Work Text:
Hari ini Geonwoo bangun tidur lebih awal, mengingat ia akan bertemu dengan orang tua Sanghyeon. Saking gugupnya, ia sampai terbangun hingga larut dalam karena tidak bisa tidur, untung saja pagi ini dirinya tidak terlambat bangun. Begitu terjaga, ia langsung berlari kecil menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya, Geonwoo mengenakan pakaian kasual yang sopan, tidak lupa juga memakai wewangian yang cukup ampuh untuk membuatnya merasa lebih percaya diri. Ia tidak mau membuat first impression orang tua Sanghyeon terhadapnya buruk.
Melihat dirinya yang sudah rapi di depan kaca, Geonwoo tersenyum puas, ia sangat berterima kasih kepada tuhan dan kedua orang tuanya yang telah memberikan wajah tampan ini. Dirasa sudah siap, Geonwoo turun ke lantai bawah.
Geonwoo pergi ke ruang makan untuk memeriksa dan menyiapkan bingkisan yang nantinya akan ia bawa ke rumah Sanghyeon. Hanya sekeranjang buah-buahan segar dan beberapa set teh herbal serta kopi bubuk hasil kebun milik keluarganya. Sesaat dirinya berpikir, apakah ini saja sudah cukup? Atau ia harus membeli beberapa bingkisan lainnya? Jika sempat, mungkin ia akan mampir kembali ke supermarket sejenak.
“Mau kemana kamu, Bang? Sudah rapih aja.” Tanya Bunda. Melihat anaknya yang sudah rapi pagi-pagi dan terlihat sangat sibuk, membuat Bunda Geonwoo melihatnya bingung. Padahal, biasanya saat weekend ia akan tidur hingga siang dan hanya bermalas-malasan, terkecuali jika Sanghyeon datang mampir ke rumah atau mengajaknya pergi kencan.
“Aku mau ke rumah Sanghyeon.”
“Tumben? Biasanya Sanghyeon yang kamu bawa ke sini.” Bunda sudah mengetahui perihal hubungan mereka, begitu juga dengan Ayahnya. Hanya saja orang tuanya itu tidak mengetahui, bahwa sebenarnya Geonwoo belum mengatakan perihal hubungan mereka kepada orang tua Sanghyeon.
“Iya… orang tuanya mau kenalan sama aku katanya.” Jawab Geonwoo. Mendengar ucapan anaknya, Bunda tampak terkejut. Jadi selama ini, Sanghyeon yang sering berkunjung ke rumah bersama putranya, orang tuanya belum tahu? Apa jangan-jangan, mereka bahkan tidak tahu kalau Sanghyeon menjalin hubungan dengan putranya?
“Lho, kok baru mau kenalan. Ini jadinya kalian pacaran, orang tuanya belum tahu, Bang?” Tanya Bunda lagi. Geonwoo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sebuah kebiasaan jika ia sedang merasa terpojok. “Belum, hehe.” jawabnya singkat, berusaha menghindari tatapan mengintimidasi sang Bunda.
“Astaga, bandel juga ya anak ini.” Ayah yang baru saja datang dari halaman belakang, menjewer telinga Geonwoo setelah tidak sengaja mendengar pembicaraan sebelumnya. “Aduduh, jangan dijewer Ayah, sakit.” Sang Ayah masih terus menjewernya, tidak peduli jika sang anak mengaduh kesakitan. Bisa-bisanya Geonwoo melakukan hal seperti itu, dimana letak tanggung jawabnya sebagai calon pemimpin?
Ayah melepaskan jeweran membuat Geonwoo mengusap telinganya yang masih terasa sakit, kemudian memberikan omelan kecil untuk sang anak. “Enggak boleh begitu, Bang. Ayah pikir kamu sering bawa Sanghyeon main kesini, orang tuanya sudah tahu. Nanti kalau ada apa-apa, kamu yang harus tanggung jawab lho.”
“Iya, maaf, aku salah. Aku juga akan tanggung jawab, kok. Makanya hari ini aku mau ke rumahnya.” Ujar Geonwoo. Kali ini tidak ada cengiran di wajahnya. Tatapannya lurus menatap kedua orang tuanya, menunjukkan bahwa keputusannya untuk menemui orang tua Sanghyeon bukanlah hal yang main-main.
Sebenarnya, Geonwoo merasa bersalah kepada orang tuanya, juga kepada orang tua Sanghyeon. Ia merasa tidak seharusnya menuruti keinginan kekasihnya, begitu saja tanpa pertimbangan matang. Secara tidak langsung, ia telah membohongi kedua belah pihak.
Meski begitu, ia tak ingin menyalahkan Sanghyeon. Mengingat usianya yang lebih tua dan kelak akan mengambil peran sebagai kepala keluarga, Geonwoo sadar bahwa situasi ini adalah murni kelalaian dirinya.
“Sudah seharusnya dari awal kamu begitu, Bang. Kamunya juga harus tegas dan tanggung jawab, baik ke Sanghyeon maupun diri kamu sendiri. Saat berkeluarga nanti, kamu sudah enggak cuman bawa nama baik keluarga kita, apalagi nama kamu sendiri. Tapi juga keluarga Sanghyeon, Bang. Kamu enggak mau kan terjadi sesuatu sama mereka karena kelalaian kamu sendiri?”
Bunda menjeda kalimatnya sejenak, menatap Geonwoo dalam-dalam. "Saat itu kamu sudah berdiri di kaki sendiri, tanpa ada backingan orang tua lagi. Jadi, belajar untuk lebih dewasa lagi. Jangan gegabah.” Bunda melanjutkan nasihatnya, dan mendengarkannya membuat Geonwoo tersenyum tipis. Ia memang salah, namun alih-alih menghakiminya, orang tuanya masih menunjukkan kepedulian melalui nasihat dan pengarahan yang baik.
“Iya, Bun, Geonwoo paham.” jawabnya tulus.
“Yaudah, sekarang sarapan dulu di sini, nanti pingsan lagi pas diinterogasi sama orang tuanya Sanghyeon.” ujar Bunda.
Ayah dan Bunda menarik bangku meja makan, mengajak putra mereka yang masih berkutat dengan barang bawaannya. Geonwoo yang melihat meja makan sudah dipenuhi berbagai hidangan merasa perutnya sedikit lapar. Namun, alih-alih mengikuti ajakan sang Bunda, ia justru menolaknya.
“Enggak usah deh, nanti saja sama Sanghyeon. Aku sudah mau berangkat.” Tolak Geonwoo. Sudah cukup ia merasakan perutnya yang seperti diaduk-aduk saat ini, ia tidak ingin tiba-tiba merasa mulas saat sedang berhadapan dengan orang tua Sanghyeon nanti.
“Yeu, bucin. Yaudah hati-hati, jangan bikin malu dirimu sendiri Bang, jangan sampai bikin Ayah-Bunda jelek juga.” Ujar Bunda. Geonwoo yang mendengarnya hanya mengangguk, tangannya bergerak cepat membawa barang bawaannya.
“Iya-iya, aku jalan sekarang. Berangkat Yah, Bun.”
___
Geonwoo mengendarai mobilnya dengan perasaan waswas. Selama perjalanan, sesaat ia membayangkan bagaimana nasibnya ketika bertemu dengan orang tua Sanghyeon nanti. Meskipun kekasihnya sudah meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja, ia tetap tidak bisa mengusir rasa takut itu.
Bagaimana jika orang tua Sanghyeon tidak menyukainya? Apakah ia akan diminta untuk memutuskan hubungan mereka saat itu juga? Memikirkannya membuat Geonwoo meringis, ia belum siap jika harus berpisah dengan Sanghyeon secepat ini.
Terlalu banyak melamun saat berkendara, membuat Geonwoo tidak sadar bahwa ia telah sampai di depan kediaman Sanghyeon. Setelah memarkirkan kendaraannya dengan benar, Geonwoo menghela napas pelan, sejenak ia tenangkan pikiran sebelum turun dari mobil. Menata kembali rambut yang sebenarnya tidak berantakan, merapikan kerah kemeja yang masih kaku, dan melemaskan otot tubuhnya yang masih menegang.
Dirasa sudah cukup tenang, ia segera turun dari mobilnya. Tangannya meraih ponsel yang berada di dalam saku, kemudian mendial nomor ponsel milik sang kekasih. “Halo, sayang. Aku sudah di depan.” Setelah mengabarkan Sanghyeon, Geonwoo kembali mematikan ponselnya.
Sembari menunggu, dirinya melangkahkan kaki menuju pintu penumpang, mengambil bingkisan yang akan ia berikan nanti. Tidak butuh waktu yang lama untuk kekasihnya datang, pintu rumah terbuka lebar dengan Sanghyeon yang berlarian kecil menghampirinya.
“Hi-astaga, kakak ngapain repot-repot bawa ini si.” Ingin menyapanya, Sanghyeon malah terkejut dengan Geonwoo yang membawa bingkisan tersebut. “Mana rapi banget, wangi lagi, ih. Aku lho cuman pakai baju rumahan.” Lanjut protesnya.
Ingatkan Sanghyeon yang hanya ingin memperkenalkan dirinya kepada orang tuanya saja, bukan untuk lamaran. Tapi mengapa Geonwoo seproper ini? Dan jangan lupakan penampilannya sekarang, bahkan Geonwoo tidak pernah serapi ini saat berkencan dengannya.
Geonwoo tertawa kecil mendengar ucapan sang kekasih. Ingin rasanya ia mengecup bibir yang tidak berhenti mengoceh itu, namun ia harus mati-matian menahan diri. Tidak mungkin ia melakukannya sekarang, apalagi ia baru saja ingin berkenalan dengan orang tua Sanghyeon.
“Sini, aku bantu bawa.” Sanghyeon menawarkan bantuan. Tangannya berusaha untuk menggapai keranjang buah yang dibawa oleh Geonwoo, namun yang lebih tua menolaknya, ia tidak merasa keberatan kok. “Enggak papa, sayang, aku aja.”
Melihat Geonwoo yang tersenyum lembut dengan penampilan begitu, sukses membuat Sanghyeon tersipu malu, ia tidak terbiasa dengan Geonwoo yang bersikap seperti ini. Namun, bukan berarti Geonwoo tidak pernah bersikap lembut kepadanya, justru selama mereka menjalin hubungan, Sanghyeon merasa sangat disayang dan dicintai berkat perlakuan yang diberikan oleh pemuda itu.
Hanya saja, disela sikap sayangnya, Geonwoo itu cukup usil dan suka membuatnya merasa kesal (in lovely way). Oleh karenanya, saat melihat Geonwoo berperilaku seperti ini, membuat Sanghyeon merasa sedikit gugup.
“Y-yaudah deh, ayo masuk. Papa-Mama sudah nunggu.”
Sanghyeon mengajak Geonwoo untuk masuk ke dalam rumah. Dapat Geonwoo lihat, kedua orang tua Sanghyeon sedang bersantai di ruang keluarga. Tiba-tiba nyali Geonwoo mendadak ciut, rasa percaya dirinya mulai menguap begitu saja setelah mendengar Sanghyeon memanggil mereka. “Pa, Ma, Kak Geonwoo sudah datang.”
Kedua orang tua Sanghyeon menoleh ke arah mereka. Mama tersenyum ramah kepada Geonwoo, namun tidak dengan sang Papa. Geonwoo segera menghampiri keduanya untuk bersalaman, sementara Papa Sanghyeon tetap menatapnya dengan raut datar.
“Eh, sudah datang, ya. Silakan duduk,” Mama mempersilakan Geonwoo untuk menempati sofa yang tersedia.
“Halo Ma, Pa. Salam kenal, saya Geon- “
“Siapa yang kamu panggil ‘Papa-Mama’?” Belum sempat Geonwoo menyelesaikan kalimatnya, Papa Sanghyeon sudah memotong lebih dulu. Geonwoo tersenyum canggung, dalam hatinya meringis ‘baru juga datang, sudah kena aja.’
“E-eh, iya. Maaf, Om, Tante.” Jawab Geonwoo gugup. Mama Sanghyeon yang melihat kelakuan suaminya segera menyikut pelan perut sang Papa. Sanghyeon pun mendelik tidak suka, membuat Papanya buru-buru membuang muka untuk menghindari tatapan sang anak.
“Papa, apa sih… Gimana Geonwoo, jalan ke sini lancar? Rumahnya jauh, ya?” tanya Mama berusaha mencairkan suasana.
“Hehe, hamdalah lancar Tante. Jaraknya enggak begitu jauh kok dari rumah saya.”
Obrolan berlanjut dengan basa-basi singkat antara Geonwoo, Sanghyeon, dan Mamanya. Papanya? Entahlah, Geonwoo merasa sedari tadi pria itu terus memperhatikannya, meneliti setiap inci dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Di tengah obrolan, Sanghyeon tiba-tiba menghentikan percakapan. Ia merasa haus dan ingin membuatkan minuman untuk mereka. “Eh, aku haus. Aku bikin minum sebentar sama Mama, ya? Kamu di sini dulu sama Papa. Ayo, Ma!” ajak Sanghyeon sambil menarik pelan lengan Mamanya. Sebenarnya ia tidak membutuhkan bantuan Mama, hanya alasan saja agar bisa meninggalkan Geonwoo berdua dengan Papanya.
Geonwoo tersentak kecil. Ia sempat melirik Sanghyeon dengan tatapan 'jangan tinggalin aku sendiri T_T’, namun kekasihnya itu hanya memberikan senyum tipis yang seolah mengatakan 'kamu pasti bisa'. Kini, ruang tamu itu mendadak terasa lebih luas dan jauh lebih sunyi.
Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Geonwoo masih diliputi rasa takut, sementara Papa masih terlalu gengsi untuk memulai pembicaraan. Alhasil, mereka hanya berdiam diri. Suasana yang semakin senyap membuat Geonwoo refleks menggaruk lehernya yang tidak gatal. Haruskah ia yang memulai pembicaraan lebih dulu?
“Apa kabar, Om?”
Geonwoo mengawali percakapan dengan sangat canggung. Ia benar-benar bingung harus mengatakan apa lagi. Papa yang diajak bicara hanya menghela napas panjang, anak muda di depannya ini memang tidak pandai mengobrol atau bagaimana? Lantas, mengapa Sanghyeon bisa jatuh hati dan mau bersama dengannya?
“Sepertinya enggak perlu banyak basa-basi, kita langsung ke intinya saja. Gimana rencana kamu kedepannya? Mau serius dengan Sanghyeon sampai kapan?” Tanya Papa Sanghyeon to the point. Geonwoo menelan ludah kala mendengar pertanyaan serius dari sang Papa, kemudian menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab pertanyaannya.
“Saya bisa bilang kalau saya sangat serius dengan Sanghyeon, Om. Karena bagaimanapun juga, Sanghyeon itu cinta pertama saya. Saya akan terus berusaha mempertahankan hubungan ini, bahkan hingga kami menikah nanti.”
Geonwoo menjawab dengan yakin, ia tidak pernah bercanda jika menyangkut hubungannya dengan Sanghyeon. Tentang Sanghyeon yang menjadi cinta pertamanya, itu memang benar adanya. Mereka tidak sengaja bertemu di sebuah acara kampus. Saat itu, program studi Sanghyeon sedang mengadakan bazar kewirausahaan. Geonwoo yang datang sebagai pembeli mampir ke stan milik Sanghyeon.
Geonwoo yang sebelumnya tidak pernah menyukai siapa pun, langsung jatuh hati pada pandangan pertama. Entah keberanian dari mana, ia nekat meminta kontak Sanghyeon, dan tak disangka, Sanghyeon memberikannya. Sejak saat itu, interaksi mereka menjadi lebih sering. Setelah masa pendekatan selama tiga bulan, Geonwoo akhirnya meresmikan hubungan mereka.
“Baru pacaran aja kamu sudah bahas pernikahan. Apa kegiatan kamu sekarang? Sudah punya apa saja sampai berani mau nikahi anak saya?” Tanya kembali Papa. Geonwoo sedikit meringis, apakah salah jika ia sudah memikirkan hal itu?
“Untuk saat ini saya masih kuliah semester akhir, Om. Tapi, saya sudah mulai belajar bekerja di perusahaan Ayah sedikit. Jadi, nanti keputusannya ada di saya, mau melanjutkan perusahaan tersebut atau enggak. Selain itu, saya juga sedang mencoba membangun usaha sendiri sebagai persiapan jika sewaktu-waktu ada hal yang enggak terduga.”
(Aku nggak akan ceritain secara detail tentang usaha Geonwoo, ya. Intinya mereka ini sama-sama lahir di keluarga yang kaya. Jadi, sekreatif kalian aja mau ngebayangin apa wkwk.)
Papa Sanghyeon mengangguk pelan, wajahnya mulai melunak setelah mendengar jawaban serius yang dilontarkan oleh Geonwoo. Tidak dipungkiri, ia merasa sedikit kagum dengan rencana dan usaha Geonwoo yang sudah cukup matang di usianya yang masih muda. Jarang sekali ia menemukan anak yang mampu memanfaatkan privilese orang tuanya dengan sebaik itu.
Awalnya, ia berpikir jika Geonwoo tidaklah jauh berbeda dari kebanyakan laki-laki di luar sana, yang menjalin hubungan hanya untuk bersenang-senang, namun tidak memikirkan dengan serius tentang masa depan bersama pasangannya.
“Oke, kalau begitu dengar saya baik-baik. Kamu dan Sanghyeon sudah sama-sama dewasa. Kalau terjadi sesuatu diantara kalian, rundingkan masalah itu dengan kepala dingin. Saya enggak mau mendengar jika suatu saat nanti, Sanghyeon kamu sakiti. Seumur hidup saya susah-susah bahagiakan Sanghyeon. Jangan kamu sia-sia kan begitu saja, paham?”
“Paham, Om." Geonwoo menjeda kalimatnya sejenak, menatap langsung ke netra Papa Sanghyeon tanpa ada keraguan. “Mungkin saya memang bukan manusia sempurna yang enggak pernah melakukan kesalahan. Namun, saya benar-benar berjanji dengan tulus, akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Sanghyeon. Enggak peduli jika saya harus mengorbankan diri sendiri, yang jelas, saya akan berusaha untuk selalu melindungi dan membahagiakannya."
“Saya enggak butuh janji, tetapi aksi. Jadi tolong pastikan kamu akan melakukan apapun yang sudah kamu katakan.”
“Pasti, Om.”
“Yasudah, itu saja dari saya.” Ujar Papa membuat Geonwoo akhirnya merasakan sedikit kelegaan. Ia mengira sesi tanya-jawab yang menegangkan itu sudah benar-benar berakhir. Namun, sebelum ia sempat merasakan ketenangan, Papa Sanghyeon kembali bersuara.
“Oh, mungkin satu hal lagi. Sebenarnya saya agak segan mengatakannya, tapi ini untuk berjaga-jaga saja. Saya enggak akan melarang kalau kalian ingin 'melakukannya', karena bagaimanapun kalian masih muda dan pasti punya rasa ingin tahu yang tinggi. Tapi yang jelas, tolong main aman saja. Saya enggak mau kuliah Sanghyeon berantakan hanya karena kalian... kebobolan. Kasihan Sanghyeon, masa depannya masih panjang.”
Geonwoo tersedak ludahnya sendiri. Ia tidak menyangka jika Papa Sanghyeon akan se-blak-blakan ini memberi peringatan, membuatnya bingung harus menanggapi bagaimana. Di satu sisi, ia merasa senang karena orang tua Sanghyeon memberikan kebebasan terhadapnya, yang berarti secara tidak langsung ia telah dipercaya. Namun, di sisi lain, hal itu terasa sangat memalukan. Rasanya sungguh aneh membicarakan hal privat dengan orang tua kekasihnya secara langsung.
“B-baik, saya… saya paham, Om.” Geonwoo yang merasakan canggung luar biasa, hanya dapat menganggukkan kepala dan menjawabnya terbata-bata.
Tidak lama kemudian, Sanghyeon dan Mama kembali ke ruang tamu. Mereka datang membawa nampan berisi minuman serta beberapa camilan, persis seperti yang dijanjikan sebelumnya. Geonwoo mengembuskan napas lega, dalam diam ia sangat bersyukur karena tidak harus berlama-lama terjebak dalam kecanggungan yang menyesakkan itu.
“Asyik banget ngobrolnya, ngomongin apa saja?” tanya Sanghyeon pada Geonwoo sembari menyodorkan minuman yang telah ia buat. Alih-alih menjawab jujur, Geonwoo hanya menggelengkan kepala pelan dengan senyum canggung. “Bukan apa-apa kok, hehe.”
“Jangan diturunin semua, Dek. Bawa aja makanannya ke atas, ajak Geonwoo. Kasihan nanti kalian enggak bisa bebas sayang-sayangan, yang ada Papa cemburu lagi.” Ujar Mama. Candaan yang ia lontarkan membuat Papa mendengus pelan, dirinya tidak cemburu kok, hanya terlalu sayang saja.
Sanghyeon tertawa melihat reaksi ayahnya, lalu ikut menggoda sang Papa hingga membuatnya segera 'diusir' dari hadapan pria itu. "Yaudah, kami ke atas dulu ya. Ayo, Kak."
“Permisi Om, Tante,” pamit Geonwoo sopan sambil sedikit membungkuk, mengikuti langkah Sanghyeon yang sudah lebih dulu menaiki tangga.
___
“Gila, aku takut banget sama Papa kamu. Aku kira hari ini bakal jadi hari terakhir aku bisa ketemu sama kamu.” Keluh Geonwoo. Ia langsung tepar begitu sampai di kamar Sanghyeon, merebahkan dirinya di atas kasur dengan napas panjang yang tertahan sejak tadi.
Sambil menatap langit-langit kamar, ia mulai menceritakan isi obrolannya dengan sang Papa, sementara Sanghyeon masih sibuk meletakkan nampan dan menutup pintu kamar.
“Terus kamu tahu enggak, terakhir Papa bilang apa?” Tanya Geonwoo.
Sanghyeon menggelengkan kepala tanda tidak tahu. Ia memang tidak dapat menguping apa pun yang mereka bicarakan tadi, letak dapurnya lumayan jauh dari ruang keluarga, ditambah lagi ia sibuk membantu Mama menyiapkan camilan. Dengan rasa penasaran, Sanghyeon akhirnya ikut merebahkan diri di samping Geonwoo, menantikan kelanjutan cerita dari yang lebih tua.
“Papa bilang… Papa enggak akan melarang kita ngelakuin hal ‘itu’, asalkan main aman…” ujar Geonwoo malu-malu. Mendengarnya membuat Sanghyeon mengernyitkan dahi, melakukan ‘itu’, maksudnya apa? Ia masih belum paham sepenuhnya. “Ngelakuin apa?”
“Masa kamu enggak nangkep, Yang… Tapi aku ngomong begini, bukan berarti aku manfaatin kesempatan ini lho ya. Aku cuman mau ngasih tahu aja… pada akhirnya semua tergantung kamu, mau atau enggak.”
Sanghyeon yang mulai paham, mendadak ikut merasakan malu, mengapa Papanya harus bicara se-blak-blakan itu kepada kekasihnya? Selama ini ia tidak pernah memikirkan tentang hal itu, apalagi untuk melakukannya.
Namun, setelah mendengarkannya, kini ia menjadi kepikiran. Bayangan tentang kebiasaan mereka selama ini berputar di kepalanya. Setiap kali ia berkunjung ke rumah Geonwoo, mereka hampir selalu menghabiskan waktu di kamar, hanya untuk sekadar menempel atau bermanja-manja tanpa melakukan hal yang aneh-aneh.
Sekarang, sebuah pertanyaan muncul di benaknya, apakah selama ia terus menempel begitu, kekasihnya pernah merasakan 'sesuatu'?
“Terus… kamu gimana? Maksud aku ya… selama ini emang kamu pernah kepikiran tentang hal itu?” Sanghyeon akhirnya memberanikan diri untuk bertanya balik. Mendengar itu, Geonwoo perlahan menggeser posisi tubuhnya hingga mereka saling berhadapan. Ia sadar betul bahwa arah pembicaraan mereka kali ini telah menuju ranah yang jauh lebih ‘dewasa’.
“Aku enggak mau munafik, sayang. Kalau ditanya pernah atau enggak nya, jelas aja pernah...” Ujar Geonwoo. Jujur saja, ada saat-saat di mana Sanghyeon yang terlalu menempel padanya memicu sesuatu yang bangkit dalam dirinya. Namun, Geonwoo bukan tipe orang yang ingin mengambil keputusan terburu-buru. Selama ini, ia memilih untuk menahannya diam-diam, ia tidak mau membuat Sanghyeon merasa tidak nyaman karena harus menuruti hawa nafsunya.
“Terus, sudah dapat lampu hijau dari Papa gitu… kakak mau coba?” Tanya ulang Sanghyeon. Ia ingin melihat bagaimana respon sang kekasih jika terus menerus dipancing dengan pertanyaan seperti ini. Apakah Geonwoo merupakan tipe yang pemaksa ataupun sebaliknya? Karena bagaimanapun juga, mereka tidak pernah membahas tentang hal ini.
“Bukan cuma dari Papa aja, sayang. Aku juga butuh persetujuan dari kamu.”
Geonwoo mengelus lembut kepala yang lebih muda, menyampirkan poni panjang yang sudah mulai menutupi penglihatannya. Ingatkan dirinya yang sudah berjanji terhadap dirinya sendiri, serta kepada orang tua Sanghyeon, bahwa ia akan mengutamakan kenyamanan kekasihnya itu di atas segalanya. Jika Sanghyeon memang tidak mau, ia tidak akan pernah mau memaksakannya. Toh, dia tidak akan mati jika tidak melakukannya.
“Kalau aku sendiri… jujur aja memang enggak pernah kepikiran buat ngelakuinnya. Tapi…” Sanghyeon menundukkan kepala, suaranya kecil nyaris tidak terdengar, membuat Geonwoo mendekatkan wajahnya. Ia menjeda kalimatnya, kemudian memberanikan diri melirik Geonwoo dengan mata berbinar. “Kalau kamu emang mau, aku sih mau-mau aja.”
Geonwoo menatap dalam-dalam netra sang kekasih. Ia mencoba menelisik, guna mencari keraguan atau kebohongan yang mungkin terselip di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah ketulusan, sebuah tatapan yang menyerahkan seluruh dunianya pada Geonwoo. Lantas Geonwoo kembali bertanya. "Kamu percaya aku?"
Sanghyeon yang ditanya, mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun. "Aku selalu percaya sama Kakak.” jawabnya tulus, membuat dinding pertahanan Geonwoo nyaris runtuh saat itu juga.
Tangannya menangkup wajah yang lebih muda, dengan perlahan mengikis jarak mempertemukan kedua bibir. Keduanya saling melumat, sebagai bentuk kasih sayang yang tulus. Dengan perlahan, Geonwoo mengubah posisinya menjadi di atas Sanghyeon, mengukung kuat tubuh kecil di bawahnya. Sanghyeon pun dengan nyaman melingkarkan tangannya pada leher, menariknya untuk memperdalam ciuman.
Merasakan pusat tubuhnya yang mulai menegang, Geonwoo terpaksa melepas ciuman mereka, menyisakan tatapan kecewa dari Sanghyeon. “Jangan sekarang juga, ya?” ujar Geonwoo dengan suara serak.
Sanghyeon tersentak, baru menyadari sepenuhnya bahwa saat ini mereka masih berada di rumah orang tuanya. Wajahnya seketika merona malu. Jika Geonwoo tidak segera menghentikannya, bisa saja mereka benar-benar akan kelepasan dan melakukannya di sini.
Baiklah, mungkin mencari tempat kencan yang lebih privat adalah agenda wajib mereka setelah ini.
Fin.
