Work Text:
Kamar kost di lingkungan mahasiswa, TV menyala tanpa penonton, wadah popcorn yang tak tersisa, dan dua anak adam yang sibuk tenggelam dalam presensi satu dan lainnya. Matahari sudah tukar tempat terakhir kali Martin menutup gorden jendela, deru mesin motor yang sesekali mengiung di telinga pun perlahan menurun frekuensi lalu-lalang nya.
“Udah malem, males pulang kan?” Juhoon lempar pertanyaan yang sebetulnya tak miliki jawaban; sebab ia tahu betul kemana arah malam ini akan berlabuh, tak lain nan bukan adalah hadirnya rengkuh Martin di tengah-tengah dengkur halusnya.
“Yaelah, bilang aja kamu mau aku nginep.” Martin menyahut usil, senyumnya selalu jadi yang paling luas setiap Juhoon melontarkan kalimat tersirat— seolah terdengar seperti ajakan untuk bermalam di dunia yang hanya ada mereka di dalamnya.
Udah malem, nggak usah pulang ke kost kamu. Nginep aja sama aku, kita berbagi kecup diikutinya peluk hangat dan bertarung siapa yang lebih dulu akan luruh.
“Nggak suka banget sama yang kepedean begini.” Jawaban malas terlontar pun malahan kontras dengan tubuh yang lebih kecil menyender nyaman di lengan lelakinya.
Juhoon percaya rumah nggak melulu tentang ruangan beratap kokoh guna lindungi diri dari panas dan hujan. Namun bisa juga berbentuk laki-laki paling di tinggi di fakultas, yang bicaranya sedamai debur ombak di pinggir pantai, yang ahlinya lengkapi Juhoon dalam berkata-kata sebab ia sadar betul banyaknya koreksi dalam ia berkomunikasi. Umurnya belum genap dua puluh tahun, namun Juhoon tahu kalau Martin bisa ia sebut sebagai rumah.
Tawa meledek masuk telinga kanannya, dan selalu sama: datang bertamu di hatinya. Martin menunduk untuk curi kecup sekilas dari pipi hangat Juhoon, kemudian di bagian sebrangnya yang tak mau ketinggalan. Hidung mancung Martin undang gelenyar geli tiap menggesek kulitnya, si manis Juhoon akhirnya selalu sama: tawa renyah turut bergabung memecah dingin di kamar miliknya. Naas, Martin malah perluas jangka kecupan hingga torehkan seluruh cinta di atas wajah Juhoon yang paling cantik di penjuru dunia.
“Geli ah, udahannn. Bau jigong!”
“Boong banget, lebih percaya kalau kamu bilang aku bau pindang daripada jigong.”
“Sama aja! Bau ih.” Jawaban final Juhoon disertai kedua tangannya yang menahan bahu Martin hingga ciptakan jarak kecil yang tak terlihat membantu. Lantaran posisinya sekarang adalah Juhoon yang setengah merebahkan diri di atas karpet berbulu milik Bunda, dan Martin sekuat tenaga bertumpu pada kedua lengannya di samping tubuh itu.
“Cantik,” pujian spontan dari Martin memang enggan absen tiap keduanya beradu pandang, kali ini tiga kali lipat lebih buat salah tingkah karena Juhoon mampu temukan sisa manis pelembab bibir di sudut bibirnya sendiri. Juhoon taruh lebih banyak perhatian kepada ranum Martin yang sedikit mengkilat, tipis namun ada perbedaan yang tak bisa diacuhkan. “Kamu beli lipbalm baru, ya?”
“Eh iya. Keliatan kah? Dibeliin Seonghyeon, katanya early birthday gift. Alay amat ya.”
“Nggak terlalu kok, kerasa aja. Manis gitu, cantik juga kayak ada warnanya sedikit.”
Martin memerah sebagai reaksi utama, harusnya Juhoon telah antisipasi, namun gelak tawanya tetap saja tak bisa ia sembunyikan hingga matanya bentuk bulan sabit terindah yang buat Martin senantiasa memuja. “Mau cobain lagi gak?”
Satu tangan yang menopang tubuh Martin seolah mencari rumahnya, pun singgah di pinggang Juhoon untuk mengunci dan ia harap itu akan menetap selamanya. Sama lembutnya dengan jari-jemari Juhoon yang buat jejak kecil di rahang kekasih, menyusuri garis yang lahirkan percikan api di dalam dada; seolah hangat tangannya adalah bensin yang bakar keinginan Martin untuk bergegas.
Ditekannya kedua sisi rahang Martin untuk dibawa mendekat, mata keduanya seolah tersihir untuk menutup dalam sinkronisasi. Ujung hidung saling menyapa, seolah beri peringatan pada pekerjaannya untuk tahan nafas sedikit lama sebab dua anak adam pemiliknya sedang suka-sukanya dengan kegiatan saling cumbu hingga nafas tersendat. Jantung bertalu mulai ribut adu siapa yang suaranya paling buat malu, namun siapa yang peduli kala dua bibir kembali bersua selembut-lembutnya sutra buatan sendiri?
Hadir jantungku selalu ada di kiri, namun milikmu berdegup sama kencangnya di sisi kanan yang kosong hingga terisi. Seolah melengkapi. Aku jadi tahu kenapa orang-orang suka sekali, karena aku juga mendamba lagi.
Lelakinya baru berulang tahun, fakta kecil macam menyambar yang lebih tua hingga meremas anak rambut Martin di belakang kepala. Menekan bibirnya, memperdalam ciuman, diikuti lumatan amatir yang ia rasa sudah paling sempurna. Enggan melepas, tautan senantiasa terjalin meskipun Juhoon mulai bergerak mendorong tubuh Martin hingga bersandar di dinginnya lemari berbahan kayu jati. Menempatkan diri di atas pangkuan nyamannya bak singgasana yang akan selalu memeluk teramat setia, buat Martin meraih pinggang itu jauh lebih erat, sisakan ruang yang tak terlihat sebab tubuh keduanya turut bercumbu dengan kenyamanan yang tercipta.
“Kamu mau hadiah apa?” Juhoon bertanya usai meraup oksigen yang tersisa, ibu jarinya mengelusi pipi tirus Martin sebelum mendaratkan ciuman manis yang buat gila, untuk Martin. “Gak boleh jawab mau aku.”
“Yah…” Martin pura-pura kecewa, bibirnya cemberut kendati kedua tangannya bergantian menari-nari di atas pinggang dan punggung Juhoon untuk beri belaian hangat. “Gimana ya, kamu aja udah kayak hadiah buat aku.”
“Dangdut banget sih…”
“Beneran!”
Juhoon meraba jalur jambang Martin yang masih bersih, tatapannya lurus terbayang akan suatu hari nanti bagian itu akan ditumbuhi rambut-rambut halus sehingga Martin harus bercukur tiap dua hari sekali. Diusapnya hingga ke telinga yang selalu memerah sebagai respon betapa Martin mencintai kontak fisik yang terjadi di antara keduanya, pun turun ke atas jakun yang mencolok perhatian tiap pasang mata; suka sekali buat Juhoon cemburu, walaupun miliknya sama gagahnya.
“Sayang,” panggil Martin buat Juhoon mengerjap salah tingkah. “Mikirin apa?”
Alih-alih menjawab, Juhoon malah kembali melingkarkan kedua lengannya pada bahu Martin yang seluas-luasnya buat Juhoon selalu rasakan aman tiada tara. Bibir tebalnya kembali ia pertemukan pada milik Martin yang tak paham cara menolak, berniat pun tidak. Menyesap seolah manisnya pelembab bibir mampu berubah bentuk jadi jus jeruk yang tuntaskan dahaga, meremat seolah tubuhnya akan tercerai-berai apabila Martin tak bisa merasakan kasih sayangnya yang jarang ditunjukkan dengan rangkaian paragraf.
Tangan kecilnya sedikit menarik dagu Martin untuk melangkah lebih dalam, sedikit saja, Juhoon ingin rasakan jauh lebih banyak. Martin diam-diam beri peringatan untuk melambat, Juhoon paham karena gerakan ibu jari Martin yang menekan perutnya dari luar pakaian. “Udah dulu, Ju. Sayang.”
Terengah dengan sopannya, Juhoon hampir keluarkan rengekan kecewa yang kembali ia telan setengah mati. Bibirnya masih mau merasa, jadi Martin biarkan ketika seluruh wajah tegasnya kini dibubuhi banyak sekali kecupan ringan yang timbulkan efek suara menggemaskan. Lucu sekali Juhoon, lucu sekali kekasihnya.
“Is it odd if I don't want us to grow up?”
Martin terkekeh atas pertanyaan yang dilempar untuknya, tangannya enggan terlepas barang sedetik. Pun kini naik untuk menyugar rambut tebal Juhoon yang kian memanjang sentuh tengkuk yang Martin hadirkan belai hangat, ia tidak berbohong kalau ucapannya selalu serupai Juhoon seperti anak kucing memelas, minta untuk disayang sebanyak-banyaknya.
“Kok berubah pikiran? Waktu itu bilangnya mau cepet besar biar bisa jajan pakai uang sendiri.”
Mata berbinar itu menatap, meniti pandangan Martin yang hanya pancarkan kasih sayang; makin besar tiap harinya. “Kayaknya seru selamanya jadi remaja, sama kamu. Nggak perlu punya banyak kesibukan, yaaa mentok-mentok ngerjain tugas. Terus apalagi? Main aja sampai capek. Ke Blok M, hunting matcha enak…” Juhoon tarik napas untuk simpan wangi kekasihnya, untuk penuhi relungnya dengan cinta. “I… I love what we have right now, everything feels so right. I don't want it to change because— we grow old.”
Ah, Juhoon benar-benar menggemaskan, jadi Martin sisipkan kembali kecupan ringan pada ujung hidung kekasihnya yang kini mengernyit dengan mata setengah redup. Si paling perasa, Martin tahu betul isi kepala Juhoon yang kini sedang melalang buana. Selalu punya skenario yang tak terpikirkan, namun selalu punya Martin yang hadir di tengah riuhnya pemikiran.
“What's so scary about growing up?” Martin menunduk, tangannya temukan milik Juhoon untuk digenggam bak balita yang raih permen manisnya. Ia bawa punggung tangan Juhoon temukan ranum yang siap haturkan kembali banyak cium tulus harap-harap bisa bantu menenangkan yang terkasih. “I found it endearing loh, sayang. Nanti kalau dewasa, kita bisa bebas travelling yang jauh, mainnya nggak cuman ke Panglima Polim.”
Juhoon tahan senyum tipisnya, setengah merasa tergelitik atas kalimat Martin, setengah lagi sebab tatapan lembut yang rengkuh risaunya dengan lapang dada.
“Kamu kebayang gak? Kalau kita masih bareng sampai umur dua puluh, udah kuliah tahun kedua, katanya lagi repot-repotnya sama tugas. Aku kebayang, pasti aku bakal lari ke kamu terus buat disemangatin, buat recharge energy and vice versa. Aku mau nemenin kamu kalau lagi stress praktikum and shits, everything, Ju.”
“Terus kalau umur dua puluh tiga, kalau aku masih sama kamu dan kalau aku lulus tepat waktu. Aku pasti lagi stress-stressnya nyari loker yang pelit sama anak sastra. Ah anjrit, sekarang aja udah kebayang. Ngapain ya aku milih Sastra Inggris, Ju?”
“Mulai deh! Udah lah, embrace it, jiwa kamu tuh udah sasing banget. FIB mentok!” Juhoon cubit pipi Martin penuh sayang, lalu jemarinya berjalan-jalan hingga sampai pada tengkuk Martin untuk memberinya pijatan, mungkin isyarat untuk kembali berkata-kata tentang perandaian yang memang Juhoon nantikan.
Martin tergelak lihat resah di raut wajah si cantik mulai mengendur, dibaliknya tangan Juhoon untuk dikecup pada bagian telapak, dan dibawanya tangan kecil Juhoon untuk menangkup pipi Martin yang menghangat meskipun suhu ruangan ada di angka enam belas derajat celcius. “Duh kamu umur dua puluh tiga makin lucu kali ya, sayang? Kamu pinter, gila, kamu anak farmasi coy. Kayaknya gak perlu cari loker sana-sini, yang ada kamu direbutin RS buat jadi apoteker cantik.”
“Berlebihaaan.”
“Intinya, nggak ada yang perlu ditakutin karena tumbuh dewasa, Ju. Something will change, of course. But I do believe that we will shift into someone mature, more organized, more acknowledged. Then you will, still, become a person I run back to, after all that time. Nggak ada yang berubah dengan apa yang kita punya, as long as you believe in me, everything's going to be alright. Everything feels so alright now and then. We just need to let it flow, whatever you have today.”
Martin akhiri dengan satu kecupan panjang di pelipis Juhoon usai menyugar rambut hingga beri unjuk kulit putih serempet merah muda yang tertutup tirai poninya, dibiarkan terlihat oleh benda-benda mati di kamar sunyi. “Live the present, sayang.”
Seolah terkunci, netra dua anak adam saling lemparkan rasa aman yang terserap dengan mandiri. Juhoon susah payah telan ludah upaya membasahi tenggorokan nan tercekat, tertangkap oleh kesaksian Martin yang kini tertawa untuk kembali cairkan sesak di dada kekasih mungilnya. Ah, Juhoon menggemaskan.
“Jangan nangiiis.”
“Mm.”
“Cupcupcupcup.”
Tukar peran untuk afeksi yang sama utuhnya, Juhoon raih kedua tangan Martin untuk dibubuhi kecup sedalam-dalamnya kasih sayang yang mampu ia beri pada buku-buku jari Martin. Kemudian ia bawa untuk membingkai kedua sisi wajahnya, undang kekehan Martin pun tak perlu disuruh untuk menekan pipi gembil terkasih hingga bibir Juhoon mengerucut begitu lucunya. “Martin.”
“Hmmm?”
“I hope you know how much I… love you.”
“I know it well, baby, I know.”
“I love you more than you can even imagine.”
“Iyaa? Sebanyak itu?"
Juhoon mengangguk mantap, pipinya menyender pada telapak Martin yang hangat. “Sebanyak itu, my heart is so full, Martin. Kayak mau meledak…” Bibirnya cemberut menggemaskan, ekspresi natural yang selalu terlepas apabila Martin memainkan ibu jarinya pada kulit putih Juhoon hingga muncul semburat jambu semanis mochi isi stroberi.
“Aku lebiiiih sayang kamu.” Juhoon terkikik geli, menyudahi kegiatan usap-mengusapnya untuk menubruk Martin dengan peluk erat yang penuh makna di setiap sisi-sisi tubuh keduanya nan bersua. “Sama aku terus ya, Martin, dewasa bareng aku.”
“Selalu, sayaang.”
