Actions

Work Header

The Child Who Came Back for a Happier Ending

Summary:

Ia adalah anak yang tidak pernah seharusnya ada dalam cerita yang asli. Ia adalah anak yang rapuh, dibentuk oleh keadaan yang tidak pernah memberinya kesempatan untuk benar-benar tumbuh, tidak pernah memberinya waktu untuk bertemu dengannya, bahkan untuk sekadar memanggilnya “Papa.”

Namun ketika seorang dewa memberinya satu kesempatan yang mustahil, ia kembali ke masa lalu, ke waktu sebelum tragedi terjadi, sebelum segalanya runtuh, sebelum masa depan yang pernah menghancurkannya bahkan sempat dimulai. Ia datang sebelum keberadaannya sendiri, diam tanpa diketahui siapa pun, hanya membawa kenangan yang mulai memudar dan hati yang sudah lebih dulu belajar bagaimana rasanya kehilangan segalanya.

Dan karena itu, ia membuat sebuah pilihan. Ia akan menulis ulang hidup ini, perlahan dan dengan hati-hati, memperbaiki apa yang dulu hancur, menjahit kembali masa depan yang tidak lagi berakhir dengan luka. Ia akan bertahan, akan tetap tinggal, dan mengubah segalanya semampunya karena kali ini, ketika cerita ini benar-benar mencapai akhirnya, ia akan mengucapkan selamat tinggal dengan benar.

Notes:

Hai, aku sedang mencoba menulis fanfiksi ShenGao pertamaku karena aku sangat menyukai mereka. Ceritanya tidak mengikuti novelnya karena aku belum membacanya dan hanya tahu beberapa poin penting.

Cerita ini sangat ramah bagi penggemar Shen Wenlang, mungkin ada sedikit kritik terhadap karakter lain, tapi hanya sebatas ringan. Jadi, saya peringatkan agar tidak membacanya jika Anda tidak menyukainya atau jika Anda bukan penggemar setia Shen Wenlang.

Fyi, saya juga upload dalam bahasa Inggris. Semoga Anda menyukainya ^~^

Chapter 1: Threshold

Chapter Text

Hujan turun tanpa ampun, begitu deras dan berat, seolah langit sedang menumpahkan seluruh amarahnya kepada dunia yang masih berani bernapas di bawahnya. Air jatuh dalam tirai kelabu yang rapat, memukul trotoar dan jalanan dengan suara yang nyaris memekakkan telinga, menciptakan genangan yang berkilau di bawah lampu jalan yang redup.

Napasku tersengal-sengal, kasar dan tidak teratur, setiap tarikan udara harus dipaksa keluar dari paru-paruku yang memberontak. Dadaku terasa seperti dicengkeram oleh tangan tak kasatmata lalu diperas tanpa belas kasihan. Setiap kali aku mencoba menarik napas lebih dalam, rasa sakit menyusup tajam ke dalam dada seperti pecahan kaca yang menancap perlahan di paru-paruku.

Rambutku basah kuyup, menempel di wajah dan leher, sementara pakaianku berat oleh air hujan yang meresap hingga ke serat kain paling dalam. Dinginnya menembus kulit, merambat ke tulang, membuat tubuhku gemetar tanpa kendali. Namun meski kakiku terasa berat, meski pandanganku mulai kabur dan dunia di sekelilingku seperti berputar perlahan, aku tetap memaksa diri melangkah ke depan. Aku tidak boleh berhenti. Aku tidak bisa berhenti. Jika aku berhenti sekarang, maka semuanya benar-benar akan berakhir.

“Sedikit lagi… sedikit lagi saja…”

Gumamku lirih di sela napas yang kacau, suaraku hampir tenggelam oleh deru hujan yang jatuh tanpa henti. Aku menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokan, lalu kembali memanggil nama yang terus berputar di dalam kepalaku sejak tadi.

“Papa… tunggu aku.”

Kata itu keluar dari bibirku seperti doa yang rapuh, seperti harapan yang sebenarnya sudah lama kuketahui tidak akan pernah terjawab. Entah sudah berapa kali aku mengucapkannya sepanjang perjalanan ini, dan aku tahu jawabannya tetap sama. Tidak akan ada suara hangat yang menyahut dari kejauhan, tidak akan ada langkah kaki yang mendekat untuk menyambutku. Yang menungguku hanyalah sebuah batu nisan dingin dengan namanya terukir di sana, sunyi dan tak bernyawa. Namun bahkan jika itu satu-satunya hal yang tersisa darinya, aku tetap ingin datang. Tidak, aku harus datang. Jika tidak sekarang, maka aku tidak akan pernah sempat lagi.

Langkahku semakin goyah ketika rasa nyeri itu kembali menyerang dadaku, jauh lebih tajam dari sebelumnya. Napasku kacau, tenggorokanku terasa seperti disayat dari dalam, dan setiap gerakan tubuhku seolah ditentang oleh sesuatu yang jauh lebih kuat daripada kehendakku sendiri. Aku terhuyung sedikit, satu tangan mencengkeram dada dengan putus asa seolah bisa menahan rasa sakit itu agar tidak menghancurkanku dari dalam.

“Jangan sekarang…” bisikku pelan, hampir tidak terdengar bahkan oleh diriku sendiri.

“Tolong… jangan sekarang.”

Aku bahkan tidak tahu kepada siapa aku memohon. Kepada tubuhku sendiri yang sudah terlalu lelah, atau kepada Tuhan yang selama ini terasa begitu jauh dan tidak pernah benar-benar mendengarkan.

Aku terus berlari di atas trotoar yang licin oleh hujan, melewati jembatan yang memantulkan cahaya lampu kendaraan dalam garis-garis panjang yang kabur. Klakson terdengar di kejauhan, ban mobil mengiris genangan air, dan seluruh kota tampak seperti lukisan yang perlahan meleleh oleh air hujan. Pandanganku semakin berkunang-kunang, langkahku tidak lagi lurus, namun aku tetap memaksa diri bergerak maju seperti seseorang yang mengejar sesuatu yang hanya bisa ia lihat sendiri.

Lalu tiba-tiba…

Buk!

Tubuhku menabrak seseorang.

Benturan itu cukup kuat untuk membuat keseimbanganku hilang. Kakiku terpeleset di permukaan jalan yang licin, dan sebelum aku sempat menyadari apa yang terjadi, tubuhku sudah jatuh ke aspal dengan suara yang berat. Lututku menghantam permukaan jalan terlebih dahulu, rasa sakitnya tajam dan menusuk, tetapi bahkan itu terasa jauh lebih ringan dibandingkan sesak yang semakin menekan dadaku.

“Ah…” seseorang di depanku terdengar terkejut oleh tabrakan yang tiba-tiba itu.

Aku mencoba membuka mulut, mencoba mengatakan sesuatu, mencoba meminta maaf karena telah menabraknya seperti orang gila yang berlari tanpa arah.

“Maaf…”

Namun kata itu tidak pernah keluar dengan sempurna. Dunia di hadapanku mulai menggelap seperti tirai panggung yang perlahan ditarik menutup. Suara hujan yang tadi begitu keras kini terasa semakin jauh, semakin samar, seolah aku sedang tenggelam ke dasar laut yang sangat dalam. Kesadaranku memudar perlahan, dan di antara sisa-sisa pikiranku yang pecah seperti kaca retak, hanya ada satu kalimat terakhir yang bergema lembut.

‘Papa, aku datang.’

 

 

***

 

 

Ketika aku membuka mata lagi, dunia terasa… salah.

Kepalaku berdenyut hebat, nyeri yang tumpul menjalar dari pelipis hingga ke belakang tengkuk. Bau lembap yang menusuk hidung membuatku meringis tanpa sadar. Perlahan-lahan aku menyadari sesuatu yang aneh. Aku tidak mencium bau antiseptik rumah sakit. Tidak ada suara alat medis, tidak ada langkah kaki perawat, tidak ada cahaya putih yang menyilaukan mata. Sebaliknya, yang ada hanyalah udara dingin bercampur bau sampah dan dinding yang basah oleh embun.

Aku langsung terduduk dengan napas terengah. Jantungku berdegup kencang ketika mataku menyapu sekeliling dengan panik. Dinding bata kusam menjulang di kedua sisi gang yang sempit. Beberapa kantong plastik hitam menumpuk di sudut, sebagian sudah robek memperlihatkan isi yang tidak sedap dipandang. Di ujung gang yang sempit itu, seberkas cahaya matahari pagi menyelinap masuk dan menciptakan garis terang yang kontras dengan bayangan gelap di sekitarnya.

“Ini… di mana?” suaraku keluar serak, hampir terdengar seperti milik orang lain.

Tanganku gemetar ketika menekan dada, memastikan napasku masih ada. Udara masih masuk ke paru-paruku. Masih terasa sakit, tapi jelas… hidup.

“Bukankah… seharusnya aku sudah mati?”gumamku pelan, hampir tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulutku sendiri.

Ingatanku masih sangat jelas. Aku ingat berlari di tengah hujan. Aku ingat jembatan yang licin. Aku ingat benturan keras dan tubuhku yang jatuh ke aspal. Semua itu terjadi di malam hari. Namun sekarang cahaya matahari menembus ujung gang dengan hangat, seolah dunia baru saja memulai hari yang baru.

Aku berdiri dengan tertatih, kepalaku masih terasa ringan seperti kapas. Setiap langkah yang kuambil terasa aneh, seperti berjalan di dalam mimpi yang terlalu nyata untuk disebut mimpi.

“Aku… pingsan?” tanyaku pada diri sendiri, mencoba mencari penjelasan yang masuk akal.

Gang sempit itu akhirnya berakhir setelah beberapa langkah lagi. Begitu aku keluar, dunia yang jauh lebih bising langsung menyambutku. Klakson mobil terdengar bersahutan. Orang-orang berjalan tergesa-gesa di trotoar, sebagian berbicara di telepon, sebagian lagi menenteng tas kerja dengan wajah lelah. Papan iklan toko berwarna-warni berkedip di sepanjang jalan, memantulkan cahaya terang yang membuat mataku sedikit silau.

Aku berhenti di tepi jalan dengan napas tertahan. Ada sesuatu yang mengganggu perasaanku sejak tadi, sesuatu yang terasa salah tetapi aku belum berani mengakuinya bahkan kepada diriku sendiri. Lalu mataku tertumbuk pada sebuah papan iklan digital raksasa di perempatan jalan.

Layar itu begitu besar dan terang hingga hampir semua orang yang lewat pasti melihatnya, bahkan jika hanya sekilas. Gambar di layar berubah perlahan, menampilkan beberapa iklan berbeda. Aku menelan ludah ketika layar itu berganti sekali lagi, dan pada saat itulah tubuhku membeku seketika.

“Tidak…” bisikku pelan dengan suara yang hampir tidak keluar. Kakiku terasa lemas.

“Ini… tidak mungkin.”

Wajah yang muncul di layar itu tidak mungkin tidak kukenal, bahkan bisa dibilang…Aku sangat mengenalnya. Rambut hitam pendek yang jatuh lembut di sekitar dahinya. Sorot mata yang jernih, belum dilanda kelelahan bertahun-tahun yang pernah kulihat di masa depan. Wajah itu tampak jauh lebih muda dari yang kuingat. Bibirku bergetar ketika kata itu akhirnya keluar.

“Mama…?”

Di bawah fotonya, huruf-huruf besar terpampang jelas di layar digital itu, begitu terang hingga terasa kejam.

Dicari Omega Laki-laki.
Harap hubungi xxx atau datang langsung ke HS Group jika melihat individu ini.

Dadaku kembali terasa sesak, namun kali ini bukan karena rasa sakit fisik. Ingatan menghantamku tanpa ampun seperti ombak yang memecah di karang. Aku tahu momen ini. Tentu saja aku tahu. Ini adalah saat Mama kabur… Saat ia meninggalkan Papa tanpa sepatah kata pun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya, yaitu rahasia bahwa ia sedang mengandung aku dan Gege. Tanganku mengepal tanpa sadar.

“Jadi… ini tahun 2020?” gumamku, hampir tidak percaya.

“Tiga belas tahun yang lalu…”

Dunia terasa berputar di sekelilingku, namun untuk pertama kalinya sejak Papa pergi, ada sesuatu yang berbeda di dalam dadaku. Bukan hanya duka yang berat dan kosong. Ada sesuatu yang kecil, hangat, dan menakutkan. Sebuah harapan yang bahkan tidak pernah berani kuimpikan sebelumnya. Aku mengangkat wajahku ke langit yang biru terang, sangat kontras dengan hujan dingin yang membawaku ke sini semalam.

“Apa ini ujian?” bisikku pelan.

“Atau… berkah?”

Tidak ada jawaban yang turun dari langit, tidak ada tanda apa pun yang menjelaskan mengapa aku berada di tempat ini atau mengapa aku tiba-tiba berdiri di masa yang seharusnya telah lama berlalu. Namun di tengah kebingungan yang berputar di kepalaku, ada satu hal yang terasa sangat jelas di dalam hatiku, begitu jelas hingga tidak membutuhkan penjelasan apa pun.

Aku tidak peduli alasan Tuhan melemparkanku kembali ke masa ini, aku tidak peduli apakah semua ini hanyalah mimpi yang terlalu nyata, kegilaan yang lahir dari kesedihan yang terlalu dalam, atau sebuah keajaiban yang bahkan akal sehatku tidak mampu menerimanya. Yang kutahu hanyalah satu hal sederhana namun begitu berat maknanya karena untuk pertama kalinya sejak kehilangan itu merenggut segalanya dariku, takdir memberiku kesempatan yang tidak pernah kumiliki sebelumnya.

Kesempatan itu terasa rapuh sekaligus menakutkan, tetapi juga hangat, seperti cahaya kecil yang tiba-tiba muncul di tengah kegelapan yang selama ini menelanku. Ini adalah kesempatan untuk bertemu Papa sekali lagi, bukan sebagai anaknya yang lahir dari masa depan yang penuh penyesalan, melainkan sebagai orang asing di dunia yang belum mengenalnya sebagai seorang ayah.

Di dunia ini, Papa belum menjadi Papaku, Mama belum melahirkan diriku yang cacat ini, dan takdir yang dulu terasa begitu kejam belum sempat menutup semua jalan di depan kami. Kesadaran itu membuat napasku terasa berat sekaligus ringan pada saat yang bersamaan, seolah dadaku sedang dipenuhi oleh sesuatu yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata.

Aku menatap langit biru di atas kota yang sibuk ini, mendengarkan hiruk-pikuk kendaraan dan langkah orang-orang yang berlalu tanpa tahu bahwa bagiku dunia baru saja berubah sepenuhnya. Di tengah keramaian itu aku bersumpah dalam diam, membiarkan kata-kata itu tenggelam di dalam hatiku tanpa perlu diucapkan dengan suara keras.

Jika takdir benar-benar memberiku kesempatan kedua, maka kali ini aku tidak akan membiarkannya berlalu begitu saja. Apa pun yang harus kulakukan, seberapa sulit jalan yang harus kutempuh, aku akan mengubah akhir dari cerita ini. Kali ini aku tidak akan datang terlambat lagi, dan aku akan mengubah takdirku serta takdir keluargaku sebelum semuanya kembali hancur seperti yang pernah terjadi.

 

 

***

 

 

Di bagian lain kota yang sama, jauh dari gang sempit tempat seseorang baru saja menyadari bahwa takdirnya telah diputar ulang, sebuah gedung perkantoran tinggi berdiri tegak dengan dinding kaca yang memantulkan cahaya siang secara dingin dan tanpa emosi. Di lantai tertinggi gedung itu, di dalam ruang kerja luas yang tertata terlalu rapi untuk disebut nyaman, sebuah suara benturan keras tiba-tiba memecah keheningan.

Map tipis berisi laporan keuangan meluncur di atas meja kayu gelap setelah dibanting dengan kesal, berhenti di tepi meja dengan suara yang membuat sekretaris yang berdiri di hadapannya langsung menahan napas. Shen Wenlang berdiri tegak di belakang meja kerjanya dengan bahu kaku dan rahang mengeras, urat di pelipisnya berdenyut jelas di bawah kulit pucatnya.

Aroma kopi yang masih mengepul dari cangkir porselen di sudut meja seharusnya terasa menenangkan, tetapi bagi Shen Wenlang bau pahit itu justru menambah iritasi yang sudah mengendap sejak pagi. Ia melirik cangkir itu sekilas, lalu mendorongnya menjauh dengan ujung jari seolah benda tersebut telah melakukan kesalahan yang tidak dapat dimaafkan.

“Ini bahkan tidak mendekati,” gumamnya pelan, tetapi nada suaranya tajam seperti bilah pisau yang baru diasah.

Sekretaris di depannya langsung menundukkan kepala lebih dalam. Bahunya menegang dan keringat dingin mulai merayap di sepanjang punggungnya meskipun pendingin ruangan bekerja dengan baik. Ia tahu dari pengalaman bahwa ketika Shen Wenlang berbicara dengan nada setenang itu, suasana hati pria tersebut biasanya jauh lebih buruk daripada saat ia marah terang-terangan.

Shen Wenlang menghembuskan napas pendek, lalu bersandar sedikit pada meja sambil memandang cangkir kopi yang tadi ia dorong menjauh.

“Apa sulitnya membuat kopi seperti yang biasa dibuat Gao Tu?” tanyanya tanpa menoleh.

Sekretaris itu membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar. Ia sendiri tahu bahwa tidak ada kalimat yang akan memperbaiki suasana hati pria di hadapannya. Bahkan Shen Wenlang pun menyadari bahwa pertanyaan itu sebenarnya tidak membutuhkan jawaban. Yang membuatnya gelisah bukanlah rasa kopi yang berbeda, melainkan seseorang yang sudah dua bulan menghilang dari hidupnya tanpa meninggalkan jejak apa pun.

Dua bulan yang seharusnya terasa singkat justru berubah menjadi waktu yang panjang dan menjengkelkan sejak hari ketika Gao Tu pergi tanpa sepatah kata pun. Setiap laporan yang dikirimkan oleh anak buahnya selalu berakhir dengan kesimpulan yang sama yaitu tidak ada petunjuk, tidak ada saksi, bahkan jejak.

Shen Wenlang sudah mengerahkan orang-orangnya menyisir kota demi kota, memeriksa setiap tempat yang mungkin pernah dikunjungi Gao Tu, bahkan menghabiskan uang dalam jumlah yang tidak sedikit untuk memasang potret pria itu di berbagai billboard besar di seluruh negeri. Namun semua upaya tersebut tetap berakhir sia-sia.

“Bagaimana mungkin tidak ada satu pun yang melihatnya?” gumam Shen Wenlang dengan suara yang nyaris seperti bisikan.

Ia mencengkeram sandaran kursinya sedikit lebih kuat. Apartemen kumuh yang dulu ditempati Gao Tu sudah dihuni orang lain, tempat-tempat yang mungkin pernah ia kunjungi sudah diperiksa tanpa hasil, dan bahkan rumah sakit tempat adiknya dirawat tidak lagi memberikan jawaban yang masuk akal. Gao Qing menghilang dari bangsalnya tanpa penjelasan yang jelas, seolah keduanya benar-benar ditelan bumi pada waktu yang sama.

Shen Wenlang menghela napas panjang, lalu mendesis lirih dengan nada pahit.

“Kalian semua tidak berguna,” desisnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri daripada siapa pun.

Namun perusahaan sebesar ini tidak pernah berhenti hanya karena seseorang kehilangan kesabaran. Shen Wenlang akhirnya berdiri tegak, merapikan jasnya dengan gerakan yang kembali terkontrol seperti topeng dingin yang selalu ia kenakan di depan dunia luar, lalu berjalan keluar menuju ruang rapat tanpa mengatakan apa pun lagi.

Rapat tersebut berjalan persis seperti yang ia perkirakan, terlalu panjang, bertele-tele, dan dipenuhi presentasi yang terasa semakin menjengkelkan setiap menitnya. Salah satu direktur masih menjelaskan grafik proyeksi investasi ketika Shen Wenlang tiba-tiba menekan telapak tangannya ke meja rapat dan memotong kalimat itu dengan suara yang dingin.

“Cukup,” potongnya dingin, telapak tangannya menekan meja rapat.

Seluruh ruangan langsung sunyi. Beberapa direktur saling bertukar pandang sebelum menatapnya dengan hati-hati. Shen Wenlang menatap mereka satu per satu dengan ekspresi datar.

“Kita bahas poin inti saja. Sisanya kirim tertulis.”

Salah satu direktur mencoba membuka mulut.

“Tapi, Tuan Shen, ada beberapa detail yang…”

“Saya bilang kirim tertulis.”

Nada suaranya tidak keras, tetapi cukup untuk membuat semua orang memahami bahwa tidak ada ruang untuk berdebat. Shen Wenlang sudah berdiri sebelum siapa pun sempat menanggapi. Ia meraih dokumen di depannya lalu berjalan keluar dari ruang rapat, meninggalkan para direktur yang masih duduk dengan ekspresi kaku. Sekretaris pengganti Gao Tu buru-buru menyusul di belakangnya sambil membawa beberapa berkas tambahan, tetapi langkahnya selalu tertinggal beberapa langkah di belakang.

“Tuan Shen, ada beberapa dokumen yang perlu Anda tandatangani hari ini,” katanya sedikit terengah ketika akhirnya berhasil mendekat.

Shen Wenlang tidak menoleh, tetapi ia bisa merasakan ketidak sigapan itu dengan jelas dan kesadaran kecil tersebut membuat rasa kesal di dadanya kembali muncul. Ia baru saja keluar dari ruang rapat ketika langkahnya terhenti karena melihat sekretaris jenderalnya berdiri menunggu di lorong dengan ekspresi yang jauh lebih tegang dari biasanya. Shen Wenlang mengangkat alis sedikit sebagai isyarat agar pria itu berbicara.

“Tuan Shen,” kata sekretaris itu dengan suara rendah, “ada seorang anak kecil yang sedang menunggu di ruangan Anda.”

Shen Wenlang sebenarnya hendak melanjutkan langkahnya tanpa memikirkan hal itu terlalu jauh, tetapi sekretaris tersebut segera menambahkan dengan nada yang lebih pelan.

“Dia mengatakan bahwa dia tahu sesuatu tentang mantan sekretaris Anda… tentang sekretaris Gao.”

Langkah Shen Wenlang berhenti sepenuhnya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Tanpa mengatakan apa pun ia berbalik dan berjalan menuju ruang kerjanya dengan langkah yang jauh lebih cepat. Harapan yang selama dua bulan terakhir berulang kali ia tekan mulai bergerak lagi, pahit dan rapuh sekaligus.

‘Anak kecil?’

Keraguan menyelinap, namun ia menepisnya. Ia tidak punya kemewahan untuk ragu.

Beberapa menit kemudian, ia sudah berdiri di depan pintu ruangannya sendiri. Tangannya terangkat untuk membuka gagang pintu, tetapi entah mengapa gerakan itu tertahan sejenak di udara. Harapan yang terlalu sering runtuh membuatnya ragu untuk mempercayai kabar ini begitu saja. Ia menoleh sedikit ke arah sekretarisnya.

“Tinggalkan kami,” perintahnya pelan namun tegas.

“Jaga pintu.” Sekretaris itu mengangguk dan undur diri.

Shen Wenlang menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruangan itu, seorang anak kecil sedang duduk di sofa tamu dekat jendela besar. Tubuhnya mungil dan tampak sedikit tenggelam di antara bantal sofa yang besar, pakaiannya terlihat lusuh seperti sudah dipakai terlalu lama, dan dari jarak beberapa langkah Shen Wenlang sudah bisa merasakan aroma samar yang menandakan bahwa anak itu adalah seorang omega.

Ia berhenti sejenak di dekat pintu, menatap anak kecil itu dengan tatapan tajam sambil mencoba memahami mengapa wajah yang tidak pernah ia lihat sebelumnya justru terasa anehnya familiar. Ketika anak itu akhirnya menoleh, tatapan mereka bertemu dan untuk beberapa detik keduanya hanya saling memandang tanpa berkata apa pun.

Shen Wenlang membuka mulut.

“Siapa kamu?”

Namun anak itu tiba-tiba berdiri dari sofa sebelum ia sempat melanjutkan pertanyaannya. Dengan langkah kecil yang tergesa ia berlari ke arahnya. Shen Wenlang refleks mundur setengah langkah, tetapi reaksi itu terlambat karena tubuh kecil tersebut sudah lebih dulu memeluk pinggangnya dengan erat.

“Papa!”

Suara anak itu pecah oleh tangis yang tertahan terlalu lama. Tangannya menggenggam jas Shen Wenlang dengan gemetar.

“Papa… aku akhirnya bertemu denganmu.”

Tubuh Shen Wenlang membeku. Ia menatap lurus ke depan dengan ekspresi kosong sementara kata yang baru saja ia dengar terus bergaung di kepalanya. Anak kecil itu masih memeluknya erat sambil menangis tersedu-sedu.

‘Papa?’

Kata itu bergaung di kepalanya, menghantam sesuatu yang rapuh namun dalam. Shen Wenlang tidak tahu harus bereaksi bagaimana terhadap situasi yang sama sekali tidak masuk akal ini. Tangannya sempat terangkat sedikit seperti ingin melepaskan pelukan itu, tetapi gerakan tersebut berhenti ketika sesuatu yang lain menarik perhatiannya.

Aroma vanila yang lembut namun terlalu manis perlahan menyusup ke dalam indra penciumannya, dan dalam sekejap naluri Alpha di dalam dirinya bangkit dengan keras. Otot-ototnya menegang, rahangnya mengeras, dan tatapannya berubah tajam karena kesadaran yang datang tiba-tiba.

“Berani sekali…” gumamnya dingin.

Dorongan yang ia lakukan berikutnya terjadi begitu cepat dan penuh tenaga. Shen Wenlang melepaskan pelukan anak itu dengan kasar hingga tubuh kecil tersebut terhuyung mundur beberapa langkah hampir jatuh. Feromon iris yang tajam keluar tanpa kendali, memenuhi ruangan dengan tekanan yang berat dan mengancam. Ia menatap anak kecil itu dengan mata dingin sebelum berkata dengan suara rendah yang sarat ancaman.

“Berani-beraninya seorang omega sepertimu menginjakkan kaki di sini dan menyentuhku,” ucapnya dingin, setiap kata mengandung ancaman.

Ia menoleh tajam ke pintu.

“Penjaga,” perintahnya singkat.

Pintu segera terbuka dari luar. Shen Wenlang menunjuk anak kecil itu tanpa mengalihkan pandangannya.

“Bawa dia pergi. Sekarang.”

 

***