Actions

Work Header

Summer Eyes and Cherry Blossom

Summary:

Haruka sedang berjalan-jalan untuk mengganti suasana suram di apartemennya ketika bertemu dengan pemuda aneh dan kucing gendutnya yang memerlukan pertolongan.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Haruka berjalan dengan langkah gontai. Ia menelusuri jalanan asing yang belum pernah ia jejaki sebelumnya. Kota sebelah ini tak jauh berbeda dengan kota tempat tinggalnya saat ini. Hanya kompleks pertokoan yang tidak begitu ramai. Jalanan senggang dengan tata ruang yang biasa saja. Bangunan yang berjejer rapi dan cenderung seragam tanpa sesuatu yang mencolok. Tak ada hal yang menarik perhatiannya sama sekali. Tak ada tujuan tertentu pula untuknya datang dan menghabiskan waktu kemari. Ia hanya sedang tak ingin berlama-lama di rumahnya sendiri sepanjang akhir pekan ini.

Haruka tahu jika sebenarnya apartemen kecilnya itu hampir tak layak huni. Lusuh dan sempit. Dengan karat pada perabotan logamnya, bercak noda kotor di setiap sudut ruangnya, serta bau apek yang samar-sama memenuhi petak ruang itu ketika ia lupa membuka jendela seharian. Namun ia tetap menganggapnya sebagai rumah yang nyaman ia tinggali. Miliknya. Tempat ia pulang setelah lelah beraktivitas sepanjang hari dan tempat untuk ia tidur dengan nyaman di malam hari. Sekarang, ruang lusuhnya itu sudah menjadi lebih hidup akibat barang pemberian teman-temannya. Haruka mulai merasakan kehangatan di rumah kecil itu.

Anehnya, beberapa hari belakangan ia merasakan hawa yang tidak mengenakkan di rumahnya. Rasanya Haruka tak ingin berlama-lama di apartemennya sendiri. Ia sering merinding dan gelisah tanpa sebab. Seakan-akan ada keberadaan lain yang mengawasi setiap gerak-geriknya. Tidurnya menjadi tak nyenyak, ia sering bermimpi buruk dan terbangun di tengah malam. Hal ini sudah berlangsung kurang lebih satu bulan lamanya. Teman-temannya—terutama Suo dengan pengamatan tajamnya—mulai menyadari ada yang berbeda dengan kondisinya akhir-akhir ini. Ia bercerita dengan jujur kepada sang wakil kapten itu tempo hari.

“Mungkinkah ada makhluk halus bersemayam di rumahmu, Sakura-kun?” Suo berkata sambil mengeluarkan senyuman khasnya.

“Hah? Mana mungkin!” Haruka yang merasa Suo hanya mempermainkannya, langsung menampik perkataannya.

Dirinya bukanlah tipe orang percaya akan hal-hal supranatural, meskipun begitu sebenarnya ia menjadi sedikit kepikiran dengan perkataan wakilnya itu. Tapi masalahnya ini Suo. Temannya itu hobi sekali menggoda dan menjahilinya dengan bualan yang keluar dari bibirnya. Jadi, Haruka akan mengabaikan celetukannya yang kemungkinan besar itu hanya bagian dari kejahilan remaja beranting rumbai itu.

“Kalau kau berubah pikiran, aku akan mempertemukanmu pada dukun yang aku kenal, Sakura-kun.”

“Tidak perlu. Mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku yakin itu akan hilang dalam beberapa hari.” Haruka menolak meski tak yakin Suo serius atau tidak dengan tawarannya.

“Kalau terjadi sesuatu, kami ada di sini. Kalau kau perlu bantuan, kami akan datang. Kau tahu itu, kan?” Suo masihlah tersenyum, namun wajahnya terlihat lebih kalem dan serius.

Kedua ujung bibir Haruka terangkat sedikit. “Iya, aku tahu.”

Namun, beberapa hari setelah percakapan itu terjadi, suasana rumahnya tak kunjung berubah. Haruka mulai menimbang tawaran tak masuk akal dari Suo untuk mengundang dukun. Tapi, ia memikirkannya lagi nanti ketika sekolah kembali masuk. Saat ini dia akan menghabiskan waktu akhir pekannya di luar untuk melupakan masalahnya sejenak.

Pemuda berambut dua warna itu tak memiliki tujuan tertentu. Kakinya hanya berjalan mengikuti naluri. Kini ia mulai masuk ke area pertokoan yang sepi. Haruka menguap. Ia sedikit kelelahan akibat kurang tidur. Namun, tiba-tiba suara teriakan membuatnya terperanjat dan bersiaga. Haruka menengok dan mencari sumber suara itu. Terlihat adanya sebuah gang gelap di antara dua bangunan. Instingnya meyakini bahwa suara teriakan itu berasal dari sana. Dengan sigap ia berlari ke arah gang kecil itu.

Di mulut gang, Haruka melihat seorang pria kurus yang kira-kira seumuran atau lebih tua sedikit darinya tengah bergelut dengan, uh, bayangan hitam? Dia tak yakin, tetapi sosok itu terlihat tinggi dan besar. Mungkin karena tak adanya penerangan sama sekali di celah gang itu, membuatnya tak dapat melihat dengan jelas siapa saja yang ada di gang sempit itu.

Haruka menyaksikan pemuda itu tengah bergumul, berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari sosok gelap tinggi besar yang mencengkram bahunya dengan kencang. Ia tak bisa membiarkannya. Remaja yang hobi berkelahi itu sudah berniat untuk maju dan menyerbu ketika sebuah cahaya putih menyilaukan tiba-tiba muncul entah dari mana. Cahaya putih itu menembus mata hitam dan emasnya, membuatnya kesulitan untuk melihat apa yang terjadi. Ia tak menyadari bahwa sosok gelap yang menyeramkan itu telah melepaskan cengkeramannya pada mangsa sebelumnya itu dan beralih menyerbu ke arahnya.

Haruka tak merasakan sentuhan fisik apapun, melainkan sebuah angin yang sangat kencang berusaha menembus badannya dan mendorongnya hingga terhempas ke tanah. Ia terjatuh. Punggung dan kepalanya berbenturan dengan tanah tempat ia berpijak. Ia mengaduh meski rasa sakit seperti ini bukan apa-apa baginya yang sudah sering dihantam dan menghantam orang lain dengan tinju dan kakinya. Namun, ia merasakan bagaimana pandangannya seakan berputar dan kepalanya mulai berkabut. Badannya terasa lemah tak berdaya. Ia tak bisa bangun. Tubuhnya perlahan mulai kehilangan kesadaran. Hal terakhir yang ia lihat adalah wajah pemuda yang hendak ia tolong dan seekor hewan—yang ia ragukan dari spesies mana makhluk itu berasal—tetapi yang pasti hewan itu memiliki bertubuh bulat dan gemuk.

 

Haruka merasa dirinya tak sadarkan begitu lama. Sayup-sayup mendengar suara orang bercakap-cakap dalam tidurnya. Suara remaja laki-laki dan kakek-kakek. Siapa mereka? Perlahan kesadarannya kembali.

“Kau… selalu… masalah… yokai… anak ini… mati…”

“Harus menolong… tugas Sensei… melindungi… ”

Haruka tak mendengar begitu jelas mengenai apa yang mereka bicarakan. Tak mengerti pula apa yang mereka perdebatkan. Ia hanya menangkap beberapa patah kata secara samar-samar. Perlahan tubuhnya mengumpulkan kesadaran.

“Oh, dia sadar!”

Haruka mengerjapkan mata dwiwarna nya. Ia mendapati wajah cantik seorang pemuda yang menampakkan ekspresi khawatir terhadapnya.

“Uh, ini dimana? Kau siapa?”

Haruka berusaha bangun dari posisinya yang berbaring. Ia memegangi kepalanya yang masih terasa pening. Pemuda dihadapannya membantu ia bangun. Ia juga tak langsung menjawab pertanyaannya, melainkan menyodorkan sebuah botol air mineral kepadanya.

“Maaf, tadi kamu terjatuh setelah didorong oleh orang, uh, yang sempat menggangguku. Aku tidak sadar ada kamu berdiri disana. Aku merasa bertanggung jawab dan membawamu kesini. Apa kau baik-baik saja? Kalau mau aku bersedia membawamu ke dokter.”

Haruka yang masih linglung, mengamati sekitarnya. Saat ini ia tengah duduk di sebuah bangku yang diteduhi oleh pohon di sebuah taman terbuka. Ia mengambil botol air minum yang ditawarkan dari tangan pemuda itu dan meneguknya dengan rakus.

“Bagaimana denganmu? Kau baik-baik saja? Sepertinya kau dicengkram dengan kuat tadi.”

“Ah, aku? Aku baik-baik saja. Orang itu juga sudah pergi.” Pemuda itu sepertinya terkejut ketika Haruka menanyakan kondisinya. “Jadi, apa kamu baik-baik saja?”

“Aku…” Dia tersadar akan sesuatu. Tubuhnya merasa segar. Ia merasa lebih baik dibandingkan dengan beberapa saat lalu. Rasa penatnya yang menumpuk selama hari-hari terakhir seakan telah menghilang.

“Jauh lebih baik daripada tadi(?)”

Lelaki yang Haruka tak ketahui namanya itu bertanya kembali. “Apa kau merasa sakit dan lelah beberapa hari terakhir ini?”

“Iya…?”

“Apa…” Pemuda itu terlihat ragu melanjutkan pertanyaannya. “... kau merasakan sesuatu yang aneh di rumahmu?”

Haruka mulai curiga. “Bagaimana kau tahu?”

Pemuda di hadapannya itu tak mampu menjawab. Haruka mengamati bagaimana pemilik mata coklat itu mengalihkan pandangannya. Ia mengikuti arah pandangan yang beralih ke seekor hewan gemuk di pangkuannya. Huh? Bagaimana mungkin dirinya tak menyadari keberadaan mahluk bulat bermata aneh ini sebelumnya? Ini makhluk aneh yang sempat ia lihat sebelum pingsan tadi. Haruka beradu pandang dengan makhluk aneh itu. Semakin dilihat, ia semakin merasa aneh. Hewan itu terlihat bukan seperti hewan biasa.

“Itu tanuki? Bukan… babi?”

Hewan itu mulai berontak setelah Haruka bertanya. Makhluk itu mengerti pertanyaannya?

“Nya?! Nya! Nya!”

“Whoa… Kucing? Jelek sekali… Suaranya juga aneh…” Haruka tak bisa menahan mulutnya untuk berkomentar. Menurutnya hewan itu janggal sekali.

“Nya nya nya!!!!!”

“Nyanko-sensei! Kau tak boleh begitu.”

Si pemilik terlihat bersusah payah untuk menahan kucing gendut itu dengan lengan kurusnya agar tidak menerkam ke arahnya. Sementara si kucing juga bersusah payah meronta-ronta sambil menggoyangkan tubuhnya yang gendut serta keempat kaki kecilnya. Haruka merasa adegan itu lucu sekali. Tanpa sadar ia mengeluarkan kekehan kecil.

“Haha…”

Kucing itu akhirnya menyerah untuk berontak dan hanya mendesis kepadanya. Haruka kemudian merasa malu sendiri setelah kelepasan tertawa kecil. Pipinya mulai memerah seperti biasanya.

“Maaf, dia sering berperilaku tidak sopan.”

“Tidak apa-apa.”

Hening. Suasana berubah canggung seketika. Haruka mengamati pemuda yang sepertinya lebih tua itu. Lagi-lagi ia terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu.

“Anu… soal rumahmu. Jika berkenan, apakah aku boleh mampir ke rumahmu sebentar? Maaf aku tidak bisa menjelaskan secara langsung saat ini juga, tapi aku hanya ingin memastikan sesuatu. Setelah itu, aku akan menjelaskan alasannya.”

Meski ia terlihat tidak yakin ketika mengatakannya, tetapi entah mengapa mata lelaki berambut coklat terang itu terlihat serius.

 

“Ha?”

Mata hitam-emas itu memandang lelaki itu lekat-lekat. Sosok di hadapannya itu memang terlihat aneh dan canggung, tetapi dirinya tidak merasakan niat buruk dan bahaya darinya. Mungkin dari tubuhnya yang kurus, sementara Haruka yakin dirinya lebih superior secara fisik sehingga membuatnya tak khawatir jika dia macam-macam nantinya. Atau wajahnya yang terlalu cantik untuk laki-laki sehingga menimbulkan kesan lugu dan polos. Atau juga karena pembawaannya yang halus dan rapuh seakan-akan dapat hancur kapan saja. Atau karena secara tidak langsung beberapa hal itu sedikit mengingatkannya akan dirinya di masa lalu.

Haruka juga mengingat kembali percakapan yang samar-samar ia dengar tadi sebelum terbangun. Mati? Siapa yang akan mati? Dirinya? Menolong? Melindungi? Siapa yang perlu ditolong dan dilindungi? Dirinya juga? Ia tidak lemah, ia bisa melindungi dirinya sendiri. Lagipula untuk apa dia membicarakan hal-hal tersebut? Dan dengan siapa ia bercakap-cakap tadi? Kalau dipikir-pikir Haruka tidak melihat siapapun yang menjadi lawan bicara lelaki di hadapannya ini sedari tadi. Tidak mungkin si kucing gendut yang ada di pangkuannya itu, kan?

Pokoknya, pemuda misterius di hadapannya ini begitu aneh dan janggal. Ia terlalu mencurigakan. Normalnya, ia harusnya menolak permintaan tak masuk akal dari orang asing yang belum lama ditemuinya. Namun, Haruka menemukan dirinya mengiyakan permintaan si pemuda itu.

“Baiklah. Kurasa kau boleh berkunjung sebentar.” Ujarnya sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “ Aku masih belum tau apa maumu. Tapi tentu aku tidak akan segan memukulmu jika kau berbuat yang aneh-aneh.”

“Benarkah? Terima kasih. Aku berjanji tidak akan mengganggu terlalu lama.” Lelaki cantik di hadapannya ini menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan. “Ngomong-ngomong, namaku Takashi Natsume. Mohon bantuannya.”

“Haruka Sakura.” Haruka menyambut tangan pemuda itu.

“Wah, nama yang langka dan cantik.”

“Hah? B-biasa saja!”

Ia tahu bahwa marga Sakura tak umum dijumpai. Terlebih dengan nama Haruka yang terlalu feminim untuk diberikan kepada anak laki-laki. Tapi baru kali ini ada seseorang yang mengomentari dan memuji namanya. Ia bisa merasakan wajahnya yang mulai memanas dan memerah.

“K-kalau begitu, ayo! Kita perlu naik bus terlebih dahulu dan berjalan sekitar 15 menit dari halte ke apartemenku.”

“Baiklah. Mari berangkat sebelum hari menjadi gelap.”

Keduanya berjalan bersampingan dengan Nyanko-sensei yang mengikuti di belakang mereka. Selama perjalanan mereka hanya berdiam satu sama lain. Haruka masih belum pandai berkomunikasi dengan orang lain. Natsume juga sepertinya tipe orang yang pendiam dan tak banyak bicara. Tetapi pemuda aneh itu akhirnya mengawali percakapan mereka.

“Berarti Sakura-kun bukan berasal dari kota ini?”

“Iya. Aku tinggal di Makochi, kota sebelah. Aku datang kesini karena tidak mau berlama-lama di rumahku sendiri. Seperti yang kau duga tadi, ada sesuatu yang aneh di rumahku dan membuatku tak betah di sana.” Haruka menghela nafas. “Temanku menduga hal-hal itu terjadi karena faktor supranatural. Tetapi aku skeptis. Tidak masuk akal, bukan?”

Natsume hanya tersenyum dan mengangguk. Haruka balik bertanya. “Kau bukan berasal dari sini juga, kan?”

“Iya. Aku sedang berkunjung ke kerabat jauhku di dekat sini. Rumahku berada di prefektur lain dan lumayan jauh dari sini.”

Mereka hanya bertukar percakapan kecil. Dari situ Haruka tahu jika Natsume merupakan anak sekolah menengah atas dan dua tahun lebih tua darinya. Ia juga tahu jika Nyanko-sensei, kucing Natsume, memang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Menurutnya itu sedikit aneh, namun bukan tempatnya untuk berkomentar. Tapi itu juga menggelitik hatinya dan membuatnya gemas. Seorang remaja yang mulai beranjak dewasa membawa kucing gendut kemana-mana dan memanggilnya dengan nama Nyanko-sensei. Remaja penasaran itu mengelus kepala dan mencubit pipi tembam si kucing sesekali meski mendapat penolakan darinya.

Matahari mulai condong ke barat ketika akhirnya Haruka melihat penampakan familiar dari Distrik Perbelanjaan Tonpu. Ketika mulai memasuki jalanan yang sering dilaluinya, ia mendapatkan banyak sapaan dari penduduk yang berlalu lalang. Seperti biasa, warga distrik perbelanjaan itu begitu menyanjung anak Furin. Terlebih dengan penampilan nyentriknya, Haruka pasti mudah dikenali. Pemuda berambut dwiwarna itu, yang masih belum terbiasa dengan perhatian yang ia dapatkan, hanya bisa mengangguk atau membalas singkat ‘ya’ dengan pipi yang bersemu merah.

Beberapa warga sepanjang jalan, terutama para pemilik toko, memberinya bingkisan dan makanan. Roti hangat dengan wangi menggelitik, beberapa butir apel merah yang ranum, beberapa jenis wagashi dengan tampilan cantik, dan lain-lain. Ia tak bisa menolak karena mereka selalu memaksa. Akhirnya tangan Haruka penuh membawa semua pemberian warga.

“Perlu bantuan untuk membawanya?” Natsume menawarkan.

“Ya. Terima kasih.” Pipi Haruka kembali memerah sedikit, meski begitu ia menerima tawaran bantuan dari Natsume.

Keduanya kembali berjalan. Tak lama kemudian, gedung tua apartemen Haruka mulai terlihat. Meski langit masih terang, bangunan tua itu masih saja terlihat suram. Haruka melihat wajah Natsume yang menegang. Ia juga melihat si kucing gendut yang terlihat waspada. Ia kembali teringat perkataan Suo soal kemungkinan adanya makhluk halus yang menghuni kamarnya. Ia juga pernah mendengar dari Nirei bahwa beberapa hewan memang bisa merasakan keberadaan makhluk tak kasat mata. Mungkinkah Nyanko-sensei saat ini bereaksi terhadap itu? Bukankah itu artinya memang ada ‘sesuatu’ yang lain yang menghuni apartemennya ini?

Haruka bergidik ngeri. Ketiganya akhirnya berdiri di depan pintu apartemennya. Ia membuka kunci pintu apartemen yang sudah diperbaiki oleh teman-temannya. Ketika pintu depan tempat tinggalnya itu terbuka, ia bisa merasakan kembali hawa aneh yang selalu menerornya di dalam rumah. Dirinya merasa mual seketika. Tak ingin masuk ke dalam kamar sempit itu. Tetapi pada akhirnya, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam genkan.

“Silakan masuk.”

Haruka mempersilakan kedua tamunya untuk masuk ke rumah kecilnya. Ia meletakkan bingkisan yang ia dapat dari warga pada kabinet dapur.

“Maaf mengganggu.” Natsume melepaskan sepatunya dan ikut melangkah masuk.

Ia kemudian mengajak Natsume dan kucingnya untuk masuk ke kamarnya. Di dalam kamar, Haruka mempersiapkan sebuah meja kecil di tengah ruangan. Meja kecil ini dibawakan oleh Kiryuu setelah lelaki merah muda itu beberapa kali berkunjung ke rumahnya. Tubuhnya kemudian berjalan kembali ke kabinet dapur untuk menyajikan makanan ringan yang ia dapat ke sebuah piring kecil cantik yang Kotoha berikan padanya. Piring dengan wagashi beraneka warna dan bentuk itu ia letakkan pada meja kecil bundar tersebut. Hal ini remaja itu pelajari ketika berkunjung ke rumah teman-temannya. Bahwa ia harus menjamu tamu dengan baik.

“Duduklah.” Haruka bisa melihat ekspresi ragu pada wajah Natsume yang masih berdiri di luar pintu kamarnya. Ia menduga itu karena keadaan rumahnya yang sedikit tak layak. Atau mungkin bisa jadi karena sesuatu yang lain.

Sekilas, mata tidak serasinya menangkap perubahan ekspresi wajah Natsume yang menjadi takut setelah mendongak ke atap dekat pintu kamarnya. Namun, ekspresi itu hilang sebelum ia dapat mengamatinya lebih lanjut.

Natsume akhirnya menghampiri meja yang telah ia siapkan. Ia duduk di depan meja. Nyanko-sensei mengikuti dengan kaki kecilnya. Kucing itu tampak bersemangat setelah melihat kudapan yang disajikan di atas meja.

Haruka tiba-tiba tersadar jika ia tak memiliki sesuatu untuk diminum. “Aku tidak memiliki minuman. Aku akan membelinya sebentar.”

Natsume hendak menolak. “Tidak perlu Sakura-kun. Ini sudah cukup. Lagipula aku tidak akan berlama-lama mengganggumu.”

Sakura menyanggah. “Tidak apa-apa. Aku ingin menjamu tamuku dengan baik.” Pipinya bersemu merah setelah mengatakan hal tersebut.

Melihat ekspresi Haruka yang malu-malu namun bertekad itu, Natsume pun mengalah. “Baiklah kalau kamu memaksa. Terima kasih.”

Haruka pun beranjak pergi dari kamarnya. “Kau tidak apa-apa ku tinggal sebentar disini? Atau kau ingin ikut?”

“Tidak apa-apa aku akan menunggu.”

Pemuda yang lebih muda itu pun tidak memaksa Natsume lebih lanjut. Ia memakai kembali sepatu sneakers-nya dan pergi keluar. Haruka berjalan menuju toko serba ada yang sering ia kunjungi. Sesampainya di sana ia segera menghampiri rak yang penuh dengan minuman kemasan dan memilih sebuah botol besar Teh Oolong. Dia membayangkan set cangkir teh pemberian Suo akan cocok digunakan untuk menyajikan ini nantinya. Ia pun tak berlama-lama dan segera menuju ke kasir untuk melakukan pembayaran.

Langit mulai terlihat memancarkan warna oranye ketika dirinya keluar dari toko serba ada. Pemuda berambut sewarna Yin dan Yang itu bergegas pulang, tak mau membuat tamunya menunggu terlalu lama. Di perjalanan pulang, Haruka kembali diberhentikan oleh seseorang di depan rumah yang ia kenali milik nenek kerap kali meminta bantuannya. Ia diminta untuk menunggu sebentar di depan rumah sementara nenek itu masuk ke dalam untuk mengambil sesuatu. Ketika nenek itu kembali keluar, ia diberi sebuah panci kecil berisikan kare yang masih hangat. Bau sedap kare itu menguar dan menggoda hidungnya. Haruka menerimanya dengan senang hati walaupun tak menampakkannya. Pemuda itu mengucapkan terima kasih dengan malu-malu sebelum akhirnya pulang ke rumah sendiri dimana tamunya menunggu.

Haruka sudah melihat gedung tempat tinggalnya dari kejauhan ketika sekilas ia melihat cahaya putih muncul dari dalam ruang yang ia huni. Pemilik kamar itu merasakan sesuatu yang tak beres terjadi di dalam apartemennya. Tak memiliki waktu untuk terkejut, maka ia bergegas untuk melihat apa yang terjadi.

Ia membuka pintu yang tak terkunci. Haruka meletakkan barang bawaannya pada meja dapur. Ia melihat meja kecil beserta manisan serta barang-barang lain yang seharusnya di dalam kamar kini berada di depan pintu kamar miliknya. Ketika membuka pintu kamarnya, ia mendapati ruangannya itu dalam kondisi yang sedikit kacau, penuh dengan sobekan kertas tisu kecil yang berserakan. Dirinya juga melihat tamunya yang telah terbaring tak sadarkan diri dengan si kucing yang terlihat tengah mengguncang-guncang tubuh pemiliknya. Namun, yang paling pelik ialah mata dua warnanya yang memergoki kucing itu dapat berbicara selayaknya manusia. Mungkinkah pemuda itu tengah berhalusinasi saat ini?

“Kucingnya berbicara…” Celetuk si tuan rumah itu.

Haruka kemudian melihat si kucing terperanjat, menengok padanya sambil memasang tampang horor. Apakah kucing memang bisa seekspresif itu?

“Oh, gawat. Nyatsumeeeee!”

Sekarang kucing itu berteriak panik, memanggil pemiliknya. Sepertinya ini memang bukan halusinasi.

Takashi memang tidak menyangkal bahwa ia merupakan magnet masalah, terutama jika itu berkaitan dengan yokai. Rencana awalnya, ini hanya akan menjadi perjalanan singkat baginya untuk mengambil barang peninggalan dari neneknya di rumah kerabat jauh. Setelah itu ia berencana —atau lebih tepatnya Nyanko-sensei yang memutuskan seenaknya— untuk berjalan-jalan sebentar sambil mencari makan siang. Namun karena yokai dalam wujud Maneki-neko yang seharusnya menjadi pengawalnya itu tiba-tiba keluyuran tanpa pamit, dan si pemilik kucing itu terpaksa berkeliling sendirian untuk mencarinya, kini ia malah dibawa ke gang kecil oleh yokai aneh yang lagi-lagi memiliki urusan yang belum selesai dengan neneknya di masa lalu.

“Reiko… Natsume Reiko… Akhirnya aku menemukanmu…”

“Aku bukan Natsume Reiko, aku Takashi Natsume, cucunya...” Yang tengah dicengkram itu bersusah payah menjelaskan pada mahluk halus itu jika ia salah orang. Namun, apa daya, yokai yang dikuasai oleh amarah itu tak mau mendengarnya.

“ARGH…” Natsume merasakan cengkraman yokai itu semakin kencang.

“Astaga, aku baru meleng sebentar untuk mencari asal bau enak yang masuk ke hidungku dan kau sudah terlibat dengan masalah Natsume?” Seekor kucing gendut yang tak lain dan tak bukan Nyanko-sensei akhirnya muncul untuk menyelamatkan anak yang seharusnya dikawalnya itu.

 

“Oi! Dia bukan Reiko, dasar bodoh. Dia adalah cucu Reiko dan dia adalah mangsaku! Pergilah kau dasar makhluk rendahan! Jangan sentuh milikku!” Seru si kucing sambil memancarkan sebuah cahaya terang dari dahinya.

Yokai yang awalnya garang itu menjadi ketakutan dan melepaskan Natsume. Nyanko-sensei masih memancarkan cahaya spiritual dari dahinya. Makhluk itu pun kemudian melarikan diri dari sana untuk menghindari cahaya spiritual kuat milik Nyanko-sensei.

Yang tak diperkirakan sebelumnya oleh Takashi dan Nyanko-sensei ialah keberadaan manusia lain yang berdiri di mulut gang arah kaburnya si dedemit itu. Yokai itu melesat menembus tubuh manusia yang menghadangnya. Natsume melihat bagaimana tubuh orang itu limbung dan akhirnya terhempas ke belakang.

“Natsume… sepertinya kita mendapatkan masalah yang lebih gawat…”

Takashi dan Nyanko-sensei langsung berlari ke arah orang yang kini terbaring tak berdaya itu. Terlihat remaja laki-laki itu mulai kehilangan kesadarannya perlahan. Takashi semakin panik.

“Hei! Bertahanlah…” Takashi berusaha mencegahnya pingsan, tetapi percuma. “Bagaimana ini, sensei?”

“Yah, sebaiknya kita pindahkan saja dulu agar tidak menarik perhatian manusia lain.” Nyanko-sensei bangun dan berubah wujud menjadi manusia dengan menggunakan wajah Reiko. “Dasar, kemanapun kau pergi selalu saja ada masalah.”

Dengan sigap, Nyanko-sensei yang berada dalam wujud Reiko menggotong pemilik dengan rambut hitam-putih itu dan membawanya ke tempat lain yang jauh dari mata manusia. Untunglah sedari awal tempat itu sepi. Takashi dan Nyanko-sensei berhasil keluar dari tempat itu tanpa ada satu pasang mata pun melihat. Keduanya menemukan sebuah taman yang sepi di dekat daerah itu. Di sanalah ia dan kucingnya membaringkan lelaki yang pingsan itu di salah satu bangku taman.

Nyanko-sensei kembali ke wujud kucingnya. Ia mendekati tubuh pemuda yang tak sadarkan diri itu dan mengamatinya. “Penampilan manusia yang tak biasa. Auranya juga aneh.”

“Hush, sensei! Kau tidak boleh mengomentari penampilan orang lain.”

Kucing itu kemudian mengendusnya dan memasang ekspresi aneh.

“Apa sebaiknya kita membawanya ke dokter?” Takashi bertanya.

“Bisa saja. Tetapi aku mencium bau yokai yang kuat dari anak ini.”

Remaja itu kembali panik. Ia tak mau menyeret orang lain dalam urusannya. “Apa dia diikuti oleh yokai? Bukan karena yokai besar tadi itu, kan?”

“Hm… Bukan, ini bukan karena makhluk besar itu. Ini yokai lain. Jika dibilang diikuti… hmm… sepertinya tidak hanya itu.” Nyanko-sensei memasang posisi bersiap. Dahinya kembali mengeluarkan cahaya putih yang memancarkan energi spiritual. “Keluar kau!”

Takashi terhenyak ketika sebuah gumpalan asap berwarna hitam keluar dari tubuh laki-laki yang sedang terbaring itu. Gumpalan asap itu terlihat pekat. Ketika terkena cahaya spiritual dari Nyanko-sensei, yokai itu mengeluarkan suara yang nyaring sebelum akhirnya terurai dan hancur di udara.

“Hanya itu saja?”

“Sayangnya tidak. Itu tadi hanya sebagian kecil dari tubuh aslinya, yang memang ia sebarkan untuk hinggap di mangsanya. Tubuh utamanya pasti menetap di rumah bocah ini. Yokai ini kurang lebih mirip seperti Karime yang pernah menggerayangi rumah Fujiwara dan Mushikui yang bersarang di rumah Aoi.”

“Bukankah itu artinya lambat laun ia akan…?”

“Ya. Dia akan sakit terus-menerus, dan paling fatal bisa mati jika yokai itu terus menempel padanya. Yokai itu menyerap kehidupannya dengan bersarang di rumahnya. Jika kekuatannya membesar, ia bisa menempelkan bagian kecil dari dirinya agar dapat menyerap energi kehidupan mangsanya meski sang mangsa sedang tidak berada di rumah. Jika melihat kondisinya, sepertinya yokai itu sudah tinggal lumayan lama. Tapi bocah ini kuat juga masih bertahan hingga saat ini.” Nyanko-sensei yang seperti ensiklopedia yokai berjalan, menjelaskan dengan panjang lebar.

“Kita harus melakukan sesuatu! Kita tidak bisa membiarkannya begitu saja.” Takashi memutuskan untuk menolong lelaki dengan rambut dua warna ini.

Tentu saja Nyanko-sensei tidak setuju dengan keputusan nekat dan sembrono yang diambil oleh bocah yang dikawalnya. “Yang benar saja! Kau ini selalu saja menimbulkan masalah dan terlalu ikut campur dengan yokai. Jika anak ini mati tak akan ada ruginya bagimu, kan? Kau mungkin saja berakhir dimakan oleh yokai itu.”

“Sensei! Mana mungkin aku akan diam saja setelah mendengar itu! Kita harus menolongnya! Lagipula sensei akan melindungiku, kan?” Namun, bukan Takashi jika ia tidak keras kepala. Apalagi jika seseorang membutuhkan bantuan. Terlebih hal-hal seperti ini bukan hal yang dapat diatasi sembarang orang. Dirinya merasa harus mengulurkan tangan jika seseorang yang sama sekali tak berkaitan dengan yokai malah terlibat dengan urusan makhluk tak kasat mata itu.

Nyanko-sensei mendengus. “Dasar kau ini! Baiklah, baiklah. Ayo kita usir yokai itu dari rumah anak ini. Lagipula jika kau gagal dan dimakan oleh demit itu, maka Buku Persahabatan akan segera menjadi milikku. Hehehe.”

Karena sibuk berdebat dan adu mulut, pemuda dan hewan peliharaannya itu tak menyadari jika lelaki yang sedang mereka tunggui itu mengeluarkan pergerakan.

“Oh, sepertinya dia sadar!” Nyanko-sensei berseru.

Takashi terkesiap ketika remaja yang terbaring itu membuka matanya dan menampakkan iris heterochromia nya. Menurutnya itu cantik. Ia memperhatikan bagaimana ekspresi pemuda itu yang masih terlihat linglung setelah sadar. Dirinya pun menawarkan botol air mineral yang ia bawa. Pemilik mata berbeda warna itu menyambut tawarannya.

Takashi menjelaskan bagaimana dia pingsan dan menawarkan untuk mengantarkan pemuda itu ke dokter. Ia terkejut ketika lelaki itu berbalik menanyakan kondisinya setelah dicengkram dengan kuat oleh yokai tadi. Sepertinya pemuda ini berniat untuk menolongnya yang tengah diserang oleh yokai. Hal ini membuat Takashi semakin yakin untuk mengusir mahluk halus yang saat ini menggerayangi rumah lelaki ini.

Sekarang Takashi hanya perlu memutar otak untuk meyakinkan pemuda ini agar ia diperbolehkan untuk berkunjung ke rumahnya. Pemilik Buku Persahabatan itu harus melakukan pengusiran kepada yokai parasit itu sebelum terlambat. Maka, dengan muka tebalnya ia mengajukan permohonan yang tidak masuk akal. Jika ini tidak berhasil mungkin anak itu akan berbohong jika ia seorang dukun paranormal atau pengusir setan untuk meyakinkannya. Jika masih tidak bisa, mungkin dirinya akan melakukan pilihan ekstrem terakhir, yaitu menguntit pemuda dengan rambut dua warna ini dan melakukan pengusiran secara diam-diam. Namun, sebelum ia berpikir lebih jauh akan pilihan-pilihan nekatnya, siapa sangka permintaan konyolnya itu dikabulkan oleh si tuan rumah tanpa bertanya lebih jauh lagi.

“Benarkah? Terima kasih. Aku berjanji tidak akan mengganggu terlalu lama.” Takashi lalu teringat jika ia belum memberitahukan namanya. Ia mengulurkan tangan untuk mengajak lelaki di hadapannya berjabat tangan. “Ngomong-ngomong, namaku Takashi Natsume. Mohon bantuannya.”

“Haruka Sakura.” Sakura menyambut tangannya.

“Wah, nama yang langka dan cantik.” Takashi menyeletuk tanpa sadar. Tapi, baginya itu merupakan nama yang sesuai untuk penampilan tak biasa (dalam artian positif) lelaki dengan dua warna rambut dan dua warna mata itu.

“Hah? B-biasa saja!” Sakura terlihat salah tingkah setelah dipuji. Sepertinya pemuda di hadapannya ini bukan tipe yang dapat menerima pujian dengan baik. Hal ini membuat Takashi juga menjadi sedikit malu.

 

Perjalanan ke rumah Sakura lebih sering dipenuhi dengan hening. Takashi menduga Sakura bukan tipe-tipe orang yang banyak bicara. Namun, akhirnya mereka berdua bertukar berapa patah kata satu sama lain. Sakura ternyata lebih muda dua tahun darinya meski ia lebih tinggi sedikit darinya. Ia mengatakan jika dirinya tinggal sendiri di sebuah apartemen kecil yang letaknya tak jauh dari sekolah yang ia datangi. Hal ini membuatnya bersimpati. Entah apapun alasannya, Sakura yang tinggal sendirian di usianya yang masih sangat muda ini, pasti bukan karena hal yang bagus. Natsume mengingat bagaimana dirinya hidup dulu. Dilempar dari keluarga satu ke keluarga lain karena tak ada yang mau berlama-lama menampung anak aneh sepertinya. Beruntung keluarga Fujiwara kini bersedia membuka tangan mereka dan menampungnya dengan sepenuh hati, tidak memperlakukannya sebagai tamu. Jika ia tidak bertemu mereka, mungkin Takashi juga akan berakhir sendirian.

Takashi merasakan energi yang tidak enak begitu melihat sebuah kompleks rumah susun kecil pada bangunan tua yang suram. Bangunan apartemen itu hanya terdiri dari dua lantai. Ukurannya tidak terlalu besar. Tempatnya terlihat tua dan kotor seperti bangunan terbengkalai. Dia sedikit tidak percaya jika Sakura tinggal di gedung itu sebelum akhirnya lelaki yang lebih muda itu mulai menapaki lantai tuanya dan menaiki tangga bangunan menuju ke lantai dua.

Nyanko-sensei tiba-tiba meloncat ke pundaknya dan memasang wajah serius. Kucing itu pasti merasakan sesuatu yang berbahaya. Takashi harus mempersiapkan diri akan kemungkinan terburuk untuk menghadapi yokai yang menghuni apartemen ini nantinya.

Begitu Sakura membuka pintu rumahnya, remaja yang bisa melihat makhluk halus itu dapat merasakan energi negatif yang keluar dari dalam ruang. Apartemen itu kecil. Begitu dibuka, pintu langsung terhubung dengan lorong sempit. Terdapat dua ruang kecil yang sepertinya merupakan kamar mandi dan ruang penyimpanan. Di ujung lorong terdapat sebuah kabinet yang dilengkapi kompor dan wastafel. Pintu kamar terletak di dekat dapur kecil itu. Ketika Takashi dipersilakan masuk ke kamar, ia langsung disuguhi pemandangan dari yokai yang menghuni rumah ini. Mahluk halus itu terdiam di sudut ruang di atas pintu masuk kamar, di tempat yang tidak tersentuh sinar matahari dari jendela. Yokai itu memiliki bentuk yang tidak beraturan dengan sebuah mata besar di tengah tubuhnya. Tubuh yokai itu terdiri dari gumpalan rambut kusut dengan beberapa bagian rambut itu menjalar di langit-langit ruang seperti akar tanaman rambat. Sebuah pemandangan yang horor bagi orang awam. Jika bukan karena dirinya yang sudah puluhan kali menghadapi berbagai macam yokai dengan wujud tak wajar di antaranya, Takashi mungkin sudah pingsan di tempat jika melihat pemandangan itu.

Takashi berusaha untuk tidak melakukan kontak mata dengan yokai itu agar tidak menarik perhatiannya meski tahu itu percuma. Lambat laun yokai itu akan tertarik dengannya yang memiliki energi spiritual besar. Inilah yang membuatnya sering menarik perhatian yokai dan entitas supranatural lainnya serta menjadikannya mangsa empuk yang mudah diburu oleh mereka.

Sakura mempersilakan dirinya untuk duduk. Takashi melihat sebuah meja kecil di tengah ruangan. Si tuan rumah menyiapkan sebuah piring berisikan wagashi yang sudah tersusun rapi. Nyanko-sensei turun dari bahunya dan langsung mendekati meja itu. Seperti biasa, kucing gendut itu langsung bersemangat ketika ada makanan. Majikan kucing itu pun melakukan hal serupa.

“Aku tidak memiliki minuman. Aku akan membelinya sebentar.” Sakura bangkit dan hendak beranjak pergi.

Takashi berusaha menolak. Ia tak mau merepotkan Sakura lebih banyak lagi. “Tidak perlu Sakura-kun. Ini sudah cukup. Lagipula aku tidak akan berlama-lama mengganggumu.”

Sakura menyanggah. “Tidak apa-apa. Aku ingin menjamu tamuku dengan baik.” Pipinya bersemu merah.

Melihat ekspresi dari Sakura yang terlihat serius dan malu-malu, ia pun mengalah. “Baiklah kalau kamu memaksa. Terima kasih.”

“Kau tidak apa-apa ku tinggal sebentar disini? Atau kau ingin ikut?”

“Tidak apa-apa aku akan menunggu.” Takashi melihat Sakura pergi ke pintu depan, memakai kembali sepatunya dan keluar dari rumah.

Hal lain yang membuat Takashi mengingat dirinya yang dulu ketika melihat Sakura adalah bagaimana Sakura yang mudah merona ketika mendapatkan afeksi dari orang lain. Seperti ketika anak itu disapa oleh orang yang berlalu-lalang di sepanjang jalan ketika hendak menuju rumahnya. Atau ketika ia menerima berbagai bingkisan dari pemilik toko kue, penjual buah, nenek penjaga toko manisan. Reaksi Sakura terhadap setiap afeksi dan kebaikan yang diterimanya itu terlihat canggung. Seakan-akan semua itu merupakan hal baru baginya.

Hal ini yang membuat Takashi merasa bersimpati. Karena ia juga pernah mengalaminya. Ketika dirinya pertama kali diterima dengan tulus dan tanpa prasangka buruk oleh keluarga yang hangat seperti keluarga Fujiwara. Ketika ia memiliki teman yang tetap menemaninya meski rumor aneh dirinya menyebar seperti Nishimura, Takimoto, dan Sarada. Ketika akhirnya ia punya teman untuk berbagi rahasia dan keluh kesah akan dunia per-yokai-an seperti Tanuma dan Taki. Ketika ia memiliki teman yang memiliki kemampuan serupa seperti Natori (dan kepala keluarga Matoba, Seiji Matoba?). Ketika akhirnya ia mulai membuka diri dan mulai memahami yokai yang dulu dibencinya hingga memiliki teman-teman mahluk astral yang selalu bersedia menawarkan bantuan mereka terlepas perbedaannya. Semua itu terasa asing bagi Takashi ketika pertama kali mengalaminya. Dan kini ia menganggapnya sebagai hal yang berharga dan berhasil membuat kehidupannya menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Oleh karena itu, pemuda yang sering bergelut dengan makhluk astral itu tak akan membiarkan yokai parasit ini mengganggu kehidupan Sakura yang mungkin baru dimulai.

“Nyanko-sensei, kita lakukan sekarang saja.”

Takashi memutuskan untuk mengambil kesempatan selama Sakura di luar. Ia menyingkirkan benda-benda milik Sakura ke luar kamar dan membuka jendela agar tidak rusak ketika proses pengusiran. Sebuah bantal bulat bergambar karakter lucu, cakram beban kecil, dan sebuah cermin besar, serta meja kecil tempat Sakura menjamunya dengan makanan ringan. Natsume juga mengikat gorden dengan pola lucu yang terpasang di jendela untuk mencegahnya sobek. Si pemilik Buku Persahabatan itu mulai membuat lingkaran mantera pembasmian yokai. Telah berkecimpung di dunia makhluk supranatural, lalu dibayangi dengan ingatan mendiang neneknya yang merupakan pemilik Buku Persahabatan sebelumnya, ditambah berteman baik dengan salah satu pengusir setan profesional, membuatnya familiar dengan proses pengusiran ini. Takashi menggunakan kertas tisu yang disusun pada lantai tatami secara tumpang tindih untuk membuat alas gambar yang besar tempat ia akan melukis lingkaran mantera pembasmian yokai.

Ketika lingkaran itu siap, Takashi mendongak. Ia akhirnya membuat kontak mata dengan yokai yang menghuni ruang itu. Mahluk halus itu mulai terpikat dengan keberadaannya yang memang tak biasa bagi yokai akibat energi spiritualnya yang melimpah.

“Hei, kau! Kau berniat memakan penghuni rumah ini, kan? Bagaimana jika aku menawarkan diriku sendiri? Kemarilah dan santap aku!” Takashi berseru pada makhluk itu, berusaha menarik perhatian si yokai. Ia memposisikan dirinya di tengah lingkaran, berusaha menarik mahluk itu agar masuk ke dalamnya.

“Hati-hati Natsume, dia lumayan kuat setelah menghuni rumah ini dan memakan energi bocah hitam-putih itu.” Nyanko-sensei memperingatkan nya. Wajah jenaka si Maneki-neko itu terlihat sangat serius.

Makhluk menyeramkan itu termakan oleh provokasi pemuda berperawakan lembut itu. Perlahan gumpalan besar itu bergerak ke bawah. Sulur-sulurnya menggeliat dan memanjang berpindah ke arahnya diikuti oleh tubuh utama si yokai. Takashi bergidik ngeri melihat pemandangan itu. Tapi ia tidak bisa mundur. Ia meyakinkan dirinya bahwa ia mampu untuk mengusir demit jadi-jadian itu.

Meski sudah sering mengalami hal serupa dengan yokai yang menyeramkan, pemilik Buku Persahabatan itu masih meneguk ludahnya ketika makhluk itu sudah menyentuh lantai. Merinding dengan penglihatannya sendiri. Sulur-sulur tubuhnya mulai memasuki lingkaran mantera. Ia menunggu sejenak hingga setidaknya tubuh yokai itu masuk setengahnya ke dalam lingkaran. Dirinya menangkupkan kedua tangan dan mulai bersiap. Nyanko-sensei bersiaga di bahunya dan mengamati lekat mahluk jahat di hadapan tuannya.

“Aku tidak akan membiarkanmu mengganggu rumah ini dan pemiliknya. Tinggalkan Sakura-kun dan biarkan dia hidup dengan tenang. Pergilah!”

Takashi mengaktifkan mantera. Seketika cahaya putih yang amat terang keluar dari lingkaran sihir. Yokai mengerikan yang berada di dalam lingkaran seakan terhisap oleh sinaran itu. Tubuh tak beraturan si yokai terlihat meronta-ronta. Meski tak memiliki mulut, mahluk halus itu mengeluarkan suara melengking yang tak enak di dengar. Ketika cahaya semakin kuat, Nyanko-sensei mendorong bocah yang dilindunginya untuk meringkuk. Cahaya spiritual itu semakin terang dan akhirnya meledak. Yokai itu sirna tak bersisa.

Takashi bangun dan mengecek keadaan. Tak ada sedikitpun tanda-tanda dari yokai.

“Nyanko-sensei… pengusiran barusan berhasil, kan?”

“Dengan kekuatanmu yang besar itu, kau tak perlu khawatir. Aku tak mencium keberadaan yokai itu lagi.” Nyanko-sensei meyakinkan majikannya jika makhluk menyeramkan itu tersapu bersih.

Tetapi, hal itu berbanding terbalik dengan ruangan kamar Sakura. Potongan tisu sisa alas lingkaran mantera tersebar berserakan dimana-mana. Meskipun begitu, setidaknya tak ada kerusakan yang terlihat pada ruangan. Syukurlah, kejadian ketika pengusiran Karime yang menghancurkan seluruh kamar Takashi di rumah keluarga Fujiwara tidak terulang.

Ia pun bangkit, bersiap untuk membereskan kamar Sakura sebelum pemiliknya pulang. Kalau bisa ia ingin merahasiakan semuanya yang terjadi dan bersikap seakan tidak pernah terjadi apapun di ruangan ini. Untuk itu ia harus membersihkan jejak-jejak pengusiran yang tersisa. Namun, lelaki kurus itu limbung ketika berusaha berdiri. Ia lupa jika tenaganya selalu terkuras habis setelah berurusan dengan Yokai. Takashi panik, ia belum sempat melakukan apapun. Tetapi tubuhnya tak kuat dan ambruk.

“Maaf, Nyanko-sensei… aku akan berbaring sebentar saja…” Namun, ketika pemuda berperawakan ringkih itu sudah tak sadarkan diri setelah terlibat dengan yokai, akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuknya tersadar kembali.

“Oi! Natsume! Jangan pingsan dahulu. Kita harus membereskan kekacauan ini.” Nyanko-sensei mengguncang tubuh pemiliknya yang terbaring di lantai dengan kaki kecilnya. Lelaki itu sudah mulai kehilangan kesadarannya dan matanya mulai tertutup rapat. “Oi! Bangun!”

Kucing gendut itu lengah dan tidak memperhatikan sekitarnya. Tanpa dia sadari, si pemilik rumah, Sakura, sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.

“Kucingnya berbicara…”

Nyanko-sensei mendelik ke sumber suara. Terlihat si pemilik rumah ini berdiri sambil memasang tampang terheran ke arahnya. Kedoknya sebagai kucing gendut biasa yang manis terbongkar. “Oh, gawat. Nyatsumeeeee!”

Takashi perlahan membuka matanya. Kepalanya masih berkabut. Ketika ia benar-benar sadar dan disuguhkan pemandangan asing yang bukan langit-langit rumahnya, saat itulah dia teringat apa yang terjadi dan dimana ia sekarang. Takashi sontak terbangun dari posisi berbaringnya.

“Nah, akhirnya si puteri tidur ini terbangun dari tidurnya.”

Takashi menengok ke arah sumber suara. Nyanko-sensei terlihat sedang duduk santai dengan sebuah piring kecil berisikan manisan yang tertata apik di hadapannya. Di sebelahnya terlihat Haruka yang duduk dengan ekspresi yang terlihat bingung dan penasaran.

“Nyanko-sensei? Kenapa kau-”

“Tenang saja, dia sudah tahu.” Nyanko-sensei dengan santainya menunjuk remaja di sampingnya.

“Ha? Kau memberitahunya?” Haruka melihat bagaimana ekspresi Takashi yang awalnya linglung setelah sadar berubah menjadi marah.

“Kita yang ketahuan. Ini kan salahmu yang tiba-tiba pingsan. Kau ini, sudah tahu tubuhmu itu terkena angin saja rubuh, tapi masih saja hobi melakukan hal-hal yang tidak perlu!” Yokai dalam wujud kucing itu berusaha membela dirinya.

“Aku tidak selemah itu! Lagipula, sensei-”

Haruka yang merasa bahwa perdebatan antara kucing dan manusia itu tak akan selesai dalam sekejap. Oleh karenanya, ia memotong pertengkaran keduanya sebelum berlanjut lebih lama lagi. “Jadi… Kalian ini dukun pengusir setan? Dan buntalan bulat ini yokai peliharaanmu?”

“Bukan! Dalam hubungan kami, aku, Nyanko-sensei ini lah tuannya. Bukan anak manusia ini! Natsume adalah pengikutku.”

Takashi melirik kucingnya sambil mengerutkan alis. Pemuda itu langsung meluruskan perkataan Nyanko-sensei. “Kami membuat perjanjian, dan sensei akan menjadi pengawalku selama perjanjian itu berlangsung. Tapi si kucing gendut ini lebih sering mangkir dari tugasnya ketimbang melakukan pekerjaannya dengan benar.”

“Apa kau bilang?” Nyanko-sensei yang tak terima dengan perkataan Takashi barusan, langsung melompat ke wajah pemiliknya.

“Oi! Sensei! Lepaskan aku!”

“Nyenyenye~”

Haruka hanya memasang ekspresi lelah melihat majikan dan peliharaannya itu kembali bertengkar. Sepertinya ini sudah menjadi rutinitas bagi keduanya. “Jadi, kalian mengusir sesuatu yang ada di rumah ini? Apa aku perlu membayar jasa kalian?” Pemilik kamar bertanya kembali.

“Tidak perlu!” Takashi buru-buru menjawab. “Kami bukan pengusir setan asli. Aku hanya kebetulan bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk yang sering dipanggil yokai dan tahu beberapa trik untuk mengusirnya.”

Ini pertama kalinya bagi Haruka mendengar seseorang berkata jika dirinya dapat melihat makhluk tak kasat mata. Sedari awal ia memang tak percaya dengan hal-hal supranatural. Entitas seperti yokai, ayakashi, obake, dan lain sebagainya, baginya hanyalah sebuah dongeng yang dipakai untuk menakut-nakuti saja. Ia ingin tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Takashi. Namun, beberapa saat yang lalu dan hingga saat ini Haruka menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri jika terdapat seekor kucing gendut yang dapat berbicara layaknya manusia. Maka ia tak memiliki pilihan lain selain mempercayai apa yang diucapkan oleh orang asing yang baru ditemuinya itu.

“Tapi… kenapa kalian mau repot-repot menolongku?”

Setelah datang ke Makochi, Haruka tahu bahwa di dunia ini memang ada orang-orang yang benar-benar baik hati dan mau menolong tanpa pamrih. Namun melakukan hal yang berbahaya untuk seorang asing yang baru pertama ditemui itu agaknya… Yah, tapi ketika pertama tiba di kota ini dia juga langsung menerima perhatian dan kebaikan dari warga sekitar. Saat itu dirinya bingung. Tak menyangka akan ada orang yang bersikap baik pada anak aneh seperti dirinya. Dirinya yang selalu terbiasa mendapatkan perlakuan tak baik dari orang-orang di sekitarnya dulu membuatnya sangsi akan kebaikan seseorang. Membuatnya tak percaya jika diluar sana masih banyak orang-orang baik. Dan mungkin Takashi merupakan salah satunya.

“Tak usah kau pikir terlalu serius. Anak ini memang sifatnya seperti itu. Terlalu baik dan terlalu suka mencampuri urusan orang lain.” Nyanko-sensei sepertinya sudah terbiasa dengan perilaku Takashi. Sedikit lucu menyaksikan kucing gemuk itu menghela nafas seakan-akan lelah dengan kelakuan majikannya sebelum akhirnya kembali duduk manis dan menikmati kudapan yang disediakan.

“Yah, seperti itu.” Takashi tersenyum canggung. “Jika dibiarkan, yokai itu bisa-bisa terus mengambil energimu dan membuatmu sakit. Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Terlebih, bukankah Sakura-kun berniat untuk menolongku ketika di gang gelap itu tadi siang?”

“H-hah? M-mana ada! Aku hanya kebetulan lewat situ, kok!” Wajah Haruka memerah, meski apa yang dituduhkan itu benar. Takashi yang melihat itu hanya terkekeh kecil.

“Maaf tak langsung jujur padamu, Sakura-kun. Hanya saja… hal ini susah dijelaskan karena memang sulit dipercaya…” Takashi lah yang paling tahu bagaimana konyolnya hal ini di mata orang awam. Ia mendapatkan banyak masalah di masa kecilnya bukan tanpa sebab. Faktor utamanya adalah tentu karena tidak ada yang pernah percaya kepadanya jika ia bisa melihat hal-hal yang tak bisa orang lain lihat. Kalau ada orang yang tidak percaya, mau bagaimana lagi.

“Yah, memang sedikit sulit dipercaya. Aku juga tak pernah meyakini hal-hal seperti hantu, arwah, roh, dan lain sebagainya sebelum hari ini.” Lelaki yang lebih muda itu melirik ke kucing gendut yang tengah menikmati kudapannya. “Tetapi, setelah melihat ini semua, mana mungkin aku tidak mempercayainya.”

“Terima kasih sudah mempercayaiku, Sakura-kun.” Takashi tidak menyangka ada orang asing yang langsung percaya padanya.

Haruka kembali malu-malu, pipinya mulai memerah lagi. “H-harusnya aku yang berterima kasih… T-terima kasih… karena sudah repot-repot menolongku…”

 

“Oh, ngomong-ngomong seharusnya tadi ruangan kamarmu dalam kondisi berantakan… Maaf telah mengacaukannya…” Pemuda yang baru bangun dari pingsannya itu mengamati ruangan sekelilingnya yang sudah kembali rapi seperti sedia kala.

“Tidak masalah. Sedari awal ruangan ini tak memiliki banyak barang. Jadi, tidak susah untuk membereskannya. Kucingmu juga sedikit membantu.”

Takashi melirik ke arah Nyanko-sensei. “Haha, benarkah?” Meragukan kucing yang hobi bermalas-malasan itu. “Sekali lagi maaf, ya, Sakura-kun.” Matanya kembali mengamati sekeliling ruangan kamar si tuan rumah. Gorden tipis yang tadi ia ikat terlihat bersih tak bercela. Melihat gorden itu, dirinya tersadar bahwa langit di luar jendela sudah menjadi gelap.

“Sakura-kun, sekarang jam berapa, ya?”

“Sekarang sudah hampir pukul sepuluh…”

“Sensei-”

 

“Natsume-”

 

Ekspresi panik terpampang pada wajah keduanya.

“Keretanya?!”

 

“Apa masih sempat untuk ke stasiun? Jaraknya dari sini lumayan, kan?” Haruka bertanya. Ia tiba-tiba terpikirkan sesuatu.

Natsume mengingat-ingat jadwal terakhir kereta yang perlu ia naiki untuk pulang. “Sepertinya masih sempat walaupun mepet jika kita keluar sekarang.” Ia kemudian bergegas bangkit dan mengemasi barang miliknya.

“Kalau begitu… kenapa tidak menginap di sini saja? Kau bisa mengambil kereta besok pagi.” Haruka menawarkan sambil menggaruk pipinya yang sewarna bunga Sakura.

“Terima kasih, tapi aku tidak bisa merepotkanmu lagi lebih dari ini Sakura-kun.”

“Aku tidak masalah. Lagipula kau juga sudah menolongku. A-anggap saja ini balasan dari ku.” Haruka sepertinya benar-benar tidak bermasalah untuk membiarkan Takashi menginap untuk satu malam.

Takashi melihat ke arah Nyanko-sensei. Kucing itu mengangguk. “Sepertinya bukan ide yang buruk. Siapa tahu pula nanti malam ada yokai yang menggerayangi rumah ini lagi. Terlebih, besok masih akhir pekan, bukan?”

“Uh… baiklah kalau begitu. Sakura-kun, kurasa aku akan merepotkanmu malam ini.”

“Tidak masalah.” Wajah sewarna bunga Sakura itu masih belum padam. “Kalau begitu ayo kita makan.”

Haruka menyiapkan alat makan miliknya. Sebagian besar peralatan makan ini pemberian dari teman-temannya, terutama Kotoha dan Momijikawa. Sebelumnya ia bahkan tak memiliki sepasang sumpit karena ia hanya makan di luar dan membeli makanan dari toko serba ada yang selalu menyediakan sumpit sekali pakai dalam bungkusnya. Namun kini kabinet dapurnya sudah mulai berisi. Ia bahkan memiliki penanak nasi yang diberikan oleh Kotoha. Kata gadis itu, penanak nasi ini merupakan bekas Kafe Pothos yang sudah tidak digunakan karena mereka sudah membeli baru. Kotoha menyuruhnya untuk memilikinya meski tidak akan terpakai. Anak yang tinggal sendirian itu pun mengiyakan mengambil penanak nasi itu.

“Natsume, apa kau tahu cara menanak nasi?” Remaja yang tinggal sendirian itu bertanya dengan malu-malu. Ia memang sama sekali belum pernah memasak nasi sendiri.

“Bisa. Kamu punya beras?”

Haruka mengangguk. Ia mengambil sebuah kotak plastik besar yang berisikan beras. Beras yang akan dimasak ini merupakan pemberian dari Umemiya. Entah pemimpin Furin itu yang menumbuhkannya sendiri, atau entah ia repot-repot membelikan beras untuknya. Yang diberi memutuskan untuk menerimanya saja karena Umemiya terlampau memaksanya. Sekarang dalam hati, pemuda itu berterima kasih pada Kotoha dan Umemiya, karena siapa sangka akan tiba hari dimana dirinya akan menggunakan beras dan penanak nasi tersebut.

Takashi mengambil sedikit beras yang sekiranya cukup untuk ketiganya makan (ya, Nyanko-sensei dihitung). Ia mencuci beras itu di wastafel dan menakar air yang cukup agar nasinya tidak terlalu lembek atau terlalu kaku. Sebagai orang yang sering berpindah dari keluarga satu ke keluarga lain, anak malang itu selalu berusaha untuk berkontribusi dalam keluarga tempatnya tinggal. Entah dari bersih-bersih, hingga ke urusan dapur. Semenjak datang ke kediaman Fujiwara, Touko-san jarang sekali memintanya membantu di dapur kecuali untuk mencicipi makanan. Oleh karena itu, Takashi sudah melupakan beberapa hal. Untungnya ia masih mengingat bagaimana cara memasak nasi.

Pemilik mata coklat itu menancapkan kabel penanak nasi itu ke stop kontak terdekat. “Sekarang kita tinggal menunggu nasinya matang.”

“Baiklah…”

Takashi kemudian teringat sesuatu. “Maaf, Sakura-kun. Apa kau punya telepon? Aku ingin meminjamnya untuk mengabari orang tua asuh ku kalau aku tidak pulang malam ini.”

“Boleh.” Haruka mengeluarkan ponsel dari saku celananya. “Pakailah.”

Takashi menerimanya. Namun, wajahnya terlihat bingung. “Aku tidak tahu cara memakai ini…”

Pemilik ponsel itu mendekat. Ia membuka layar kuncinya. “Kau hanya perlu ke menu panggilan, di sini. Kemudian ketik nomornya, lalu tekan tombol telepon itu.” Haruka menjelaskannya dengan pelan. Kini pemuda hitam-putih itu sudah mulai terbiasa menggunakan ponsel pintar sehingga dapat menjelaskan fungsi benda yang awalnya asing baginya itu ke orang lain.

“Terima kasih. Aku akan meminjamnya sebentar.”

Takashi pergi ke balkon kamar untuk membuat panggilan. Haruka berusaha tak menguping meski itu percuma. Apartemen ini terlampau sempit sehingga ketika ada suara sekecil apapun itu akan terdengar ke semua sudut.

“Halo… Touko-san, ini Takashi... Maaf, tapi aku tidak bisa pulang malam ini. Aku mampir ke tempat teman, dan tanpa sadar aku melewatkan jam kereta terakhir. Jadi, aku akan menginap di tempatnya… Ya… Baik… Maaf, Touko-san… Oh, baik… Terima kasih… Sampaikan salamku ke Shigeru-san… Selamat malam.”

Takashi berbalik masuk begitu nada panggilan terputus terdengar. Dia mengembalikan ponsel itu ke pemiliknya. “Terima kasih banyak, Sakura-kun.”

“... bukan masalah.”

Haruka tampak ingin mengatakan sesuatu. Ekspresi ragu terpampang jelas pada wajahnya. Takashi sepertinya tahu apa yang ingin remaja itu katakan.

“Barusan itu, mereka adalah orang tua asuhku. Orang tua kandungku sudah meninggal. Ibuku meninggal setelah melahirkan ku dan ayahku hanya mengasuhku sebentar sebelum ia pergi menyusul ibuku.”

Wajah pemilik mata dua warna itu memperlihatkan perasaan bersalah setelah mendengarnya. “Maaf, aku memang penasaran. Tetapi kau tak perlu memenuhi rasa penasaranku.”

“Tidak apa-apa. Dulu membahas ini terasa menyakitkan, tetapi sekarang aku sudah belajar untuk menerimanya.” Takashi tersenyum ia mengelus Nyanko-sensei yang naik ke pangkuannya.

“Kalau begitu, jika kau tak keberatan aku ingin mendengar tentangmu lebih banyak. Entah mengapa aku merasa kita berdua lumayan mirip…” Haruka memandang lawan bicaranya, sebelum mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan pipi yang memerah. “Tentu aku tidak memaksa…”

“Aku tidak keberatan. Mulai darimana, ya…” Takashi melirik Nyanko-sensei yang mulai mengantuk di pahanya. “Sedari aku kecil, aku sudah sering berpindah dari keluarga satu ke keluarga lain. Dahulu, aku masih lugu. Tak begitu paham mengenai yokai, ayakashi, obake, dan lain sebagainya. Aku selalu jujur dengan apa yang kulihat. Namun, tak semua orang memiliki penglihatan sepertiku. Jadi, mereka sering memanggilku seorang pembohong. Aku juga tidak jarang diganggu oleh mahluk-mahluk itu. Namun di mata orang lain, aku hanya terlihat sedang bertingkah aneh dan tidak wajar. Jadi mereka juga mulai memanggilku sebagai pembuat onar. Fujiwara adalah keluarga terakhir yang menampungku. Touko-san dan Shigeru-san adalah sepasang suami yang tak dikaruniai anak. Mereka membuka rumah mereka untukku. Aku sangat menyukai dan menyayangi mereka. Mereka tidak mempermasalahkan rumor buruk tentangku. Mereka juga tak memaksaku untuk langsung mempercayai dan berterus terang kepada mereka. Mereka mengulurkan dengan perlahan sambil menghormati batasanku. Kurasa merekalah keluarga pertama yang membuatku betah dan enggan meninggalkan mereka.” Mungkin ini pertama kalinya Takashi berterus terang mengenai masa lalunya. Teman-temannya sudah pasti mengetahui dari rumor yang beredar terkait latar belakangnya. Namun, menceritakannya secara langsung itu belum pernah Takashi lakukan.

“Apa mereka tahu tentang kemampuanmu? Sejak kapan kau mendapatkannya? Apa kau… pernah membenci dirimu karenanya?” Haruka bertanya dengan hati-hati.

“Aku belum siap untuk memberitahu Touko-san dan Shigeru-san. Bukan karena aku tak mempercayai mereka, namun aku tak ingin membuat mereka khawatir.” Takashi menghela napas sejenak sebelum melanjutkan. “Sepanjang ingatanku, sepertinya aku sudah mendapatkan kemampuan ini dari lahir. Aku akan bohong jika aku bilang tidak pernah membencinya. Sejak kecil aku sering dirugikan oleh para yokai. Aku pernah berharap aku tidak memiliki kemampuan ini sama sekali. Namun, semenjak pindah ke keluarga Fujiwara, bertemu dengan Nyanko-sensei…” Takashi terkekeh kecil melihat telinga Nyanko-sensei yang bergerak setelah namanya disebut. “... aku mulai belajar menyukai mereka. Beberapa diantara mereka tidaklah buruk. Aku dekat dengan beberapa yokai. Aku juga memiliki teman yang dapat kubagi rahasiaku tentang kemampuanku, serta teman dengan kemampuan yang sama. Perlahan, aku tidak lagi membencinya.”

Seakan dipertemukan oleh belahan jiwa, Haruka tidak menyangka situasi diantara dirinya dan Takashi begitu mirip. Dari kematian sang ibu setelah keduanya dilahirkan, kemudian ayah yang ikut tiada (ayahnya masih hidup, tetapi ia tak sudi menganggap pria itu sebagai ayahnya setelah apa yang diperbuat kepada anak malang itu, jadi anggaplah pria itu tidak ada sedari awal dalam kehidupannya). Dilempar-lempar dari rumah dan keluarga satu ke yang lain, hingga dijauhi dan didiskriminasi oleh sesuatu yang mereka miliki namun tidak dimiliki oleh orang lain. Bahkan sampai bagaimana keduanya bertemu dengan keluarga yang menerima mereka apa adanya dan membuat keduanya mendapatkan kembali kepercayaan baik diri mereka atau kepercayaan mereka ke orang lain.

Haruka bagaimana untuk merespon kisah Takashi. Lawan bicaranya itu juga terlihat memaklumi respon minimnya. Suasana hening diantara mereka akhirnya dipecahkan oleh suara dari penanak nasi yang menandakan nasi yang sudah matang. Si tuan rumah segera bangkit dan menata peralatan makan di atas meja. Panci berisikan kare ia letakkan di tengah. Takashi menyiapkan piring kecil yang ia isi dengan nasi dan kare untuk Nyanko-sensei. Ia mengambil porsi miliknya setelah tuan rumah selesai mengambil miliknya.

Ketiganya makan dengan tenang. Baik diantara mereka tak ada yang membuka suara. Hanya terdengar suara peralatan makan yang saling berdenting. Tetapi suasana diantara mereka tidak menjadi canggung, melainkan hangat dan nyaman. Pipi Haruka memerah dikit ketika menyadari ia sudah merasa terbiasa dan nyaman dengan keberadaan Takashi yang hitungannya masih orang asing. Ini seperti bukan dirinya sendiri. Mungkin pengalamannya tinggal di Makochi mulai memperlembut dirinya.

Takashi menawarkan diri untuk membersihkan peralatan makan kotor mereka. Haruka belum sempat menolak ketika yang lebih tua itu sudah bangun dan pergi menuju wastafel. Pemuda berambut dwiwarna itupun memilih untuk membereskan yang lain. Ia meminggirkan meja tempat mereka makan. Nyanko-sensei berpindah ke sudut ruangan dan kembali berbaring. Haruka membuka lemari kamarnya. Ia mencari baju miliknya untuk dipinjamkan kepada Takashi. Lemarinya kini lebih berisi dibandingkan sebelumnya. Ia mengikuti saran Nirei, Kiryuu, dan Tsubaki ketika mereka bertiga mengajaknya berbelanja dan memilihkannya beberapa baju untuk dipakai sehari-hari. Haruka juga mencari-cari handuk pemberian Ito-san yang belum pernah ia pakai. Katanya, handuk itu dibeli oleh mendiang istrinya, namun belum sempat terpakai sebelumnya. Akhirnya Ito-san memberikannya pada dirinya ketika berkunjung ke kediamannya.

Ketika Takashi sudah selesai dengan piring kotornya, Haruka menawarkannya untuk mandi. “Natsume, kau bisa memakai kamar mandinya duluan.” Katanya sambil menyerahkan baju ganti dan handuk.

Takashi menerima baju dan handuk yang disodorkan. “Terima kasih.”

Haruka menyiapkan tempat tidur mereka sambil menunggu gilirannya untuk mandi. Futon yang ia biasa pakai dan futon cadangan yang ia simpan terpasang rapi bersebelahan. Keduanya berbaring di futon masing-masing begitu Haruka menyelesaikan giliran mandinya. Mereka tak langsung tidur. Haruka dengan lemat mengamati kamarnya. Suasana sunyi senyap, hanya terdengar gemerisik daun pohon yang tertiup angin diluar. Cahaya bulan remang-remang memasuki kamar melalui jendela yang dilapisi gorden tipis bercorak kekanakan. Ini pertama kalinya dalam beberapa waktu terakhir, pemilik kamar itu merasakan suasana yang nyaman di rumahnya sendiri.

Haruka membuka suara. “Suasananya memang jadi berbeda. Aku sudah tidak ada rasa mencekam yang membuat gelisah di ruang ini.” Ia melirik Takashi di sampingnya. “Seperti apa yokai itu? Bagaimana kau mengusirnya?”

“Mahluk itu menghuni rumah dan menghisap energi kehidupan pemilik rumah sedikit demi sedikit. Jika berlanjut terus kau bisa sakit atau bahkan… mati… Aku menggunakan lingkaran mantera yang pernah kupelajari dari pengusir setan kenalanku dan nenekku untuk mengusirnya.”

Haruka menyadari seberat apa beban yang dipikul Takashi melalui kemampuannya. “Terdengar berbahaya berurusan dengan yokai…”

“Iya, tetapi pertemuanku dengan mereka tak selalu buruk. Melihat mereka yang bisa menangis, memiliki masalah, meminta pertolongan, dan membalas budi. Aku yang dapat berinteraksi dengan mereka merasa jika aku seharusnya tidak diam saja.” Takashi berhenti sejenak. “Kini aku memiliki rekan dimana aku dapat jujur akan masalahku dan ku mintai bantuan. Selain itu, aku percaya kalau sensei akan terus melindungiku.” Pemuda berambut terang itu melirik Nyanko-sensei yang berbaring meringkuk di sebelah lengannya dengan nafas teratur, tak yakin apakah yokai dalam wujud kucing itu sudah tertidur atau masih terjaga dan diam-diam mendengarkan percakapan mereka.

“Bagaimana dengan Sakura-kun? Kalau boleh tahu, aku juga ingin mendengar cerita tentang Sakura-kun.”

Ini bukan pertama kali bagi anak itu mengisahkan latar belakangnya kepada orang lain. Ia pernah secara terbuka menceritakan latar belakangnya pada teman-teman di Furin. Ia tak masalah jika harus menceritakannya lagi. Toh, Takashi juga sudah mau menceritakan bagaimana hidupnya. Terlebih, ia juga percaya kepada sosok yang telah menolongnya itu. Jadi, Haruka tak masalah membagi bagaimana ia hidup hingga saat ini.

“Kurasa kita lumayan mirip. Ibuku juga meninggal setelah melahirkanku. Setelah itu, yang kuingat aku juga sering berpindah ke keluarga satu ke keluarga lain. Karena penampilanku yang tidak biasa, aku kerap mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari orang-orang di sekelilingku. Di sekolah, barang-barangku sering disembunyikan. Terkadang mereka juga beramai-ramai menyiram rambutku dengan air kotor.” Haruka tersenyum pahit. Ia bisa melihat perubahan ekspresi pada wajah Takashi. Ia tak memperhatikan apa itu, mungkin pemuda yang lebih tua itu mengasihaninya. Pria yang lebih tua itu harus bersiap mendengar bagian selanjutnya.

“Ketika akhirnya aku bertemu ayahku untuk pertama kalinya, yang kudapatkan darinya hanyalah kebencian. Dia menganggapku sebagai pembunuh karena telah merenggut nyawa istrinya setelah melahirkanku. Ia menemuiku hanya untuk mengatakan itu dan melemparku ke panti asuhan.” Haruka tersenyum getir dan menarik napas panjang untuk menjaga dirinya agar tetap tenang. “Aku selalu berharap jika suatu saat aku akan memiliki tempat yang dapat menerimaku. Tetapi ternyata aku salah. Bahkan ayahku yang darahnya mengalir pada tubuhku sendiri, tidak bersedia menerimaku. Setelah itu, aku masa bodoh dengan semuanya. Aku mulai berkelahi untuk membela diriku. Kesan orang-orang terhadapku tak berubah. Tapi setidaknya mereka tak ada yang berani mendekat kepadaku.

“Aku datang kesini setelah mendengar bahwa tempat ini penuh dengan berandalan. Untuk itu aku datang ke Furin demi menjadi yang terkuat dan menempati posisi teratas dengan berkelahi. Tujuanku masih tak berubah. Namun, aku tak menyangka aku akan mendapatkan apa yang tidak pernah kudapatkan selama 16 tahun hidupku. Orang-orang… memperlakukanku dengan baik… Orang-orang di kota, teman-teman di sekolah, bahkan kenalan di luar Makochi. Mereka tidak mempedulikan penampilan anehku. Aku akhirnya sadar bahwa semua perlakuan yang kudapatkan sebelum datang ke Makochi itu tidak wajar. Aku belajar bahwa semua orang seharusnya tidak pantas diberi perlakuan yang tidak baik terlepas dari penampilannya.”

Wajah Haruka sedikit memerah. Tetapi ekspresinya tetap tenang. Sepertinya pemuda heterochromia itu berusaha keras menekan rasa malunya ketika membicarakan tentang teman-temannya. Semua kata-kata itu meluncur dengan mudahnya dari mulut miliknya. Kata-kata yang bahkan ia tidak yakin untuk membiarkan teman terdekatnya, Suo dan Nirei, mendengarnya langsung dari bibirnya. Ia sudah mulai terbuka dengan teman-temannya di Makochi, namun Haruka akan berpikir dua kali untuk membiarkan mereka menyaksikan sisinya yang ini. Mungkin suatu saat nanti, entah dalam waktu dekat atau jauh. Ya, suatu hari nanti ia akan menyampaikan secara langsung pada teman-temannya, bahwa ia bersyukur datang ke Makochi dan bertemu mereka.

“Aku… sangat bersyukur dan berterima kasih telah datang kesini. Aku mencintai kota ini dan seisinya. Aku tidak mau pergi dari sini.”

Ingatan Takashi melayang ketika dirinya mulai gelisah disaat teman-temannya membahas masa depan setelah lulus dari sekolah menengah atas. Ada perasaan tidak nyaman mendengar teman-temannya membicarakan rencana masa depan mereka, dimana kebanyakan dari mereka bertujuan untuk melanjutkan pendidikan mereka di luar kota. Bukan karena iri atau mengapa, tetapi dibandingkan dengannya, keinginan Takashi saat ini hanya untuk tinggal di tempat tinggal kecilnya. Ia tak mau buru-buru meninggalkan rutinitasnya di pinggiran kota kecil itu. Berat rasanya melihat teman-temannya mulai berjalan maju, sementara dirinya masih ingin berjalan di tempatnya saat ini dan menikmatinya sedikit lebih lama lagi.

“Kau benar, Sakura-kun. Kita berdua mirip.” Senyum kembali merekah pada bibir pemilik Buku Persahabatan itu. Takashi merasa getir mendengar perjalanan hidup remaja malang itu. Kini ia ikut bahagia mendengar pemuda berambut dua warna itu akhirnya menemukan tempat untuk bernaung, tempat yang menerimanya apa adanya, dan tempat yang mencintainya dan dicintai olehnya. Dalam hatinya, ia berharap jika baik dirinya dan Sakura, akan terus dapat mempertahankan kehidupan yang mereka cintai sekarang.

Takashi tak mendengar balasan apapun selain suara menguap dari lelaki di sebelahnya. Mata hitam dan emas itu mulai tak kuat mempertahankan kelopaknya untuk terus terbuka. Ini pertama kalinya setelah beberapa waktu, Haruka merasa nyaman di rumahnya sendiri. Bagaikan dinyanyikan lagu pengantar tidur oleh sang dewi malam, kesadarannya perlahan menghilang sembari diselimuti dengan rasa aman dan damai.

“Terima kasih, Natsume…” Ucap Haruka terakhir kalinya sebelum lelap menguasainya.

“Selamat tidur, Sakura-kun.” Kau pasti sudah lama tidak tidur dengan nyenyak.

Bulan purnama bersinar terang di luar. Angin sepoi-sepoi berhembus di luar mengeluarkan suara gemerisik ketika bergesekan dengan ranting pohon. Dengan suasana ini, ditambah suara nafas teratur milik tubuh yang berbaring di sebelahnya dari alam mimpi, dirinya mulai ikut merasakan kantuk. Ia melirik ke Nyanko-sensei yang juga tertidur nyenyak, sebelum akhirnya memejamkan mata untuk ikut berkelana ke dalam mimpi.

Haruka bermimpi berbaring di padang rumput yang luas di bawah sinar rembulan dan bintang-bintang di angkasa malam. Ia menikmati sensasi menggelitik dari rerumputan yang tertiup angin lembut. Tiba-tiba ia melihat Takashi di dalam mimpinya. Pemuda yang lebih tua itu tengah duduk bersimpuh membelakanginya. Kedua tangannya menangkup seakan-akan tengah berdoa. Kepalanya mendongak dan mulutnya berkomat-kamit. Rambut cokelat terang milik remaja itu memantulkan sinar keperakan dari bulan di langit malam. Kala itu, seluruh tubuh Takashi terlihat bersinar dengan cantik di tengah udara malam. Haruka tak tahu kelanjutan dari mimpi itu, sayup-sayup kesadarannya menghilang. Tahu-tahu ia terbangun ketika sinar mentari menusuk kelopak matanya yang masih tertutup.

“Ugh…” Ia membuka mata berbeda warnanya itu sambil mengerang.

“Maaf, Sakura-kun. Aku membangunkanmu.” Haruka melihat Takashi yang tengah membuka gorden jendelanya. Pemuda itu terlihat sudah berganti dengan pakaiannya sendiri. Kucingnya yang gendut menempel pada punggungnya. Di sebelah tempat Haruka berbaring, terdapat sebuah futon yang sudah terlipat dengan rapi. Sepertinya Takashi sudah bersiap untuk pulang. Entah mengapa Haruka sedikit kecewa.

“Tidak apa-apa.” Ia bangun, menguap dan meregangkan tubuhnya. “Kau sudah ingin pulang?”

Takashi mengangguk. “Aku tidak ingin terlalu lama mengganggumu.”

“Biar kuantar.” Yang baru bangun itu sepenuhnya bangkit dari futonnya. “B-bukan apa-apa… Sudah pernah aku bilang, kan, kalau kota ini penuh dengan berandalan. A-aku hanya akan memastikan kau tidak dihadang, setidaknya sampai ke halte bus menuju stasiun.”

“Baiklah Sakura-kun. Terima kasih.”

“B-bu-bukan apa-apa!”

Haruka segera melipat rapi futonnya dan meminggirkannya. Ia kemudian pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Dirinya memandangi wajahnya yang terpampang pada kaca wastafel. Tampak lebih segar dibandingkan kemarin-kemarin. Pemuda lalu itu berganti pakaian dengan baju yang biasa ia pakai. Celana slim fit hitam dengan kaos putih dan dipadukan dengan jaket abu-abu.

“Kau tidak ingin sarapan terlebih dahulu?” Haruka bertanya ketika mereka bertiga sudah keluar dari apartemennya. “Kalau mau, aku akan membawamu ke kafe langgananku. Makanan disana enak dan murah.”

Sebelum Takashi menjawab, Nyanko-sensei sudah menyambarnya terlebih dahulu. “Tunjukkan jalannya, bocah!”

“Hei! Nyanko-sensei kita beli makanan di stasiun saja!”

“Dengan tubuh cungkringmu itu kau tidak akan kuat pergi ke stasiun tanpa sarapan terlebih dahulu. Lagipula kita belum sempat makan di luar kemarin siang. Sekarang juga masih pagi! Tidak perlu buru-buru.” Nyanko-sensei tidak menyediakan ruang bagi Takashi untuk merespon. Kucing itu berpindah dari bahu pemiliknya ke bahu remaja di sebelahnya. “Ayo! Ayo!”

Si pemilik kucing itu hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan kucingnya. “Baiklah. Sakura-kun, maaf, tapi kami akan merepotkanmu lagi…”

“Tidak masalah…” Haruka mengangguk. Ia mengelus kucing gendut yang kini sudah akrab dengan bahunya.

Mereka berjalan ke Distrik Perbelanjaan Tonpu. Tentu saja destinasi akhirnya ialah Kafe Pothos yang sudah menjadi langganan Haruka dan orang-orang Furin.

“Selamat datang.” Kotoha menyambut mereka begitu wajah pelanggan setianya membuka pintu. “Oh, Sakura. Hm… kali ini kau membawa teman?” Gadis itu melihat remaja kurus yang mengekori Haruka.

Takashi mengamati interior kafe yang rapi dan bersih. “Halo…” Pemuda yang lebih tua itu menyapa karyawan perempuan yang berdiri di konter. “Maaf, tapi apa kucing boleh dibawa masuk ke sini?” Ia menunjuk Nyanko-sensei yang kini dengan nyaman dipeluk oleh tangan Haruka.

Kotoha mengamati hewan yang disebut sebagai kucing itu. Terlihat meragukan pandangannya sendiri. Setelah memastikan bahwa Nyanko-sensei adalah kucing, karyawan itu akhirnya menjawab. “Tidak masalah. Asal ia tidak membuat kegaduhan.”

“Yo! Sakura!” Seorang pemuda tinggi berambut putih tiba-tiba muncul dari tempat duduk di bagian belakang kafe dan menghampiri mereka.

“Geh- Umemiya! Apa yang kau lakukan di sini?” Haruka yang tak menyadari keberadaannya sebelumnya, terlihat jengkel dengan kehadiran sosok berambut putih yang tinggi besar itu.

“Wajar dong bagi kakak untuk menemani adiknya yang manis~” Umemiya menjawab sambil menunjuk Kotoha dan menampilkan senyuman lebar miliknya.

Kotoha memasang tampang jijik kepada laki-laki yang mengaku sebagai kakaknya itu. “Kau hanya menggangguku di sini. Sana pergi! Bukankah kau tadi bilang jika ada keperluan di tempat lain?!”

“Jahatnya~ Kau mengusir kakakmu sendiri? Aku memang sudah akan pergi dari sini.” Wajah tersenyum Umemiya berubah cemberut.

Sedikit lucu melihat pemuda kekar seperti Umemiya bertingkah manja di depan adiknya. Takashi bingung harus bereaksi seperti apa melihat ‘keributan’ kecil di hadapannya ini. Tapi, mata pria berambut putih itu tiba-tiba tertuju padanya. Umemiya pun berjalan mendekatinya.

“Kau teman Sakura?” Takashi sedikit terperanjat melihat tubuh besar pria itu berdiri tepat di hadapannya.

“Iya… bisa dibilang begitu.” Lelaki berambut coklat terang itu hanya dapat mengiyakan.

“Oi! Jangan ganggu dia!” Haruka memasang tampang bersungut-sungut, berdiri menengahi antara Takashi dan Umemiya.

“Aku hanya memastikan saja, kok! Aku senang melihat Sakura temannya bertambah!” Ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk mengelus kepala Haruka. “Sepertinya kau lumayan protektif dengan temanmu ini, ya~”

“Guh- jangan asal ngomong!” Wajah pemuda hitam-putih itu memerah. Tangannya berusaha menampar tangan Umemiya yang mengacak-acak rambutnya. Takashi hanya bisa terkekeh canggung mendengarnya.

“Haha! Kalau begitu, aku tidak akan berlama-lama dan mengganggu waktu kalian. Sampai jumpa~” Umemiya beranjak dari tempatnya berdiri dan pergi ke pintu keluar. Sebelum itu ia juga mengelus Nyanko-sensei yang masih ada di pelukan Haruka. “Dadah, neko-chan~ Aku sempat mengira kamu rakun tadi~”

Sebelum Nyanko-sensei sempat mengamuk karena dikira rakun, Umemiya sudah kabur keluar. Kotoha menghela nafas ketika ‘kakak’nya itu sudah hilang dari pandangannya. “Maaf, ya. Orang itu memang tidak punya rem. Selalu seperti itu ke siapa saja.”

“Haha, tidak apa-apa.” Takashi tersenyum menimpali. Tak mengambil masalah dengan apa yang terjadi. Toh, lelaki berambut putih itu hanya berniat baik meski sedikit blak-blakan.

“Kalau begitu, silakan duduk.”

Pemuda bermata coklat itu pun mengangguk. Ia mengikuti Haruka yang berjalan dan mengambil tempat duduk di meja depan konter.

“Jadi, apa yang ingin kalian pesan?” Kotoha bertanya.

“Aku seperti biasa.” Pihak satunya menjawab.

“Omurice? Oke. Bagaimana dengan… kakak ini? Maaf, boleh tahu namamu?” Kotoha beralih ke Takashi.

“Takashi Natsume.”

“Oke, Natsume-san. Apa yang ingin kau pesan?”

“Omurice saja. Tapi, tolong buatkan juga untuk kucingku.” Takashi melirik Nyanko-sensei yang sudah tidak dipeluk Haruka dan duduk dengan tenang di bawah kursinya.

Kotoha terlihat memandangnya dan kucingnya secara bergantian dengan aneh. Terlihat bertanya-tanya dengan permintaannya. Namun, gadis itu akhirnya mengangguk dan mengiyakan.

Tak butuh waktu lama untuk pesanan mereka selesai dihidangkan. Nyanko-sensei terlihat bersemangat ketika Takashi menyodorkan sepiring Omurice yang masih mengepul ke hadapannya.

“Kucingmu tidak apa-apa diberi makanan manusia?” Kotoha bertanya dengan penasaran.

“Tidak apa-apa… Dia lebih suka makanan manusia daripada makanan kucing.” Karena memang aslinya dia bukan kucing…

“He~ Aneh sekali. Tapi kurasa itu menjelaskan kenapa ia segemuk itu…” Kotoha memandangi Nyanko-sensei yang sudah mulai melahap makanannya. “Kalau begitu, selamat menikmati.”

Takashi mulai menikmati hidangannya. Ia melirik Haruka yang sudah hampir menghabiskan setengah piring. Tidak mengira jika lelaki yang lebih muda itu bersemangat sekali ketika makan. Tak menyisakan jeda setelah mengunyah makanan. Sementara itu, Nyanko-sensei… Yah, kucing rakusnya itu tak perlu ditanya. Sebagian porsi makanannya itu sudah pasti telah masuk ke perut gendutnya.

“Sampai jumpa lagi! Silakan datang lagi kapan-kapan.”

Ketiganya tidak berlama-lama di Kafe itu. Mereka langsung pergi tak lama setelah menyelesaikan makanan masing-masing. Takashi tersenyum untuk terakhir kali pada Kotoha ketika berjalan keluar dan menutup pintu kafe. “Terima kasih.”

Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka ke halte bus, melewati rute yang sama dengan kemarin. Dan lagi-lagi warga Distrik Perbelanjaan Tonpu yang mengenali Haruka, kembali membombardir pemuda itu dengan berbagai produk dagangan mereka. Bahkan Takashi mendapatkan jatahnya sendiri hanya karena dirinya berjalan bersama dengan lelaki yang lebih muda itu. Tangannya kini ikut penuh dengan bungkusan yang berisi berbagai macam makanan.

“Apa mereka selalu seperti ini?” Tanya Takashi sambil berusaha memegangi semua bingkisan di tangannya agar tidak terjatuh.

“Ya. Mereka sudah familiar dengan sekolah kami, Furin, yang sering membantu menertibkan area ini jika ada preman. Mereka selalu seperti ini tiap ada anak Furin lewat.” Haruka menjawab. Ia tampak tengah berusaha menyeimbangkan barang bawaannya.

“Kalian keren sekali.”

“Bi-biasa s-saja!”

Keduanya akhirnya berjalan keluar distrik perbelanjaan. Menelusuri trotoar yang akan membawa mereka ke halte tujuan. Ketika bangunan halte yang dimaksud sudah terlihat, Takashi kembali membuka suara. “Sakura-kun, semalam ketika aku menghubungi keluarga Fujiwara, mereka memintaku untuk mengajakmu mampir ke rumah suatu hari nanti. Kapan-kapan, bersediakah kamu untuk mengunjungi rumahku?”

Haruka terkejut dengan tawaran tersebut. Ia kira semua ini akan berakhir setelah Takashi pulang. Maksudnya, setelah ini ia kira mereka akan kembali menjadi asing seperti tak pernah bertemu sedari awal. Namun, ternyata tidak. Dirinya senang. Haruka sendiri juga menyukai kebersamaan singkatnya dengan orang yang repot-repot mengusir yokai di rumahnya ini. Ia tidak masalah jika ini berlanjut kembali. Malah, ia berharap begitu. Ini pertama kalinya ia memiliki teman di luar area ini dan yang tak berkaitan dengan urusan berandalan. Terlebih karena keduanya yang mirip, ia merasa memiliki ikatan tersendiri—yang berbeda dengan teman-temannya selama ini—dengan Takashi.

“Aku… akan datang kapan-kapan.” Haruka mengangguk dengan wajah memerah. “Mungkin saat liburan sekolah.”

Yang mengajak tersenyum mendengar tawarannya diiyakan. “Kalau begitu, aku akan menghubungimu lagi nantinya.”

Sekarang, mereka duduk di bangku halte. Haruka memutuskan untuk menunggu hingga tamunya mendapatkan busnya. Nyanko-sensei duduk dengan tenang di pangkuan majikannya.

“Ngomong-ngomong, semalam aku seperti melihatmu berbicara dengan sesuatu. Tapi aku tidak yakin itu mimpi atau tidak.” Haruka menceritakan mimpi anehnya semalam, yang sebenarnya ia ragukan sebagai mimpi biasa.

“Semalam, yokai yang menggangguku kemarin siang kembali datang menemuiku.” Takashi menjelaskan.

“Kau tidak apa-apa?”

Pemuda bermata cokelat itu menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Dia datang untuk menagih sesuatu dari nenekku. Mendiang nenekku juga memiliki kemampuan yang sama denganku. Dahulu, ia sering berurusan dengan banyak yokai. Terkadang yokai-yokai itu menemuiku karena salah mengira aku adalah nenek dan menagih sesuatu yang diwariskan nenek kepadaku. Termasuk yokai besar kemarin siang. Namun, semalam aku sudah membebaskan segala urusannya dengan nenekku. Tidak terjadi sesuatu yang berbahaya, kok.”

Haruka mendengus. “Untunglah kalau begitu.” Mulutnya sedikit mengerucut. “Kurasa aku paham kenapa Nyanko-sensei sering mengomelimu.” Setelah mengetahui bagaimana yokai dapat membahayakan manusia, tentu ia mulai ikut was-was dengan kelakuan teman barunya yang kata yokai pengawalnya itu sering bertingkah nekat.

Nyanko-sensei yang mendengarnya juga ikut mendengus. Menyetujui perkataan Haruka yang secara tidak langsung mengomentari sifat sembrono pemilik Buku Persahabatan itu. Takashi hanya tersenyum sambil mengelus kepala kucing itu. Sepertinya kini bertambah orang yang mulai protektif terhadapnya terkait dengan urusan yokai selain Tanuma dan Natori-san.

Tak lama kemudian, bus yang mereka tunggu akhirnya tiba. Takashi memasukkan kucingnya ke dalam tas jinjing yang ia bawa. Barang bawaannya yang lain ia masukkan ke tas kertas besar yang diberikan oleh salah satu warga distrik perbelanjaan tadi. Ia bangkit dari tempat duduknya.

“Kalau begitu, sampai jumpa lagi, Sakura-kun. Jangan lupakan janjimu untuk berkunjung kapan-kapan.”

“Sampai jumpa lagi. Uh, kau tahu, a-aku benar-benar berterima kasih untuk pertolonganmu… Dan, ya, aku akan ingat untuk berkunjung ke tempatmu suatu hari nanti.” Pipi Haruka kembali memerah seperti kepiting rebus. Pemilik rambut dua warna itu mengelus Nyanko-sensei yang sudah mendekam dengan tenang dalam tas Takashi. Ia kemudian mengulurkan tangan untuk mengajak pemuda di hadapannya berjabat tangan sebelum menaiki bus. “Jangan lupa untuk mengabari jika kau sudah sampai di rumah dengan selamat.”

Takashi menyambut tangan itu, tersenyum. Dengan tangan yang sama pula, ia melambaikan perpisahan sementara mereka. Mata cokelat terang bertemu dengan hitam dan emas untuk terakhir kali, sebelum disekat oleh pintu kaca dari bus yang ditumpangi, dan membawa pergi semua penumpangnya. Haruka memandangi bus yang semakin menjauh di jalan raya. Ia kemudian meregangkan tubuhnya. Merasa lega dengan permasalahannya yang menuntun pertemuan tak terduganya dengan Takashi. Ia akan menagih janji kunjungannya menunggu hari dimana mereka akan bertemu kembali suatu saat nanti.

Keduanya berpisah untuk sementara saja. Masing-masing menanti pertemuan mereka berikutnya. Seperti tanda koma, yang akan menyambung cerita keduanya menjadi kalimat utuh di waktu yang akan datangi.

Notes:

Terima kasih yang sudah membaca karya ini sampai selesai. Jujur, ini aku post dengan sangat buru-buru (aku ngepost di malam Idul Fitri, fyi). Jadi, mungkin kedepannya akan ada beberapa yang kuedit lagi ketika sudah ada waktu.

Anyway, Eid Mubarak bagi yang merayakan!