Seungmin, berharap pemuda itu dapat tenang dan berhenti menangis.
Chris melepaskan sejenak pelukan yang ia berikan kepada Seungmin. "Gini aja, kalo kamu ngerasa sedih pas denger ini. Mulai sekarang janji buat berusaha ngehabisin makan kamu. Gimana? Janji?" Ia menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Seungmin.
Seungmin mengangguk pelan, "Seungmin janji buat nggak buang-buang makan lagi." ucapnya dengan tegas.
Terkekeh, Chris kembali memeluk pemuda itu hingga mereka berbaring di atas kasur. "Pinternya, aduh jadi makin sayang deh." Adegan Chris yang terus membubuhkan ciuman pada muka Seungmin. Mulai dari dahi, kedua pipinya lalu kedua matanya, turun menuju hidungnya dan terakhir di bibir Seungmin.
Chris bersembunyi di ceruk leher Seungmin, mencium aroma yang menguar dari sana. "kamu kalo nangis ternyata makin cantik ya, babe—ugh"
"Gombal." Balas Seungmin secara singkat dengan tangannya memukul punggung Chris secara tiba-tiba.
Siang itu berakhir dengan kondisi Seungmin dan Chris yang tertidur sambil berpelukan. Lupakan soal pekerjaan Chris yang masih dalam kondisi memprihatinkan karena tidak dipedulikan olehnya.
