Actions

Work Header

Di antara tali-temali

Summary:

Arjuna berbau seperti matahari, sehangat sinarnya, dan Sadewa berharap bisa menandainya. Beersun

Notes:

Pertama kalinya fic pandavva muncul di akun ini akshsjakkas. Enjoy guys!!

Maaf juga kalau banyak kesalahan, kalian bisa tegur dan kritik aku langsung!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Sebagai beta Sadewa sama seperti manusia lainnya, 70% dari mereka yang menduduki bumi. Hidup biasa dalam keseharian biasa, tak terganggu oleh apa yang dinamakan feromon, ataupun Rut untuk alpha dan heat untuk omega. Sadewa senang sebagai beta.

 

Sampai Arjuna hadir dalam hidupnya.

 

Kehadirannya bukan hanya sekali lewat, tapi menetap dengan cara yang meminta Sadewa agar menahan raganya di sana.

 

Arjuna hadir dalam bentuk sederhana seorang manusia, di tubuh yang meminta direngkuh erat, dalam pandangan berbingkai kacamata yang menghipnotis.

 

Sadewa pernah jatuh cinta, beberapa kali mendekati seseorang, dan dua kali menjalin sebuah hubungan. Semuanya selalu dalam kurun waktu yang panjang, tak pernah sebentar hingga hampir sampai ke jenjang yang lebih serius. Tapi jika Tuhan tak menghendaki meski undangan telah disebarkan, apa kuasanya untuk menentang takdir?

 

Jadi ia biarkan segala sesuatu berjalan oleh waktu, tak pernah mengejar, tak pernah berlari, biarkan itu berhenti jika memang harus berhenti.

 

Tapi Arjuna Arkana datang menghancurkan segalanya. 

 

Seorang agen rahasia yang tiap malam duduk di sudut, meminta segelas wine dan menyesapnya sedikit. Gelasnya tak pernah kosong, seolah kedatangannya bukan untuk minum, bukan pula bersenang-senang. Arjuna hanya duduk di kursinya—membeku, tak bergerak, menatap pada gelas selama beberapa waktu, lalu pergi tanpa kata.

 

Di malam lain mulutnya akan terbuka hanya untuk berkata, “langit malam ini cerah, ya?”

 

Dan Sadewa hanya tersenyum sopan, membalas dengan ringan. “Cocok untuk minum.”

 

Arjuna hanya menatapnya, tidak membalas, tapi berdehem ringan. Saat dia pergi gelasnya kala itu kosong.

 

Di beberapa waktu, hal itu lebih sering terjadi. Sadewa jadi lebih sering memperhatikannya; cara Arjuna memegang gelas, cara pandangnya pada sekitar, caranya bergerak tak nyaman ketika pelanggan yang mabuk mengganggunya, bagaimana satu kaki kanannya akan ditaruh di atas kaki lainnya ketika ia tak nyaman, atau bagaimana caranya merayu Sadewa tanpa dirinya sendiri sadari.

 

Hingga ketika sadar keduanya telah berada di salah satu kamar hotel, bergerak tanpa rima, dimabuk nafsu dunia.

 

Sadewa hampir bersujud ketika semuanya selesai. Ya Tuhan, dia bahkan hampir menyerahkan segala yang Sadewa punya jika Arjuna tak tertawa. Berbaring tengkurap dengan selimut menutupi kulitnya yang berbekas merah, dia tertawa leluasa. Sadewa yakin ia memerah melebihi delima.

 

Selama beberapa bulan mereka dalam hubungan yang ambigu. Mereka tak bisa dikatakan sebagai teman, bukan pula sesuatu seperti rekan. Nakula pernah berkata itu dinamakan fwb, friends with benefits. Sadewa benci betapa ia mengerti artinya.

 

Sadewa baru mengetahui kalau Arjuna omega tiga hari setelah yang pertama. Ketika Nakula dengan gamblang berkata apa ia sedang dekat dengan seorang omega?

 

Ia tersedak air yang diminumnya sendiri. Membuat kembaran alphanya itu dengan panik menepuk punggung dan memberinya tisu. “Wow, Mas serius mau deketin orang tapi gak tahu dia alpha, Beta, atau omega.”

 

Bukannya ia tak mau tau, tapi Sadewa tak pernah ada niatan mendekatinya.

 

_______

 

 

“Kenapa menyembunyikannya?” 

 

Sial.

 

Siapa yang tadi siang berkata tak ada niatan untuk mendekati sebagai alasan tak mau tahu, tapi berakhir tetap bertanya?

 

Arjuna terdiam, hampir terkejut lalu kembali seperti sedia kala—tanpa ekspresi di wajah yang jauh lebih lelah. “Apa itu penting?”

 

Sejujurnya, Sadewa tak terlalu memikirkannya. Sebagai beta, sekalipun Arjuna omega feromonnya tak akan pernah bisa Sadewa cium. Sadewa tak begitu peduli apakah pria yang kini berbaring di sampingnya omega ataupun alpha, mau dia makhluk dari luar bumi sekalipun terserahlah. Selama itu Arjuna.

 

_______

 

 

“Kalau disuruh pilih, mending balik ke masa lalu apa masa depan?” tanya Arjuna.

 

Sadewa berdehem, sedikit menggigil meski kegiatan yang dilakukan panas dan menguras keringat. Ia menarik Arjuna lebih dekat, membiarkan yang lebih muda bersandar di dada bidangnya. “Kalau disuruh pilih, saya lebih pilih balik ke masa lalu.”

 

Arjuna mendongak untuk menatapnya dengan penasaran, lucu.

 

“Gak ada alasan khusus, tapi kalau bisa balik ke masa lalu saya bisa memperbaiki banyak hal, cegah kehilangan terlalu banyak, dan mungkin bisa kaya lewat jalur invest karena saya tahu masa depan.” akhirnya diberi candaan ringan hingga Arjuna tertawa pelan.

 

“Terus kalau udah kaya?”

 

Sadewa berpikir, menatap Arjuna yang juga menatapnya tangannya bergerak memeluk yang lebih muda, semakin menarik Arjuna hingga tubuhnya bergesar dan duduk di pangkuannya. “Jalani hidup nyaman sampai tua.”

_______

 

Pertama kalinya ia diajak ke apart Arjuna, jantungnya berdebar-debar entah karena apa. Gugup tanpa alasan padahal mereka hanya sekadar menghabiskan malam seperti biasa. Bahkan saat check in kamar hotel pun Sadewa tak pernah merasa gugup tak jelas seperti ini.

 

Apart Arjuna tak terlalu besar, sederhana di tengah kota metropolitan. Dindingnya putih tanpa noda dengan segala benda sebagian besar terbuat dari kayu dan kaca. Saat kakinya melangkah, aroma apel manis membuatnya lapar. Semakin dalam, semakin terasa aromanya jadi ia bertanya. “Kamu make pengharum ruangan merk apa?”

 

Arjuna di depan menoleh ke belakang, menatap pada benda di samping televisi dan berbelok ke dapur. “Gak nentu, aku make merk apapun selama ada yang varian apelnya.”

 

Kepalanya mengangguk, mengikuti si pemilik. Bersandar pada kulkas dan memperhatikan yang lebih muda mengeluarkan bahan-bahan makanan yang baru mereka beli sebelum kemari.

 

“Mau makan dulu apa nanti aja makannya?” sang omega bertanya. Sadewa balas dengan, “makan dulu aja. Kamu belum makan, ‘kan?”

 

Arjuna mengangguk. Menaruh tiap bahan dan berbalik menghadap Sadewa. Berlutut tanpa aba-aba dan mendongak dengan tatapan lebih membara, “aku makan dulu kalau begitu.”

 

Hei, bukan itu yang Sadewa maksud!

 

_______

 

Saat Arjuna heat, dia bersikap lebih nakal dalam hal di ranjang. Lebih membutuhkan hingga Sadewa takut ia capek. Kerap kali meminta agar langsung dimasukkan karena slick-nya terus mengucur keluar. Seperti kemarin saat yang lebih muda berlutut tiba-tiba, dia tengah heat tanpa memberitahunya, buat Sadewa harus menghabiskan waktu di apart Arjuna selama empat hari dan meminta cuti dengan segala permohonan maaf.

 

Kalau Sadewa alpha atau omega, mungkin ia bisa lebih tahu kalau saat itu Arjuna tengah heat. Aroma dari feromonnya yang bocor pasti sudah mengisi seluruh rumah, bukan apel manis dari pengharum ruang yang gonta-ganti merk-nya.

 

“Sadewa…..” Arjuna memanggil dengan suara parau. Di dapur tempat ia mengambil minum Sadewa bertelanjang dada, tak mengenakan atasan karena bajunya diambil Arjuna dan tidak berniat dikembalikan. 

 

“Bentar, Jun, aku ambil minum dulu.” Suaranya sedikit teriak, mengambil minum dari sebotol air dan membawanya kembali ke kamar. Arjuna berbaring di kasur dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya layaknya kepompong. 

 

Alisnya telah ditekuk, matanya memicing, “ke mana sih?”

 

Ah, marahlah sudah.

 

Arjuna yang sedang heat itu lebih teritori. Sadewa kira itu hanya terjadi pada alpha, tapi omega pun melakukannya. “Maaf, ambil minum. Kamu habis itu suaranya.”

 

Masih dengan alis tertekuk yang lebih muda meminum dan menarik Sadewa agar di sampingnya. “Jangan ke mana-mana.” katanya, tanda kepemilikan, Sadewa pun ingin berucap dengan nada dan cara yang sama. Membalas Arjuna agar tidak melakukan itu terhadapnya karena kini Sadewa sadari, ia jatuh cinta pada hubungan yang seharusnya tak didasari cinta.

 

_______

 

Arjuna pernah menghilang, tanpa kabar, tanpa tanda, seolah keberadaannya di telan bumi. Seolah kehadirannya tak pernah menjadi cahaya, Arjuna menghilang tanpa jejak. Empat bulan semenjak heat pertama sang omega ia bantu.

 

Sebanyak apapun Sadewa berusaha setidaknya mendapat satu jejak saja, takdir seolah memintanya untuk menyerah. Tak pernah ada jejak yang ditinggalkan untuknya, bukan untuk Sadewa dan hubungan mereka yang berjalan di atas jembatan kayu tua. Arjuna menarik diri seolah bersembunyi, dan Sadewa menetap tanpa tahu harus ke mana langkahnya datang.

 

Hari-hari berlalu, dan untuk pertama kalinya Sadewa berharap ia seorang alpha ataupun omega. Ia berharap bisa mencium apa itu feromon, setidaknya jejak Juna masih berada dekat, atau lebih baik mungkin menandai. Sejauh apapun mereka ikatan primitif bagi alpha ataupun omega adalah hal yang sakral. Sadewa bisa mengikat Arjuna. Ia bisa membawanya kembali dan Arjuna tak akan pernah pergi. 

 

Sadewa bisa terus menandai tanpa perlu takut, tanpa perlu paranoid jika suatu hari nanti Arjuna akan pergi, karena Sadewa akan menandainya.

 

Sadewa ingin menandai Arjuna.

 

Jika segalanya belum terlambat

 

_______

 

Lucunya, disaat Sadewa ingin melupakan segalanya, disaat ia yakin bahwa kehadiran Arjuna tak lagi menghantui, omega itu datang seperti badai. Meneleponnya untuk pertama kali di malam pukul dua pagi.

 

Namanya masih berada di ponsel pintar miliknya, keraguan yang disimpan atau bagaimana ia biarkan segalanya berjalan terasa terhenti dengan paksa. Jantungnya berdetak lebih kuat, seperti sebuah drum yang merayakan hal paling gila.

 

Jadi ketika icon telepon digeser hingga berwarna hijau, tak bersuara hingga “hallo” pelan dengan suara parau, Sadewa tak perlu mencubit dirinya sendiri untuk menyadarkan ia bahwa Arjuna benar menghubunginya kembali. Pria itu ada di seberang sana—lelah dan memohon, dan siapa Sadewa yang telah lama mendambakannya tanpa pikir dua kali mengiyakan.

 

Ketika teleponnya ditutup tubuhnya jatuh, biarkan punggungnya bersandar pada kasur sambil menatap nama yang tertera di ponselnya.

 

“Juna….” lirihnya penuh damba dan putus asa, “kamu benar-benar bisa ngebakar saya tanpa ada yang tersiksa.”

 

_______

 

Arjuna datang dan pergi bagai bintang jatuh, padahal kehadirannya adalah matahari.

 

Sekali lagi mereka bertemu, asing tak pernah menjadi sesuatu. Mereka bergerak seperti biasa, hampir seolah tak pernah ada apapun di masa lalu. Selayaknya tak pernah ada kata pisah yang membuat Sadewa terus berpikir gila.

 

Mereka dikumpulkan oleh Arjuna, atas permintaan si agen yang telah menghilang tanpa kabar. Arjuna yang karismatik dengan memohon meminta bantuan dalam keadaan yang begitu putus asa.

 

Sadewa pernah bertanya, adakah dari mereka yang berdiri di sana berjalan di hubungan yang dengannya dan Arjuna. Pria itu terlalu seperti teka-teki, kehadirannya berjalan kecil tapi mengikat, tak terlihat namun menembus jiwa. Membuatnya menerka seberapa jauh Arjuna bisa pergi, seberapa cepat hubungan mereka berubah, dan seberapa tanggap Sadewa untuk menahannya.

 

Di bar kosong hanya dengan lima pemuda, berbagi pikiran guna mengungkap dan menangkap, Sadewa diliputi banyak hal.

 

Mereka masih membahas, Arjuna masih di depan bersandar pada tembok dan berbagi informasi yang didapat selama menghilang. Mereka menyimak, sesekali menimpali, beberapa kali bertanya, dan Arjuna mendengarkan dengan seksama. Ketika jarum jam terus bergerak, diskusi kian berat hingga dekat waktu bar buka. Mereka mengakhirinya dengan sadar, meregangkan tubuh dan bersiap pergi, beberapa menetap untuk membantunya bersiap.

 

“Mas, aku bersihin belakang, ya?” Nakula bertanya dengan izin, Sadewa mengangguk dan berucap terima kasih.

 

Bima sudah berada di luar, membersihkan bagian depan, dan Yudistira berpamitan untuk mengamen kembali—menggali banyak info.

 

Tersisa Sadewa dan Arjuna di tempat yang begitu besar, di suasana yang menekan.

 

Ada banyak hal yang ingin Sadewa tanyakan, banyak hal yang ingin ia ungkapkan, dan banyak hal mengenai rindu yang terus datang tiap malamnya. Malam di mana Sadewa hanya akan memejamkan mata guna mengingat bagaimana rupa Juna. Malam di mana ia menatap pada kasur di sebelahnya hanya untuk mengenang bagaimana Arjuna akan berbaring dan menatapnya.

 

Sadewa ingin bertanya ke mana dia pergi? Kenapa tidak memberitahunya? Kenapa baru kembali?

 

Sadewa ingin memeluk sejak ia melihat Arjuna dengan kedua matanya sendiri, sejak langkahnya menggema, sejak Arjuna berdiri di depannya tanpa celah.

 

Jika bisa Sadewa ingin menciumnya setiap kali bibirnya bergerak.

 

“Apa kabar?” pertanyaannya keluar, bukan dari hati yang terus mengenang, melainkan dari logika yang mencoba mempertahankan kendali.

 

Arjuna menoleh, rasanya seperti Sadewa kembali pada hari pertama ia bertemu Arjuna. Tatapan yang sama, caranya bergerak, dan suasana canggung meski musik mulai terdengar. Sang mentari menatap tanpa menjawab, jari lentiknya bergerak pada botol air yang tersisa setengah, meneguknya sebelum tersenyum kecil. “Jauh lebih baik dari sebelumnya.”

 

Sadewa diam-diam bernapas lega, selain karena mampu melihatnya lagi kini ia tahu omega di depannya sudah jauh lebih baik dari hari pertama dia menelepon Sadewa dengan suara parau nya.

 

Jadi Sadewa tersenyum, senyum penuh kelegaan yang membuat Arjuna terdiam bak patung lalu berjalan pergi untuk keluar.

 

_______

 

Sadewa baru menyadari sesuatu keesokan harinya. Di tengkuk tempat kelenjar aroma Arjuna berada, ada plaster menutupi. Tempat di mana feromon Arjuna begitu kuat, tempat untuk mengikat dan menandai omega disembunyikan oleh plester coklat jelek. Arjuna telah ditandai, dia sudah mating, dan Sadewa baru menyadarinya hari ini, tepat ketika Arjuna datang dengan kaos hitam berlengan panjang.

 

Matanya sudah lama memicing tak suka meski berulang kali mengalihkan pandang jika si empu menatapnya juga. Jika Sadewa alpha atau omega, bisakah ia menyadari dari awal mereka bertemu. Katanya jika alpha atau omega telah mating aroma mereka akan tercampur untuk memberi tahu orang lain jika mereka telah memiliki mate.

 

Kalau saja Sadewa tahu, ia mungkin tak akan berharap sejak matanya memandang Arjuna dengan segala harapan.

 

“ — mas, Mas Dewa!” Sadewa terlonjak, jelas loncat buat Bima memandangnya dengan kedua mata membelak. “Mikirin apa sih mas sampe gue panggil aja udah loncat.”

 

Mulutnya baru saja terbuka untuk membalas tak kalau tawa yang ia kira hilang terdengar kembali dengan sangat jelas. Dua tahun ia menanti untuk mendengarnya kembali, mencoba mencari di setiap memori meski pening membuatnya meneguk wiski. Kini tawa itu terdengar jelas dengan sangat lantang—Arjuna tertawa dengan suara paling indah melebihi lyra yang dimainkan Apollo.

 

Rasanya terlalu indah untuk menjadi nyata. Ternyata keberadaannya saat ini masih terasa mimpi oleh Sadewa yang terus menanti.

 

“Mas Dewa gak ada perubahan, ya? Baik dulu maupun sekarang,” Arjuna berucap disela tawa, pada nada yang lebih indah dari nyanyian siren si pemakan jiwa. Bima tanggapi dengan bualan dan bagaimana mereka saat Arjuna menghilang selama dua tahun. 

 

Sedangkan Sadewa membeku, karena memang ia tak ingin berubah. Takut jika Juna kembali segalanya terlalu asing. Ia ingin menjadi suatu hal yang akan si omega lihat sebagai bentuk masa lalu dan sekarang, sebagai jangkar agar Arjuna tak lagi pergi sebab Sadewa akan terus menantinya pulang. 

 

Sadewa tak pernah mengubah segala hal darinya karena ia ingin Arjuna mengenang bagaimana mereka dulu. Mengingatkannya bagaimana hubungan mereka tak pernah ada ‘kita’ dan segalanya terhenti sejak Arjuna hilang bagai ditelan bumi.

 

_______

 

Di Hari berikut-berikutnya ia sama sekali tak bisa bertanya siapa pasangan Juna? Sejak kapan mereka menjalin hubungan? Bagaimana keduanya bisa saling kenal? Seperti apa dia? Di mana mereka bertemu? Mengapa Juna memilihnya daripada Sadewa?

 

Ia hanya bisa tersenyum, memberi obrolan ringan, mengajaknya berdiskusi, sebelum diam untuk memikirkan seberapa banyak pertanyaan yang Sadewa ingin tanyakan kepada Arjuna namun tak bisa dia katakan.

 

Matanya melirik pada langit malam, mengambil napas sejenak sebelum mengeluarkannya dengan kasar bersama asap dari benda kecil bernama rokok. Asapnya menggumpal dengan acak, layaknya benang kusut yang berikat tak beraturan.

 

“Mas ngerokok lagi?” Kembarannya masuk dari anak tangga luar. Jalan khusus untuk staff jika tiba saat shift yang mendadak. 

 

“Satu batang aja,” balasnya. Nakula mendelik tak suka, sedari awal adiknya tak suka ia menghirup nikotin, tak baik untuk kesehatan dan baunya mengganggu. “Kamu kenapa ke sini?” 

 

“Mau nganterin bajunya Mas.” Dengan satu alis terangkat, Sadewa membalikkan tubuhnya hingga punggung menyentuh pagar. “Baju saya? Kok dibawa ke sini?”

 

Menyerahkan Tote bag hitam polos Nakula menaikkan bahunya. “Dari Juna, katanya baju mas banyak di lemarinya dan masih ada yang lain, disuruh mas yang ngambil soalnya kecampur. Dia gak bisa bedain mana baju mas sama dia.”

 

Tangannya terulur menerima Tote bag yang Kula kasih, membuka untuk menemukan beberapa bajunya yang sudah diikhlaskan datang kembali. Bajunya kerap kali diminta Juna untuk membantu omeganya membuat sarang, tak hanya baju terkadang beberapa barang acak bakal si omega pilih dan tiap Sadewa bertanya Arjuna hanya menjawab, “baunya lebih kuat.”

 

Sadewa tak mengerti sebab ia Beta, juga dirinya tidak masalah mau seberapa banyak baju ataupun barangnya yang Arjuna ambil jika itu membuat omeganya nyaman saat bersarang.

 

“Kula, ada ferom—”

 

“Gak ada, Mas. Gak ada feromon Juna di sana, cuma bau pewangi pakaian.”

 

Nakula memandangnya pedih, helaan napasnya jauh lebih kasar daripada Sadewa yang semakin dijatuhkan oleh harapan. Mungkin pemikirannya yang terlalu tinggi atau harapan tak pernah mau membuatnya pergi.

 

“Mas,” panggil kembarannya lelah. “Aku rasa ini udah saatnya kamu berhenti. Kalau gini terus yang ada nyakitin kamu terus.”

 

Dirinya juga ingin berhenti, ingin mencoba lembaran baru dengan langkah pasti yang tak akan membuatnya menoleh ke belakang. Tapi Arjuna melilitnya layaknya rantai, belenggu tak terlihat yang mencegahnya pergi. “Saya juga maunya gitu.”

 

“Tapi ya Kula,” kakinya bergerak menuju pintu, berlama di sana sambil menatap pakaiannya. “Ternyata hati lebih susah diambil alih, tak sejalan logika yang terus dipertahankan.”

 

“Mas,” lirih Nakula.

 

“Kamu mau masuk dulu apa langsung pulang?” Sadewa mengalihkan pembicaraan, karena ia tahu jika terus dilanjutkan, segala hal yang dipertahankan akan runtuh karena Nakula lebih paham bagaimana Sadewa dibanding si pemilik nama. Begitupun sebaliknya.

 

Napas Nakula keluar dengan kasar, jika Sadewa alpha seperti kembarannya mungkin feromon Nakula kini berbau pahit. “Pulang, aku mau balik lagi ke kantor sebentar.”

 

Berbalik menatap kembarannya yang membuang muka—menatap pada langit yang gelap gulita, sudut bibirnya tertarik ke atas. “Makasih sudah dianterin, kamu hati-hati di jalan. Titip makasih ke Juna.”

 

Dengan alis tertekuk ke bawah Nakula berjalan tanpa pamit, berhenti di tangah anak tangga dan mendongak. “Mas bilang sendiri aja!” teriaknya. “Cih, dikasih saran malah milih rute paling nyakitin, kembaran ku doang emang,” lanjutnya misuh masih dengan suara yang lantang.

 

Sadewa tertawa pelan menatap kepergian Nakula dari atas. Ia berjalan kembali ke pintu, menatap pada Tote bag berisi bukan hanya barang-barang saja, melainkan kenangan yang Sadewa harap masih menghantui keduanya.

 

_______

 

Berdirinya ia di depan pintu putih polos tanpa noda membuatnya berpikir, ini ia bodoh atau bagaimana?

 

Ya Tuhan, kakinya bergerak sendiri sehabis shift. Masih terlalu dini untuk siapapun terbangun, terlelap pada pulau kapuk bernama dunia mimpi, dan dengan bodohnya Sadewa berlari menuju apartemen Arjuna yang sering mereka datangi demi malam-malam penuh rancau. Malam lain ketika si pemilik menghilang dan Sadewa hanya mampu menatap pintu yang tak akan pernah terbuka—berdiri diam berharap si pemilik membukanya dan membiarkannya masuk ke dalam untuk memeluk.

 

Rasanya seperti berulang, seminggu lalu Sadewa masih berdiri di tempatnya saat ini—tidak terengah penuh semangat, tidak dipenuhi harapan, melainkan keputusasaan agar dirinya sadar bahwa Arjuna tak akan pernah kembali.

 

Lengannya gemetar untuk mengetuk, kenangan membawanya pada malam-malam penuh mendambakan si pemilik pulang, berada di balik pintu. Di malam lain Sadewa hanya menatap meski matahari telah naik. 

 

Kali ini Sadewa tahu Arjuna ada di baliknya, tapi apakah pria itu akan membukakan pintu untuknya? Bagaimana jika alpha Juna juga berada di balik sana? Menemani Arjuna di malam hari, berbagi kehangatan yang selalu pria itu cari, menerima cinta sebagaimana Arjuna haruslah dicintai begitu banyak.

 

Jika yang membuka bukan Arjuna melainkan pasangannya—orang yang berbagi takdir dan ikatan bersama—bagaimana Sadewa harus menghadapinya? Dirinya tak yakin tak akan mendorong mate Arjuna ke dinding, hanya untuk marah karena bagaimana dia bisa dengan berani menandai Arjuna?!

 

Menampar dirinya sendiri Sadewa menghembus napas kasar. Berulang kali menepuk dirinya guna menyandarkan diri. Tak seharusnya ia berpikir seperti itu. Ya Tuhan, tolong bantu Sadewa kendalikan diri nanti entah siapapun yang membuka pintu nanti.

 

Tangannya gemetar untuk mengetuk, memberanikan diri dan ketukan pertama disambut hening. Cukup lama hingga ketukan kedua kembali dilakukan, tak ada respon yang diterima. Ketukan ketiga, habis ini pulang, apasih yang saya pikirkan sekarang? Mengetuk rumah orang pukul tiga pagi, Juna juga pasti lagi tidur. Sadewa bodoh! Lamanya ia menunggu Sadewa tahu dia harus pergi dan kembali nanti, entah kapan.

 

Dua langkah dia berjalan, bunyi pintu terbuka terdengar. Tubuhnya membeku, ia tak mau berharap tapi Sadewa yakin kali ini Arjuna membukanya, tepat berada di belakangnya.

 

“Dewa?”

 

Arjuna memanggil dengan suara paling halus, sudah lama sekali. Sadewa tak tahan untuk berbalik dan memeluknya erat.

 

Sorry ganggu kamu. Tidur lagi aja Juna, nanti kita ketemu lagi siang.”

 

“Aku baru aja mandi, belum tidur.” Rahang Sadewa terjatuh, berbalik cepat dan menemukan Arjuna bersandar pada pintu dengan tangan menyilang di depan dada. Tubuhnya terbungkus bathrobe yang hanya menutupi sampai atas lutut. Handuk tersampir di tengkuk tempat seharusnya tanda kecil tersampir. Bulir air masih keluar berjalan di antara lekukan tulang selangka Arjuna, mengalir dari leher yang Sadewa harap bisa ia tanda meski semuanya sudah terlambat.

 

Kakinya berjalan cepat, mendekat hingga aroma sabun Arjuna tercium di hidungnya. Mungkin ini yang dirasakan alpha Juna saat berada di dekatnya, dapat mencium betapa manisnya feromon Arjuna yang tak akan pernah bisa Sadewa cium. Tangannya mendorong Arjuna masuk dan menutupi pintu, tergesa hingga si pemilik memandangnya bingung.

 

“Itu tadi dingin banget, kenapa malah keluar kaya gitu? Kalau kamu sakit nanti gimana? Mana habis mandi,” marahnya.

 

Sungguh deh, Arjuna nih benar-benar tidak berubah. Masih menyepelekan angin yang bisa saja masuk dan membuatnya sakit, atau alpha gila yang bisa saja berkeliaran di saat feromonnya keluar mengingat Arjuna tak pernah mau memakai scent blocker kecuali dibutuhkan saat bertugas. Meski sebagian juga mengingatkan ia bahwa Arjuna sudah memiliki orang lain, mengalihkannya dari hasrat yang seharusnya tak lagi ada.

 

Arjuna tekekeh pelan, pecah hembusan napasnya yang keluar dengan kasar atau debaran jantungnya yang berdetak begitu kencang. “Kau ‘kan ngetok, ya aku buka. Meski telat karena masih di kamar mandi.”

 

Mengusap wajahnya dengan kasar ia membawa Arjuna ke kamar sang empu, menarik tangannya, dan berjalan selayaknya ia juga di tinggal di sini. Si pemilik tak mengeluh, mengikuti tanpa bertanya—hampir terasa seperti dulu. Sadewa berhenti di depan pintu kamar Arjuna, mendorongnya masuk dan menutup pintu. “Pake bajunya dulu, nanti rambutnya biar saya keringkan.”

 

“Kau kalau mau minum ambil aja di kulkas,” Juna balik membalas.

 

Sadewa menimbang, “kamu sudah makan?”

 

Beberapa detik jawabannya datang terlambat. “Belum.”

 

Tak lagi membalas Sadewa berjalan ke arah dapur, bahkan jika dia diminta berjalan sambil menutup mata, Sadewa yakin ia bisa sampai tanpa menabrak apapun karena semua yang ada di dalam masih sama. Dari tata letak, warna, bentuk, hingga aroma dari pengharum ruangan yang ditempel dekat televisi, segalanya sama. Entah Arjuna terlalu malas mengubah atau pria itu belum membereskannya. Bahkan harum apel di seisi rumah masih sama, dulu seminggu setelah heat Arjuna, Sadewa akan bertanya apakah Juna sangat menyukai apel hingga baunya memenuhi setiap penjuru rumah, tak lagi menanyakan merk apa yang dia gunakan. Si pemilik hanya menjawab dengan senyum kecil, tak memberikan jawaban dan Sadewa tak berpikir karena ciuman panas menyambutnya hingga lupa.

 

Membuka kulkas berpintu dua Sadewa mengambil sekaleng minuman isotonik, tak ada apapun di kulkas Juna kecuali minuman kaleng dan air putih. Dewa menghela napas, membuka ponsel untuk memesan makanan karena jika pun ia ingin memasak tak ada bahas yang bisa dimasak.

 

Pintu kamar Arjuna terbuka, sang omega datang menghampiri dengan piyama merah polos bercelana panjang dan berlengan pendek. Mengambil satu botol air dingin untuk diminum.

 

“Saya sudah pesan makanan,” tatapan Sadewa turun pada leher Arjuna, cara apel ademnya bergerak naik-turun saat meneguk. “Nanti kamu jangan lupa makan.”

 

“Kamu ikut makan, ‘kan?” pertanyaan Arjuna tak terduga. 

 

“Enggak, saya bakal langsung pulang setelah ngambil barang saya yang lain, kata Kula masih ada lagi?” 

 

“Dan ngeringin rambut aku?”

 

“Iya, setelah itu juga,” balasnya.

 

Sang omega mengangguk, berjalan menuju ruang tengah yang di Sofanya sudah ada hairdryer. Si pemilik rumah duduk di karpet berbulu yang mereka pilih saat berbelanja dulu dan Sadewa duduk di sofa. Tubuhnya mematung ke tempat yang seharusnya berada tanda di belakang leher sang omega. Jarinya menyentuh pada bagian belakang leher Arjuna, mencari di mana tanda yang seharusnya ditutupi plester jelek. Tapi nihil, segalanya bersih, tak tersentuh, dan polos.

 

Arjuna mendongak. “Kenapa?”

 

"Kamu belum punya mate?”

 

Menaikkan satu alisnya tangan Arjuna menyentuh tengkuk. “Ya emang belum?”

 

“Tapi waktu itu kamu make plester coklat jelek di sini,” sentuhnya pada tengkuk Juna.

 

Arjuna sedikit terlonjak, mengusap tengkuknya dengan kasar dan menatap Sadewa tajam dengan wajah memerah. “Orang mana yang ngira omega pake plester di sana, dikira punya alpha?!”

 

“Beberapa orang kadang make, biar gak keliatan pas di luar karena gak nyaman,” balasnya. Sadewa tak berbohong, beberapa pelanggan yang sering ia jumpai kerap kali memakai plaster yang menyatu dengan kulit ataupun coklat untuk menutupi tandanya. Entah karena mereka tak nyaman, sedang memiliki hubungan buruk dengan mate-nya ataupun dengan niat buruk untuk berselingkuh.

 

Manik hitam si cantik menatap tak percaya, bergerak mundur, dan berbalik untuk menatap Sadewa meski harus mendongak. “Kocak tau gak?! Kalaupun aku punya mate gak mungkin aku sembunyiin!”

 

Dengan kesal Arjuna kembali membelakanginya, bergerak mundur untuk dikeringkan rambut. Sadewa menganggapnya lucu, segala respon yang Arjuna beri tak pernah berhenti membuatnya jatuh pada pesonanya lagi.

 

Mengingat ternyata itu bukan mate dan Arjuna tak ditandai oleh siapapun, Sadewa tersenyum dan menyalakan hairdryer dan mulai mengeringkan rambut sang omega. Hatinya bersorak dengan semua perayaan, segala bentuk patah hati dari kemarin seolah tak pernah ada. Seakan beban paling berat telah diangkat agar membuatnya kembali bernapas.

 

“Terus kamu kenapa make plester di sana?” tanyanya sedikit pemasangan.

 

“Itu scent blocker model baru, dapat dari temen biar jadi testimoni tapi gak nyangka modelnya bisa disangka kek udah punya mate,” Arjuna masih menggerutu.

 

“Buat tugas?”

 

“Enggak, mau coba aja,” kalimat Arjuna terjeda sebab Sadewa tahu kapan Arjuna akan ragu saat berkata, akan berhenti untuk melanjutkan kembali, ataupun berhenti karena tak ingin membicarakannya. “Sekalian biar gak diganggu alpha, aku sudah malas.”

 

“Dulu,” rasanya terlalu kelu. “Kamu saya suruh pakai gak mau.”

 

Arjuna terdiam, hening di pukul tiga dini yang kini lewat seperempat, dibunyikan oleh jam yang terus berdetak ditiap detiknya bersama suara angin yang keluar dari hairdryer yang Sadewa pegang. Mengatakan dulu terasa seperti berucap kata paling terlarang, dan Sadewa tak menyesal berkata sebab keberaniannya kembali datang setelah tahu Arjuna masih tak memiliki kekasih.

 

Dulu, ya? Entah Dew, dulu dan sekarang itu beda,” tungkasnya.

 

Lalu Sadewa berpikir, benar dulu dan sekarang itu beda. Dulu dia merengkuh Juna pada ikatan tak kasat mata, berpegang pada seutas tali di jembatan tua yang perlahan rapuh. Kini ia tak lagi merengkuh, tapi berdiri di jalan dengan banyak cabang pada dilema sikap seperti apa yang harus dia ambil.

Sebab segalanya berbeda, dan hanya Sadewa yang terus melihat ke belakang.

 

_______

 

Kemudian Sadewa kembali membodohi diri sendiri sebab tak tanya alasan Arjuna pergi meski kemarin satu jam mereka habiskan waktu bersama.

 

Kelimanya kembali berkumpul untuk membahas mengenai pergerakan Q=Ravva terakhir kali, berdasar dari segala informasi dan bukti, mereka mendirikan markas sementara di barat Jagat Maya. Arjuna kembali memimpin, kali ini memberitahu bagaimana Q=Ravva bekerja dan untuk apa, mengapa mereka memicu banyak kekacauan tapi juga menyelamatkan. Segalanya ambigu, namun Arjuna tak pernah mau mengasihani setelah apa yang terjadi pada adiknya. Mereka baru mengakhiri rapat setelah jarum pendek menunjuk di pukul sebelas malam.

 

Arjuna sedang membahas beberapa hal di khususkan pada Yudistira dan Bima, Sadewa memperhatikan dari samping papan tulis. Tadi pagi sebenernya terasa seperti mimpi, kulit halus Arjuna kembali ia sentuh, pada leher yang kerap kali ia jatuhkan warna, hingga rambut legamnya yang selalu Sadewa mainkan. Satunya hal yang buruk adalah akhir pada dulu dan sekarang, kini dan nanti.

 

“Mas,” Nakula menghampiri dengan tatapan menghakimi. “Apa?”

 

“Kamu sama Juna sudah balikan lagi.”

 

Sadewa menatap kembarannya seakan ia berdelusi, alisnya terangkat. “Kenapa bahasnya balikan? Saya sama Juna gak ada apa-apa,” rintihnya miris.

 

Kali ini Nakula yang menatapnya tak percaya, memandang dari atas hingga bawah. “Ini yang baju kamu cariin itu?”

 

Sadewa mengangguk, mengangkat sedikit kerah kemeja berwarna hitamnya. “Ada di Juna, baru saya ambil tadi pagi.”

 

“Mas ambil baju aja?” Nakula bertanya hingga terasa seperti sedang diinterogasi. Sadewa mengangguk, “sama ngeringin rambut Juna.”

 

Alis Nakula yang telah terangkat naik semakin naik, iris birunya menatap Arjuna dan Sadewa bergantian lalu tertawa keras. Buat empat pasang mata menatapnya heran. “Lanjutin aja, ini mas dew ngejokes lucu,” alihnya.

 

Tiga pasang mata kembali berpusat dan Sadewa menyadari kembarannya tak waras sama sekali. “Apasih ya—”

 

“Di bajumu ini ada feromon Juna dan itu wangi banget.” Nakuka memotongnya dengan bisikan dan kali ini kewarasan Sadewa lah yang diambil alih.

 

“Kata kamu gak ada?”

 

“Itu yang kemarin, sekarang beda. Beneran Mas kaya ditutup feromonnya Juna.”

 

Irisnya menatap Arjuna yang masih fokus, tak pada Sadewa yang kali ini mencoba mencari tahu apa maksud dari kelakuan si omega? Isi kepalanya berputar cepat mencari jawaban yang memungkinkan masuk akal bagi Arjuna lakukan. Pria itu benar-benar matahari dikala hujan, datang dengan harapan sebelum kembali ditenggelamkan oleh cakrawala. Sadewa merasa hatinya telah dimainkan.

 

“Saya gak ngerti Arjuna maunya apa, ini saya dikasih harapan apa gimana?”

 

Ikut bersandar di dinding sebelahnya Nakula menatap Sadewa dengan tatapan yang sama seperti kemarin. “Bilang langsung, Mas. Kelarin aja semuanya sekarang, semakin kamu tunda nanti kamu makin banyak pikiran karena nyimpulin banyak spekulasi. Kalau jawaban datang mau baik atau buruk, apapun itu kamu akhirnya bakal tahu harus apa. Gak lagi bergantung di harapan yang semu.”

 

“Ini kamu gak mau ganti profesi aja?”

 

Mendelik lucu Nakula mendekati tiga orang yang masih berbicara. “Gak mau, aku belum ketemu detektif cantik kek Shinichi.”

 

“Ihh mas Nakul wibu,” ledek Bima.

 

Sadewa tertawa pelan dari tempatnya berdiri, ketiganya sudah buyar pada apa yang baru saja dibahas dan mulai meledek Nakula. Tak sengaja irisnya bertemu milik si legam, berpandang sekilas sebelum nama sang omega dipanggil. Memutus kontak mata dan Sadewa tahu ia harus melakukan apa yang dikatakan kembarannya hari ini juga.

 

_______

 

Jadi ketika mereka pulang, Sadewa menitipkan yang lebih muda pada Nakula dan menunggu Arjuna selesai dari toilet.

 

“Dewa? Kok belum pulang?” yang lebih muda bertanya dengan bingung. Mencuci tangannya di wastafel dan menatap Sadewa dari pantulan cermin. Dirinya beranjak untuk berdiri di belakang Arjuna, menutupi tubuh yang lebih kecil. Menjebak Arjuna di antara wastafel dan Sadewa.

 

“Kamu abis ini kosong?” Arjuna berhenti membilas, menatap pada iris Sadewa dari pantulan cermin. Keduanya menatap pada raut yang lagi tak bisa ditutupi, segala ekspresi terbaca dari posisi mereka kini.

 

“Mau di mana?” tanya yang lebih muda sebagai tanda setuju. Sadewa berpikir sejenak, “cafe yang di dekat persimpangan itu, mau?”

 

“Boleh.”

 

Tanda setuju Arjuna tak membuatnya beralih ke tempat lain, masih di belakang sang omega yang tak terganggu bahwa ada orang lain di belakang kini tengah menjebaknya. Sadewa rindu pada Arjuna, posisinya kini meminta ia untuk memeluk yang lebih muda dari belakang dan menyembunyikan wajahnya di antara leher dan baru. Posisi terlalu dekat hingga akal sehatnya berjalan di ambang batas. Memandang pada tengkuk sang agen yang tak bertanda seperti yang dipikirkannya Sadewa beberapa hari terakhir.

 

“Sadewa,” lamunannya buyar saat Arjuna memanggil, tak sadar bahwa sang omega telah berbalik hingga kini mereka saling berhadapan dengan posisi ambigu. “Jadi, ‘kan?”

 

Memerah tanpa sadar kakinya melangkah mundur hingga menabrak pintu toilet, kepalanya mengangguk dan menutup mulutnya dengan satu tangan. “Ayo, pakai mobil saya saja.”

 

Arjuna mengangguk, berjalan lebih dulu tanpa berbalik pada Sadewa yang masih mematung dan merutuki dirinya sendiri.

 

________

 

“Kamu mau pesan apa?” Iris Arjuna menyapu pada table menu, Sadewa menunggu sambil menatap sang empu. Sudah lama mereka tak pergi keluar berdua, bahkan jika ini dua tahun lalu berjalan bersama Arjuna selayaknya hal yang tak pernah ia duga. Dulu Arjuna akan lebih sering menolak, membawa Sadewa pada kesadaran hubungan mereka hanya saling memuaskan hasrat, tak pernah kurang ataupun lebih.

 

“Aku mau biscoff coffee satu, Sadewa mau apa?”

 

“Sama americano satu kak,” tambahnya. Sang pelayan tersenyum sopan, memberi tahu total tagihan dan Arjuna membayar—setelah memainkan batu-gunting-kertas karena tak ada yang mau mengalah.

 

Mereka duduk di lantai dua dengan pemandangan kota yang masih menyala meski hari telah berganti, dua bangku dengan satu meja bundar menjadi pilihan. Hembusan angin malam menerbangkan setiap helai, Sadewa mengingat bagaimana di malam-malam lalu mereka habiskan setelah sesi bercinta hanya menatap pada gedung-gedung pencakar langit, menikmati langit yang terlaku gelap hingga bintang tak pernah terlihat atau berbagi racun dari nikotin.

 

“Juna…..” panggilnya lirih. Si pemilik nama menatap, manik obsidiannya lebih tampak seperti galaksi. “Kenapa gak pernah ngasih kabar?”

 

Alih-alih bertanya alasan mengapa sang omega pergi, Sadewa ingin bertanya mengapa ia tak pernah mengabari dalam dua tahun. Membiarkan keberadaannya abu-abu baginya, bagi semua orang, terlebih hatinya sendiri. Sadewa ingin tahu kenapa Arjuna baru sekarang menghubungi mereka lagi, menghubungi dan bersikap seolah tak pernah pergi. Jika alasannya tak memberi kabar karena pekerjaan Sadewa tahu ia tak ditinggalkan, tapi kalau tidak Sadewa tahu itu waktunya untuk berhenti berharap.

 

Arjuna terdiam bak patung, memandangnya lalu teralih ke bawah dengan kepala menunduk. Kedua jari telunjuknya dimainkan, caranya mengatasi gugup. Satu kakinya dinaikkan ke kaki lain, Sadewa menyinggungnya dalam topik yang membuat Arjuna tidak nyaman.

 

“Kalau gak bisa diceritain sekarang gapapa,” jelasnya tidak ingin Arjuna merasa lebih tak nyaman. “Cerita pas kamu siapa aja, Juna. Saya bakal selalu nunggu.”

 

Sadewa tidak berbohong. Ia akan selalu menunggu meski terasa menyakitkan. Meski waktu bergerak lambat yang membuatnya tersiksa. Tapi jika Arjuna tak ingin bercerita, siapa Sadewa jika ingin memaksa? Tak ada yang lebih penting baginya selain kenyamanan bagi sang omega. Biarlah Sadewa dianggap budak cinta pada manusia yang bukan miliknya. 

 

“Tapi boleh tanya hal lain?” Arjuna mendongak, menatap dengan kedua mata penasaran. “Kata Kula, feromon kamu kuat banget di baju yang lagi saya pakai, dan itu baju yang saya ambil tadi pagi.”

 

Mengetahui arahnya ke mana Arjuna memerah bertepatan dengan seorang pelayan datang dan membawakan pesanan mereka. Arjuna mengucap terima kasih dengan suara pelan, lucu sekali. Terkadang pria yang lebih mudah seperti membatasi diri agar orang lain tak mampu membacanya, terkadang pula seperti buku yang sengaja dibuka lebar hingga Sadewa bisa membaca tiap baitnya.

 

“Nakula bisa saja bohong,” sangkal Juna tak niat, mengaduk-aduk minuman yang baru saja dipesan. Sadewa tertawa pelan, “tapi Nakula gak pernah bohong ke saya, saya bisa tahu kamu omega juga karena dia.”

 

Dengan warna semerah delima Arjuna memalingkan wajah, menatap ke segala arah kecuali Sadewa. “Kalau iya?”

 

Satu alis Sadewa tertarik ke atas, “iya apa?”

 

“Ada feromon aku di sana.”

 

“Saya senang dan sedih.” Arjuna sontak tak lagi membuang muka, pria itu menatap dengan raut terkejut. “Kok sedih?!”

 

“Gak bisa cium gimana feromon kamu. Feromon yang bisa bikin banyak alpha rela berlutut cuma buat kamu jadi mate mereka,” balasnya. Arjuna harus tahu berapa banyak alpha yang rela mengantre agar si agen dapat mereka miliki dan ketika mereka mencium feromon Arjuna di dekatnya hingga Sadewa dikira omega lalu dianggap teman kencan, ia hampir dibawa ke rumah sakit karena keributan tak terduga. Tentu Sadewa melawan, namun satu melawan banyak alpha yang gila karena omega mereka direbut oleh seorang beta jelas mencoreng harga diri para alpha. 

 

Sadewa tak berbohong ia pernah berada di atas angin, dirinya yang seorang Beta mendapatkan omega paling diminati. Menang dari pada alpha yang kerap kali masih merajuk dan mengajaknya berkelahi. Ego mereka disentil oleh Beta yang kerap kali diremehkan. Mungkin ini yang dinamakan kesombongan.

 

“Padahal kau juga hirup,” balas Juna lirih.

 

“Saya ‘kan Beta, gimana bisa hirupnya?”

 

“Di rumah aku, pengharum ruangnya.”

 

Matanya berkedip lebih dari tiga, menghitung ketukan jari pada meja dari satu. Jantungnya berdegup kencang hingga beberapa orang yang duduk di atas juga pasti mendengar. Sadewa hampir kehilangan kewarasan hanya untuk mengartikan apa yang dimaksud? Tidakkah ia salah dengar? Tuhan, tolongin Sadewa.

 

“Yang apel itu? Variannya apapun asal ada yang apelnya?” Arjuna mengangguk kecil, menunduk dengan kedua telinga memerah dan Sadewa yakin 100% itupun terjadi padanya.

 

Dari awal. Sejak dirinya diizinkan masuk ke rumah sang omega. Sejak Arjuna meminta untuk berganti tempat karena katanya bosan jika terus antara hotel ataupun apart Sadewa. Dari ia menginjakkan kaki ke rumah sang terkasih, sejak lama dan baru tadi pagi ia menciumnya kembali.

 

Menggelengkan kepala Sadewa harus fokus pada pertanyaan yang ia ajukan meski terus terganggu, karena hanya berjarak satu meja Sadewa mengingat bagaimana wangi rumah Arjuna. Membayangkan feromon Juna selama ini pernah ia cium, membayangkan bahwa telah lama ia mengenal rumah, dirinya tak bisa menahan perasaan meluap dengan tingkat harapan yang melambung tinggi.

 

“Dan alasan baju aku penuh feromon kamu?”

 

Arjuna mendongak dan menatap tak percaya, “bukannya sudah jelas?”

 

Dirinya tak kuasa ingin tertawa. “Mau dengar langsung.”

 

“Nyebelin tau gak sih?!” Sadewa tertawa lepas hingga banyak pasang mata melirik buat Arjuna kian mendelik. Yang lebih muda memukul bahunya agar ia berhenti, wajahnya sudah lebih merah tapi Sadewa tahu sudut bibirnya tergerak untuk naik ke atas.

 

“Udahlah!” Yang muda merajuk marah, bersilang tangan dengan tingkah paling menggemaskan yang tak pernah mau dia percaya. “Kalau emang aku sengaja ngasih feromon aku biar kamu gak diambil gimana??” 

 

Sadewa ingin sedikit menggoda. “Berarti kamu suka sama saya?”

 

“Entah.”

 

“Kok entah? Jahat sekali kamu Juna, sudah saya ditinggal dua tahun begitu saja. Datang-datang sudah mengklaim saya layaknya barang.” Sedikit dramatis agar sang omega hatinya merasa teriris.

 

“Jangan bikin kesan seolah aku brengsek ya Sadewa Sagara!” teriaknya marah.

 

Sadewa tak berhenti untuk tertawa, mengusap sudut matanya agar tak ada air yang berlinang. “Tapi benar, ‘kan?”

 

“Enggak.” 

 

“enggak salah lagi?” 

 

“Diam!”

 

_______

 

Pertanyaannya memang tak dijawab, tak ada hal yang membuat Sadewa harus menurunkan harapan. Sebaliknya, harapan yang ia pegang kian besar—terlalu tinggi dengan segala rasa percaya bahwa yang dipikirkan khayalannya benar terjadi.

 

Giginya terasa kering karena terlalu sering tertawa, menggoda Arjuna hingga wajahnya lama hilang dari merah. Mengobrol bersama setelah beberapa hari canggung oleh perasaan bagai tenggelam di laut paling dalam. Menghabiskan waktu dengan dengan sang omega membuatnya jadi manusia paling bahagia.

 

Langkah mereka seirama, kaki kanan, kaki kiri, sedikit bergoyang hingga bahu bersentuhan. Aneh, seperti remaja kasmaran.

 

Lucunya, Sadewa segera lupa mengenai bagaiman ia menunggu dengan harapan yang perlahan terkikis. Kehadiran Arjuna menghilangkan segala rasa sedih karena ditinggalkan, digantikan oleh perasaan remaja yang sedang jatuh cinta. Lucu dan aneh secara bersamaan.

 

“Dewa,” panggil sang omega. Langkah Sadewa berjalan perlahan di sampingnya, berdehem sebagai jawaban mengamati side profile yang lebih muda. “Kamu ada spekulasi atau kepikiran gak kenapa aku pergi gitu aja?”

 

“Kenapa gitu?” tanyanya bingung.

 

“Ya siapa tahu aja ada, aku mau dengar dulu,” katanya tepat pada Sadewa.

 

Dirinya berdehem, menaruh kedua tangannya pada saku dan menatap Arjuna. “Kamu mau dijawab jujur atau bohong?”

 

Didorong mundur dengan jari di dahi oleh sang omega, Arjuna melangkah pelan. “Emang boleh kaya gitu?”

 

“Boleh, yang satu nyenengin, satu lagi takut saya menyinggung kamu,” jelasnya.

 

“Aneh,” cibir Juna. “Jujur,” lanjutnya.

 

“Saya ngiranya kamu sengaja ninggalin saya,”

 

“Kok bisa kepikiran kesana?” wajahnya menatap tak percaya, penuh keterkejutan selayaknya Sadewa baru saja memberitahu bumi itu tidak bulat melainkan kotak.

 

“Karena saya takut kamu sadar sesuatu terus pergi karena gak nyaman.” Sadewa terdiam, begitu pula Arjuna. Di tengah jalan yang kini lenggang karena katanya Arjuna tak ingin di antar dan hendak naik bus—Sadewa putuskan untuk mengantarnya ke halte jika tak ingin ia antar sampai apart, di dinginnya angin malam yang membuat keduanya memasukkan tangan pada saku. “Tapi setelah seminggu, saya pikir mungkin ada kerjaan mendadak yang harus kamu kerjain saat itu juga. Saya pikir kamu bakal kembali dalam waktu dekat, ternyata butuh waktu dua tahun bagi saya buat lihat kamu lagi.”

 

Kaki Juna menendang batu-batu kecil, menatap pada bintang dan Sadewa bergantian. “70% bener 30% salah.”

 

“Benar kalau kamu pergi mendadak karena tugas?” tanyanya. Bersyukur karena Arjuna tak menjawab pertanyaannya ini esok atau mungkin lusa, paling buruk minggu depan. Entah apa yang membuatnya terbuka dan lebih nyaman, Sadewa ucap terima kasih.

 

Arjuna mengangguk. “Kamu tahu gak kalau aku bahkan dibawa langsung biar gak kabur dan nolak tugasnya.

 

Rahangnya jatuh, bergerak tak nyaman ke belakang dengan perlindungan aktif beserta alarm peringatan. Takut-takut hal itu terjadi lagi, membawa Arjuna pergi kembali darinya. “Tuhan….. kamu diculik?!?”

 

“Sehari, biar aku gak nolak.” yang diculik menjawab dengan santai, membiarkan yang lebih tua memegang pundak dengan erat.

 

“Juna…..”

 

“Tapi aman, cuma ya aku diawasi jadi gak bisa hubungin siapapun karena misinya rahasia dan gak boleh gak berhasil.” kalimat akhir penuh penekanan.

 

Bukan ini yang dipikirkan Sadewa, pantas saja Arjuna enggan untuk membahas karena misinya berbahaya. Membayangkan Arjuna diculik, dibawa pergi dan baru bisa kembali setelah misinya selesai. Tak boleh menghubungi siapapun, fokus bekerja meski nyawa taruhan, di tengah heat-nya yang mungkin datang tak terduga. “Kaya neraka.”

 

Mereka seharusnya masuk neraka.

 

“Aku tadinya mau hubungin sebulan lalu, tapi ternyata aku canggung dan takut kalau kalian marah.”

 

Merangkul bahu sempit yang terus naik, Sadewa menjawab, “gak akan ada yang marah kalau akhirnya bakal kamu jelasin. Di sini yang lainnya juga pasti ngerti.”

 

“Termasuk kamu?” Menatap pada mata yang memandangnya penuh tanya, Sadewa menjawab dengan keyakinan seyakin ia pada racikannya saat berada di meja bartender. “Termasuk saya.”

 

“Bohong,” kata Arjuna, melepas rangkulannya dan berjalan lebih dulu.

 

Sadewa mengejar, “saya bohong dari mana?”

 

Berbalik dengan senyum paling lebar layaknya kemenangan telah membuatnya mendapatkan lotre, Arjuna menunjuk pada Sadewa. “Kau bilang, kau ngiranya aku pergi karena aku tahu perasaan kau ke aku gimana?” Sadewa mengangguk, Arjuna melanjutkan. “Tapi kamu marah, dan bohong soal perasaan kamu dua tahun lalu, selalu jawab tak memiliki rasa lebih kalau Yudis nanya.”

 

Kini mungkin matanya membelak sempurna, bergantian merah dengan Arjuna beberapa jam lalu. Seluruh sekrup di otaknya berhenti untuk berkerja. “Jadi kamu tahu?”

 

Dengan jari telunjuk di arahkan pada pipi kanan seolah bingung. “Baru tahu pas aku pergi.”

 

Ya Tuhan.

 

Arjuna tahu, tahu saat ia pergi di tengah misi dan Sadewa merindu dengan segala prasangka apa yang membuat sang omega pergi tanpa pamit. 

 

“Tuhan,” keluhnya dengan segala rasa ingin bersembunyi di bawah bumi.

 

“Kamu sesuka itu sama aku, ya, Sadewa?” 

 

Izinkan Sadewa mengunci bibir yang kini berucap dengan bibirnya meski tahu wajahnya sudah sama merahnya dengan Arjuna beberapa jam lalu.

 

Tangan Sadewa mengusap wajah dengan frustasi, berjalan linglung pada tembok dan membenturkan dahi. “Saking sukanya saya ngerasa gila karena kamu pergi gitu aja.”

 

Yang lebih muda tertawa indah, “Jadi beneran suka sama aku? Selama itu dan gak pernah move on? Cari yang lain?” pertanyaannya bagai anak kecil yang menatap penasaran. Sadewa tak tahu haruskah ia gemas atau malu karena segalanya sudah Arjuna tahu.

 

Betapa ia merindu dengan segala harapan agar dia pulang. Menunggu di semua tempat yang mereka habiskan bersama guna mengenang bagaimana mereka dulu. Mencari kaset di setiap memori tiap kali tempat-tempat familiar membawanya pada kenangan yang perlahan hilang.

 

“Buat apa?” Sadewa menjawab, tak lagi membenturkan diri pada tembok. “Saya maunya kamu. Kalau bisa pun dari lama saya gak akan galau tiap hari, gak akan datang ke depan pintu rumah kamu cuma buat mastiin kamu gak pernah pergi.”

 

Nasi sudah menjadi bubur, ungkapkan saja! Lens doakan kembaranmu ini.

 

“Stalker!”

 

“Enggak gitu!”

 

“Bercanda,” tawanya renyah, “kau beneran suka, ya?”

 

Sampai kapan sang omega terus bertanya dan menggoda pada hal yang sama. “Bukan cuma sekadar suka, i love you sampai saya pikir apa saya harus relain kamu dengan yang lain selama kamu bahagia? Karena kata orang titik tertinggi mencintai seseorang itu saat kita bisa mengikhlaskan dia pergi asal bahagia.” Napasnya terengah, langkahnya mendekat hingga berjarak satu kaki dari sang omega yang tetap di tempat. Sadewa mengambil kedua tangan Arjuna, lututnya jatuh menyentuh aspal, berlutut kepada sang terkasih yang menatapnya tak setuju atas apa yang Sadewa lakukan.

 

“Ngapain?! Bangu—”

 

“Tapi saat ini, detik ini, saya rasa titik tertinggi mencintai seseorang bukan mengikhlaskan, melainkan berharap di segala titik terkecil agar bisa bersama karena kita mengusahakan. Karena saya mau bersama kamu sampai rambut kita memutih, mengamati bintang lagi setelah lelah dihajar habis-habisan oleh dunia. Saya mau selalu ada di sisi kamu bahkan di waktu tersulit karena saya khawatir, saya mau membantu, meringankan beban dan buat kamu lebih bahagia. Saya jatuh cinta hingga dua tahun ini berpikir bumi seharusnya hancur sebagaimana hati saya bergerak tak karuan karena kamu hilang tanpa jejak!” 

 

Perkataan Arjuna dia potong, pandangannya mendongak sejak ia berbicara. Membawa kedua tangan sang omega di bawah dagunya, Sadewa kecup penuh hati. 

 

Si omega masih menatap tak percaya, telah kembali merah sama seperti Sadewa. Dia memalingkan muka tapi tak menarik tangannya. “Aku bahkan gak heat kurang dari dua tahun.” mendadak Arjuna berkata perihal yang tak nyambung, Sadewa tak ingin confession-nya dialihkan. Tapi Arjuna tak heat selama satu setengah tahun? Meminum obat yang dapat merusak tubuhnya? 

 

“Itu bahaya?! Kenapa dilakuin?”

 

“Karena gak ada yang bisa dilakuin. Mau dari perusahaan datang ngasih alpha gak ada yang sesuai kriteria aku. Alpha pertama burungnya aku tendang, feromon dia bau. Alpha lain kependekan penisnya, ada juga yang kepanjang. Di lain waktu ada yang rambutnya terlalu pendek lalu terlalu panjang. Terlalu tinggi, badannya pendek. Humoris tapi aneh, dan terlalu kaku. Yang rambutnya hitam aku minta ganti ke pirang, yang pirang datang, aku mau yang punya dua warna, dan yang punya dua warna datang tapi dia jelek. Banyak alpha yang datang tapi semua di tendang burung nya sama aku, gak ada yang cocok.”

 

Dirinya berkedip mendengarkan penjelasan Arjuna yang seperti makian. Tapi segala ciri khas yang diberi tahu buat alis Sadewa naik satu. Manik hitam Arjuna kerap kali melirik-lirik lucu. “Itu kau!” serunya. “Kau bikin perusahaan dan aku susah! Susah buat nyelesain misi lebih cepat, susah buat aku ngadepin heat yang kerasa lebih seperti neraka, dan susah buat aku cari yang lain karena semuanya kamu!”

 

Jika tadi sekrup otaknya berhenti bekerja, maka kini segala hal yang berjalan di dalam kepala seolah sepakat untuk meledak karena tak pernah diberi aba-aba jika hal ini akan ada!

 

Sadewa ingin bersujud sekarang juga.

 

Jadi ia memilih memeluk kaki sang omega, Arjuna sudah berteriak meminta dilepaskan, menariknya agar bangun namun Sadewa enggan. Ia benar-benar bisa bersujud sekarang jika tak memeluk kaki ramping Arjuna.

 

“DEWA BANGUN IHH!! ini masih di jalan! Ada yang lewat nanti!”

 

“Kamu suka saya juga….” lirihnya, memeluk kaki Juna yang sudah tak tahan agar ia bangun. “Dan selama dua tahun saya nunggu kamu, berpikir kamu pergi karena gak suka saya….”

 

“Itu cuma spekulasi kamu doang!” Seru sang omega. Dia menghembus napas kasar sebelum mendorong Sadewa lebih kuat dan berjongkok, mensejajarkan dirinya. Tangan Arjuna terlentang, “kamu kalau mau peluk jangan di kaki!”

 

Sadewa yang terdorong mundur hingga hampir terjungkal segera melompat ke pelukan yang lebih muda. Memeluk dengan cara yang selalu ia inginkan sejak Arjuna muncul kembali, menghirup wangi-wangian yang sang omega pakai meski kerap kali Arjuna dicibir karena feromonnya sudah wangi tapi malah disemprotkan lagi. Alasannya agar Sadewa juga mampu menciumnya, menduga dari aroma parfum.

 

Tuhan….

 

Terima kasih telah membawa Arjuna kembali.

 

_______

 

Sadewa mencium setiap jengkal kulit Arjuna, buat si pemilik mengerang dan menegang seolah tubuhnya sudah lama tak menerima sentuhan. Hatinya berdebar membayangkan Arjuna tak ingin disentuh orang lain selain dirinya, membayangkan dia menjaga jarak karena mengingat Sadewa. Jauh di hatinya ia bersorak merayakan.

 

Mereka melimpir ke motel terdekat, tergesa setelah berpagut bibir di jalan meski waktu telah membuat para manusia tertidur. 

 

Bibirnya turun pada bahu, ke pundak, bergerak semakin turun ke bisep dan sikut—berlama di sana tak hanya untuk kecupan penuh kasih, Sadewa mencium Arjuna layaknya ia memuja, menjilat setiap titik, dan menggigit layaknya mengklaim. Arjuna sudah semerah delima, Sadewa berharap waktu berjalan dengan sangat lambat. Ia berharap waktu berhenti agar Sadewa dapat menjangkau titik paling tak terlihat di tubuh si omega, ia berharap untuk memuja lebih lama, dan Sadewa berharap bisa terus menggenggam tangan cantiknya hingga maut memisahkan.

 

Punggung tangan Arjuna dicium dengan lembut, Sadewa ingin agar Arjuna tahu betapa ia rindu dan mendambakannya selama dia pergi tanpa pamit. Pada tiap buku jarinya yang menceritakan seberapa Sadewa menderita tanpanya. Di setiap jilatan pada celah jari betapa ia sangat ingin memeluknya, menyentuh Arjuna, dan merasakan kembali hangatnya.

 

Sadewa ingin Arjuna sadar betapa kacaunya ia tanpa yang lebih muda.

 

“ —wa, dewa, Sadewa!”

 

Matanya berkedip, Arjuna dengan wajah semerah delima terenggah, telapak tangannya menutup wajah Sadewa dan memberinya celah pada kedua mata. 

 

“I’m here, okay?”

 

Tiga kata, dan Sadewa tahu ia tak akan ditinggalkan. Tiga kata dan Sadewa tahu, Arjuna saat ini, detik ini, mulai dari jam ini, dan malam ini hingga seterusnya adalah miliknya. Miliknya yang tak akan pernah pergi, miliknya yang akan terus berada dalam rengkuhannya.

 

Ia tersenyum, mengambil tangan Arjuna dan menyandarkan wajahnya pada tangan yang lebih muda. Mendengkur layaknya kucing lalu mencium telapak tangannya. “Maaf.”

 

Manik sehitam tinta telah lama melembut, tak lagi diselimuti es yang tak pernah mampu Sadewa pecahkan. Dengan lembut Sadewa mencium kening sang kekasih, kekasih yang telah lama ia dambakan. “Maaf soal tadi, kamu gapapa?”

 

Arjuna mengangguk pelan, kembali menyandarkan kepalanya pada bantal. Kaki jenjangnya melilit pinggang Sadewa dengan mendadak, dan dirinya tak kuasa menahan senyum untuk mengetahui apa yang si mentari inginkan.

 

Kali ini Sadewa ingin memuja bukan karena ia tak akan pernah memiliki. Melainkan untuk dipahat pada pahatan paling indah selayaknya patung dewa-dewi Yunani. Untuk dimuseumkan pada tempat bernama hati. 

 

“Kamu cantik banget,” pujinya sepenuh hati. Yang dipuji semakin merah, memalingkan wajah untuk bergumam, “siapa juga yang cantik?”

 

Ia sangat gemas, Sadewa ingin melahap Arjuna secara utuh.

 

Tangannya mengangkat satu kaki yang lebih muda pada bahunya, mencium kaki cantik Juna hingga tubuh si kekasih gemetar. “Cantik.”

 

“Bisa gak kaya biasa aja?” saran si omega dengan punggung tangan menutupi mulut yang kerap kali Sadewa ecip. 

 

Sadewa kembali biarkan tubuhnya untuk menunduk, jatuh pada paha si kekasih, memberinya ciuman di paha bagian dalam. Sedikit menggigit karena gemas. Ia menatap Arjuna—terengah tanpa suara, lebih merah dari tomat, dan alisnya tertekuk marah karena sarannya diabaikan. “Emang ini gak kaya biasanya?”

 

Dengan kesal si kekasih menarik kerah kemejanya, memaksa tubuh besar Sadewa maju mengukuh Juna. “Apa perlu aku kasih tahu biar kamu ingat?”

 

Seringainya ia biarkan terbuka, dengan anggukan kecil Sadewa menjawab. “Yes, please.”

 

Sudut bibir Arjuna merekah tak percaya, dia tertawa pelan sebelum menyerang bibir Sadewa. Bercumbu dengan kasar karena nafsu, biarkan hasrat duniawi menguasai dirinya. Dan Sadewa menikmati setiap moment, membiarkan Juna mengambil kendali. Setiap moment membawa Sadewa pada kenangan bagaimana hubungan mereka hanya berdasar pada bagaimana malam dihabiskan. Tak pernah sampai matahari naik seakan tak ingin dunia tahu. Mereka bergerak seperti ini hari terakhir untuk bernapas, seolah dunia akan hancur besok hari. 

 

Arjuna membawanya pada euphoria bagaimana masa lalu menjadikan siapa mereka di sini. Bagaimana semua bermula dengan segala suka dan duka, dan keinginannya yang hampir gila.

 

Lalu Sadewa akan membalas mengenai mereka saat ini, tak lagi berdasar pada masa lalu yang menjadikan mereka terikat. Melainkan lembaran baru yang telah Sadewa siapkan agar berbagi segala hal dalam ikatan bernama sebagai kekasih. 

 

Sebab Sadewa mencintai Arjuna hingga rasanya ia bisa gila jika kehadirannya hilang kembali. 

 

Jadi ketika Arjuna menangis untuk pertama kalinya, di bawahnya dan disaksikan oleh kedua matanya. Sadewa membeku, seluruh darahnya berhenti bekerja hingga rasanya udara tak pernah ada dunia—jika memang begitu ia mungkin mati saat ini—tapi ia masih hidup, menyaksikan bagaimana kekasihnya menangis di bawahnya, di setiap gerakkan kecil yang Sadewa ambil. Terisak dengan lenguhan paling indah yang selalu Juna keluarkan ketika mereka bersenggama.

 

Tuhan, Sadewa ingin memeluk juga menghancurkan.

 

Memeluk Juna dengan erat hingga tak ingin ia lepas. Memeluknya dengan hangat untuk menenangkan sang cinta. Memeluk dengan mesra agar Juna tahu betapa ia mencintainya. Memeluk dengan segala ruang di dunia agar si kekasih tenang pada pelukan yang mengatakan kalau Sadewa bisa mengambil ribuan bintang agar Arjuna berhenti menangis.

 

Sadewa juga ingin menghancurkan tembok yang mempertahankan segala akal sehatnya, memaksanya roboh agar segala pemikiran liar terlaksana sejak air mata jatuh di iris mata Juna. Ia tahu ini gila dan Sadewa harus menahannya mati-matian agar ia tak lepas kendali. Dan demi segala hal sulit yang pernah Sadewa lakukan, menahan kendali ternyata lebih sulit dari yang Sadewa perkirakan.

 

Arjuna tak pernah menangis bahkan saat Sadewa pertama kali berhubungan dengannya, di bawah kendali nafsu atas bisikan si agen yang merayu ia bergerak seolah tak mengenal kendali. Karenanya ia meminta maaf dengan mempertaruhkan seluruh harta agar Juna mau memaafkannya.

 

Dan kini, dengan hanya sentuhan paling ringan, segala kata yang dikeluarkan, setelah dua kali berjalan. Arjuna menangis dengan suara tak tertahan dan Sadewa tak tahu harus bersikap apa.

 

“Cinta,” tangannya yang gemetar mengusap sisa air mata. Menangkup wajah Arjuna dengan segala kelembutan bak sutra. “Maaaf, aku nyakitin kamu, ya? Kamu mau udahan?”

 

Kepala Arjuna menggeleng lemah, tangannya yang masih berada di punggung Sadewa mengerat. Sesekali menekan pada cakaran yang Arjuna beri. “J-jangan…”

 

“Tapi kamu nangis—”

 

“Biarin aja,” potong Arjuna. Matanya masih berderai air mata, dan Sadewa benar-benar dibuat panik dari dua sisi kewarasannya. “Tunggu sebentar, ya?”

 

Senyum lembut Sadewa beri, ia mencium kening sang kekasih, dan kedua matanya. “Take your time aja Cantik. Kamu mau minum?”

 

“Gak usah, biarin aku meluk kamu aja.”

 

Dengan itu Sadewa mengubah posisi mereka, tak lagi ia mengukung Juna. Kini dirinya memangku sang kekasih, membiarkan tubuh Sadewa duduk dan bersandar pada headboard, dan dada keduanya bersentuhan. Arjuna menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sadewa.

 

“Ini bukan kali pertama kita ngelakuin ini bareng, tapi aku ngerasa beda. Kaya beda, dari cara kamu nyentuh aku, seberapa banyak kamu bisikkin segala bentuk cinta dan pengabdian, gerakkan kecil yang kamu ambil, semuanya beda.” Arjuna bercerita dengan suara parau. “Rasanya aku gak pantes buat dapetin semua ini setelah apa yang aku lakuin ke kamu.”

 

“Emang kamu gak marah, Mas?” Ditanya dengan kedua mata berkaca dan panggilan ‘mas’ untuk pertama kali setelah dua tahun, bagaimana bisa Sadewa marah pada manusia dengan rupa paling elok?

 

Jika ditanya tidakkah ia marah? Sadewa tak pernah marah, ia lebih kecewa saat pertama kali Arjuna pergi tanpa tanda. Seakan menghindar saat Arjuna tahu bagaimana perasaannya saat itu. Ia kecewa karena merasa hanya dirinya yang berjalan di jembatan tua, pada hubungan paling tipis dan rapuh. Segalanya membuat Sadewa bertanya akan second gendernya, berharap ia terlahir sebagai alpha untuk bisa menandai dan memiliki. Memicu pikiran paling buruk yang membuatnya malu karena dengan berani memikirkannya.

 

Ia hanya menatap pada punggung telanjang Juna, menghirup aroma mint dari sabun yang sering Arjuna pakai. Dulu Sadewa bahkan rindu pada bau yang selalu Arjuna tinggalkan, karena ia berharap mungkin itu feromon, membuatnya berada di angan jika ia juga bisa menciumnya.

 

Kecupan kecil Sadewa beri pada bahu si kekasih yang gugup, tangan Arjuna asik memberi pola acak tapi Sadewa tahu sang kekasih sedang berkelahi dengan pikirannya. “Saya gak pernah marah apalagi ke kamu.” jawabnya jujur. “Tapi saya kecewa. Kamu pergi gitu aja, ninggalin saya yang terus bertanya apa salah saya? Atau mungkin kamu benci saya dengan spekulasi paling buruk.”

 

“Aku gak pernah benci sama, Mas,” sela Arjuna. 

 

Terkekeh ringan Sadewa kembali beri kecupan pada sisi leher Arjuna. “Saya tahu, tapi saya saat itu gak tahu. Saya ngiranya kamu benci saya makanya hilang tanpa kabar, sedangkan saya di sini uring-uringan mau ketemu kamu.” jelasnya lagi, diulang kembali sebagaimana spekulasinya telah didengar oleh yang bersangkutan.

 

Wajah Arjuna tak lagi disembunyikan pada ceruk leher Dewa, dia menarik diri untuk menatap Sadewa lakmat. Sang omega bergeser sedikit, buat kejantanan yang masih terkubur di dalam tubuh kekasihnya bergesek dan membuat Sadewa kembali tegang di situasi paling buruk karena Arjuna masih basah. “Jangan gerak, Juna.”

 

“Kenapa?” Dia kembali melakukannya, kali ini sengaja. “Mas, tapi kenapa mas masih bisa sayang sama aku setelah aku kecewain? Dengan kasih sayang yang kamu kasih, harusnya kamu bisa dapat kekasih yang lebih baik.”

 

Tangan Sadewa bergerak untuk menahan pinggang Juna agar tak melakukan gerakkan apapun. Ia tidak bisa fokus.

 

Helaan napas beratnya mengisi kamar yang awalnya hanya kekosongan dengan memori yang telah lama hilang. Jemarinya yang berada di sisi pinggang Juna mengusap ke atas dan bawah. “Saya sudah bilang tadi,” tatapan Sadewa menatap Arjuna. “Saya gak bisa mikirin siapapun, sama kaya kamu tiap dikasih alpha buat bantu tapi malah keingat saya. Saya pun gitu.”

 

Arjuna lekat menatap, kali ini dia tak bersuara namun matanya kembali berkaca. “Saya benar-benar jatuh cinta sama kamu, dan kamu harus tanggung jawab karena buat saya secinta ini, Juna.”

 

“Kamu aneh,” kata Arjuna Arkana. “Lebih aneh aku karena dari sekian banyak orang yang pernah aku temui, dengan banyak kisah dimulai kaya aku ketemu kamu. Gak ada yang pernah buat aku kepikiran buat pulang untuk kembali, buat rindu di setiap detik karena kamu selalu datang dan pergi.”

 

Sadewa tersenyum, cium kedua mata yang berkaca dengan hidung yang memerah.

 

Keduanya memang memendam rasa di hubungan yang mulanya dibuat tanpa ada niat untuk jatuh cinta. Didasarkan pada hal paling buruk bernamakan nafsu dunia dan menjadikannya hal paling indah bernama cinta. Tak pernah ada yang mengira bahwa tragedi satu malam, membawa pada malam-malam lain hingga keduanya membuka hati dan suara. Dipertemukan kembali meski dipisahkan dengan rindu. Tapi jika Sadewa tahu akhirnya ia akan bersama sepanjang napas bersama Arjuna sebagai bayaran atas rindu yang membuatnya tersiksa, dan sebagai pembelajaran untuknya tak apa. Mungkin takdir membawanya kemari.

 

 

Notes:

Omake :

“Kamu tahu gak pas tadi kamu nangis itu cantik sekali.”

“Orang aneh.”

“Tapi saya serius, saya sempat panik karena kamu gak pernah nangis di depan saya, tadi saya benar-benar linglung harus dengerin otak atau bagian bawah saya.”

“PERGI LAGI AJALAH AKU!”

••••

Yeayy tamat!! Cerita ini ditulis pas pertengahan bulan dan baru selesai sekarang! Niatnya cuma mau 2k malah bablas jadi 9k.

Kalau gak kerasa abo-nya mohon maaf karena ini ditulis dari pov beta😭 tapi aku harap kalian sukaaa.

Jika ada yang ingin ditanyakan mengenai alur atau ada yang masih bingung, tanya aja!

Terima kasih sudah membaca!<3