Actions

Work Header

爱屋及乌 (Ai wu ji wu)

Notes:

Cerita ini fiksi. Nama, karakter, pekerjaan, acara, dan kejadian adalah murni karangan dari penulis. Segala bentuk kemiripan dengan orang sungguhan, hidup atau mati, atau kejadian lain adalah sebuah kebetulan. I find nothing.

Perubahan nama disengaja untuk keperluan cerita.

Juhoon as Jonathan
Seonghyeon as Sevanya
Martin as Mischa
Keonho as Kenan
Woojin of LNGSHOT as Wafa

Ini adalah work HoonHyeon pertamaku, so please be nice!☺️

Selamat membaca!<3

Work Text:

"Menurut lo, Pantheon waktu dulu dibangun pake apa ya? Kan belum ada acad sama sketchup ..."

"Pake duit."

"Sialan! Lo ngejawab kayak bukan anak arsi ..."

"Mikirlah, su! Gue literally baru pindahan. Ini kita rebahan di kasur karna capek, terus lu nanya Pantheon digambar pake apa?"

 

Dua lelaki umur dua puluh yang sedang membaringkan badannya masing-masing setelah lelah memindahkan barang pindahan, Jonathan si Tuan Rumah yang merebahkan tubuh di atas ranjang kebesaran miliknya, sementara Mischa si Teman di atas sofa.

Mereka adalah mahasiswa juruan teknik dengan program studi berbeda, Jonathan memilih arsitekㅡmungkin di sini lebih dikenal Sekolah Arsitek bukan Fakultas Teknik, ia memilih arsitek sebagai juruan pendidikan yang ia ambil karena sejak sekolah menengah atas, pelajaran seni perspektif menjadi favorit baginya dan sering menjelajah bangunan bagus sewaktu kecil menjadikan ia ingin menciptakan mahakarya yang bisa membuat orang ternganga tiap kali melihat bangunan sepertinya juga, sementara Mischa itu anak teknik sipil.

Pantaslah keduanya sering bersama berdua, karena memang nyatanya mereka datang dari satu SMA yang sama dan kini berada di kampus sama pula.

Sebetulnya mereka bukan asli kota sini, Jonathan dan Mischa berasal dari bagian tengah yang menempuh pendidikan di salah satu kampus terkenal di bagian barat negara. Sehari-hari habiskan waktu hanya untuk mengerjakan tugas yang tak ada matinya dan itu malah menjadi keuntungan karena bisa dibilang keduanya memiliki hubungan sosial yang cupu alias tidak bisa gaul! Tapi anehnya Jonathan ini bisa menjadi salah satu mahasiswa yang terkenal di program studinya, entah kenapa.

Kalau Mischa terkenal itu jangan ditanya mengapa, itu karena dia menjadi paling menonjol alias salah satu dari beberapa anak jangkung saat awal ospek.

Posisi nya mereka sedang berada di tempat tinggal baru Jonathan karena memasuki semester tiga ini, mereka sudah tidak tinggal di asrama.

"Ada baiknya lu nyari pacar biar kagak sensian, terus pas pindahan gini dibantuin, abis itu dimasakin karna lu capek."

Mischa bersuara, ngasal.

"Bacot! Lu ngomong kayak yang udah punya pacar aja," timpal Jonathan. "Tiap hari ngerjain tugas, mana ada waktu buat nyari pacar." Lanjutnya lagi masih dengan mata yang tertuju pada layar gawai.

"Habisin kuliah cuma kuliah pulang kuliah pulang, sayang banget sih. Apalagi ini kota banyak banget yang cantik, gue tadi ketemu sama maba yang bikin gue bilang wow ... kok bisa?"

"Kenapa tuh? Kok bisa sampe ngomong gitu?" Tanya Jonathan tak perlihatkan rasa penasaran.

"Dia cantik banget, ege! Pas gue liat ke dia, gak sengaja eye contact terus dia senyum MANIS BANGET SUMPAH kayak permen kapas, tarikan wajahnya lembut, rambutnya diselip di telinga, pipinya kentit, anjing! lucu banget. Kalo disejajarin sama gue, kepalanya cuma sampe di dadaㅡ"

"Itu karna elo yang ketinggian, Mischa bego! Mana ada pula cewek setinggi lo?!"

"Dia cowok, btw."

"BAJILAK?!"

"Dia cowok, anjing! Denger kagak lu?!"

Jonathan yang tadi santai langsung terbangun dari terbaringnya dan tatap Mischa tak percaya seolah sudah mengucap kata yang penuh dosa.

"Denger, gue cuma kaget aja. Gak ekspektasi kalo yang dideskripsikan sedemikian rupa cantik sama lo itu cowok."

Mendengar itu buat Mischa mengangkat bahunya, "ya, emang kenapa? Cantik buat cowok juga bisa. It's general ... lo juga kalo muji gambar bangunan lo sendiri sering 'anjing, cantik banget gambar gue' 'cantik banget kamu, sayang' gitu, pas itu lo mikir gambar lo cewek kah?"

Jonathan diam sepenuhnya.

Kembali memori terulang lagi saat pertama kali tinggal di Kota ini, ia mendapati seorang lelaki berpacaran dengan sesama jenis lagi. Begitupun sebaliknya, perempuan dengan perempuan.

Terbiasa hidup di lingkungan yang menurutnya normal lalu kali ini tinggal di lingkungan yang 'bangun' membuat ia sedikit mengalami gegar budaya. Di Kota asalnya dengan Mischa, hal ini masih menjadi tabu atau disembunyikan namun kali ini ia sedang merantau di Kota di mana hal tersebut sudah mulai dinormalisasikan dan jarang dipendam.

Apalagi mendengar pernyataan sahabat semasa sekolah nya yang kini juga seperti ikut terbawa arus, rasanya Jonathan belum bisa menerima. 

Meski perkataan Mischa ada betulnya.

"Ya enggak sih, gue bilang cantik itu karna indah. Gambar gue cakep, enak dipandang."

Mischa menunjuk antusias sambil berkata, "nah itu! Gue pas liat dia juga ... wow! Cantik, ayu tenan, cakep, indah, enak dipandang."

Jonathan hanya bisa menganggukan kepalanya berusaha tak memperpanjang obrolan.

"Pantheon dulu digambar manual, disketsa pensil karna dulu gak ada deadline."

"Si anjing! Tadi katanya gak mau bahas Pantheon lagi."

Tawa kecil muncul dari mulut Jonathan, "capek banget sumpah, pusing juga, gue butuh yang seger yang bisa bikin gue bangun."

"Ke Bar ajalah."

Wah, sinting ini Mischa sampai buat Jonathan geleng kepala.

"Maksudnya yang bisa bikin gue bangun melek! Melek buat ngerjain tugas, ya, Mischa!"

"Ya emang ada gue bilang ke Bar bisa buat bangunin titit lo?"

"Asu! Dijaga cangkem mu! Jorok banget sumpah, lagian rata-rata Bar kan buat tempat kayak gitu."

"Jonath lu harus gaul sih kata gue, cari udah segar! Jangan pacaran mulu sama kantilever 15 meter imajinasi lu! Mana bisa bangunan setengah jadi dibilang cantik?"

Kali ini Mischa sudah bawa-bawa partai alias apa maksud dia mengejek desain kantilever miliknya?

"Bilang aja lu gak bisa, su! Kantilever 30 meter di Aussie aja udah ada, apa salahnya gue bikin yang 45 meter di sini? Lu akalin lah, kan lu sipil?!"

Mischa yang langsung terbangun dari duduk sambil berkecak pinggang itu bukti bahwa emosinya sudah tersulut.

"Wah mimpi basah lu kata 45 meter kantilever?! Kin li sipil ... Gue yang harusnya nanya, AKAL LU DIMANA, JONATH?!"

Kembali muncul tawa dari Jonathan, ini yang membuat dia senang menggambar bangunan unik. Selain karena estetika, memusingkan anak teknik sipil juga tujuannya.

"Geprek aja, geprek, mau geprek?"

"Pala lu gue geprek!"

"Maksud gue lu mau geprek buat makan gak? Ini gue nawarin sebagai bentuk terimakasih karna udah bantuin gue pindahan, mau gak?"

Dari berdirinya, Mischa langsung duduk saat mendengar Jonathan menawarkan makanan.

"Mau 2 paket sama minuman."

"Ngapain beli yang paket begitu dah?"

"Biar ada minumnya lah, lumayan teh pucuk."

"Kagak usah."

"Pelit amat lu, jing."

"Gue ganti sama wingstop chicken combo rice plus teazzi, lu gak mau okㅡ"

"MAU GUE MAU YANG LESS SUGAR."

Jonathan memutar bola mata malas.

"Yee .. giliran gini aja .."

 

 

 

Selagi menunggu makanan pesanan mereka datang, Jonathan membersihkan diri di kamar mandi setelah badan dirasa lengket berkeringat deras karena terlalu banyak berkegiatan alias lakukan pindahan, sementara Mischa tertidur di sofa kosan milik Jonathan.

Rencananya Mischa akan menginap satu hari sambil membantu Jonathan membersihkan tempat yang akan ditinggali selama setahun ke depan. Dari awal mencari hingga kosan nyaman ini sudah diduduki, Mischa selalu menemani. Memang menurut Jonathan itu, Mischa adalah sahabat sejati.

Sebelum kaki langkahkan ke dalam kamar mandi, satu notifikasi muncul di ponsel buatnya sedikit hilang diri.

 

Mama

Nathan, kamu udah pindah?

Mama sama papa jadi pisah, maaf ya Nathan

 

 

Dua gelembung obrolan itu sukses membuat hati yang membaca teriris sampai gigit bibir bawah menahan tangis. Seharusnya di masa sulit seperti ini, dia diberikan dukungan dari kedua orang tua bukannya malah menjadi korban dari keegoisan masing-masing.

Pilih abai pesan yang ia dapatkan karena akan membuatnya kepikiran sampai mungkin tidak akan fokus dengan urusan perkuliahan, ia letakkan beberapa baju kotor di keranjang yang sudah menumpuk padahal baru pindahan. Karena di tempat tinggal sebelumnya ia belum mencuci selama seminggu akibat dari banyaknya tugas yang menunggu.

Tubuhnya ia kembali dudukan di kasur dengan punggung yang ia sandarkan di kepala ranjang. Tatap ponsel dengan fotonya bertiga bersama Mama serta Papa dijadikan latar layar.

Rasanya ingin kembali ke masa di mana ia jalan-jalan bertiga dengan kedua orang tua, tak ada kesalahpahaman yang tak pernah dibicarakan sehingga mengakibatkan perpisahan.

Hidup sebagai anak tunggal dengan orang tua yang hampir pisah cukup membuat Jonathan sering merasa kesulitan, Mama masih tinggal di Kota, sementara Papa sudah pergi ke negara asal. Perbedaan waktu yang signifikan membuat dirinya sering kehilangan komunikasi dengan beliau, meski pria paruh baya itu sering mengusahakan untuk tidak putus hubungan.

Semua masalah ia selalu pendam, bahkan untuk masalah perceraian ini Mischa belum mengetahuinya. Ia hanya tahu bahwa Mama Papa Jonathan sering bertengkar.

Ia benci keadaan di mana semuanya akan berubah menjadi canggung jika nanti ia menceritakan ini pada Mischa, padahal ia tahu Mischa tidak akan menghakiminya.

Lamunan buyar saat satu panggilan dari luar rumah terdengar, bangunkan Mischa dari tidur sejenak karena makanan sudah sampai lalu mereka makan berdua bersama.

"Tanyain temen lu asal kota sini, catering sama laundry."

"Lu abis nangis?"

"Abis kena shampo, perih banget babi .."

Jonathan berbohong dan untungnya tak ada sedikitpun kecurigaan terpahat di wajah Mischa.

"Catering harian?"

Anggukan kepala datang dari Jonathan, lalu ia menimpal, "iya, males kalo harus gofood mulu."

"Yellowfit aja kalo catering, nanti laundry gue cariin dulu yang deket sini."

"Huuh, kalo bisa yang apik tenan, gak bikin baju gue rombeng sama belel, terutama ilang. Alah asuu .. gue di laundry kemaren malah ilang 1 baju."

"Iya? Lu tanyain gak sama tukang laundry nya?"

"Ngga, wes seminggu paketnya ra dibukak. Takut tukang laundry malah nanya 'naha nembe dibuka a acukna?'" Jawab Jonathan sambil peragakan dan menyamakan intonasi suara yang mungkin akan ia dengar jika menanyakan baju hilangnya.

Mendengar jawaban dari Jonathan itu membuat Mischa gelengkan kepala sambil tersenyum miring.

"Udah cocok jadi anak sunda lu, nada lu udah bagus."

Jonathan juga sama, bibirnya ia tarik ke atas sebelah. Satu tahun lebih menapak kaki di tanah Sunda ini membuat keduanya mengerti bahasa tuan rumah walaupun hanya sedikit-sedikit.

 

 

 

Keesokan hari kebetulan sedang menginjak akhir pekan, Mischa masih belum pulang dari Kosan milik Jonathan. Betah, katanya. Bagaimana tidak? Sebenarnya ini bukan kosan sepetak di mana kamar dan dapur disatukan, bisa dibilang ini adalah sebuah rumah di perumahan. Jonathan menyewa satu unit di perumahan yang tak terpakai oleh pemiliknya dengan harga lumayan miring alias si pemilik yang sudah putus asa rumahnya tak kunjung laku jua, menyewa hanya untuk dua semester saja mengingat diri memang tak betahan berada di satu tempat tinggal asing yang sama.

Putuskan untuk bersantai sedikit sebelum mengerjakan tugas yang menumpuk, keduanya sedang menonton siaran langsung olahraga balap mobil Formula 1 sambil sarapan bersama.

"Gue udah punya info laundry yang deket sini." Mischa pecah kesunyian.

"Cepet amat?!"

"Biasalah, koneksi gue banyak. Emangnya lo yang temennya gue gue aja?" Balas Mischa dengan wajah tengil ia perlihatkan.

"Bajilak kon!"

"Ini kenal waktu gue ospek prodi, anaknya supel banget gila! Akamsi, dipanggilnya aa sama semua anak prodi teksip."

"Nice info, pasti orangnya udah tau segorong-gorong kota ini."

"Cangkem mu!"

"Ya udah mana sini kontaknya?" Jonathan menagih sambil masih menyuapkan nasi dan ayam ke dalam mulut.

"Sabar, nanti agak maleman katanya."

"Lah? Kenapa maleman? Sibuk amat tinggal share kontak doang?"

Raut bingung jelas terpatri di wajah Jonathan, alisnya pun menekuk tajam.

"Bukannya si aa teksip ini yang sibuk, tapi kang laundry nya."

Makin lah Jonathan bingung.

"Maksud?"

"Ah adalah pokoknya, nanti gue forward kontaknya ke elo kalo udah ada. Ini laundry private cuma nerima 4 slot."

"Ra jelas, asuuu ... kenapa laundry pake slot?"

Kepala Mischa menggeleng dengan senyuman miring masih tercetak, lalu jarinya menunjuk tepat ke arah Jonathan.

 

"Lu gak tau seberapa anehnya kota ini sampe ada maba yang buka laundry pribadi cuma buka 4 slot aja karna pengen merintis usaha. Beliau lah orangnya."

 

Abaikan celoteh Mischa yang semakin siang makin ngawur akibat terlalu banyak makan paha atas ayam atau mungkin karena driver favoritnya di Formula 1 kini tak kunjung mendapat podium bersama tim barunya, yang pasti Jonathan tak ingin mengambil slot laundry itu karena dipikirnya ANEH!

 

 

Kini hari semakin gelap, Mischa akhirnya sudah pulang dari rumah Jonathan sejak pukul tiga sore tadi. Kegiatan malam diisi dengan mengerjakan tugas teori awal utilitas yang cukup membuat kepala rasanya ingin meledak, terlalu memikirkan estetika hingga lupa bahwa gravitasi bumi itu ke bawah dan tidak bisa menarik air ke atas tanpa bantuan pompa.

Mungkin nanti sumber air bersih bangunan tingkat dua yang dibuat Jonathan datang dari hujan yang ditampung oleh tandon super besar dan diㅡAh, sudah! Mari kita lupakan pembahasan tentang utilitas yang tak ada habisnya.

Sekarang terhitung sudah hampir enam jam ia terduduk di kursi yang menghadap ke arah tembok, memang sepertinya inspirasi tidak muncul dikarenakan pemandangan depan hanya sebuah dinding kosong berwarna soft tissue sehingga membuat Jonathan berpikir bahwa ia harus mencari ide ke luar sambil membeli makanan karena selama enam jam tersebut ia belum mengisi perut.

Tepatnya pukul sebelas malam ia berjalan keluar kosan, sengaja tak memakai motor, karena, ya, ingin mencari yang dekat-dekat saja atau mungkin Jonathan memang sedang malas mengeluarkan motor dari garasi.

Satu demi satu tungkai ia langkahkan, memakai celana training warna abu serta jaket adidas biru tua kebanggaan, Jonathan merunut setiap inchi dari luar lokasi perumahan yang begitu ramai.

Membeli seporsi martabak telur untuk dijadikan cemilan saat mengerjakan tugas dan makanan utamanya adalah ayam bakar dengan kol sebagai lalapan.

Kanan kiri melihat orang berpasang-pasangan, sementara ia jalan sendirian, kadang badan tersenggol oleh badan lain yang melindungi pasangannya membuat Jonathan berusaha tersenyum tipis meski tangan sudah ingin menangkis, sialan memang.

Tapi semuanya ia pendam karena takut bertengkar di jalan, bukan karena tak mau adu jotos, tapi takutnya malah adu omongan hingga ia tak mengerti apa yang mereka katakan.

Tumbuh di keluarga yang sedang berada di ambang batas kehancuran membuatnya sedikit was was tentang percintaan, sebisa mungkin ia akan bekerja keras sampai bisa membawa pasangan hidupnya jauh dari omongan jahat yang membuat hubungan meregang seperti kedua orang tuanya.

Tak ada semenit membicarakan tentang bagaimana hati-hatinya ia akan memilih pasangan, kini mata sudah memicing tangkap satu orang perempuan berpakaian sedikit nyentrik berwarna hijau muda dengan rambut coklat panjang yang kilaunya mencuri perhatian terlihat sedang sibuk membereskan sesuatu di meja dengan empat mesin cuci terpajang di belakang.

Entah kenapa langkah kaki ikuti kata hati, badan seolah ditarik oleh pesona kuat rambut coklat lalu Jonathan menghampiri perempuan itu sampai tak sadar matanya tak ia alihkan pada paras cantik yang sedari tadi menyita perhatian.

"Eh?"

Jonathan masih terdiam, padahal yang sedang diindahkan sudah sedikit terkesiap dengan kehadirannya.

"Kenapa a? Ada yang bisa dibantu?"

Oh, Tuhan ... Suaranya serak namun masih terdengar lembut nan manis hingga membuat Jonathan tak sadar menarik senyum tipis.

Yang bertanya juga sama saja, awalnya dia terkaget, namun beberapa detik kemudian saat melihat senyum tipis Jonathan, ia jadi ikut menarik bibir ke atas.

"Laundry nya buka jam berapa?"

"Aa nya mau laundry?"

Muka makin memanas kala diri Jawa ini berteriak saat dipanggil Aa oleh perempuan cantik Sunda.

"Iya, mau laundry. Besok jam 9, bisa?"

"Boleh, A."

"Kebetulan kosan nya deket di sini, tinggal jalan. Boleh minta nomornya?"

Damn.

Seumur dua puluh tahun hidup, belum pernah ia ugal-ugalan begini saat menghadapi perempuan. Selain karena jarang, karena alasan perceraian orang tuanya juga ia hampir tak percaya cinta. Bahkan perempuan yang sudah dekat dengannya pun masih bisa dihitung oleh satu telapak tangan alias kurang dari lima orang.

Terakhir ia dekat dengan makhluk Tuhan paling indah ini saat berumur enam belas dan sayangnya ketika itu si perempuan malah menyukai teman sebaya yang terkenal dari kelas lain.

Sekarang jok belakang motornya pun selalu ditunggangi oleh kontainer untuk membawa maket, gimana bisa mengajak perempuan pulang bersama?

Lupakan tentang itu, karena sekarang hatinya terasa ditumbuhi oleh bunga kembali setelah usang dibiarkan beberapa tahun tak ditempati saat berkenalan dengan seseorang yang ternyata pemilik usaha laundry.

"Aku, Bening."

Dua kata itu terngiang di kepala hampir membuat ia gila, namanya Bening Cendikia. Bening. Nama yang terdengar konsisten dengan paras rupa cantik, ayu, bening dalam arti bening sesungguhnya, bersih, dan kebanyakan orang sini bilangnya; Geulis.

Perhatikan bibir selama berbincang membuat Jonathan sedikit cekikikan, senyumnya terlewat manis meskipun kelihatan berkedut, mungkin karena grogi atau entah kenapa yang pasti Jonathan temukan hal itu sangat lucu dan membuatnya selalu ingin bertemu.

 

Pulang ke kosan dengan keadaan senang hati begini memang jarang terjadi di kehidupan Jonathan semenjak kedua orang tua sering mengalami pertengkaran. Namun kali ini rasanya berbeda, perut dirasa sangat penuh bukan karena memakan nasi dan ayam bakar yang ia pesan, melainkan diisi oleh kupu-kupu yang berkeliaran.

Terngiang senyuman di pipi semu merah sedikit berisi menyembul keluar hingga terlihat seperti buah apel yang disimpan di tulangnya. Manis, sangat manis seperti serabi pandan kincaㅡjajanan favorit Jonathan dari awal tiba di Kota.

Membuka profil ruang obrolan di mana tak ada foto yang terpampang, Jonathan berpikir positif mungkin karena Teteh Bening tak suka berfoto ria hingga tak ada gambar untuknya dijadikan pajangan.

Memulai percakapan dengan kata sapaan, berbincang sampai tak sadar keduanya telah mengungkapkan diri masing-masing sedang menempuh ilmu dan ternyata mereka satu kampus juga.

Namun untuk fakultas dan tingkatnya belum diketahui Jonathan karena tiba-tiba keterangan obrolan menjadi ceklis satu abu, mungkin Bening sudah tertidur.

Jonathan jadi tak sabar bertemu langsung!

Dari tidur sampai bangun lagi, senyumnya tetap mekar tak pernah pudar. Jonathan sepertinya sudah temukan sumber semangat baru, mana lokasi laundry nya hanya berjarak beberapa langkah dituju, mungkin nanti ia akan sering ganti baju biar lebih sering juga bertemu dengan senyuman yang sekarang ini menjadi candu.

 

 

Lepas dari dasar seni nirmana dan harus mulai merasakan transisi mencekik di semester tiga buat Jonathan merasakan diri sedikit tak berdaya, dewasa gini, bukan lagi memikirkan estetika melainkan harus sampai juga ke logika.

Kendati demikian, yang namanya tugas dan hobi menurut Jonathan itu harus seimbang, makanya waktu Mischa mengajak bermain futsal antara teknik sipil dan arsitektur di GOR kampus minggu depan, ia santai menjawab, "aman aja."

Karena memasuki semester logika ini Jonathan jadi sering pergi keluar untuk mencari bahan pembuatan tugas, tiap kali melewati tempat laundry di mana ia dan Bening bertemu, namun tiap kali itu pula dia tak temukan yang dicari berada di sana.

Terakhir ia menyerahkan cucian pada seorang lelaki kelihatan sebaya dengannya yang memakai masker, lalu setelahnya ia tak pernah dapati Bening lagi.

Sampai satu hari di mana Mischa mengirimnya pesan yang membuatnya agak kebingunan.

 

Mischa

Tau ruko yang banyak mesin cuci di deket kosan lu gak? waktu itu gue tunjuk

 

Justru Jonathan tahu lebih dulu dari pada kamu, Mischa.

Namun dia lebih pilih diam.

 

Mischa

Ternyata itu yang dimaksud adek tingkat gue

Ini nomornya

 

Badan Jonathan langsung terbangun saat Mischa mengirim satu nomor telepon, temukan hal berbeda saat melihat profil di mana foto yang dipajang hanyalah sebuah logo dan nomornya tak sama dengan yang diberikan oleh Bening padanya.

Coba memulai percakapan dengan nomor yang Mischa berikan dan balasan sopan layaknya penjual berikan pada pembeli yang ia dapatkan.

Apa itu artinya Bening memberikan nomor pribadi pada Jonathan?

Senyum tipis kembali terpatri jelas di wajah, ada perasaan senang menghampirinya. Selama ini, selain hampir tidak lagi mempercayai cinta, Jonathan juga tidak percaya pada cinta pandangan pertama. Menurutnya tak masuk akal orang bisa jatuh hati pada orang asing yang baru bertemu satu kali.

Tapi saat melihat Bening Cendikia, sekali lagi rasanya berbeda. Ingin terus melihat wajah manis nya setiap saat walau seminggu lebih ini ia tak melihat lagi Bening berada di tempat mereka pertama bertemu.

Tapi tunggu ....

Kata Mischa, pemilik laundry ini adalah teman adik tingkatnya. Tidak menutup kemungkinan bahwa Bening juga sama dan ia berada satu angkatan di bawah Jonathan. Ah .. Berarti baru menyelesaikan ospek yang mana mereka harus tinggal di asrama selama dua semester.

Pantas saja ia jarang melihat Bening ada di laundry lagi, ternyata pulangnya memang ke asrama.

 

 

Hari ini sudah dijadwalkan gelar futsal persahabatan antara teknik sipil dan arsitektur di GOR kampus, seperti biasa, banyak orang dari fakultas lain juga menontonnya.

Melihat anak teknik sipil dan arsi yang mengejar bola dengan rambut lembut terlihat lucu melompat berterbangan saat sang pemilik sedang berlarian.

Akhir dari pertandingan dimenangkan oleh anak teknik sipil yang mana ada Mischa di dalam tim. Setelah selesaikan pertandingannya, pria jangkung itu berlari ke samping GOR dengan membawa tas ransel diikuti oleh Jonathan di belakang, menghampiri dua orang lain yang belum Jonathan kenal.

Jonathan tatap kedua wajah sampai satu di antara mereka terasa tak asing baginya. Sipitkan mata pada salah satu dari mereka yang tersenyum ke arah dia.

"Jo, kenalin. Ini Aa Kenan, yang waktu itu gue ceritain. Anak teksip juga, adek tingkat gue."

Oh akamsi yang udah tau segorong-gorong kota ini.

Jonathan balas jabat tangan Kenan.

"Kenan, A."

Kalo influencer bilang, sunda nya nyunda banget.

Dia cengengesan sambil sedikit tundukkan badan.

Wajahnya manis dengan alis tebal dan fitur muka tegas.

"Jonathan."

Berkenalan dengan Kenan tapi mata tak alihkan pada satu lagi adik tingkat yang berada di samping lawan bicara, terlihat tak aneh atau tidak seperti baru pertama bertemu .. Jonathan seperti pernah melihat dia tapi dimana ...

"Kalo ini namanya Sevanya," lanjut Mischa kini dengan alis sedikit mengerut. "Kamu fakultas seni rupa kan ya?"

Yang bernama Sevanya itu tersenyum sambil mengangguk. 

Gila.

Demi serabi pandan kinca!

Serabi pandan kinca-nya ..

Baru ingat! Jonathan baru ingat kalau senyum Sevanya ini mirip seperti Bening Cendikiaㅡperempuan yang ia temui di tempat laundry dan sempat menghilang belasan hari ini.

Mirip, mirip sekali. Bibirnya sedikit berkedut saat tersenyum seperti canggung.

Uhm, manis nya juga sama. Pipi yang mengembang saat senyum pun .... serupa.

"Iya, kak. Aku Desain Interior ..." ranum langsung mengatup dengan muka yang gelagapan. "Maksudnya aku Sevanya, prodi Desain Interior."

Sudah Jonathan duga hanya mirip saja.

Meski dari fitur wajah sangat terlihat serupa tak ada pembeda yang membuat Jonathan bahwa mereka adalah orang yang sama, tapi Jonathan tetap yakin bahwa ini hanya kebetulan saja.

Nanti ia akan cari sendiri Bening Cendikia-nya.

 

 

"Lu yang ngajak mereka nonton?" tanya Jonathan pada Mischa saat mereka berjalan menuju parkiran.

"Siapa? Kenan apa Sevanya?"

"Dua-duanya lah."

"Kalo si Kenan kan emang anak teksip, wajar kali dia nonton."

"Satu lagi?"

"Nah itu, Sevanya itu gue yang ngajak."

Alis Jonathan mengernyit.

"Itu karna dia temenan sama si Kenan, jadi ikut aja nonton kan?"

Wajah Mischa tunjukan sedikit ekspresi kesedihan sambil menggaruk tengkuk yang Jonathan yakin dirasa tak gatal.

"Ya iya sih, chat gue belum dibales. Tapi lu inget gak? Waktu itu gue bilang ketemu sama maba cowok cantik, ayu, cakep? Nah itu, si Sevanya." Jelas Mischa lantang seolah seluruh bagian Bumi Ganesa harus tahu bahwa ia sedang mengagumi salah satu penghuninya.

Aduh! Untung parkiran sedang sepi. Memang si Mischa ini tidak bisa kontrol omongan.

"Pelan-pelan, ege!" Ucap Jonathan terburu memakai helm hitam retro classic cakil x90 miliknya.

"Kalo dipikir lagi kayak udah takdir, tau gak lu red string of fate theory? Kebetulan si Seva ini sohiban sama si Kenan, kayaknya emang diciptakan buat ketemu sama gue."

Wah! Dirasa Jonathan, si Mischa ini sudah terlanjur nyemplung ke komunitas penyuka sesama.

Gelengkan kepala sambil menyalakan mesin motor lalu menancap gas tinggalkan Mischa yang masih mengatur motornya yang nyangkut di tengah parkiran.

"Woy! Jonath?! Gak jadi makan, Jo?! JONATHAN?! Eh asu kon!"

 

 

 

Pulang ke rumah melewati tempat laundry biasa kali ini temukan satu orang lelaki dan perempuan di dalam. Sayangnya saat Jonathan sudah dekat, lelaki dan perempuan itu sudah menutup railing hingga tak sempat menghampiri keduanya.

Terhitung sudah hampir tiga minggu ia tak melihat Bening lagi, rasanya seperti mimpi vivid di mana segala kejadian itu detail, intens, dan nyata padahal hanya bunga tidur semata.

Jonathan sudah terlanjur suka dan ingin terus berada di dekatnya, namun apa daya, tiap kali datang ke tempat laundry ia tak pernah temui Bening lagi.

Sore hari Jonathan sedang di toko buku sendirian sedang membeli kebutuhan perkuliahan yang belum sempat ia penuhi, memakai hoodie yang dipakaikan ke kepala lalu dirangkap kembali oleh jaket tipis dengan earphone kabel yang terpasang di telinga.

 

There she goes again

Pulsing through my veins

And I just can't contain

This feeling that remains

No one else could heal my pain

 

Mengambil hardboard, pena teknik, kertas kalkir, dan sketchbook, lalu penglihatan terhenti sebentar di sebuah rak yang atasnya terdapat cutter sejajar.

Lamunkan sesuatu yang mungkin akan mengubah hidupnya dalam waktu sekejap sambil menguatkan setiap jari sampai memutih buku nya.

Perasaan nya perih sejak pagi mendapat pesan dari Mbah Uti, merasa diri tak diinginkan lahir di dunia ini.

 

Wes gak usah ndelok Mama, gak usah mrene maneh!

 

Pasti Mbah Uti ngomong seperti itu bercanda karna Jonathan tidak bisa bahasa jawa kan?

Senyum tipis muncul di wajah saat memasukan satu buah cutter ke dalam tas belanjaan.

Tubuh sedikit terperanjat saat satu wajah orang tiba-tiba berada tepat di depannya. Dia terburu mencabut kaitan earphone kabel di telinga.

“Kak Jo ..”

Itu Sevanya, dan senyuman manis serabi pandan kinca khas nya.

“Eh? Mau beli tabung, ya?”

Anggukan kepala datang dari sang lawan.

“Iya, aku mau beli bazooka, sama cat sakura, pensil mekanik terus snowman aja. Kak Jo beli apa? Udah mulai sibuk maket lagi ya?”

Jonathan bergumam sambil sedikit perhatikan bagaimana cara Sevanya menatap dan memperpanjang obrolan, sepertinya ia adalah anak supel yang banyak teman.

“Iya, lumayan sih sekarang main nya ke Community Center.”

“Udah ada referensinya kak? Site-nya?”

Oh Tuhan, Sevanya ini benar-benar ingin memanjangkan pembicaraan sampai ia menghampiri Jonathan dan kini berdiri di samping dengan wajah penuh antusias. Belum pernah rasanya Jonathan mengobrol dengan orang yang sangat tertarik dengan pembicaraan bersamanya.

“Belum, nanti sambil jalan-jalan.”

“Seru! Jadi gak sabar pengen langsung semester tiga.”

Pernyataan Sevanya itu membuat Jonathan tersenyum tipis geli tanpa meremehkan.

“Nikmatin aja gambar-gambar nirmana tahun ini, AnyaㅡEh, gue panggil Anya gapapa? Sevanya kepanjangan …”

Yang ditanya justru senang dan mengembangkan senyum dan itu membuat Jonathan teringat pada Bening lagi karena senyuman mereka sangat serupa.

“Gapapa Kak, aku suka kok!”

Jonathan sedikit hela nafas lega saat mendengar jawaban Sevanya.

“Iya, nikmatin aja dulu gambar nirmana, sebelum ke tugas psikologi ruangan. Kemungkinan nanti gak bakal ketemu warna lagi di semester tiga. Ini juga gue lagi pusing sebenernya.”

 

Berjalan mengelilingi luasnya toko buku hanya berdua saling berbagi cerita tentang awal semester mereka memasuki kelas mata kuliahnya hampir sama sampai akhirnya Sevanya berpamitan untuk pulang duluan.

“Okay, good luck, ya, Kak Jo! Aku duluan gapapa?”

“Boleh kok …”

Kembali dapat senyum dari Sevanya membuat Jonathan sedikit merasa ada perasaan aneh di mana ia tak pernah seintens ini mendapatkan senyuman manis dari seorang lelaki. Dan lagi, tangan terangkat lalu telapaknya digerakkan seolah tunjukkan gerakan dadah melambai pada sang lawan yang melakukan hal itu padanya duluan.

 

 

 

Semester tiga ini ternyata tak semenarik yang dibayangkan saat semester pertama, banyak tugas menimpa dengan deadline secepatnya, berusaha tak kewalahan dengan mengerjakan sesuatu sampai larut malam kadang dini hari tiba. Ini alasan kenapa ia menyewa satu unit rumah di kawasan perumahan dekat kampus, selain bisa leluasa, Jonathan juga tak ingin habiskan waktu di Studio sepanjang hari, cukup siang saja.

Tangan sudah mulai sering merasa pegal dengan banyak bekas lem yang tertinggal, mereka bilang ini adalah tatonya anak arsitekturㅡyang benar saja? Ini namanya burik! Tangan jadi kasar tiap garuk apapun. Hari per hari rasanya sudah tak ada lagi waktu untuk bersantai, setiap waktu ada saja tugasnya.

Selain menguras tenaga, ternyata menguras dompet juga. Untung sekali menempati rumah di kawasan banyak menjual makanan, awal rencana catering dibatalkan karena dirasa ia lebih senang mencari makan di Gelap Nyawang.

“Kak Jo!”

“Anya ..?"

Semenjak berkenalan di GOR tujuh minggu kemarin, mereka jadi sering bertemu secara tidak sengaja di mana saja. Entah saat membeli peralatan, membeli makan, mencari bahan, atau di kantin seni rupa, bahkan mengerjakan tugas di satu spot yang sama.

Malam pukul tujuh ini Sevanya keluar asrama sendirian untuk membeli makanan, begitu pula dengan Jonathan yang sisihkan waktu membeli cemilan untuk menemaninya mengerjakan tugas sepanjang malam.

Ternyata memang benar, Sevanya ini anak yang supel yang sering tunjukkan banyak perhatian, makanya dia banyak teman dan berada di sampingnya bisa membuat orang menjadi nyaman.

Anaknya selalu ceria dengan pembicaraan yang tak pernah ada matinya, selalu ada saja dan tak membuat orang lain merasa rendah saat di dekatnya.

“Kak Jo, ternyata aku juga bakal ada maket, cuma gak terlalu mikirin struktur sama apa ya nanti di semester tiga kayak Kak Jo?”

“Konstruksi? Bentang lebar? Apa?”

“Iya, itu lah maksudnya.”

Mengobrol santai sampai tak sadar kedua pantat sudah duduki kursi di salah satu tempat makan. Jonathan seperti temukan teman baru di kampus ini, meski program studi berbeda tapi bahasannya sama. Berputar di bangunan, seni, estetika, dan desain ruangan.

 

Semuanya terasa nyambung tak ada penghalang yang membuat mereka merasa tak nyaman berada di dekat masing-masing sampai lupa bahwa Sevanya ini adalah incaran sahabatnya sendiri, yaitu Mischa.

Tiap kali bertemu dan mengobrol dengan Mischa, bahasannya selalu tak jauh dari Statika dan Sevanya. Kalau tidak mengeluh tentang angka ya pastinya mengeluh tentang kapan Sevanya akan menyadari bahwa dia suka.

Awalnya Jonathan muak dengan pembicaran itu, merasa aneh tiap kali mendengar lelaki menyukai lelaki lain karena, ya, emang dia belum terbiasa. Tapi kelamaan setelah mengenal Sevanya, ia mengerti kenapa bisa Mischa jatuh cinta.

Selain karna memang cantik, kepribadian yang feminis, memakai gelang biru semu tosca yang ditengahnya besi lambang tak terhingga, selalu terlihat ceria, Sevanya pantas mendapat pujaan dari lelaki maupun perempuan.

Ini Jonathan berbicara tentang estetika bukan karena suka.

Dia masih menyukai perempuan, katanya.

Ah, iya. Sampai tak sadar ada satu perempuan yang selalu ditunggu olehnya, yaitu Bening Cendikia. Berminggu-minggu habiskan waktu di kampus setelah berkenalan dengan Bening ini, ia tak tahu program studi apa yang diambil olehnya.

Mengerti bahwa kampus tak sepetak, mungkin belum saatnya ia bertemu. 

Di Bumi Ganesa bagian mana lagi ia harus mencari?

Tapi nanti, ia yakin. Tuhan akan mempertemukannya kembali.

 

“Teteh! Teteh!”

Seketika suara sopran terdengar dari jauh menuju arahnya dan Sevanya. Perempuan itu menghampiri dengan mata tertuju ke arah samping Jonathan, tepatnya pada Sevanya yang sedang balik menatap.

“Teteh!”

Alis Jonathan menukik tajam mendengar Sevanya dipanggil dengan sebutan ‘teteh’ oleh teman yang terlihat masih sebaya.

Seingat dia, teteh itu buat perempuan? Atau bisa untuk lelaki juga? Jujur, ia bingung.

“Eh maaf, maksudnya A Seva, boleh pulang ke asrama sekarang?”

Jonathan menyadari panggilan berubah saat Sevanya menepuk pundak temannya. Namun siapa peduli dengan kota bangun ini? Pasti hal ini sudah menjadi hal biasa.

“Kak Jo, aku duluan ya!”

Anggukan kecil datang dari Jonathan, ia tak bersuara untuk menjawab. Lalu tangannya digerakkan melambai, seperti biasa ia lakukan setiap akhir pertemuan dengan Sevanya.

 

 

 

Balik lagi di kegiatan mahasiswa arsitektur yang tak ada santainya. Delapan sampai sepuluh di kelas, selesai itu sampai lima sore habiskan di Studio.

Kadang Jonathan sempatkan duduk di perpustakaan arsitektur, sunken, nugas di selasar labtek, atau perpustakaan kampus lantai tigaㅡtergantung nyamannya di mana. Lebih banyaknya di Studio karena sambil mengantri asistensi.

Kalau dulu prinsip nya itu nugas jangan sampai mengganggu jam tidur, sekarang berubah menjadi asal jangan mengganggu akhir pekan. Tolong, karena kapan lagi ada waktu untuk tidur seharian selain di hari sabtu atau minggu?

Dirasa kehidupan lima hari di setiap pekan nya ini selalu kurang tidur karena banyak tugas yang menumpuk.

Tekanan diterima banyak sampai tertarik untuk menghisap sebatang rokok itu bukan pertama lagi bagi Jonathan, dulu ia menolak karena dengan mengambil jurusan arsitek aja ia rasa sudah akan membunuhnya, belum lagi masalah keluarga, sekarang mau didukung oleh menghisap rokok pula? Makin cepat lah matinya!

Tunggu, tapi bukannya itu hal yang bagus? Bukannya Mbah Uti selalu menginginkan begitu?

Jumat malam setelah menyelesaikan ujian tengah semester sebagai mahasiswa arsitektur ini memang cukup melelahkan, tapi tak boleh sampai lengah, apalagi hari senin sudah harus masuk perkuliahan kembali.

Seperti biasa setiap malam mencari makan ke luar karena dari sejak pagi ia belum mengisi perut dengan apapun.

Sebelum pergi, ia sempatkan untuk mengatupkan kedua tangan. Berharap di hari yang akan datang tak ada lagi penghalang yang membuatnya jadi lelah pikiran, meminta untuk selalu dikuatkan mengingat tidak ada lagi orang yang bisa menjadi tumpuan, lalu nama Bening ia sebutkan, meminta untuk kembali dipertemukan.

Bahkan Jonathan tak ingat kapan terakhir mereka bersua, saking sudah lamanya.

Pilih menggunakan motor meski rasanya kaki sudah tak lagi napak tanah, biar cepat katanya. Kalau jalan kaki, kemungkinan ia bakal pingsan di jalan.

Tapi justru dengan mengendarai motor ini lebih membahayakan keselamatan, tiba-tiba pusing melanda kepala seperti sudah dipukul oleh benda tumpul.

Kalau banting stir ke kiri mungkin Jonathan sudah tergeletak di aspal, untungnya detik-detik itu Jonathan masih sadar dan langsung banting stir ke kanan. Luka baret dan lebam yang ia dapat.

Tak ada kebetulan di dunia yang sudah direncanakan ini, kecuali dengan dipertemukannya ia dengan Sevanya kembali.

Selalu begitu.

Pulang dengan menaiki motornya namun kali ini bukan ia yang mengendarai, tapi Sevanya sendiri.

Membantu turun dari motor, berjalan, sampai tubuhnya dibaringkan dengan hanya tangan yang dilingkarkan di pundak Sevanya.

Tak hanya itu, adik tingkatnya ini juga membantu membersihkan luka dan mengobatinya. Menyiapkan alat makan dan apapun yang sekiranya Jonathan perlukan.

Malam sudah hampir tunjukkan pukul sepuluh dan Sevanya masih harus membantu Jonathan.

“Asrama bukannya udah ditutup jam 10 ya? Gue udah gapapa, kok …”

“Tiap akhir pekan aku pulang ke rumah, Kak. Udah isi form juga malem ini gak pulang ke asrama, langsung ke rumah.”

“Oh lo asli sini?”

“Iya, aku asli Kota ini.”

Keheningan mulai tercipta, keduanya sibuk dalam pikiran masing-masing. Lebih tepat pada Jonathan yang merutuki diri kenapa bisa seceroboh ini? Mana ketemu Sevanya lagi.

“Makasih ya, Anya.”

Suara bariton Jonathan terdengar memecah keheningan, meskipun hanya ucapan biasa tapi rasanya ada yang berbeda. Suasana malam di bulan Oktober ini cukup membuat hanyut dalam kecanggungan padahal ini malam biasa.

It’s okay, Kak. Pasti capek banget abis UTS?”

Senyum tipis keluar dari wajah Jonathan, posisinya sekarang ia sedang duduk di atas kasur sambil punggung bersandar di kepala ranjang, sementara Sevanya duduk di tepi nya saling berhadapan.

“Keliatan banget emang?”

“Iya …”

“Aduh, malu banget gue ..”

“Emangnya kenapa kalo keliatan capek? Semua orang punya batasnya masing-masing kok, gak perlu maksain harus terus kuat. Kak Jo perlu istirahat. Jadi gapapa, Kak.”

“Kak Jo suka nugas di mana?” Lanjut Sevanya bertanya.

“Di Studio tapi gak pernah sengaja sampe tengah malem, di sini juga oke. Lo di mana?”

“Di Asrama, semester pertama belum sering ngunjungin Studio sihㅡitu pakaian kotor ya Kak?” Netra Sevanya terdistraksi oleh keranjang dekat toilet berisi pakaian milik Jonathan.

“Iya, belum sempet ke laundry. Kayaknya besok.”

Laundry yang di mana?”

“Dari keluar gerbang perum ini ke kanan dikit.”

“Mau aku aja yang anterin? Sekalian pulang?”

“Eh, gak usah biar gue aja.”

“Belum dipisah kah?”

Jonathan menggaruk tengkuk yang tak gatal.

“Udah sih, tinggal dikasih aja.”

“Ya udah aku yang ngasih, nanti Kak Jo yang bawa. Kan sama aja?”

“Anya, gue gak enak sumpah. Banyak ngerepotin lo.”

Who said? I insist kok, Kak.”

 

Akhirnya Sevanya pulang dari rumah Jonathan dengan membawa satu kantong berisi pakaian kotor milik sang empu rumah.

 

 

Malam di perumahan kawasan Ganesa ini tak akan Jonathan lupakan, sebelum memutuskan untuk pulang, Sevanya dan ia makan bersama lalu berbagi cerita tentang kehidupan mereka di perkuliahan.

Meskipun belum genap menginjak satu semester tapi banyak sekali yang mereka obrolkan. Salah satunya alasan kenapa Sevanya mengambil desain interior padahal sebenarnya ia ingin masuk Kriya atau justru mengambil sastra di Universitas lainnya.

“Kalo gitu, kita gak bakal ketemu?” Jonathan secara tak sadar memotong pembicaraan.

Sevanya mengangguk lembut dan tersenyum.

Jonathan rasa, Sevanya ini adalah pendengar yang baik. Selalu perhatikan wajah sang lawan bicara membuat ia belum terbiasa. Senyumnya tulus nan manis sentuh hati paling dalam.

Mata selalu perhatikan inchi dari wajah sang lawan yang tengah berbicara dengan lembut sampai bisa membuat orang jatuh pada tatapannya.

 

 

 

 

Siang di hari sabtu ini, Jonathan baru bangun pukul dua. Itupun karena perut keroncongan, badan rasanya sudah agak baikan. Lalu ia putuskan mencari makanan, lagi.

Minusnya tak pakai catering ya gini, dia jadi selalu harus cari makanan di luar walau badan sedang lemas akibat terjatuh dari motor kemarin malam.

Kali ini ia membeli ayam bakar dengan lalapan kol kembali, pulangnya ia sempatkan diri untuk mengambil pakaian di laundry yang kemarin diantarkan oleh Sevanya.

 

Betapa terkejutnya dia saat mengetahui bahwa ternyata laundry itu dua hari kemarin sempat tutup tak menerima cucian.

Aduh! Hati jadi tak tenang mengingat semua pakaian yang biasa digunakan untuk perkuliahan ada di sana. Ia takut tak sempat bertemu Sevanya, lalu nanti kuliah ia pakai apa?

Pulang ke rumah sambil menunggu balasan dari Kenan karena ia meminta nomor Sevanya sampai tak sadar di belakang sudah ada yang membuntutinya.

“Kak Jo!”

“Anya, astaga .. gue kaget ..”

“Kenapa keluar rumah? Emang udah sembuh?”

“Kalo gak luar rumah, gue udah mati kelaparan kayaknya.” Canda Jonathan dibalas cekikikan oleh Sevanya.

Adik tingkatnya itu mengangkat sebuah kantong sama yang kemarin ia ambil di rumahnya.

“Cucian Kak Jo udah beres … ini aku bawain …”

“Eh sampe dibawain gini .. boleh minta virtual account gak? Nanti gue transfer aja?”

“Kak Jo kayak sama siapa aja .. Santai kali …”

“Btw, lo laundry di mana? Yang biasa gue laundry katanya lagi gak nerima cucian dari dua hari lalu?”

Sevanya gelagapan seperti sudah tertangkap basah melakukan sesuatu yang dilarang.

“Aku cuci sendiri, gapapa kan? Maaf ya, don’t get me wrong .. akㅡ“

“Udah dicuciin aja syukur, makasih banyak, ya.”

Terlihat hela nafas keluar dari mulut Sevanya.

“Mau kemana sekarang?”

“Mau ke kampus dulu, nanti aku ikut arak-arakan!”

Iya juga, Jonathan baru ingat akhir bulan ini akan ada arak-arakan wisuda di kampusnya.

Itu berarti hampir semua mahasiswa akan berkumpul di satu titik yang sama, dan Jonathan harap ia akan bertemu lagi dengan Bening Cendikia.

 

 

Pantat baru saja duduki lantai granit rumah, ia sudah dapati notifikasi bukan dari Kenan seperti yang ia tunggu melainkan dari Mischa.

 

Mischa

Udah mulai suka cowok sekarang bos?

 

Sialan! Pasti ada kesalahpahaman saat dirinya meminta nomor ponsel Sevanya pada Kenan. Berusaha menjelaskan dengan menekan tombol telepon namun yang ia dapat hanya tolakan.

Sungguh tidak lucu jika ia harus bertengkar dengan sahabatnya Mischa hanya karena masalah percintaan, sama lelaki pula!

Beberapa kali Jonathan coba menghubungi lagi, namun hasilnya tetap sama nihil. 

Coba tak terlalu bawa pikiran dengan apa yang terjadi, karena memikirkan tugas saja sudah membuatnya jadi baret dan lebam begini. Mungkin ia akan berbicara empat mata dengan Mischa nanti.

Sekarang yang ia lakukan hanya membongkar satu demi satu pakaian yang sudah dicuci oleh Sevanya, ada tiga buah freshcare smash double inhaler plus roll on wangi sakura di dalamnya.

 

Notifikasi pesan sosial media kembali menyala.

+6289 113 ~Anya

Kak Jo, ini aku Anya

Aku simpen fresh care 3 di dalem tas

Dipake aja, bikin enakan kalo di oles di badan

Cepet sembuh, ya ..

 

Satu tarik senyum tipis tercetak di wajah Jonathan, bahkan ia pun tak menyadarinya. Hati terasa penuh kembali, ia merasa diperhatikan kalau begini. Sevanya ini akan ia jadikan sahabatnya nanti.

 

 

 

Esok pagi kebetulan hari minggu, rasanya tak sempurna jika hanya dihabiskan di rumah saja. Entah kenapa Jonathan jadi selalu ingin keluar semenjak mengetahui bahwa Sevanya adalah anak kampung sini.

Berharap dipertemukan lagi di kebetulan selanjutnya yang Jonathan sendiri tak tahu di mana dan alasan ketemunya kenapa.

Dia masih tak sadar dengan apa yang selalu terjadi pada perasaan nya ketika bersama Sevanya.

Pikirnya hanya nyaman karena selalu nyambung tentang apa yang mereka obrolkan. Dia juga selalu merasa diperhatikan, cara Sevanya menyimak apa yang selalu dia bicarakan, tatap mata, merespons sabar nan lembut, serta selalu membantu dan memberi Jonathan perlakuan yang sebelumnya belum pernah dirasakan itu yang menjadi alasan Jonathan selalu ingin bertemu dengannya.

Dan benar saja, si kebetulan ini memang selalu berpihak kepadanya.

Cetak senyum lebar saat temukan Sevanya sedang mengantri di gerobak makanan seperti lupa bahwa ia sedang bersitegang dengan sahabat Mischa karena lelaki sama yang sedang ditatapnya.

Cuaca cukup lembab nyaris dingin karena sudah mulai memasuki musim hujan sehingga harus memakai baju berlapis jaket tebal.

Tungkai ia langkahkan ke gerobak yang sama berusaha tak menyapa seseorang yang sudah menjadi targetnya.

"Loh?! Kak Jo?"

Akhirnya kena juga.

Berusaha menahan senyum saat tatap wajah segar Sevanya di pagi ini, rambutnya masih basah terkena air, harum wangi berbedak dicampur rimpang iris yang telah dituakan selama bertahun-tahun lalu ditambah sedikit wangi bunga itu semerbak sopan masuk ke dalam indra penciuman.

"Anya ...?"

Halah, Jonathan sedang pasang muka 'loh ketemu lagi?' padahal memang ia sendiri yang menghampiri.

Tapi diam saja, jangan kasih tahu siapapun!

"Lagi beli sarapan ya?"

"Iya, nih .. Besok kan udah harus kuliah lagi."

Berbincang-bincang sampai tak sadar dua pasang tungkai sudah sampai di rumah Jonathan alias kenapa akhirnya Sevanya jadi ikut pulang?

"Aku ikut sarapan aja, Kak. Bentaran lagi kayaknya ada urusan."

"Boleh kok, sampe besok juga boleh."

"Eh?"

Waduh apa-apaan ini .. Kenapa jadi .. Ah! Sudahlah, Jonathan juga sepertinya sedang menyesali perkataan yang sudah terlanjur diucap sampai harus menepuk bibirnya.

 

Di atas granit ukuran persegi ukuran 60 motif pola halus mengkilap ini, mereka duduk saling berhadapan dengan sarapan masing-masing yang sudah dihidangkan tinggal makan.

"Gak ada persediaan makanan mentah di sini ya, Kak?"

Jonathan menggeleng.

"Belum pernah sengaja disiapin makanan."

Kepala Sevanya mengangguk-angguk.

Setelah itu, ia mencium sesuatu aneh ketika tepat berada di dekat Jonathan, terutama saat lelaki arsitek itu melepas kacamata minusnya.

Dekatkan tubuh ke arah Jonathan sampai kini batang hidung tepat sampai di depan mata sang lawan.

Jonathan tak berkutik melihat pemandangan di depan adalah wajah Sevanya yang hanya berjarak beberapa senti saja.

Orang yang mengaku tak suka sesama jenis mungkin akan menampar atau menjauh, tapi Jonathan biarkan Sevanya berlaku semaunya. Tak tahu kenapa terasa diri sudah diikat oleh setiap gerakan yang dibuat oleh sang lawan.

Tutup mata rasakan hembusan lembut nafas Sevanya mengenai muka, lalu netra terbuka saat sang lawan mulai menjauhkan wajahnya.

Jantung berdegup kencang tak karuan.

"Kak Jo pake di bawah mata ya freshcare nya?"

Yang ditanya tersenyum manis tampilkan gigi rapi nan bersih.

"Iya, Anya. Ini biar gue gak ngantuk."

"Gak perih emang?"

"Perih cuma sedikit di awal doang, sisanya bikin melek. Nanti kayaknya pas tugas maket gue mau pake terus di bawah mata biar cepet ngerjainnya gak ketiduran. Makasih, ya, Anya."

Sevanya gelengkan kepala sambil tersenyum miring terpatri di wajahnya.

"Ada-ada aja anak arsi satu ini."

Keduanya lalu hanyut dalam keheningan ruangan, yang terdengar hanya suara sendok dan mangkuk yang bertabrakan.

"Semester sekarang lebih banyak mikir pake logika ya kak?" Tanya Sevanya pecah keheningan.

"Iya, sekarang teknik nya nge teknik. Padahal kan arsi tinggal gambar bangunan bagus aja, urusan lain ada sipil sama desain interior. Eh iya lo kenapa desain interior? Kenapa gak arsi aja langsung?"

"Bagian harus mengerti psikologi ruangan kayaknya narik aku buat masuk kak. Seru gambar sambil diselingi sama ngaruhnya warna dinding pada perasaan sama pencahayaan."

Ngaruhnya warna dinding pada perasaan? Wah gila! Waktu itu Jonathan hanya berdiam karena posisi meja yang membuatnya langsung menatap tembok polos itu juga sebuah matkul? Pantaslah ia harus sering pergi ke luar. 

"Harus tau gimana cara orang nyaman ya?"

Sevanya mengangguk setuju. "Iya, bikin ruangan yang bisa buat orang nyaman nempatin nya itu bagian paling seru kalo kata aku."

"Bikin orang nyaman, seru?"

"Iya, kenapa kak? Ada yang salah?"

Bertanya dengan polos seolah dirinya tak sadar bahwa bukan hanya membuat ruangan yang nyaman, tapi dirinya sendiri pun sudah membuat orang lain nyaman berada di dekatnya, termasuk Jonathan.

Kalau bisa jujur, tiga bulan selama kenal dengan Sevanya ini memang membuatnya jadi seperti punya semangat kembali. Suasana positif yang sering ditabur oleh ia dan wajah yang tak pernah jauh dari kata bahagia itu selalu menjadi favoritnya.

Dia mengerti Mischa, sungguh.

Jonathan jadi seperti Mischa yang setiap kali mengagumi Sevanya tak pernah ada berhentinya, saking pantas untuk dipuja.

Olehnya juga.

 

 

Sampai saat di mana ia bertemu lagi dengan Mischa di salah satu selasar kampus yang sudah kosong karena hampir semua penghuni telah bergegas menuju tempat parade wisuda.

"Lu salah paham."

"Laper banget kah? Sampe temen sendiri lu makan .."

"Gak ada gue makan temen sendiri! Lu ambil aja si Sevanya, anjing! gue gak suka laki! Gue gak nafsu sama kontol kayak lu!"

Oh? 

Mungkin ini adalah ucapan paling kejam yang Jonathan serukan pada Mischa hingga membuat orang yang mendengarnya murka tak terima.

"Jaga mulut lo, anjing!"

"Lu yang anjing, berantem sama gue perkara laki?"

"Terserahlah mau bilang gue apa, lu kalo udah suka cowok ngaku aja!"

"Gue gak suka cowok anjing gue masih normal!"

"LAH LU PIKIR QUEER DI DUNIA INI GAK NORMAL?! mereka yang lu kira gak normal itu manusia juga, Jo! Jaga mulut lo, ngomong kayak udah jadi orang paling bener aja."

Jujur sebenarnya Jonathan panik! Seharusnya ia tak berbicara seperti itu pada Mischa, pada siapapun di dunia. Jangan menghakimi! Jonathan menyesali perkataannya sekarang.

Sebelum akhirnya akan mengejar Mischa yang lebih dulu meninggalkannya, mata menangkap satu perempuan yang sedang ditarik oleh perempuan lain jauh beberapa meter dari tempat ia berdiri.

Bukan kah itu Bening Cendikia?

Badan terasa kaku hanya untuk sekedar menghampiri bahkan untuk melambaikan tangan pun rasanya tak bisa, terpaku entah kenapa alasannya, yang pasti Jonathan hanya bisa mengangkat tangan berusaha menghentikan dengan suara yang amat pelan.

"Teh?! Teh Bening?!"

 

 

Melihat parade wisuda di atas terowongan yang menjadi tempat keluarnya para wisudawan. Ramai, meriah, rupa-rupa, artistik, serta setiap himpunan yang keluar mem-paradekan lulusan terlihat sangat menawan. 

Ada titik kebanggaan tersimpan di hati yang paling dalam membuat semua orang tersenyum mengingat bangganya terhadap diri bisa berada di kampus ini.

Tiap kata yang diucap atau gerakan yang bersemangat menjadi momen paling menakjubkan.

Kalau bisa, terus saja parade wisuda seperti ini.

Tolong.

Karena rasanya waktu ingin segera dihentikan saat Jonathan akhirnya dapat melihat kembali senyum yang selalu ia rindukan.

Oh Tuhan ...

Serabi Pandan Kinca-nya ..

Datang dari bawah menaiki tangga diikuti beberapa yang berkostum sama, rupanya dia masuk fakultas seni rupa desain yang kini sedang mengarak para wisudawan ke atas.

Terik matahari yang terasa menampar ini tak buat ia bergerak sedikit pun untuk melihat keindahan seseorang di bawah sana, berjalan anggun menaiki tangga dan lihai tubuh melenggang ikuti setiap irama yang diperdengarkan serta memakai pakaian penuh warna dengan riasan mencolok pula.

 

Jantung rasanya tak bisa berpompa normal, semakin banyak obrolan kekaguman dari kiri kanan yang ia perdengarkan semakin dalam pula perasaaan.

Hal yang tak masuk di akal Jonathan.

Bagaimana bisa menyukai seseorang yang hanya bertemu sekali itupun hanya beberapa menit, setelah itu dipisahkan tanpa tahu keberadaan selama tiga bulan. 

Harap perasaan pergi bersamaan dengan orangnya yang tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi.

Jonathan juga bingung apa yang membuat ia betah menunggu sampai tumbuh perasaan baru dan selalu menginginkan bertemu.

Setelah ini mungkin ia akan menghampiri Bening Cendikia alias Serabi Pandan Kinca-nya lalu membawa ke hadapan Mischa dan menjelaskan bahwa ia tak ingin merebut Sevanya.

 

Namun apa daya, diri yang tertutup ini hanya bisa memandang dari kejauhan. Ikuti setiap Bening langkahkan kaki untuk mengarak para wisudawan.

 

 

 

 

Dua minggu setelah parade wisuda berlalu, hubungan antara Mischa jadi bertambah buruk. Jonathan juga baru mengetahui bahwa Mischa dengan Sevanya akhirnya berpacaran. Dia turut senang.

Tak ada lagi bertemu dengan keduanya sambil tebar senyuman, yang ada hanya kecanggungan.

Selain itu, ada hal lain yang membuat hatinya perih sampai sekarang.

Saat arak-arakan dirinya menghampiri Bening Cendikia namun sebuah tolakan dan hindaran yang ia dapatkan. Bening ini seperti lupa ingatan karena saat Jonathan datang padanya, ia tak pernah nampakkan senyuman.

Hidup seperti tak pernah berpihak padanya, diserang dari sisi pertemanan, percintaan, keluarga pun sama hancurnya.

Mendengar dari telepon bahwa Mama akan segera menikah lagi dengan pria keturunan asli lokal karena dipaksa oleh kedua orang tua.

Saat dulu Mama dengan Papa menikah, Mbah Uti tak pernah setuju karena hanya menginginkan Mama bersatu dengan orang asli daerah situ sementara Papa adalah keturunan Barat. Kabur dan tinggal di luar negeri menjadi pilihan pertama saat mengandung Jonathan, lalu pulang saat setelah lahiran. Ternyata Mbah Uti tak menganggap Jonathan sebagai cucunya karena tak pernah melihat anaknya ini mengandung secara langsung.

Menurut beliau, Jonathan ini hanya akal-akalan Papa yang dibawa supaya Mbah Uti merestui hubungannya dengan Mama.

 

"Anak saya tidak pernah mengandung! Itu anak kamu dengan perempuan lain! Wajahnya tak ada miripnya dengan anak saya!"

 

Ini alasan kenapa Jonathan berkuliah jauh dari Kota asal.

Kata yang keluar dari mulut Mbah Uti tak pernah ada yang gagal mengiris hati sampai membuat banyak korban seperti ini.

Jonathan sangat paham bagaimana omongan orang bisa membuat hancur kehidupan orang lainnya.

 

Tiba-tiba notifikasi sosial media Jonathan kembali menyala.

Kali ini tak kalah sama menyakiti hatinya.

 

Putus hubungan sama Mama, Nathan ikut Papa 

 

Potongan kalimat itu sangat mencekam seperti pisau tajam yang telah menusuk pada ulu hati paling dalam.

Sudah tak ada lagi harapan tinggal bertiga bersama, semua hancur! Jonathan bahkan tidak tahu lagi sekarang harus bertumpu kemana .. Ia sendirian .. Mischa .. Bening .. bahkan Sevanya yang beberapa waktu ini telah menjadi sumber semangatnya ...

Bajingan!

Bajingan semua yang membuat hidup orang lain hancur seperti ini, harusnya mulut mereka ditutup saja! Jangan menghakimi! Siapa mereka terlalu ikut campur dengan urusan kami?

Dan ini membuatnya menyadari ..

Jonathan juga seharusnya tutup mulut dan tak berbicara sembarangan pada Mischa tempo hari ...

Merasa diri paling tersakiti karena omongan orang lain terhadapnya, tapi ia sendiri juga menyakiti orang lain dengan ucapannya.

 

Bulir bening jatuh kembali di pelupuknya saat melihat dua orang tak asing sedang berjalan bersama berpapasan dengan dia. Mischa dan Sevanya.

Terlihat mesra bergandengan tangan.

Jonathan seperti tak punya nyali untuk menghampiri, ia malu. Sungguh. Ia sangat malu terutama pada Mischa sahabatnya.

Wajah hancur karena berjam-jam mendekam di toilet hanya untuk menangisi keadaan dan tangan yang diperban ini semoga tak pernah Mischa dan Anya sadari. 

 

 

Hari perhari habiskan waktu mengasingkan diri dari orang lain, janji untuk berusaha tak menginap di Studio pun akhirnya pecah juga. Semalaman ia tamatkan hari dengan mengerjakan tugas.

Ini sebenarnya adalah cara agar ia lupa segalanya, meskipun saat bertemu dengan Mischa selalu ia ingin berbicara dan dengan Sevanya ia ingin menyapa.

Biasanya ia tak sengaja melihat Mischa sedang berada di Sunken bersama teman lainnya, sementara Sevanya selalu berada di dekat kolam Intel menatap sekitar seperti menunggu pelangi datang.

Hanya berani melihat tanpa menghampiri memang cukup menyakitkan, rasanya seperti dicekik oleh beberapa tangan yang memaksa ia berbicara tapi masih tertahan. 

 

"Si Mischa kentutnya lama banget ..." 

Yang asal ceplos ini namanya Wafa, dia juga datang dari daerah sama seperti Jonathan dan Mischa, dia mengambil fakultas mesin.

Jonathan mengerutkan dahi mendengar celetukan Wafa.

"Orang kalo ngejauh tuh artinya lagi kentut, Jo. Si Mischa ngejauh karna dia lagi kentut gak pengen bikin lu kebauan, cuma kentutnya lama aja."

Keasbunan Wafa sukses membuat Jonathan tersenyum meski tipis, setidaknya bisa membuat perasaan menjadi sedikit lega.

"Katanya si Mischa abis putus," lanjut Wafa kali ini membuat Jonathan kaget sepenuhnya.

Tapi ia tak berani untuk bertanya kenapa alasannya.

"Meskipun gue gak selalu barengan sama lo sama Mischa, tapi gue tau kok. Gue gak mau komentar lebih soal kalian berdua, lu berdua udah gede, tau juga cara nyelesain masalahnya gimana. Semoga lu sama Mischa cepet temenan lagi deh ..." Wafa berdiri dari duduknya dan menepuk pundak Jonathan dua kali. "Kedepannya gua harap lu lebih hati-hati, Jo."

 

Di bawah pohon rindang kampus ini Jonathan merenungkan apa yang Wafa bicarakan pada dirinya. Semakin banyak rasa bersalahnya.

Tak sedikit juga senang yang ia terima.

Kalian tak akan percaya alasannya mengapa.

 

 

Renungi diri di kamar sambil mengingat kembali setiap kejadian yang terasa kebetulan dan sulit untuk dijalankan. Di saat ia sedang terpuruk karena keadaan keluarga yang hampir pecah, dia malah bersitegang dengan Mischa si Sahabat akibat omongan sendiri. Sevanya juga, entah kenapa akhir-akhir ini selalu menghindari atau karna mungkin ia telah berpacaran dengan Mischa, lalu Bening? Tak usah ditanya, setelah kejadian penolakan saat parade wisuda itu, ia menghilang kembali. 

Jujur ia ingin kembali di mana ia tak asal berbicara pada Mischa, mungkin persahabatan tak akan renggang begini. Jonathan harusnya jaga mulut, ia harusnya tak keji, kalau begini, apa bedanya ia dengan Mbah Uti? 

 

Mencoba telepon Mischa untuk meminta maaf namun hasilnya sama, awalnya memang dijawab namun terdengar seperti enggan mendengar. Mischa sudah terlanjur kecewa olehnya. 

Sampai akhirnya sebatang rokok kini sudah bertengger di mulut Jonathan, menghisap dan keluarkan asap seperti sudah berpengalaman.

"Suu asuuuu!"

Frustasi jujur dia frustasi.

Apalagi saat menerima telepon dari Mbah Uti tadi.

 

"Gara-gara kamu anak sialan! Anak saya jadi kabur gak tau kemana padahal pernikahan mau dilaksanakan!"

 

"Suruh anak saya pulang! Suruh dia kembali ke saya!"

 

Tak pernah dipanggil dengan panggilan 'cucuku' atau apapun, sekalinya dipanggil dengan kata 'anak sialan' memang sepertinya keberadaan ia tak pernah diinginkan.

Mama juga sepertinya kabur untuk menghindari pernikahan yang dipaksa ini.

Hidupnya hancur! 

Tak ada tempatnya bercerita.

Semua derita hanya disimpan di hisapan rokok saja.

 

 

Malam saat biasa ia akan membeli makanan, ia betemu dengan Mischa secara kebetulan. Pilih menghampiri untuk meminta maaf dari pada harus dinanti-nanti, kalaupun akan diludahi, ia sudah tidak peduli.

Ia ingin memperbaiki hubungan pertemanan dengan Mischa.

Tulus meminta maaf dan menjelaskan bahwa dirinya saat itu seperti sedang sadar tidak sadar akibat dari tersulutnya emosi. 

"Gue sebenernya gak pacaran sama Seva ..."

Wow, fakta kali ini lebih mengejutkan dari yang ia ketahui di Wafa.

"He told me that he is in love with someone else .."

Kalimat demi kalimat yang keluar justru makin membuat Jonathan menganga.

Tapi keduanya sama-sama diam.

Jonathan yang diam-diam bertanya siapa sosok yang dicintai oleh Sevanya.

Semetara Mischa diam-diam mengetahui semuanya. 

 

 

Akhir pekan biasanya Jonathan hanya akan berdiam diri di rumah, mengerjakan sesuatu yang kiranya bisa meringankan agenda perkuliahan.

Tapi hari ini sangat berbeda, dia sudah rapi dengan setelan baju nyaris menyentuh gaya punk rock alternatif namun masih terlihat sopan. 

Jadwalnya ia akan menghadiri teater kabaret di Kota ini.

Dari tempat ia tinggal sampai ke tempat pagelaran tak sampai dua puluh menitan. Duduk di kursi paling tengah saksikan panggung yang cukup megah bagi ukuran kabaret lokal.

Awal pertunjukan memang menyenangkan, kabaret ini bercerita tentang seseorang yang sedang mengejar mimpi sebagai perancang busana nyentrik berwarna yang ingin membuat semua orang mengakuinya.

Komedi, drama, pelajaran hidup yang berharga pun Jonathan dapat. Selain itu, ia juga mengerti kenapa sesama manusia harus saling menghormati, jangan sampai menghakimi dan bisa membuat orang tersebut sakit hati.

Ia juga belajar kalimat baru.

"Teteh geulis pisan ih .."

Yang paling teringat di otak karena di dialog tersebut sang perancang sedang memuji modelnya yang cantik.

 

Model yang perawakannya sangat Jonathan kenali, dari senyum yang mengembang, tingginya yang hampir menyamai Jonathan.

Riasan hiperfeminin yang dipakaikan itu justru yang menarik perhatian Jonathan.

Bersolek dengan hiasan warna mata biru menyala, pipi yang dipoles merah muda lalu memerah pula bibirnya. Tak lupa, alisnya diukir tipis sedemikian rupa.

Bernyanyi merdu serta badan lihai berlenggang menarikan sebuah nyanyian.

Tak ada sedikit pun air muka risi tercetak pada para wajah yang menontonnya, semua malah terkagum-kagum sampai dagu jatuh menganga, begitu pula dengan Jonathan.

 

Hati semakin berisik perdengarkan satu nama yang kini sedang ditonton oleh dia.

Salah satu dari model yang memerankan gaya hiperfeminin itu adalah yang mengisi hatinya.

 

 

 

Malam minggu memang tak seharusnya ia keluar begini, kota yang selalu dikaitkan dengan kata romantis karena tuhan menciptakannya sedang tersenyum ini membuat Jonathan sering kali iri hati.

Hidup merantau, tak suka atau lebih tepatnya kurang bisa bersosialisasi dengan lingkungan yang besar memang membuatnya muak. Kuliah pulang, kuliah pulang lagi, begitu saja siklusnya.

Paling jauh saat diajak futsal itupun oleh temannya Mischa, bayangkan jika hidup gini tak ada Mischa dan Wafa?

Dikenal oleh seluruh angkatan prodi arsitek saja, sudah aneh, apalagi dikenal di fakultas lain yang bahkan ia pun tak tahu kenapa ..

Oh ..

Mungkin karena sering bersama Mischa, si Jangkung salah satu ikon anak teknik sipil yang sangat supel, ramah, anak band kampus, UKM dimana-mana.

Melamun kehidupan sampai tak sadar diri sudah berada di dalam rumah sambil terduduk di lantai bersandar pada pintu masuk dengan tangan ia letakkan pada kaki yang terlipat depan dada.

Orang tahunya ia adalah penikmat My Chemical Romance, Arctic Monkeys, The Neighborhood, Oasis, The 1975, Chase Atlantic, Linkin Park atau semua band indie dan alternatif rock lainnya.

Ya memang tak salah ...

Tapi sejujurnya ia sering mendengarkan Daniel Caesar, Dominic Fike, Sunset Rollercoaster, dan If I can have you no one should alias SZA.

Dan di malam minggu penuh sendu ini apa yang diperdengarkan sampai membuatnya termenung melamun.

Tresno tekan mati oleh NDX AKA

Mengacak rambut seperti bisa meluruhkan segala isi kepala yang amat berisik. 

Hati terasa semakin sakit.

Rasanya ingin berlari sampai bertemu lalu berpeluk hebat sebagai obat rindu.

Tapi Jonathan terlalu cupu.

Seseorang seperti dia mana mungkin akan menyukai Jonathan balik.

Ibarat dua sisi koin yang bersebrangan, jika Jonathan adalah sosok tertutup yang tak suka bergaul atau tak suka dengan hal yang mungkin akan bertemu lebih banyak orang, justru yang disukainya adalah duta pertemanan dengan koneksi di mana-mana, pulang kuliah ada kegiatan lain, sampai menjadi salah satu pemeran di pagelaran.

 

 

Pintu rumah tiba-tiba terketuk buat Jonathan berdiri lemas.

Siapa yang bertamu malam hari gini? Apalagi ia sedang sedih.

Tak sopan!

Dia akan menonjok apabila yang datang adalah orangㅡ

 

"Kak Jo?"

Mendengar satu suara yang membuat Jonathan langsung bukakan pintunya.

Terlihat sosok satu yang malam minggu ini ia renungkan pakai lagu Jawa.

Tak salah lagi, Sevanya adalah orangnya.

Tarik tangan Sevanya segera ke dalam dan menutup pintu rumah kasar.

Entah setan apa yang merasuk pada diri Jonathan hingga membuat dia memeluk erat Sevanya tak biarkan ia pergi.

Yang ia dapat hanya dorongan dari sang lawan.

"Aku cuma mau ngambil baju yang ketinggalan waktu ngasih laundry ke Kak Jo."

Jonathan terdiam.

Netra runut cermati wajah Sevanya dari titik ke titik amat sempurna tak ada celahnya, indah sangat indah apalagi saat ia tampil di pagelaran kabaret tadi, atau saat bertemu sebagai Bening Cendikia pertama kali.

 

Iya.

 

Ternyata Bening Cendikia, si Serabi Pandan Kinca-nya adalah Sevanya.

Nama aslinya, Sevanya Bening Cendikia.

Mengetahui fakta tersebut saat setelah parade wisuda. Saat sedang sedih-sedihnya, ia membuka laundry yang diberikan oleh Sevanya yang tak sempat ia bongkar seluruhnya.

Terdapat baju hijau muda persis yang dipakai oleh Bening Cendikia.

Hati terasa dicubit saat itu.

Putuskan untuk pergi ke laundry tempat di mana ia dan Bening bertemu, yang didapat adalah fakta baru yang membuat kepalanya seperti ditimpa batu.

 

 

"Iya, Kak. Itu Kakak aku, nama panjangnya Sevanya Bening Cendikia. Waktu itu Kak Seva abis pulang pagelaran belum sempet ganti baju dan keburu tutup laundry."

 

 

Malam di mana Jonathan sedang mengalami pilu ratapi hidup yang sama sekali menurutnya tak pantas dijalani itu, ia beruntung bertemu Bening Cendikiaㅡsi Manis yang membuat semangat kembali membara, dan ternyata itu adalah Sevanya.

Pantas rasa tak kunjung hilang seiring ia tak pernah melihat lagi Bening Cendikia-nya, karena ada Sevanya yang menemaninya.

Pantas.

Pantas rasanya semakin besar.

Pantas ia jadi menjilat lagi ludahnya sendiri.

Pantas, Jonathan pantas mendapat karma.

 

Sepulang dari laundry dengan perasaan campur aduk, mempertanyakan diri tentang kejelasan seksualitasnya karena sungguh tak sedikit rasanya pada Bening Cendikia berkurang saat mengetahui bahwa itu sebenernya adalah Sevanya.

Malah semakin membesar dan membuat ia gila.

Melihat Sevanya yang sedang dekat dengan Mischa itu sangat membuatnya sakit, bukan sakit karena Mischa telah temukan sahabat baru, tapi sakit karena cintanya sedang berteduh di tempat lain.

Semakin hari semakin bersikeras ia membuang perasaan, semakin menjadi pula cintanya.

Dia jadi frustasi.

Setiap hari memandangi wajah yang tengah berdiam menatap kolam.

Ia juga tahu bahwa Sevanya akan tampil di teater kabaret dari adik Sevanya.

 

Persiapkan hati dari rumah, entah perasaan apa yang akan ia bawa setelah melihat pertunjukan.

Mengejutkan, tak ada rasa risih sedikit pun tersimpan.

Sekali lagi, perasaan cintanya semakin membesar.

 

Kembali bawa Sevanya ke dalam pelukan, hirup wangi berbedak yang dicampur rimpang iris dan bunga yang selalu ia rindukan.

"Lepasin! Kak Jo bakal jijik sama aku! Mana bajunya? Aku mau pulang!"

Sepertinya saat berbicara dengan Mischa tentang dirinya yang tak menyukai pria itu memang didengar oleh Sevanya yang saat itu sedang dikenal sebagai Bening Cendikia oleh Jonathan.

Gelengan kepala datang dari Jonathan, ia tak terima kalau dibilang jijik dengan Sevanya. 

"Maafin aku, Bening."

"Gak usah manggil aku kayak gitu, Kak! Mana bajunya aku mau pulang?!"

Sevanya mengitari rumah Jonathan cari sesuatu yang selama ini tertinggal dengan tangan Jonathan yang masih terkait di tangan, fokusnya tertuju pada satu tas kertas yang berada di atas sofa. 

"Lepasin, Kak Jo! Aku cowok! Kak Jo gak suka kan?! Gak suka sama yang punya kontol lagi kan?!"

Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Sevanya ini bak pisau yang menusuk tepat di relung hati, bahkan sampai Jonathan merasa pusing tak terima.

Dia merasa sakit juga.

Raih tas kertas dari sofa dan segera berbalik ke arah pintu.

Sialnya badan Jonathan merosot ke bawah sampai hanya bertumpu pada lutut dengan tangan yang masih menahan.

Jonathan berlutut.

Sekali lagi, Jonathan berlutut di hadapan Sevanya yang sedang memuncak amarahnya.

"Maafin aku, Anya. Aku gak maksud ngomong kayak gitu …"

Wow .. Selain sampai berlutut, ternyata sebegini ngaruhnya marah Sevanya sampai Jonathan merubah kata pengganti yang menurutnya adalah hal besar.

Semua demi Sevanya.

"Gak maksud ngomong gimana? Abis ngomong itu, Kak Jo liat ada aku kan? Meskipun gak ngomong langsung, tapi aku denger jelas gimana jijiknya Kak Jo sampe menghakimi Kak Mischa! Jahat banget sampe ngomong gak gitu … kak.. aku gak nyangka …"

"Maafin aku sumpah, aku emang brengsek ngomong gitu."

Sudah berlutut begini sambil keluarkan air mata, apa bisa membuat hati Sevanya tersentuh?

"Kak Jo, lepasin aku gak?! Lepasin!"

Sendu tercetak jelas di wajah Jonathan tak buat Sevanya menjadi lembut hati.

Lelaki yang lebih muda itu menangkis sekuat tenaga tangan Jonathan sampai ia terlepas sepenuhnya dan segera keluar dari rumah.

 

 

 

 

Penginku siji

Nyanding sliramu tekanku mati

Dongaku rabakal mandek

Sedurung sliramu bali

 

Lirik yang dulu diketawai oleh Jonathan karena terlalu putus asa masalah percintaan itu justru jadi yang semakin sering diputar olehnya.

Gila! Ia bisa gila!

Atau memang sudah GILA?!

Dia gila karena menginginkan Sevanya Bening Cendikia.

Serabi pandan kuah kinca yang semoga akan menjadi miliknya.

Mari kita amin kan saja.

 

Karena tak masalah kan kalau dia sering mengirim pesan kepada Sevanya sekarang? Toh dia dengan Mischa tak ada hubungan. 

Dia sudah menjadi orang yang kurang sopan karena mengirim pesan setiap hari berharap Sevanya kembali. Maksudnya keadaan yang kembali.

Ia tak cukup meminta maaf dengan baik kemarin-kemarin, maunya dia berbicara langsung. 

Yang didapat hanya ceklis dua biru, atau Sevanya yang secara terang-terangan menghindar setiap kali bertemu dengan Jonathan.

 

 

Memilih jurusan arsitekur ini memang tak pernah salah bagi Jonathan, selain impiannya dari kecil, ternyata kesibukan mahasiswa arsitektur bisa membuatnya sedikit lupa dengan kehidupan yang penuh kesedihan.

Ya, meskipun setiap malam sering merenung sambil keluar air mata sedikit.

Wajar ...

Atau mungkin saat memotong kayu balsa dengan cutter olfa tiba-tiba jarinya secara tak sadar ikut jadi sasaran hingga daging terbelah saking tajamnya benda tersebut.

Ya wajar juga ...

Namanya juga anak arsitektur.

Kalau dipotong tepat pada nadi muㅡ

Tidak-tidak ..

Jonathan masih ingin melihat Mama Papa yang sedang menunggunya.

Karena nyatanya Mama kabur ke tempat Papa berada. 

Sepertinya Jonathan harus nekat seperti Mama untuk mengejar cinta tak peduli keadaan bagaimana. 

 

 

 

Lingkar mata sudah tunjukkan warna hitam, telapak juga sudah terasa kaku untuk digerakkan akibat dari terlalu kuat menggunakan cutter dan lem korea yang belepotan.

Hari hari perkuliahan dihabiskan bersama teman, pulang sempatkan diri ke tempat hiburan malam. Sebuah peningkatan kalau kata Wafa dan Mischa. Sekali dua kali tak apa, semuanya wajar dilakukan saat umur sudah menginjak dua puluhan.

Asal tahu batasan.

Jangan lupa juga, futsal yang kini sudah makin ramai dengan bergabungnya angkatan satu tingkat di bawahnya, sampai membuat grup khusus untuk menjadwalkan kapan bisa mereka berkumpul kembali.

Selalu bertemu Sevanya di tribun GOR kampus saat ia futsal dengan anak teknik sipil bersama, entah sedang menunggu siapa.

Sekali-sekali curi pandang padanya yang semakin hari semakin terlihat indah, senyumnya semakin manis dan, "JO?! AWAS BOLA!!"

Membuat wajah ditampar amat keras oleh bola itu tak seberapa dengan sakitnya ditolak Sevanya.

"Goblok lah kon!"

"Aman aja .."

"Aman apanya bego lu mimisan!"

Ah lupakan kejadian memalukan itu …

Dia telah kembali ke kehidupan di mana ia dengan Mischa sudah berteman seperti biasa, juga, seperti awal tidak mengenal Sevanya.

Tiap tak sengaja bertemu, lelaki lebih muda darinya itu sering menghindari tatapan dari nya, WhatsApp tak dibalas, bertemu membuang muka, lengkap sudah penolakannya.

Harusnya dengan berkali-kali penolakan seperti ini, dia sadar bukan malah cintanya semakin membesar.

Dia benar-benar telah memakan omongannya sendiri, menjilat ludah yang sudah dibuangnya sendiri.

 

Kalau diberi kesempatan untuk berlutut lagi, Jonathan akan dengan senang hati menyanggupi asal Sevanya bisa ia miliki.

Karena hanya mencintai diam-diam hanya menatap dari jauh itu rasanya amat sakit, dan tak pernah cukup bagi Jonathan. Ia butuh Sevanya temani setiap malam barulah itu cukup baginya.

Sekarang Jonathan sudah mulai terbiasa dengan kesibukan sebagai seorang mahasiswa arsitektur walau jam tidur kadang susah diatur. 

Meski kadang suka ngelantur.

Ya tau lah kenapa dia jadi seperti ini.

 

 

 

 

Tak terasa hidup dijalani selama enam bulan, sudah tamatkan ujian akhir semester pula. Kini waktunya berlibur selama dua minggu sebelum akhirnya menyentuh kembali materi yang lebih kompleks dari semester tiga.

Dipaksa menyatukan fungsi, estetika, keamanan, dan kerumitan sebuah bangunan memang sepertinya akan membuat ia gila.

Astaga, Banteng ..

Dia pikir arsitektur hanya tentang estetika saja.

Ternyata harus memikirkan fungsi dan keamanan juga! 

Sudah lah, hari ini harusnya tidak dihabiskan untuk membahas kegiatan pertama di liburan semester akhir.

Jonathan tak bisa pulang ke kota asal karena Mama sudah tak ada di sana. Selalu selipkan nama Mama di setiap doa adalah bentuk cintanya. Jonathan harap Mama dan Papa selalu berada dilindungannya.

 

 

Karena mungkin sekarang ia sedang di antara hidup dan mati dengan tangan kekar yang melingkar di leher.

Tebak saja apa yang dilakukan di tempat hiburan malam sampai ia hampir keroyok oleh pria mesum setengah baya yang kini sedang mencekiknya.

Demi Sevanya.

Awal ia hanya berkunjung biasa sendirian, duduk di kursi yang menghadap ke arah panggung yang sudah berkilauan. Tak sangka SevanyaㅡOh atau yang sekarang sedang menjadi Bening Cendikia itu datang ke atas panggung dengan riasan hiperfemininnya.

Kali ini wig rambut berwarna pirang dihiasi bando merah menyala, dia berdandan ala perempuan zaman 90anㅡlebih tepatnya seperti barbie dengan eyeshadow dan blush on keluarkan warna merah muda hingga bibir merona.

Dia bernyanyi merdu hampir Jonathan tak mengenali bahwa ia adalah Sevanya, saking lembut, manis, nan candu keluar dari mulutnya.

Nikmati penampilan dengan tak pudar senyuman, jantung berdegup kencang, aliran darah di tubuh semakin terasa, badannya sangat panas ketika mata bertatap langsung dengan Sevanya. 

Bayangkan nyanyikan lagu pop centil 2000an sambil menatap ke arah Jonathan, sungguh buat Jonathan jadi gugup sampai ingin pipis.

Tak minum pun, dia sudah mabuk.

Dimabuk oleh pesona Sevanya Bening Cendikia.

Namun keadaan berubah total saat Sevanya sudah tampil di atas panggung kecil dan diikuti oleh beberapa pria yang Jonathan yakin itu adalah pria mesum sedang mengincar Sevanya.

 

Layak karangan cerita romansa yang ditulis oleh penulis lainnya, Jonathan segera bawa Sevanya ke luar dari tempat hiburan malam itu setelah melakukan baku hantam dengan mereka.

Yang penting Sevanya aman.

Urusan dia bisa diatur.

Aturlah sesedih mungkin.

 

Pulang menuju ke rumah menggunakan motor hitam Jonathan dengan jaket yang dipakaikan di badan Sevanya.

Tangan yang di belakang melingkar pada pinggang yang sedang memboncengnya.

Dagu ia letakkan di atas pundak sang lawan.

"Aku gak mau pulang."

"Kenapa?"

"Engga, aku gak mau pulang."

Malam pukul sebelas di jalan Ganesa ini, Sevanya peluk erat Jonathan dari belakang. Laju yang semakin mengencang buat rambut palsu yang digunakan berterbangan, namun masih kuat bertengger manis di kepala akibat ditahan oleh helm yang dipakainya.

Melihat yang di belakang sedang balik menatap lewat kaca spion motor membuat Jonathan mengelus pelan tangan yang melingkar di badan.

 

 

 

Sampai di rumah Jonathan, keduanya terduduk di atas pinggir ranjang dengan saling bertatapan.

Tiba-tiba Sevanya membawa Jonathan ke pelukan sambil menangis sesenggukan.

Tangan terangkat untuk mengelus punggung yang sedang yang naik turun.

Karna Jonathan yakin melakukan drag di sebuah tempat hiburan malam adalah yang pertama bagi Sevanya, lihat bagaimana gemetarnya badan saking takut atas kejadian yang menimpanya tadi. 

Jonathan elus rambut palsu yang masing terpasang.

"It's okay, Anya."

Pelukan melonggar namun masih dengan kedua tangan melingkar di leher Jonathan.

Netra tatap wajah cantik belum lepas dari dandanan hiperfeminin di depan dengan jarak sedekat ini hampir membuat Jonathan hilang waras, yang membuat Jonathan semakin jatuh cinta, tak pernah jijik ia melihatnya, apalagi saat dandanannya nyentrik begini, tatapan runut dari mata lalu berakhir ke bibir terpoles lipstik merah menyala, begitu seterusnya sampai tak sadar sekarang sudah tak ada lagi jarak di antara mereka.

Selama berbulan-bulan perasaanya ia tahan, barulah hari ini puncaknya membuncah.

Rengkuh badan Sevanya dan bahkan membawa badan yang sedikit lebih kecil darinya itu ke atas pangkuan dengan masih bertatapan dan melingkar tangan.

Tangan Sevanya pada leher Jonathan sementara tangan Jonathan pada pinggang Sevanya.

Jantung seperti akan melompat dari tempat semula karena setelahnya mereka memagut kedua bibir dengan lembut sambil menutup mata.

Nikmati cumbuan tak berpengalaman yang justru membuat mereka dimabuk kepayang.

 

 

 

 

 

 

Untung besok libur.

Tak usah ditanya Sevanya pulang tidak atau ia tidur di mana, karena pagi ini mereka masih di atas ranjang yang sama, berdua.

Bangun dengan keadaan wajah polos tanpa polesan apapun, masih memakai pakaian. Tak sengaja bertatapan membuat mereka tersipu malu.

Bercerita dari awal bagaimana ia bisa tampil di sebuah tempat hiburan sambil menikmati sarapan di tengah rumah. 

Dan benar saja dugaan Jonathan, Sevanya itu coba-coba tanpa mengetahui bagaimana hiburan malam itu seperti apa, dia juga tak bilang pada kedua orang tuanya.

Ngomong-ngomong soal orang tua, Sevanya juga bercerita bagaimana awal ia menjadi drag queen dan keterkaitannya dengan Mama Papa.

"Design Interior itu bukan pilihan aku, aku sebenernya pengen masuk sastra atau seni rupa." 

Ah iya, dia pernah bilang seperti itu pada Jonathan tapi belum diketahui alasannya kenapa karena Jonathan memotong pembicaraan.

Rupanya karena semenjak sekolah menengah atas, Sevanya adalah anggota tak resmi sebuah kabaret. Tampil pada acara perpisahan sekolah dengan dandanan yang membuatnya menjadi pusat perhatian.

Sevanya suka.

Dia suka saat banyak pasang mata tertuju padanya.

Maka dari itu ia meneruskan perjalanan sebagai pemeran seni yang mana ia sendiri tak masalah mendapat peran mengharuskan berdandan hiperfeminin. 

Lama-lama sudah melekat pada diri, makanya dipanggil dengan sebutan 'Teteh' oleh orang yang mengenalnya dari dulu.

Nama panggungnya? Anya!

Bukan Bening Cendikia.

Matilah dia kalau memberi nama terakhir sebagai nama panggungnya.

Itulah mengapa ia sangat terkejut saat Jonathan tiba-tiba memanggil dia dengan sebutan Anya, lebih ke senang tepatnya.

Namun namanya hal yang sudah dianggap tak biasa di lingkungan ini menjadi sebuah perhatian orang tua, Sevanya dituntut harus masuk Desain Interiorㅡjurusan pilihan Papa dan mendapat nilai A untuk bisa melanjutkan aktivitas sebagai drag queen, ia tak masalah.

Sevanya menerima tuntutan dari kedua orang tua tersebut, menjalankan hidup sebagai mahasiswa desain interior dengan sepenuh hati. Tak heran orang bingung saat yang lain mengeluh tentang tugas di semester pertama, Sevanya malah menjalankannya dengan penuh suka cita.

Dia belajar mencintai sesuatu yang dipaksakan kepadanya sebagai timbal ia bisa tampil sebagai drag queen di sebuah acara.

Uang yang ia dapat dari mengisi acara sebagai Anya ini, ia tak gunakan sendiri. Setiap bulan ia keluarkan agar bisa mendapat gelang biru semu tosca yang di tengahnya terdapat besi lambang tak terhingga, ia berdonasi untuk anak di seluruh dunia yang mengalami kesulitan.

 

 

Jonathan tatap inchi dari wajah Sevanya yang hari ini seribu kali kelihatan cantiknya, rambut masih dibiarkan basah tersisir belah tengah dengan setiap helaian menyentuh kulit wajahnya.

Sepertinya, Sevanya dan Kota ini sama-sama dibuat saat Tuhan sedang tersenyum. Setiap titik dari keduanya selalu ingin Jonathan ketahui lebih rinci, menawan untuk dipandangi, indah per inchi pantas untuk dipuji, dan Jonathan yakin kecantikannya akan selalu abadi.

"Mereka minta maaf karna kurang berjaga ketat waktu malem, kayak kecolongan gitu deh .. Kak Jo?"

"Mm?"

"Tempat hiburan yang kemaren kita datengin itu minta maaf sama aku terus nawarin kita makan di sana."

Tak perhatikan sama sekali setiap kata yang keluar dari mulut Sevanya, fokusnya hanya pada muka. Terutama bagian merah muda di atas dagu yang sekarang menjadi hal paling favorit bagi dirinya.

Bibir mungil tebal bagian atas dan filtrum yang semalam hampir memenuhi mulutnya itu manisnya terasa sampai sekarang. 

"Iya aku juga suka."

"Suka apa ya? Perasaan aku tadi gak ngomong suka?"

"Eh tadi kamu ngomong apa?"

Sevanya sudah keluarkan muka kesal sebelum akhirnya Jonathan bergelayut di tangan menenangkan.

"Ah udahlah, aku udah gak mau lagi ke sana."

"Iya ngapain ke sana lagi? Banyak Bar lebih proper ngejagain bintangnya."

"BINTANG KATANYA …"

 

Keduanya cekikikan seperti sudah lupakan masalah yang sebenarnya belum mereka selesaikan.

Dan mungkin ini adalah waktunya.

Jonathan tarik tangan Sevanya dan mengelus punggung telapaknya dengan ibu jari, tatap dalam mata sang lawan yang sudah dicintai dari lama.

"Anya, dengerin aku."

Di bawah atap rumah dengan cuaca lembab ini kedua pasang netra saling meratap lembut satu sama lain.

"Aku minta maaf atas semua omongan yang dulu keluar dari mulut aku secara sadar ataupun gak sadar, gak seharusnya aku menjadi hakim di kehidupan orang lain, Anya. Aku liat kamu beda, bukan lagi cinta sama Bening Cendikiaㅡaku liat dan cinta sama kamu sebagai Sevanya seutuhnya."

"Itu bukan berarti aku gak suka saat kamu dandan kayak perempuan di setiap pagelaran, justru dengan Sevanya yang dandan kayak gitu, aku jadi suka. Kamu indah, kamu cantik, kamu baik, kamu selalu sempurna di mata aku .."

"Kak Jo .."

Lihat ada sedikit air di kelopak mata Jonathan itu buat Sevanya agak termenung.

"Sevanya atau Bening, atau mungkin Sevanya Bening Cendikia. Aku cinta Sevanya Bening Cendikia di keadaan apapun, di semua sisi, semua kondisi, di semua situasi yang kadang aku juga gak ngerti kenapa bisa secinta ini."

"Boleh aku peluk kamu, Anya?" Pertanyaan dengan nada paling lembut yang paling Sevanya dengar.

Ia mengangguk sebagai persetujuan.

Lalu Jonathan rengkuh badan Sevanya mendekat dan memeluknya amat erat.

Salurkan besarnya rasa cinta yang selama ini ia pendam, tak peduli lagi ia dibilang jilat ludah sendiri.

Rasanya jika tak bersama Sevanya ia akan mati.

Tak biarkan lelaki umur setahun lebih muda darinya lepas lagi, ingin terus seperti ini. Kalau bisa rekatkan saja tubuh mereka memakai lem yang biasa ia pakai untuk mengerjakan tugas.

Saking tak maunya Jonathan lepas, Sevanya bergerak sedikit pun rasanya tak mampu.

 

Sampai satu kata keluar dari mulut Sevanya yang berhasil membuat mata Jonathan terbelalak sepenuhnya, "Mas?"

Gila.

Badan seolah disetrum oleh satu kata yang terucap oleh mulut manisnya.

Diri Jawa yang kini dipanggil 'Mas' oleh Aa Sunda ini benar-benar hilang akal, Jonathan hilang waras.

"Mas Jo?"

Darah terasa deras mengalir sampai terasa desirannya. Jantung seperti keluar dari tempat asal. Ada satu perasaan yang mungkin tidak bisa terucap oleh Jonathan sampai membawa badan kecil Sevanya jatuh ke ranjang besar bersamaan badannya terbaring di sana.

Ia ingin habiskan sepanjang waktu bahkan sepanjang hidup hanya dengan Sevanya, dan akan selalu dengan Sevanya Bening Cendikia-nya.

Series this work belongs to: