Chapter Text
Bayangkan langit malam, hitam legam. Tanpa awan, tanpa gangguan. Waktu dimana bintang-bintang menghiasi angkasa. Bersinar terang, gemerlap rupanya.
Banyak yang mengartikan bintang — sebagai wadah kosong bagi harapan untuk menetap. Menunggu waktu hingga tuhan mengabulkan. Bintang terasa sangat istimewa, tiada dua, begitu pula untuk Samuel kecil. Tiada hari ia lewatkan tanpa menyiah tirai, membuka jendela, dan memanjatkan doa atau impian.
Sungguh, kebiasaan itu tidak pernah berubah, sampai ulang tahunnya yang ke-19. Ia sudah berhenti bermimpi, berhenti meminta kepada langit malam, ataupun tuhan di baliknya. Baginya, hari itu tepat di mana pintu harapannya di tutup.
Namun apa jadinya jikalau muncul secercah harapan? Yang berhasil buatnya kembali hidup, kembali bangkit, dan kembali menarik raganya untuk menulis bintang-bintang di langit. Sungguh, Ia akan tangkap ribuan bintang, diukirnya setiap keinginan yang belum terpenuhi.
Lalu bagaimana kisah kasih ini berubah menjadi malapetaka? Bukankah akhir yang diinginkan adalah bagaimana sang pahlawan berhasil mendapatkan kembali pujaan hatinya? Bagaimana bisa, kisah yang seharusnya berakhir sempurna menjadi berita gentar di laman depan?
