Work Text:
Biasanya cerita selalu dimulai dengan persiapan makan malam, dekorasi yang indah dan suasana yang romantis. Namun bagaimana setelah makan malam? Apa yang biasanya dilakukan? Hanya mengobrol? Titik klimaks telah terlewati? Membosankan, huh?
Lauma menaruh tisu bekasnya di atas meja, ia menatap pria yang berada di hadapannya dan tersenyum lembut. "Terimakasih sudah mengajakku makan malam, Tuan Flins."
Sang gentleman tersenyum dan menggelengkan kepala pelan, "Tidak perlu berterimakasih, justru saya yang berterimakasih karena Nona Lauma sudah mau menerima undangan saya."
Mungkin sebagai ramah-tamah karena beberapa waktu lalu Lauma menolong salah seorang tim Flins, wanita ini pun mengatakan kalau ia tidak bisa melihat orang yang kesakitan. Sebagai pelantun embun bulan, Lauma memiliki tanggungjawab pada seluruh orang yang ada di area Bani Bulan, termasuk orang asing yang tidak tinggal disana.
"Saya hanya menjalankan kewajiban saya, Tuan."
Flins tersenyum sopan, "Anda benar-benar berdedikasi pada pekerjaan Anda, ya. Saya cukup terkesan," pria ini mengangkat tangan setinggi dadanya dan berusaha membuat kontak mata dengan pelayan yang ada. "Apakah Anda pernah merasa lelah?"
"Tentu saja, saya adalah manusia biasa," jawaban Lauma membuat Flins tersenyum tanpa makna. "Namun saya menikmati pekerjaan saya meski itu melelahkan."
Ketaatan Lauma pada kepercayaan dan orang-orangnya cukup memukau, karena orang-orang yang mampu berbakti biasanya hanya mereka yang kuat imannya. Itu berarti iman Lauma tidak perlu diragukan meski di era manusia percaya pada The Seven, namun Lauma dan segelintir orang masih mempercayai Dewi-Dewi Bulan.
Setelah itu, tidak ada percakapan. Flins membayar makan malam mereka, keduanya merapikan pakaian sebelum pergi keluar dari restauran.
Di luar cukup dingin, Lauma bergidik karena malam ini ia memakai dress seadanya dan kardigan tipis. Hal itu menarik perhatian Flins. Sebagai seorang gentleman, ia melepaskan coat yang dipakainya dan menggantungkan di pundak Lauma.
Wanita itu merasa pundaknya lebih berat karena coat Flins lebih berat, tetapi disaat yang bersamaan ia merasa hangat. Lauma menatap pada netra pria baik hati itu, "Ah, terimakasih. Tetapi sepertinya tidak diperlukan."
"Itu diperlukan, Nona Lauma. Saya akan mengantar Anda pulang dan tidak mungkin saya membiarkan wanita kedinginan, kan?"
Seutas senyum terbit, senyum selembut cahaya rembulan. "Terimakasih, Tuan Flins. Anda benar-benar orang yang baik hatinya."
Setelah itu keduanya berjalan beriringan untuk kembali ke rumah Lauma yang berada di Bani Bulan. Jika dari restauran, mereka hanya perlu berjalan selama 10 menit. Sepertinya Flins sengaja mencari tempat yang dekat dengan rumah Lauma agar wanita itu tidak kerepotan saat pulang dan pergi. Sebagai seorang gentleman, Flins benar-benar mempedulikan keamanan dan kenyamanan wanita.
Awalnya di antara mereka tidak ada yang bersuara, hanya mendengar suara-suara sekitar—hembusan angin, suara orang dari kejauhan, keramaian di dalam restoran yang baru saja di lewati, dan langkah kaki mereka sendiri di trotoar. Sampai sekitar 20 langkah, Lauma membuka suaranya. "Bagaimana keadaan anggota Lightkeeper akhir-akhir ini?"
"Yah, kabar mereka baik-baik saja," Flins mengangguk santai kemudian menceritakan lebih detail soal rekan kerjanya. "Sebagian dari mereka ada yang berlatih lebih keras setelah masalah besar kemarin selesai, ada yang mengambil libur sebentar. Yah lebih tepatnya dipaksa mengambil libur, atau tidak mereka akan terus memforsir tenaga sampai kelelahan."
"Situasinya cukup rumit ya," Lauma mengangguk paham. "Jika kalian membutuhkan bantuan pengobatan, tolong datang padaku atau tabib yang ada di Bani Bulan. Kami akan membantu dengan senang hati."
Lagi-lagi Flins menjawab dengan anggukan, namun kini Lauma menambahkan ucapannya, "Meski saya mengatakan bahwa saya akan membantu, tetapi saya lebih senang kalau Tuan Flins baik-baik saja. Melihat Anda terluka membuat hati saya sakit."
Sejujurnya itu menggelitik perut Flins, pria ini tersenyum lebih lebar dari sebelumnya kemudian menggoda sedikit. "Wah, tidak ku sangka Nona Pelantun Bulan bisa menggoda seperti ini, saya tertegun."
Dari sudut mata Flins, terlihat Lauma merona dan terkisap, kemudian berdehem sebentar, menjelaskan kalau dirinya hanya bersikap sopan. "T-tolong jangan disalahpahami, saya hanya berbuat sopan. Lagipula siapa orang yang ingin melihat orang lain terluka? Apalagi seorang tabib. Jelasnya kami termasuk saya ingin orang-orang sehat."
"Kalau begitu, apa saja yang harus saya konsumsi jika saya tidak bisa tidur?" Pertanyaan sederhana itu terlempar.
Lauma pun menjelaskan dalam faktor medis. "Tergantung gejala yang Anda rasakan. Saya akan mengklasifikasikannya dalam tiga jenis, gangguan tidur ringan, sedang dan berat…" sekitar 5 menit lamanya Lauma menjelaskan persoalan hal-hal yang perlu dihindari sebelum tidur—yang ternyata tidak boleh membaca buku sebelum tidur karena hanya akan membuat individu merasa penasaran dan ingin terus sadar untuk menghabiskan cerita, kemudian sampai pada kondisi gawat darurat jika tidak bisa tidur selama beberapa hari yang disertai dengan sakit kepala. "… jadi saya sarankan Anda membeli bantal yang nyaman, membersihkan tempat tidur, mandi air hangat, dan minum air sudah lebih dari cukup."
Tersisa 3 menit sebelum mereka sampai di kediaman Lauma, Flins pun mengangguk singkat dan kembali bertanya untuk kali terakhirnya. "Banyak hal baru yang saya pelajari, terimakasih Nona Lauma," dan Flins bisa melihat wanita itu mengangguk pelan. "Tapi saya penasaran, bagaimana jika saya tidak bisa tidur karena merindukan seseorang? Apa yang harus saya lakukan?"
Sepertinya Lauma tidak menyangka pertanyaan itu akan terlontar. Wanita di sebelahnya mulai mengangkat tangan, memegang dagunya sendiri seolah tengah memikirkan jawaban. Samar-samar Flins bisa mendengar gumaman 'masalah batin ya', kemudian ia merasa tergelitik sendiri. Padahal Flins hanya menggoda Lauma, namun wanita ini memikirkannya dengan serius.
"Jika memungkinkan untuk bertemu malam itu juga, saya sarankan untuk bertemu sebentar sebelum tidur. Akan tetapi jika tidak memungkinkan, Anda mungkin bisa menggambarkan rindu itu dalam media lain seperti menulis jurnal atau surat." Kini Lauma mengandah, menatapnya.
Netra mereka bertemu, selama sesaat rasanya Flins menemukan ketenangan seolah ia berada di tempat yang teduh dan udara sejuk. Rasanya cukup damai. Apakah ini karena Lauma seorang pelantun rembulan atau karena ada sesuatu yang muncul dalam hatinya akan wanita ini? Flins tidak mau mengakui yang mana yang lebih tepat.
"Begitu ya." Hanya itu yang Flins katakan, ia kemudian kembali melihat ke depan. Tinggal 4 bangunan lagi, mereka sampai di kediaman Lauma.
Namun wanita ini berhenti berjalan, yang mana hal itu membuat Flins memilih menghentikan langkahnya juga. Pria ini menatap teman makan malamnya, "Ada apa, Nona Lauma?"
"Sepertinya sudah cukup sampai disini untuk mengantarkan saya, Tuan Flins," Lauma tersenyum dengan teduh dan lembut, seperti embun saat pagi hari. "Malam ini saya menikmati makanannya, sungguh lezat. Lain waktu saya akan merekomendasikan makanan lain pada Anda. Mungkin makanannya akan lebih sederhana, tapi saya menjamin rasanya." Sembari mengatakan itu, Lauma membungkuk kecil dengan sopan.
Flins tersenyum kecil, "Kehormatan bagi saya untuk diperkenalkan makanan langsung oleh Nona Lauma," bahkan jika yang Lauma perkenalkan adalah rasa buah delima yang segar pun, Flins tidak masalah.
"Sekali lagi, terimakasih atas undangan makan malamnya, Tuan Flins. Selamat malam." Baik Lauma maupun Flins saling menunduk sopan untuk perpisahan malam ini.
Saat sang cahaya lembut rembulan pergi meninggalkan Flins untuk pulang, pria ini tetap berdiam di tempat dan menatap punggungnya yang perlahan menjauh.
Flins merasa dingin karena tidak ada kelembutan cahaya rembulan di sekitarnya meski saat ini ia tengah bermandikan cahaya bulan penuh di langit. Sepertinya mau Flins menolak mengakui perasaannya pada Lauma, hal itu tetap menggelora tanpa bisa ditahan ataupun ditolak. Maka kini Flins pun agak berteriak, "Nona Lauma!"
Wanita itu berhenti, menoleh padanya dan Flins merasa jurnal harian pun tidak akan mampu menggambarkan gelora ini. "Jika nanti saya tidak bisa tidur, atau mungkin besoknya lagi, bolehkah saya mendatangi Anda?"
Untuk sesaat, Lauma terlihat heran dan itu sedikit menghibur untuk dilihat. "Uh, ya? Tidak masalah? Saya akan menyiapkan teh herbal."
"Tidak perlu, Nona Lauma. Melihatmu bermandikan cahaya rembulan sudah cukup. Saya bisa kembali tidur setelah itu."
Hilir angin berhembus dengan agak kencang, Flins bisa merasakan pipinya menjadi lebih dingin saat ini namun perlahan dingin itu tidak terlalu terasa karena perlahan tubuhnya merasa perasaan senang yang membeludak.
Sebagai orang yang hidup lama dari yang lain, Flins yakin bahwa reaksi-reaksi manusiawi ini hanya terjadi di awal paruh kehidupannya, saat ia masih belajar akan aturan dan konsep dunia. Setelah bertahun-tahun berlalu, emosi umum dan percikan bahagia kehidupan tidak terlalu berlaku untuknya. Ia sudah bosan dengan semua itu, seolah hatinya ikut menua dan pensiun. Akan tetapi, bersama dengan Lauma dan kelembutannya, sisi yang Flins pikir sudah tidak bergerak itu kini mulai berdiri, menapakkan kaki untuk merangkak, meraih percikan kehidupan.
Sosok Lauma kini kembali menjauhinya, bergerak untuk kembali pada sorotan rembulan. Namun kini Flins tidak merasa resah, karena ia tahu ia bisa datang menghampiri Lauma untuk hari ini ataupun besok. Ia tidak risau hanya karena tidak dapat melihat cahaya rembulan, malah ia menantikan waktu sampai bertemu dan saat sedang bermandikan olehnya.
Kini, Flins pun berjalan pulang setelah membalas lambaian tangan Lauma sebelum wanita itu masuk ke dalam rumah. Sampai jumpa kembali, Nona Lauma. Saya menantikan pertemuan kita selanjutnya.[/]
