Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of abang&adek
Collections:
Anonymous
Stats:
Published:
2026-03-18
Words:
1,719
Chapters:
1/1
Comments:
8
Kudos:
61
Bookmarks:
5
Hits:
845

cerita dirumah sakit

Summary:

pulang sekolah keonho kena keroyok orang

Notes:

smoga markkeon mnjadi bangsa besar

Work Text:

pulang sekolah, sejuk angin sore menerpa wajah keonho yang sedikit memerah karna seharian sekolah.

 

berjalan menuju gerbang depan, keonho mulai diantar jemput oleh papa atau supir mama karna menghindari kenakalan keonho yang lainnya.

 

"hati hati hyeon!" seru keonho pada seonghyeon teman dekatnya, mereka berpisah di area parkir karna seonghyeon memang membawa motor sendiri.

 

keonho berjalan menuju halte, papa izin mungkin agak sedikit terlambat untuk menjemput keonho hari ini, maka dari itu tempat keonho menunggu juga berbeda, setidaknya keonho bisa duduk terlebih dahulu di halte saat menunggu papa, karna biasanya keonho hanya akan menunggu didepan gerbang sambil berdiri.

 

"papa lama" 

 

cukup lama keonho menunggu, sekolah sudah lumayan sepi, keonho sibuk dengan ponselnya, menanyakan kapan papa akan datang, dan memberi kabar pada martin kalau papa akan terlambat menjemput.

 

martin tentu menawari keonho untuk dijemput martin saja, tapi si kecil menolak, katanya khawatir martin akan ketinggalam latihan basket rutinnya.

 

"keonho" 

 

keonho mendongak saat mendengar namanya dipanggil, ah. itu yasha, anak yang dua minggu lalu babak belur ditangan keonho.

 

"udah sembuh lo?" tanya keonho seadanya, melihat pergelangan tangan cowok yang ada di depannya ini masih terbungkus perban.

 

"lihat sendiri anjing" balas yasha.

 

keonho tertawa kecil, tidak ada maksud apapun disana, jujur saja keonho merasa bersalah, keonho juga sudah minta maaf dengan tulus tempo hari.

 

tapi bagi yasha, ucapan maaf itu terdengar seperti hinaan.

 

"gue mau ngomong sama lo" 

 

ucapan dari yasha barusan mengundang gernyit bingung di dahi keonho, ini seperti intro orang akan menyatakan cinta.

 

"lo suka sama gue? gue udah punya pacar" ucap keonho jujur.

 

yasha makin kesal, jadi dengan cepat menarik keonho untuk mengikuti sampai masuk kedalam gang sepi.

 

"woi woi, santai aja anjing" protes keonho saat tubuhnya sedikit terpanting kala yasha mendorongnya berhenti di gang buntu.

 

keonho mengangkat wajahnya, dihadapannya total ada 10 orang, menatap keonho dengan tatapan sok jagoan.

 

"lo masih dendam sama gue yash?" tanya keonho, menoleh kearah yasha yang ada dibelakangnya.

 

lengah, satu tendangan mendarat di perut keonho.

 

anak itu jatuh telentang.

 

"jangan keroyokan kalo berani bajingan!" teriak keonho saat beberapa orang tadi bergerak mendekat.

 


 

keonho babak belur, papa panik bukan main saat melihat keonho berjalan terseok dari dalam gang sore itu.

 

hari sudah hampir gelap, dan papa juga menunggu sambil berkeliling untuk mencari keonho lumayan lama.

 

keonho langsung dilarikan kerumah sakit, tulang metakarpal yang ada di tangan kirinya retak lumayan parah, pelipisnya robek, dengan banyak sekali memar ungu gelap disekujur tubuhnya.

 

martin langsung datang kerumah sakit saat keonho mengirim voice note berisikan informasi rumah sakit tempatnya dirawat.

 

saat martin masuk melalui pintu kamar rawat inap malam itu, keonho tersenyum, senang martin datang.

 

"adek, apa aja yang sakit bilang sama abang" pertanyaan panik itu mengalun sesaat setelah berdiri disisi ranjang keonho berbaring.

 

"nanti di kiss nggak?" keonho bertanya balik dengan pertanyaan yang begitu konyol.

 

seolah luka disekujur tubuhnya tidak ada artinya, seolah rasa sakit yang menghantamnya sore tadi sudah hilang sempurnya.

 

keonho bahkan tidak menangis sama  sekali, justru ekpresi martin yang seolah akan menangis detik itu juga.

 

"iya, abang kiss semuanya nanti ya" ucapan manis penuh penenang itu martin ucapkan, tidak tau maksudnya untuk keonho atau penenang untuk dirinya sendiri.

 

keonho tersenyum, tangan kanannya yang baik baik saja menggapai telapak tangan martin dengan lembut.

 

"maafin adek ya abang, adek luka lagi" 

 

martin menunduk, mengelus puncak kepala keonho lembut dan penuh sayang, dikecupnya dahi keonho tepat disamping pelipis si kecil yang terdapat perban.

 

"abang yang minta maaf, harusnya abang langsung jemput kamu"

 

keonho menggeleng, matanya berbinar penuh cinta seperti biasa.

 

"kan papa udah jemput, adek gak apa abang"

 


 

satu hari setelahnya, keonho dibuat panik bukan main saat mama bilang martin dilarikan kerumah sakit yang sama dengannya.

 

tangan kecil yang terdapat suntikan infus itu mendorong tiang infus dengan gerakan tergesa, menuju ruang rawat martin yang ada disana.

 

mama mengikuti dari belakang, dengan omelan khawatir keonho akan terluka lagi.

 

pintu kamar rawat inap martin didobrak kecil, bahkan mama martin yang sedang meletakkan buah di nakas ikut menoleh kaget.

 

keonho berdiri disana, menatap martin dengan tatapan kosong.

 

mama martin yang mengerti harus memberi ruang untuk dua sejoli ini langsung pamit keluar, sebelumnya mengelus rambut keonho dengan lembut.

 

"martin baik-baik aja sayang" ucapnya sebelum berlalu.

 

baik baik aja apanya?! kepala sisi kanan martin bocor tahu! perban baru yang melekat disana memberi tahu keonho dengan jujur.

 

keonho masih belum mendekat, tubuh kecilnya masih berdiri kaku didepan pintu yang sudah tertutup.

 

"mau sampai kapan disana sayang? abang disini loh" 

 

keonho mulai menangis tanpa suara, nafasnya tidak teratur, kakinya mendekat dengan amat sangat pelan menuju martin.

 

"abang......" 

 

martin tertawa pelan, meraih pergelangan tangan keonho supaya lebih mendekat saat anak itu sudah sampai dihadapannya.

 

astaga, keonho bahkan tidak menangis saat babak belur kemarin.

 

"siapa yang pukul abang?" tanya keonho dengan suara bergetar, kedua tangannya bergerak untuk memeriksa seluruh tubuh martin, sibuk mengangkat baju yang dikenakan martin, mencari luka lain yang mungkin tertutup baju.

 

"pelan pelan sayang, tangannya jangan lupa ya adek, belum sembuh tangannya" ingat martin lembut, meraih pergelangan tangan kiri keonho untuk dibawa turun.

 

keonho sudah biasa melihat martin penuh luka sehabis berkelahi, tapi untuk luka separah ini sampai harus masuk rumah sakit, ini yang pertama kali.

 

keonho berdiri diantara kaki martin yang terbuka di posisi duduknya diatas ranjang rumah sakit.

 

martin tersenyum, tangannya ikut terangkat menyisipkan rambut keonho yang mulai panjang kebelakang telinga.

 

"abang nggak apa adek" 

 

"huh.... jangan bohong! hiks....." 

 

tangis keonho makin kencang, suara tangis itu juga mulai terdengar nyaring.

 

"kepala abang sampai bocor tau!" 

 

lagi-lagi martin tertawa, tangan kanannya meraih pinggang keonho supaya makin mendekat, tubuh mereka sudah menempel sekarang.

 

"ssstttt...... jangan nangis sayang, abang lukanya cuma ini kok" 

 

bujuk martin lembut, si berandal besar ini baru saja berkelahi dengan 10 orang yang mengkeroyok keonho kemarin, martin dendam kesumat.

 

10 orang itu juga luka parah bukan main, hanya saja martin sedikit lengah saat salah satu dari mereka mengarahkan batu besar kearah kepalanya.

 

keonho menggeleng, wajahnya mulai memerah karna menangis.

 

"sakit, pasti abang sakit" 

 

"kalau sudah sama adek, abang udah nggak kenapa napa" 

 

"bohong" 

 

"beneran sayang, udahan nangisnya ya?" 

 

lagi-lagi gelengan yang martin terima, sudah dibilang, keonho memang paling cengeng kalau sudah menyangkut martin.

 

"nanti kalau udah di kiss adek, abang langsung sembuh" 

 

keonho terdiam sejenak, mencoba mengatur nafasnya untuk berhenti menangis.

 

sedangkan martin mendekatkan wajahnya, memberi kecup pada hidung keonho yang sedikit memerah, sesekali menyedot ingusnya masuk.

 

"adek mau kan obatin abang?" tanya martin lagi, mencoba mendistraksi keonho agar berhenti menangis.

 

"m-mau....." 

 

"pinter adek" 

 

keonho melirik kearah perban martin diatas kepala, masih baru, masih basah.

 

"berapa jahitan abang?" 

 

"tujuh jahitan sayang"

 

total tujuh jahitan disana, bukan masalah besar, masalah besarnya adalah dirinya yang harus ketahuan dan membuat keonho menangis hari ini.

 

keonho mengangguk, tangan kanannya yang terdapat infus naik membelai wajah martin lembut.

 

"adek akan kiss tujuh kali ya" 

 

jelas martin senang kalau sudah begini.

 

sedetik setelah keonho berjinjit untuk meraih bagian kepala martin, yang lebih besar menginterupsi.

 

"adek, kissnya disini aja" ucap martin sambil menunjuk bibirnya sendiri.

 

dasar! itu modus namanya!

 

"kan yang luka di kepala" ucap keonho bingung.

 

"kiss disini paling ampuh tau, luka dimanapun langsung bisa sembuh" 

 

keonho bukan anak yang gampang ditipu, tapi entah sejak kapan semua ucapan martin selalu dianggapnya benar.

 

jadi kedua tangan keonho naik perlahan, menangkup wajah martin dengan lembut, sedangkan martin sedari tadi tatapannya sudah naik turun antara bibir dan mata keonho.

 

mengamati paras cantik pacarnya, meskipun banyak lebam yang masih terlihat, seperti di sudut bibir dan tulang pipinya, jangan lupa perban di pelipis.

 

satu kecup lembut mendarat di bibir martin, senyum kecil langsung merekah dari yang lebih tua.

 

disusul kecupan kecupan lainnya, total tujuh kecupan sudah keonho bubuhkan, mata cantik yang berkaca-kaca itu menatap martin dengan tatapan sedih.

 

"cepat sembuh ya abang" ucapnya lembut.

 

martin tersenyum, tangannya mengelus pinggang keonho perlahan, memberikan ketenangan pada pacar kecilnya itu.

 

"naik sini abang pangku" ucap martin.

 

tapi keonho menolak, tubuhnya mendekat, tangannya naik untuk mengalung di leher martin, masuk kedalam dekap hangat pacar besarnya, keonho total tersembunyi kalau dilihat dari punggung martin.

 

"abang masih sakit" ucap keonho pelan, hidungnya mendusal ke leher martin pelan, menghirup wangi maskulin favoritnya didunia.

 

padahal luka keonho lebih banyak, martin sih tentu masih sanggup untuk sekedar memangku keonho yang kecil itu.

 

"abang kan sakitnya dikepala doang sayang, dibanding sama kamu, luka kamu lebih banyak"

 

"tapi adek nggak sakit" 

 

"bohong kalau nggak sakit, abang aja kalau kamu cubit sakit" 

 

satu cubitan keras mendarat di paha martin, membuat martin mengaduh sakit sambil mengelus pahanya.

 

"nah ini lebih sakit dari pada dipukul pakai batu" 

 

"abang diem!!" protes keonho kesal, tapi masih tetap dipelukan martin.

 

martin tertawa, mengelus punggung sampai pinggang keonho dengan lembut, hendak mengangkat keonho seperti biasa takut si kecil akan kesakitan karna lebam disekujur tubuhnya yang pasti masih terasa sakit.

 

"adek naik sini dong abang mohon, abang kangen sama kamu" bujuk martin tidak menyerah.

 

keonho menjauhkan wajahnya dari leher martin, menatap martin lekat, kemudian perlahan mengangkat kakinya.

 

keonho langsung memeluk martin lagi sesaat setelah dirinya nyaman dipangkuan martin.

 

"adek sayang sama abang tau" gumam keonho pelan, tapi tahu betul martin bisa mendengarnya.

 

"jelas"

 

"dasar narsis!" 

 

tawa kecil terdengar setelahnya, martin mendusal dengan gemas diceruk leher keonho.

 

"abang juga sayang banget sama adek, makasih udah dateng ke kehidupan abang ya sayang" 

 

keonho menarik kepalanya menjauh, tanpa aba-aba mengecup pipi martin dengan ringan, senyumnya juga tidak luput untuk ditunjukkan.

 

demi apapun, martin berdebar bukan main saat ini, salah tingkah dengan apa yang keonho lakukan.

 

"kiss lagi dong" pinta martin.

 

satu kecupan di pipi kiri.

 

"lagi"

 

satu kecup di dahi.

 

"lagi" 

 

dua kecup di kedua mata martin, yang lebih besar tertawa geli, tangannya tidak lepas memeluk pinggang kecil keonho sayang.

 

"lagi" 

 

satu di hidung, dan satu di dagu.

 

martin tersenyum gemas, bergerak mendekat mengecup pipi keonho gemas.

 

menghirup wangi dari pipi keonho dalam dalam, diusak hidung bangirnya di pipi tembam si kecil.

 

"jangan gigit!!" 

 

terlambat, martin sudah tidak kuasa menahan gemas.

 

keonho merengek, terpekik kecil sambil berusaha menjauhkan martin dari pipinya.

 

"sakit! itu sakit abanggg!!" 

 

dengan tidak ikhlas martin menjauh, menatap pipi keonho yang sudah ada bekas gigi disana, merah padam menggemaskan.

 

"kamu gemes banget adek!" 

 

keonho tidak menanggapi, matanya berkaca-kaca lagi, bekas menahan pedih di pipinya.

 

"tapi adek nggak suka di gigit" protesnya.

 

martin mengangguk, kemudian mengelus pipi keonho.

 

"maaf ya adek sayang, abang kegemesan sama kamu" 

 

hmmm, lagian siapa juga yang tidak gemas dengan keonho.

 

siapa sangka juga pasangan berandal yang sering di cap red flag itu bisa bucin tingkat dewa seperti ini, kali ini juga mereka punya couple infus rumah sakit.

 

 

 

 

 

 

 

 

Series this work belongs to: